Bloody Love Chapter 21 – I’m sorry I have to go | @beth91191


Anyeonghaseyo… This’ the last part for flash back Yunho’s life…

Bagaimana akhirnya tindakan yang akan di lakukan Jung Yunho pada appanya, ummanya dan dongsaengnya Changmin??? Akankah keluarga barunya ini akan hancur lebur karena perbuatan appa nya itu? Apakah umma dan Changmin akan bersedih?? Apa yang akan terjadi berikutnya?? Silakan baca aja dehh..

Jangan lupa RCL..🙂

Title        : Bloody Love

Author   : Beth

Chapter : 21 – I’m Sorry I Have to Go

Genre    : Romance, Action, Yaoi

Rate       : 21+

CHAPTER XXI – I’m sorry I have to go

[Yunho pov]

Ku pacu motor ku ke rumah.

Ku masuk ke dalam rumah. Kulihat Appa duduk di ruang tamu. Dia tampak sangat terkejut melihat ku kedatanganku yang tiba-tiba setelah seharian menghilang dan tak pulang kemarin malam.

“Kau kemana saja Yunho? Umma.. Umma.. Yunho sudah pulang.. Changmin.. Umma… Yunho disini..” seru Appa.

Kulihat Umma dan Changmin datang ke ruang tamu.

“Yunhoooo…” Umma langsung memelukku dengan berurai air mata. Kulihat mata umma yang sedikit bengkak, sepertinya umma sudah menangis untuk waktu yang lebih lama. Mungkin sejak semalam aku tak pulang dia sudah menangis. Tiba-tiba kuteringat ketika saat dulu aku pulang terlambat, umma sudah sangat khawatir hingga menungguku datang sampai tak sengaja tertidur di ruang tamu. Apalagi kemarin saat aku jelas-jelas tak pulang dan baru kembali pulang malam ini.

“Kau kemana saja anakku?” tanya umma masih terus memelukku erat.

“Hyung kemana saja?” tanya Changmin padaku.

“Kenapa kau pergi dari rumah Yunho??” tanya Appa padaku.

Silih berganti Appa, Umma dan Changmin bertanya-tanya. Aku hanya bisa terdiam mematung. Aku masih sedikit ragu untuk mengatakannya. Melihat reaksi mereka sudah seperti ini saat ini, membuatku ragu untuk melakukan apa yang akan aku lakukan. Aku takut justru ini akan membuat mereka tambah sedih. Walaupun memang mau tak mau seperti itulah yang akan terjadi.

Setelah mereka cukup tenang kami pun duduk bersama di ruang tamu. Umma masih saja memelukku erat. Changmin di sampingku dan Appa di depanku.

“Tenanglah dulu semuanya,biarkan hyung cerita dahulu..” kata Changmin dewasa.

“Baiklah sekarang ceritakan Yunho..” Appa menyuruh ku cerita. Sebenarnya jika semua ini aku ceritakan yang sebenarnya pada mereka, dia pasti habis. Tapi aku tak ingin menyakiti Umma dan Changmin. Cukup aku saja yang tersakiti. Cukup aku saja yang merasakan kepedihan ini.

“Appa.. Umma.. Changmin.. Aku sudah putuskan.” Ucapku terhenti sejenak, “Selama ini aku sudah banyak merepotkan kalian. Kalian sudah mau mengangkatku dari panti asuhan yang buruk itu saja, aku sudah banyak berterima kasih. Apalagi kalian telah memberikanku keluarga yang sangat menyayangiku, rumah yang begitu hangat, biaya sekolah, makanan yang jauh lebih baik dari pada makanan saat di panti, motor yang sangat bermanfaat ini dan semua fasilitas lainnya. Aku sudah banyak menyusahkan kalian semua. Aku rasa sampai sekian saja aku menyusahkan kalian. Aku akan pergi dari rumah ini.” Ucapku hati-hati.

Kulihat mereka bertiga terkejut bukan main. Umma langsung menangis sejadi-jadinya. Mata Changmin pun berkaca-kaca. Sedangkan Appa tampak sangat kaget dan menyesal.

“Kenapa kau pergi Yunho?? Apa kami pernah membuatmu marah, sedih atau terluka?” tanya Umma sambil berurai air mata.

“Mianhe shimnida Umma.. Sama sekali kalian tidak pernah membuatku marah, sedih atau terluka.” kataku sambil melihat ke arah Appa penuh arti.

Sebetulnya memang itu alasannya aku pergi dari rumah ini, umma. Aku tak sanggup menerima perlakuan Appa. Aku tak sanggup membuat umma dan Changmin merasa sedih jika mengetahui yang sebenarnya. Tapi walaupun begitu aku tak akan pernah bisa dendam pada Appa. Dia terlalu baik padaku sampai aku tak akan pernah bisa dendam padanya. Walau memang hal itu sangat menyakitkan tapi biarlah cukup aku saja yang menyimpannya kepedihan ini di dalam hatiku.

“Kita akan tetap keluarga. Di akta pun namaku tetap masuk dalam keluarga kalian. Kita tetap bisa bertemu seperti biasa. Hanya saja aku ingin mandiri. Aku ingin membiayai hidupku dari hasil kerja kerasku sendiri.” Ucapku berusaha menyakinkan umma.

“hyung….” Changmin pun ikut memelukku.

“Yunho.. Appa minta maaf kalau Appa ada salah.. Jangan pergi.. kasihan Umma dan Changmin..” kata Appa yang sedari tadi terdiam.

“Andwe Appa.. Appa tidak salah apa-apa.” Bohongku dengan hati yang teriris-iris.

Jujur di dalam hati, aku sangat sedih.. Sangat.. Tapi aku tak mau mereka melihatku dalam keadaan sedih dan menangis di depan mereka. Walaupun sebenarnya memang batinku sedang menangis saat ini.

Batinku sudah lama menangis,sedari Appa melakukan hal itu padaku. Entah mengapa aku dulu membiarkan dia melakukan perbuatan itu padaku? Sepertinya aku dulu terlalu takut kehilangan kebahagiaan-kebahagiaan yang baru saja aku dapatkan. Benar-benar aku tak ingin bersama Appa lagi. Aku tak sanggup terus tinggal bersamanya. Tapi memang beginilah konsekuensi dari tindakanku. Aku tak akan bergantung pada Appa lagi. Aku kembalikan semua kebahagiaan-kebahagiaan yang pernah dia beri padaku. Aku kembalikan semuanya. Agar aku tak memiliki perasaan harus balas budi lagi padanya. Aku akan mandiri dan memulai semuanya sendiri.

“Oya.. Ini aku kembalikan sepeda motorku.. Aku hanya akan mengambil beberapa pakaian dan barang pribadi ku saja.” Kataku sambil meletakan kunci motor dimeja di depan appa.

“Tapi Yunho.. Motor ini memang milik mu. Kau tak mungkin kemana-mana tanpa motor.” kata Appa.

“Andwe Appa.. Terima kasih banyak.. Aku tak mau merepotkan kalian. Motor ini untuk Changmin saja. Dia selalu ingin memiliki motor ini. Mianhe semuanya.. Aku ingin mengemas barang-barangku dulu..”

Kemudian ku tinggalkan mereka. Umma masih saja menangis di pelukan Changmin. Mata Changmin makin berkaca-kaca. Appa hanya terdiam kosong sepertinya dia merasa amat sangat terpukul dan menyesal padaku. Dia merasa bingung harus berbuat apa.

Aku pun melangkah ke kamarku dan ku raih koperku. Ku ambil pakaianku satu persatu secukupnya dan ku masukan ke koper. Kulihat Changmin masuk ke kamar.

“Hyung.. Aku yakin kau pasti ada masalah. Kenapa kau tidak cerita saja pada kami. Minimal padaku hyung. Aku sudah bertahun-tahun mengenalmu. Jauh sebelum kau menjadi hyungku. Kumohon ceritalah. Jangan pergi seperti ini tiba-tiba seperti ini. Semua pasti bisa diselesaikan.” bujuknya agar aku mengatakan masalah ku.

“Kau memang yang paling mengenalku Changmin. Tapi mianhe.. Aku belum bisa mengatakannya sekarang. Suatu saat nanti pasti akan aku ceritakan semuanya padamu. Biarlah sekarang aku menenangkan diriku dulu.” kataku sambil membelai rambutnya.

“Tapi hyung..” belum selesai dia berkata.

“Ssssssstttttttt…… Sudah Changmin. Ini sudah keputusanku matang-matang.” Kataku tegas.

“Baiklah hyung.. Aku percaya.. Kalau kau akan mengambil keputusan yang terbaik. Kita akan selalu komunikasi ya. Sering-seringlah main ke rumah ya..” jawab Changmin yang mulai bisa menerima keputusanku.

Changmin pun membantuku membereskan barang-barangku. Dapat kulihat dia sebenarnya ingin menangis tapi dengan sekuat tenaga ia menahan tangisnya.

Saat semua barang-barang pribadiku sudah siap. Aku melihat ke segala penjuru kamarku. Ahhhhhh…. Tempat ini terlalu banyak kenangan. Kenangan saat aku dan Changmin tidur bersama. Kenangan saat aku dan Changmin belajar di karpet sambil bermain dan bercanda. kenangan saat Umma mengantar susu, membelai rambutku dan mencium keningku. Hingga kenangan-kenangan pahit ku bersama Appa.

Air mata ku menetes dari sudut mataku jatuh memebasahi pipiku. Dengan cepat kuhapus tetesan air mata itu. Aku tak ingin membuat mereka makin sedih jika menyadari aku menangis. Sanggupkah aku merelakan semuanya? Apakah keputusanku sudah benar? Benarkah ini adalah keputusan yang terbaik?

Aku harus yakin.. Harus.. Benar kata-kataku tadi. Aku tak boleh merepotkan mereka lagi. Mereka sudah terlalu banyak menolongku.

Ku seret koperku keluar dari kamar. Ku turuni tangga bersama Changmin di belakangku menuju ruang tamu tempat Appa dan Umma berada.

“Appa.. Umma.. Changmin.. Aku sudah membereskan pakaianku. Aku pergi sekarang ya. Nanti aku akan sering berkunjung.” kataku pada mereka.

“Malam ini jugakah kau akan pergi? Tak menunggu besok saja?” tanya Umma berusaha menghalangi kepergianku. Setidaknya menunda kepergianku berharap aku akan berubah pikiran.

“Mian Umma.. Aku harus pergi sekarang..” jawabku.

“Setidaknya makan malam lah dahulu.. Umma sudah masak masakan kesukaanmu Yunho. Kau pasti lapar. Umma sudah masak apa yang kau suka Yunho. Lihatlah bulgogi kesukaanmu. Umma mohon makanlah dulu.” pinta Umma padaku masih dengan air mata membasahi pipinya.

“Tidak usah Umma.. Jeongmal Kamsa hamnida..” jawabku pedih.

Didalam hati, aku sangat ingin makan bersama mereka malam itu. Ingin sekali aku menikmati bulgogi masakan umma yang sangat enak itu. Masakan umma yang dibuat dengan penuh cinta kasih dan kehangatan itu. Aku sangat ingin makan umma. Sangat.. Tapi aku takut kalau aku berlama-lama disini aku akan berubah pikiran.

“Mian Umma.. Mian.. Aku harus pergi sekarang.” Ucapku sambil menahan tangis ekuat tenaga.

Appa pun tak berkata sepatah kata pun dia hanya terduduk kosong. Umma masih saja memelukku. Dan Changmin berjalan di sampingku. Kami pun menuju ke depan rumah.

“Oya Yunho.. Tunggu.. Kau tunggu sebentar. Jangan kemana-mana. Umma mau ambil uang dulu. Kau tidak boleh keluar tanpa sepeser uangpun. Bentar ya.. Jangan kemana-mana. Changmin. Jaga hyungmu sebentar. Jangan bolehkan dia kemana-mana. Yunho.. Umma mohon.. Sebentar saja tunggu umma. Sebentar saja…” kata Umma menyuruhku menunggu.

Umma pun masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Tapi aku tak inginkan Umma repot-repot memberikan aku uang. Umma sudah terlalu baik selama ini. Mian Umma aku takkan bisa menerima kebaikanmu lagi. Aku pun mulai beranjak pergi.

“Hyung.. Bukannya Umma menyuruhmu menunggu?” seru Changmin.

Aku pun tersenyum dan membelai rambut Changmin kembali.

“Jaga baik-baik Umma ya.. Nanti di sekolah kita bicara lagi.” kataku sambil mulai pergi menjauh.

Changmin hanya terdiam. Dia tahu akan tetap bisa bertemu denganku di sekolah. Tapi tetap saja perasaannya sangat berkecamuk saat ini. Dia ingin sekali menolongku. Tapi akulah yang tak ingin ditolongnya. Memang apa yang bisa dia lakukan jika dia tahu yang sebenarnya. Justru semuanya akan kian rumit jadinya.

[Author pov]

Kemudian Umma pun keluar dari dalam rumah. Sambil membawa beberapa lembar uang yang berhasil di temukannya dan sekotak makanan yang dia siapkan dengan secepat kilat. Kemudian dilihatnya Changmin berdiri mematung sendirian di teras rumah.

“Mana Hyung mu? Mana?” kata Umma sambil menggoyang-goyangkan tubuh Changmin.

Changmin hanya diam saja. Dia sendiri bingung akan perasaannya kali ini.

“Yunho.. Yunhoo..”panggil umma dengan suara bergetar.

Kotak makanan yang dibawanya terjatuh. Bulgogi yang telah dia buat dengan penuh cinta kasih itu berhamburan. Umma pun menangis sejadi-jadinya sambil terduduk lemas di lantai teras. Tangannya meremas uang yang akan di berikan pada Yunho dengan erat.

“Yunho… Yunho… Kenapa kau tinggalkan Umma?? Umma sangat menyayangimu.. Bahkan ketika Umma ingin memberimu sedikit uangpun kau tak mau menunggu walau hanya sebentar.. Yunho.. Yunho…” Umma menangis dan Changmin memeluk Ummanya dengan erat.

Hujan pun mulai turun membasahi bumi. Seakan-akan langitpun ikut sedih bersama dengan kepergian Yunho. Yunho pergi melangkah meninggalkan rumahnya tanpa menoleh sedikitpun. Dia akhirnya tak sanggup lagi menahan luapan kesedihannya. Dia menangis dalam langkahnya. Keputusan yang diambilnya memang berat. Tapi dia yakin itu adalah keputusan yang terbaik baginya, bagi umma, bagi Changmin dan bagi appa. Yunho terus melangkah dalam lebatnya hujan dan kekelaman malam. Dingin dan gelapnya malam sedingin dan segelap hatinya saat ini.

 

[Nenek pov]

Saat ini aku merasa sudah sangat lelah bekerja. Aku ingin berkebun saja di kampung halaman. Tapi tak mungkin aku menutup tempat makanku ini begitu saja. Ini adalah tempat makan yang aku bangun sejak aku masih muda, saat suamiku masih hidup. Dulu aku dan suamiku yang mengelola tempat makan ini bersama-sama. Kami membangunnya benar-benar dari awal. Hingga sekarang tempat makan ini bisa dibilang cukup berhasil. Walau tidak terlalu besar,tapi tempat makan ini sudah memiliki banyak pelanggan tetap. Tapi sejak ia meninggal sebulan yang lalu, aku harus berjuang sendiri. Sebenarnya tempat makan ini adalah usaha impian kami, aku pun senang memasak di tempat makan ini,tapi…

Setiap sudut tempat makan ini selalu mengingatkan aku pada suamiku. Aku masih tak menyangka dia pergi secepat ini. Meninggalkan aku sendiri. Dia pasti sekarang sudah berkumpul dengan anak laki-lakiku yang meninggal saat masih di bangku SMA. Hingga akhirnya aku sendiri.

Andai ada orang baik dan bertanggung jawab yang mau mengelola tempat makan ini,aku benar-benar akan menyerahkannya untuknya. Aku tak memikirkan untung dan rugi lagi. Yang penting tempat ini terus berdiri dan di pegang oleh orang yang tepat itu sudah jauh lebih dari cukup.

Tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam tempat makanku. Padahal aku sebentar lagi akan tutup.

“Anyeonghashimnika,nek..” sapa orang itu.

Berusaha ku amati wajah orang itu. Memang aku sudah tua. Mataku sudah sedikit buram.

“Ohh.. Kau anak muda yang tadi pagi kan?” tanyaku.

“Nae..” jawabnya.

“Kau..” belum sempat aku berbicara..

“Aku ingin kerja di sini Nek.. Ingin sekali.. Aku mau kerja sebagai apapun. Asal aku di beri tempat untuk menginap. Bahkan aku tidak mempermasalahkan gajinya. Berapapun aku mau.” pintanya dengan wajah memelas.

Senang sekali aku sangat mengetahui akhirnya dia mau menerima penawaranku tadi pagi. saat pertama kali aku melihatnya aku tahu dia adalah orang yang baik. Entah mengapa ada perasaan yakin menyerahkan tempat makan ini kepadanya,saat pertama tadi aku melihatnya.

“Apakah kau benar-benar serius untuk bekerja disini?” tanyaku.

“Iya nek.. Aku sangat serius.” Jawabnya meyakinkanku.

“Memang kenapa kau ingin sekali bekerja disini?” tanyaku berusaha mengetesnya.

“Karena aku sangat ingin mandiri nek. Tak bergantung lagi dengan appa dan umma angkatku. Mereka terlalu baik untukku. Aku tak mau menerima kebaikan mereka lebih dari ini.” Jawabnya dengan tatapan sedih.

“Jika aku menolakmu kerja disini, apa yang akan kau lakukan?” tanyaku kembali.

“Aku tetap tak akan kembali ke rumah orang tua angkatku. Aku akan melamar pekerjaan lain yang bisa aku lakukan. Aku sudah bertekad bahwa aku akan hidup mandiri.” Jawabnya yakin.

“Apakah kau pekerja keras?” tanyaku.

“Kalau yang nenek maksud dengan pekerja keras adalah orang yang tekun dan rajin dalam bekerja, ya aku pekerja keras. Bagaimana nek? Bisakah aku bekerja disini?” tanyanya sangat berharap.

“Menurutmu?” tanyaku balik.

“Mwo?” dia sedikit bingung.

“Tentu saja kau aku terima.. Sebelum melihat kesungguhan tekadmu dan keinginan mandirimu yang sangat besar aku sudah menawarimu pekerjaan ini. Apalagi setelah mengetahui bahwa kau benar-benar serius dan merupakan pekerja keras, mana mungkin aku akan menolak orang sepertimu. Aku rasa tak ada alasan untukku menolakmu.” Jawabku.

“Benarkah aku diterima?” tanyanya dengan mimik wajah bahagia.

“Yap benar sekali. Oya, seperti yang kukatakan tadi, pekerja di tempat makan ini akan mendapat fasilitas kamar. Kau akan mendapatkan gaji yang cukup untuk membiayai sekolahmu sendiri dan biaya-biaya lainnya, sepertinya yang kau inginkan, hidup mandiri. Pekerja ku hanya kamu saja. Jadi tak ada salahnya aku memberikan gaji yang cukup besar untukmu. Aku justru sangat senang kau menerima penawaranku tadi pagi. Selamat bergabung di tempat makan ini.” jelasku.

“Kamsa hamnida Nek.. Jeongmal kamsa hamnida..” jawabnya dengan tersenyum tapi tak dapat menutupi kesedihan yang tengah dia rasakan. Guratan kesedihan masih tergambar jelas di wajahnya.

Aku akan mempersiapkannya terlebih dahulu untuk menjadi penerus pengelola tempat makan ini selama beberapa saat. Minimal sampai dia lulus sekolah. Hingga nanti pada waktunya telah tiba, aku baru akan mengatakan padanya bahwa tempat makan ini akan menjadi miliknya. Karena aku sudah sangat ingin kembali ke kampung halamanku yang tenang dan damai. Tak ingin aku mengundur-undur keputusan ku ini lagi. Entah mengapa aku yakin-seyakin-yakinnya jika harus melepaskan tempat makan ini padanya. Aku yakin dia dapat mengelolanya kelak dengan sangat baik. Tempat makan ini tak akan mati bila berada di tangannya. Aku yakin.

===END FLASHBACK===

[Jaejoong pov]

Ternyata..

Aku sama sekali tak menyangka dia memiliki masa lalu yang sangat buruk. Jauh lebih buruk di banding keadaanku saat ini. Masa-masa dimana dia harus bekerja keras sejak usia muda. Masa-masa dimana saat dia harus menerima perlakuan sewenang-wenang pemilik panti asuhan. Masa-masa di mana saat dia tidak mendapatkan fasilitas fasilitas yang harusnya di miliki anak seusianya. Masa-masa dia di lecehkan oleh Appa angkatnya. Masa-masa dia harus menentukan masa depannya dengan beratnya. Masa-masa dimana dia harus memillih satu daru beberapa pilihan yang sama-sama sulit dengan sangat bijaksana. Masa-masa dimana di kembali kehilangan kebahagian yang sempat dia cicipi sebentar saja. Masa-masa dia harus memulai semua dari nol dan sendirian. Itu benar-benar tak mudah. Sangat tak mudah.

Sungguh dia sangat luar biasa. Dia bisa lepas dari jeratan Appa angkatnya tanpa harus mengatakan yang sebenarnya pada orang lain, tanpa menyakiti hati Ummanya dan adiknya. Dan kini dia sudah benar-benar mandiri dan cukup sukses dengan bisnis tempat makan pemberian nenek itu. Jung Yunho aku benar-benar simpati padamu.

Aku kira menjadi vampir adalah suatu masalah yang paling berat yang ada, tapi ternyata masalahmu jauh jauh lebih berat dari masalahku. Tapi kau bisa melaluinya dengan sangat bijaksana. Harusnya aku bisa lebih bijaksana dalam bersikap, tidak hanya menyalahkan situasi yang ada saja. Karena menyesal dan meratap terus menerus tak akan memberikan penyelesaian apa-apa padaku.

Dia benar-benar dewasa sejak usia dini, yang mana saat aku seusianya, aku masih sibuk bermain-main dengan teman-temanku dan harta orang tuaku. Bahkan sebelum aku menjadi vampirpun, aku masih selalu melakukannya. Masalah yang beratlah yang membuatnya bisa sedewasa itu dalam mengambil sikap. Itu pasti berat.

“Ada apa denganmu??” tanya Changmin padaku.

“Andwe..” jawabku kembali teringat bahwa aku tengah berkenalan dengan adik Jung Yunho.

“Wajahmu tiba-tiba pucat sekali. Kau tidak apa-apa?” kata Yunho sambil memegang pipiku.

“Mwo? Apa yang kau lakukan? Aku baik-baik saja.” kataku sambil menepis tangannya karena terkejut.

“Mianata.. Aku hanya mengawatirkanmu. Kau istirahat saja. Biar aku yang menyelesaikan menutup tempat makan.” jawabnya.

Pikiranku yang sempat melayang-layang dan membuatku sedikit terkagum padanya akhirnya kembali teringat bahwa dia benar-benar tak lebih daris seorang namja yang suka bertingkah aneh padaku.

“Terserah..” kataku sambil melempar lap yang aku bawa ke arahnya.

Aku pun pergi menuju kamar di lantai dua.

Sebenarnya apa yang dia lakukan. Kenapa dia selalu saja melakukan hal-hal yang terasa aneh bagiku. Dia memperlakukan seperti orang lemah saja, seperti wanita lemah lebih tepatnya. Aku itu kuat, jauh lebih kuat darinya yang tak lebih dari seorang manusia yang sangat rapuh. Apa yang ada dipikirannya? Mengapa aku sama sekali tak bisa mengetahui pikirannya dan kata hatinya? Aku bisa mengetahui masa lalunya pun bukanlah dari membaca pikirannya ataupun membaca kata hatinya, tapi aku mengetahui karena aku bertemu dengan adiknya dan membaca masa lalu Yunho melalui perantara adiknya itu. Itupun tampak tak begitu jelas dan pasti tak selengkap apa yang sebenarnya terjadi.

Sejak awal aku bertanya-tanya. Mengapa dia hanya satu-satunya manusia yang tak bisa kubaca kata hatinya? Apa yang membuatnya berbeda dengan manusia lainnya? Mengapa harus dia yang tidak bisa aku baca pikirannya? Dia adalah orang pertama yang ingin aku ketahui apa yang sedang ia pikirkan. Tingkah lakunya yang aneh membuatku sangat ingin tahu apa yang ada dibalik semua itu. Jung Yunho.. Sebenarnya apa ada di benakmu? Apa?

Jika aku hanya diperbolehkan memilih satu orang yang mampu aku baca pikirannya, tentu saja aku akan memilihmu. Tapi mengapa justru kau satu-satunya orang tak bisa kutembus pikirannya. Aku yakin jika aku bisa mengetahui pikiranmu, pasti niat-niat busuk dan pikiran-pikiran anehlah yang akan kutemukan.

Tapi..

Mengingat sikap dan sifatnya dimasa lalu ketika aku menyentuh tangan adiknya, sepertinya aku harus meralat dengan apa yang aku katakan. Mana mungkin aku langsung menilainya seperti itu tanpa dasar yang jelas. Sepertinya dia tak seburuk apa yang aku pikirkan. Dari apa yang aku lihat melalui perantara adiknya itu, dia adalah pria yang baik dan hangat.

Tidak tidak tidak…

Bicara apa aku ini??

Jung Yunho tetaplah Jung Yunho yang bertingkah aneh padaku, mungkin hanya padaku. Tapi tetap saja satu kata yang bisa menggambarkannya, yaitu ‘Aneh’.

Aku terus saja berpikir tentangnya yang membuatku perang batin dengan diriku sendiri.  Bersama dengannya benar-benar menyita pikiranku.

Jujur tak banyak hal yang bisa aku pikirkan sejak aku bisa dibilang sudah mati, aku tak perlu memikirkan perusahaanku dan bisnis-bisnisku, aku tak perlu memikirkan apa yang aku kenakan untuk pergi ke kantor esok hari, aku tak perlu memikirkan untuk membawa mobil yang mana saat pergi ke pesta, aku tak perlu memikirkan membeli barang-barang yang seharusnya tidak perlu aku beli, aku tak perlu memikirkan akan pergi ke  Club mana selepas bekerja, aku tak perlu memikirkan akan pergi kemana setiap akhir pekan, aku tak perlu memikirkan semua itu. Menjadi orang ‘biasa’ jauh lebih nyaman dibanding yang aku kira.

Tapi satu yang perlu diingat, satu hal yang selamanya aku terus aku pikirkan baik dulu maupun sekarang, yaitu aku akan terus memikirkan bagaimana keadaan Junsu saat ini.

Junsu pasti bahagia dengan namja itu. Junsuku.. I miss you..

TBC

The wisest man Jung Yunho….. Ya ampunnnnnn…. Baik banget ya dia… Demi keutuhan keluarganya dia rela pergi dari rumahnya itu, meninggalkan semuanya… Padahal dia baru saja mencicipi kebahagian dengan sebuah keluarga tak lama, tapi dia dengan langkah berat pergi meninggalkannya. Ohhh Yunhooo.. Love youuuu… :*

Kehidupan baru dimulai.. Semoga semuanya menjadi lebih baik..

Pfuhhhhhh..~

Chapter=chapter yang berattt…

Setelah ini akan ada chapter-chapter yang lebih ringan untuk sementara. Chapter-chapter Yunjae moment akan lebih di ekspos.. Yey!! Nantikan kelanjutannya.. Dan yang penting jangan lupa RCL.. Aku selalu menunggu RCL kalian dengan semangat 45..

Salam Yunjae//

-Beth-

23 thoughts on “Bloody Love Chapter 21 – I’m sorry I have to go | @beth91191

  1. Maaf yah author maaaaf banget, baru koment skrng #readerdurjana. Aku ngebut bacanya dr td pagi hehe.

    Bener deh aku mewek ini. Udah gitu bacanya sambil denger lagu ballad, heuuh komplitlah!

  2. yunho= oke!!! lebih baik tinggal dgn nenek2 dari pada sama om om genit!
    jejung= elu mah emg gt~~ bahkan nenek2 km embat =,=a
    yunho= bukan gt jae~~~~~ T.T

    >,< lebih baik yunho kaburrrr.. tapi kasian umma nya~~~ *sumpah terharu*

    q bayangin emaknya changmin lari2… uda nyiapin bekal, uang, eh ditinggal ma yunh
    huhuhuh

  3. keliar dari rumah memang jalan terbaik yang di ambil yunho,
    yunho perlu menata hati dan menyembuhkan lukaaaa
    kasian juga sama mrs. shim ampe lari kaya begitu..
    ga kuatttttttttttttttttttttttttttttt rasanya *lebe banget =,=

    chingu, kemarin-kemarin aku sempet pake username afri, #ga ada yang tanya…

  4. ternyata yunho hidupny kelam bgt… tp kenapa jae gak bisa bca pikiran yunho ya?? sedangkan jaejoong bisa baca pikiran changmin dengan gampanngny…

  5. akhirnya aku semakin mengerti jalan ceritanya..
    lagi flashback toh yg chap sbelumnya tu,, kayanya aku harus mulai baca dari chapter 1 nih… okeh lanjut dulu… bagus euy…

  6. Sbar ea yundad..
    Ksabranmu kn brbuah manis..
    Q ykin akn hal tu..
    N tntg aptir(appa tiri) jhat tu..
    Wlopun sulit..
    Tp lupakanlah dy..
    Lpakn sfat jhatny tu..
    Masalalu yg brung lbh baik dilpakan..
    Q tau yundad org yg kuat+sbar+tbah..
    Semangat..

  7. Salut banged sama yunho dia bisa ambil keputusan kayak gitu walau beran dan nyakitin..
    Yunho emang gentle abis deh..tapi kenapa jaejoong ga bs baca pikirannya yunho yah?? Apa yunho ga pernah berpikir atau gimana??

    Dari sepanjang sampe chap ini.. Aq paling suka sama chap ini.. Feelnya dapet,bikin terharu

  8. aigoo ….
    yunppa … miris beudth … tpi untung udh ketemu ma jaeppa ..
    jaeppa sabar yh … pasti jaeppa ketemu ma junchan lagi kok …
    jaeppa jgn ksr2 ma yunppa yh .. hihihihihihih :DD
    yunjae couple !!!!!!!! xD lol lmao

  9. uwaaa akhirnya flashbacknya rapi juga keke ~ aga lucu ya, flashback smpe berpart2 gini, untung jaejoong nya sadar! xD haah baca dripart pling awal, ampe part ini, trus baru komen (reader durhaka–v), annyeong, new reader :DD . makin seru tiyap partnya, makin penasaran jadinyaaaaaaa gmana. cerita fantasinya, masing2 castnya, keseluruhannya, menarik! terutama karakter jaejoong yg bener2 sombong, angkuh, kerasabgt.😀 sukalah pokonya, lanjuut baca nextpart xDD

  10. Yunpa mudah”an skrg luka hatimu perlahan-lahan mulai sembuh…teruslah semangat ýª yunpa

    Jaema jangan galak” dong yunpa…ªª Ъ>:/ kasian sam̶̲̅α̇ nasibnya yunpa…sayangilah yunpa…arasseo!!!

  11. Bner2 hebat appa jung
    Prjalanan hidupnya pnuh rintangan,tapi dia jrang mngeluh

    Umma kyaknya udah sdikit bsa mnerima appa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s