Bloody Love Chapter 25 – Tryst | @beth91191


Anyeonghaseyo reader tercinta yang cinta yunjae…

Mau yang so sweet so sweet lagi??

Hihihi..

Di chapter ini ada lagi nih…

Tapi chapter ini nggak cuma so sweet doang, ada sedihnya juga..

Sedikit complicated..

Tapi tetepppp Yunjae momentnya banyakkk..

Yuk baca aja dehh.. Capcusss cinnn..

 

Title        : Bloody Love

Author   : Beth

Chapter : 25 – Tryst

Genre    : Romance, Action, Yaoi

Rate       : 21+

Chapter XXV – Tryst

 

 

===Keesokan malamnya===

 

[Yunho pov]

 

Hari ini tempat makan tutup lebih cepat. Mengingat diluar sedang turun hujan cukup deras dan jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Tubuh ini juga terasa sudah sangat lelah. Karena baru saja ada rombongan anak SD dari kota lain yang sedang mengadakan study tour di Seoul, makan siang dan istirahat sejenak di tempat makan ini. Otomatis kerja kami jadi dua kali lipat. Apalagi anak-anak kecil itu permintaannya sedikit aneh-aneh. Maklumlah.. Anak kecil..

 

Tepat jam 10 malam kami sudah berada di kamar. Kurebahkan tubuh ini di tempat tidur begitu juga dengan Jaejoong. Rasanya cukup aneh aku harus tidur sekasur dengannya saat tidak ada di antara kami yang terlalu mengantuk seperti ini. Kuingat-ingat kami selalu pergi tidur tidak bersamaan. Kadang aku dulu yang lebih dulu tidur, kadang dia dulu yang pergi tidur. Namun kali ini, kami masih sama-sama terbangun dan tak tahu harus berbuat apa.

 

“Yunho..” “Jaejoong..” ucap kami bersamaan.

 

“Kau dulu saja..” kataku.

 

“Tidak kau dulu saja.” Jawabnya.

 

“Tidak aku rasa kau dulu saja.” Sahutku lagi.

 

“Mmmm.. Baiklah.. Aku ingin cuti besok setengah hari.” Ucapnya.

 

“Cuti?” aku berusaha meyakinkan.

 

“Iya cuti setengah hari saja. Setelah makan siang aku akan berangkat. Lalu aku akan pulang sebelum larut malam.” Jelasnya padaku.

 

“Kalau boleh tahu kau mau kemana?” tanyaku.

 

“Hanya mengunjungi saudara. Kumohon.” pintanya sambil memiringkan tubuhnya menghadap ke arahku.

 

“Iya tidak apa-apa.” Jawabku sambil menatapnya balik.

 

“Gomawo.” dia kembali memutar tubuhnya menghadap ke langit-langit kamar.

 

“Perlu aku antar kah?” tanyaku.

 

“Tidak perlu. Jaga saja tempat makan. Jika kau mengantarku, berarti kau harus menutup tempat makan jauh lebih awal bukan. Tidak.. Kau bisa rugi. Oya, besok hitung saja gajiku untuk setengah hari saja. Aku rasa aku tak masalah jika aku tidak menerima 100%.” Jawabnya.

 

“Tidak.. Gajimu tetap 100% untuk besok. Anggap saja itu bonus dariku.” Jawabku.

 

“Gomawo. Oya kau ingin berkata apa?” tanyanya mengingatkanku.

 

“Ohh.. Aku ingin sekali makan bebek Peking besok malam.” Jawabku.

 

“Lalu?” dia menunggu lanjutan kata-kataku.

 

“Maukah kau menemaniku makan bebek Peking di kota?” tanyaku hati-hati.

 

“Mengapa aku yang menemanimu?” tanyanya balik dengan wajah keheranan yang kini sedang menatapku tajam.

 

“Ayolah.. Kumohon. Kau tahu, aneh rasanya jika ada seseorang makan sendirian di sebuah restauran. Kumohon temanilah aku.” Pintaku memelas.

 

“Tapi..” sebelum dia selesai berbicara, “Kau tetap lakukan kunjunganmu pada saudaramu, setelah itu baru kau menemaniku makan bebek Peking.” Ucapku.

 

“Tapi..” lagi-lagi sebelum dia selesai bicara, “Aku akan menunggumu di restauran Duck House jam 8 malam. Kau tahu tempat itu?” tanyaku.

 

“Tentu aku tahu. Tapi..” Jawabnya yakin.

 

“Aku yang akan mentraktirmu. Jam segitu kau sudah selesai dengan urusanmu bukan?” tanyaku lagi.
“Aku tak janji Jung Yunho.” Jawabnya pelan.

 

“Tak apa. Aku akan tetap menunggumu sampai kau datang.”sahutku sambil tersenyum.

 

“Sebaiknya jangan terlalu berharap.” Dia mengingatkanku.

 

“Sudahlah.. Tidurlah..” jawabku sambil membalikan tubuh membelakanginya.

 

Sepertinya aku tak sabar dengan datangnya esok hari. Bukan karena aku sudah amat ingin makan bebek Peking seperti yang aku katakan padanya. Tapi aku hanya ingin makan malam bersama nya saja. Pasti menyenangkan bisa makan di luar bersamanya. Mengingat aktifitas kami sehari-hari tak lebih dari membuka tempat makan, melayani para pelanggan dan menutup kembali tempat makan. Kuharap dia senang. Apalagi Duck House terkenal sebagai restauran bebek terlezat di Seoul. Cepatlah besok cepatlah besok….

 

 

[Jaejoong pov]

 

Apa-apaan dia mengajak makan malam tiba-tiba seperti ini? Sudah tahu dia bahwa aku besok akan ada urusan hingga sampai meminta cuti setengah hari. Kenapa juga dia ingin makan bebek Peking justru mengajakku? Kenapa dia tak pergi sendiri saja atau pergi bersama kenalannya atau entah dengan siapa yang jelas tidak denganku. Bukan karena aku tak ingin menemaninya, tapi aku ingin menghabiskan banyak waktu menemui Junsu, lebih tepatnya melihat Junsu dari kejauhan. Aku sudah sangat merindukannya. Jika dia mengajakku makan malam jam 8 malam. Berarti waktuku untuk melihat Junsu berkurang. Jung Yunho… Bagaimana ini?

 

Aku berusaha memejamkan mataku untuk beristirahat. Kulihat Yunho sudah lebih dulu pergi ke alam mimpi. Matanya terpejam sambil memeluk erat guling. Kubolak-balikan badan ini di atas kasur. Ku ubah-ubah posisi tidurku, mulai dari terlentang, miring ke kiri menatap Yunho, miring ke kanan menghadap dinding, meringkuk, tengkurap, tangan di samping kepala, tangan di atas perut, bantal di depan wajah, dan ahhhhhhh….. aku tak bisa tidur…..

 

Tiba-tiba..

 

Wuzzzzzzzhhhh… ~

 

Angin berhembus dari pintu menuju luar. Aisshhh.. Dia pasti lagi-lagi lupa menutupnya. Udara sedingin ini kenapa dia selalu lupa menutupnya. Akupun beranjak dan mendekati pintu itu. Kuraih daun pintu dan hendak aku tutup, tapi kemudian kulihat sesosok orang berdiri di dekat ayunan yang biasa aku duduki.

 

“Siapa itu?” tanyaku ragu dengan penglihatanku.

 

Hening.. Dia tak menjawab..

 

“Siapa itu?” tanyaku lagi. Kudekati sosok bayangan itu. Wajahnya masih tidak terlalu kelihatan karena tidak terkena sinar lampu. Tapi sepertinya aku mengenali sosoknya.

 

“Yesung-shi?” tanyaku.

 

Kemudian sosok itupun menapakan kakinya selangkah kedepan sehingga kini wajahnya tersinari oleh sinar lampu dari bangunan sebelah.

 

“Anyeonghaseyo Jaejoong-shi.” Ucapnya sopan sambil membungkukan badannya.

 

“Ada apa lagi kali ini?” tanyaku ketus.

 

“Saya hanya ingin mengingatkan Tuan bahwa besok adalah batas tujuh hari Anda untuk meminum darah Tuan.” Ucapnya sambil tak menatapku.

 

“Ohh…” jawabku berat.

 

“Anda masih merasa berat meminum darah Tuan?” tanyanya padaku.

 

“Selamanya. Aku rasa selamanya aku akan merasa berat Yesung-shi.” Jawabku diikuti desahan hembusan nafasku.

 

“Aku rasa itu wajar, mengingat Anda baru saja menjadi vampir. Saya akan menyiapkan darah segar untuk Anda Tuan, tanpa Tuan perlu untuk berburu.” Ucapnya berusaha menenangkanku.

 

“Aku tak ingin bertemu dengannya Yesung-shi.” Kataku sambil menatapnya.

 

“Yang Mulia maksud Anda?” tanyanya.

 

“Iya.” Sahutku.

 

“Saya rasa Yang Mulia sedang sangat sibuk saat ini. Hanya ada saya esok malam.” Jawabnya yang membuatku sangat lega.

 

“Benarkah?” aku berusaha meyakinkan.

 

“Iya Tuan.” Jawabnya.

 

“Baiklah.. Namun aku harap hari esok tak pernah datang.” Ucapku sambil meninggalkannya pergi dengan langkah lemah.

 

Aku tahu beginilah yang akan aku lakukan untuk hari-hari ke depannya. Yesung-shi mengingatkan untuk meminum darah dan kemudian aku harus kembali merasakan sesuatu yang menjijikan tetapi nikmat itu saat batas hari ke-tujuh. Jika tidak aku akan mati atau apalah itu namanya. Tak banyak pilihan dalam hidupku ini. Mati akan lebih baik. Tapi itu bukanla sebuah pilihan yang cerdas. Banyak yang bisa kulakukan dalam kehidupanku yang penuh kepura-puraan ini. Setidaknya aku masih bisa membantu Jung Yunho membesarkan tempat makannya. Ya mungkin dia menjadi alasan kenapa aku tak memilih mati saja saat ini.

 

 

===Keesokan siangnya===

 

Aku selesaikan tugas yang bisa aku selesaikan sebelum aku berangkat. Setelah aku rasa tak ada yang bis aku lakukan, akupun bersiap diri. Akupun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Badan ini sedikt terasa lengket. Setelah itu kukenakan pakaian yang sedikit lebih baik dari pada yang biasa aku gunakan. Kusisir rambutku dengan rapi, ku tatap wajahku di cermin. Wajah sempurna vampirku hampir saja tertutup dengan bau asap masakan dan pekerjaan-pekerjaan di tempat makan ini. Aku pernah lupa bahwa aku memiliki wajah sesempurna ini, aku cenderung tak peduli atas keistimewaan menjadi seorang vampir. Tak sadar aku terus senyum-senyum sendiri sambil menatap wajahku di cermin. Tiba-tiba..

 

“Manis.” kata Yunho mengagetkanku.

 

Aku menoleh dan melihatnya sudah sedari tadi mematung melihat polah tingkahku di depan cermin.

 

“Kau hari ini tampak manis sekali Kim Jaejoong..” ucapnya yang membuat pipiku memerah.

 

“Hya Jung Yunho.. Aku bukan gula!! Mana mungkin aku manis.” Sahutku ketus sambil memasukan barang-barang yang ingin ku bawa ke dalam tas.

 

“Tentu saja mungkin Jae. Kau bahkan lebih manis dari gula termanis sekalipun yang ada di dunia ini.” Jawabnya yang membuatku kian malu.

 

Aku berusaha tidak terpengaruh dengan gombalannya itu.

 

“Gombalanmu buruk Jung Yunho. Aku tak yakin saat kau SMA kau benar-benar bintang sekolah yang digilai teman-teman wanitamu.” Ucapku berusaha mengalihkan pembicaraan.

 

“Sungguh aku bintang sekolah dulu. Aku tampan, pintar, atletis, kapten basket, dan semua wanita menyukaiku. Kau tidak percaya?” tanyanya padaku.

 

“Sama sekali tidak.” Ucapku mantap dan hendak beranjak pergi, walaupun di dalam hati aku yakin apa yang dia katakan adalah benar. Mengingat aku bisa melihat masa lalunya saat bertemu dengan adiknya Changmin.

 

“Kau sudah mau berangkat?” tanyanya padaku sambil memegang tasku.

 

“Iya..” jawabku sambil melepaskan tangannya.

 

“Jangan lupa janji kita nanti malam ya.. Duck House jam 8 malam ya.” Ucapnya.

 

“Aku sudah bilang aku tak bisa janji Jung Yunho.” Jawabku mengingatkannya.

 

“Arasho.. Arasho.. Tapi aku akn tetap menunggumu.” Ucapnya dengan sebuah senyuman yang sedikit kecewa karena aku tak pasti akan datang atau tidak nanti malam.

 

Melihat wajahnya yang kecewa seperti itu membuatku sedikit merasa tidak enak.

 

“Jangan makan dulu sebelum aku datang ya..” jawabku sambil berusaha membuatnya senang.

 

Seketika ekspresinya tampak bahagia karena aku sedikit memberinya harapan bahwa aku akan datang nanti malam.

 

“Benarkah??” tanyanya dengan senyuman bahagia di wajahnya.

 

“Tapi ingat aku tak janji Jung Yunho.” Aku kembali mengatakan hal yang sebenarnya.

 

“Tenanglah aku tak akan makan sebelum kau datang.” Jawabnya.

 

“Aku berangkat..” ucapku sambil berjalan pergi. Kuturuni tangga diikuti olehnya. Setibanya kami tiba di bawah dia mengantarku hingga depan tempat makan.

 

“Kau yakin tidak ingin aku antar saja?” tanyanya lagi.

 

“Masuklah. Pelanggan menunggumu.” Jawabku.

 

Akupun meninggalkannya yang masih berdiri di depan tempat makannya menunggu aku  hingga menghilang diujung jalan. Setelah aku rasa dia tak bisa melihatku lagi. Akupun melesat dengan cepat menuju kediamanku tempat Junsu berada. Nikmat rasanya bisa berjalan secepat ini. Semua terlihat begitu lambat di sekitarku, hanya aku yang bergerak dengan begitu cepatnya. Setibanya aku di depan rumah. Kuamati kondisi rumahku. Tak banyak yang berubah. Masih saja tampak hijau dan rapi seperti biasa. Bunga-bunga yang biasanya aku sirami setiap sorenya masih tampak segar seperti dulu seakan aku baru saja meninggalkan rumah kemarin. Walaupun sebenarnya aku sudah meninggalkan rumah beberapa minggu lamanya.

 

Kulihat mobil Park Yoochun terparkir rapi di dalam. Sepertinya lagi-lagi dia menginap di rumahku bersama Junsu.

 

Akupun menuju jendela kamar yang bisa mengamati hampir banyak ruangan dengan jelas. Kudapati apa yang sedari kemarin ingin kulihat. Junsu.. Oh Junsu… Kau tampak sedikit kurus. Dia tampak sedang menatap fotoku. Junsu.. Apakah kau rindu padaku?

 

“Junsu-ah..” panggil seseorang padanya.

 

“Ya.. Chunnie?” sahutnya.

 

“Kau sedang apa?” tanya orang itu sambil mendekat ke arah Junsu.

 

Ternyata Yoochun yang memanggilnya. Bahkan mereka sudah meliki panggilan sayang yang sangat romantis seperti itu. Ingin rasanya aku mendekati Junsu, memeluknya, dan menanyakan bagaimana kedekatan mereka saat ini, sudah seberapa dekatnya kah dia dengan namja bernama Park Yoochun itu. Aku ingin sekali mendengar cerita-cerita darinya seperti curhatan-curahatn yang sering aku dengarkan dulu. Junsu……Aku rindu….

 

“Aku rindu pada hyungku Chun..” jawabnya sambil mengelus fotoku.

 

Ohhh… Ternyata dia juga sangat merindukanku.

 

“Aku tahu sayang.. Seorang adik yang baik akan selalu merindukan hyungnya, walau sudah lama sekalipun, kau akan tetap rindu padanya. Apalagi kau baru saja kehilanganya satu bulan yang lalu. Rasa sakit dan sedihnya pasti masih terasa.” Jawabnya sambil menenangkan adikku.

 

“Terima kasih Chunnie. Tanpa kau aku yakin tidak akan melewati hari-hari ini sendirian.” Ucap Junsu sambil memeluk kekasihnya itu.

 

Kurasakan kesedihan yang masih terlihat jelas di wajah dongsaengku itu. Kau beruntung ada dia yang menjagamu setelah ‘kematian’ku. Yang paling berat aku tinggalkan ketika harus meninggalkan kehidupan manusiaku itu, adalah aku takut kau tak akan bisa hidup tanpa kehadiranku. Aku tahu kau sangat tergantung padaku. Tapi tidak lagi kali ini. Karena ada dia di sisimu.

 

Kuamati mereka seharian tanpa rasa bosan sedikitpun dari jendela itu. Mereka sibuk mengobrol bersama, bercanda bersama, menikmati makan siang, menonton TV, tidur-tiduran bersama sambil terus menghabiskan waktu bersama.

 

Tanpa terasa hari sudah menjelang malam. Mereka tampak bersiap akan pergi ke suatu tempat. Junsu baru saja selesai dari mandinya dan Yoochun tengah mengenakan dasi. Sepertinya ada acara yang ingin mereka hadiri malam ini. Kini Junsu mulai mengenakan kemeja dan jasnya. Dia masih tampak tampan dengan jas itu walaupun tubuhnya sedikit kurus saat ini. Sejenak mereka sedikit bermesraan berdua yang membuatku semakin yakin, bahwa hubungan mereka sudah sangat serius saat ini. Merekapun kembali bersiap diri.

 

“Chunnie.. Mana dasiku?” tanya Junsu dengan suara khasnya yang sangat aku rindukan.

 

“Bukannya tadi sudah kau letakan di samping jas mu?” tanya balik.

 

“Iyaa… Tadi sudah aku letakan disini.. Tapi mana??” Junsu sedikit berteriak,

 

Yoochun dengan sabarnya membantu Junsu mencari dasinya itu. Beruntung sekali Yoochun adalah orang yang sabar dan pengertian. Tapi andai Yoochun bukan orang yang seperti itu, mana mungkin dia akan betah hidup bersama Junsu sampai detik ini. Secara aku hyung nya sendiri kadang merasa sangat emosi dan tak sabar ketika melihat kecerobohan dan kebodohannya. Junsu Junsu..

 

“Sayang.. Yang ada di tanganmu itu apa?” tanya Yoochun sambil tersenyum.

 

Junsu pun melihat ke arah tangannya sendiri.

 

“Ya Tuhan… Ternyata disini dasiku. HAHAHA..” tawanya yang nyaring memecah kepenatan ketika harus mencari dasi yang ternyata di bawa-bawa oleh Junsu seari tadi.

 

Dengan masih tersenyum sabar, Yoochun mengambil dasi itu dan mengenakannya pada leher Junsu. Sungguh Yoochun adalah orang yang sangat sabar. Jika aku yang menjadi dirinya aku pasti sudah memukul kepala adik paboku itu.

 

“Sudah selesai. Ayo berangkat.” Ucap Yoochun ketika selesai memasangkan dasi.

 

“Baiklah.. Ayo berangkat…” sahut Junsu.

 

Mereka pun mulai bersiap pergi. Yoochun lebih dulu naik ke atas mobil. Kemudian disusul oleh Junsu yang masih sibuk dengan tas bawaannya. Merekapun mengeluarkan mobil dan setibanya diluar Yoochunpun memacu gas menuju tempat yang mereka akan tuju. Akupun mengikuti mereka sepanjang jalan. Mereka pergi ke tengah kota. Sepertinya aku tahu kemana mereka akan pergi. Sekilas aku dengar pembicaraan mereka. Mereka ingin pergi ke gedung pertemuan yang biasa kami para kalangan atas menyelenggarakan acara. Setelah beberapa saat aku mengikuti mereka. Benar apa yang aku kira, mereka benar-benar menghadiri sebuah acara di gedung ini. Sebenarnya acara apa yang mereka hadiri? Aku tak sempat mengamati papan papan ucapan selamat yang ada di depan. Sepertinya ini acara pernikahan. Aku berusaha membaca pikiran seseorang. Mereka sibuk memikirkan seseorang yang sepertinya aku kenal. Tapi aku masih belum begitu yakin. Aku terus masuk kedalam ruangan tanpa ada yang menyadariku keberadaanku. Aku ikuti langkah kaki Junsu dan Yoochun hingga tiba di ballroom nya. Aku lihat wajah-wajah yang sebagian besar aku kenal. Ya ini pesta kami, maksudku pesta kalangan atas yang dulu pernah aku hadiri. Aku menjadi sedikit tidak konsentrasi untuk mengetahui siapa yang sedang menikah kali ini. Yang kupikirkan adalah memperhatikan Junsu dari kejauhan dan berusaha agar orang lain tak menyadari keberadaanku.

 

Tiba-tiba pembawa acara berdiri di atas panggung dan memberikan sedikit kata pembuka. Dengan sedikit joke-joke basi yang sering aku dengarkan serupa di acara-acara lain mampu membuat para tamu yang datang berpura-pura tertawa. Palsu.. Bagaimana mungkin mereka bisa tertawa pada joke yang tidak terlalu lucu dan sering diperdengarkan seperti itu. Dasar orang kaya. Aku tak menyangka aku pernah menjadi bagian dari mereka. Aku mengamati Junsu dan Yoochun yang berdiri tak jauh dariku. Tampak Junsu tertawa lepas. Pengecualian untuknya, tawa yang dia lakukan saat ini bukanlah tawa palsu seperti yang dipamerkan orang-orang lainnya. Junsu itu begitu polos dan pelupa. Tawanya asli dan tulus. Dia selalu tertawa dengan sangat bahagia dan  tulus setiap kali aku memberikan joke yang sama berkali-kali. Polosnya dongsaengku.

 

“Ya… Tiba di saat yang di nanti-nanti.. Sambutan dari mempelai pria dan mempelai wanita. Silakan Kim Heechul dan Kang Yebin. Beri tepuk tangan yang meriah.” Ucap pembawa acara yang sangat mengagetkanku.

 

Apa? KANG YEBIN?? Kang Yebin menikah? Benarkah apa yang aku dengar???

 

Kulihat seorang pria dengan rambut sebahu yang ditata rapi menggunakan kemeja dan jas putih dengan hiasan bewarna kuning keemasan di beberapa bagian naik ke atas panggung diikuti oleh  seorang wanita yang menggunakan gaun pernikahan yang bewarna senada dengan rambut yang digelung keatas mempertontonkan betapa jenjangnya lehernya.

 

“Yebin??” tanyaku di dalam hati.

 

Kulihat Yebin sangat cantik dengan gaun yang dikenakannya itu. Dia berjalan dengan menggandeng pria itu dengan anggunnya. Senyumannya yang tak berubah sedikitpun membuatku yakin bahwa aku tidak bermimpi. Wajahnya tampak bersinar dan bahagia malam ini. Dia menjadi putri tercantik malam ini dengan gaun pernikahannya itu.

 

Yebin?? Mengapa kau menikah begitu cepat? Bahkan kematianku baru saja sekitar satu bulannya. Lalu mengapa kau begitu mudahnya melupakanku seperti ini? Aku tahu tak akan mungkin akan ada kata bersatu kembali di antara kita untuk selamanya. Tapi setidaknya berpura-puralah bersedih dan merasakan kehillanganku lebih lama lagi. Tidak secepat ini. Yebin… Tak sedihkah kau akan kematianku? Tak merasa kehilangan kah kau atas kepergianku? Atau selama ini sebenarnya kau tak benar-benar mencintaiku tapi hanya mencintai hartaku?

 

Tak mampu aku lebih lama lagi berada di tempat ini. Melihat senyuman bahagianya membuatku sakit. Akupun melewati kerumunan orang-orang itu tanpa mereka sadari. Tak kupedulikan kembali orang-orang yang ada di sekitarku itu. Yang ada di otakku hanyalah ingin pergi sejauh-jauhnya dari tempat ini. Aku amat sangat kecewa dengannya. Aku tersu melangkah dengan cepat hingga aku tiba di depan pintu keluar tiba-tiba langkahku terhneti ketika mendengar.

 

“Jaejoong oppa..” ucap Yebin yang terdengar jelas di telingaku.

 

Apa? Dia memanggilku? Tak salah dengarkah aku? Akupun menoleh untuk untuk melihatnya. Kudapati dia tengah berdiri sambil menundukan wajahnya di sebelah Junsu. Tampak sang mempelai pria berada cukup jauh darinya tengah sibuk menerima ucapan selamat dari koleganya.

 

“Mianhe Junsu-ah..” ucap Yebin pada adikku.

 

“Sudahlah noonaa.. Janganlah kau menangis di hari pernikahanmu ini.” Jawab Junsu menenangkan Yebin.

 

Junsu? Ada apa denganmu? Kenapa kau justru membelanya seperti itu?

 

“Junsu.. Aku tahu semua orang pasti memandangku sebagai wanita murahan yang mengejar pria hanya demi kekayaannya. Bagaimana mungkin aku bisa secepat ini menikah dengan pemuda lain di saat semua masih di selimuti rasa berkabung atas kematian Jaejoong oppa.” Ujcapnya lirih.

 

Benar Yebin.. Kau benar-benar wanita murahan yang tak harganya. Betapa piciknya pikiranmu. Hingga sebegitu mudahnya menikah dengan pria lain.

 

“Sudahlah noonaa.. Walau mereka tak tahu yang sebenarnya, tapi kami keluarga dan teman dekat Jaejoong oppa mengerti pada alasanmu kenapa bertindak seperti ini.” Jawab Junsu.

 

Sebentar-sebentar… Alasan?? Mengerti?? Apa yang sedang mereka maksudkan??

 

“Kau tahu kan Junsu.. Aku tak lebih dari seorang anak yang tak bisa menolak perintah orang tuaku. Mereka menekanku. Mereka memaksaku. Jika ada pilihan aku tentu tak akan mau menikah dengan pria yang bahkan belum begitu aku kenal itu. Tapi sayangnya aku tak banyak pilihan. Yang paling membuatku menyerah dan menyetujui dengan perintah orang tuaku adalah ketika bersujud di depanku, memelas padaku untuk mau menikah dengan Kim Heechul. Aku sangat lemah ketika melihat mereka memohon seperti itu. Aku tahu ekonomi keluarga ku sedang di ujung tanduk. Apalagi aku masih mempunyai banyak sekali adik yang harus dibiayai. Aku tak bisa egois hanya memikirkan diriku saja. Jika aku memang egois aku pasti akan tetap sendiri untuk waktu yang lama. Mungkin selamanya. Aku sangat mencintai hyungmu Junsu.. Sangat..” air mata mulai mengalir dari kedua mata indahnya.

 

Ya Tuhan.. Benarkah yang aku dengar ini? Yebin.. Kau..

 

“Tenanglah noonaa.. Jangan kau rusak pernikahanmu dengan tangisan.  Jaejoong hyung pasti mengerti kondisimu, Dia pasti tak akan marah disurga sana.” Kata Junsu menenangkan Yebin.

 

Yebin… Maaf aku sudah berprasangka buruk padamu. Maaf karena kematianku membuatmu menderita. Maaf aku membuatmu harus memilih pilihan yang susah. Maaf aku membuatmu menikahi seseorang yang tidak kau cintai. Maaf andai saja aku masih hidup tentu keluargamu tak akan kesulitan ekonomi seperti ini. Maaf.. Maaf.. Maaf..

 

Mengapa aku harus mati dan meninggalkan kesedihan pada orang-orang yang aku sayangi? Mengapa takdir bertindak tak adil padaku? Mengapa ini harus terjadi padaku? Mengapa kesedihan dan kepedihan selalu mengikutiku? Bahkan ketika aku sudah mati sekalipun? Mengapa semuanya menjadi seperti ini? Kembalikan kehidupanku… Kembalikan kebahagianku.. Kembalikan semuanya… Kembalikan…

 

Akupun segera melangkah pergi dari gedung itu. Kulangkahkan kakiku entah kemana angin membawaku. Otakku terasa begitu penuh.. Dadaku terasa begitu sakit.. Nafasku terasa begitu sesak.. Hatiku terasa begitu perih.. Jantungku serasa ingin meledak ketika kesedihan dan kepedihan ini menghantuiku terus menerus. Hentikan… Hentikan.. Aku ingin kembali kemasa laluku.. Aku ingin kembali kekehidupanku yang dulu.. Aku terus hingga tanpa sadar aku tengah berada di atap sebuah gedung pencakar langit yang paling tinggi yang ada di Seoul. Kutatap langit malam yang tampak sangat suram dimataku.

 

Akupun meneteskan air mataku.

 

Aku tak lagi meminta kehidupan serba mewahku, aku tak lagi meminta rumah dan mobil mahal, aku tak lagi meminta uang dan popularitas, aku tak lagi minta kedudukan yang tinggi dan fasilitas-fasilitas kelas satu yang seperti aku rasakan dulu..

 

“Aku hanya ingin hidup bahagia bersama orang-orang yang aku sayangi dengan damai.”

 

“Tak lebih.”

 

“Hanya itu.”

 

“Yang aku inginkan bukanlah sesuatu yang rumit seharusnya, tapi kenapa semua terasa rumit sekarang.”

 

“Kenapa? Kenapa? Kenapa?”

 

“Tuhan…”

 

“Kenapa Tuhan?”

 

Aku terus saja menangis sendiri meratapi sambil terus mempertanyakan takdir yang aku alami saat ini. Betapa luluh lantaknya hatiku. Betapa perih mirisnya batin ini. Bahkan berteriakpun aku tak sanggup. Tubuhku bergetar seiring dengan tangisanku yang kian keras. Air mata terus mengalir di kedua belah pipiku.

Kupejamkan kedua mataku ini erat-erat. Kurasakan hembusan angin malam membelai wajahku lembut. Seketika muncul bayangan seseorang dalam benakku.

 

Jung Yunho?

 

Mengapa justru dia yang muncul dalam benakku saat ini??

 

Tampak senyuman tulusnya, tatapan hangatnya, suara lembutnya, wajahnya teduhnya. Kenapa dia yang harus muncul pertama dalam benakku ketika aku sedih seperti ini? Kenapa hanya dia yang mampu aku lihat saat ini? Ketika semua orang membuatku sedih karena mengingatnya, hanya dia yang yang mampu membuatku tenang saat mengingatnya. Apa artinya?

 

Kubuka kembali mataku. Sehampar kota Seoul terpampang di depanku. Sesaat aku terdiam.. kosong.. Jung Yunho?

 

Ya Tuhan.. Aku lupa dia tengah menungguku makan malam.

 

Kulihat jam tangan yang melingkar di pergelanganku. Jam menunjukan hampir tengah malam. Aishhhh.. Jangan-jangan dia benar-benar menungguku.

 

Secepat kilat kuturuni gedung itu, ku berlari dengan gilanya setibanya aku di bawah. Aku harus cepat tiba disana. Aku harus cepat. Semoga saja dia tidak bertindak bodoh menunggu ku sedari tadi. Aku terus berlari tanpa teringat bahwa aku baru saja mengalami masa-masa paling tertekan dalam hidupku.

 

[Yunho pov]

 

Jam sudah menunjukan pukul 8 malam. Aku sudah tiba di restauran ini sejak sejam yang lalu. Aku tak ingin membuatnya menunggu kedatanganku bahwa semenit sekalipun, maka aku memilih untuk tiba jauh lebih awal. Aku duduk di sebuah sudut restauran yang terletak di luar ruangan. Aku memilih meja yang dekat dengan kolam kecil dan lampu-lampu indah menghiasi sekelilingnya. Langit tampak cerah malam ini. Bisa kulihat bintang-bintang tersenyum malu-malu di atas sana. Wah dia pasti senang jika melihat tempat makan yang aku pilih ini.

 

“Selamat datang di restauran kami. Tuan ingin memesan apa?” tanya seorang pelayan padaku.

 

“Ah.. Belum.. Saya masih menunggu teman. Mungkin bawakan secangkir kopi saja.” Jawabku.

 

“Baiklah. Pesanan Anda akan segera datang.” Kata pelayan itu sambil meninggalkan mejaku.

 

Tak lama pelayan itu kembali dan menghidangkan kopi yang aku pesan. Ku seruput pelan kopi itu, karena terasa masih cukup panas. Kuamati serangkai bunga yang aku beli sebelum datang kemari. Suka kah dia dengan bunga yang akan aku beri ini? Aku tak sabar untuk segera memberikan bunga ini..

 

Jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Kenapa dia belum datang? Ahh.. Mungkin dia masih sibuk dengan urusannya. Dia sendiri kan sedang menemui saudaranya. Mungkin dia masih belum puas bertemu dengan saudaranya itu. Biarlah.. Aku tunggu sebentar lagi. Aku menunggu sambil mengamati pemilik meja sebelah yang berada tak jauh dariku. Di meja itu tampak sepasang kekasih tengah mengobrol hangat sambil sesekali memegang tangan satu sama lain.

 

“Ne saranga kau tahu malam ini kau cantik sekali.” Kata sang namja.

 

“Oppa gombal ahh..” sahut sang yeoja.

 

“Sungguh.. Oya, ayah kamu petinju ya?” tanya sang namja.

 

“Lho maksudnya?” tanya sang yeoja kebingungan.

 

“Iyaa.. Soalnya kamu berhasil men-TKO-kan hatiku.” Gombal sang namja.

 

“Ahh oppa… Gombal banget sih..” sahut sang yeoja.

 

Merekapun tertawa bersama. Sangat mesra.. Aku tersenyum melihatnya. Wajahku sedikit malu jika aku membayangkan Jaejoong dan aku melakukan apa yang sepasang kekasih itu lakukan. Jaejoong cepatlah datang..

 

Jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Sepasang kekasih yang berada di meja sebelah sudah pulang sedari tadi. Bahkan sudah digantikan oleh sebuah keluarga kecil dengan appanya, ummanya dan seorang gadis kecil. Tapi keluarga kecil itu tak terlalu lama berada di sana. Karena si gadis kecil sudah merengek meminta untuk pulang sedari tadi. Lucunya..

 

“Appa appa.. ayo pulang…” rengek gadis kecil itu.

 

“Sebentar sayang. Makananmu saja belum habis gitu.” Jawab sang umma.

 

“Ayooooo… Aku sudah ngantuk..” paksa gadis kecil.

 

“Benarkah kau mengantuk?” tanya sang appa.

 

“Iya appa..” jawabnya.

 

“Baiklah-baiklah.. Ayo kita pulang.” Sahut appa dan umma itu bersamaan.

 

Mereka bertigapun beranjak pergi dari meja mereka dan hendak pulang. Ketika mereka sudah pergi kuamati meja-meja lainnya. Banyak meja yang sudah tak berpenghuni. Aku rasa wajar. Jam sudah menunjukan jam segini. Kemudian seorang pelayan kembali mendatangiku.

 

“Sudah siap pesankah Anda Tuan?” tanya pelayan itu.

 

“Maaf belum. Bisa bawakan aku secangkir kopi lagi.” Pintaku padanya.

 

“Baiklah Tuan, pesanan Anda akan segera datang. Bisa saya angkat cangkir yang ini?” tanyanya.

 

“Silakan.” Jawabku.

 

Kemudian pelayan itu pergi sambil membawa cangkir kosong ku dan tak berapa lama kembali dengan membawa secangkir kopi padaku. Tapi dimana Jaejoong. Kenapa dia belum juga datang. Apakah ada macet di suatu jalan sehingga dia harus terlambat datang?

 

Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Semua meja sudah tak ada penghuninya lagi. Hanya mejaku dan para pegawai restauran yang mulai merapikan meja dan menyapu lantai. Aku rasa restauran ini hampir saja tutup. Pelayan yang tadi kembali menghampiri mejaku.

 

“Maaf Tuan.. Kurang dari setengah jam lagi restauran kami akan tutup. Mungkin Tuan ingin memesan sekarang?” tanyanya padaku.

 

“Maaf. Tapi teman saya belum juga datang. Bisa berikan saja bill saya.” Pintaku.

 

“Baiklah Tuan.” Jawabnya sambil pergi untuk mengambil bill yang aku minta.

 

Kemudian pelayan itu kembali dengan membawa bill mejaku. Akupun mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar dua cangkir kopi yang aku pesan.

 

“Maaf.. Bisa aku menunggu disini beberapa saat lagi?” tanyaku sedikit merasa sungkan.

 

“Tentu Tuan.” Jawabnya sambil tersenyum ramah dan meninggalkan mejaku kembali.

 

Setengah jam kemudian…

 

Beberapa bagian restauran sudah mulai dimatikan lampunya. Aku yakin itu adalah salah satu cara untuk mengusirku pergi dari sini. Sebenarnya aku masih ingin menunggu tapi sepertinya tak mungkin lagi. Restauran ini akan benar-benar tutup sebentar lagi. Kuambil rangkaian bungaku dan kulangkahkan kakiku menuju pintu keluar. Pelayan yang tadi tampak menungguku di depan pintu. Setibanya aku di depannya, dia membungkukan tubuhnya sambil berkata, “Terima kasih sudah mengunjungi restauran kami. Silakan datang kembali.” Senyumnya ramah.

 

Sekarang aku bingung harus berbuat apa? Aku sudah berjanji akan menunggunya. Tapi restauran sudah tutup. Akupun duduk di depan restauran itu tak jauh dari pintu masuknya. Aku berharap aku tak lagi diusir kali ini. Kududuk sambil terus mengamati jam tanganku. Waktu berjalan lambat sekali. Mana Kim Jaejoong? Kenapa dia belum juga datang? Apakah sesuatu yang buruk menimpanya? Atau dia lupa atau sesuatu? Kuamati mobil yan lalu lalang di depanku untuk mengobati rasa bosanku.

 

Jam sudah menunjukan pukul 12 malam. Banyak pegawai restauran ini yang sudah mulai pulang satu demi satu. Ketika mereka keluar dari dalam restauran, mereka menyapaku dengan ramah. Hingga akhirnya..

 

“Maaf Tuan.. Lampu depan tidak apa-apa saya matikan?” tanya seorang pegawai yang tersisa.

 

“Ohh.. Iya.. Tidak apa-apa. Silakan..” jawabku sungkan.

 

Kemudian lampupun mati. Pegawai itu kembali keluar dan hendak pulang.

 

“Apa Tuan perlu saya temani? Sepertinya dari tadi teman Anda belum datan juga.” Tanya si pegawai.

 

“Tidak usah. Terima kasih banyak” jawabku.

 

“Sebaikanya Tuan pulang saja. Sudah larut malam. Mungkin dia lupa.” Ucapnya yang membuatku sedih.

 

“Tidak apa-apa. Saya sudah berjanji menunggunya.” Jawabku sambil berusaha tersenyum.

 

“Baiklah kalau begitu saya pulang dulu.” Ucapnya sambil benar-benar beranjak pergi.

 

Dan sekarang tinggal aku dan rangkaian bunga yang ada di restauran ini. Mana Kim Jaejoong? Dia belum datang juga. Tapi entah mengapa aku yakin dia pasti datang. Pasti. Sabarlah sebentar lagi Jung Yunho. Sabar..

 

TBC

 

Comment yaaaa…

Nah lhooo Jaejoong lupa kan ada janji sama Yunhooo… Kan kasihan Yunho nungguin..

Tapi Jaejoong kasihan juga ding, gara-gara Yebin menikah..

Tungguin kelanjutannya ya,,, Bagaimana ni nasib Jung Yunho yang menanti Jaejoong sendirian di restoran??

See You..

 

SALAM YUNJAE!!

-Beth-

21 thoughts on “Bloody Love Chapter 25 – Tryst | @beth91191

  1. yeiyyy..yunjae moment.. nih si yunho udah suka ma jae y????hohoho junsu adik yg baik n imut…..yebin ex jae mnikah dgn heechul…????good g m jae…jae milik yunho….wkwkwkwkwk

  2. waaah yunho suka ya ama jae ?🙂 ihhiiiiiy …
    yaah kasih jae patah hati deh yebin nikah, ah gpp jae kan udah ada yunho yang jauh lebih baik dunia akherat buat jae !
    kasih juga ama yunho uadah nunggu jaejoong ga dateng”, vampir ternyata bisa lupa juga ya?
    terus kan jae vampir kan bisa lebih cepet, pake NOS’y dong jae !!!

  3. tuh kan jejung bego amat =,= yun nungguin tuh~~~

    ampe jamuran juga~~ noh~~~

    ahahahhahah mantannya jejung kawin???? rasain! kwkwkwkwkw
    ada hikmah dibalik musibah… santai jae…
    yun disampingmu slalu slamanya.. *yey*

  4. yesung demen banget ngingetin jae buat minum darah, udah kaya emak-emak ngingetin anaknya minum obat, harusnya yesung langsung bawain darahnya aja, biar jae langsung minum, hahaahaha <—- apa sih??

    si hyebin nikah, sorak-sorak buat yunho, udah saatnya buat jae melupakan kisah cinta masa lalunya.. chingu kapan jae ketemu junsunya??

  5. jae tega bgt sich ngelupain janjiny ma yunho… yunho setia bgt sich nunggu jae dari jam 8 dan sekarang restoranny dah tutup…

  6. CommentQ dipart24 eror..Aish..
    Gpplah..

    .Disni q salut bgt ma sunggie,dy trnyta sllu ngingetin jaemom bwt mnum drah..
    Kn jaemom vampire mula..
    Jd blom tau jk vampire g mnum drah bkal lemas..
    .
    .
    Tp tnang jaemom..
    Mnum drah kn g hrus dr mmbnuh mnusia lngsung,bsa mnt pmk(plang mrah korea#plak ngawur) or mnum drah hewan kn..jd biar jaemom g mrasa brslah..

  7. Kasian banged,yunjae di chapl ini..
    Jaejoong yang pengen balik ke masa lalunya kunpul lagi sama adik temen temen pacar and yunho yang berjam jam nungguvjaejoong tapi ga dateng dateng..
    Tapi paling miris ngeliat jaejoong

  8. Sabar yunho sabaaaarrrrrr…..
    Jj pasti dateng deh, kalo misal dia gak dtg. Aku yg dtg kekeke~

  9. waah lebih panjang dari biyasanya~🙂 yaah jdi makin penasaran jga jadinya! keke xDD hahaha jgn2 namja direstoran tadi itu andre oppa lagi ngegombal wkwk bisa aja nih authornya nyelipin crita lucu ditngah2 gitu xDD

  10. Bersyukur chunnie bae banget sam̶̲̅α̇ Suie…semoga langgeng ýª yoosu couple^_^

    Ýanƍ nikah mantan cewe’a jae…kirain bener dy cewek matre…Q tadi ųϑªђ seneng jae patah hati jadikan jae mau nrima yunh…eehh tau’a karna keada’an dy terpaksa kawin…trus kapan dong jaema yunpa bersatu’a??? Penasaraaaaaaaaaaaaaaan………haaayaaah

  11. Ummaaaaaaa aish kasian appa sendirian ngguin umma. Knp umma lupa coba. Keasikan ngikutin su ie yah.

  12. ommo
    Yebinnya nikaaah euy
    dan Jae jadi sedih saampe lupa janjinya sam Yun
    aigooo ….

    kasian Yun nunggu sampe larut malam gitu.
    Jae cepatlah dataaaang …..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s