Bloody Love Chapter 24 – I Don’t Know | @beth91191


Anyeonghaseyo…

Aku nggak mau banyak cincong di awal ahh,,,

Sumpah dehhh chapter ini sooooo sweeeeettttttttt bangetttttttttt…

Salah satu chapter so sweet yang aku buat.. I love this chap so much… SO MUCHHH…

Langsung baca aja ya..

Dan jangan lupa leave comment..

 

Title        : Bloody Love

Author   : Beth

Chapter : 24 – I Don’t Know

Genre    : Romance, Action, Yaoi

Rate       : 21+

Chapter XXIV – I don’t know

[Yunho pov]

 

Malam ini aku dan Jaejoong seperti biasa menutup tempat makan kami. Tak ada yang berbeda dari apa yang kami lakukan kali ini dibanding hari-hari biasanya. Mungkin yang sedikit membedakan adalah obrolan yang mulai kami jalin dengan baik.

“Kakimu sudah baikan?” tanyanya.

“Menurutku sudah jauh lebih baik. Gomawo ya kau sudah mau mengurusku.” Jawabku sambil tersenyum.

“Hentikan senyuman anehmu.” Ucapnya dengan nada mengejek.

“Mwo? Aneh katamu? Ini adalah senyuman yang sangat indah. Kau tahu..” belum selesai aku bicara.

“Tidak, aku tidak tahu.” Jawabnya singkat.

“Hey aku belum bilang apa-apa.” Sahutku.

“Apapun itu aku tidak tahu.” Ucapnya lagi.

“Oleh karena itu aku beri tahu. Dengarkan ya..” pintaku kekanakan.

“Katakan saja.” Jawabnya dengan terus mengelap piring.

“Aku itu mantan bintang sekolah. Aku orang yang paling tampan di sekolah dulu. Aku juga bintang lapangan setiap ada pertandingan basket. Aku juga adalah mantan kaptern tim inti basket sekolahanku. Banyak wanita yang mengejar-ngejarku. Lalu bagaimana mungkin kau bilang senyumku itu aneh? Senyuman ini yang mampu melelehkan hati para wanita.” ucapku membanggakan diri.

Dia berhenti sesaat dan menatapku. Tampak dia tersenyum, tapi senyuman kali ini adalah senyuman penuh ejekan.

“Oooo…” jawabnya singkat yang seakan meremehkanku dan mengejekku.

“Hanya ‘oooo’???” tanyaku tak puas dengan reaksinya.

“Lalu kau ingin aku berkata apa?” tanyanya kembali melakukan pekerjaannya.

Tiba-tiba terlintas di benakku ide jahil. Aku ingin menunjukan seberapa indah senyuman ku ini dan seberapa besar kemampuan melelehakn hati orang yang melihatnya. Sedikit kudekati dia dan kemudian..

“Kim Jaejoong..” panggilku padanya.

Dia menoleh kearahku dan kuberikan sebuah senyuman yang paling indah yang paling hangat dan paling tulus yang mampu aku berikan. Ekspresinya sedikit berubah. Selama beberapa saat dia menatap wajahku tanpa berkedip dan kemudian menunduk. Tangannya bergetar dan wajahnya memerah. Pandangannya tidak fokus menunjukan dia sedang malu. Tangannya kembali mengelap piring namun kali ini asal-asalan karena dia sedang tidak fokus sepertinya. Digigitnya sendiri bibir merahnya itu.

“Hahaha.. Benarkan senyumanku itu indah hingga membuatmu tersipu malu.” Ucapku sambil mendekatinya.

“Hentikan..” sahutnya dengan nada sedikit tinggi sambil membanting lap yang sedang dia bawa.

Masih bisa kulihat jelas wajahnya yang memerah. Tapi aku tak ingin membuatnya marah lagi kali ini karena keusilanku.

“Mianata.. Mianata.. Aku hanya bercanda.” Kataku sambil mendekatinya.

“Aku tidak suka bercanda yang seperti itu..” jawabnya dengan masih marah.

“Mianata.” Kataku lagi dengan berusaha memegangnya.

Tampak dia akan menepis tanganku dengan sangat keras, namun tiba-tiba dia memperlambat kecepatan tangannya dan berubah menjadi sebuah tepisan pelan. Sepertinya dia sangat berhati-hati dan bertindak agar tak membuatku terluka atau kesakitan.

“Jangan pernah seperti itu lagi.” Ucapnya melunak.

“Arasho.. Mianhe.” Ucapku hati-hati.

[Jaejoong pov]

“Kim Jaejoong..” panggilnya.

Begitu kutolehkan kepala ini kudapat visual shock di depanku. Jung Yunho tengah tersenyum sangat manis padaku. Selama beberapa detik aku terdiam kosong, terkesima, terkagum-kagum, terlena atau apalah itu namanya yang jelas aku benar-benar merasa terpesona dengan senyuman yang tiba-tiba dia tunjukan padaku. Didalam hati aku memaki.

Apa-apaan dia senyum seperti itu??? Maunya apa?? Untuk apa dia melakukan senyuman bodoh seperti itu? Sebentar-sebentar. Bukan senyuman bodoh tapi senyuman yang sangat indah. Sangat…. Kurasakan tanganku bergetar dibuatnya. Aku berusaha kembali melanjutkan pekerjaanku tapi yang kudapatkan tanganku semakin terlihat bergetar. Jantungku seketika berdebar-debar dibuatnya. Nafasku menjadi tidak teratur. Apa-apaan sebenarnya yang dia lakukan??? Jung Yunho pabo!!!

“Mianata.. Mianata.. Aku hanya bercanda.” Katanya sambil mendekatiku.

“Aku tidak suka bercanda yang seperti itu..” jawabku tegas.

“Mianata.” Katanya lagi dengan berusaha memegang tanganku.

Apa-apaan lagi dia ini ingin memegang tanganku?? Secara reflek aku ingin menepis tangannya. Namun seketika aku teringat berapa kali aku telah membuatnya terluka, apalagi saat aku menepis terlalu keras hingga tangannya terbentur dan terluka. Akhirnya kupelankan tepisanku dan hanya seperti seseorang yang tengah menepuk ringan saja. Aku tak ingin membuatnya terluka lagi.

“Jangan pernah seperti itu lagi.” Ucapku pelan.

“Arasho.. Mianhe.” jawabnya.

Kemudian…

KRUCUKK KRUCUKKK….

Kudengar suara perutnya yang sedang berbunyi. Dia tampak malu dengan suara perutnya itu. Dipeganginya perutnya.

“Kau belum makan?” tanyaku.

“Belum. Kau juga belum makan.” Jawabnya.

“Aku tidak lapar.” Sahutku.

“Yasudah aku juga tidak lapar.” Jawabnya lagi.

“Bagaimana kau bisa tidak lapar? Jelas-jelas perutmu berbunyi. Jangan bilang karena aku tidak makan, lalu kau juga tak akan makan.” ucapku dengan mengernyitkan alisku.

“Kalau kau makan, akau akan makan.” Jawabnya polos.

“Kau lapar ya makanlah. Bagaimana jika memang aku tak akan makan selamanya, kau akan tetap tak makan selamanya?” tanyaku menantangnya.

“Yapp..” jawabnya cepat.

“Bodoh.. mmmm… Maksudku, kau tak seharusnya begitu. Sudahlah.. Aku akan siapkan makanan. Kau tunggu di kamar saja.” Perintahku padanya.

“Memang kau bisa masak?” tanyanya tak percaya.

“Diam dan pergilah ke kamar.” Ucapku dengan sedikit ekspresi marah.

“Arasho.. Arasho.. Siap komandan..” jawabnya bodoh.

Setelah dia pergi, akupun mulai melihat isi lemari es nya. Tak kudapati banyak jenis bahan makanan, aku sedikit memutar otak mengingat resep-resep makanan yang dulu pernah aku buat. Bisa dikatakan aku termasuk ahli dalam memasak. Junsu sangat suka sekali dengan hasil masakanku. Ah.. aku ingat.. Salah satu masakan yang dulu pernah aku masak ketika junsu malam-malam ingin makan. Ya.. sup wortel dengan potongan sosis serta bola-bola mie. Aku rasa itu bukan masakan yang susah untuk dibuat.  Bahan-bahannya pun ada semua. Dengan cepat akupun mulai memasak dan tak ingin membuat manusia itu kelaparan. Kupotong-potong wortel dan sosis. Kupanaskan air untuk merebus mie, kemudian ku masukan mie dan kumasak hingga matang, sambil kompor yang sebelahnya sibuk memasak sup wortel ini. Ketika sup wortelnya sudah matang, aku siap untuk menggoreng bola-bola mie ini. Tak berapa lama siaplah makan malam praktis ini. Kusiapkan nasi, sayur dan lauk di atas sebuah nampan. Kubawa nampan itu ke kamar dan semoga saja dia belum ketiduran.

“Makanan datang..” ucapku yang biasa aku katakan pada Junsu ketika aku membawakannya makanan buatanku.

Sepertinya aku sudah sangat rindu pada dongsaengku itu. Ingin sekali bertemu dengannya. Secepatnya aku akan minta ijin pada Yunho agar aku bisa pergi mengunjungi Junsu, lebih tepatnya pergi mengintip Junsu dari kejauhan tanpa dia sadari.

“Wahh.. Kau benar-benar memasak?” ucapnya dengan mata bahagia.

“Ayo makan. Keburu dingin.” Kataku sambil meletakan nampan itu di dekatnya.

Kali ini terpaksa aku ikut makan bersamanya. Jika tidak dia pasti tak ingin makan seperti yang dia katakan tadi. Kulihat dia mencicipi sup wortel buatanku sesendok.

“Wahhhh… Enaknyaaa….” ucapnya dengan ekspresi berlebihan.

Aku rasa masakan memang enak tapi tak seenak itu hingga dia berekspresi seperti itu. Aku tersenyum menyadari dia berusaha sangat keras untuk menghargai masakanku ini. Kemudian dia mencoba bola-bola mie buatanku.

“Enakkkk… Oya, Jae kau tahu??” ucapnya.

“Tidak.” Jawabku memotong kata-katanya.

“Eh.. dengarkan dulu.” Pintanya.

“Apa?” tanyaku sambil tersenyum ketika menyadari rasa humorku telah kembali.

“Kau berbakat menjadi koki. Tahu kau begitu berbakat seperti ini, mulai besok kau saja yang mengurus bagian dapur dan aku yang mengantar-antar makanan. Pasti akan lebih ringan kerjamu tidak perlu mondar-mandir mengatar makanan, membersihakan meja, menerima pesanan dan lain sebagainya. Kau hanya mengurusi dapur. Oke??” ucapnya.

“Iya.. Tapi cepat habiskan makanannya keburu dingin.” Jawabku.

Diapun makan masakan buatanku dengan sangat lahap dan tak disisakan sedikitpun nasi, lauk dan sayur di mangkok. Aku hanya mencicipi sedikit masakan itu, takut dia merasa kekurangan. Senang rasanya ketika sudah lama tak ada yang memuji masakanku seperti ini. Ya tentu saja lama, aku juga sudah lama tidak masak juga. Ini pertama kalinya sejak aku menjadi vampir, aku memasak lagi.

Setelah makan kami selesai..

“Sini biar aku yang membawanya turun sambil mengambilkan minum untuk kita berdua.” Ucapnya suka rela.

Diapun keluar untuk melakukan apa yang dia katakan. Aku menunggu sambil menonton TV seperti biasa. Tak banyak yang bisa aku lakukan di rumah ini. Kemudian kurasakan hembusan angin yang cukup dingin dari arah samping. Ku melihat sumber datangnya angin sepertinya Yunho lupa belum mengunci pintu menuju ruangan terbuka di lantai dua ini. Akupun bangkit dan hendak menutupnya namun aku melihat ayunan yang ada disana. Sepertinya nyaman duduk disana. Akupun berjalan mendekatinya dan duduk di atasnya. Pemandangan kota Seoul tampak begitu indah dari sini. Kurasakan hembusan angin malam di wajahku begitu menyejukan. Dengan cukup jelas dapat kulihat kendaraan-kendaraan yang sedang mengekor di suatu jalan di kejauhan sana tapi sama sekali tak kudengar suara deruman mobil-mobil itu. Yang tersisa hanyalah cahaya-cahaya yang tampak indah dari lampu-lampu mobil membentuk suatu pemandangan malam yang sangat jarang bisa aku nikmati. Disini amat tenang dan damai, bahkan aku mampu mendengar suara gemericik air dari kolam ikan rumah sebelah. Serta bau harum pewangi pakaian dari tempat laundry di samping yang tengah menjemur pakaian-pakaian para pelanggan menimbulkan efek aromaterapi di dalam hati ini. Ternyata tak perlu kita melakukan relaksasi di tempat-tempat mahal, ataupun mengunjungi pemandian air panas yang ekslusif hanya untuk ingin mendapatkan kedamaian seperti ini.

“Nyaman ya disini..” ucap Jung Yunho mengagetkanku.

“Iya..” jawabku sambil memberinya tempat untuk duduk.

“Ini minumanmu.” Ucapnya sambil menyodorkan minuman kaleng padaku.

“Gomawo.” Jawabku sambil mengambil minuman itu, membukanya dan menyeruputnya.

“Kau tahu.. Tempat ini satu-satunya tempat yang tidak aku biarkan untuk tidak dipugar saat itu. Lantai satu untuk tempat makan dulu tak seluas itu. Kamar pemilik yang lama dan sebuah ruang keluarga kecil dihilangkan, sehingga tempat makan ini menjadi lebih luas. Ruangan yang bisa aku gunakan untuk beraktifitas selepas bekerja hanya kamar itu. Semula ada yang menyarankan untuk membangun ruangan lagi di lantai dua ini, sehingga ada tempat untuk ruang tv ataupun kamar ekstra. Tapi aku pikir tempat ini adalah satu-satunya tempat yang paling indah dari bangunan ini. Di tempat ini kita bisa melihat lampu-lampu kota Seoul sekaligus melihat bintang-bintang di langit. Alangkah sayangnya keindahan ini harus diubah dengan dinding-dinding beratap. Tapi akibatnya kita jadi harus sekamar, karena tak ada ruangan lain yang ada.” Ucapnya menjelaskan.

“Tidak apa-apa.” Jawabku lirih.

“Kenapa ekspresimu seperti itu? Kau sepertinya sedang sedih atau rindu pada seseorang?” tebaknya.

“Jung Yunho..” panggilku.

“Hemm?” jawabnya,

“Pernahkah kau ingin kembali ke masa lalu tapi semakin kau ingin, semakin kau menyadari bahwa tak akan ada kata bisa untuk kembali?” tanyaku sambil menerawang jauh.

Yunho tidak langsung menjawab pertanyaanku. Dia terdiam tanpa suara, Kutolehkan kepala ini mencari tahu mengapa dia hanya diam. Dia tengah menatapku lekat mencari tahu apa yang sedang aku pikirkan saat ini.

“Tidak pernah, aku rasa. Masa laluku buruk.” Jawabnya sambil tersenyum getir.

“Ohh.. mian.. Aku tak bermaksud begitu.” Ucapku ketika sadar bahwa masa lalunya memanglah amat buruk.

“Tidak apa-apa. Aku selalu berusaha berpikir ke depan. Aku tak suka melihat kebelakang. Aku selalu berpikir seburuk-buruknya hari ini tetaplah itu adalah hal yang patut kita syukuri. Kerinduan akan masa lalu yang rasanya sulit untuk kita dapatkan kembali saat ini, biarlah menjadi motivasi kita untuk meraihnya kembali di masa yang akan datang. Aku rasa tak ada yang tak mungkin untuk di dapat. Tak selamanya roda itu ada dibawah bukan?” ucapnya dengan sangat bijak.

“Hidup tak pernah terasa seberat ini bagiku sebelumnya.” Ucapku diikuti desahan kegalauanku.

“Mungkin bahuku cukup kuat untuk kau jadikan tempat bersandar?” katanya hati-hati.

“Tapi aku pria Jung Yunho.” Sahutku sambil menatapnya.

“Aku rasa ini juga cukup kuat untuk seorang pria. Memang apa salahnya kalau kau seorang pria? Hidup yang terasa berat tak hanya dimiliki seorang wanita bukan?” jawabnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak perlu aku jawab.

Sejenak kupandangi wajahnya. Benar-benar dia mampu meneduhkan hatiku. Kegalauanku seakan terasa begitu ringan ketika dia berbicara seperti itu. Sudah lama aku tak merasakan suatu nasihat yang tulus dan dalam seperti ini. Sungguh dia membuatku tenang dalam sekejap. Secercah kedamaian terpancar halus dari kedua matanya yang sangat membuat hatiku damai.

“Kuharap bahumu kuat untuk kepalaku yang terasa berat ini.” Jawabku sambil meletakan kepalaku di bahunya.

Terasa sangat nyaman bahu ini. Sepertinya bahu ini memang diciptakan sebagai tempat sandaran orang lain saja. Kuamati bintang-bintang dengan masih tetap bersandar padanya.

“Aku rindu padanya Jung Yunho.” Ucapku menerawang.

“Bolehkah aku tahu siapa?” tanyanya.

Sejenak aku ingin menjawab Junsu, namun kemudian aku rasa aku juga rindu pada Donghae sepupuku dan Eunhyuk teman baikku, tapi aku rasa aku juga rindu teman-temanku lainnya, aku rindu rumahku, aku rindu mobilku, aku rindu pekerjaanku, aku rindu kehidupanku, aku rindu semuanya.

“Entahlah terlalu banyak yang aku rindukan rasanya.” Jawabku.

“Boleh aku tahu kenapa kau tak bisa menemui yang kau rindukan itu?” tanyanya mulai berhati-hati kembali.

“Aku rasa tidak.” Jawabku ketika ingat aku sudah terlalu banyak bicara.

“Tidak apa-apa. Kadang seseorang punya bagian kehidupan yang tak bisa diceritakan pada orang lain dengan mudah.” Ucapnya tenang.

Aku senang kali ini dia tak lagi memaksaku untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang kadang jawabannya adalah suatu hal yang sangat membuatku sakit hati dan sedih. Kami habiskan sisa malam itu dengan keheningan. Dia membiarkan aku menikmati kedamaian yang tengah aku rasakan. Sepertinya dia tahu jika dia bertanya lebih jauh lagi, akan membuatku merasa terganggu.

Jung Yunho Jung Yunho.. Tanpa kau, mungkin aku tak akan bisa ‘seperti ini’ saat ini. Jika aku disuruh mendeskripsikan ‘seperti ini’ seperti apa yang aku maksud, aku rasa aku sedikit bingung. Mengingat tingkat kebahagian dan tingkat kepuasan hidup seseorang yang berbeda-beda. Sebagian hatiku sudah amat merasa bersyukur dengan apa yang aku alami saat ini, namun sebagian yang lain masih menolak dan merindukan kehidupanku yang dulu. Tapi walaupun aku masih merasa abstrak dalam menjalaninya, aku rasa kehidupanku ini terasa jauh lebih baik jika ada kau di sampingku.

Jung Yunho.. Jung Yunho..

TBC

=======

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…………

Ngetik huruf A sampe jebol keyboard ni komputer..

Yunjae…

Aku iri sama kaliannn..

Rasa haus Yunjae moment kalian akan terpenuhi abis2an untuk beberapa chapter ini..

Yunjae membuatku bahagia..

Yang pasti tunggu kelanjutannya dan leave komen ya..

Gomawo..

SALAM YUNJAE!!

-Beth-

22 thoughts on “Bloody Love Chapter 24 – I Don’t Know | @beth91191

  1. Yeaaah aku bahagia.. Bahagiaaaaaaaaaaaaaaaaaa….. Idk this will be happy ending or not, but i hope yes !! Ga tega sama jejung soalnya T___T

  2. haduuuuh ….
    kalo udah nemuin chap dimana yunjae’y romantisan rasanya ga mao selese dah baca, maunya lanjut aja🙂
    waduuuuuh kayanya masih lama banget ya yunjae jadian’y ?
    sabar sabar ! yang pentingkan pasti bakalan jadian🙂

  3. ayo dong jae curhat aja sama yunho,
    yunho pasti mau ko jadi pendengar yang baik.
    sukaaaaaaaaaaaaaaa liat yunjae kaya begini, bawaanya senyum-senyum sendiri
    Banyakan moment-moment yang sweet dan romantis ya thor

  4. aku gak tau harus ngomong apa soal yunjae moment di chapter ini..
    terlalu sungguh terlalu so sweeetttt…..
    akkuuu sssuuuukkkkaaaa…… tambah donk yunjae momentnya. hehehe

  5. Makin kesini ceritanya makin bagus makin dapet feelnya..
    Akhirnya jaejoong bisa merubah sikapnya jadi lebih baik seneng aja liat jaejoong yang sekarang mulai membuka diri ke yunho walau kadang masih agak tertutup
    Suka banged sama kata kata yunho.. Emang is the best deh^^

  6. kyaa… mulai tumbuh benih2 cinta nich ye ….
    eung kyang kyang kyang …. !!!!!!
    yunjae yunjae …. malu tapi mau yach …
    eung kyang kyang .. !!!!!!!!!!!

  7. Salam Yunjae!
    Di chap sebelum2nya kok kyknya komenku ga muncul ya?? Heuh
    walopun yunjae momen cuma segitu, rasanya seneng banget bacanya hehehe
    lanjut!
    Next chap~

  8. Aaaaaaaaaaaaaaahhhhh yunjae moment’a kuraaaaaaaaaang (╥﹏╥)
    (╥﹏╥)

    Lanjuuuut….Ъ>:/ sabar…pengen liat walaupun dikit ά̲ϑª yunjae kissu’a

  9. Romantisnyaaa
    itu jae sama Yun
    bikin iiiirrriiiii dehhhh

    aduhhhh
    mudah2an Jae cepet sadar sama perasaannya

    author sabarr bgt ya bikin alur
    hahaha
    daebbak deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s