Tokyo Love Tokyo Chapter 3.A/3 | @beth91191


Title        : Tokyo Love Tokyo

Author    : Beth

Chapter : 3.A/3

Genre     : Romance, Yaoi

Rate       : 15+

Pov        : Jaejoong

 

-Akhir Chapter 2-

Setibanya kami diluar, namja itu masih saja menarikku menuju tempat ia memarkirkan mobil. Setibanya di samping mobil, dia bukakan pintu dan mendudukan aku di kursi. Aku hanya bisa terdiam. Aku benar-benar terpukul. Aku benar-benar merasa dilupakan dan tidak dianggap oleh sahabat-sahabat terbaikku dan pihak sekolah. Junsu.. Yoochun.. Kalian tega sekalI padaku.. Tanpa aku sadari air mata menetes di sudut mataku.

Tiba-tiba kurasakan sebuah pelukan hangat yang memelukku dengan sangat erat. Kumenoleh ke samping tampak namja itu yang memelukku dengan hangat. Namja tampan yang selalu berhasil membuatku lupa akan masalahku.

DEG DEG DEG!! Kenapa hatiku berdebar saat namja ini memelukku seperti ini. Kenapa? Ada apa denganmu Kim Jaejoong??

 

-Chapter 3.A-

 

“Sudahlah.. Jangan menangis. Aku tak akan membiarkanmu sendiri menghadapinya. Aku akan selalu ada di sampingmu. Aku akan selalu membantumu.” Kata namja itu padaku.

Aku masih saja terdiam dalam pelukannya. Aku tak ingin berkata apa-apa. Entah karena aku masih merasa sedih ditinggal sendirian di Tokyo atau karena sudah merasa nyaman dalam pelukan namja ini.  Bahkan aku belum tahu namanya dan dia belum tahu namaku.

“Ayo ikut aku..” katanya.

“Kemana?” tanyaku.

“Aku akan bawa kamu ke tempat yang bagus. Kau pasti suka dan kau pasti tidak akan menyesal sudah tersesat dan terpisah dengan rombonganmu.” Jawabnya.

Mana mungkin bisa aku tidak menyesal karena sudah tersesat dan terpisah seperti ini. Justru aku sangat menyesal dan sedih. Apalagi begitu tahu bahwa mereka sama sekali tidak ingat aku dan meninggalkanku begitu saja seakan-akan aku tidak penting.

“Ayolah.. Ayo berangkat sekarang.” Katanya sambil menyalakan mesin.

Mobilnyapun melaju meninggalkan hotel yang penuh kesedihan itu.

Sepanjang perjalanan aku lebih banyak diam dan hanya melihat keluar jendela melihat jalanan di Jepang. Aku benar-benar masih terpukul dan sedih. Yang ada di otakku saat itu adalah membayangkan Junsu dan Yoochun yang sudah bisa pulang ke rumahnya masing-masing. Sementara aku masih tertahan disini. Sendirian.

Tak berapa lama, suasana pinggir jalan semakin berubah. Semakin jarang ada rumah-rumah penduduk di kanan kiri jalan. Lama kelamaan hanya pepohonan yang tampak di sepanjang perjalanan.

“Sebenarnya kita mau kemana?” tanyaku memberanikan diri.

“Nanti kamu juga tahu.” Jawabnya.

“Tapi…” belum sempat kuselesai berkata.

“Ke tempat yang bisa membuatmu tidak sedih lagi.” Jawabnya.

Tak berapa lama, sampailah kami pada tempat yang namja ini maksudkan. Sebuah tempat yang sangat indah dan membuatku lupa pada masalahku.

“Wa…. Pantai…” seruku sambil berhamburan keluar mobil.

Aku pun langsung berlari meninggalkan mobil dan menuju ke pasir-pasir putih yang terbentang disana. Kulempar alas kakiku ke belakang dan kudekati ombak-ombak yang sedang berdeburan itu. Kurasakan air pantai menyelimuti kakiku sejuk. Diantara air yang menyelimuti kakiku itu dapat kurasakan pasir-pasir pantai yang terasa sangat lembut di telapak kakiku. Kumain-mainkan kakiku dengan menendang-nendangkan air. Ku cipratkan kesana-kemari air pantai ini tak tentu arah. Kucelupkan tanganku ke dalam air dan kurasakan kesejukannya di kedua tanganku. Kucoba untuk memegang pasir yang tampak putih dan lembut ini dan kumain-mainkan seperti layaknya anak kecil.

Wah… Benar-benar tempat yang menyenangkan.. Benar-benar pantai yang indah.. Dan entah bagaimana semua masalah yang mengelanyut di otak ku langsung sirna begitu saja.

Setelah beberapa saat aku bermain-main sendiri, akupun teringat dengan namja tadi.

Ku melihat sekeliling dan mencari keberadaannya. Dimana dia? Dimana? Tak dapat kutemukan dia sekitarku. Bisa kulihat dari kejauhan juga kalau mobilnya kosong. Lalu dimana dia sekarang? Tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku.

“Kau mencari-cariku?”

Akupun langsung menoleh. Ternyata namja itu yang berkata.

“Kau.. Andwe.. Aku hanya melihat-lihat sekitar.” Jawabku bohong padanya.

Dia berjalan mendekat padaku.

“Bagaimana? Lebih baik?” tanyanya.

Aku mengangguk pelan.

“Nae. Gomawo ya..” ucapku.

“Oya.. kita belum berkenalan. Kenalkan.. Jung Yunho imnida..” katanya sambil mengulurkan tangannya.

“Jaejoong.. Kim Jaejoong.” Jawabku sambil menggapai tangannya.

Tapi tiba-tiba di tariknya tangannya padahal aku berniat untuk menjabatnya.

“Hya!! Kau..” ucapku yang jengkel dengan sikapnya.

Pikiran isengpun muncul di benakku. Kuciprat-cipratkan air dengan menggunakan kakiku ke arahnya. Hingga bisa kulihat bajunya jadi basah karena tingkahku.

“Hya.. Berani ya kamu..” dia membalas mencipratiku dengan tangannya. Akhirnya aku jadi ikut-ikutan basah.

“Aku kok lebih basah.. curang.. aku balas kamu..” kataku.

Kamipun main ciprat-cipratan air. Aku berusaha menghindar dari cipratannya dengan berlari menjauhinya. Tapi dia mengejarku. Akhirnya, kami main kejar-kejaran sambil saling menyipratkan air.

“Awas ya kau..” kata Yunho yang mengejarku.

“Tak akan.. kau tak akan bisa membasahiku.” Jawabku.

Mungkin karena dia lebih jago berlari akhirnya aku berhasil tertangkap olehnya. Dijatuhkannya aku ke air. Akupun basah semua. Tak ku sia-siakan kesempatan itu. Kutarik dia agar juga sama-sama terjatuh ke air. Kami berdua sama-sama basah kuyup. Kamipun tertawa bersama, menertawakan tingkah laku kami dan kekonyolan kami. Bersamanya benar-benar membuatku lupa akan kesedihanku. Yang ada saat ini hanya kesenangan, tawa dan canda. Gomapta Jung Yunho.

-oOo-

Setelah puas bermain air, kamipun duduk di pinggir pantai dibawah pepohonan kelapa dan palem. Beberapa saat kami terdiam, menikmati keindahan pantai di kala senja. Deburan ombak dan semilir angin membuat suasana kala itu semakin indah.

“Jung Yunho..” kataku memecah keheningan senja.

“Nae..” jawabnya.

“Jeongmal gomawo ya.. Kau sudah mau menolongku dan menghiburku.” Kataku.

“Cheon..” jawabnya singkat sambil masih menatap ke kejauhan.

“Jung Yunho..” kataku lagi. “Waeyo kamu mau menolongku? Padahal kita tak saling mengenal. Bahkan kita baru berkenalan beberapa saat yang lalu?” tanyaku yang penasaran dengan pertanyaann itu.

“Aniyeyo.. Aku hanya ingin menolongmu saja. Dan mungkin juga bisa dibilang permintaan maafku karena pernah salah masuk kamar saat itu.” Jawabnya.

Kami berduapun kembali terdiam satu sama lain. Suasana senja sungguh indah. Membuatku betah berlama-lama disini. Setelah beberapa saat terasa malam mulai menjelang. Matahari sudah tampak tenggelam walau sinarnya masih tersirat di langit.

“Kim Jaejoong.. Ayo kita pulang.” Ucapnya.

“Ayo.. Aku juga sudah lapar..” jawabku.

Kami berdua pun berdiri dan berjalan menuju mobil. Lagi-lagi dia berusaha menggandeng tanganku. Sesampainya di dekat mobil dibukakannya pintu untukku dan dilepaskannya genggamannya agar aku masuk ke dalam mobil.

Mwo? Apa ini di tanganku? Kurasakan sebuah benda yang Yunho taruh di tanganku sangat kami bergandengan tadi. Kubuka tanganku dan kutemukan sebuah gelang dengan hiasan berbentuk kerang.

Kutunggu Yunho hingga masuk ke dalam mobil.

“Apa ini?” tanyaku padanya.

“Gelang..” jawabnya singkat.

“Gelang??” tanyaku lagi.

Diapun menoleh padaku.

“Iya.. Gelang.. Aku membelinya di penjual pinggir pantai tadi saat kita baru tiba. Sini aku pakaikan.” Jawabnya sambil meraih gelang itu dari tanganku dan mengenakannya di pergelanganku.

“Untuk apa?” tanyaku.

“Waeyo? Kau tidak suka? Jelek kah?” tanyanya balik.

“Aniyeyo.. Indah.. Gomawo..” jawabku.

“Nae..” katanya sambil mulai memacu mobilnya untuk pulang ke rumah.

Di dalam hati aku merasa senang sekali. Dia manis sekali padaku. Suatu pertanyaan yang penting yang ada di otakku saat ini adalah apakah dia suka padaku? Ani.. Ani.. Bukan itu yang terpenting.. Yang terpenting adalah apakah aku suka pada nya? Ya Tuhan.. Bagaimana ini? Sebenarnya apa yang terjadi?

-oOo-

Keesokannya..

Ketika aku terbangun di pagi hari. Kuperhatikan ruangan tempat aku berada. Sempat merasa lupa dan asing dengan tempat ini. Tapi tak berapa lama, aku ingat. Aku sekarang berada di rumah Jung Yunho. Seseorang yang sudah sangat baik padaku. Menolongku dari pinggir jalan. Menghiburku dan akan membantu mengurus pasporku. Oya.. Paspor.. Kita harus segera mengurus paspor. Agar bisa cepat pulang ke Seoul. Jika sampai Seoul akan aku bunuh mereka semua yang tega-tegaya meninggalkanku di Tokyo. Terutama Kim Junsu dan Park Yoochun.. Awas MATI KALIAN!!

Setelah selesai mandi, aku berjalan ke ruang tamu untuk menemui Yunho. Benar tebakanku, dia ada di sana sedang duduk di sebuah sofa, mengenakan kaca mata bacanya sambil membaca sebuah buku yang sampulnya tampak tebal. Dengan sepotong roti dan secangkir kopi tertata di meja depannya dan alunan musik terdengar lembut dari cd-player yang tak jauh darinya. Wajahnya yang tampak serius membaca buku dengan menggunakan kemeja bewarna biru pastel dan celana bewarna abu-abu kehitaman. Rambutnya yang tampak baru selesai mandi, sedikit-sedikit basah dan tersisir rapi. Tampannya… Dia benar-benar tampan..

“Selamat pagi..” salamnya padaku dengan senyuman yang tersungging manis di bibirnya.

Hwaaaa…. Tampannya….

“Se..Selamat pagi..” jawabku terbata-bata karena masih terkagum-kagum dengannya.

“Duduklah kemari..” katanya sambil menepuk-nepuk sofa di sampingnya.

Akupun berjalan mendekat dan duduk di sebelahnya.

“Makanlah.. Aku sudah menyiapkannya untukmu.” Katanyan sambil menunjuk roti dan kopi di depannya.

“Ini untukku? Aku kira ini punyamu..” kataku.

“Aku sudah makan. Ayo makanlah.. Tapi mungkin agak sedikit dingin.” Katanya.

“Gomawo..” jawabku sambil mengambil roti itu dan mulai memakannya.

“Oya.. Bagaimana dengan pasporku?” tanyaku ketika teringat tujuanku menemuinya.

“Ohh.. Kemarin aku sudah sempat melapor ke Korea Embassy. Mereka secepat mungkin akan mengurus paspormu.” Jawabnya.

“Lalu bagaimana dengan data diri, foto dan lain sebagainya? Tidak perlukah aku pergi kesana?” tanyaku.

“Tidak perlu. Mereka kan sudah punya datamu. Jadi kamu tak perlu kesana.” Jawabnya.

“Lalu berapa lama lagi pasporku jadi? Kapan aku bisa pulang?”

“Petugas di sana belum bisa menyebutkan secara pasti. Mereka hanya bisa mengatakan paling cepat 2 minggu.”

Aku yang sedang meminum kopipun langsung hampir saja tersedak.

“Mwo??? Dua minggu??? Aissshhhh… Lamanya…Ani.. Ani.. Mana mungkin selama itu? Apakah benar yang kau katakan tadi?” kataku yang terkejut bukan main.

Dia hanya mengangguk.

“Andwe.. Andwe.. Mana mungkin aku menunggu selama itu.. Aku ingin telepon ke Seoul.. Sekarang aku pingin telepon orang tua ku, Junsu dan Yoochun. Aku harus segera kembali ke Seoul.” Bujukku padanya.

“Baiklah.. Kau menenangkan diri dulu. Aku saja yang coba menelepon.” Katanya.

“Andwe.. Aku saja yang menghubungi.” Kataku.

“Baiklah.. Terserah padamu.” Di serahkannya HP nya padaku.

Kutekan nomer telepon orang tuaku. Hati ini sudah tidak sabar untuk mendengar suara mereka. Kenapa aku baru kepikiran sekarang untuk menghubungi mereka ya? Dasar pabo. Kim Jaejoong pabo..

Setelah beberapa kali mencoba menelepon tak juga bisa terhubung. Aku coba menghubungi nomer-nomer lain, nomer Junsu dan Yoochun. Ku telepon beberapa kali tapi hasilnya sama saja. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku tak bisa menelepon mereka?

“Kenapa aku tak bisa menelepon ke Seoul?” tanyaku.

“Entahlah..” jawabnya.

“Lalu bagaimana cara menghubungi mereka?” kataku sambil terduduk lesu di lantai.

“Oya.. aku baru ingat beberapa hari yang lalu terjadi gangguan sambungan komunikasi internasional. Jadi kita tidak bisa menerima telepon dari luar dan tidak bisa menelepon keluar.” Jelasnya.

“Mwo?? Lalu bagaimana denganku? Apakah aku harus menunggu 2 minggu lamanya?”

“Tenanglah.. Aku akan sering mengecek ke Korea Embassy untuk mempercepat pengurusan paspormu. Tenanglah..” hiburnya.

Akhirnya aku pun hanya bisa pasrah pada nasib malangku ini.

-oOo-

Sejak mendengar Yunho mengatakan bahwa aku baru bisa pulang 2 minggu lagi, aku benar-benar merasa sedih. Aku hanya duduk di kursi teras, terdiam sambil melihat ke arah tanaman-tanaman yang ada di halaman rumahnya. Sama sekali tidak ada semangat untuk melakukan hal lain.

Umma.. Appa.. Junsu.. Yoochun.. Aku rindu kalian.. Walaupun aku jengkel setengah mati dengan Junsu dan Yoochun tapi tetap saja aku rindu sekali dengan mereka.

Tak terasa air mata menetes di pipiku.

“Kau ingin makan es krim?” tanya seseorang yang mengagetkanku.

“Mwo?” tanyaku sambil menoleh ke arah suara.

“Yunho..” ucapku sambil menyeka airmataku.

“Aku akan mengajakmu ke tempat Ice Cream di pusat kota Tokyo. Kau pasti suka. Tempatnya besar dan ice cream nya sangat enak.” Katanya dengan tampak senyuman di wajahnya.

“Benarkah.. Aku mau ice cream..” jawabku.

Kamipun berangkat menuju tempat ice cream itu. Selama di perjalanan bisa kulihat jalanan di Tokyo yang tampak sangat modern, bersih dan rapi. Sebuah kota yang sangat maju, jauh lebih maju di banding Seoul. Orang-orang banyak berjalan kaki, menyusuri jalan dimana-mana. Toko-toko pakaian, restoran, toko buku, supermarket, salon, dan lain sebagainya terlihat berjajar rapi di sepanjang jalan itu. Hingga akhirnya kami berhenti di sebuah bangunan yang cukup besar. Terpampang sebuah nama besar di depan bangunan itu, nama bangunan itu adalah ‘Ice Cream Palace’. Dari luar tampak eksterior bangunannya seperti bangunan yang di selimuti ice cream. Dengan hiasan ceri, meses dan coklat buatan di sana sini.

Tak berapa lama, mobilpun sudah terparkir rapi di pelatarannya dan Yunho sudah berdiri di samping pintuku dan membukakan pintu untukku. Ditariknya tanganku keluar mobil.

“Ayo turun.” Ajaknya padaku.

Aku mengikutinya turun. Digandengnya tanganku dengan eratnya. Seharusnya aku merasa canggung atau malu jika seorang namja menggandengku seperti ini. Tapi entah mengapa aku malah suka jika dia menggandengku seperti ini.

Begitu sampai di dalam kami duduk di salah satu sudut ruangan.

“Konichiwa.. Selamat datang di Ice Cream Palace.”  Sambut seorang pelayan yang menghampiri meja kami.

“Konichiwa..” jawab Yunho.

“Silakan mau pesan apa?” kata pelayan sambil menyodorkan buku menu.

“Berikan saja kami ice cream yang paling spesial yang ada disini untuk nya dan secangkir capuchino untukku.” Jawab Yunho sambil mengembalikan buku menu tanpa membukanya.

“Baiklah Tuan. Sebuah pilihan yang tepat. Mohon tunggu sebentar.” Ucap pelayan itu sambil pergi meninggalkan meja kami.

Selama menunggu pesanan kami datang, kami berdua sama-sama terdiam satu sama lain.

Tak berapa saat pelayan kembali dengan membawa segelas capuchino dan sebuah gelas besar berisi ice cream tiga rasa, strawberry, vanilla dan coklat, dihiasi dengan kepingan coklat tipis, sirup strawberry, meses, wafer dan leci merah di atasnya. Kelihatannya ini benar-benar ice cream yang special. Pasti lezat dan manis.

“Silakan dinikmati Tuan.” Kata pelayan sambil mempersilakan kami menikmatinya.

“Arigato.” Jawab kami bersamaan.

“Kau suka?” kata Yunho.

Aku mengangguk pelan.

“Makanlah.. Nikmatilah..” katanya.

Dengan segera kusendok ice cream yang tampak sangat menggoda itu. Hmmmmm… Lezat… Manis… Enak… Ini benar-benar ice cream terenak yang pernah aku makan. Bahkan sejak kecil aku termasuk orang yang jarang makan ice cream karena memang keluargaku adalah keluarga yang sangat sederhana. Tak kusia-siakan ice cream yang ada di depanku ini. Aku pun menyendok lagi, lagi dan lagi. Tanpa kusadari namja yang ada di sampingku sedang senyum-senyum sendiri melihat polah tingkahku.

“Wae? Kenapa kau tertawa?” tanyaku pada Yunho.

“Tidak apa-apa.. Aku hanya suka melihat kamu asyik makan seperti itu. Bukannya tadi kamu baru aja bersedih? Bahkan sempat menangis?” goda nya padaku.

“Hya!! Kau…” kataku sambil melotot ke arahnya.

“Sudahlah.. ayo lanjutkan makan ice cream mu.” Ucapnya.

Aku pun kembali fokus pada ice cream yang ada di depanku ini. Tak kupedulikan lagi dia mau menyindirku seperti apa. Ini benar-benar ice yang enak yang tak boleh disia-siakan. Sambil menikmati ice cream aku beranikan untuk bertanya padanya sebuah pertanyaan yang mengganjal di benakku.

“Oya.. kenapa kau menginap di hotel padahal kau punya rumah yang sangat nyaman?” tanyaku ketika ingat kejadian di hotel saat itu.

“Oh… Rumah yang aku tempati sekarang adalah rumah dinas. Aku ditugaskan di Tokyo beberapa bulan. Saat itu aku baru saja tiba dari airport dan belum sempat ke kantor. Karena terlalu lelah akhirnya aku memutuskan menginap di hotel saja.” Jawab Yunho.

“Ooo.. Pantas saja kau salah masuk kamar, pasti karena terlalu lelah ya?” kataku.

“Mianhae.. aku benar-benar menyesal.” Katanya.

“Sudahlah tidak apa-apa. Aku justru berterima kasih kau sudah banyak membantuku. Tapi bagaimana dengan nasibku sekarang?” Kataku saat teringat dengan nasibku yang ditinggal sendiri di Tokyo.

“Tenanglah. Aku kan membantumu mengurus paspor. Secepatnya kau akan kembali ke Seoul.” Jawabnya.

“Gomawo..”

Kami terus saja mengobrol, tentang sekolah ku, pekerjaannya, perjalananku di Tokyo, dan lain sebagainya. Entah mengapa kami bisa dengan mudah untuk akrab. Entah mengapa aku merasa sangat nyaman bersamanya, mengobrol dengannya. Saat melihat wajahnya, senyumnya, caranya bicara membuatku senang. Apa yang salah dengan ku? Ah tidak.. tidak ada yang salah. Pasti karena dia baik padaku saja, makanya aku jadi senang bersamanya. Ya benar, dia benar-benar orang yang baik.

Terlalu asyiknya kami mengobrol, tanpa sadar ternyata di luar sudah mulai gelap.

“Kita pulang sekarang ya..” kata Yunho.

“Nae..” jawabku sambil mengangguk pelan.

Setelah membayar ke kasir, kami berduapun keluar menuju parkir. Parkiran terlihat cukup lengang. Banyak mobil yang terparkir tapi tidak ada orang yang berlalu-lalang saat itu. Tempat kami memarkir mobil cukup gelap. Hanya penerangan minimalis dari lampu pinggir jalan. Sehingga suasananya cukup remang-remang. Udarapun terasa sedikit dingin, mungkin karena saat sore tadi sempat hujan beberapa jam.

Kemudian kami masuk ke dalam mobil. Yunho menghidupkan mesin mobilnya. AC mobil pun secara otomatis menyala. Udara sedingin ini, sebaiknya tidak usah menggunakan AC. Akupun berniat mematikannya. Dan secara tak sengaja Yunho ternyata juga ingin mematikan AC. Akhirnya tangan kami pun bersentuhan.

DEG! Jantungku serasa mau melompat saat itu. Dengan segera aku tarik tanganku.

“Mmmm.. dingin..” kataku sambil memilin-milin ujung kaosku.

“Iya dingin..” kata Yunho sambil menarik tangannya juga dan sibuk membenarkan posisi duduknya.

Aku benar-benar merasa salah tingkah karena kejadian itu. Wajahku pasti memerah saat ini. Kulihat Yunho juga tampak salah tingkah, terlihat dari reaksinya yang sibuk membenarkan posisi duduknya yang sudah benar.

“Bisa kau matikan AC nya?” tanyaku.

“Oh.. iya.. aku matikan.” Jawabnya sambil mematikan tombol AC.

Kamipun kembali diam satu sama lain. Aku benar-benar bingung mau berkata apa. Yunho pun kelihatannya juga tak berniat berkata apa-apa. Dia masih saja terpaku diam memegang setir mobilnya dan melihat kearah luar mobil. Suasana seperti ini yang membuatku sangat makin berdebar-debar. Aku tak tahu apa yang ada dipikirannya. Aku pun tak berani membayangkan apa yang ada di pikirannya. Yang kurasakan jantung ini berdebar-debar dengan cepat.

“Jae..” suaranya memecah keheningan saat itu.

“Hmm..” sahutku pelan sambil memain-mainkan jariku.

“Jae..” kata-katanya terputus.

Sebenarnya apa yang ada dipikrannya? Apa yang mau dia katakan? Aku takut yang ada dipikiranku saat ini benar-benar terjadi.

“Dingin ya..” aku berusaha mengalihkan pembicaraan sambil menggosok-gosokkan kedua tanganku.

Dan kemudian secara tiba-tiba diraihnya tangan kananku. DEG! Jantungku lagi-lagi mau meloncat. Apa yang dipikiranku sepertinya terjadi. Digenggamnya tanganku erat dengan tangan kirinya.

“Jae..” kini dia sedang menatapku tajam.

Aku tak berani menatap wajahnya. Aku hanya menunduk kebawah.

“Tatap wajahku jae..” ucapnya sambil tangan kanannya mengangkat daguku.

Dengan sangat terpaksa dan berat hati, ku angkat kepala ini dan menatap wajahnya.

DEG DEG DEG!! Jantung ini makin berdebar tak karuan ketika melihat tatapan matanya yang menusuk langsung kedalam hati.

Hati ini tiba-tiba terasa sangat sangat sakit dan sesak, ketika wajahnya sedikit demi sedikit mendekati wajahku. Aku berusaha memundurkan kepalaku tapi ditahan oleh tangan kanannya.

“Aishiteru jae..” ucapnya sambil seketika mengecup bibirku.

Secara reflek dia pejamkan mata nya ketika bibirnya mententuh bibirku. Dia mengecup bibirku dengan sangat lembut dan hangat. Bukan sebuah ciuman yang penuh nafsu tapi lebih ke ciuman penuh rasa sayang dan kehangatan.

Aku yang semula sangat kaget dengan perlakuannya, mulai bisa menerimanya.

Kupejamkan mata ini. Kubiarkan dia mencium bibirku. Kunikmati sapuan bibirnya di atas bibirku. Kurasakan bibirnya terasa sangat lembut dan hangat. Kunikmati setiap tekanan bibirnya pada bibirku. Kurasakan perasaan yang aneh di dalam dada ini. Perasaan bahagia dan senang ketika dia menciumku seperti ini. Perasaan tak ingin rasanya bibir ini terlepas dari bibirnya.

Hingga akhirnya tiba-tiba terdengar..

-oOo-

 

 

Sekian dulu ya pembaca…

Mian ya ratingnya tiba-tiba naik jadi 15+.. Entah kenapa aku merasa nggak begitu pandai membuat ff yang ratingnya 13+. Mian juga kalo ternyata ratingnya di atas 15+. Lebih expert yang 18+ dan 21+ nih.. (hehehe..)

Untuk sementara chapter yang aku post yang 3.A dulu. Soalnya ternyata kalau di jadiin 1 chapter terlalu panjang jadinya. Chapter berikutnya chapter final 3.B.

Sebenarnya apa yang mereka dengar? Apakah yang akan terjadi berikutnya? Sabar ya tunggu kelanjutannya. Semoga pembaca suka ff ini ya dan tunggu kelanjutannya.

Gomawo..

🙂

31 thoughts on “Tokyo Love Tokyo Chapter 3.A/3 | @beth91191

  1. ada keberkahan nich ditinggalin ma yoosu di jepang…
    Jd ketemu ma yunnie..
    N bs bersenang…
    Hehehehe….
    Waahh… Yunnie nembak jae nich..
    Kira2 diterima or ngga yach???
    Penasaran…
    Hehehe

  2. wah moment lovenya mkin trasa…jdi g sbar ngunya….yunho akhrnya blg ashiteru k jae…so sweet

  3. mwo!!! Cinta kilat,,, ah ane mkin penasaran nih,,, msh ada jangan jangan nih,, di otak ane,, tp yunpa romantis sekali…. So sweeeeeet…

  4. Akhir.y appa nembak umma,
    aigoooo sweet banget ^^
    yeiy, mereka kissuan….*elus2 gambar yunjae
    kira2 apa yah, suara yg mereka denger??

  5. Diantra chap yg q bca q pling sreg di chap ni chngu..So sweet bgt
    Chngu daebak..
    Yunjae momentnya full..Very..Very full..
    Q sngat suka..S
    Q lnjtea..

  6. hiyaaaaa…
    akhirnya mereka ciuman jga…hahahahahh…
    tinggal nunggu nc aja deh…hihihihi…

  7. yunppa selalu pnya cara bwt jdi penenang bwt jaema..
    so sweet bgt siy yunppa d’sni..^^
    beruntung na jaema..
    kya na psangan yun-jae d’sni terkena cinta pada pandanga pertama yaa..
    yunppa udh bilang tuch,d’ksih bonus lgi kiss..
    so sweeeeeeettttt
    next chap^^

  8. beneran kayak ada yg aneh.. masa eomma ditinggalin di seoul dan gak ada yg kuatir.. mencurigakan #ala Conan
    adegan penembakannya manis banget.. suka kalo appa main nyosor aja.. >//////<

  9. huwaaaa
    yunpa udh nyatain cinta nich😀
    bahkan udh ciuman…
    so sweeettttt🙂
    suara apa yg mengganggu mereka nich:/

  10. Mau dooong di kissu appa…#plak_di gampar jaemom
    Habis’a bikin iri aja sih #jaemom:sirik amat Lu

    Bunyi apa’an tuh ýanƍ mengganggu yunjae moment???

  11. Khukhukhu
    udah terima aja umma!
    Umma jg suka kan ama appa? Hihihi
    appa ga’ ada 2.nya deh, slalu bisa biki umma happy..

  12. Wah.. So sweat yah.. Jae ah.. Minta es krim nya dong.. Hahah
    Lanjut dong.. Penasaran dgn critanya nih !! Hehe

  13. aaah so sweet nya yaah
    asyiknya pergi ke pantai berdua cihuuy
    O(∩_∩)O
    Haha Jeje di sodirin ice cream langsung lupa sedihnya
    Uno tau ajah😄

    &@@#*#@&*Huaaaaaa kisssssssss
    apa apa apa apa apa ini tandanya mereka bakal jadian trus nikah gituuuh ㄟ(≧◇≦)ㄏ
    amin~

  14. ituu..mereka poppo wktu Yun appa lgi nyetir bukan?? Kok aku berasa ga enak yaa bacany kata ‘tiba-tiba……’
    plisss…happy ending..

  15. Apa ituuuu? Suara apaaaa? Aigooo mengganggu aja deh >u< padahal lagi mesra2nya jugaaaaa aaaaa

  16. owhhh so sweet’a🙂
    tp kaya’a yunppa ada hubungan’a sma jaemma yg ditinggalin rombongan’a dech. #sok tahu#plakk#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s