Tokyo Love Tokyo Chapter Bonus 2/2 | @beth91191


Title        : Tokyo Love Tokyo

Author   : Beth

Chapter : Bonus 1/2

Genre     : Romance, Yaoi

Rate        : 18+

Pov          : Jaejoong

 

[Akhir Chapter Bonus 1/2]

 

Ditariknya wajahku mendekat ke wajahnya. Bisa kurasakan detak jantungnya ketika dadaku dan dadanya menempel tanpa jarak sedikitpun. Kurasakan jantungnya berdetak dengan sangat cepat, seperti layaknya jantungku yang berdetak seirama dengannya. Bisa kurasakan hembusan nafasnya di wajahku ketika wajah ini sudah hampir tak berjarak. Kupejamkan mata ini siap menerima apapun yang akan dia lakukan padaku. Karena sebenarnya akupun sangat mengharapkannya juga.

Kurasakan dia menciumku sekilas.

“Ahh.. sudahlah Jae.. Kau tidurlah.. Aku benar-benar lelah.” Di dorongnya tubuhku sedikit menjauh dan di baliknya tubuhnya sehingga dia membelakangiku saat ini.

“Mwo?? Kenapa berhenti??” tanyaku yang merasa sangat kecewa.

“Aku tak mau kelepasan Jae. Sudahlah cepat tidur.” Katanya.

“Yun.. Apa yang aku mulai harus aku selesaikan.” Kubalikan tubuhnya secara paksa dan kucium bibirnya dengan sangat kuat. Kutekan bibirnya, kupagut dan kukecup. Tak sanggup lagi aku menahan gelora di dalam dadaku ini yang sudah aku pendam selama ini. Walaupun aku menginap di rumah Yunho selama ini dan setiap hari bertemu dengannya, tapi berciuman seperti ini apalagi di tempat tidur tidak pernah sekalipun kami lakukan, bahkan terlintas di benak kamipun tidak pernah. Beberapa kali kami memang pernah berciuman. Tapi hanya sekedar ciuman yang hangat dan lembut, bukan sebuah ciuman yang penuh nafsu yang aku rasakan saat ini. Jung Yunho kau benar-benar membuatku kehilangan kendali.

Kunikmati ciuman ini. Ini pertama kalinya aku yang menyerangnya duluan. Semula bisa kurasakan dia sedikit kaget dan menolak ciumanku. Tapi bukan Kim Jaejoong jika tidak mampu merobohkan tembok pertahanan orang lain. Bahkan seorang Jung Yunhopun bisa pasrah menerima apa yang aku lakukan pada bibirnya ini. Kucium dia dengan sedikit nakal. Kunikmati bibirnya yang hangat dan lembut ini. Kurasakan jantungku sudah berdetak cepat tidak karuan. Dan tiba-tiba…

“Kim Jaejoong….” Sebuah suara mengagetkanku.

Dengan terpaksa kuhentikan ciuman ini. Kumelihat kearah sumber suara yang sudah sangat aku kenal itu.

“Appa…” kataku.

 

[Chapter Bonus 2/2]

 

“Dasar anak kurang ajar!!! Ternyata selama ini kau tidak mau pulang ke Seoul karena sibuk pacaran dengan pria ini ha???” ucap appa dengan nada tinggi.

Aku dan Yunhopun segera bangkit dari tempat tidur dan mendekati appa.

“Ini bukan seperti yang appa kira. Aku dan Yunho memang pacaran tapi kami tidak pernah sekalipun melakukan yang seperti appa bayangkan. ” ucapku berusaha menjelaskan.

“Dasar anak tidak tahu malu.. Punya hubungan dengan seorang pria… Mau ditaruh mana wajah appa kalau orang lain tahu ha???” ucap appa dengan wajah sangat marah.

“Ahjushi.. Jeongmal cheosong hamnida.. Ijinkan saya menjelaskannya.” Kata Yunho.

“Kau.. Kau… Kau racun bagi anakku.. Kau yang membawa anakku dalam kesesatan ha??” ucap appa dengan tatapan marah pada Yunho.

“Appa.. Kumohon mengertilah.. Kami saling mencintai sejak lama. Yunho adalah orang yang sangat baik yang selalu menyayangiku, melindungiku dan menjagaku. Walaupun kami memang sulit untuk bersatu tapi tak ada alasan bagiku untuk membencinya. Aku sangat mencintainya appa. Aku sangat membutuhkannya. Dialah kehidupanku. Dialah yang mampu mengisi ruang kosong di dalam hatiku ini.” Ucapku dengan nada sedikit tinggi.

PLAK!!!

Kurasakan pipiku yang sakit karena tamparan appa.

“Anak kurang ajar!!! Besok kau ikut appa kembali ke Seoul. Cepat sekarang juga kita pergi dari rumah ini dan jangan berharap kau akan bisa bertemu dengannya lagi.” Kata appa sambil menyeretku pergi.

“Appa.. Kumohon.. Jangan pisahkan kami..” aku memohon pada appa.

Tapi appa terus saja menyeretku.

“Ada apa appa? Kenapa malam-malam begini appa teriak-teriak di rumah orang?” Tanya umma yang baru saja keluar dari kamarku.

“Umma.. ayo cepat kita tinggalkan rumah ini. Ternyata selama ini anakmu tidak pernah mau pulang ke Seoul karena asyik berpacaran dengan makhluk hina itu.” Kata appa sambil menunjuk-nunjuk Yunho.

“Apa??” umma terdengar sangat terkejut.

“Umma.. Itu tidak benar.. Aku dan Yunho memang saling mencintai tapi kami tidak pernah melakukan hal-hal seperti yang appa kira. Aku benar-benar tidak ingin berpisah dengan Yunho umma. Aku sangat mencintainya. Aku tak bisa hidup tanpanya. Umma kumohon bantu aku menjelaskannya pada Appa.” Pintaku pada umma.

“Jaejoong.. Umma benar-benar tak tahu harus berkata apa padamu.” Jawab umma dengan tangisan di wajahnya.

“Cepat bereskan semua barang-barang kita. Kita pergi ke hotel saja. Appa tidak sudi berlama-lama di tempat ini.” Kata appa.

Umma yang masih bingung dan sedih pun hanya bisa mengikuti perintah appa. Diberesinya semua barang-barang kami.

“Yunho.. Bagaimana ini?” Kataku pada Yunho yang masih terdiam tak tahu harus berkata apa.

“Ikutlah dengan mereka Jae. Akan aku pikirkan jalan keluarnya segera.” Jawab Yunho pasrah.

Setelah semua barang-barang telah di bereskan..

“Ayo kita pergi sekarang..” ajak appa sambil menyeretku.

“Appa.. Aku tak bisa berpisah dengannya appa.. Appa.. aku mohon..” aku berusaha menolak.

“Jae.. Kumohon kali ini saja dengarkan kata-kata appa mu. Umma mohon Jae..” ucapmu menggetarkan hatiku.

Ketika mendengar umma berkata seperti itu entah mengapa seperti tak ada lagi daya untuk melawan keputusan appa. Tak sanggup lagi aku berkata apa-apa. Umma bahkan sampai berkata seperti itu. Alangkah tak berbaktinya aku jika tidak mengubris kata-kata umma. Dengan amat terpaksa kuturuti kata-kata appa untuk meninggalkan rumah Jung Yunho. Walaupun sebenarnya hati ini tak ingin berpisah darinya.

-oOo-

 

Setibanya di hotel..

 

Aku meringkuk di kasurku. Kudengar pintu kamar terbuka. Aku tahu siapa yang sepertinya membuka pintu kamarku.

“Jae..” kudengar suara umma.

Aku tak menjawab kata-katanya. Kudengar langkah kakinya mendekati tempat aku berbaring. Tiba-tiba kurasakan sebuah tangan hangat dan lembut mengusap lembut rambutku.

“Jae.. maafkan umma tak bisa membantu apa-apa.” Ucapnya lirih.

“Umma..”ucapku sedikit bergetar karena menahan tangis.

“Umma tahu kau mencintainya Jae. Tapi umma tidak bisa menentang kehendak appamu.” Katanya.

Aku berbalik dan memandang wajahnya yang meneduhkan hatiku.

“Apa umma merestui hubunganku dengannya?” tanyaku.

“Apapun yang menurutmu terbaik, umma pasti mendukungmu Jae.” Jawabnya dengan air mata menetes di pipinya.

“Umma jangan menangis..” jawabku sambil duduk dan memeluknya.

“Jae..”

“Umma..”

“Apa kau benar-benar mencintainya?” tanyanya sambil terus memelukku erat.

“Tentu umma. Aku mencintainya.. Sangat mencintainya..” jawabku.

“Dia pria yang baik. Umma yakin kamu bisa bahagia bila bersamanya. Tapi sepertinya appa tak akan bahagia jika kamu bersamanya. Pendirian appamu sangat kuat. Apa yang menjadi keputusan appa tak pernah bisa berubah. Umma sudah berusaha membujuk appamu. Tapi dia bersikeras menolaknya Jae.. Maafkan umma.” Katanya terbata-bata.

Umma pun menangis karena merasa bersalah denganku, umma merasa tak bisa membantu apa-apa untukku. Padahal ini bukanlah kesalahan umma, karena dia tidak mungkin menentang kata-kata appa. Ini juga bukan kesalahan appa, karena telah mementang hubunganku dengan Yunho. Orang tua mana yang mau anaknya mencintai sesama jenis. Akupun juga tak bisa menyalahkan diriku sendiri dan Yunho, keadaanlah yang membuat semua terasa sangat berat dan serba salah. Mengapa aku harus jatuh cinta padanya? Mengapa dia harus jatuh cinta padaku? Apa mencintai itu salah?

Setelah umma kembali ke kamarnya, perlahan air mata kembali menetes di wajahku. Sedari tadi aku menahan tangis agar terlihat tegar di depan umma. Aku tak ingin umma merasa semakin sedih dan semakin merasa bersalah padaku. Yunho.. Setelah aku berusaha sekuat tenaga agar dapat diterima di universitas di Jepang, setelah aku berusaha mengalahkan rasa ragu dan bimbangku meninggalkan kampung halamanku yang tercinta, setelah aku berusaha mati-matian membujuk kedua orang tuaku, haruskah semua usaha itu berakhir begitu saja esok hari? Apakah aku akan berpisah kembali denganmu Yun?

-oOo-

 

Keesokan harinya..

 

Aku berjalan dengan lunglai di belakang appa dan umma. Kini kami telah berada di bandara Narita. Samar-samar kulihat wajahku di kaca yang berada tak jauh dariku. Bisa kulihat mataku yang masih terlihat sembab dan bengkak karena terlalu banyak menangis sedari kemarin malam. Wajahku tampak lusuh dan tak bersinar seperti biasanya. Tatapanku pun tampak kosong layaknya seseorang yang tak betah hidup. Bagaimana aku bisa hidup jika aku tidak bersama dengannya? Belahan jiwaku.. Jung Yunho. Lebih baik aku mati dari pada tidak bersamanya. Tapi bagaimana mungkin bisa aku mati. Bagaimana dengan kedua orang tuaku jika aku mati? Bagaimana dengan Yunho jika aku mati? Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa?

Yun.. Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa? Aku benar-benar bingung. Aku butuh kamu di sampingku saat ini, Yun.. Aku tak sanggup menghadapinya sendiri, Yun..

“Jae..” sebuah suara menyadarkanku dari lamunanku.

Kumencari arah suara itu. Melihat ke kanan dan ke kiri. Kudapati sebuah wajah yang sangat kucintai.

“Yunho…” aku berlari dengan segera memeluknya erat.

“Jae..” disambutnya pelukanku dengan sangat hangat.

“Mana appa dan ummamu Jae?” tanyanya.

“Entahlah. Mereka pergi kemana. Yun aku sangat merindukanmu.” Jawabku.

“Kita baru bertemu terakhir semalam Jae” Jawabnya sambil membr

“Aku benar-benar tak bisa hidup tanpamu Yun. Aku benar-benar bingung harus berbuat apa saat ini. Tak bertemu semalam saja pun terasa sangat berat Yun. Aku tak mau kembali ke Korea. Tapi aku juga tak mungkin menentang perintah appa. Aku harus bagaimana?” tanyaku sambil menatap wajahnya.

“Aku akan mencoba bicara pada appamu. Aku akan menjelaskan semuanya pada appa.” Jawabnya.

“Tapi aku takut Yun.. Aku takut appa akan marah padamu.” Kataku sambil menatapnya dengan perasaan khawatir.

“Kau tak perlu takut Jae. Apapun masalahnya pasti bisa kita lalui bersama, jika kau berada di sampingku.” Katanya sambil dipegangnya tanganku.

Tiba-tiba terdengar…

“Kim Jaejoong!!” suara appa memanggilku dengan sangat keras.

Kamipun menoleh ke arahnya.

“Dasar anak kurang ajar. Kenapa kau menemui pria brengsek ini?” bentak appa padaku.

“Tidak.. Dia bukan pria brengsek, appa. Dia Yunho, orang yang sangat aku cintai.” Jawabku dengan menggenggam erat tangan Yunho.

“Kamu benar-benar anak kurang ajar. Berani-beraninya kau berkata seperti itu pada appa??”

PLAKK!!

Ditamparnya wajahku oleh appa.

“Appa.. Sabar appa.. sabar..” kata umma berusaha menenangkan appa.

Kupegangi pipiku yang diterasa sedikit sakit. Sakit pada pipiku tak seberapa dibandingkan sakit pada hatiku yang merasa appa tak lagi menyayangiku. Itulah yang membuatku merasa sangat sedih.

“Ahjushi. Saya mohon jangan marah pada Jaejoong. Marahlah pada saya saja.” Kata Yunho.

“Kau.. Dasar tidak tahu diri kamu.. Kamulah yang telah menjerumuskan anakku hingga seperti ini. Kaulah yang telah membuatnya jadi berani menentangku. Kaulah yang membuatnya berani berkata seperti itu pada orang tua. Kaulah yang membuatnya jadi seperti ini.” Kata appa pada Yunho.

“Jeongmal cheosong hamnida ahjushi. Berilah kesempatan pada saya untuk menjelaskan semuanya ahjushi. Saya benar-benar mencintai putra Anda. Begitu juga dengan dia juga sangat mencintai saya. Kami tidak mampu hidup tanpa satu sama lain. Memang cinta kami bukan cinta yang wajar. Tapi memang itulah kenyataan yang kami rasakan. Apakah saling mencintai adalah suatu kesalahan. Saya pasti akan selalu menyayanginya dan mencintainya lebih dari apapun. Saya berjanji. Saya akan menjaganya dan melindunginya sampai kapanpun. Saya berjanji akan selalu membuatnya bahagia dan tersenyum. Saya mohon appa restu hubungan kami.” Kata Yunho.

“ ’Appa’ katamu? Sejak kapan aku menyetujui hubungan kalian? Tidak.. selamanya aku tidak akan merestui hubungan kalian.” Kata appa dengan nada tinggi.

“Saya mohon appa..” kata Yunho dengan tiba-tiba berlutut di depan Yunho.

Hati ini terasa miris rasanya melihat Yunho melakukannya. Seorang Yunho yang selalu dihormati sebagai manager di kantornya. Seorang Yunho yang selalu tampak tegas dan bijaksana di depanku. Seorang Yunho yang selalu tampak luar biasa di mataku, kini tengah berlutut memohon di depan appaku demi aku. Yunho.. Aku benar-benar mencintaimu. Aku tak menyangka demi aku kau rela melakukannya, menjatuhkan harga dirimu sendiri di depan appaku. Sebegitu besarnyakah cintamu padaku?

“Jung Yunho..” ucapku lirih.

Kulihat appa terdiam sesaat mendengar kata-kata Yunho.

“Jaejoong.. Kalau kau memang masih menganggap appa ini adalah appamu. Cepat naik pesawat sekarang… ” kata appa dengan menatapku tajam.

Aku benar-benar tak percaya pendirian appa sekuat itu. Tak menyangka aku appa akan begitu bersikeras menentang hubunganku dengannya. Padahal Yunho sudah memohon dan berlutut seperti itu di depannya. Bagaimana hati appa sangat keras.

“Appa..” kataku padanya.

“Kim Jaejoong.. Tak dengarkah kau kata-kata appa?? Cepat..” katanya sambil menatapku tajam.

“Appa.. Aku mohon appa.. Aku mohon. Aku tak bisa hidup tanpanya appa. Aku mohon.” Kataku padanya.

“Jika kau tidak naik pesawat, appa benar-benar tak akan mengaggapmu anak appa lagi. Selamanya jangan pernah muncul di depan appa lagi. Dan hiduplah bersama brengsek itu.” Ucap appa dengan sangat tegas dan menusuk hatiku mendengar kata-kata appa.

“Jae umma mohon ikuti saja kata-kata appa.” Kata umma semakin membuatku bimbang.

Cukup mendengar kata-kata appa saja sudah membuat hatiku miris, terkejut dan sedih. Apalagi di tambah umma berkata seperti itu. Apa yang harus aku lakukan? Aku tahu aku sangat mencintai Yunho. Tapi bukan berarti aku harus menjadi anak durhaka seperti ini.

“Umma.. tapi aku tak bisa hidup tanpa Yunho, umma. Aku mohon umma.”

“Jae.. percayalah umma. Ikuti saja kata-kata appamu.”

Kulihat umma sudah berjalan membelakangiku dan tak menoleh sedikitpun padaku. Sepertinya apa yang appa katakan jika aku tak naik pesawat, appa akan menganggapku bukan anaknya lagi adalah benar. Aku takut jika appa benar-benar tak menganggapku anak lagi. Tapi aku juga takut berpisah dengan Yunho.

“Yun.. Bagaimana ini?? Yun..” kataku berusaha menahan air mata.

“Jae.. tenanglah.. Ikuti saja kata orang tuamu. Secepatnya kita akan bertemu kembali. Secepatnya.. Aku berjanji.. Kumohon janganlah menangis..” Katanya sambil terus berlutut.

“Yun..” kataku dengan sedikit mendesah menghela nafas.

Dia mengangguk pelan seakan meyakinkanku untuk mengikuti kata-kata appa.

Aku benar-benar tak tahu harus berbuat appa lagi. Aku benar-benar bingung. Appa terus saja pergi menjauh dan tak menoleh sedikitpun. Appa tampak benar-benar serius dengan kata-katanya.

“Mianhe Yun..” kataku sambil berlari mengejar appa dan umma yang sudah masuk ke dalam.

Kutahan tangis ini. Sama sekali aku tak menoleh kebelakang. Tak sanggup aku untuk melihat wajahnya. Sepertinya aku merasakan kembali perasaan ini. Sebuah perasaan dimana aku tak ingin berpisah dengan Yunho tapi aku tak memiliki daya untuk menolak keputusan appa. Sebuah perasaan sama seperti saat itu, saat aku baru mengenal Yunho, saat liburan akhir tahun. Perasaan yang aku rasakan kali ini sama persis dengan saat itu, bahkan jauh lebih menyakitkan dan menyedihkan. Dulu kami berpisah di saat kami baru saja mengenal beberapa hari dan belum begitu kuat perasaan cinta antara kami. Sedangkan sekarang, aku merasa hidup dan matiku adalah bersama Yunho. Sakitttt sekali rasanya hati ini… Yunho..

Setelah aku naik ke dalam pesawat. kumelihat ke arah luar jendela sambil memanggil-manggil nama Yunho di dalam hati. Ingin rasanya aku berlari keluar dan memeluk Yunho. Ingin rasanya aku tetap berada di sisinya. Ingin rasanya aku tak berpisah darinya dan tak pergi dari Tokyo. Ummapun duduk di sebelah ku dan berusaha menenangkanku. Ditepuk-tepuknya punggungku.

“Sudahlah.. Jangan menangis lagi..” kata umma.

Aku pun teringat dengan kata-kata Yunho yang memintaku untuk jangan menangis. Seketika air mata sudah berhenti mengalir tapi masih terasa kesedihan yang teramat sangat di hati ini. Aku tak ingin dia mengetahui bahwa aku menangis. Atau mungkin air mata ini tak sanggup lagi mengalir karena perasaanku yang terlalu sedih? Apakah seseorang yang sudah terlampau sedih, tak sanggup menangis kembali. Sepertinya air mata ini sudah kering karena terlalu banyak menangis sejak kemarin malam. Aku tak tahu bagaimana aku ke depannya jika tanpa Yunho di sampingku. Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa.

Kudengarkan pengumuman yang terdapat di dalam pesawat. Pesawat sebentar lagi akan take-off. Yunho.. Selamat tinggal Yun.. Secepatnya kita akan bertemu kembali. Aku akan berusaha untuk dapat bertemu denganmu kembali. Aku akan berusaha untuk membujuk appa merestui hubungan kita. Yun.. Jaga dirimu baik-baik ya di sini. Selalu ingat aku. Jangan pernah sekalipun kau melupakanku. Walau saat ini kita belum bisa bersatu. Aku yakin kita pasti akan bersatu kembali. Entah sampai kapanpun akan aku tunggu hari itu. Aku harus bersabar menunggu hari yang indah itu tiba.

“Jae..” kata umma padaku pelan.

Aku masih saja terdiam menghadap keluar jendela.

“Apakah kau benar-benar mencintainya?” tanyanya.

Aku mengangguk pelan. “Iya umma.. Selamanya aku akan selalu mencintainya. Apapun yang terjadi. kami akan selalu saling mencintai. Walau selamanya kami tak akan pernah bisa bersama, kami akan tetap saling mencintai satu sama lain sampai kapanpun.” Jawabku lirih.

“Jaejoong!!!” kata appa dengan nada tinggi mengagetkanku.

Tiba-tiba di tariknya tanganku oleh appa.

“Sabar appa.” kata umma menenangkan appa.

Kurasakan appa menarikku.

“Appa.. Sabar.. Jangan marah lagi sama Jaejoong. Appa.. Sabar..” berkali-kali umma menenangkan appa.

Tapi tetap saja appa menyeretku. Kemana appa akan membawaku. Apa yang akan appa lakukan padaku. Apapun yang akan appa akan lakukan, aku tak akan takut. Ditariknya tanganku melewati lorong-lorong pesawat hingga akhirnya kami tiba di depan pintu masuk pesawat.

“Appa… apa yang mau kau lakukan?? Ini anak kita satu-satunya appa. Ingat itu appa..” Kata umma khawatir.

“Justru karena dia anak kita satu-satunya umma.” Kata appa dengan nada tingginya.

“Memang apa yang appa mau lakukan?” tanya umma.

“Kim Jaejoong.. Dengar baik-baik kata-kata appa.” Ucap appa.

Aku terdiam tertunduk menatap lantai pesawat. Aku mengangguk pelan.

“Dengarkan dan appa tak akan mau mengulanginya lagi. Dengar tidak???” tanya appa lagi.

“Iya appa.” Kataku pasrah. Apapun yang appa katakan dan lakukan saat ini, aku sudah siap. Jika appa akan memarahiku, memukulku, menamparku, mengusirku, atau menganggapku bukan anaknya sekalipun aku sudah siap.

“Apapun jalan yang kau pilih..” appa menghela nafas sejenak, “kau tetap anak appa.”

DEG!! Apa yang appa katakan?

“Jika kau memang mencintainya, pergilah.. Kejarlah cintamu itu. Kejarlah.. Selamanya kau adalah anak appa satu-satunya yang sangat appa cintai.”

Apa?? Apa yang appa katakan?? Benarkah appa berkata seperti itu? Benarkah appa tak lagi marah dan merestui hubunganku dengannya? Benarkah yang aku dengar ini?

“Appa….” aku peluk appa dengan sangat erat dan air mata kembali keluar dari mata ini.

“Jae.. Appa sangat menyayangimu.. Sangat.. Appa takut kau akan terluka jika menjalin cinta seperti itu. Appa takut dia hanya main-main denganmu dan tak dapat membuatmu bahagia. Appa takut perasaan yang kau rasakan hanya perasaan sesaat yang semu. Appa takut Jae.. Appa takut kau sedih, kecewa, dan tersakiti. Ternyata selama ini appa salah. Justru jika kau tidak bersamanya kau akan sedih, kecewa dan tersakiti. Appa tak mau itu terjadi. Cepat temui cintamu. Jangan sampai appa berubah pikiran.” Kata appa.

Kulepaskan pelukan kami.

“Jeongmal Khamsa hamnida appa.. Aku sayang appa. Aku sayang umma.” Kataku dan kemudian menatap wajah umma sesaat.

Umma mengangguk pelan seakan menunjukan restunya pada kami.

Akupun segera keluar dari pesawat dan berlari berhamburan. Aku berlari sekuat tenaga secepat mungkin kembali ke tempat Yunho tadi berada. Masih kulihat Yunho tetap berlutut di lantai di tempat dia tadi berlutut di depan appa. Tak berubah sedikitpun posisinya.

“Yunhoooo…..” aku berlari kearahnya.

Kulihat dia melihat ke arahku.

“Jae….” ucapnya.

Segera kupeluk Yunho dengan sangat erat. Kubenamkan wajah ini di dalam dadanya. Bisa kurasakan pelukan hangatnya yang sangat membuatku bahagia. Tak menyangka aku akan dapat merasakan pelukan ini lagi. Aku kira selamanya aku tak akan bisa merasakannya. Aku kira akan benar-benar berpisah dengan Yunho. Kurasakan dia memelukku juga dengan sangat erat.

“Kenapa kau turun Jae? Bagaimana dengan appamu?” tanya Yunho khawatir sambil sedikit melepaskan pelukan dan menatap wajahku.

“Appa sudah merestui hubungan kita Yun.. Bahkan appa sendiri yang menyuruhku turun.” Jawabku.

“Benarkah?” tanyanya tak percaya dengan apa yang dia dengar.

“Iya Yun.. Kedua orang tuaku sudah merestui hubungan kita. Kita berhasil Yun.. Kita berhasil meyakinkan kedua orang tuaku. Saranghae Yun..” kubenamkan lagi kepala ini di dalam pelukannya.

“Naedo saranghaeyo Jae..” jawabnya.

Tiba-tiba terdengar suara sms dari Hpku.

Setelah kurasakan puas memeluk tubuh pria yang akau cintai ini, aku ambil HP ku dan kubaca sms itu. Betapa terkejutnya aku ketika mengetahui ternyata itu sms dari appa.

“Apapun hubungan kalian, segera resmikan. Kami akan merestui hubungan kalian jika kalian sudah resmi. Jadi segera siapkan pernikahan. Secepatnya kami akan kembali ke Tokyo untuk menghadirinya. Kami tak mau kalian melakukan hal yang tidak-tidak sebelum kalian menikah. Ingat.. Jangan lama-lama, sebelum appa berubah pikiran. Appa menyayangimu Kim Jaejoong, anak semata wayang appa.”

Mwo?? Aku yang membaca sms dari appa ini semakin terkejut bukan main. Benarkah appa yang mengetik dan mengirim sms ini.

Yunhopun ikut membaca sms itu. Kulihat dia tersenyum membacanya.

“Baguslah kalau begitu. Secepatnya kita menikah Jae. Orang tuamu malah yang menyuruhnya. Kapan waktunya bulan depan, minggu depan, besok?” Ucapnya dengan wajah bahagia.

“Tak mau..” jawabku ketus.

“Mwo? Kenapa tidak mau? Bukannya akhir seperti ini yang kita harapkan?” tanyanya kebingungan dengan kata-kataku.

“Aku mau kau melamarku seperti yang ada di film-film.” Jawabku dengan mempoutkan bibir ini.

“Baiklah.. Arasho.. Arasho..”

Kulihat dia berlutut di depanku dengan salah satu kaki di tekuk dan kaki yang lainnya menumpu di lantai. Kulihat dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kantong celananya. Ternyata adalah sebuah kotak cincin. Dibukanya kotak itu di depanku.

“Would you marry me Kim Jaejoong?” tanyanya seperti layaknya di film-film.

“Bagaiamana kok tiba-tiba ada cincin dikantong celanamu?” tanyaku merusak suasana.

“Sejak lama aku ingin melamarmu. Tapi aku selalu belum menemukan momen yang tepat.” Jawabnya.

“Benarkah? Kau manis sekali Yun..” kataku.

“Bagaimana Kim Jaejoong, would you marry me??” tanyanya lagi.

“Tentu saja aku mau menikah denganmu Jung Yunho, mau, mau, mau, sangat mau…” Jawabku dengan senyum terkembang di wajahku.

Kemudian di ambilnya cincin itu dan di sematkan dijariku. Kemudian di ciumnya tanganku dengan sangat lembut dan hangat bak di cerita dongeng ketika seorang pangeran mencium tangan sang putri. Bahagianya aku saat itu. Tak terlukiskan dan tak terbayangkan rasa bahagianya aku. Akhirnya aku dapat benar-benar bersatu dengan seseorang yang sangat aku cintai yang selama ini tak diketahui orang lain tentang hubungan kami. Tak ada lagi yang perlu aku takutkan. Benar katanya, selama kita bersama tak perlu ada lagi yang perlu kita takutkan. Semuanya masalah pasti akan kami lewati. Walaupun tidak mudah, tapi aku yakin.

“Saranghae Yun..”

“Saranghae Jae..”

Kemudian dia bangkit dan berdiri tepat di depanku. Dilihatnnya wajahku dengan sangat hangat dan meneduhkan hatiku. Didekapnya tubuhku hangat. Kupejamkan mata ini. Sungguh sebuah pelukan yang hangat dan mendamaikan hatiku. Dikecupnya dahiku lembut dan dari bibirnya yanga hangat itu seketika mengalir kehangatan di seluruh tubuh ini. Tubuh ini melemas dan jatuh sepenuhnya dalam dekapannya. Saranghae.. Selamanya Saranghae Jung Yunho..

-oOo-

 

THE DAY….

 

Hari ini adalah hari yang sangat aku nanti-nanti. Hari yang sama sekali tak kusangka akan datang juga. Tak pernah mengira aku akan menikah dengannya, Jung Yunho yang sangat aku sayangi. Bagaikan mimpi saja.. Pernikahan ini adalah sebuah pernikahan sederhana yang dihadiri oleh kedua orang tuaku, Junsu, Yoochun dan adik Yunho, sekaligus satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh nya, Changmin. Sedangkan kedua orang tua Yunho sudah lama meninggal dunia.

Saat ini kukenakan setelan jas bewarna putih dengan hiasan bulu di bagian kerahnya dan sebuah bunga merah di kaitkan di saku jas ku. Sedangkan Yunho mengenakan setelan jas bewarna dominan hitam dengan model yang jauh lebih manly di banding dengan model jas ku serta sebuah bunga merah juga di kaitkan di saku jasnya.

Dia sangat gagah sekali dengan setelan jas yang tampak sangat pas ditubuhnya yang memperlihatkan tubuhnya yang sangat proposional dan berisi. Kulihat rambutnya tertata rapi seperti biasa dengan wajah yang bersinar-sinar. Kuamati wajahnya dengan seksama. Kulihat matanya yang tajam yang dapat membuatku sangat nyaman dan hangat, tapi terkadang dapat membuatku berdebar-debar tak karuan ketika dia menatapku hingga rasanya sesak di dada ini. Kulihat hidungnya yang mancung dan indah. Kulihat bibirnya yang lembut dan selalu membuat jantungku ingin meloncat ketika bibir itu bersentuhan dengan bibirku. Kulihat lekak-lekuk pipinya dan rahang yang kokoh dan tampak sangat kuat. Wajahnya sangat tampan.. Sempurna.. Ahh.. Benar-benar sempurna.

Acara pun dimulai. Pernikahan ini berlangsung dengan sangat khidmat dan haru. Suasana tampak sangat indah dan bahagia. Wajah bahagia terpancar dari kami semua. Termasuk juga appa yang awal mulanya sangat menolak hubungan ini. Terima kasih umma.. appa.. Kalian telah merestui hubungan kami. Pasti berat sekali bagi kalian untuk merestui kami, tapi cinta kalian yang begitu besar mampu mengalahkan semua itu. Terima kasih..

“Apakah kau Jung Yunho menerima Kim Jaejoong menjadi pendampingmu untuk selamanya baik dalam keadaan susah dan senang?”

“Ya aku menerima.” jawabnya dengan mantap.

“Apakah kau Kim Jaejoong menerima Jung Yunho menjadi pendampingmu untuk selamanya baik dalam keadaan susah dan senang?”

“Ya aku menerima.” jawabku dengan tak kalah mantap.

“Sekarang kalian sudah resmi menikah silakan bertukar cincin dan ciumlah pasanganmu.”

Kali ini aku berdiri di depan suamiku. Dipegangnya cincin pernikahan kami dan disematkannya cincin itu di jari manisku. Kata orang jari manis terdapat syaraf yang langsung terhubung dengan hati. Jadi jika cincin berpasangan diletakan di jari manis, maka pasangan itu akan selalu terhubung hatinya satu sama lain. Oleh karena itu, sebuah cincin pernikahan haruslah di letakan di jari manis. Kemudian kini kuambil cincin yang sebelahnya dan kusematkan pada jari manis Yunho. Kulihat tangan yang indah ini semakin tampak indah jika menggunakan cincin pernikahan kami.

Diciumnya tanganku dengan sangat lembut dan direngkuhnya tubuhku. Didekatnya tubuh ini ke tubuhnya dan dikecupnya keningku dengan sangat hangat. Kurasakan kehangatan di keningku ini menyebar ke seluruh tubuh. Bisa kurasakan suatu perasaan yang sangat aneh. Suatu perasaan yang tak pernah kurasakan. Suatu perasaan bahagia sebahagia-bahagianya aku. Kupejamkan mata ini menikmati ciuman di keningku ini.

Kudengar Junsu, Yoochun dan Changmin berkata, “Cium.. cium.. cium…” membuat pipiku ini jadi memerah dibuatnya.

Kutundukan wajah ini karena merasa malu dengan Yunho dan membayangkan jika kami harus berciuman. Ciuman seperti ini pasti berbeda dengan ciuman kami sebelumnya.

“Kim Jaejoong..” panggilnya lembut.

Kurasakan tangannya mengangkat daguku perlahan hingga akhirnya aku menatap wajahnya yang tampan itu lagi.

“Jeongmal  Saranghamnida..” ucapnya.

“Naedo Jeongmal Saranghamnida..” jawabku dengan senyuman dibibirku.

“Kau tahu.. Aku tak pernah lelah mengucapkan kalimat ini, walaupun sudah berkali-kali aku ucapkan. Terima kasih Jae.. Kau mau menjadi pendamping hidupku. Aku merasa sangat beruntung memilikimu.” katanya.

“Aku juga merasa beruntung memilikimu.” jawabku.

Kulihat wajahnya mulai mendekatiku sedikit demi sedikit. Kupejamkan mata ini. Hati ini benar-benar berdebar-debar dibuatnya. Dan akhirnya kurasakan bibirnya mendarat lembut diatas bibirku. Kurasakan ciuman hangat dari bibirnya. Ditekannya bibirku perlahan dan lembut. Sebuah ciuman yang sangat indah yang tak pernah aku bayangkan akan terwujud. Sebuah akhir yang sangat indah.

Beruntungnya aku menikah dengannya. Sungguh aku benar-benar beruntung. Betapa bersyukurnya aku dapat menikah dengannya, seorang pria yang tampan dan luar biasa, seorang pria yang sangat dewasa dan bijaksana, seorang pria yang begitu lembut padaku dan selalu melindungiku, seorang pria yang bertanggung jawab dan sangat romantis, serta yang pasti seorang pria yang sangat aku cintai dan mencintaiku.

 

Jeongmal saranghaeyo Jung Yunho.. Saranghae..

Kami bertemu di Tokyo..

Kami berkenalan di Tokyo..

Kami mulai jatuh cinta di Tokyo..

Kami merajut cinta di Tokyo..

Kami menjalani hidup bersama di Tokyo

Cinta kami tumbuh dan bersemi di Tokyo

Appa dan umma merestui hubungan kami di Tokyo

dan kini….

Kami menikah di Tokyo..

Benar-benar Tokyo Love Tokyo..

Selamanya Tokyo akan menjadi bagian dari hidupku yang tak kan pernah kulupakan..

 

Cintaku Jung Yunho. Sayangku Jung Yunho. Kasihku Jung Yunho.

 

Tokyo Love Tokyo..

 

Saranghae Jung Yunho..

 

============OOOOO==========

 

Akhirnya selesai juga Fanfic Tokyo Love Tokyo.. fiuhhh… bisa lanjut ke fanfic yang lain nih..

Oh Yun.. Oh Jae.. Oh Yunjae..

Tokyo Love Tokyo… >,<

Gimana komentarnya tentang ff ini?? Gak jelas ya?? hehe

mian kalo kurang memuaskan.

Tapi aku tunggu komen2nya ya. Yang banyakkk.. oke?😉

Oya jangan lupa baca Fanfic Bloody Lovenya jugaa dan fanfic2 lainnya. Rencana aku mau ngepost Frozen Over Flower 21+ sama Thumbjaelina chibi. Tapi liat ntar aja gimana kelanjutannya.

Slain itu sekarang Jadwal Posting ff terbaru ada di side bar. Jadi lebih gampang kan kalo mau liat jadwalnya.. iya kan?

Trus jangan lupa join ke GRUP Fanficyunjae di FB

 

Gomawo

🙂

-beth-

25 thoughts on “Tokyo Love Tokyo Chapter Bonus 2/2 | @beth91191

  1. Yeay happy ending……
    Akhir.a yunjae hdp bhg slm.a

    Syukurlah appa jae merestui yunjae, q pkir jae bkln dpisahin dr yun /sobs…sobs

    Nice ff thor

  2. happy ending… Ane suka happy ending… Changmin bru nongol di bgian ahr,, g papa deh yg pnting happy ending…

  3. Seneng.y yunjae akhir.y merrid ^^
    pas mr.kim nolak keras hubungan mereka,
    rasa.y aq juga pengen marah(?)
    eh..g tau.y mr.kim berubah pikiran n merestui mereka.
    Yunjae is real…..

  4. Yeeyyyy….!!!!!
    Happyy ending…#kissuYunpa

    akhirnya Yunpa ma Jaema nyatu juga…
    Changmin knpa baru nongol….

    Daebak….!!!
    ^_^d

  5. akhirnya nikah juga…wkwkwkwk…
    tpy knapa malam pertamanya gk diceritain sekalian sih…
    hiks..kan saia pengen bget baca nc mereka…

  6. aaah akhr yg membahagiakn, mski awalny ga drstui tp akhrny mrka bs brsatu jga jd sepasng suami istri..
    so sweet ^^`

    mian cma comment pas chap akhr.
    hehe

  7. yeah happy ending dan super romantis.. perjuangan mereka akhirnya berbuah kawin.. hohohohoh
    oya changminnie itu tiba2 nongol.. hehhe

  8. huft..
    happy end juga😀
    awalny sempet ngira bakal sad ending waktu appa jaema gg ngerestuin🙂

    huft..aku habis berapa tisu nich *nggitung tisu*

  9. Congratulations umma appa!!! Saranghae uri yunjae…jeongmal saranghae!!!
    Gamsahamnida bwt appa’a jae, kalian ųϑªђ ngrestuin hubungan’a yunjae

    Horeeee…selamat berbulan madu!! Pdhl Q ųϑªђ nunggu yunjae NC ✘¡✘¡✘¡

    Sangkyuu arigatou bwt author ýanƍ ųϑªђ bikin epep bagus ini!!

  10. hwa… saranghae…saranghae…
    hwa daebak!!!
    chukkaeyo Yunpa, chukkaeyo Jaema…
    hwa… moga langgeng…

  11. yey…akhirnya yunjae merried..chukkae..wlwpn smpat deg deg-an..kirain appa jaema gak bakal restuin…tryata oh tryata..appa jaema luluh juga…
    happy ending…horeee…buat author : daebak…:-*

  12. Yipppieeee
    akhinya, setelah melalui *?* banyak*?* rintangan*?* saya membaca happy ending /plaaak/
    buset dah, udh deg” n tadi gara” mr kim yg nyeremin
    tapi akhirnya di kawinin juga YunJae yak
    ㄟ(≧◇≦)ㄏ

  13. Waahh…happy ending ternyata..tpi alurny cpet bgt yaa…ga nyangka aja appa ny jaejoong bakal ngerestuin secepat itu..hehee
    Good job buat authornya🙂

  14. Terharu … appa kim akhirnya membuat keputusan yg berat. Meskipun akan memalukan keluarga hub yunjae tp ternyata kim appa lebih mengutamakan perasaan anak tunggalnya 😂
    Coba ya ini jd kisah nyata yunjae, th depan kompirm hub mereka dan segera melangsungkan pernikahan mereka.
    Bisa nangis bahagia ga bersudahan dech klu gitu 😄😙

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s