Tokyo Love Tokyo Chapter 2/3 | @beth91191


Title        : Tokyo Love Tokyo

Author     : Beth

Chapter   : 2/3

Genre     : Romance, Yaoi

Rate        : 13+

Pov         : Jaejoong

-Akhir Chapter 1-

“Tolong.. Tolong..” ucapku dengan bahasa Korea.

Tak adakah yang mendengarku? Aku tersesat, tak ada HP, tak ada dompet, tak ada uang sepeserpun, tak tahu jalan, keseleo dan terluka. Kenapa nasibku malang sekali??

Tiba-tiba hujanpun turun dengan derasnya.

Kurasakan udara malam di kala hujan semakin terasa dingin. Jaket tipisku tak mampu menghalau rasa dingin ini. Aku berusaha menarik tubuhku lebih kebelakang tapi tetap saja samar-samar air hujan masih mengenai ku karena tertiup oleh angin.

Bbbrrrrrrrrrr…. Dingin..

Yoochun.. Junsu.. Tolong aku..

 

 

-Chapter 2-

Beberapa jam aku terus duduk di teras itu tanpa melakukan apapun. Hanya menatap kosong kearah jalanan yang terguyur hujan. Ingin rasanya menangis. Tapi dingin sekali disini hingga air mataku tak sanggup keluar. Kenapa aku ceroboh dan pabo? Kenapa aku lupa membawa HP? Kenapa aku lupa membawa dompet? Kenapa aku sok pahlawan mengejar pencopet? Kenapa aku pake jatuh segala? Wae? Wae? Wae?

Di dalam hati aku menyalahkan diriku sendiri berkali-kali. Tapi percuma aja rasanya aku seperti itu, pada kenyataannya nggak ada yang bisa aku lakukan untuk menolong diriku dan nggak ada orang yang bisa menolongku.

Kim Jaejoong… Kenapa nasibmu malang sekali? Bagaimana jika tidak ada yang menolongku? Masa’ aku menjadi gelandangan di negeri orang? Masa’ aku capek-capek sekolah cuma jadi gelandangan? Jangan-jangan nanti aku harus mengais makanan, kelaparan dan hidup di jalanan. Atau jangan-jangan aku nanti di culik sama orang jahat dan dijadiin budak atau pekerja keras. Atau jangan-jangan nanti aku dijual keluar negeri dan tersangkut trafficking. Atau jangan-jangan.. Jangan-jangan.. Tiba-tiba semua pikiran buruk merasuk dalam benakku.

Kemudian lamunan burukku terpecah karena kulihat seorang namja dengan seragam sekuriti lewat.

“Ya.. Ahjushi.. Tolong aku..” ucapku pada namja itu.

Kulihat namja itu menoleh dan mendekat. Setelah dia berada tepat di depanku dia berbicara entah apa dengan menggunakan bahasa Jepang yang sama sekali tidak aku mengerti.

“Ahjushi.. Saya orang Korea. Tolong saya. Tapi saya nggak bisa bahasa Jepang. Tolong saya ahjushi..” ucapku lagi.

Kemudian namja itu kembali bicara dengan bahasa Jepang.

“Tak bisakah kau bicara bahasa Korea? Maybe you can speak English?” tanyaku pada ahjushi itu.

Lagi-lagi dia bicara yang sama sekali aku nggak tau artinya.

Kami selama beberapa saat sama-sama saling bicara tapi tanpa ada yang mengerti satu sama lain. Kemudian kulihat namja itupun berjalan masuk ke dalam gedung. Dia meninggalkan aku begitu saja. Tanpa ada kejelasan, dia mengerti maksudku apa nggak.

“Hwaaa…. ahjushi… Kenapa kau tinggalkan aku??? Ahjushi.. Ahjushi…” ucapku memanggil-manggilnya.

Tapi dia sama sekali tidak menoleh ke belakang dan tetap saja pergi meninggalkanku. Jangan-jangan dia kira aku hanya mengajaknya ngobrol. Jangan-jangan dia nggak tau kalau aku butuh bantuan. Jangan-jangan dia malah capek ngomong sama aku gara-gara nggak mengerti maksudku. Jangan-jangan… Hwaaaa… Ottoke??

Ya Tuhan.. Kenapa ahjushi itu malah pergi bukannya meolongku?? Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang..

“Ya Ahjushi.. Jangan tinggalkan aku sendiri.. Ahjushi..” mohonku pada satpam yang udah hilang dari pandanganku itu.

Kenapa dia bukannya menolongku malah pergi seperti itu. Lalu bagaimana denganku? Apa yang harus aku lakukan? Aku harus bagaimana sekarang? Aku harus bagaimana? Ottoke?

Malam makin terasa dingin. Hujanpun sepertinya nggak ada tanda-tanda akan reda. Kurasakan tubuhku menggigil kedinginan. Selain karena pakaianku yang kurang tebal mungkin juga gara-gara aku belum makan. Tanganku bergetar, bibirku bergetar, ku rapatkan posisi duduk ku agar lebih hangat. Kutekuk kedua kakiku dan memeluknya erat. Apa aku harus menunggu sampai pagi baru ada yang menolongku? Andai aku nggak keseleo aku pasti udah mencari tempat yang lebih baik untuk menunggu hujan reda atau mungkin sekarang aku udah bersama orang yang bisa membantuku kembali ke hotel.

Tiba-tiba aku rindu dengan rumahku di Seoul. Aku rindu dengan penghangat ruangan ku yang memang sudah sedikit usang tapi masih berfungsi dengan sangat baik. Aku rindu dengan kasurku yang empuk dan selimutku yang tebal. Aku rindu…

“Anyeong..” sebuah suara membuyarkan lamunanku.

Tubuh ini sudah lemas sekali untuk sekedar menoleh ke arah suara itu tapi… Mwo? Anyeong katanya? Nggak salah dengar? Dengan masih menggigil aku paksakan kepalaku untuk menoleh ke sumber suara itu.

“Ada apa denganmu?” kata seorang namja yang wajahnya nggak begitu asing lagi dan tampak di sebelahnya ahjushi sekuriti yang tadi.

Aku nggak sanggup berkata apa-apa. Tubuhku ini terasa sangat lemah, kelaparan dan kedinginan. Kugunakan sisa tenaga ku untuk berpikir siapa namja ini. Ah.. iya.. namja itu yang salah masuk ke dalam kamarku saat aku selesai mandi. Namja itu..

“Kau?” kata namja itu ketika mengenaliku.

“Tolong aku.”kataku lirih sambil mengangkat tanganku.

Kemudian di raihnya tanganku oleh namja itu. Tapi karena tubuhku yang lemas membuatku hampir saja terjatuh. Dengan sigap dia memegangi tubuhku agar tidak terjatuh.

“Kondisimu buruk sekali..” ucapnya sambil mencoba mengangkatku agar berdiri.

“Apa yang terjadi sampai bisa seperti ini?” tanyanya lagi.

Kurasakan tubuhku terangkat. Sungguh terkejut ketika namja itu mengangkat tubuhku dengan kedua tangannya. Dia menggendongku dengan kedua tangannya yang kekar seperti layaknya seorang namja menggendong seorang yeoja. Aku merasa aneh sendiri dengan apa yang dia lakukan padaku sekarang. Aku merasa seperti yeoja yang lemah saja. Tapi memang benar aku sekarag sedang sangat lemah.  Aku hanya bisa diam dan melihat wajahnya. Entah mengapa jantungku tiba-tiba berdetak cepat ketika melihatnya dari dekat seperti ini. Darahku rasanya berdesir ketika merasakan dia menggendong tubuhku seperti saat ini. Pelukannya membuatku merasa sangat nyaman dan hangat. Ahhh… Kim Jaejoong ada apa denganmu??

Kemudian namja itu menggendongku ke dalam mobilnya. Saat itu hujan sudah nggak begitu deras. Hanya rintik-rintik kecil. Didudukannya aku di kursi depan samping tempat dia menyetir. Setelah itu dipacunya mobilnya.

Tak berapa lama tibalah kami di sebuah pekarangan rumah. Rumah yang tidak terlalu besar. Tapi kelihatannya sangat hangat dengan taman yang tertata rapi dan indah.

Setelah mematikan mesin mobilnya, keluarlah dia dari dalam mobil, berjalan ke pintuku dan membukanya. Ditariknya tubuhku hendak digendongnya lagi.

“Ah tidak usah. Aku bisa jalan sendiri.” Kataku sambil berusaha berdiri.

Tapi lagi-lagi aku hampir saja tejatuh karena tidak sanggup berdiri.

“Sudahlah.. Biarkan kugendong.” Sahutnya.

Lagi-lagi dia menggendongku. Digendongnya tubuhku ke dalam rumah. Lagi-lagi aku harus melihat wajahnya dari dekat. Dari pada jantung ini makin berdebar tidak karuan, akhirnya kualihkan pandanganku dari wajahnya dan melihat ke penjuru rumahnya. Tampak sebuah rumah yang minimalis tapi terasa sangat hangat dengan barang-barang yang diatur sedemikian rupa sehingga begitu terasa sangat nyaman. Tentu saja lebih nyaman di banding emperan tadi. Kemudian diletakkannya aku diatas kasur. Tubuhku terbaring lemah di atas kasur. Dia pun berdiri dan membuka-buka laci.

“Aku tadi di beri tahu oleh sekuriti ada seorang yang terluka di depan kantor. Dia bilang orang itu tidak bisa bicara bahasa Jepang dan sepertinya orang Korea. Oleh karena itu sekuriti tadi memberitahuku yang masih kerja lembur di dalam. Dan begitu aku turun, ternyata kamu yang sekuriti itu maksudkan.” Ucapnya sambil mencari-cari sesuatu.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanyanya sambil membawa sebuah kotak kecil.

Aku hanya diam saja, karena tubuh ini terasa sangat lemas, hingga bicara saja sangat berat.

Dibukanya kotak itu yang ternyata berisi obat-obatan. Ditariknya kakiku perlahan. Dibersihkannya lukaku dengan menggunakan alkohol dan diobatinya luka yang ada di kakiku itu. Aku hanya bisa meringis menahan perih ketika ia mengusap lukaku dengan kapas. Dihentikannya sesaat apa yang dia lakukan itu.

“Sakit ya?” tanyanya.

Aku hanya mengangguk pelan.

“Tahan ya.. Sebentar aja..” bujuknya.

Kulihat wajahnya yang begitu serius mengobati lukaku. Wajah yang tadi sempat aku bayangkan ketika masih di hotel. Wajah yang membuatku berdebar ketika dia menggendongku. Dan kini melihatnya menolongku, mengobatiku, dan menyentuh kakiku lembut membuat hatiku ingin melompat saja. Kupandangi lekat wajah namja itu.

“Sudah selesai.. Sudah kuobati lukamu.. Masih ada bagian yang lain yang sakit?” tanyanya tiba-tiba membuatku yang sedang asyik melihati wajahnya jadi terkejut.

“Mwo? Kau bilang apa?” tanyaku.

“Masih ada bagian lain yang sakit?” diulangnya pertanyaannya.

“Kakiku sepertinya keseleo. Sakit saat berdiri tadi.” Jawabku lirih.

Diapun berdiri di sampingku, di pegangnya kakiku dengan kedua tangannya.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanyaku ketika melihat dia sepertinya akan melakukan sesuatu pada kakiku.

“Tahan sakitnya sebentar..” jawabnya.

“Jangan..jangan.. jangan.. Aaaaaaahhhhhhhhh….” dipegangnya kakiku dan dipijatnya bagian pergelangan kaki dengan sangat keras untuk meluruskan ototku yang keseleo.

“Ahhh… Sakit….. hentikan… Hentikan… Kumohon…” ucapku sambil meremas bantal yang ada di sampingku. Air mata ku menetes di sudut mataku. Hingga akhirnya dihentikannnya pijatannya itu dan mengelus lembut kakiku.

“Mian.. Aku hanya ingin membantu. Coba kau gerakan pergelangan kakimu.” Ucapnya.

Kugerakan perlahan pergelangan kakiku dan memang benar ini lebih baik dari pada tadi. Tadi sama sekali tak bisa kugerakannya kaki ini hingga sulit sekali saat mau berjalan. Walaupun masih sedikit sakit tapi pijatannya sepertinya bekerja.

“Gomawo.. Sudah lebih baik..” kataku.

Tiba-tiba di angkatnya tangannya dan terlihat tangannya mendekat ke wajahku, mendekat dan mendekat. Apa yang dia lakukan? Ternyata di sekanya airmata yang ada di pipi dan ujung mataku.

“Mian.. Jangan menangis lagi.” Ucapnya sambil tersenyum.

Aku mengangguk pelan.

Mwo?? Apa yang dia lakukan?? Kenapa dia pakai menyeka air mata ku segala?? Kenapa dia memperlakukanku seperti ini? Aku pernah jatuh dan di tolong oleh seorang namja juga dulu, tapi nggak seperti ini perlakuannya. Nggak semanis dan sehangat perlakuannya padaku.

Diapun bangkit dan membuka lemari yang tak jauh dari tempat tidur. Disibak-sibaknya pakaian yang ada di dalamnya. Ditariknya sebuah kaos dan sebuah celana dari dalam lemari. Dia kembali berjalan ke arahku dan menyodorkan pakaian itu padaku.

“Mandi dan kenakan pakaian ini. Aku siapkan makanan untukmu sebentar.” Jawabnya sambil keluar kamar.

Aku pun segera mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamar itu. Disaat aku mandi, pikiranku selalu tertuju pada perlakuan baik, hangat dan manis dari namja tadi. Aku berusaha berpikir keras sebenarnya apa yang terjadi ku, mengapa aku bisa berdebar-debar ketika bersama dengan namja itu, mengapa aku suka ketika dia menggendongku, mengapa aku suka ketika dia menatapku hangat dan tersenyum manis padaku, mengapa aku suka ketika dia menyeka airmataku tadi, mengapa namja itu bersikap begitu hangat dan manis padaku, sebenarnya apa yang ada di pikirannya.. Semakin aku berpikir, semakin aku bingung dengan jawabannya. Pasti ada yang salah.. Tapi apa itu??

-oOo-

Setelah membersihkan diri dan ganti pakaian, aku duduk di pinggir tempat tidur, mengamati kamarnya dengan seksama. Kamar yang nyaman. Sepertinya kasurnya nyaman. Lalu kubaringkan tubuh ini di atas kasurnya. Benar-benar nyaman.

Hoammm…

Lelahnya tubuh ini.. Mengantuknya.. Kasur yang nyaman.. Kamar yang nyaman..

Hoamm….

Sedikit demi sedikit kurasakan mataku terasa makin berat..berat dan berat.. Hingga akhirnya aku tertidur..

Hingga sebuah suara lembut membuatku terbangun.

“Bangunlah sebentar..”

Kubuka mataku perlahan. Tampak namja itu duduk di sampingku sambil membawa sebuah meja kecil dengan makanan di atasnya.

“Wae?” tanyaku sambil mengucek-ucek mataku.

“Ini makanlah dulu baru kau tidur. Kau pasti kelaparan. Tidak baik tidur dalam kondisi kelaparan..” jawabnya sambil menaruh meja itu di depanku dengan senyuman terpasang di bibirnya.

Senyuman yang sangat indah dan sangat menawan. Membuatku meleleh. Sebuah senyuman yang manis yang muncul dari sebuah wajah yang tampan. Manisnya senyumannya..

“Ada apa? Wae? Kenapa? Kenapa kau belum makan tapi malah melihatiku?” tanyanya ketika menyadari aku melihati wajahnya yang indah itu.

“Andwe.. Aku lapar.. Ayo makan..” jawabku sambil mengambil piring di depanku. Aku merasa salah tingkah dibuatnya. Aku yakin wajahku memerah saat ini. Aku malu ketahuan memandangi wajahhnya seperti barusan.

Kurasakan dia memandangiku terus saat aku makan. Aku merasa semakin canggung aja. Tapi dia melihatiku pasti hanya karena menunggui aku makan. Nggak mungkin dia melihatiku dengan pikiran kemana-mana seperti aku tadi. Jangan kege-eran Kim Jaejoong. Aku berusaha makan dengan cepat agar dia tidak melihatiku seperti ini lebih lama lagi. Entah kenapa aku canggung jika dia melihatiku. Hingga akhirnya habis makanan yang ada di depanku.

“Sudah selesai..” kataku.

“Anak pintar..” sahutnya dengan mengusap rambutku perlahan.

Mwo?? Apa yang dia lakukan?? Huhh… Aku jadi malu di depannya. Jantungku tiba-tiba berdetak dengan sangat cepat. Kenapa setiap apa yang dia lakukan selalu membuatku salah tingkah dan berdebar-debar seperti ini. Apa maksudnya dia mengusap rambutku seperti itu? Apa yang ada di pikirannya sekarang?

“Sudah.. sekarang tidurlah..” ucapnya lagi.

Akupun membaringkan tubuhku dan betapa makin canggungnya aku ketika dia menyelimuti aku dengan selimutnya. Ah Kim Jaejoong ini adalah siksaan atau berkah sebenarnya??

“Selamat malam..” ucapnya.

Kulihat dia tersenyum lagi sambil memandangku. Dan dibawanya meja kecil tadi melangkah keluar. Dan pintu kamarpun tertutup.

Kyaaa… Namja itu.. Dia begitu baik, tampan, manis, tatapannya yang tajam hingga menusuk ke hati, senyumannya indah, pelukannya hangat, usapannya yang lembut, sikapnya sangat baik dan ramah, suaranya sangat manly, dan ahhhh… dia benar-benar membuat jantungku berdebar keras. Dia benar-benar membuatku salah tingkah dan canggung sendiri. Benar-benar aku terpesona olehnya.. Benarkah aku menyukainya? Benarkah aku menyukai seorang namja?

Aku terus melamunkan wajahnya hingga akupun tertidur beberapa sesaat kemudian.

-oOo-

Tak terasa hari sudah pagi. Kurasakan sinar matahari bersinar dengan terang tepat menyinari wajahku. Hoammmm…. Nyenyaknya tidurku.. Benar-benar tidur yang sangat nyenyak. Kemudian perlahan kubuka mata ini. Kulihat sekelilingku masih dengan setengah sadar. Kuperhatikan ruang tempat aku berada. Beberapa saat aku berpikir sedang berada dimana sekarang hingga akhirnya aku ingat kejadian semalam. Ya, aku berada di rumah namja itu, namja yang telah menolongku dari emperan kantornya, namja yang telah mengobati luka pada kakiku.

Masih malas rasanya tubuh ini untuk bangkit dari tempat tidur. Tapi tiba-tiba aku teringat rombongan SMA ku akan kembali ke Seoul dengan menggunakan pesawat pukul 9 pagi waktu Jepang. Kulihat kepenjuru ruangan itu tapi tak kutemukan jam dinding atau jam meja sama sekali. Langsung aku meloncat dari atas kasur dan berlari keluar kamar. Kucari-cari jam untuk mengetahui sekarang sudah jam berapa. Aku tak boleh terlambat kembali ke hotel. Saat aku tiba di dapur tampak namja itu tengah meminum segelas air di dekat meja makan.

“Sekarang jam berapa?” tanyaku pada namja itu.

“Mwo?” namja itu masih sedikit kaget melihatku yang ternyata sudah bangun dan tiba-tiba menanyakan jam.

“Sekarang jam berapa?” aku mengulang pertanyaanku.

“Mmmm.. Jam 11. Memang kenapa?” tanyanya balik.

“Mwo??? Jam 11???” aku yang mendengar ternyata sudah jam 11 langsung terduduk lesu di lantai.

“Kenapa? Ada apa? Kenapa kau tampak begitu sedih?” tanya namja itu khawatir. Dia meletakan minumnya dan mendekati yang masih tertunduk lesu.

“Aku ditinggal pesawat kembali ke Seoul oleh rombongan SMA ku..” kataku lemah.

“Memang jam berapa rombonganmu kembali ke Seoul?” tanyanya.

“Jam9 pagi.. ahhh.. Kenapa aku harus bangun siang? Kenapa aku selalu terlambat??” aku menyesali semuanya.

“Sudahlah.. Ayo kita check dulu ke hotel tempat kamu menginap. Mungkin karena ada siswa yang menghilang mereka menunda perjalanan.” Ucapnya berusaha menenangkanku.

“Benar juga.. Ayo kita ke hotel itu.”

Dengan segera aku dan namja ini pergi ke hotel tempat aku menginap selama di Tokyo.  Tampak tak ada bis yang terparkir di depan hotel seperti biasanya. Hatiku terasa makin gelisah. Aku takut hal yang tidak aku inginkan benar-benar terjadi. Setelah tiba di depan pintu hotel, aku segera turun dan mobil dan berhambur masuk ke dalam hotel. Kudekati meja resepsionis yang tak seberapa jauh dari pintu masuk.

“Maaf noonaa..” ucapku.

“Iya ada yang bisa saya bantu?” tanya pegawai resepsionis padaku.

“Rombongan SMA dari Seoul apakah sudah check out?” tanyaku dengan nafas sedikit tersengal-sengal.

“Sebentar saya check ya tuan.” Kata pegawai itu.

Semakin lama noonaa itu mengecheck semakin berdebar-debar hatiku menunggu kabar darinya. Kemudian terdengar suara namja tadi dari arah belakang.

“Ottoke? Apakah mereka sudah check out?” tanyanya.

“Entahlah.” Jawabku singkat sambil tidak memandang wajahnya.

Kemudian pegawai resepsionis tadi berkata,“Maaf Tuan. Benar rombongan SMA dari Seoul sudah check out sejak jam 7 pagi tadi.”

Mwo?? Benar kan apa yang aku takutkan benar-benar terjadi. Rombongan sekolahku sudah meninggalkan hotel. Bahkan mungkin mereka sekarang sudah meninggalkan Jepang.

“Lalu apakah mereka semua pergi dan sama sekali tidak ada yang tinggal untuk menungguku?” tanyaku yang sudah mulai kebingungan.

“Maaf. Tuan siapa ya?” tanya pegawai itu.

“Saya Jaejoong. Kim Jaejoong. Saya salah satu siswa dari SMA itu. Saya kemarin terpisah dengan rombongan dari baru bisa kembali kesini hari ini. Apakah mereka tidak ada yang mencariku? Atau meninggalkan pesan? Atau gimana gitu?” tanyaku.

“Maaf Tuan. Mereka sama sekali tidak meninggalkan pesan apa-apa.” Jawabnya.

Mwo?? Bagaimana mungkin mereka meninggalkanku begitu saja tanpa ada yang berusaha mencariku atau minimal menungguku kembali ke hotel. Atau setidaknya melapor ke pihak hotel tentang aku yang menghilang kemarin. Apa-apaan ini? Kenapa mereka tidak peduli padaku??

Kemudian namja yang bersamaku ikut bertanya pada pegawai resepsionis,“Bagaimana dengan barang? Apakah pihak sekolah meninggalkan barang-barang untuk nya, paspor, tas, dompet atau yang lainnya?” tanya namja itu.

“Maaf Tuan. Sama sekali tidak ada pesan dan titipan berupa apapun kepada kami.” jawabnya lagi.

“Tapi noona.. Mana mungkin mereka meninggalkanku begitu saja.. Coba check lagi!! Mungkin dititipkan ke pegawai lain. Cepat check lagi noona…” ucapku dengan nada tinggi hingga seluruh penjuru ruangan lobby hotel bisa mendengar suaraku.

“Maaf tuan.. Maaf.. Sejak tadi pagi saya yang menjaga meja resepsionis. Jika ada pesan atau titipan pasti diserahkan ke saya. Jika memang di berikan kepada pegawai lain. Pegawai lain itu wajib menyerahkan pada saya. Karena memang tugas dan tanggung jawab jika ada pesan atau barang titipan. Tapi memang tidak ada pesan maupun titipan Tuan.” Jelas pegawai itu panjang lebar.

“Andwe.. Tidak mungkin.. Tidak mungkin mereka meninggalkan begitu saja.. Seakan-akan menganggapku tidak ada saja. Mana mungkin songsaenim tidak peduli pada muridnya.. Tidak mungkin Junsu dan Yoochun sahabat terbaikku meninggalkan aku begitu saja.. Tidak mungkin!! Tidak mungkin!!” aku berteriak-teriak sendiri karena merasa begitu terpukulnya ketika mengetahui mereka meninggalkanku begitu saja di negara lain yang sangat asing bagiku tanpa meninggalkan pesan atau pasporku. Ottoke?? Lalu bagaimana nasibku??

“Maaf Tuan. Mohon jangan membuat keramaian di dalam hotel. Pengunjung hotel yang lain bisa merasa terganggu.” Ucap pegawai itu.

“Gomen.. Gomen nasai..” ucap namja yang ada di sampingku sambil menarikku keluar hotel. Aku yang masih bingung dan galau hanya pasrah saja saat dia menarikku keluar.

Setibanya kami diluar, namja itu masih saja menarikku menuju tempat ia memarkirkan mobil. Setibanya di samping mobil, namja itu membukakan pintu dan mendudukan aku di kursi. Aku hanya bisa terdiam. Aku benar-benar terpukul. Aku benar-benar merasa dilupakan dan tidak dianggap oleh sahabat-sahabat terbaikku dan pihak sekolah. Junsu.. Yoochun.. Kalian tega sekalu padaku.. Tanpa aku sadari air mata menetes di sudut mataku.

Tiba-tiba kurasakan sebuah pelukan hangat yang memelukku dengan sangat erat. Kumenoleh ke samping tampak namja itu yang memelukku dengan hangat. Namja tampan yang selalu berhasil membuatku lupa akan masalahku.

DEG DEG DEG!! Kenapa hatiku berdebar saat namja ini memelukku seperti ini. Kenapa? Ada apa denganmu Kim Jaejoong??

-oOo-

A/N : Mianata chingu, baru bisa nge’post sekarang… Tadi siang belum sempet nge’post, lagi perjalanan keluar kota.

Sampai disini dulu ya chapter 2 nya ya.. Tunggu lanjutannya di chapter 3.. Oya jangan lupa, leave comment please..

Gomawo🙂

39 thoughts on “Tokyo Love Tokyo Chapter 2/3 | @beth91191

  1. Aseeekk…..belum apa2 udh byk yunjae moment nih kyaaaaa >////<

    Echeem…..curiga nih
    Kek ada udang dbalik bakwan (?)
    Kek.a ad hub.a nih ma yunho knp jae dtinggal ma temen2.a #sotoy

  2. tega bgt tuh pihak sklah aplgi shbatnya si yoosu seenaknya ninggalin jae tnpa mncari kbradan….sabar jae..kn ad yunho..

  3. hmmm…. Ane jd curigation,,, jangan2 ada udang di balik balik,,, mateng deh… Hehe… Ane suka pendeskripsiany jelas bnget wat otak qu yg lemot *pengakuan terlarang* msh penasaran dg jm tngn yg da tlsn saranghae ny,, jgn2 yun yun dah pny cwe lg,,

  4. Untung umma cepet tertolong,
    n lebih beruntung.y lg ternyata appa yg nolongin😛
    umma dtinggal rombongan?
    Kok bisa?
    Poor umma…..T^T

  5. Gyaaa…..!!!!!!!!
    akhirnya Jaema da yang nolongin…

    ceritannya menarik chingu…
    lanjut baca ah…

  6. Bner kn yg nlongin umma tu appa..
    Aish mrk emang top markotop..
    Yunjae momentny q suka chngu..
    Sweet bgt..
    Q lnjt ea..

  7. wah sepertinya ada sesuatu yg disengaja ini…wkwkwkwk…
    jgn” ini rencana yunppa yah…hihihihihihi…
    asekkk bapak gw cerdik bget deh…

  8. yoochun ma junsu tega lho ninggalin mommy T^T
    gpp de kan ada appa yg siap 24 jam buat mommy (?) ._____________.

    trus yg nolongin mommy ternyata c appa th :3

  9. ah, leganyaa ~
    untung si yunpa datang dsaat yg tepat,

    kkekeke ~
    si jaema begitu ,mengagumi ketampanan yunpa #plakk

    Kyaa. . kenapa si junsu ama uchun tega banget ninggalin jaema ?
    T,T
    padahal kan jaema tersesat jg gara” mau bantuin si junsu,
    Huwee, untunglah ada yunpa yg mau bantu jaema . .

  10. owaaahh yunpa baek bangeeeedd nolongin jaema, ga cuma nolongin tapi perhatian juga.. jangan jangan begitu tau yang ditolong yunpa itu jaema makanya yunpa jad baek.. sapa tau yunpa udah fall in love at first sught sm jaema waktu kejadian di hotel kekekekekke

    ih keterlaluan banged sih sekolahnya, masa ga tau klo ada siswanya yang ga hadir.. ditambah kelakuan yoosu juga jahat banged dong sebagai sahabat.. padahal jaejoong kayak gitu kan karna nolongin junsu eh yoosu malah ga nyariin jaejoong+ninggalin jaejoong pulang ke korea tanpa bilang ke pihak sekolah.,. ih sahabat macam apa itu??

  11. Fiuuuhhhh~ beruntung yg nolong abang yun, klo org yg lbh jahat gmn? Berabe urusan nya
    Asik dah umma tumbuh perasaan cinta2 nih (~♥o♥)~ ~(♥o♥~)
    Hmmmmm itu bnrn jahat deh sklhn, terutama JUNSU & YOOCHUN ckckckckck masa ga ditinggalin apa2 buat jaema, jahat jahat jahat!!
    Eh kok perlakuan abang yun beda gt, ada apa nih?

  12. klo gini mah,rela dech terdampar d’jepang+dingin” an n d’tinggal rombongan asal papi yun yg nolongin..
    heeeee^^
    sangat” ikhlas..😀
    udh d’perlakukan dngn lmbut ma yunppa,senang na hidup mu jaema… ^^
    yoosu n rombongan bnr” ninggalin jaema tnpa pesan sdkit pun???
    ckkckkcck…
    tp itu lh takdir yg mmprtemukan jaema ma yunppa..^^

  13. kayanya ada udang di balik tepung(?).. kenapa kok mencurigakan banget.. eomma ditinggal, terdampar, jadi gelandangan *bletak* yang gak punya apa2 di negeri orang.. yaudahlah laah hidup sama appa aja sono.. wkwwkwk

  14. Iyakaaaaaaan…aPpa ýanƍ nolongin umma!
    Umma belum ªª” aja ųϑªђ salting gitu ˘ϑέcђ ªⓜª appa..
    Lagian bukannya appa tuh ƭªŮ jaema nginep di hotel, kenapa Ъ>:/ di anterin ke hotel malah di bw ke rumah appa?? Wae??wae??

    Yoosu knp kalian juga Ъ>:/ nitipin paspor, dompet, hp’a jaema ke pihak hotel sieeecchh??!!

  15. Aigooooo
    tu Yoosu gimana sich?
    Seenaknya aja ninggalin umma.
    Paling ngak nyari kek atw titip pesan gitu.
    Ckckck bener2 dah.

    Udah, umma tenang aja. Ada appa tuh, pasti appa bakal ngejagain umma..
    Hahaha

  16. Aaaaa kasiann ummaaa (┎_⌣̩̀)
    Kenapa tak ada yg nyariin umma yah, aigoooo yoosu tak cari? Aishhh, brrti memang nasibmu umma bersama appaaa dijepang X3

  17. Ngomong” mereka belum kenalan yak?
    Apa udah?
    Junsu ama uchun tega amat ninggalin jaema yak
    hihi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s