Tokyo Love Tokyo Chapter 3.B/3 | @beth91191


Title        : Tokyo Love Tokyo
Author    : Beth
Chapter  : 3.B/3
Genre     : Romance, Yaoi
Rate        : 15+
Pov         : Jaejoong

 

-Akhir Chapter 3.A-

Dan kemudian secara tiba-tiba diraihnya tangan kananku. DEG! Jantungku lagi-lagi mau meloncat. Apa yang dipikiranku sepertinya terjadi. Digenggamnya tanganku erat dengan tangan kirinya.

“Jae..” kini dia sedang menatapku tajam.

Aku tak berani menatap wajahnya. Aku hanya menunduk kebawah.

“Tatap wajahku jae..” ucapnya sambil tangan kanannya mengangkat daguku.

Dengan sangat terpaksa dan berat hati, ku angkat kepala ini dan menatap wajahnya.

DEG DEG DEG!! Jantung ini makin berdebar tak karuan ketika melihat tatapan matanya yang menusuk langsung kedalam hati.

Hati ini tiba-tiba terasa sangat sangat sakit dan sesak, ketika wajahnya sedikit demi sedikit mendekati wajahku. Aku berusaha memundurkan kepalaku tapi ditahan oleh tangan kanannya.

“Aishiteru jae..” ucapnya sambil seketika mengecup bibirku.

Secara reflek dia pejamkan mata nya ketika bibirnya menyentuh bibirku. Dia mengecup bibirku dengan sangat lembut dan hangat. Bukan sebuah ciuman yang penuh nafsu tapi lebih ke ciuman penuh rasa sayang dan kehangatan.

Aku yang semula sangat kaget dengan perlakuannya, mulai bisa menerimanya.

Kupejamkan mata ini. Kubiarkan dia mencium bibirku. Kunikmati sapuan bibirnya di atas bibirku. Kurasakan bibirnya terasa sangat lembut dan hangat. Kunikmati setiap tekanan bibirnya pada bibirku. Kurasakan perasaan yang aneh di dalam dada ini. Perasaan bahagia dan senang ketika dia menciumku seperti ini. Perasaan tak ingin rasanya bibir ini terlepas dari bibirnya.

Hingga akhirnya tiba-tiba terdengar..

 

-Chapter 3.B-

KRUCUKK..KRUCUKK..

Mata kamipun kembali terbuka dan ciuman kami pun berhenti. Ada perasaan sedih ketika terpaksa bibir ini harus terpisah. Tapi sepertinya suara tadi berasal dari perutku.

Kupegangi perutku. Didalam hati ku menghujat perutku sendiri. Dasar pabo.. kenapa aku harus lapar di saat seperti ini? Kenapa perut ini harus berbunyi di saat seperti ini? Wae? Wae?

“Kau lapar ya?” Tanya Yunho padaku.

“Nae.. mian..” jawabku.

“Mian? Untuk apa?” dia bertanya sambil tersenyum padaku.

“Mmmm… untuk…” belum selesai aku berbicara.

“Ayolah kalau begitu kita pulang saja. Aku akan buatkan makan malam untuk kita. Kita akan makan masakan spesial buatanku yang pasti kau akan suka.” Jawabnya sambil memacu mobil.

“Nae..” kataku.

Didalam hati, ku mempertanyakan jawabanku tadi. Apa yang baru saja aku katakan? ‘mian’?? Mian untuk apa? Benar juga ya.. Buat apa aku minta maaf? Jaejoong…kau benar-benar memalukan.

Kulihat Yunho tersenyum.

Sepanjang perjalanan terlihat sebuah senyuman di wajahnya dan tangannya pun terus memegang tanganku dengan erat. Aku hanya bisa tediam dan membiarkannya menggenggam tanganku. Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana bersikap. Yang aku tahu, aku suka dia menggenggam tanganku, aku suka melihat wajahnya. Jung Yunho.. Aishiteru..

-oOo-

Ketika di rumah..

Saat ini aku menunggu Jung Yunho menyiapkan makan malam untuk kami berdua. Aku menunggu sambil duduk-duduk di sofa ruang tengah sambil membuka-buka majalah. Kubuka-buka majalah yang ada. Tapi mengapa tidak ada yang menarik hatiku. Karena memang majalah-majalahnya berbau ekonomi dan perbisnisan semua. Pfuhhhh..

Kemudian mataku tertuju pada rak buku yang ada di dekatnya. Sebuah buku yang sampulnya berwarna hitam dengan tulisan perak, membuatku tertarik. Tapi karena letak bukunya yang terlalu tinggi. Aku harus sedikit jinjit untuk meraihnya.

“Ahh.. Tinggi sekali bukunya..” kataku sambil berusaha meraih-raih buku.

Tiba-tiba.. “Aaaaaa…”

Kakiku salah menapak dan akhirnya akupun tak bisa menjaga keseimbanganku. Kuberusaha meraih apapun yang bisa aku raih agar tak terjatuh ke lantai. Tapi sepertinya sia-sia justru aku hanya menjatuhkan buku-buku yang ada di rak. Kupejamkan mataku dan kupasrahkan badan ini jatuh ke lantai..

BRUKK!!

Kurasakan tubuh ini tidak terhempas ke lantai. Apa mungkin sebenarnya aku berhasil berpegangan pada sesuatu makanya aku tidak terjatuh. Ahh tapi kedua tanganku mengepal di depan dadaku. Berarti aku gagal meraih sesuatu untuk berpegangan. Lalu mengapa aku tidak terjatuh ke lantai. Aku merasa aku mendarat ke sesuatu yang tidak sekeras lantai. Mendarat pada sesuatu yang hangat. Apa mungkin ini hanya perasaanku saja. Dapat kurasakan sebuah tangan dipunggungku. Ya benar sebuah tangan. Sebuah tangan yang sangat hangat yang menyangga tubuhku agar tidak terjatuh. Entah kenapa yang terlintas dipikiranku saat ini adalah tangan Jung Yunho. Tangannya yang kekar dan hangatlah yang menyangga tubuhku saat ini. Sebuah tangan yang…

“Mau sampai kapan kau mau seperti ini? Jika kelamaan tanganku bisa kram.” sebuah suara membuyarkan pikiranku.

Kubuka mata ini..

“Jung.. Jung Yunho..” aku terperanjat menyadari memang benar dia yang menyangga tubuh ini.

Dengan segera aku kembali berdiri. Wajahku saat ini memerah dibuatnya.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya.

“Gomapta.. Aku baik-baik saja. Untung kau menolongku.” Jawabku.

“Gwaechana..” balasnya.

“Buku-bukunya sampai jatuh semua.”

“Mian..” kataku.

“Mian untuk apa? Kenapa kau suka sekali berkata mian..” tanyanya.

“Mian karena menjatuhkan buku-buku mu. Mian karena membuat tanganmu kram.” jawabku.

Kulihat dia tersenyum padaku.

“Sudahlah.. Tidak apa-apa. Lain kali hati-hati. Aku tak mau melihatmu terluka.” Katanya sambil mengusap rambutku.

Mwo?? Dia melakukannya lagi.. Wajahku yang sudah kembali normal seperti mulai memerah lagi. Dia peduli sekali padaku.. Dia benar-benar baik. Aku benar-benar tak tahu harus berkata apa saat itu. Kemudian ku teringat dan melihat ke arah buku-buku. Ah iya.. Aku akan merapikannya.

Akupun jongkok dan memungut buku-buku dari lantai.

“Sudahlah.. Biar aku saja..” katanya sambil ikut berjongkok.

“Tidak usah.. Aku yang telah menjatuhkannya. Aku yang harus mengembalikannya.” Kataku.

“Baiklah.. ayo aku bantu merapikan..” balasnya.

Kami berudapun mulai merapikan buku-buku itu. Aku yang memungutinya dan Yunho yang meletakannya di rak kembali. Kemudian kulihat buku yang membuatku hampir terjatuh tadi. Buku bersampul hitam dan bertuliskan perak itu. Dasar buku pabo.. Kau yang membuatku hampir terjatuh. Tapi buku ini tidak seburuk itu. Buku inilah yang membuatku bisa merasakan dekapan hangat Jung Yunho ketika dia menangkap tubuhku tadi. Gomawo buku.

“Mana bukunya lagi Jae?” kata Yunho yang menyadari aku sudah tidak menyalurkan buku lagi.

Lalu kemudian ku berikan lagi beberapa buku padanya. Hingga semua buku itu tertata rapi di tempatnya masing-masing.

Setelah makan malam dengannya, akupun memutuskan untuk tidur. Berusaha kupejamkan mata ini. Tapi entah kenapa terbayang-bayang banyak hal dalam otakku saat ini. Ciumannya yang begitu lembut dan hangat, pernyataan cintanya, senyumannya, sikapnya, dekapan hangatnya dan aishhhh… Apa yang aku pikirkan.. Aku tak ingin berpikiran yang aneh-aneh tapi entah kenapa justru pikiran aneh itu yang bersemi di otakku. Aku berusaha tak memikirkannya lagi. Tak berapa lama akupun tertidur membayangkan Yunho datang dalam mimpiku..

-oOo-

Hari demi hari kujalani di negara asing ini dengan Jung Yunho. Andai tak ada dia, mungkin aku tak akan sanggup. Dia lah yang telah menguatkanku dan menghiburku selama ini. Tak pernah seharipun selama aku di Tokyo, aku merasa kesepian. Mungkin memang sempat ada perasaan sedih. Tapi dengan cepat dia bisa menghiburku dan membuatku tersenyum kembali.

Tak terasa ini adalah hari ke-9 aku berada di Tokyo dan hari ini tepat ulang tahunku. Saat aku membuka mata, sedikit timbul perasaan sedih di hati. Sepertinya aku akan melewati ulang tahun kali ini tanpa kehadiran teman-teman dan keluargaku. Aku harus melewatinya jauh dari rumah, jauh dari Seoul. Pfuhhh… Semoga hari ini menyenangkan. Walaupun Yunho tahu atau tidak hari ini adalah hari ulang tahunku, semoga dia bisa membuatku tetap tersenyum seperti hari-hari sebelumnya.

Saat aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar, kudapati Yunho dengan style biasanya. Tapi ada yang sedikit berbeda hari ini. Kulihat dia tengah membuka laptop dan mengetik-ngetik entah apa yang diketiknya. Kemudian sebuah suara HP berdering.

“Moshi-moshi..” sapa Yunho pada si penelpon.

Aku berusaha mendengar percakapannya dengan si penelepon.

[Yunho] : “Ohh iya.. Kita bisa bertemu hari ini.”

[Yunho] : “Dimana? Oh iya.. Saya akan menemuimu di sana. Mungkin setengah jam lagi saya tiba di sana.”

Sepertinya dia akan pergi menemui penelepon itu. Benarkah dia akan pergi bekerja hari ini? Benarkah dia akan meninggalkanku sendiri di hari ulang tahunku?

[Yunho] : “Ya.. Ya.. Tenanglah.. Tidak apa-apa.”

[ Yunho] : “Baiklah.. Ya.. Ya..”

Lalu ditutupnya telepon.

Bagaimana denganku? Akankah aku akan melewati hari ulang tahun ini sendirian? Akankah ini menjadi ulang tahun yang paling menyedihkan yang pernah aku alami?

“Siapa yang menelepon?” kataku sambil duduk di sebelahnya.

“Klien.. Dia mengajakku meeting hari ini..” jawabnya.

“Mendadak sekali. Bukannya ini hari Sabtu. Tidak bisa ditunda kah?” tanyaku.

“Tidak begitu mendadak, sejak kemarin kita sudah membuat janji.” Jawabnya sambil terus mengetik.

“Tidak bisa di tunda?” kuulang pertanyaanku.

Kemudian diapun berhenti mengetik dan melihat ke arahku.

“Waeyo? Kemarin aku juga sempat meninggalkanmu di rumah untuk meeting dengan klien, tapi kau tidak masalah. Kenapa dengan hari ini?” tanyanya.

“Mian.. Bukan maksudku mengganggumu bekerja. Tapi hari ini adalah…” ingin sekali aku mengatakannya tapi entah mengapa tak sanggup keluar kata-kata itu.

“Hari ini apa?” tanyanya.

“Ani.. Ya sudah.. Pergilah meeting. Aku tidak apa-apa di rumah.” Jawabku sedikit lesu.

“Jangan sedih begitu. Aku akan pulang cepat kok dan siang nanti kita makan siang bersama ya.” Bujuknya padaku.

“Benarkah? Baiklah.. Pulanglah cepat. Aku tunggu.” Jawabku sedikit girang.

“Kalau begitu aku berangkat dulu. Aku tak mau klienku menunggu lama.” Katanya sambil menjinjing tasnya dan berjalan keluar.

Akupun ikut berjalan keluar mengantarnya berangkat bekerja. Akhirnya aku benar-benar sendiri di hari ulang tahunku ini. Sendiri setidaknya sampai nanti siang. Tak lama rasanya jika menunggu sampai siang. Cepatlah pulang Yun..

-oOo-

Detik demi detik.. menit demi menit.. jam demi jam.. Waktu terus berjalan. Kusibukan diri dengan menonton TV. Membaca-baca buku. Menyetel beberapa judul film. Melihat-lihat album foto Yunho. Dan ternyata hari sudah sore. Mana? Dia bilang akan makan siang bersamaku? Hari sudah sore, kenapa dia belum juga pulang. Padahal kurasakan lapar diperut ini. Tapi aku harus menunggunya pulang untuk makan bersama.

Kududuk-duduk di teras rumahnya. Ku selalu berdiri dan melihat ke jalanan jika terdengar suara mobil yang lewat. Tapi ternyata bukan dia. Mana dia? Kenapa dia belum juga pulang?

Tin.. Tin..

Sebuah suara klakson mobil terdengar dari balik pagar. Kuberusaha melihat siapakah gerangan? Sepertinya itu mobil Yunho. Lalu mengapa dia tidak masuk tapi malah mengklakson seperti itu. Kulihat dia turun dari mobil dan berjalan ke halaman rumah dengan mobil yang masih menyala di pinggir jalan.

“Mian aku terlambat. Ayo sekarang ikut aku..” katanya ketika sudah berada di dekatku.

“Kemana?” tanyaku.

“Ikut saja..” katanya sambil menarikku menuju mobil.

“Kenapa kau suka sekali tiba-tiba mengajakku tanpa memberi tahu? Dan setiap aku tanya kau tidak pernah memberi tahukannya.” tanyaku.

“Tapi kau selalu senang kan begitu tiba di tempat yang ku maksudkan? Begitu juga dengan kali ini. Aku akan membawamu ke tempat yang ingin sekali kau kunjungi.” Jelasnya.

“Tapi aku lapar..” rengekku.

“Habis ini kita makan.. Ayo berangkat sekarang. Ada yang mau aku tunjukan padamu..” ajaknya

“Baiklah.. Baiklah..” jawabku pasrah.

Tak berapa lama tibalah kami di sebuah pelataran. Pelataran yang sangat luas. Kuamati sekitarku. Dimana ini. Kenapa dia mengajakku kemari. Sebentar-sebentar.. Sepertinya aku mengenal tempat ini. Dan betapa senangnya aku ketika menyadari ternyata aku sekarang berada di pelataran Menara Tokyo. Hwaa…. Menara Tokyo… Menara yang ingin sekali kukunjungi sejak lama. Ingin sekali naik hingga ke puncaknya.

Setelah diparkirnya mobil, kamipun langsung berjalan menuju pintu masuk Menara.

“Jangan-jangan sudah tutup seperti malam itu.” Kataku ketika teringat kejadian saat aku bersama Junsu dan Yoochun.

“Tenanglah.. Masih buka kok.” Sahut Yunho.

Setelah masuk dan membayar tiket masuknya kamipun langsung menuju lift. Lantai paling atas adalah tujuan kami. Ketika pintu lift terbuka, langsung terpampang pemandangan kota Tokyo sejauh mata memandang. Indah sekali… Senangnya akhirnya setelah sekian lama, aku bisa juga berada di puncak Menara Tokyo. Setelah sempat gagal karena ternyata Menara sudah tutup, setelah sempat terjatuh, kehujanan dan tersesat. Setelah melewati hari tanpa orang tua dan teman-teman. Akhirnya aku bisa juga melihat kota Tokyo dari puncak Tokyo Tower.

Tampak hari sudah mulai gelap. Matahari sudah mulai kembali ke peraduannya. Wah… Indahnya sunsetnya.. Indahnya hari ini. Indah… Aku benar-benar berdiri mematung terkesima dengan pemandangan sunset dari atas menara Tokyo. Suatu pemandangan yang sangat indah yang belum pernah kualami.

“Jung Yunho..” kataku.

“Nae..” jawabnya.

“Gomawo ya kau membawaku kemari..” kataku.

“Nae..” jawabnya singkat.

“Ini benar-benar indah sekali. Benar kan Yun?” tanyaku.

“Andwe..” jawabnya.

“Mwo?” aku menoleh ke arahnya. “Apa maksudmu?”

“Ada yang jauh lebih indah dari ini.” Ucapnya terhenti.

“Apa?” tanyaku.

“Yang jauh lebih indah dari ini adalah kau Kim Jaejoong. Kau adalah keindahan yang sebenarnya. Kau adalah keindahan yang sempurna.” Katanya.

Aku hanya bisa diam mematung mendengar kata-kata nya. Kata-kata yang tak pernah terbesitkan di otakku. Kata-kata yang sangat manis yang langsung menusuk ke dalam hatiku. Kata-kata yang membuatku bahagia sekaligus malu.

“Kim Jaejoong..” kata Yunho.

Aku masih tetap diam.. tertunduk..

“Aku sangat mencintaimu.” Katanya.

DEG!!! Apa yang dia katakan??

“Maukah kau menjadi kekasihku?” ucapnya sambil memegang tanganku.

Benarkah apa yang baru saja kudengar. Benarkah dia baru saja menyatakan cintanya padaku. Benarkah dia baru saja memintaku menjadi kekasihnya. Aku masih saja tidak bergeming.

“Kumohon jae..” pintanya memelas.

“Yun..” kata-kataku terputus.

Rasanya hati ini mau meledak. Benar-benar aneh perasaan yang saat ini ada di dalam hatiku. Aku benar-benar tidak tahu harus berbicara apa. Rasanya mulutku tertahan untuk mengeluarkan kata-kata walau sepatah-katapun.

“Aku akan menerima semua jawaban yang kan kau berikan Jae.. Kumohon jawablah Jae. Maukah kau menjadi kekasihku?” tanyanya.

Kuanggukan kecil kepalaku.

“Apa jae?” tanyanya.

Kuanggukan lagi kepala ini.

“Apa jae?” diulanginya lagi pertanyaannya.

“Nae.. Aku mau jadi kekasihmu Jung Yunho..” jawabku sambil mengangkat kepala ini dan menatap wajahnya.

Seketika diciumnya bibirku olehnya. Diciumnya dengan sangat dalam dan hangat. Sebuah ciuman yang sangat indah. Layaknya ciuman sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu. Sebuah ciuman yang jauh lebih hangat dibanding ciuman malam itu. Ciuman yang indah dengan dihiaskan pemandangan Tokyo di kala senja. Ditekannya bibirku lebih dalam olehnya. Bisa kurasakan bibirnya yang terasa lembut dan hangat. Aku hanya bisa memejamkan mata ini dan menikmatinya. Dan berharap ciuman ini tak pernah berakhir. Kami terus berciuman hingga..

“Saranghae Kim Jaejoong..” ucapnya sambil melepas ciumannya.

“Saranghae Yun..” balasku sambil menundukan kepalaku kembali.

Mengapa ciuman ini cepat berakhir? Ada seperti perasaan malu karena telah berciuman dengannya. Sesaat tak berani aku menatap wajahnya. Tapi tetap dipeganginya erat tanganku olehnya.

“Hari ini kau ulang tahun bukan? Selamat ulang tahun.” Kata Yunho yang membuatku kaget.

“Kau tahu hari ini aku ulang tahun?” tanyaku sambil menatap matanya kembali.

“Nae.. Tentu saja..” jawabnya sambil tersenyum manis.

“Mana hadiah untukku?” secara spontan aku bertanya padanya.

Dan seketika aku menyadari bahwa itu benar-benar pertanyaan yang memalukan. Bagaimana bisa aku meminta hadiah seperti itu. Padahal kita baru saja menjadi sepasang kekasih. Aduhh~.. Wajahku kembali tertunduk malu.

“Kenapa ekspresimu jadi seperti itu?” tanyanya yang menyadari bibirku yang kungerucutkan karena merasa malu sendiri.

Aku hanya menggeleng.

Kemudian dipeluknya tubuhku dengan hangat.

“Bukannya hatiku sudah menjadi hadiah untuk ulang tahunmu?” dia menanyakan sebuah pertanyaan yang membuatku tergetarkan. Sebuah kalimat yang sangat manis yang tak pernah kubayangkan akan meluncur dari bibirnya.

“Jung Yunho.. Kau hadiah terindah dalam hidupku..Aku tak mengharap hadiah yang lain.” ucapku pelan sambil memperat pelukan kami.

Kudengar dia sedikit terkekeh. Kulepaskan pelukannya dan ku tatap matanya.

“Mwo? Kenapa kau tertawa?” tanyaku sedikit ketus.

“Aniyeyo.. Aku sudah menyiapkan kado lain untukmu yang tak kalah indah di banding aku.” Sindirnya atas jawabanku tadi.

“Hya!!! Jung Yunho..” dia membuatku benar-benar malu dengan kata-kata itu.

“Ayo pulang.. Hadiahnya ada di rumah..” katanya sambil mengajak pulang kerumah.

Di dalam hati aku bertanya-tanya hadiah apa yang dia siapkan untukku. Kenapa dia meninggalkannya di rumah dan tidak membawanya ke menara Tokyo tadi. Pasti lebih indah kalau dia memberikannya di ketinggian sana. Dasar kurang romantis. Kataku di dalam hati.

Setelah kami tiba dirumah. Aku segera turun karena sudah tak sabar dengan hadiah yang akan dia berikan. Yang katanya lebih indah dari pada dirinya.

“Tunggu sebentar.” Ucapnya sambil menahanku masuk ke dalam rumah.

“Ada apa?” tanyaku.

“Tutup matamu. Agar kau lebih berkesan.” Pintanya.

“Baiklah.. baiklah.. Tapi awas ya kalau tidak indah hadiahnya.” Kataku sambil mengerucutkan bibirku.

Ditutupinya kedua mataku dengan tangannya hingga kami masuk kedalam rumah.

“Kau siap dengan hadiah ulang tahunmu?” tanya Yunho padaku.

“Nae..” jawabku.

“1..2..3..” ucapnya sambil membuka tangannya pada hitungan ketiga.

Kubuka mataku perlahan sedikit demi sedikit.

“SURPRISE!!!”

“Omo??? Umma.. Appa.. Junsu.. Yoochun..” teriakku ketika melihat di ruang tamu rumah Yunho sudah ada orang-orang yang aku kenal. Orang-orang yang aku sayangi yang sama sekali tidak kusangka akan berada di sini saat ini.

“Hyung…” sebuah suara yang sudah lama tak kudengar memanggilku. Sebuah suara yang sangat berisik dan mengganggu.

“Ya Junsu~ah..” kataku ketika pemilik suara itu memelukku.

“Selamat ulang tahun hyung..” ucap Junsu sambil memelukku.

“Nae selamat ulang tahun hyung..” timpal Yoochun di belakangnya.

“Kalian kenapa bisa di sini? Apa Yunho yang yang mengajak kalian kemari? Tapi bagaimana dia bisa melakukannya. Sebenarnya apa yang terjadi. Jangan-jangan kalian yang…” belum sempat aku selesai berkata.

“Iya hyung.. Memang kami yang merencanakan ini semua. Mulai dari saat malam kamu tersesat sampai hari ini. Yunho-shi yang membiarkanmu terlambat bangun. Pihak sekolah yang tidak mempedulikan kehilanganmu. Pihak hotel yang acuh dan meyakinkan kamu bahwa tak ada titipan untukmu. Pengurusan palsu untuk paspor. Telepon yang tidak bisa dihubungi. Kerja sama dengan orang tuamu. Kesepian dari tadi siang hingga sore hari karena Yunho-shi pergi meeting. Yunho-shi mengajakmu keluar agar kami bisa menunggumu di rumahnya. Dan yang terakhir kejutan ini.” Jawab Junsu sambil tersenyum menjengkelkan.

“Hya!! Kalian…. Mati kalian..” teriakku sambil hendak memukul kepala Junsu dan Yoochun.

Mereka menghindar dan sembunyi di balik umma dan appa.

“Umma.. Appa.. Kalian juga datang?” tanyaku.

“Nae.. Selamat ulang tahun ya anakku.” Kata appa padaku.

“Selamat ulang tahun Hero-ku..” kata umma sambil memelukku.

“Gomawo umma.. appa..” kataku.

“Kau tidak terima kasih pada kami hyung.. Kan kami yang merencanakan semuanya..” kata Junsu.

“Semuanya katamu? Apakah pertemuanku dengan Jung Yunho juga kau yang merencanakan?” tanyaku.

“Tidak.. Itu benar-benar bukan kami yang merencanakan. Kami baru memiliki ide untuk meninggalkanmu di Tokyo ketika malam saat kau menghilang itu Jung Yunho hyung langsung menelepon ke pihak hotel. Kemudian kami baru ingat kalau kau sebentar lagi akan ulang tahun. Junsu pun menyarankan untuk mengerjaimu dan memberimu kejutan di hari ulang tahunmu hyung..” jelas Yoochun padaku.

“Berarti sejak malam aku tersesat itu kau sudah menghubungi mereka?” tanyaku pada Yunho.

Dia hanya mengangguk dan tersenyum.

“Aishhh… Kalian semua..” teriakku.

“Tapi tetap saja. Tanpa bantuan Jung Yunho-shi, kau benar-benar akan tersesat. Dia lah yang banyak menolongmu. Kau benar-benar orang yang baik Yunho.” Kata appa sambil menepuk bahu Yunho.

“Jeongmal khamsa hamnida Yunho-shi” kata umma.

“Tidak masalah ahjuma.. ahjushi..” jawab Yunho.

“Kami tidak akan merepotkanmu lagi dengan keberadaan Jaejoong disini. Besok akan kami ajak pulang Jaejoong bersama kami ke Seoul.” Kata appa.

DEG! Besok? Pulang? Seoul? Benarkah besok aku harus kembali ke Seoul meninggalkan Tokyo dan semua kenangan yang ada? Benarkah aku harus berpisah dengan Yunho? Didalam hati aku ingin menolak pulang kembali ke Seoul. Aku masih ingin lama berada di Tokyo. Berada di samping orang yang sangat aku cintai yaitu Jung Yunho.

“Tapi..” belum sempat aku selesai berkata kurasakan Yunho menatapku dengan tatapan yang berbeda.

Bisa kurasakan dari tatapannya dia ingin berkata. ‘Jangan.. Jangan menolak untuk pulang besok.’

Akhirnya kuurungkan kata-kataku.

“Ayo sekarang kita makan diluar. Kita rayakan ulang tahun Jaejoong hyung..” ajak Yoochun pada kami semua.

“Ayo kita berangkat sekarang.” Ajak appa dan umma.

“Umma.. Appa.. Kalian berangkatlah dahulu. Aku masih ingin ke kamar mandi sebentar. Aku akan berangkat bersama Yunho.” Pintaku pada mereka.

“Baiklah.. kami tunggu di restoran yang sudah di pesan oleh Yunho-shi ya..” kata appa sambil melangkah keluar diikuti umma dan teman-temanku.

“Jangan lama-lama ya hyung.. Nanti kuhabiskan makananmu..” kata Junsu menjengkelkan seperti biasa.

“Ck! Hyaa kau Junsu..” ucapku sambil mengantar mereka keluar.

Setelah kulihat mereka berangkat, aku kembali melangkah masuk ke dalam rumah.

“Yun..” panggilku padanya.

“Hmm..” jawabnya.

“Benarkah besok aku harus kembali ke Seoul?” tanyaku dengan nada memelas.

“Tentu saja.. Bukannya ini yang kau inginkan. Bukannya kau ingin bisa kembali ke Seoul secepatnya?” ucapnya.

“Nae.. Tapi.. Setelah bersamamu.. Aku jadi enggan kembali ke Seoul. Aku ingin selalu di sampingmu. Bagaimana kita bisa bertemu jika aku harus kembali ke Seoul?” tanyaku sedih.

“Aku bisa sering-sering berkunjung denganmu nanti.”

“Tapi Yun..”

“Tak rindukah kau pada keluargamu? Tak rindukan mereka padamu? Sembilan hari kalian tidak bertemu. Mereka jauh-jauh kemari demi ulang tahunmu dan berharap kau bisa cepat kembali ke rumah. Maukah kau membuat mereka kecewa dan sedih dengan memilih untuk tetap berada di Tokyo dan tidak ikut mereka kembali ke Seoul?” ucapnya dengan sangat tegas yang membuatku sedikit tertegun

“Benar yang kau katakan Yun. Tapi bagaimana bisa aku jika tidak bertemu denganmu? Atau kau ikut kembali ke Seoul?” tanyaku.

“Andwe.. Kontrakku masih lama disini jae..” Jawabnya.

“Tapi Yun~” rengekku.

“Sudahlah.. Jangan dipikirkan lagi. Pulanglah besok. Aku akan sering menghubungimu dan berkunjung ke Seoul. Ayo berangkat. Kau tak inginkan mereka menunggu kita terlalu lama,kan? Bukannya kau belum makan dari tadi siang?” Ucapnya.

“Baiklah..” jawabku.

Aku tak bisa berkata-kata lagi. Aku benar-benar bingung dengan perasaanku saat ini.

Akhirnya kami menyusul umma, appa dan teman-temanku ke restoran yang sudah Yunho pesan. Sebuah restoran kelas atas yang besar dan mewah. Dipesannya menu-menu masakan paling spesial yang ada di restoran ini. Kurayakan acara ulang tahunku kali ini bersama semua orang yang aku cintai. Kami menikmati makanan-makanan yang dihidangkan dengan lahap dan diiringi live music yang sangat indah. Kami bercanda dan mengobrol sepanjang malam. Terima kasih Tuhan ini benar-benar ulang tahun terindah yang pernah ku alami. Ulang tahunku yang pertama bersama kekasihku Jung Yunho. Sesaat aku lupa bahwa besok aku harus kembali ke Seoul. Sesaat aku lupa bahwa besok aku harus berpisah dengan Yunho. Kunikmati sisa waktu yang ada untuk selalu bersama nya, Jung Yunho kekasihku.

-oOo-

Hari ini adalah hari dimana aku harus kembali ke Seoul. Berat rasanya meninggalkan Tokyo. Berat rasanya meninggalkan Yunho. Aku tak mungkin bisa tanpa Yunho di sampingku. Tapi terlambat rasanya untuk membatalkan kepulanganku. Saat ini aku sudah berada di bandara Narita bersama appa, umma, Junsu, Yoochun dan Yunho. Tak terasa sebentar lagi pesawat akan berangkat.

“Kami pamit dulu ya Yunho-shi.. Terima kasih banyak kau telah membantu Jaejoong selama di Tokyo.” Kata appa pada Yunho.

“Nae ahjushi..” jawab Yunho.

“Kapan-kapan kalau kembali ke Seoul, mampirlah ke rumah kami ya..” kata umma.

“Tentu ahjuma..” jawabnya.

“Oya Yunho hyung gomawo ya, kau banyak membantu kami memberi kejutan pada Jaejoong hyung.” Kata Yoochun menimpali.

“Ah.. harusnya Jaejoong hyung benar-benar ditinggal aja dan dilupakan..” sahut Junsu.

“Junsuuuu….” teriakku sambil memukul kepalanya. Akhirnya berhasil juga aku memukul kepalanya.

“Awww Hyung..” pekik Junsu.

“Sudah-sudah.. Ayo kita masuk sekarang. Sebentar lagi pesawat take-off.” Kata appa menyuruh kita untuk segera bersiap naik pesawat.

“Nae appa. Kalian duluan saja. Aku masih mau bicara dengan Yunho.” Sahutku.

“Kami berangkat dulu ya Yunho-shi.. Sekali lagi terima kasih..” kata mereka sambil melangkah pergi.

Mereka pun meninggalkan kami berdua sendirian. Sempat beberapa saat aku terdiam di hadapannya.

“Yun..” kataku.

“Nae?” jawabnya.

“Haruskah aku pergi sekarang?” tanyaku.

“Tentu saja.”jawabnya singkat .

“Tapi Yun..” kataku sambil memeluknya dengan tiba-tiba.

Awalnya dia sempat terkejut dengan pelukanku, karena kami harus berpelukan di depan umum di depan orang banyak. Tapi lama kelamaan dia menerima pelukan ini dan justru mempererat pelukan kami.

“Yun..” kataku dengan nada sedih.“Aku tak bisa pisah darimu.” air mata mulai menetes dari mataku.

“Sudahlah.. Jangan menangis. Secepatnya kita akan bertemu lagi.” Jawabnya.

“Atau kau ikut aku kembali ke Seoul?” tanyaku sambil menatap matanya.

“Mana mungkin. Kemarin kita sudah membahasnya. Kontrak kerjaku masih lama di Tokyo.” Jawabnya.

“Tapi Yun..” kataku dengan berat.

“Kalau ada waktu luang aku akan berkunjung ke Seoul. Sudahlah jangan menangis lagi.” Ucapnya sambil menyeka air mataku.

“Janji ya?? Kau akan sering berkunjung ke Seoul dan meneleponku?” tanyaku sambil menatapnya tajam.

“Janji.. Tenanglah..” jawabnya.

“Yun..” aku kembali memelukknya erat.

“Oya Jae..” ucapnya.

“Hmmm..” jawabku dengan masih enggan melepaskan pelukannya.

“Aku belum memberimu hadiah ulang tahun bukan?” katanya sambil melepaskan pelukan.

“Hadiah? Bukannya kau sudah memberi hadiah yaitu hatimu dan kejutan yang luar biasa kemarin.” Tanyaku bingung dengan pertanyaannya.

“Ada lagi..”

“Apa memangnya hadiahmu?” kataku dengan wajah sedikit senang ketika mendengar ada hadiah tambahan.

“Jam tangan yang kau pakai Jae..” katanya.

“Mwo? jam tangan?” tanyaku sambil melihat ke arah tanganku.

Oya aku baru saja ingat jam tangan yang ku pakai saat ini adalah jam tangan milik Yunho yang tertinggal di kamar hotel saat itu. Aku benar-benar lupa.

“Oh.. Ini jam tanganmu aku kembalikan.” Kataku sambil melepas jam tangan itu.

“Tidak usah kenakan saja. Itu sekarang jadi milikmu sebagai hadiah ulang tahunmu.” Katanya.

“Tapi jam tangan ini milikmu yang diberikan oleh orang yang sangat mencintaimu. Lihatlah ada tulisan ‘Saranghae Jung Yunho’. Ini pasti dari mantan kekasih mu. Atau mungkin kekasihmu yang lain?” tanyaku penuh selidik.

“Iya memang benar itu dari kekasihku.” Katanya dengan wajah datar.

“Hya!! Jung Yunho….” seruku sambil melotot padanya.

Kulihat dia terkekeh mendengar kata-kataku.

“Kekasih yang lain apa? Hanya kamu kekasihku Jae.. Jam tangan ini adalah pemberian omoni ku sebelum dia meninggal. Dia membelikannya untukku saat aku masih di bangku SMA. Ukiran yang dibuatpun dipesannya khusus untukku. Lihatlah baik-baik. Ada tulisan pemberinya di situ.” Jelasnya.

Kulihat baik-baik jam tangan itu dan memang benar, ada tulisan ‘omoni❤ Yunho’ di bagian bawahnya.

“Itu adalah sesuatu yang berharga yang aku miliki selain kau Jae..” ucapnya.

“Benarkah ini untukku Yun?” tanyaku.

“Tentu saja..” jawabnya.

“Yun.. Saranghae..” kataku sambil memeluknya kembali.

“Saranghae Jae..” jawabnya.

Kemudian dikecupnya keningku dengan hangatnya. Bisa kurasakan kecupan hangat nya menjalar ke seluruh tubuhku. Ingin rasanya aku tak berpisah dengannya. Ingin rasanya selalu bersamanya.

“Sudahlah.. Cepat masuk.. Jangan sampai kau ketinggalan pesawat.” dengan terpaksa kami lepaskan pelukan kami.

“Baiklah..” kataku sambil memegang koperku.

Sebenarnya aku belum ingin berpisah. Tapi sebentar lagi pesawat akan berangkat. Aku tak mungkin berlama-lama lagi. Dengan terpaksa kulangkahkan kakiku berjalan meninggalkan Yunho. Ingin rasanya menengok ke belakang. Tapi aku takut kalau aku menengok, aku jadi tak ingin pergi meninggalkannya.

“Jaejoong….” kudengar dia berteriak memanggilku.

Tak sanggup aku menahan diri untuk tak menoleh padanya. Begitu kumenoleh kulihat wajahnya yang sangat kucintai itu tengah berkaca-kaca matanya. Aku pun meninggalkan koperku dan berlari ke arahnya kembali. Kupeluk erat tubuh Yunho untuk kesekian kalinya.

“Yunho.. Jangan pernah kau lupakan aku. Selalu ingat aku. Selalu telepon aku. Sering-sering kunjungi aku.” Ucapku dengan air mata yang membanjiri pipiku.

“Jae.. Kau disana juga jangan pernah lupakan aku ya. Selalu ingat aku. Aku selalu mencintaimu.” Ucapnya dengan memelukku erat.

Beberapa saat kami terdiam dan saling memeluk erat satu sama lain. Akhirnya mau tak mau kami harus benar-benar berhenti berpelukan ketika terdengar pengumuman bahwa pesawat akan take-off. Kali ini benar-benar aku harus berangkat dan berpisah dengannya. Kulangkahkan kakiku dengan berat dan setibanya di pintu masuk, kuberbalik dan kulambaikan tanganku.

“Kita akan segera bertemu lagi Yun.. Anyeong..”

“Anyeong..” jawabnya dengan senyuman manisnya yang belum kulihat hari ini.

Didalam hati aku berkata,
Tenanglah Yun.. Aku tidak akan pernah lupa padamu. Aku akan selalu mencintaimu. Aku akan menunggu saat-saat bertemu denganmu lagi, Yun..
Saranghae.. Jeongmal Saranghae Jung Yunho.

Selamat tinggal Jepang. Selamat tinggal Tokyo..
I’m falling in love in Tokyo. Aku menemukan cinta sejatiku di Tokyo.

Cintaku Jung Yunho. Sayangku Jung Yunho. Kasihku Jung Yunho.

Tokyo Love Tokyo..

Saranghae Jung Yunho..

 

-oooooOOOoooooo-

Akhirnya selesai juga FF yunjae Tokyo Love Tokyo ini..

Gimana chingu pembaca komentarnya? Leave comment ya.. ditunggu lho…

Oya, sepertinya bakal ada bonus chapter untuk FF ini deh. Tungguin aja Tokyo Love Tokyo Chapter Bonus nya ya.. Sebuah masalah mau nggak mau harus muncul dan menyedihkan.. Huhuhu.. Tapi sabar ya..😀

Terus jangan lupa ikutan polling yang ada di pengumuman ya.. Kita mau buat grup di FB nih.. Makasih banyak kalau kalian mau ikutan polling.. Aku tunggu vote -nya.. Oke?

Terima kasih banyak atas dukungan buat author. Hanya dukungan dari kalian yang bisa buat author tetep semangat ’45 bikin FF yunjae.. Bener tanpa kalian author udah menyerah. :’)

Bocoran-bocoran lagi.. FF yang akan kita posting berikutnya mungkin FF yunjae 21+ (wowwww *kaburrr)

Hahaha.. Sabar juga ya.. Tapi resiko tanggung sendiri lho..

Sekali lagi gomawo semuanya..

Gomawo..

Gomawo..

-Author Beth-

🙂

30 thoughts on “Tokyo Love Tokyo Chapter 3.B/3 | @beth91191

  1. Hihihi…..ternyata ini semua mang udah drencanain oleh yunho ma yoosu

    So sweet bgt nih ff romantis abis
    Moga aj hbs ini yunho ngajakin jae kwin, ehehehe

  2. lho kok jd pisah gni….
    Huhuhuhuhuhu…
    Aq ngerti kok perasaan jae…
    Meninggalkan org yg disayang…
    Pasti sedih bgt….
    Hik…hik…hik…..

    Tp jae melewati ultah yg sangat menggembirakan tahun ini…
    Hehehehe..
    Banyak hadiah dr yunnie…
    Ckckckc

  3. Hahahaaa.. Jujur aku geli sendiri baca ff ini.. Benar-benar perpaduan yg lucu.. Senyum2 geli campur malu sendiri spanjang baca. Padahal aku sndiri yg buat tpi aku nggak begitu hafal jalan critanya gimana,soalnya udah agak lama buatnya.. Yunjae2..❤

  4. bayangi wajah junsu kesakitn di tabok jae…pasti wajahnya makin cute…jae balik k seoul moga cpat ktemu dgn jae

  5. tuh kn bner,, ada udang di balik ny,,, keren lah,,, wlpn ane telat bc ni epep,, ane lum tdur nih,,, pdhl dah jm 2 pgi,, penasaran ma crtny,,, lembur lembur dah….

  6. Loh kok yunjae pisah,
    sedih juga liat mereka gak bakalan bersama lgi ><
    ortu umma n yoosu lum tau yah kalo yunjae dah jadian…

  7. gyaaa……!!!!!!
    Yunpa, Jaema….!!!!
    jangan pisah…

    komenq maraton gara2 penasaran….
    lanjut lagi….

  8. Akhrny mrk brsatu..
    Tp ko di endingny mrk psah lg..Aish..

    Umma singging ” merana kini q merana..Ku tinggalkan kkasihku dijepang..
    Sndiri kini q sndiri..
    Di seoul ku kn sndri “

  9. hikkkssuu…
    akhirnya uri yunjae bersatu…:”)
    tpy knapa kudu pisah lagi setelah jadi sepasang kekasih…
    sumpah deh romantis bget…
    jdy keinget ama AADC…
    tpy kok kissingnya cuman di kening doank….??
    kok gak di seluruh badan aja sih…wkwkwkwk…:p

  10. Waaaa. . ternyata.!!
    aku pikir junchan, uchun, etc udh ga peduli lg ama jaema.
    ternyata ada udang di balik bakwan mimin #plakk
    ga nyangka itu semua surprise buat jaema😀

    Lho, kenapa ending’a jaema g bareng ama yunpa ?
    O,o

  11. ooohhh jadi semua itu kerjaannya yunho ckckckck
    yunpa ada ada aja!!! mian pernah marah2 sm yoosu,, kirain yoosu bener2 jahat ga setia kawan hohohoho
    yah padahal yunjae baru jadian tapi udah pisah lagi T____T

  12. Hiyaaaaa~ ternyata direncanakan, tp gpp sih klo ga kyk gt ga bkln bisa lama sama abang yun. 윤재 대박!!
    Aih, iya slama lama lama lama nya kln slng mencintai kok wkwkwkwk

  13. wah baru sempet comment skrg!
    ah pisah knp knp knp?????
    bonus bonus bonus chapter bonus lah yg saya tunggu2 heheh
    ROMANTIS BANGET (serius)

  14. tuh kan bener kecurigaanku.. hahahahaha ternyata jadi kejutan ultah toh, ckckckckcck junchan..junchan..
    adegan di bandara romantis abis.. >.<

  15. huweeeeee
    kenapa endingnya kayak gini😦
    mengharukan😦
    mereka kan bru jadian, kenapa harus terpisahkan😦😦😦

  16. ☺☺☺°˚°Ħ ternyata bunyi perutnya jaemom
    Waoow yundad pura” Ъ>:/ ƭªŮ hari ulang taun’a jaemom…surprise’a hebat banget deh sumpaah!! yundad memang daebak!!!

    Dasar tuh sotoy yoosu ngerjain jaemom ternyata…kerjasama bareng yundad ✘¡✘¡✘¡
    Gomawo ýª yoosu…berkat kalian jaemom menemukan cinta sejati’a, τρ skrg knp mereka kepisah TT.TT TT.TT

  17. Hyaa selesai^^
    bagus bnget cerita nya ..
    Adegan romance nya juga sweet bnget ..
    Seneng deh baca nya

  18. Yaaiy…happy ending ;*
    Suka banget sma cerita2 gini, manis2 gimana gitu..
    Wkwkwk
    Eh, tpi ada part bonusny..
    *baca dulu ahh ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s