Bloody Love Chapter 23 – Melt | @beth91191


Anyeonggggggggg……….

Kalau kita liat judul chapter ini adalah M-E-L-T

Apa ya yang melt???

Hahahaha..

Bahagia aku ngepost chap ini..

Yunjae memang membuatku bahagia…

Langsung baca aja yaa,, Trus jangan lupa RCL RCL RCL..

Love Yunjae❤

 

Title        : Bloody Love

Author   : Beth

Chapter : 23 – Melt

Genre    : Romance, Action, Yaoi

Rate       : 21+

CHAPTER XXIII – Melt

 

===Keesokan paginya===

 

[Jaejoong pov]

 

Pagi itu aku tengah mengelap dan merapikan meja-meja. Sedangkan Yunho tengah menyiapkan bahan-bahan makanan, mencuci sayuran, menotong-motong daging, memanaskan air dan lain sebagainya. Suasana tampak hening kala itu. Sebenarnya perasaanku hari itu sedang sangat baik dan bersemangat. Ya, seperti kita tahu, semalam aku telah meminum darah lagi. Kuakui tubuhku jauh terasa lebih segar ketika kebutuhan akan darahku terpenuhi. Sekilas aku teringat kejadian semalam. Begitu aku melihat darah dari tangan Yunho, aku bertindak sedikit kasar padanya dan langsung berhamburan keluar tanpa berkata sepatah katapun. Walau aku tak bisa membaca pikirannya, tapi aku yakin, saat ini telah banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan padaku.

 

“Kau baik-baik saja?” tanyanya.

 

“Hemm..” jawabku.

 

“Semalam ada denganmu? Kenapa kau pergi ketika melihat lukaku?” tanyanya sambil terus memotong-motong.

 

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya benci melihat darah.” Jawabku sambil terus berkonsentrasi pada apa yang sedang aku kerjakan.

 

“Benci?? Mengapa kau benci? Bukannya kau juga memiliki darah yang mengalir dalam tubuhmu.” Tanyanya bingung.

 

“Untuk apa aku perlu mengatakan padamu apa alasannya?” tanyaku balik sambil tak menatap wajahnya.

 

“Aku hanya ingin tahu. Apa kau takut melihat darah?” tanyanya terus menginterogasiku.

 

“Sudah ku katakan aku membenci darah, bukan takut.” Jawabku datar.

 

“Memang apa alasanya? Pasti ada suatu alasan yang ada di balik kebencianmu itu.” paksanya padaku untuk mengatakan hal yang tak ingin kukatakan.

 

Kenapa dia terus saja memaksaku seperti ini. Kuhentikan apa yang kulakukan dan kutatap matanya tajam. Mata kami beradu dan bisa kulihat sebuah keingintahuan yang besar dalam dirinya.

 

“Kalau kau tahu memangnya kau mau apa?” tanyaku.

 

“Entahlah…. Aku hanya ingin tahu saja.” Jawabnya sambil menunduk dan melakukan pekerjaannya.

 

Ada apa dengannya ini? Tak bisakah dia berhenti memikirkan hal-hal yang tak perlu dia pikirkan dan cukup memikirkan dirinya sendiri. Kuletakan kain lap yang sedang kupegang dan kudekati dia dengan sangat cepat. Dia melihat ke arahku ketika aku sudah berada tepat di depannya. Tampak dia sedikit terkejut ketika melihatku tengah di dekatnya dan menatapnya tajam. Kupandangi lekat kedua matanya berusaha mencari jawaban atas pertanyaanku sebelum akhirnya kutanyakan langsung padanya.

 

“Mengapa kau ingin tahu?” tanyaku sambil tak mengurangi sedikitpun tatapanku.

 

Dia tampak sedikit berpikir dan kemudian menjawab,”Karena aku peduli padamu.” Jawabnya sedikit pelan.

 

Peduli katanya? Tak salah dengarkah aku? Peduli? Sedikit kucondongkan tubuh ini hingga kepalaku berada tak jauh darinya. Terus kuamati kedua matanya untuk mencari jawaban dari cara dia melihatku. Tampaknya dia sedikit tak nyaman dengan apa yang aku lakukan. Tapi tak sedikitpun dia berusaha mundur dariku. Tubuhnya mematung dan terdiam. Untuk apa dia harus peduli padaku yang tak begitu di kenalnya? Aku bukan siapa-siapa nya? Aku rasa tak seharusnya dia peduli padaku. Karena akupun tak membutuhkan kepeduliannya.

 

“Berhentilah peduli padaku..” ucapku sambil kembali menegakan tubuhku dan memunggunginya.

 

Sejenak timbul keheningan diantara kami.

 

“Tak bisa. Selamanya aku tak bisa berhenti peduli padamu.” Jawabnya yang membuatku sangat marah.

 

Kubalikan badan ini kembali secepat kilat dan “Aku tak butuh pedulimu !!!” bentakku padanya sambil kemudian aku berjalan hendak pergi sesaat meninggalkan kedai itu. Aku benar-benar emosi di buatnya. Aku ingin menenangkan diriku dahulu. Aku tak ingin berada disini saat ini. Kulangkahkan kakiku menuju pintu keluar.

 

Dia tak menyangka aku akan berteriak seperti itu. Dia tampak sangat terkejut. Tangannya bergetar dan tak sengaja pisau yang tengah di bawanya terjatuh ke lantai dan tepat mengenai kakinya. Terbentuklah sebuah luka  yang cukup dalam pada kakinya.

 

Langkahku terhenti ketika kucium bau darah segar menyeruak di seluruh ruangan.

 

Berdarah lagikah dia? Apakah gara-gara aku lagi kali ini? Aisshhh…

 

Akupun mengurungkan niatku. Kuhampiri kembali Yunho yang tengah meringis di lantai karena luka di kakinya tampak cukup parah. Dia melihatku sesaat dengan tatapan penuh tanya. Dia sepertinya merasa takut, aku akan bereaksi seperti kemarin. Kuangkat tubuhnya agar berdiri. Kupapah dia hingga terduduk di salah satu kursi yang berada di dekat kami. Tanpa berbicara apa-apa, kuambil air hangat, kain bersih dan obat-obatan.

 

Kubersihkan lukanya dengan air hangat. Dia sedikit menolak.

 

“Tidak usah. Biar aku saja.” Ucapnya sambil berusaha merebut kain dari tanganku.

 

“Tidak aku yang akan melakukannya.” jawabku sambil berjongkok di depannya dan membersihkan lukannya.

 

“Tidak usah.. Aku saja Kim Jaejoong.” Paksanya.

 

Benar juga katanya. Aku memang benci darah. Tapi saat ini aku jauh lebih bisa mengontrol diriku agar tidak terlalu gelisah ketika melihat darah manusia. Sehingga aku bisa meredam keinginanku untuk menghisap darah ini. Mungkin hal ini karena aku baru saja mengkonsumsi darah semalam. Kebutuhan dan keinginanku pada darah sudah cukup.

 

“Aku harus bertanggungjawab. Kau diam saja.” Ucapku.

 

Tampak dia mulai membiarkanku membersihkan dan mengobati lukannya. Kemudian kuoleskan alkohol pada luka itu agar tidak terjadi infeksi. Aku tahu pisau yang mengenai nya itu sangat tidak steril. Sudah digunakan untuk memotong berbagai hal hari ini. Ditengah-tengah aku mengoleskan obat merah pada lukanya itu dia bertanya sesuatu hal.

 

“Bukannya kau benci pada darah? Mengapa saat ini kau justru membersihkan dan mengobati kakiku yang berdarah ini?” tanyanya yang membuatku sejenak menghentikan aktifitasku.

 

Aku tak berniat menjawab pertanyaannya. Aku rasa tak perlu ada yang aku katakan padanya untuk urusan itu.

 

“Mian.” Ucapku pelan sepelannya berharap dia tak mendengarnya.

 

“Apa yang kau katakan?” tanyanya.

 

Kutatap wajahnya. Wajah seorang namja yang selalu saja peduli dan perhatian padaku sejak pertama kali kita bertemu. Wajah seseorang yang selalu ingin berbuat baik padaku tapi sering aku artikan berbeda. Dialah yang telah banyak membantuku selama ini tapi justru aku terus menerus merepotkannya, bersikap dingin padanya, berpikir yang tidak-tidak padanya, membahayakan dirinya karena harus tinggal bersama seorang vampir sepertiku yang bisa kapan saja kalap dan menyerangnya. Jahatnya aku.

 

“Mian. Mian karena merepotkanmu, mian karena membuatmu khawatir, mian karena membuatmu terluka, mian untuk semuanya.” ucapku mempertegas kata-kataku sebelumnya.

 

Terlihat sebuah senyuman terkembang dibibirnya. Dia tampak senang melihat kedinginanku mulai mencair.

 

“Gomawoeyo..” ucapnya padaku.

 

Tak kubalas ucapan terima kasihnya, kembali kulanjutkan apa yang kulakukan tadi yaitu mengobati lukanya. Kuoleskan obat merah dengan sangat hati-hati tak ingin membuatnya kesakitan. Kuperban lukanya dengan perlahan dan selesailah aku mempertanggung jawabkan atas luka pada kakinya karena kesalahanku. Kulanjutkan kembali tugasku mengelap meja dan hilang sudah keinginanku untuk pergi seperti yang tadi ingin aku lakukan.

 

[Yunho pov]

 

“Aku tak butuh pedulimu!!!” ucapnya dengan nada sangat tinggi. Aku benar-benar terkejut hingga tanpa sadar pisau yang tengah aku pegang terjatuh ke lantai.

 

Ahhhhh….  Sakit…

 

Betapa sialnya aku ternyata pisau itu justru mengenai kakiku. Kulihat sebuah luka terukir indah di kakiku ditunjukan dengan darah yang mengalir dari permukaannya. Jaejoong sepertinya tampak sangat marah padaku. Padahal aku hanya bermaksud baik padanya. Aku begitu peduli padanya. Aku begitu ingin tahu tentang dirinya yang misterius itu. Mungkin jika aku tahu alasannya, aku bisa membantunya agar tidak bereaksi seperti itu lagi ketika melihat darah, atau setidaknya aku bisa mencegahnya untuk melihat darah lagi.

 

Tapi sepertinya aku gagal untuk melakukannya. Justru saat ini kakiku sedang berdarah cukup banyak. Luka dari goresan pisau itu tampaknya cukup dalam. Aku yakin dia tidak suka jika menyadarinya. Kucoba menghentikan pendarahan yang terjadi di kakiku. Tiba-tiba Jaejoong sudah berada di dekatku. Apa yang akan dia lakukan melihat darah kali ini. Aku tak mau dia marah. Cepat-cepat kuberusaha menutup lukaku itu. Ternyata aku salah, dia sama sekali tidak bereaksi seperti kemarin, dia justru membantuku untuk berdiri, kemudian dipapahnya aku agar duduk di kursi. Tanpa berbicara kulihat dia mengambil air hangat, kain bersih dan obat-obatan. Dengan cekatan di basahinya kain bersih itu dengan air hangat. Dibersihkannya luka ku dengan sangat hati-hati.

 

“Tidak usah. Biar aku saja.” Ucapku sambil berusaha merebut kain dari tangannya.

 

“Tidak aku yang akan melakukannya.” jawabnya sambil berjongkok di depanku dan membersihkan lukaku.

 

Aku benar-benar merasa tidak enak dengannya. Aku terus berusaha menjauhkan kakiku dari jangkauannya dan merebut kain itu.

 

“Tidak usah.. Aku saja Kim Jaejoong.” Paksaku.

 

“Aku harus bertanggungjawab. Kau diam saja.” Ucapku.

 

Tapi dia tetap saja menarik kakiku agar mendekat dan mengelapnya dengan hati-hati hingga darahnya bersih. Aku terus bertanya-tanya saat ini. Mengapa kemarin dia bereaksi seperti itu ketika melihat darah dan mengapa saat ini tidak? Kulihat dia mengoleskan alkohol pada lukaku mungkin agar tidak terjadi infeksi.

 

“Bukannya kau benci pada darah? Mengapa saat ini kau justru membersihkan dan mengobati kakiku yang berdarah ini?” tanyaku yang sudah sangat penasaran.

 

Dia sejenak berhenti. Tampak dia tak menyangka akan pertanyaanku. Dia sepertinya tengah berpikir dan kemudian.

 

“Mian.” Ucapnya dengan sangat pelan hingga aku nyaris tidak mendengarnya.

 

“Apa yang kau katakan?” tanyaku berusaha meyakinkan pendengaranku.

 

Dia menatap wajahku dalam-dalam seakan dia mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu dan seakan berusaha meyakinkan dirinya untuk mengatakannya.

 

“Mian. Mian karena merepotkanmu, mian karena membuatmu khawatir, mian karena membuatmu terluka, mian untuk semuanya.” ucapnya.

 

Apa?? Dia minta maaf? Apa aku tidak salah dengar. Dia mengucapkannya dengan sangat tulus. Sesaat kumenyadari ada suatu kehangatan dan ketulusan dari kata-katanya. Sungguh selama in tak pernah sekalipun dia menunjukan sisi itu dari dirinya. Dia selalu tampak dingin dan acuh atas semua yang aku lakukan padanya. Walau hanya beberapa saat kumelihatnya seperti itu, aku sudah amat senang.

 

“Gomawoeyo..” ucapku padanya.

 

Tanpa sadar aku tersenyum bahagia di balik rasa sakit yang tengah aku rasakan ketika dia mengobatiku. Dioleskannya obat merah dan diperbannya kakiku dengan sangat hati-hati. Setelah selesai, dia kembali melanjutkan membersihkan meja yang tadi sempat terhenti karena perdebatan sesaat yang terjadi di antara kita. Dan tampak dia kembali bersikap dingin padaku. Tapi aku yakin sedikit demi sedikit aku akan mampu menghancurkan es yang ada dalam hatinya. Aku yakin akan membuatnya tak lagi bersikap dingin padaku. Aku yakin..

 

-oOo-

 

Bisa kukatakan sejak kejadian hari itu, hubunganku dengannya kian membaik. Walaupun memang kuakui dia masih bersikap dingin padaku. Dia sering sekali bertanya padaku bagaimana kondisi lukaku. Apakah sudah sembuh atau belum. Dialah yang selalu mengingatkanku untuk mengganti perban dan mengobati luka ini. Bahkan suatu malam ketika aku tengah bersiap menutuup tempat makan, tiba-tiba dia menarikku agar duduk di sebuah kursi.

 

“Ada apa?” tanyaku bingung.

 

“Kugantikan perbanmu.” ucapnya datar.

 

Dia memang masih seperti itu jika berkata denganku, tapi dibalik semua sikap dinginnya, dia mulai perhatian dan peduli. Kali ini aku tak menolak pertolongan yang diberikannya. Kuamati dia yang tengah melepas perban di kakiku. Di bersihkannya luka itu dengan air hangat dan dioleskannya obat. Tampak dia sangat hati-hati melakukannya. Tapi pandanganku tak tertuju pada lukaku, melainkan aku lebih tertarik untuk menatap seseorang yang dengan suka rela menyentuh kakiku, membersihkannya dan mengobati luka tanpa aku minta itu. Wajah yang sangat tidak ekspresif ini benar-benar membuatku merasa senang jika menatapnya. Seakan-akan ada magnet yang dapat menarik hatiku untuk terus menatap wajahnya. Wajahnya memang manis, jadi jangan salahkan aku jika aku ingin berlama-lama menatapnya. Dia melakukan itu tanpa berkata apa-apa. Setelah di perban kembali lukaku dengan sangat rapi diapun bangkit hendak melangkah pergi.

 

Kupegang tangannya. Langkahnya terhenti tapi dia tak menatap wajahku.

 

“Gomawo Jae..” ucapku tulus.

 

Dia hanya menganggukan kepalanya dan melangkah pergi meninggalkan aku yang masih merasa amat senang saat ini.

 

“Kau tak perlu melakukannya jika hanya sebagai bentuk rasa bersalahmu padaku.” Ucapku hati-hati takut menyinggung perasaannya.

 

“Tidak, aku tulus.” Dia mengangkat kepalanya untuk melihatku dan sebuah senyuman terukir di bibirnya.

 

DEG!!!

 

Senyumannya benar-benar manis Tuhan.. Apa maksud dari senyuman itu. Lagi-lagi dia berhasil mengejutkanku dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah. Dia benar-benar sangat misterius. Sungguh aku tak pernah membayangkan akan ada sebuah senyuman yang dia berikan padaku. Sebuah senyuman yang tak pernah terlintas di benakku. Sesaat aku terdiam dengan masih memegangi tangannya. Hingga..

 

“Kau istirahat saja. Aku akan menyelesaikan menutup tempat makannya.” Ucapnya dengan intonasi yang tak pernah dia lakukan.

 

Kulepaskan tangannya.

 

“Oh.. ti..tidak usah.. Aku tidak apa-apa. Kau saja yang istirahat. Kau bekerja keras hari ini.” Sedikit terbata-bata karena masih tak percaya dengan apa yang aku lihat dan aku dengar.

 

“Jung Yunho.. Kumohon istirahatlah..” pintanya dengan menatapku berbeda.

 

Seperti ada suatu hipnotis dari matanya yang membuatku tak mampu menolak apa yang dia minta. Aku pun berusaha bangkit. Dipeganginya tubuhku yang sedikit tidak seimbang karena kakiku yang terluka menyentuh lantai terasa sedikit sakit.

 

“Benarkan.. Kau berdiri saja belum benar. Mana mungkin kau terus memaksakan diri melakukan pekerjaan. Istirahatlah. Lagipula hanya menutup tempat makan tidaklah susah.” Ucapnya yang lagi-lagi membuatku terkejut.

 

Dipapahnya diriku hingga di dekat tangga.

 

“Tidak usah. Aku bisa naik tangga sendiri. Yang berat-berat seperti mengangkat kursi, tak perlu kau lakukan. Cukup bersihkan meja dan kunci pintu saja. Setelah itu segeralah istirahat.” Ucapku padanya.

 

“Sudahlah Jung Yunho. Kau istirahat saja.” Ucapnya.

 

Akupun dengan sedikit perasaan ragu melangkah menuju kamar. Aku sebenarnya khawatir kalau membiarkannya bekerja sendirian apalagi jika dia sampai melakukan pekerjaan-pekerjaan berat. Ingin rasanya aku membantunya. Tapi benar yang dia katakan. Kakiku saja tak sanggup menapak lantai dengan baik, apalagi melakukan yang lain. Aku membiarkannya melakukan pekerjaan ini sendiri karena kulihat sudah tinggal sedikit hal yang belum kukerjakan tadi. Jadi aku rasa hal itu tak akan membuatnya lelah.

 

Ketika tiba di kamar, aku bermaksud menunggunya hingga selesai menutup kedai, baru aku akan pergi tidur, tapi sepertinya aku sudah sangat lelah hingga tanpa sadar aku sudah pergi ke alam mimpi dalam waktu singkat setelah aku merebahkan badan ini di tempat tidur.

 

[Jaejoong pov]

 

Kulihat Yunho mulai melangkah naik ke kamar di lantai dua. Kulanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti. Kubereskan obat-obatan dan bekas perban yang baru saja kulepaskan dari kakinya. Kulap dan kurapikan meja-meja. Kemudian kubalik-balikan kursi, tak mengikuti kata-katanya untuk tidak melakukan pekerjaan berat. Aku tahu dia selalu baik dan perhatian padaku, tapi bagaimanapun juga aku seorang pria. Tak sulit dan tak begitu melelahkan bagiku untuk sekedar mengangkat-angkat kursi ini. Mengapa dia suka sekali memperlakukanku layaknya perempuan.

 

Setelah semuanya selesai, kututup rapat-rapat pintu tempat makan dan akupun segera menuju kamar. Semula aku mengira dia masih terbangun mengingat aku menyelesaikan tugas tadi dalam waktu singkat, ternyata aku salah. Dia sudah tertidur nyenyak. Dia tertidur dengan tubuh sebagian di lantai dan sebagaian di atas kasur.

 

Ada-ada saja. Seperti anak kecil saja tidurnya malam ini. Tangannya di lebarkan di kepalanya dengan tubuh tak terbalut selimut. Akhirnya sedikit kutarik dia agar tidur di atas kasur. Tampak dia sedikit bergerak, tangannya dia turunkan sendiri dan kini dia tengah tidur dalam posisi miring menghadapku. Kuselimuti tubuhnya karena kurasa malam ini cukup dingin sedangkan dia hanya mengenakan kaos singlet seperti kebiasaannya saat tidur. Setelah itu, akupun berbaring disebelahnya. Kucoba untuk memejamkan mata ini. Tapi sepertinya aku belum begitu mengantuk. Kubuka kembali mataku, kudapati wajah Yunho yang tepat berada di depanku. Kuamati wajah itu baik-baik. Didalam hati aku berkata, aku akan mulai mencoba untuk selalu bersikap baik dan ramah padanya. Aku rasa itu bukanlah suatu hal yang susah. Mengingat aku adalah orang yan hangat dulu saat aku masih menjadi manusia. Bagaimana mungkin aku bisa memiliki banyak teman jika aku tidak memiliki kepribadian yang hangat dan ramah.

 

Pfuhhhh….

 

Sedikit sesak rasanya di dada ini ketika mengingat masa laluku.. Kurasakan mata ini sedikit hangat dibuatnya. Sepertinya aku ingin menangis. Hidup terasa tak pernah seberat ini. Cukup Kim Jaejoong.. jangan lagi kau menangis. Buat apa kau menangisi hal-hal yang tak akan pernah bisa berubah. Inilah takdirmu. Sendiri tanpa sahabat tanpa keluarga. Hanya namja yang ada di depan ku ini yang selalu menemaniku melewati hari-hariku.

 

Jung Yunho. Terima kasih banyak. Kau sangat banyak membantuku untuk menjalani hidup ini. Jika tak ada kau, mungkin aku sudah menjadi vampir jahat yang selalu menggigit manusia tanpa ampun. Mungkin saat ini aku belum bisa lepas dari darah manusia, tapi aku yakin akan ada masanya dimana aku tak perlu lagi meminum darah manusia walau tanpa harus menggigit dan menghisap langsung dari manusia. Pasti ada cara untuk berhenti dari kecanduan darah manusia ini. Pasti.

 

 

TBC

====


Ihhhiiiyyyyyyyyy….

Aku jadi melting ngliat ke’melt’an perasaannya Jaejoong..

Asyikkkk…

Tinggal nunggu tanggal ‘main’nya nih.. hehe.. Maksudnya tinggal nunggu tanggal post yang berikutnya.. Hahahaha..

Yunjae..Yunjae.

RCL ya reader dan tunggu kelanjutannya..

Gomawo…

 

Salam YUNJAE!

-Beth-

 

27 thoughts on “Bloody Love Chapter 23 – Melt | @beth91191

  1. Kyaaa..
    Jaejoong udah mulai mencair nih sifat dnginnya?
    Kok jaejoong ngga bsa bca pikirannya yunho ya?
    Apa ada yg special ama yunho?
    Atau karna sbtulnya jaejoong udah jtuh cnta ama yunho?

  2. mungkinnn… bloody love nya stop dulu abis ini.. aku mau ngepost yg lain, ff yg lain yg sudah aku anak tiri-kan. Tapi liat ke depannya aja deh..
    Gomawo…😀

  3. ini kenapa ff’y seru ya?
    seruuu ….🙂
    asiiik jae udh mulai terbuka ama yunho,mian ga bisa komen di semua chap😦
    kira kira kapan “pertunjukan’y” nih thor ? *smirk

  4. suram amat nasibnya yun???

    luka gara2 jejung mulu… tapi jejung kok ga langsung aja isep darahnya yun… kan luamayan buat stok.

    ahhhhhhhhhhhh… co cwittt…. si yun malah klepek2 mah kalo digituin terus ma jejung…

  5. ah… akhirny jae mulai berubah… ya walaupun sedikit demi sedikit.. jadi baik n perhatian ma yunho… perbanyak gi yunjae momentny…

  6. salut sama sikapnya jae yang teguh pada pendiriannya “gak mau minum darah” LAGI.
    thor kasih jalan lain yah buat jae biar gak minum darah lagi.. kasian dia.

  7. Yey..Yey..
    Jaemom dah mlai pny rasa ma yundad..
    Wlopun dkit tu kn prtnda yg baik..
    Tp q msh sdikit bnggung??
    Ktany vampire bsa bca pkiran mnusia??
    Bner g??
    Tp knp jaemom g bsa bca pkiran yundad yah..
    #bnggung tngkat akut

  8. Semoga umma semoga ada cara buat lepas dari minum darah manusia
    Nah gitu dong umma berbyat baik and ramah sedikit ke yunpa kan ga apa apa ^^
    Apalgi yunpa udah baik banged ke umma

  9. kyaa .. !!!! jaeppa berubah akhirnya …
    semoga dari situ muncul benih2 cinta .. *aet..*
    lol lmao …
    gima nasib jaeppa yh … jadi penasaran aku …
    T_T
    yunjae couple !!!!!!!!!!!!!!
    lol lmao
    xD
    lol lmao

  10. aigoo jae labil sekali kekeke~ xD ah akhirnya ada juga part full yunjae!! (y)😀 makin penasaran~ baca nextpart ah~ :))

  11. Kapan yunjae moment’a….hoo’ooohh *tarik”baju author*

    Sabar…sabaaar yunjae moment bentar lagi….sik…asik…

    Slowly but sure jae ųϑªђ mulai ά̲ϑª2 rasa gimanaaa gichu…^^»

  12. hwaa~ >,<
    suka bgt part jaema ngoBatin yunpa. Walaupun simple tp manisnya ngena. Dah jd yunpa, aq melting dah. xD
    Huhuhuw. Fav bgt dah jaema.

  13. uwow
    akhirnya Jae mulai rada ramah nih sama Yun

    ahahaha
    Yun sampe terpesona gitu ya
    gara2 appa shim akhirnya dy jadi menyimpang juga
    yeiy
    hahahahaha
    *digetok Jae karena kebanyakan ketawa

  14. Yunjae sweeeeettttt

    Suka,mulai ada bnyak cerita kbersamaan yunjae

    Umma coba lbih lebar buka hatimu buat appa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s