Tokyo Love Tokyo Chapter Bonus 1/2 | @beth91191


Anyeong..

Akhirnyaaa setelah dua minggu aku vakum dari dunia perfanfican, kini aku datang dengan lanjutan Tokyo Love Tokyo seperti yang udah aku janjiin dulu.. Huhuhu.. Mianata telat banget.. Seperti yang aku bilang di Pengumuman, aku sedang banyak pikiran belakangan ini plus liburan juga sih. Banyak pikiran kok bisa liburan ya?? hehe.. Mian mian mian.. Silakan dinikmati ya Tokyo Love Tokyo Chapter Bonus 1/2…🙂

 

Title        : Tokyo Love Tokyo

Author   : Beth

Chapter : Bonus 1/2

Genre     : Romance, Yaoi

Rate        : 18+

Pov          : Jaejoong

 

[Jaejoong pov]

 

[Jaejoong] : Appa…

[Appa] : Dari awal appa sudah tidak setuju dengan keputusanmu kuliah di Jepang!

[Jaejoong] : Ayolah appa kita sudah pernah membahasnya.

[Appa] : Membahas apa yang kamu maksudkan?? Membahas kalau kamu sudah tidak butuh appa dan umma lagi?? Membahas kalau kamu sudah lupa dengan appa dan umma mu, ha??

[Jaejoong] : Appa kok berkata seperti itu. Aku sama sekali tidak lupa dengan kalian. Aku selalu menyempatkan diri menelepon kalian.

[Appa] : Menelepon menelepon?? Appa tidak butuh telepon dari kamu. Appa butuh kamu pulang ke Seoul. Secepatnya!! Dan tidak usah balik-balik lagi ke Tokyo.

[Jaejoong] : Appa ini bicara appa? Aku sudah pernah bilang, aku sibuk disini. Jadwal kuliah ku padat. Andaikan ada waktu luang, aku pasti sudah pulang ke Seoul. Tunggulah hingga libur semester ini, aku pasti pulang.

[Appa] : Sibuk?? Sibuk?? Sibuk?? Anak kuliahan sibuknya seperti apa sih? Alasan aja kamu.. Terserah kamu mau pulang atau tidak.. Atau selama nya kamu tidak pulang, appa sudah tidak peduli…

[Jaejoong] : Appa.. Jangan bicara seperti itu. Aku benar-benar minta maaf karena belum bisa pulang ke Seoul hampir 6 bulan ini. Tapi…

Tut tut tut..

Terdengar suara telepon terputus.

Sepertinya appa sangat marah padaku karena aku sudah lama tidak pulang ke Seoul. Kenapa appa tidak bisa mengerti keadaanku. Aku harus kuliah 5 hari dalam seminggu. Akhir minggu aku habiskan untuk mengerjakan tugas. Mana sempat aku pulang ke Seoul selain libur semester?

“Ada apa sayang? Kenapa malam-malam begini kamu teriak-teriak sendiri?” sebuah suara mengagetkanku.

Kupandang wajah seseorang yang terbangun karena ku,

“Aniyeyo.. Appaku yun..” jawabku lesu.

“Ada apa dengan appamu?” katanya sambil mendekatiku yang tengah terduduk di sofa ruang tengah.

“Appa marah besar karena aku sudah lama tidak pulang ke Seoul..” jawabku.

“Kau sendiri kenapa tidak mau pulang?” tanyanya lagi.

“Aku hanya libur hari Sabtu dan Minggu, Nanggung sekali kalau aku pulang. Waktuku nanti habis hanya untuk perjalanan saja.” Jawabku dengan nada sedikit tinggi.

“Bukannya sering ada libur ya saat hari besar? Kenapa saat seperti itu kau tidak pulang saja?” tanyanya sambil membelai rambutku.

“Aku kan pasti menggunakan waktu itu untuk bersamamu Yunnie. Kau sendiri juga sibuk. Kalau tidak hari-hari seperti itu, kapan lagi kita bisa menghabiskan waktu bersama?” jawabku sambil menatap wajahnya memanja.

“Ayolah.. Katakan yang sebenarnya kau memang tak ada waktu luang untuk pulang atau kau memang tak ingin pulang? Kurasa perjalanan Narita-Incheon hanya sebentar. Rumah ini ke Narita hanya setengah jam. Begitu juga dengan Incheon ke rumahmu. Hari Jumat setelah kuliah, kau berangkat ke Seoul dan Minggu malam kembali, juga bisa. Sedangkan tugas-tugas bisa kau kerjakan saat di Seoul bukan?” Ucapnya memojokanku.

“Yun.. kau malah tidak membelaku.. Kau tidak sayang padaku..” kataku sambil mempoutkan bibir ini.

“Jae.. Aku sayang padamu lebih dari apapun. Begitu juga dengan orang tuamu. Aku tahu perasaan orang tuamu yang sangat rindu padamu karena telah lama tak berjumpa. Karena akupun juga akan sangat rindu padamu jika kita tak bertemu dalam waktu yang lama. Apalagi kau anak satu-satunya di keluargamu. Mereka pasti merasa sangat kehilangan karena kau harus pergi jauh meninggalkan mereka. Mereka pasti kesepian. Tak rindukah kamu sama kedua orang tuamu? Jikalau kamu memang tidak rindu mereka, setidaknya ingatlah, jauh di Korea sana ada seseorang yang sangat merindukanmu, yang sangat menyayangimu, yang selalu berdoa untukmu dan tak pernah berhenti sedikitpun memikirkanmu, yaitu kedua orang tuamu.” Jelasnya padaku.

Entah mengapa saat mendengar kata-katanya hatiku ini sangat tergetar. Benar apa yang dikatakan Yunho. Selama ini aku terlalu egois dengan diriku. Aku terlalu sibuk untuk memikirkan diriku yang selalu ingin berada di dekat Yunho tanpa memikirkan orang tuaku. Padahal orang tuaku pasti sangat merindukan aku. Rumah pasti terasa sangat sepi tanpa kehadiranku. Mereka pasti sedih mendengar jawabanku seperti tadi. Aku jahat sekali kepada mereka. Seharusnya aku tidak berkata seperti itu.

“Yun..” panggilku.

“Hmmm….” responnya.

“Aku telah salah ya Yun?” ucapku dengan mata berkaca-kaca.

“Tidak.. Kau tidak salah Jae.. Kau hanya belum menyadarinya.” Jawabnya dengan sangat bijak.

“Aku egois sekali ya Yun..” air mata menetes dari ujung mataku.

“Jangan menangis..” katanya sambil menyeka air mataku.

“Tapi..” belum selesai kata-kataku.

“Belum terlambat. Sekarang segera telepon orang tuamu dan katakan weekend ini kau akan pulang ke Seoul.” Katanya sambil meletakkan Hpku di tanganku.

“Baiklah kalau begitu..”

Kuraih HP ku dan ku tekan nomer appa…

[Appa] : Yabuseyo..

[Jaejoong] : Yabuseyo appa..

[Appa] : Kamu lagi… Mau apa lagi kamu?? Ha??

[Jaejoong] : Cheosong hamnida appa.. Jeongmal cheosong hamnida..

[Appa] : Minta maaf untuk apa?

Kudengar suara appa sedikit melunak. Tapi kata-katanya masih tetap keras padaku.

[Jaejoong] : Aku minta maaf karena terlalu egois. Aku minta maaf karena lupa dengan appa dan umma. Aku minta maaf karena sudah lama tidak pulang. Aku minta maaf karena sudah mengecewakan kalian. Aku akan pulang weekend ini appa. Aku akan pulang..

Kudengar appa tidak merespon kata-kataku.

[Jaejoong] : Appa.. Appa..

Appa tidak mengatakan apa-apa. Tiba-tiba dia diam seribu bahasa.

[Jaejoong] : Appa mendengarku?

Tapi tiba-tiba terdengar suara orang lain. Bukan suara appa tapi suara umma kali ini.

[Umma] : Iya Jae.. Kenapa? Apa yang kau katakan sampai appa menyerahkan teleponnya ke umma?

[Jaejoong] : Aku minta maaf karena aku sudah egois dan mengecewakan kalian. Aku minta maaf karena sempat lupa pada kalian dan sudah lama tidak pulang. Aku janji aku akan pulang weekend ini, umma.

[Umma] : Ooooo… ternyata.. Umma kira ada apa sampai appa tak mau menerima telepon darimu.

[Jaejoong] : Appa kemana umma? Kenapa dia menyerahkan telepon pada umma?

[Umma] :  Appa tidak kemana-kemana. Dia hanya di kamar saat ini. Sepertinya dia menangis mendengar kau minta maaf seperti tadi. Ssssttt tapi jangan bilang ya kalau umma memberitahumu kalau appa menangis. Hahaha..

[Jaejoong] : Benarkah appa menangis?

[Umma]  : Sepertinya.. dia mungkin terlalu bahagia karena kamu akhirnya menyadarinya bahwa kami disini selalu menyayangimu dan merindukanmu. Kepergianmu ke Tokyo terasa sangat berat bagi kami. Rumah terasa sangat sepi tanpa kehadiranmu. Setiap hari appa selalu khawatir dan takut terjadi apa-apa denganmu disana. Apa lagi dulu sempat kan kamu tersesat dan Junsu kecopetan saat di Tokyo? Appa jadi makin khawatir jadinya.

[Jaejoong] : Ahh umma.. Jeongmal cheosong hamnida.. Sampaikan juga pada appa aku sangat menyesal.

[Umma] : Tentu akan umma sampaikan.

[Jaejoong] : Tenanglah umma.. Weekend ini aku akan pulang.

[Umma] :  Tidak usah.

[Jaejoong] :  Mwo?

[Umma] : Kau tidak perlu pulang ke Seoul weekend ini. Karena appa dan umma lah yang akan mengunjungimu ke Tokyo. Dan kamu tahu.. Appa lah yang menyarankan hal ini. Appa bilang jika kau tak bisa pulang, maka kamilah yang harus mengunjungimu. Appa tidak mau mengganggumu belajar disana dengan memaksamu pulang. Appa juga tidak mau membuatmu capek-capek perjalanan jauh. Jadi biarlah kami yang kesana ya? Dan jangan bilang lagi pada appa ya kalau umma mengatakan ini.

[Jaejoong] : Ahhhh umma… appa… Kalian benar-benar orang tua luar biasa. Aku akan selalu mencintai kalian lebih dari apapun. Aku akan selalu berbakti pada kalian berdua.

[Umma] :  Ya sudah kalau begitu. Tidur sana. Sudah malam. Besok kau kan harus kuliah pagi. Selamat tidur ya beruang kecil umma. Mimpi indah..

[Jaejoong] : Selamat tidur umma.

Kututup telepon. Seketika aku langsung menangis sejadi-jadinya.

“Aku jahat sekali Yun… Aku benar-benar jahat.. Aku sudah melupakan mereka.. Padahal setiap hari mereka selalu memikirkanku.. Bahkan weekend ini merekalah yang justru menyempatkan diri mengunjungiku. Umma bilang appa tak ingin mengganggu belajarku disini dan tak ingin membuatku capek karena perjalanan jauh, makanya merekalah yang mengunjungiku.” Ucapku dengan tangisan dipipiku.

Dipelukannya tubuhku erat oleh Yunho.

“Benarkan kataku.. Mereka sangat mencintaimu. Mereka pasti sangat merindukanmu. Bahkan mereka rela jauh-jauh ke Tokyo untuk mengunjungimu.” Ucapnya.

Aku masih saja nyaman dalam pelukannya dan tak sanggup berkata apa-apa lagi. Hanya isakan tangis yang keluar dari bibirku.

“Sudahlah.. Ayo kita tidur.” Bujuknya sambil menyeka air mataku kembali.

Kemudian digandengnya aku menuju kamarku. Dibaringkannya aku disana. Diselimutinya aku dan diberinya kecupan selamat tidur di dahiku.

“Selamat tidur honey.. Mimpi indah..” ucapnya dan tak berapa lama kemudian akupun tertidur.

 

Jumat Siang di rumah Yunho..

 

“Ahhh Yun… ayo kita berangkat..” teriakku ketika Yunho baru saja tiba dari kantor.

“Orang tuamu bukannya tiba masih 1 jam lagi ya?” tanyanya.

“Iya memang.. Tapi sekarang kita harus bersiap menunggu kedatangannya di bandara… Ayoooo berangkat…” bujukku padanya.

Kuseret tangannya yang baru saja mulai akan membuka pakaiannya.

“Sebentar jae.. Aku ganti pakaian dulu.” Katanya,

“Ah tidak usah.. Ayooo…” jawabku.

“Sebentar saja aku ganti pakaian. Kau tunggu di depan.” Ucapnya sambil memegang kedua pipiku.

“Ah tidak.. Nanti kamu berlama-lama lagi. Sini aku aja yang gantiin bajumu.” Ucapku sambil membuka kancingnya satu persatu.

“Jae jangan nanti bisa-bisa aku…” ucapnya terputus.

Tak kupedulikan kata-katanya terus kubuka kemejanya hingga akhirnya terpampang dada dan perut sixpacknya didepanku. Sedikit aku menulan ludah ketika melihatnya.

Dia tak lagi berkata-kata. Kulihat matanya. Tampak tatapannya berubah. Suatu tatapan yang sangat tajam yang mampu melelehkanku. Suatu tatapan yang membuat jantungku berdebar-debar.

“Sudahlah.. Cepat ganti pakaian aku tunggu di depan saja.” Kataku sambil hendak meninggalkannya pergi.

“Sebentar Jae..” katanya sambil memegang tanganku.

DEG!! Sukses kali ini dia membuat jantungku hampir meloncat.

“Hmmm..” kataku.

Kurasakan dia menarik tanganku dan mendorongku ke dinding. Dihimpitnya badanku dengan badannya. Dapat kurasakan kepalanya mendekat, mendekat dan mendekat. Dipeganginya tanganku dengan sangat erat. Kupejamkan mata ini. Jantung ini sudah berokestra dengan meriahnya menunggu apa yang akan dia lakukan padaku. Perlahan tapi pasti kurasakan bibir ini bersentuhan dengan bibirnya. Mampu kurasakan bibirnya yang hangat yang sudah berhari-hari ini tidak bersentuhan dengan bibirku. Ditekannya bibirku dengan sangat lembut. Kurasakan sapuan bibirnya mampu menyalurkan sengatan listrik di seluruh tubuhku yang membuat dada ini terasa sesak sakit sekali. Hingga akhirnya…

-Too Love (Xiah Junsu) Ringtone-

Aishhhhh… Sepertinya itu suara HP ku. Siapa lagi yang menelpon? Benar-benar mengganggu saja.

Dengan terpaksa ciuman kami pun berhenti.Kulihat layar HP ku dan bukan main terkejutnya aku ternyata yang menghubungi adalah appa.

[Jaejoong] : Yabuseyo..

[Appa] : Yabuseyo.. Hey Jaejoong kami baru saja tiba di bandara.

[Jaejoong] : Lho bukannya masih 1 jam lagi. Kenapa jam segini sudah sampai appa?

[Appa] :  Satu jam dari mana? Appa tadi bilang kan appa naik pesawat jam 12 siang. Jadi benar lah kalau appa sudah tiba di sini jam 1. Jangan-jangan kamu tidak mendengarkan baik-baik yang apa katakan tadi?

[Jaejoong] : Cheosong hamnida appa. Aku kira berangkat jam 1 dan tiba disini jam 2. Aku akan segera kesana appa. Tunggu lah sebentar aku akan kesana bersama Yunho.

[Appa] :  Ahh kamu ini. Cepatlah sedikit. Umma mu sedikit tidak enak badan ini gara-gara mabuk udara.

[Jaejoong] : Nae.. appa.. Secepat kilat kami kesana.

Setelah telepon dimatikan. Aku pun segera menggandeng tangannya Yunho.

“Ayo yun cepattt… Ternyata mereka sudah tiba di bandara. Ayo cepat..” kataku.

“Baiklah.. Ayo.” jawabnya sambil merapikan kaos yang baru saja dia kenakan saat aku mengangkat telepon tadi.

Sepanjang perjalanan aku memikirkan ciumanku dengan Yunho tadi. Andai kami tidak sibuk ciuman pasti kami akan lebih cepat tiba di bandara ini. Mana kata appa, umma tidak enak badan. Aishhhh Yunho kau benar-benar membuatku lupa daratan. Andai appa tidak menelepon tadi mungkin aku bisa semakin terlambat menjemput mereka karena asyik bermesraan dengan Yunho. Sungguh badannya yang sixpack membuatku lupa akan segalanya.

Setibanya di bandara…

“Appa… Umma… Cheosong hamnida aku terlambat..” kataku sambil berpelukan dengan mereka satu persatu.

“Kau ini benar-benar tidak mendengar kata appa baik-baik ya.” Ucap appa.

“Cheosong hamnida appa..” ucapku lagi.

“Yasudah, Ayo kalau begitu kita langsung ke hotel saja..” kata appa.

“Lho appa kita kan mau menginap di rumah Yunho.” Seruku.

“Nae? Apa tidak merepotkan Yunho?” tanya umma.

“Tidak masalah ahjuma ahjushi. Saya sama sekali tidak merasa di repotkan.” Jawabnya.

“Baiklah kalau begitu. Gomawo ya Yunho, kau baik sekali.” Kata appa yang masih merasa kurang enak pada Yunho.

Sesampainya kami di rumah Yunho..

“Dimana kamar tamunya Yunho. Umma sepertinya ingin istirahat.” Kata appa pada Yunho.

Kemudian kamipun baru ingat bahwa rumah ini hanya memiliki dua kamar tidur. Memang rumah Yunho bukanlah rumah yang terlalu besar. Rumahnya sederhana tetapi nyaman dan hangat. Rumah ini memang didesain untuk keluarga muda.

“Appa.. umma… kalian bisa tidur di kamarku.” Jawabku.

“Lalu bagaimana denganmu?” Tanya umma.

“Aku tidur bersama Yunho saja. Lagipula kita sudah sering tidur bersama.” Jawabku.

“Tidur bersama?” Tanya appa yang merasa aneh dengan kata-kataku.

Seketika aku teringat, seharusnya aku tidak mengatakan hal itu pada mereka.

“Maksudku sebelum waktu tidur, aku suka belajar bersamanya hingga larut malam dan akhirnya kami ketiduran bersama.” Jawabku.

“Baguslah kalau disini ada yang bisa membantumu belajar.” Kata appa.

Kemudian appa dan umma pun masuk ke dalam kamarku. Sepertinya mereka lelah setelah perjalanan jauh. Kubiarkan mereka menikmati istirahat. Walaupun sebenarnya aku masih ingin mengobrol banyak dengan mereka.

 

Ketika makan malam di rumah Yunho..

 

“Sebenarnya apa sih yang membuatmu betah disini dan sampai lupa pulang?” Tanya appa.

“Entahlah.. umma juga penasaran.” Timpal umma.

“Tokyo kota yang damai dan menyenangkan umma.. appa..” jawabku sambil mengambil suapan terakhir dari piringku.

“Hanya itu saja?” Tanya umma sambil tersenyum.

“Kan sudah aku bilang kalau aku belum bisa pulang karena masih banyak tugas disini..” jawabku sedikit kesal.

“Kata umma mungkin kau sudah memiliki kekasih disini, makanya kau lebih suka menghabiskan waktumu dengan kekasihmu dari pada pulang. Benarkan Yunho?” kata appa dengan masih menikmati makanannya.

DEG!!

Appa bicara apa sebenarnya. Benarkah appa tahu siapa kekasihku? Benarkah appa tahu Yunho adalah kekasihku? Jangan… Jangan sampai appa tahu. Dia bisa marah besar menentang hubungan kami.

Kulihat Yunho sedikit bingung untuk menjawab pertanyaan appa. Dia hanya tersenyum.

“Appa… Aku belum punya kekasih dan aku sibuk hingga tak sempat punya kekasih?” jawabku.

“Bagaimana Yunho. Kau pasti lebih tahu,dia selama di Tokyo sering berkencan dengan teman wanitanya ya? DIa tampan, pasti banyak memiliki teman wanita. Wanita-wanita Jepang pasti sangat tertarik dengan pria Korea.” Kata umma dengan memandang Yunho.

“Tidak kok ahjuma, ahjushi. Dia tidak pernah berkencan dengan teman wanitanya. Memang banyak teman wanita yang suka padanya tapi..” belum sempat dia selesai berkata.

“Tapi karena aku sibuk belajar belajar dan belajar, aku belum mau pacaran dulu umma..” jawabku.

“Benarkah kau suka belajar? Sepertinya sejak jaman SD, SMP dan SMA kau jarang belajar.” Jawab appa.

“Aku sekarang sudah berubah appa.. Aku sekarang rajin belajar. Sudahlah… Aku mau belajar dulu di kamar Yunho. Selamat malam.” Jawabku sambil melangkah pergi karena lelah dipojokan seperti itu.

“Jae.. Orang tuamu datang kamu kenapa malah ke kamar. Kemarilah mengobrol-obrol dulu dengan mereka. Mereka jauh-jauh ingin bertemu denganmu.” Kata Yunho.

“Kau saja yang menemani Yun.. Aku mau belajar.” Jawabku sambil berlalu.

“Sudahlah Yunho. Memang begitulah wataknya, kami mengenal sifatnya dengan sangat baik.” Kata umma yang masih aku bisa dengarkan sebelum akhirnya kututup pintu kamarku.

Mereka terus saja mengobrol sepanjang malam. Entah apa yang mereka obrolankan, pasti mereka membicarakan keburukan-keburukanku. Aishhhh… appa.. umma.. jangan buat aku malu di depan Yunho. Andai aku bisa duduk bersama mereka dan membela diriku ketika mereka membicarakan keburukanku. Tapi aku pasti gagal membela diri dan hasilnya justru semakin terlihat yang sebenarnya serta akhirnya akupun yang terpojokan seperti tadi. Sudahlah.. Aku disini saja. Di tempat tidur Jung Yunho kekasihku. Bagaimana ya reaksi mereka jika mereka tahu sebenarnya aku adalah kekasih Jung Yunho? Jangan sampai mereka mengetahuinya. Akupun tak boleh lepas control bermesraan dengan Yunho selama orang tua ku berada di Tokyo. Aku harus bisa.. Tapi rasanya sedikit berat, siapa sih yang tidak tergoda dengan keseksian dan ketampannya? Membayangkan wajahnya saja sudah membuatku tak sabar agar dia segera masuk ke kamar ini dan kucium bibirnya yang seksi itu. Aishhhh… Bicara apa aku. Aku tidur saja kalau begitu. Aku tidak boleh lost control. Aku tidak mungkin lost control jika dalam keadaan tidur. Dan tak berapa saat kemudian, akupun tertidur.

 

Keesokan harinya

 

Hari ini aku dan Yunho mengajak appa dan umma berkeliling kota Tokyo, kami negunjungi tempat-tempat wisata, tempat-tempat bersejarah dan yang tak lupa kami kunjungi adalah menara Tokyo. Ingin rasanya aku mengatakan pada mereka menara inilah yang membuatku seperti sekarang. Jika aku tidak mengunjungi menara Tokyo saat itu, aku tak mungkin tersesat dan terjatuh, aku tak mungki bertemu dengan Yunho, aku tak mungkin mencintainya, aku tak mungkin akan kuliah di Tokyo dan tak mungkin kami sekarang berada di sini saat ini.

Tapi aku tak bisa menceritakan pada appa dan umma bahwa sebenarnya aku mencintai Jung Yunho. Sangat mencintainya. Bisa-bisa appa marah besar. Perlu pemikiran yang masak untuk mengatakan hal serumit ini. Aku belum tahu bagaimana mengatakan ini kepada appa dan umma. Tapi aku yakin suatu hari nanti, kami pasti bisa mengatakannya pada appa dan umma. Aku tahu, mungkin tak mudah bagi mereka merestui hubungan kami, tapi asalkan dia disampingku, kamu pasti bisa melalui semua masalah.

 

Ketika selesai makan malam..

 

Malam ini orang tuaku ingin tidur cepat. Karena besok mereka harus kembali ke Seoul pagi hari. Kalau mereka begadang dan mengobrol bersama sampai tengah malam seperti kemarin, pasti besok sulit bangun pagi.

“Besok jam berapa pesawat kalian?” tanyaku pada mereka.

“Jam 10 pagi pesawat berangkat, tapi kami harus berangkat jam 8.” Jawab umma.

“Cepat sekali kalian di Tokyo. Tak terasa besok kalian harus kembali ke Seoul.” Ucapku dengan nada sedih.

“Lain kali kita akan mengunjungimu lagi.” Kata umma sambil membelai pipiku.

“Yasudah kami akan tidur lebih awal.  Kamu juga sebaiknya tidur awal agar bisa mengantar kami ke bandara ya.” Kata appa.

“Baiklah appa.. Selamat malam..” kataku.

“Selamat malam..” jawab mereka sambil berjalan menuju kamarku.

Akupun mengikuti kata-kata appa untuk tidur lebih cepat malam ini. Akupun masuk ke dalam kamar Yunho. Kulihat Yunho sudah lebih dahulu berbaring ditempat tidurnya. Kamipun mengobrol sambil menunggu datangnya kantuk tiba.

“Yun..” kataku.

“Hmmm..” jawabnya dengan matanya yang terpejam.

“Mereka sudah akan pulang besok ya..” kataku.

“Iya..” jawabnya.

“Cepat sekali ya rasanya..” kataku.

“Hemm..” jawabnya.

“Aku jadi sedih. Ternyata selama ini aku salah karena telah melupakan mereka, orang-orang yang mencintaiku, yaitu keluargaku.” Kataku.

“Hmm..” jawabnya dengan sangat singkat untuk kesekian kalinya.

“Kau tidur ya Yun? Kau tidak mendengar kata-kataku?” ku sedikit beranjak untuk menatap wajahnya.

“Aku sedikit lelah Jae.. Dari kemarin kurang tidur.” Jawabnya dengan mata yang masih terpejam.

“Yun.. Aku sedang bicara padamu. Bangun..” ucapku sambil menekan-nekan pipinya.

Dipegangnya tanganku yang mengganggu di wajahnya itu dan di tempelkannya di pipinya agar tidak bergerak-gerak lagi.

“Yun bangun…” tak habis diam ku gunakan tanganku yang satu lagi untuk memencet-mencet hidung mancungnya.

“Aku lelah Jae..” ucapnya.

“Yun…” kataku sambil menarik-narik hidungnya.

Dengan cepat dipegangnya tanganku itu dan ditariknya tanganku menjauh dari wajahnya hingga mau tak mau hilanglah keseimbanganku dan wajahku hampir saja jatuh ke dadanya. Bisa kulihat dadanya yang sedikit tersingkap membuatku jantungku tiba-tiba berdegup kencang.

“Yun.. Lepaskan..” kataku sambil berusaha melepaskan tangan ini.

Tapi dia tetap saja tak menggubrisku, masih kurasakan genggaman tangannya yang sangat erat di kedua tanganku. Aku berusaha mendongakkan kepalaku agar bisa melihat wajah si empunya dada. Kulihat kali ini matanya terbuka. Dan lagi-lagi tatapan itu yang aku lihat. Sebuah tatapan seakan-akan siap menerkamku.

“Yun..” kataku sedikit lirih karena mulai merasa gelisah dengan situasi saat itu.

“Kau yang telah memulai, kau yang harus menyelesaikannya Jae.” Ucapnya sambil perlahan melepaskan tanganku dan meraih pipiku.

Ditariknya wajahku mendekat ke wajahnya. Bisa kurasakan detak jantungnya ketika dadaku dan dadanya menempel tanpa jarak sedikitpun. Kurasakan jantungnya berdetak dengan sangat cepat, seperti layaknya jantungku yang berdetak seirama dengannya. Bisa kurasakan hembusan nafasnya di wajahku ketika wajah ini sudah hampir tak berjarak. Kupejamkan mata ini siap menerima apapun yang akan dia lakukan padaku. Karena sebenarnya akupun sangat mengharapkannya juga.

Kurasakan dia menciumku sekilas.

“Ahh.. sudahlah Jae.. Kau tidurlah.. Aku benar-benar lelah.” Di dorongnya tubuhku sedikit menjauh dan di baliknya tubuhnya sehingga dia membelakangiku saat ini.

“Mwo?? Kenapa berhenti??” tanyaku yang merasa sangat kecewa.

“Aku tak mau kelepasan Jae. Sudahlah cepat tidur.” Katanya.

“Yun.. Apa yang aku mulai harus aku selesaikan.” Kubalikan tubuhnya secara paksa dan kucium bibirnya dengan sangat kuat. Kutekan bibirnya, kupagut dan kukecup. Tak sanggup lagi aku menahan gelora di dalam dadaku ini yang sudah aku pendam selama ini. Walaupun aku menginap di rumah Yunho selama ini dan setiap hari bertemu dengannya, tapi berciuman seperti ini apalagi di tempat tidur tidak pernah sekalipun kami lakukan, bahkan terlintas di benak kamipun tidak pernah. Beberapa kali kami memang pernah berciuman. Tapi hanya sekedar ciuman yang hangat dan lembut, bukan sebuah ciuman yang penuh nafsu yang aku rasakan saat ini. Jung Yunho kau benar-benar membuatku kehilangan kendali.

Kunikmati ciuman ini. Ini pertama kalinya aku yang menyerangnya duluan. Semula bisa kurasakan dia sedikit kaget dan menolak ciumanku. Tapi bukan Kim Jaejoong jika tidak mampu merobohkan tembok pertahanan orang lain. Bahkan seorang Jung Yunhopun bisa pasrah menerima apa yang aku lakukan pada bibirnya ini. Kucium dia dengan sedikit nakal. Kunikmati bibirnya yang hangat dan lembut ini. Kurasakan jantungku sudah berdetak cepat tidak karuan. Dan tiba-tiba…

“Kim Jaejoong….” Sebuah suara mengagetkanku.

Dengan terpaksa kuhentikan ciuman ini. Kumelihat kearah sumber suara yang sudah sangat aku kenal itu.

“Appa…” kataku.

 

=======OOOOOO===========

 

jeng jeng jeng… Nah lo jae.. gimana coba sekarang.. Abis gak bisa nahan nafsu sih..

Jae.. jae… ckckck..

Sabar ya.. lanjutannya aku post hari rabu, oke? Rabu ini benar2 finalnya Tokyo Love Tokyo. Jadi tunggu aja kelanjutannya..😉

Oya jangan lupa komen2nya ya.. Komen2 kalian yg jadi motivasi aku buat nulis lagi lagi dan lagii..

Komen yang banyakkk ya.

Aku tunggu komennya..

Trus jangan lupa join ke GRUP Fanficyunjae di FB yaa

Gomawo

🙂

24 thoughts on “Tokyo Love Tokyo Chapter Bonus 1/2 | @beth91191

  1. waduuhhh….
    Yunjae ketahuan ma appa’a jae ciuman nich…
    Gmn reaksi’a appa’a jae yach…
    Apa direstuin…
    Jd penasaran…

  2. Waduh..Waduh..
    Siaga 3 ni..Siaga 3..
    Appany jae mngetahui ni n ni bsa mmbhayakan hbngan mrk..Tlg ajushi restui mrk..Biarkn mrk brsatu..Jebaj..

  3. hihihihi…
    umma mah gresif bget deh…:)
    tpy knapa si haraboji bsa msuk kmr yunppa tuh…
    adooohhh….moga saja nc.na jdi…:D

  4. nah lho yunjae ketauan wkwkwkwkwk
    tapi mr. kim ga bakalan marah kan ke yunjae.. ayolah masa yunjae ditentang sih ^^

  5. oke mamih nih yang agresif disini.. mana agak manja, dasar.. ckckckckc
    yak apa yg akan terjadi selanjutnya sodara2 #loncat ke part selanjutnya

  6. hhahhhhh!!!!!
    jaema napsuan ah!
    ya ampunnn…
    itu appa.ny jaema udh tau???
    mereka ngerestuin gg ya???
    pasti ngerestuinlah!!!

  7. Mampus lu jae!!!! Gara” Ъ>:/ bisa nahan gelora di dada jadi’a ketahuan ˘ϑέcђ…!!!
    Bagaimana ini…bagaimana jaemom menjelaskan’a….aishh!!! Pusing…pusing ach…Q mau lanjut aja ųϑªђ penasaran banged gimana akhirnya

  8. omona…kepergok?? jinja??? aigooo….jaema ga bisa nahan diri sihh..tp gak papa…biar lgsg dikawinin tuh yunjae sm appanya jaema..he he..#smirk evil ala changmin#

  9. Jiaah ternyata yg pervert bukan hanya Uno, tapi Jeje juga :3
    hhhaha emang bandan uno menggoda iman #plaaak
    hayohh looh itu ketahuan O,O?
    wahahaha ayo mr kim kawinin ajah noh 2 anak pervert /plaaak/

  10. Waahh..appa ny Jaejoong mengganggu nihh.. #diatabokJaeumma =,=
    Tpi sya merasa Jae umma sprti yeoja di FF ini..hehhee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s