Bloody Love Chapter 22 – My little brother was growing up | @beth91191


Anyeonghaseyooooo…..

Nggak pada bosen kan baca ni fanfic??

Jangan bosen yaaa,,, Soalnya ini sudah mulai chapter klimaks-klimaksnyaa..

Sampai detik ini belum ada yang namanya Yunjae moment yg so sweet kan di fanfic ini, So tunggu aja.. Nggak lama lagi reader sekalian akan disuguhi Yunjae moment. Tapi masalahnya, kapan ya??? Hahahaha

Hobby baru ku adalah bikin reader penasaran,,, Hahahahahhahaaa…

Sippp..

Apakah yang akan terjadi berikutnya, setelah semuanya tahu bahwa masa lalu Yunho sangatlah kelam.. Bocoran di awal, bakal ada sedikit Yunjae moment disini yang lumayan sweet lah..

Okedeh langsung baca aja…

Title        : Bloody Love

Author   : Beth

Chapter : 22 – My little brother was growing up

Genre    : Romance, Action, Yaoi

Rate       : 21+

CHAPTER XXII – My little brother was growing up

[Yunho pov]

Dia pucat sekali. Apakah dia baik-baik saja? Nanti setelah Changmin pulang akan aku liat kondisinya. Semoga dia tidak apa-apa.

“Hyung.. Sebenarnya aku ingin mengenalkan seseorang padamu..” kata Changmin menghancurkan lamunanku tentang Jaejoong.

“Siapa?” tanyaku.

“Calon istriku..” jawabnya dengan tersenyum.

“Woww… Kau sudah akan menikah. Kapan?” tanyaku penasaran.

“Awal Januari. Di gereja dekat rumah. Acaranya pemberkatannya tidaklah besar-besaran. Bahkan resepsinya pun belum di rencanakan kapan.” jelasnya.

“Kenapa begitu? Seakan-akan terburu-buru.” tanyaku.

Kulihat dia hanya tersenyum.

“Jangan-jangan..” aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku.

“Ya.. Dia telah hamil hyung. Aku harus bertanggung jawab padanya. Waktu itu aku tidak sengaja melakukannya.Ternyata karena hal itu dia hamil. Sebenarnya kami memang sudah berencana akan menikah. Tidak menyangka semuanya terjadi lebih cepat dari dugaan.” katanya menjelaskan dengan semburat malu di wajahnya yang tak berubah sedikitpun.

“Hmmmmm… Kau sudah dewasa sekarang Changmin. Tak menyangka kau sebentar lagi akan menikah. Padahal rasanya baru kemarin aku main basket denganmu di lapangan sekolah dan kau menangis ketika ditolak seorang wanita. Ternyata itu sudah bertahun-tahun yang lalu.” kataku.

“Iya hyung.. Waktu berjalan cepat.” Jawabnya.

“Apakah dia cantik seperti yang selama ini kau gambarkan saat kutanya gadis seperti apa yang kau inginkan?” tanyaku

“Sangat.. Dia sangat cantik.” Jawabnya dengan tersenyum malu.

“Apakah dia baik?” tanyaku lagi.

“Sangat baik hyung. Dia sangat menyayangiku dan menerimaku apa adanya.” Jawabnya.

“Dia gadis yang beruntung mendapatkan namja sepertimu.” Sahutku sambil mengacak-acak rambut adikku itu.

“Tidak hyung. Aku yang merasa sangat beruntung. Dia gadis yang sangat istimewa. Lain kali akan aku kenalkan ya.” Jawabnya.

“Tentu.. Hyung mu ini sudah sangat penasaran dengan sosoknya.” Timpalku sambil tersenyum.

“Oya hyung.. Maukah kau datang untuk makan malam bersama Appa,Umma dan calon istriku Sabtu minggu depan?” pintanya.

“Tapi..”

Aku sudah lama tak pergi ke rumah itu. Aku memang pernah beberapa kali bertemu Umma. Tapi terakhir bertemu sudah sangat lama. Dan kami bertemu tidaklah di rumah. Apalagi Appa.. Aku justru tak pernah bertemu dengannya sejak aku mengangkat kaki dari rumah. Siapkah aku bertemu mereka?

“Ku mohon hyung.. Demi aku, calon istri dan calon anakku.” pintanya padaku.

“Baiklah.. Tentu. Aku juga sudah sangat rindu dengan Umma dan..” ku berhenti sejenak,”Appa.” Karena sesungguhnya aku tak pernah merindukan Appa. Aku masih tak yakin harus bertemu Appa.

“Appa sudah berubah hyung..” kata Changmin sambil memegang pundakku.

“Apa maksudmu?” aku benar-benar terperanjat dibuatnya.

“Aku tentu tahu. Tapi aku tak berani berkata padamu. Aku pun dulu juga tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya melihat Appa hampir setiap malam selalu ke kamarmu kan hyung.. Walau aku masih kecil tapi aku tahu kenapa Appa sering ke kamarmu. Mianhae shimnida hyung.. Aku dulu…” dia tak sanggup menyelesaikan kata-katanya.

“Sssttt…. Sudahlah.. Jangan kau ungkit-ungkit luka itu lagi.” selaku.

“Mianhae shimnida hyung.. Mianhe..Mianhe..” ucap Changmin terbata-bata dengan dengan ekspresi wajah berubah suram dan sedikit berkaca-kaca.

“Berjanjilah untuk melupakan masalah itu. Biarlah itu menjadi masa lalu yang tap perlu diingat kembali. Kumohon berjanjilah. Setidaknya demi umma.” Pintaku padanya.

“Baiklah hyung..” jawabnya ragu.

“Janji??” aku memperjelas permintaanku.

“Janji hyung.. Mianata..” ucapnya sedih.

“Sudahlah.. Sudahlah..” kupeluk dia. Aku tak menyangka dia yang hampir menikah ini ternyata dia masih saja seperti anak kecil. Ya.. Walaupun sebentar lagi dia akan melepaskan masa lajangnya, tetap saja bagiku dia seperti anak kecil. Dia tetaplah adik kecilku yang sangat aku sayangi. Tubuh dan wajahnya yang dewasa tak bisa membuatnya tampak lebih dewasa dibanding aku.

“Jangan menangis .. Tidak malu pada calon anakmu? Uhh Appaku kok nangis sih,aku aja tidak pernah nangis” kataku sambil meniru suara anak kecil seolah-olah meniru suara calon anaknya.

“Hyung.. Suaramu jelek sekali..” ucapnya yang mulai tersenyum.

“hahahaha..” kami pun tertawa bersama. Seakan-akan tidak pernah ada masalah yang terjadi. Aku benar-benar sudah mengkubur dalam-dalam kenangan itu. Aku sudah sangat melupakan hal itu. Malam ini setelah sekian lamanya aku terlupa pada masalah itu, kini aku kembali mengingatnya. Walau masih terasa sakit di dada ini. Tapi perasaan ini jauh lebih ringan dibanding ketika saat itu.

Aku dan Changmin terus mengobrol semalaman. Kami membicarakan semua hal dari calon istrinya, calon anaknya, pekerjaannya, kedai makanku, dan lain sebagainya. Tak lagi-lagi kami mengungkit tentang masalah yang menyangkut appa kembali. Justru dia akan merasa lebih sedih di banding aku jika kami kembali mengungkitnya.

Beberapa saat kemudian..

“Hyung sepertinya hari sudah larut malam.” Ucapnya.

“Nae..” jawabku sambil melihat jam di dinding.

Jam sudah menunjukan pukul 1 malam. Tak terasa kami mengobrol sudah cukup lama. Memang aku rasa jika kami bertemu tak ada habisnya perasaan ingin mengobrol bersamanya. Ini bukan karena kita sudah lama tak bertemu satu sama lain. Dulu saat kami bertemu setiap haripun, kami selalu tak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Sepertinya semua hal bisa menjadi pembicaraan yang menyenangkan di antara kami. Apalagi jika ada Yoochun disini. Tiba-tiba aku teringat padanya. Benar aku juga sudah lama tak bertemu dengan sahabatku yang satu itu.

“Kau tidak ingin menginap saja? Ini sudah terlalu larut.” Tanyaku.

“Tidak hyung. Calon istriku menungguku di rumah.” Ucapnya dengan sedikit senyuman.

“Ohh.. Dia sudah tinggal di rumah saat ini?” tanyaku.

“Nae hyung. Sebetulnya dia tak ingin merepotkan. Tapi umma terus memaksanya agar tinggal bersama kami. Umma bilang perlu ada yang merawat orang hamil. Sedangkan keluarganya sangat jarang berada di rumah.” Jawabnya.

“Ohh.. Bagus kalau begitu. Jadi umma akan membantu menjaganya.” Ucapku.

“Hyung,aku pamit pulang dulu ya.” Ucap Changmin sambil bersiap pulang.

“Baiklah. .” jawabku.

“Jangan lupa sabtu minggu depan ya hyung.” Ucapnya dengan menatapku sedikit tajam, seakan takut aku tak akan datang makan malam.

“Tenanglah.. Aku pasti datang.” Jawabku mantap.

“Baiklah.. Kalau begitu aku pulang.” Ucapnya sambil kami berdua berjalan keluar kedai makanku.

“Sampaikan salamku pada umma dan appa ya..” ucapku.

“Nae.. Hyung, jaga kesehatan..” katanya sambil menaiki mobilnya.

“Tentu..  Jaga umma dan appa baik-baik. Jaga pula kandungan istrimu dan kesehatan calon keponakanku ya..” jawabku sambil tersenyum bahagia mengingat sebentar lagi aku akan mendapat seorang keponakan dan adik ipar.

“Iya hyung..” Ucapnya dari dalam mobil.

“Kau juga jangan suka pulang larut malam. Udara malam tak baik untukmu.” Ucapku lagi.

“Iya hyung.. Selamat malam.” jawabnya lagi.

“Malam..” sahutku.

Kulihat sekilas mobil Changmin. Mercedes yang terbaru. Bisa kulihat dari mobilnya yang tampak mahal, bahwa dia sudah berhasil saat ini. Aku tahu saat ini dia sudah bekerja sebagai pembawa berita di sebuah stasiun TV terkemuka di Seoul. Pernah beberapa kali ku melihatnya menyampaikan berita, walaupun aku tak begitu mengikuti setiap kemunculannya di TV, karena aku memang jarang memiliki waktu luang untuk melakukannya.

Mobil Changminpun sudah melesat jauh meninggalkan kedaiku. Ku tutup tempat makanku, kunaikan kursi-kursi ke atas meja. Kututup jendela dan pintu serta kukunci rapat-rapat. Ku bereskan alat-alat makan yang belum beres dan setelah semuanya beres, bergegas aku berjalan menuju kamar. Kudapati Jaejoong duduk terdiam melihat TV. Dia sama sekali tidak berkedip dan bergerak bagaikan patung yang ada di museum-museum. Apalagi dengan wajahnya yang manis yang membuatku sangat memuji kecantikannya sejak awal aku melihatnya,  membuatnya benar-benar tampak seperti patung yang sangat indah.

Kuamati terus wajahnya. Matanya yang tampak bercahaya, hidungnya yang indah, bibirnya yang merah. Mengapa ada manusia yang begitu indah sepertinya. Benar-benar suatu keindahan yang sempurna. Ini bukanlah suatu keindahan yang wajar, terlalu sempurna, hingga membuatku tak pernah berkedip sedikitpun jika sedang bersamanya.

Sejak pertama kali aku bertemu dengannya, aku sudah sangat mengagumi pemilik wajah ini. Aku berusaha untuk selalu tampak ramah dan hangat padanya. Akupun ingin selalu membantunya ketika kesusahan dan tak ingin merepotinya dengan pekerjaan berat. Aku tak ingin membuatnya lelah. Ingin rasanya aku agar dia bisa menerima kebaikanku dan tidak lagi bersikap dingin padaku.

Dia benar-benar dingin dan tertutup. Dia memiliki sisi gelap yang sama sekali tidak bisa aku lihat. Dia seperti menyembunyikan suatu hal yang sangat besar yang ada dalam dirinya. Tatapan matanya yang memberi-tahukanku bahwa dia istimewa, walaupun ada sisi gelap dirinya yang tak bisa aku lihat itu. Dia telah mengalihkan duniaku yang membosankan. Seakan dunia berputar di sekitarnya. Dialah yang membuatku bisa merasakan perasaan nyaman dan bahagia yang sempat tak pernah kurasakan beberapa tahun ini. Kim Jaejoong, kumohon bukalah hatimu.

[Jaejoong pov]

Kulihat dia memasuki kamar. Aku bisa tahu apa yang baru saja mereka bicarakan. Tapi kini aku tak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Aku benar-benar tak bisa membaca pikirannya.

Sekarang apa yang dia akan lakukan. Kulihat dia duduk di sampingku. Ikut menonton TV. Dia tidak bicara apa-apa. Dia hanya diam saja dan menatap kosong ke arah TV. Aku tahu dia tak memperhatikan apa yang sedang ditayangkan saat ini. Timbul sedikit perasaan khawatir di hatiku.

“Kau tidak apa-apa?” tanyaku basa-basi dengan nada datar-sedatarnya agar dia tak mengira aku benar-benar mengkhawatirkannya.

“Ha? Oh.. Aku baik-baik saja. Kau belum tidur?” tanyanya tak kalah basa-basi.

Jelas-jelas aku masih melihat TV. Kenapa dia tanya pertanyaan yang dia tahu sendiri jawabannya. Memuakan. Sedangkan jika aku bertanya pasti adalah hal yang benar-benar tidak aku ketahui jawabannya. Benar-benar manusia yang menyebalkan.

Tiba-tiba..

Kulihat dia bangkit dan membuka bajunya.

DEG!!

Terlihat otot-otot di tubuhnya tampak indah. Samar-samar aku mengintip. Otot perutnya yang sixpack. Otot lengannya yang besar. Lekak lekuk tubuhnya yang sangat tegas. Dengan sinar-sinar dari luar jendela membuat nya tampak setengah remang-remang, semakin terlihat mengagumkan. Apalagi bau tubuhnya yang khas. Bau yang sangat maskulin. BERHENTI!!! Apa yang aku pikirkan.

Diletakannya pakaian yang tadi dia kenakan di sebuah kerangjang, Diambilnya sebuah pakaian dari lemari. Dia pun mengenakannya, kaos tanpa lengan. Ini lebih baik. Walau melihat lengannya masih saja membuatku gelisah. Otot lengannya mengapa begitu tampak sangat nyaman bila disentuh dan didekap. Kim Jaejoong hentikan pikiranmu!!! SEKARANG!!

Masih saja dengan mata tertuju pada TV dia bertanya.

“Kau sendiri tidak apa-apa? Wajahmu sangat pucat..” tanyanya.

Aku malas menjawab pertanyaannya. Sejujurnya aku malas mengulangi jawaban yang sudah aku jawab tadi.

Dia tiba-tiba memegang dahiku dan memegang pipiku.

“Kau tidak demam kan?” dia bertanya dengan melihat ke arah ku.

Kenapa dia suka sekali menyentuhku seperti itu. Benar-benar membuatku canggung.

“Andwe..” jawabku ketus sambil menepis tangannya dengan keras.

Aku benar-benar malu. Entah malu pada siapa. Mungkin malu pada diriku sendiri. Setiap kali dia mengkhawatirkanku dan memperlakukan aku seperti wanita,aku pasti sangat malu sendiri.

“Tubuhmu dingin sekali. Kau baik-baik saja?” tanyanya dengan wajah khawatirnya yang tak pernah ku suka.

“Andwe!! Aku baik-baik saja..” kuulangi jawabanku ketika tadi saat bersama Changmin.

Dingin katanya?? Benar.. Aku seorang vampir sekarang. Hampir saja aku lupa bahwa aku sudah mati dan kini menjadi vampir. Aku lupa bahwa aku perlu untuk bertahan hidup. Beberapa hari lagi aku akan mati karena keracunan darahku sendiri, entah kapan tepatnya, aku tak ingat dan tak berusaha mengingat nya. Yang pasti aku sudah lama tak menghisap darah. Maka dari itu dia terus menerus mengatakan wajahku tampak pucat dan tubuhku dingin.

Tapi… Aku tak mau menghisap darah manusia lagi. Tiba-tiba wajah yeoja mangsa pertamaku muncul di benakku. Sakit sekali rasanya hati ini mengingat ekspresinya saat aku sudah menghisap darahnya. Aku membunuh orang yang tidak bersalah. Aku menyesal. Sampai saat ini aku masih menyesal.

Entah kapan aku akan butuh meminum darah lagi. Aku tak akan minum darah. Aku tak mau melakukan perbuatan menjijikan itu.

Tunggu.. Bau apa ini? D..da..darah..

“Kau berdarah Jung Yunho??” tanyaku sambil menarik tangannya untuk melihatnya.

Haaa…. benar dia berdarah.. Tuhan… Darah… Darah yang sangat aku inginkan. Darah yang sudah lama tidak aku minum. Darah yang membuatku seperti menghirup narkoba no.1. Darah..Aku butuh darah..

Aku…

Tapi aku tak boleh menggigit nya dan menghisap darahnya. Aku sudah berjanji tidak akan menghisap darah manusia kembali. Aku sudah berjanji tidak akan melakukan hal yang menjijikan dan menakutkan seperti itu.

Aku tak mampu bertahan berlama-lama disini. Bisa-bisa aku menyerang Yunho yang selalu baik padaku itu.

Tidak.. Aku harus pergi..Pergi.. Entah kemana.

Aku pun bangkit dari tempat tidur dan berhamburan keluar.

“Jaejoong.. Jaejoong.. Kau mau kemana malam-malam seperti ini.” Tanyanya sambil menggegam tanganku.

Ku lepaskan tangannya tapi dia memegangku erat. Aku harus pergi..harus pergi.. Entah seakan-akan ada kekuatan dari dalam yang begitu kuat, sehingga dengan sekali hentakan,  tanganku berhasil lepas darinya dan dia terdorong kebelakang dengan kuatnya. Mungkin inilah yang disebut dengan kekuatan vampir. Aku sedikit merasa menyesal telah mendorong Yunho seperti itu. Aku ingin menolongnya tapi…

Tangannya..

Darahnya mengalir di sepanjang jarinya yang indah itu. Sepertinya saat aku menepis tangannya tadi, tak sengaja membuatnya terluka.

Akupun segera berlari keluar rumah. Aku berjalan tak tentu arah. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku ingin darah.. Aku butuh darah.. Tapi tak mungkin aku menggigit manusia lagi.

Tak sadar aku sudah berjalan jauh dengan kecepatan berjalanku sebagai seorang vampir. Aku sekarang berada di tepi sebuah batu karang raksasa di tepi pantai. Entah mengapa tempat ini yang aku tuju. Yang terlintas di pikiranku pertama adalah tempat yang sepi di malam hari.. Sehingga aku tak mungkin menggigit manusia secara tiba-tiba.

Kemudian terbayang kembali wajah yeoja yang menjadi korban pertamaku. Yeoja itu menangis. Yeoja itu ketakutan. Yeoja itu merintih dan memohon padaku agar aku tak menggigitnya. Tapi aku terus menghisap darahnya hingga detak jantungnya melemah. Dan akhirnya yeoja itu berakhir pada pisau Yesung-ssi.

Ahh.. aku pun tiba-tiba teringat dengan Choi Siwon yang telah mengubahku seperti ini. Aku sangat membencinya.. Sangat..

“Hyaaaaaa… Choi Siwon.. Dasar Brengsek kau.. Kau telah merusak hidupku.. Lebih baik aku mati.. Mati..” teriakku sendirian di pinggir karang.

Karang ini cukup tinggi mungkin sekitar 10 meter. Atau aku menjatuhkan diriku saja. Aku pasti bisa mati bila jatuh dari sini. Ya.. Lebih baik aku mati dari pada menjadi makhluk menjijikan ini.

Saat aku hendak meloncat dari tepi karang, sebuah tangan menarikku.

Aku tak melihat wajah orang yang menarik tanganku ini. Karena kondisi di tepi pantai saat itu sangat gelap dan tak ada pencahayaan sama sekali.

Siapa dia? Mengapa dia mencegahku bunuh diri? Kenapa dia mencegahku meloncat? Aku berusaha melepaskan tangannya. Tapi dia memegangku erat.

“Lepaskan aku.. Lepaskan.. Lebih baik aku mati dari pada menanggung kutukan seperti ini.. Biarkan aku mati.”

Tiba-tiba dia memelukku. Orang pertama yang terbayang di benakku saat itu entah mengapa adalah Yunho. Pelukannya sangat hangat dan nyaman. Tapi kemudian..

“Dasar Bodoh..” ucap orang itu.

Ha? Sepertinya aku kenal suara ini. Ini bukan suara Jung Yunho.

“Kau bodoh jika berpikir kau akan mati jika meloncat dari karang ini. Kau tak ingat bahwa vampir tak akan bisa mati karena penyakit dan luka? Jadi jika kau tetap berusaha meloncat ke sana. Kau hanya akan merasakan luka yang sangat sakit beberapa saat dan kemudian luka itu akan sembuh dengan sendirian. Kau tidak mati tapi justru harus merasakan sakitnya jatuh dari 10 m. Bodoh..” ucap orang itu.

Aku benar-benar mengenal suaranya.

“Cc..c..Choi Siwon??” tanya ku terbata-bata.

“Iya..”

Kutarik kepalaku dan ku dongakan untuk melihat wajah orang yang memelukku.

Samar-samar mulai terlihat. Ya benar.. Dia Choi Siwon.

“Brengsek!!! Kau telah mengubahku seperti ini.. Kau brengsek…” hujatku padanya sambil berusaha memukulnya.

Tapi dia jauh lebih kuat dariku. Dipegangnya kedua tanganku dan dikuncinya di dadanya.

“Kenapa?? Kenapa tak kau biarkan aku mati saja ketika malam kecelakaan itu? Itu jauh lebih baik dari pada aku seperti ini.” Kataku sambil tak sengaja menitikan air mata.

Dia hanya diam dan melihatku dengan tajam. Kemudian dia kembali memelukku erat.

Aku berusaha lepas darinya. Tapi lagi-lagi aku tak ada daya untuk lepas darinya. Hingga akhirnya aku merasakan pusing yang amat sangat. Tubuhku tiba-tiba terasa sangat berat dan lemah. Aku tak sanggup lagi berdiri dan tubuhkupun nyaris terjatuh dan beruntung saat itu ditopang oleh Siwon.

“Kim Jaejoong.. Kim Jaejoong..” ku dengar suara Siwon memanggil-manggil namaku.

“Ini sudah hari keberapa dia tidak meminum darah?” tanyanya pada seseorang yang tak sempat kulihat.

Benar ternyata tak jauh dari kami, telah berdiri Yesung-ssi, asisten, pengawalnya atau entah apa namanya.

“hari ke-7 Yang Mulia..” jawab Yesung.

“BODOH!!!! Kenapa tak kau ingatkan dia untuk meminum darah? Jika terlambat sebentar saja akan berbahaya untuknya!!!” Bentak Siwon pada Yesung.

“Mianhae shimnida Yang Mulia. Ampuni saya. Saya lalai. Ampuni saya.” Ucap Yesung.

“Sudah jangan banyak bicara!!! Cepat siapkan darah untuknya!!!”

Walaupun aku sudah setengah tidak sadarkan diri, tapi dengan jelas dapat aku dengar Siwon berteriak pada asistennya itu. Kemudian semua tampak buram dan lambat lauN semua tampak gelap-gelap dan gelap.. Akupun benar-benar tak sadarkan diri lagi..

Saat aku tak sadarkan diri itu, kulihat wajah Yunho dalam mimpiku. Dia tersenyum sangat ramah padaku. Seperti senyumannya yang setiap hari dia berikan padaku. Tapi bedanya aku merasa senang ketika dia tersenyum padaku seperti itu. Tak seperti biasanya yang merasa canggung dan terganggu. Aku merasakan sebuah kenyamanan di hati ini. Ingin rasanya aku menyentuhnya. Tapi tiba-tiba semua menjadi tampak gelap. Di dalam mimpi aku merasakan bumi bergerak dan terciptalah jurang yang sangat dalam antara kami berdua. Tampak sinar mentari menyinarinya dengan sangat terang sehingga wajahnya tampak begitu indah. Sedangkan tak sedikitpun sinar yang menyinariku, hingga aku tampak begitu suram. Apakah maksud mimpi ini? Mengapa aku sedih ketika harus terpisahkan jurang seperti ini dengan Yunho. Aku berusaha mendekatinya, tapi jsutru akhirnya aku terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam itu. Aku berusaha berpegang pada apapun tapi terlanjur, aku sudah jatuh..

Ahhhhhh…

Akupun tersadar dari mimpiku yang menakutkan bagiku, kulihat Siwon berada di sampingku dan matanya terpejam.

“Siwon-ssi..” panggilku padanya.

Matanya terbuka perlahan.

“Kau sudah baikan?” tanyanya padaku.

“Aku sudah lebih baik. Apa yang terjadi padaku tadi?” Tanyaku.

“Kau tidak ingatkah pada apa yang aku bilang dulu??” ucapnya sambil mengelus rambutku.

“Jangan..” jawabku sambil menepis tangannya. Aku tak suka dengan perlakuannya.

“Mian.. Aku hanya khawatir padamu. ” katanya.

“Apa yang telah terjadi padaku? Apa memangnya yang kau katakan dulu?” tanyaku sambil memegang kepalaku yang masih terasa sakit.

“Dasar pelupa..” jawabnya sambil mencolek hidungku.

Aku menepis lagi tangannya. Sebenarnya mengapa dia suka sekali menyentuh ku seperti itu.

“Jika kau tak meninum darah manusia sampai 7 hari, kau bisa mati karena teracuni darahmu sendiri. Kim Jaejoong.. Kenapa kau tak mau meminum darah? Kenapa? Jika kau memang belum siap menggigit manusia, kau bisa datang padaku untuk menyiapkan darah yang siap kau minum tanpa harus menggigit manusia terlebih dahulu.” Ucapnya sambil melihatku dengan tatapan sedih.

“Tidak.. Aku tidak mau.” Jawabku ketus sambil berusaha bangkit.

“Sekarang habiskan darah ini. Aku tadi sempat meminumkan mu darah. Tapi ternyata kau sudah sadar dahulu. Sekarang habiskan sisanya. Kalau tidak sama saja kebutuhan darah mu masih jauh dari cukup.” Katanya sambil menyodorkan segelas besar darah.

“Andwe..” jawabku.

“Minum..” ucapnya dengan tatapan tajam.

Tapi tiba-tiba dia memegang kepala ku dengan keras dan menjejalkan gelas itu dimulutku. Aku berusaha meronta. Tapi dia benar-benar kuat. Aku tak mampu melepaskan diri. Dia meminumkan darah itu padaku hingga aku segelas darah itu hampir habis. Begitu ada sedikit celah aku langsung melepaskan diriku dari tangannya.

“Hentikan!!!” aku pun menepis gelas itu hingga terjatuh ke lantai. Darah berceceran di lantai. Aku tak peduli. Aku pun segera bangkit dari tempat tidurku dan meninggalkan rumahnya. Aku tak mau berlama-lama disini. Aku tak mau darah.. Aku tak butuh darah.. Sudah berkali-kali kukatakan, aku lebih baik mati dari pada harus meminum darah..

Akupun langsung kembali ke rumah Yunho. Aku masuk ke dalam. Sesampainya dikamar aku melihat Yunho sudah tertidur lelap. Baguslah. Untung dia sudah tertidur. Jadi dia tidak melihat pakaianku yang banyak bercak darah di sana-sini. Setelah mandi dan membersihkan pakaianku, aku pun pergi tidur di sampingnya. Oya.. Bagaimana dengan tangannya? Kulihat tangannya sudah dalam keadaan terperban. “Mianhe Yunho.. Mianhe..”

[Yunho pov]

Aku belum bisa tidur. Bukan karena rasa sakit pada tanganku yang terluka saat menatap pinggir meja. Tapi karena aku khawatir dengan Jaejoong. Dimana dia? Kenapa dia tiba-tiba pergi seperti tadi saat melihat darah dari lukaku? Bukankah seharusnya dia menyesal dan mengobatiku? Bukannya pergi seperti itu.. Apa dia takut darah? Tapi mengapa reaksinya berlebihan sampai seperti itu?

Aku ingin menghubunginya tapi aku baru sadar kalau ternyata dia tidak membawa HP. Yasudahlah aku tunggu saja dia. Aku menunggu di atas tempat tidur sambil terus mengamati jam yang ada di dinding kamarku.

Menit berganti menit, jam berganti jam…

Beberapa jam kemudian…

Jam sudah menunjukan pukul 1 malam. Dia belum juga pulang. Jaejoong.. Ada apa denganmu? Kemana kau pergi? Tiba-tiba ku dengar ada suara langkah kaki dari tangga menuju kamar. Aku yakin ini pasti Jaejoong.

Ku pejamkan mataku dan berpura-pura sudah tertidur. Di saat aku berpura-pura tidur aku mencoba mengintip-intip melihat benarkah dia Jaejoong atau bukan. Samar-samar terlihat sosoknya yang sangat aku hafal.

Ya benar dia Jaejoong.

Tapi… Mwo? Kenapa dengannya kenapa ada bercak darah di pakaian dan wajahnya. Apakah dia terluka? Apakah dia habis kecelakaan atau habis berkelahi. Tapi kulihat dia melepas pakaiannya dan mengelap wajahnya dengan menggunakan pakaiannya itu. Kulihat dia sama sekali tidak terluka. Lalu dari mana asal darah itu? Jangan.. Jangan.. Aku tak berani bertanya padanya. Aku masih tetap pura-pura sudah tertidur, terpejam, terdiam dan tak bergerak sedikitpun.

Beberapa saat kemudian Jaejoong kembali ke kamar dalam keadaan sudah bersih. Dia duduk di sampingku. Dia terdiam sejenak, melihatiku dan menyentuh tanganku yang terluka.

“Mianhe Yunho.. Mianhe..”

Ingin sekali rasanya aku bangun dan mengatakan tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.

Kemudian tak ada lagi suara darinya. Sepertinya dia sudah tertidur. Akhirnya bisa kubuka benar-benar mataku ini. Kuamati wajahnya di saat dia telah tertidur itu. Bisa kulihat wajahnya tak sepucat tadi. Jauh lebih merah dari biasanya. Dia tampak lebih manis jika seperti ini. Bisa kulihat pipinya yang merona semakin mempertegas kecantikannya. Berpikir apa aku ini. Dia adalah seorang pria. Tapi sungguh dia pria yang cantik. Tak pernah sekalipun aku bertemu dengan manusia secantik dia, bahkan wanita sekalipun. Aku terus menatap wajahnya lekat, mengamatinya, mengaguminya, memujinya, dan tak berapa lama akupun juga tertidur.

======

TBC

Wahhhhhhh…. Changmin mau nikah…. Yang pada suka bang Min silakan kecewa.. Tapi siapa ya yang mau nikah sama bang Min?? Siapaaa yaaaa??? Liat aja di chapter2 berikutnya, siapakah yeoja yang beruntung yang mendapatkan bang Min.

Ihiyyyyy…

Jaejoong mulai merasa aneh nih dengan perasaannyaaa.. Prikitiewwww…

Mulai dari chapter ini sampai abis akan ada BANYAKKKKK Yunjae moment..

Yakin dehh ini yang ditunggu2 sama reader sekalian..

Truss bagaimana ni kelanjutan hubungan mereka ya??

Tunggu aja di chapter berikutnya..

See You..

Salam Yunjae!!

16 thoughts on “Bloody Love Chapter 22 – My little brother was growing up | @beth91191

  1. yunjae yunjae……g sbar nunggu momentnya….calon istri changmin jgn2 cew yunho dlu yaah??!!?…kyaknya siwon nyukai jae….lnjut

  2. akh q pkir bkal namja jg clon istri changmin,rp ny yeoja toh hehe
    pas mkn mlam yunho bw jae dng,n jae ny pkeq bju cwe ke ke
    wah appa dah sk ma umma niye

  3. *banting lepi* thary!!!!!!!!!!!!! apa apaan kau…. knp changmin merid??? T.T trus aq sama sapa T.T

    *sroooottt*

    jgn bilang kalo min kawin ma mantannya yunh??? omo~~~

  4. yeonhee? bukannya itu cinta pertamanya Yunho ya???
    semoga ga jadi masalah di kemudian hari…
    korain changmin bakalan sama kyuhyun, hahahaha

  5. Sbar nungguin yunjae moment..
    .
    .
    .
    PrasaanQ tntg clon istri minnie ko’ g enk ea..Aish..Pa dy dlu cweny yundad??
    Jka tu bnar brarti dunia ni mmang sempit..
    Sbar yundad n trima knytaan dgn hati yg tbah..Uc..

  6. Eyaaaa ternyata yunpa suka sama jaejoong pantesss ajah baik beneeeeerrr
    Wkwkwk
    Jaejoong ydah mulai ada rasa sama yunpa nih..
    Eh tapi gawat jaejoong ga mau minum darah.. Lha gimana dong ntar jaejoong mati

  7. Aq c mkirny cwe yg dnikahin changmin tuh mntanny yunho.
    hehehe

    ayo prbnyak yunjae moment.a thor.

  8. kyaa .. !!!
    changmin mau nikah .. wach ternyata changmin jga bsa memproduksi ank yach …
    aigoo uri magnae …
    lol lmao …
    jaeppa sosweet beudth g mau ngisep darah yunppa … kyaa !!!!
    yunjae couple !!!!!!
    xD
    lol lmao
    xD

  9. aaahhh untung jaema beloomm matii… huwaaa knapa hrus minum darah si… tkutt ntar klo yunho yg digigit >_<
    eeett dah changmin mo nikah ma sapaa?? jgan bilang ma yunhee mantan yunho eerrr

  10. Kalau ternyata calon bini’a Minnie exs’a appa gpp asal jangan ntu cewe masih ά̲ϑª rasa aja ªⓜª yunpa…yunpa juga ųϑªђ harus relain..kan sekarang ųϑªђ ά̲ϑª jaema…yunpa ųϑªђ di takdirkan sam̶̲̅α̇ jaema…makanya ά̲ϑª epep yunjae #opoikigaruk”pala#

    Wonwon jangan naksir sam̶̲̅α̇ jae…jae ųϑªђ ά̲ϑª ýanƍ punya…jae punya AppaQ

    Kenapa jae Ъ>:/ jadiin Yunh vampir juga?? Kan jadi’a mereka ber 2 abadi….

  11. Wah,imin mau nikah. Chukae
    Apa appa siap brtemu kluarga angkatnya

    Untung umma di slamatkan siwon
    Jngan blang klau siwon suka umma

    Andweeee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s