Bloody Love Chapter 27 – Out to the Town | @beth91191


Anyeonghaseyooo….

Kalian bakal capek meihat banyak ke-so-sweet-an hubungan yunjae couple di chapter ini..

Soooo Sweeeeetttttttttttttt…

Langsung baca aja ya.. Yang penting komen yang banyak ya ntar..

🙂

 

Title        : Bloody Love

Author   : Beth

Chapter : 27 – Out to the Town

Genre    : Romance, Action, Yaoi

Rate       : 21+

 

Chapter XXVII – Out to the Town

[Jaejoong pov]

Setelah membersihkan dan merapikan restauran, kami bersiap untuk pergi berjalan-jalan ke kota seperti keinginan Yunho.  Saat ini aku tengah memilih-milih pakaian yang akan aku gunakan. Cuaca hari ini cukup berawan, matahari bersinar malu-malu, suhu udara terasa sejuk. Sebaiknya aku kenakan pakaian yang sedikit tebal. Aku yakin suhu udara akan semakin dingin ketika sore menjelang. Kuambil sebuah kaos lengan panjang dan kutempelkan ke tubuhku sambil menatapnya ke cermin.  Ahh.. Tidak.. Terlalu biasa. Kuambil kembali sebuah kemeja lengan pendek bewarna hitam. Kuamati pakaian yang terlalu formal ini. Tidak tidak tidak.. Terlalu suram. Kuambil lagi sebuah kaos berleher v dan berlengan pendek bewarna coklat tua. Sepertinya lebih baik. Kukenakan kaos itu dan kulengkapi dengan jaket yang biasa aku gunakan, yaitu jaket bewarna coklat gelap. Warna pakaian yang gelap membuatku kulitku seakan tampak lebih cerah saja.

Kupandangi wajahku di dalam cermin. Tidak terlalu pucat. Matakupun tampak lebih hangat. Terus kuamati seluruh bagian wajahku sambil kutata-tata rambutku dengan jariku. Kemudian mataku tertuju pada bibirku. Begitu merahnya bibir ini. Kuusap lembut permukaannya dengan kulit jari telunjukku. Lembut…. Sejak kapan aku memiliki bibir sebagus ini? Kuberikan beberapa pose senyuman dengan bibir ini sambil melihat-lihat, senyuman seperti apa yang tampak paling indah dari ku. Seperti ini? Seperti ini? Atau seperti ini? Kelihatannya senyumanku sama saja.

“Sama-sama indah, Jae..” sebuah suara mengagetkanku.

Kulihat sosok yang tengah berdiri di belakangku memperhatikan bayanganku yang ada di dalam cermin.

“Hyaaa.. Jung Yunho.. Sejak kapan kau disini?” tanyaku sambil mempoutkan bibirku.

“Yang seperti itu juga indah.” Katanya tidak menjawab pertanyaanku.

“Kau tidak mendengar pertanyaanku ya?” tanyaku sambil berbalik dan menatapnya.

“Dengar kok.. Aku sudah berada di sini sejak kau memilih-milih pakaian. Tak sadarkah kau ada aku disini? Aisshhh.. Benar-benar tidak peka.” Ucapnya menyindirku.

“Ckk!! Aku itu sangat peka kecuali pada mu.” Jawabku tak mau kalah.

“Kenapa hanya aku yang tidak?” tanyanya.

“Entahlah.” Aku menggeleng dan kembali menatap cermin.

“Mungkin karena aku  spesial.” Ucapnya serius.

“Spesial? Spesial seperti apa yang kau maksud?” tanyaku menanggapi kata-katanya.

“Mmmm… Mungkin spesial yang dimaksud tampan, menarik, berkarisma?” ucapnya pede.

Benar dugaanku. Dia tak mungkin bicara serius.

“Ya.. Ya.. Ya.. Terserah kau Jung Yunho.. Tapi aku lapar. Jika kau tidak segera cepat aku akan makan sendiri dan aku tak mau lagi kau ajak makan diluar.” Akupun meninggalkannya menuju lantai bawah.

“Nae.. Mianata.. Aku hanya bercanda. Ayo berangkat.” Dia berjalan mendahuluiku dan menggandengku berjalan hingga tiba di depan mobilnya.

Setibanya di depan mobil, dia membukakan pintu untukku dan mepersilakan aku masuk kedalamnya. Mobil sedan keluaran 80an dengan warna biru tua. Mobil Jung Yunho memang sedikit butut tapi masih bisa dikategorikan layak digunakan. Body mobilnya masih tampak bagus dan mesinnya juga tidak mengkecewakan. Tapi memang bentuknya sudah ketinggalan jaman. Bentuk body mobil seperti apa yang bisa diharapkan dari mobil keluaran 80an?

“Hyaaa Jung Yunho.. Aku bukan orang buta tak perlu kau gandeng dan kau bukakan pintu segala.” Ucapku sambil masuk ke dalam.

Dia tak menjawab kata-kataku. Ditutupnya pintu dan diapun berjalan menuju kursi pengemudi. Dibukanya pintunya dan masuklah dia.

“Aku hanya peduli padamu Jae.” Jawabnya sambil menutup pintu dan menengok ke arahku dan tersenyum.

“Tapi..” belum selesai aku bicara.

“Tapi kau tak butuh peduliku bukan? Nae.. Aku tahu itu. Tapi tak selamanya yang kau anggap butuh atau tidak butuh adalah yang terbaik untukmu. Dulu aku mengira untuk mengelola tempat makan kecil ini, aku tidak membutuhkan pegawai. Tapi ternyata setelah kau datang dan bekerja di tempat makan ini, aku rasa semua pekerjaan jauh lebih ringan jika aku memiliki pegawai. Begitu juga sebaliknya. Dulu sewaktu aku kecil,aku sempat mengira, bahwa aku membutuhkan sebuah keluarga, tapi begitu aku benar-benar mendapatkan sebuah keluarga, aku justru merasakan suatu hal yang menyakitkan yang tidak bisa aku lupakan seumur hidupku.” Ucapnya sambil menerawang jauh.

Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah sedih.

“Yunho-ah..” desahku ikut merasa apa yang sedang ia rasakan.

Kulihat dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.

“Sudahlah.. Ayo sekarang kita pergi kemana dulu ya? Menurutmu kemana?” tanyanya tiba-tiba ceria.

“Mmmm… Aku ikut saja.” Jawabku sambil terus menatap wajahnya.

“Bagaimana kalau kita mulai dengan makan pagi, ahh tidak makan siang karena hari sudah mulai siang, tapi ahh tidak ini belum terlalu siang untuk makan siang . Terserah apa namanya. Ayo kita makan. Bukannya kau lapar tadi?” tanyanya mengingat kata-kataku tadi.

“Hemm..” aku mengangguk.

“Baiklah.. Aku rasa bebek Peking di siang hari cukup lezat.” Diapun menyalakan mobilnya..

Brummm… Brummm… Brummmmmmmm..

Mobilnya tak berhasil menyala walau sudah beberapa kali coba dinyalakan.

“Ada apa dengan mobilmu?” tanyaku.

“Entahlah.. Kemarin baik-baik saja.” Jawabnya.

“Sini aku cek. Siapa tahu aku bisa memperbaikinya.” Ucapku sambil keluar dari mobil.

Aku lumayan ahli dalam mesin permobilan. Mulai dari mobil tua yang sudah langka hingga mobil keluaran terbaru, sudah pernah aku otak atik mesinnya. Aku sempat bergonta-ganti mobil hanya sekedar untuk mencoba bagaimana rasa mengendarai mobil-mobil itu. Koleksi mobilku dulu sebelum aku menjadi vampir, sempat menyentuh angka sembilan mobil. Sampai-sampai aku kebingungan mau disimpan dimana, dan akhirnya akupun sering menitipkannya di rumah Donghae atau rumah teman-temanku lainnya. Tapi jumlah mobilku yang terakhir tinggal tiga mobil. Itupun salah satunya milik Junsu.

Kemudian kudekati kap mobil itu. Kulihat Yunhopun ikut keluar dari dalam mobil.

“Tidak usah.. Tidak usah.. Akan memakan waktu lama. Kita naik bis saja.” Katanya sambil menarikku.

“Tenanglah. Aku ahli dalam hal otomotif.” Jawabku yakin.

“Iyaa.. Mungkin kau memang ahli otomotif. Tapi kau sudah rapi-rapi dandan, sayang sekali jika harus menyentuh yang kotor-kotor lagi. Ayo tinggalkan saja mobil tua ini. Kita pikirkan lain kali. Sekarang kita naik bis saja. Lagipula kau kan sudah lapar.” Dia menarikku untuk berjalan menuju pemberhentian bis terdekat.

“Naik bis? Tapi aku tidak pernah.” Ucapku ragu.

“Benarkah? Kau pasti bercanda.” Jawabnya sambil tersenyum geli.

“Sungguh..” jawabku jujur.

“Kalau begitu. Ayo aku temani naik bis untuk pertama kalinya. Bersiaplah menikmati petualangan dengan menggunakan bis.” Ucapnya sambil terus menarikku.

Kukernyitkan dahiku.

“Baiklah.. baiklah.. Tapi lepaskan tanganku.” Pintaku padanya.

Dia pun melepaskan tangannya dari tanganku. Diapun berjalan di depanku saat ini, namun beberapa kali kulihat dia sering menengok ke belakang melihat ke arah ku, seakan-akan takut kalau aku tak berada di belakangnya.

Setibanya kami di pemberhentian bis, kami tak perlu menunggu lama. Bis sudah berhenti di depannya, sedang menunggu para penumpang masuk. Kami tak ingin ketinggalan bis. Kamipun sedikit berlarian di sepanjang jalan dan segera menaikinya. Setelah kami naik, pintu bis pun tertutup. Untung saja masih sempat. Tapi lelah juga berlarian seperti tadi. Kemudian Yunho mulai mencari tempat duduk untuk kami berdua. Matanya menyusuri kursi-kursi penumpang dari depan ke belakang.

“Itu.. Itu disana..” ucapnya sambil menunjuk sepasang kursi yang masih kosong.

Dengan cepat kamipun duduk di tempat itu. Nafas kami sedikit berburu seiring dengan detak jantung kami yang meningkat. Kulihat Yunho cukup kelelahan karena harus berlarian tadi. Kami saling melihat ekspresi kelelahan kami. Lucu sekali wajahnya yang kelelahan itu dengan tetesan keringat membasahi dahinya. Kamipun tertawa bersama. Menertawai polah tingkah kami yang nyaris saja tertinggal bis. Ini pertama kalinya aku bisa tertawa lepas setelah kejadian itu. Tak menyangka begitu melegakannya bisa tertawa lagi. Gomapta Jung Yunho.

Bis terus melaju, menuju pusat kota. Jalanan sedikit berbeda ketika kau melihatnya dari dalam bis. Sepertinya jalan tampak sedikit lebih sempit dari biasanya. Akupun juga bisa melihat kendaraan-kendaraan lain tampak lebih kecil dan pendek. Ini benar-benar pengalaman pertamaku naik bis. Aku selalu menyangka bis adalah kendaraan umum yang sangat penuh, ramai, kotor dan berbagai jenis orang naik diatasnya yang mana kadang orang itu bau, berisik, dan bayangan-bayangan buruk lainnya tentang orang-orang itu. Tapi ternyata aku salah, bis di Korea tidaklah seburuk itu, ini jauh lebih nyaman di banding dugaanku.

Beberapa menit kemudian, Yunho mengajakku untuk turun dari bis. Kami membayar dan kemudian turun di salah satu ruas jalan. Kuamati sekitar. Sepertinya aku tahu daerah ini. Sederetan pertokoan berjajar rapi di sepanjang jalan. Ada toko pakaian, toko kue, salon kecantikan, toko buku, toko musik, cafe dan restauran-restauran.

“Kita sudah sampai?” tanyaku padanya untuk memastikan.

“Iya.. Duck House kan ada di ujung sana.” Ucapnya sambil menunjuk salah satu ujung dari jalan ini.

“Lalu kenapa kita berhenti disini? Tak berhenti di depan sana?” tanyaku yang melihat jarak dari tempat kita berdiri dan restauran itu cukup jauh.

“Ya inilah arti sebenarnya dari jalan-jalan. Arasho?” diapun menarikku untuk mulai berjalan.

Akupun mengikutinya melangkah melewati toko-toko. Toko pertama yang kami lewati adalah toko CD. Tanpa banyak bicara Yunhopun langsung masuk ke dalam. Aku hanya berjalan pelan di belakangnya. Kuikuti dia berputar mengelilingi rak-rak CD itu. Sebenarnya aku ingin membeli beberapa CD yang belum sempat aku beli dulu. Tapi aku pikir, aku tak memiliki banyak waktu untuk mendengarkannya dan tak ada banyak sisa uang untuk membelinya. Padahal pembelian CD adalah bagian rutinitas belanjaku dulu. Kulihat dari kejauhan poster yang menempel di dinding sana.

“Kau tidak ingin beli?” Tanya Yunho sambil melihatku sekilas dan kembali matanya menyusuri rak-rak.

“Memang kau punya CD player?” Tanyaku.

“Mmmmm.. Aku rasa punya. Tapi sudah lama aku tak menggunakannya.” Jawabnya.

“Benarkah??” Mendengar jawabannya itu membuatku mulai tergoda untuk membeli CD barang satu keping saja.

Terus kuamati poster CD itu. Kuamati tema albumnya, kuamati model pakaiannya yang dikenakan grup itu. Aku sudah menduga grup itu pasti akan membuat tema yang luar biasa kali ini. Bisa kulihat dari desain poster, pakaian dan setting mereka pada poster itu tampak luar biasa. Kuamati terus tanpa sadar Yunho sudah tak berada di dekatku.

“Hey Jae.. Kemarilah..” Panggil Yunho dari dekat tempat CD grup yang aku suka tadi.

“Haa??” Tanyaku sambil berjalan mendekatinya.

“Coba dengarkan..” Dia menyodoriku headset yang terhubung dengan player.

“Lagu apa?” Tanyaku.

“Dengarkan saja..” Jawabnya sambil memakaikan headset itu di telingaku.

Musikpun berbunyi. Dengan cepat kuketahui lagu yang diputar adalah lagu dari album terbaru grup yang kusuka tadi. Tanpa sadar aku ikut menyanyikannya beberapa saat dan Yunho melihatiku yang tengah menyanyi itu. Kenapa lagu-lagu di albumnya kali ini membuatku mudah sekali untuk mengikutinya. Kemudian aku sadar kalau semakin aku mendengarkannya, semakin ingin aku membelinya. Hentikan sekarang Kim Jaejoong.. Sebelum kau benar-benar suka dengan albumnya dan akhirnya membeli Cdnya yang mana tidak kau perlukan.

“Sudah ah..” Kataku sambil menggantungkan kembali headsetnya dan melangkah pergi.

“Kau tidak membelinya?” Tanya Yunho.

“Tidak.. Kalau sudah selesai ayo jalan lagi. Aku tunggu di luar.” Ucapku sambil melangkah keluar toko itu.

Kulihat Yunho tidak mengikutiku keluar. Biarlah. Dia pasti masih ingin melihat-lihat CD. Akupun menunggu dia selesai dengan melihat-lihat toko elektronik di sebelah toko CD dari luar kacanya.

Wahhh.. Liatlah TV LED 3D itu. Bentuknya sungguh keren. Hasil gambarnya juga tajam dan tampak seperti asli. Wahhh.. Bagus pasti jika ditaruh dikamarku untuk menggantikan TV LCD yang ada. Maksudku kamarku dulu waktu masih menjadi manusia. Kuralat kata-kataku. Kamarku sekarang di rumah Yunho itu jangankan TV LCD atau TV ultra slim apalagi TV LED 3D, tapi yang ada adalah TV sedikit kuno dan ukurannya hanya 14″. Kamar sekecil itu jika menggunakan TV besar-besar pasti akan memakan banyak tempat. Kecuali kalau dia mau memasang TV LCD atau minimal TV ultraslim. Atau TV yang dipasang di dinding boleh juga. Tapi.. Ahh.. Bicara apa aku ini?? TV TV TV?? Mau beli TV dari mana? Sayang uangnya untuk beli TV, lebih baik untuk membenarkan mobilnya yang rusak itu.

“Jaejoong..” Panggil Yunho yang tiba-tiba sudah di sebelahku.

“Kau sudah selesai?” Tanyaku.

“Ini untukmu..” Ucapnya sambil menyodorkan sebuah kantong plastik padaku.

“Apa ini?” Tanyaku lagi.

“Lihat saja..” Ucapnya sambi berjalan pergi.

Kubuka kantong plastik itu. Kudapati sebuah kotak CD di dalamnya. Kuamati covernya. Hyaaaaa… Grup itu… Wahhh… CD grup itu ada di tanganku saat ini. Aku memilikinya juga… Senangnyaaaaa… Wahhhh… Sebentar sebentar..

“Jung Yunho.. Kau membelikannya untukku?” Tanyaku sambil berusaha mengejarnya.

“Iya. Kau seperti nya suka grup itu.” Jawabnya sambil terus berjalan.

“Gomawo ne. Tapi potong saja harganya dari gajiku.” Kataku sambil mengamati covernya.

“Berhentilah mempermasalahkan gajimu Jae.” Ucapnya tiba-tiba menghentikan langkahnya.

“Tapi aku tak mau berhutang padamu.” Kataku.

“Semua yang aku berikan selain gajimu, adalah hadiah atau anggap saja bonus untukmu dariku. Jadi jangan anggap kau berhutang padaku. Arasho?” Tanyanya dengan ekspresi sedikit serius.

“Arasho.. Arasho.. Gomawo.. Jadi kalau begitu jangan beri aku hadiah atau bonus lagi. Aku tak enak padamu.” Jawabku sambil kini melangkah pergi meninggalkannya.

“Itu salahmu sendiri..” Ucapnya sambil berusaha mendahului langkahku.

“Salahku katamu?” Tanyaku sambil memegangi tangannya untuk menghentikan langkahnya.

“Iya salahmu. Karena hanya dengan melihatmu, membuatku ingin membelikan dan memberikan segalanya untukmu, bahkan jika kuberikan bumi dan seluruh isinya sekalipun, masih terasa kurang untukku.” Jawabnya dengan wajah serius.

Apa yang barusan dia katakan?? Sepertinya dia mulai menjadi sisi anehnya mulai muncul kembali. Wajahku pasti seperti kepiting rebus saat ini. Perkataannya membuatku malu. Memalukan..

“Hentikan omong kosongmu.” Kataku sambil kembali berjalan,berusaha agar wajahku tak terlihat olehnya.

“Aku sungguh..” dia berusaha mengejarku.

Aku tak mendengarkan kata-katanya dan terus berjalan. Dia terus mengejarku dan berbicara entah apa yang tidak lagi aku dengarkan. Dia terus berbicara hingga tiba-tiba kudengar dia terdiam. Ternyata dia terdiam ketika kami melewati sebuah toko pakaian. Dia berhenti dan tidak lagi mengejarku. Dia mengamati dengan serius pakaian pada patung manekin yang dipamerkan di kaca depan toko itu. Dilihatnya dengan sangat cermat sebuah pakaian berleher v berlengan pendek dengan bahan wol hasil rajutan.

“Kalau kau suka belilah.” Ucapku padanya sambil ikut melihat pakaian itu.

“Ani… Anieyo.. Ini bukan untukku. Akan lebih bagus jika kau yang pakai. Kau mau? Kalau kau mau, aku belikan.” Ucapnya antusias.

“Andwe andwe andwe.. Tidak usah. Cukup CD ini. Kau jangan belikan aku apa-apa lagi.” Ucapku sambil kembali mengajaknya berjalan agar dia tidak membeli-beli untukku lagi.

Dia berusaha menghentikan langkah kami dan berbalik menarikku masuk ke dalam toko pakaian itu.

“Ayolah Yunho.. Aku tidak butuh baju itu..” ucapku memaksa.

“Anieyo. Kau bagus dengan baju itu. Cobalah. Kalau memang sesuai akan aku belikan untukmu.” Katanya sambil mendekati salah seorang pegawai toko itu.

“Yunho.. Andwe..” aku sedikit berteriak.

Tapi dia tak menggubris kata-kataku. Dia terus berjalan mendekati pegawai toko itu.

“Noonaa… Bisa ambilkan pakaian yang di pamerkan di kaca depan itu untuk namja di sampingku ini..” pintanya pada pegawai itu.

“Tidak usah noonaa.. Kami tidak ingin membeli apa-apa. Ayo kita segera ke tempat makan saja Yunho.” Ajakku pada Yunho.

“Tidak tidak tidak.. Ambilkan saja noonaa..” pintanya pada pegawai itu lagi.

“Baiklah. Tunggu sebentar ya.” Jawab pegawai itu sambil mendekati pakaian-pakaian yang di gantung di salah satu sudut toko dan kemudian membawa pakaian seperti apa yang diminta Yunho.

“Ini Tuan..” kata pegawai itu sambil menyerahkannya pada Yunho.

“Berikan pada nya noonaa..” sambil menunjuk ke arahku.

“Silakan di coba dulu Tuan.” Ucapnya sambil menyerahkan padaku.

“Tidak.. Tidak.. Aku tidak mau coba.. Kau saja yang coba Jung Yunho.” Kataku sambil melempar pakaian itu pada Yunho.

“Pakaian ini cocok untukmu. Ayo cepat dipakai saja. Atau mau aku pakaikan. Ayoo.. Ayoo.. Sini aku pakaikan..” dia berusaha menarikku masuk ke dalam kamar pas.

“Hyaaa.. Jung Yunho.. Mau mati kau..” pekikku berusaha melepaskan diri darinya.

Kulihat sekilas pegawai di yang sedari tadi melihati kami, tengah menahan tawanya.

“Memalukan Jung yunho..” ucapku dengan wajah yang sudah sangat memerah.

“Kalau tidak begini, kau tidak akan mau coba..” ucapnya sambil terus menarikku ke dalam kamar pas.

Setelah kami masuk ke dalamnya, dia segera menutup tirainya. Kamar pas itu sangat kecil, seharusnya kamar pas ini hanya cukup untuk satu orang, tapi karena Yunho menarikku masuk ke dalamnya juga, membuat kamar pas ini terasa begitu sempit.. Saking sempitnya tubuh kami berdua nyaris berhimpitan. Aku berusaha memundurkan tubuhku semundur-mundurnya agar jangan sampai bersentuhan dengannya.

Kulihat ekspresi Yunho sedikit berubah. Kali ini dia tak lagi berbicara. Dia menatapku dengan pandangan penuh arti. Ditatapnya wajahku lekat-lekat. Apa yang sedang dia pikirkan? Hyaaaa… Jantungku berdebar saat ini. Bagaimana ini? Kenapa aku justru mematung dan tidak berbuat apa-apa? Aduhh aduhhh…  Apa-apaan sebenarnya ini..

“Mmmm…” ucap kami bersamaan.

“Sebaiknya aku keluar..” ucap Yunho dengan ekspresi tak kalah salah tingkah denganku.

“Ya.. Sebaiknya kau keluar. Biar aku coba sendiri pakaian ini.” Kataku sambil mengalihkan pandangan dari wajahnya.

Yunhopun segera keluar dari kamar pas itu dan menungguku mencoba pakaian di luar. Aduhhh… Ada sebenarnya denganku? Kenapa kadang aku berdebar saat bersamanya, kadang aku merasa sangat nyaman dan hangat, kadang aku merasa malu dan salah tingkah sendiri. Ada apa ini? Apa yang salah padaku? Ani ani ani.. Apa yang salah padanya?? Memalukan.. Ichhh….

Kemudian aku teringat pada pakaian yang sedang kupegang ini.  Kuamati pakaian pilihan Yunho itu. Sepertinya bahannya bagus. Halus dan hangat. Cocok untuk musim dingin seperti ini.

Lalu kulepaskan jaketku dan kaosku,serta kugantungkan di dinding kamar pas. Kukenakan pakaian ini dan ku lihat tubuhku yang mengenakan pakaian pilihan Yunho. Kulihat kulitku yang bewarna putih sangat cocok sekali dengan warna coklat susu pakaian ini. Bahannya pun terasa lembut di tubuhku. Dan satu lagi yang penting. Pakaian ini begitu hangat.

“Bagaimana Jae?? Sudah kau coba??” tanyanya dari luar sana.

Akupun segera membuka tirai kamar pas dan berjalan selangkah keluar untuk menunjukan pakaian yang sudah kukenakan itu. Kulihat dia tengah sibuk melihat pakaian yang digantung tak jauh dari kamar pas ini.

“Yun..” panggilku padanya.

Diapun menoleh ke arahku. Dia melihat ke arahku tajam beberapa saat tanpa berkedip dan berbicara sepatah katapun. Dia sepertinya terpesona denganku. Aku hanya tersenyum kecil merasa geli dengan ekspresinya yang berlebihan itu ketika melihatku.

“Sudah puas melihatiku?” tanyaku yang membuatnya kembali tersadar.

“Kau cantik Jae..” ucapnya tiba-tiba.

“Cantik?? Tidak salah bicara kau ini?” tanyaku keheranan dengan perkataannya.

“Iya cantik.. Lebih cantik dari wanita manapun yang pernah aku temui.” Ucapnya masih seperti terhipnotis karena melihatku.

“Otakmu sepertinya sudah tidak beres Jung Yunho. Aku ini namja.” Jawaku sedikit ketus dan kembali menutup tirai kamar pas.

Hyaaaa Jung Yunhooooo…… Kupegang dadaku yang tiba-tiba terasa sakit dibuatnya. Dasar Jung Yunho pabo.. Selalu saja melakukan hal-hal konyol yang membuatku malu. Dengan cepat kubuka baju itu. Dan kukenakan kembali pakaianku. Kupandangi wajahku kembali di cermin. Kuamati mata, hidung, bibir, dan lekak-lekuk pipiku. Cantik?? Benarkah aku cantik? Lihatlah.. Rona malu ini sepertinya membuatku kian cantik. Kutatap seksama wajah ini. Bagian wajah mana yang membuat wajah ini bisa menjadi cantik sebenarnya? Mataku yang membulat? Hidungku yang ramping mancung? Bibirku yang kecil dan merah? Atau karena kulit wajahku yang cerah? Sejak kapan wajahku menjadi seperti ini? Semakin aku mengamati wajah ini di cermin, semakin aku tak mengenalinya. Rasanya wajahku tak sesempurna ini dulu. Aissshhhh… Bicara apa aku ini?? Hentikan.. hentikan.. Sepertinya otakku sudah teracuni oleh virus yang disebarkan oleh Yunho. Cepat-cepat kuraih pakaian yang baru saja aku coba itu dan tanganku hendak membuka tirai kamar pas. Namun tiba-tiba ada suatu perasaan yang menahannya. Aku malu jika harus bertemu dengannya. Bagaimana ini? Aduhhh.. Kenapa tiba-tiba aku jadi malu begini.. Kembali kulihat wajahku di cermin dan berkata pada diriku sendiri. Buat apa kau malu Kim Jaejoong?? Kau tidak melakukan apa-apa. Seharusnya yang malu adalah dia yang sudah memujimu terang-terangan di depan umum seperti barusan. Ya.. Aku tak boleh malu..

Kemudian dengan perlahan kubuka tirainya. Kulihat keluar dengan sangat hati-hati seakan-akan aku berjaga-jaga, jika dia masih berada disana akan aku tutup lagi tirainya. Tapi sepertinya itu hanya ada di benakku saja. Begitu aku melihat sosoknya, seketika aku menjadi kaku. Tubuhku tak mampu mundur kembali maupun maju ke depan.

“Benarkan pakaian itu cocok untukmu.” Ucapnya yang membuatku kembali tersadar.

“Ahh.. Iya..” aku mengangguk pelan dan tak berani menatap wajahnya lagi.

“Noonaa.. Kami membeli yang ini.” Ucapnya sambil mengambil pakaian itu dari tanganku dan menyerahkannya pada pegawai yang juga menungguiku di depan kamar pas.

Diapun berjalan menuju kasir. Akupun mengikutinya perlahan di belakangnya dengan masih menatap ke lantai. Setiba di depan kasir, di keluarkannya dompetnya. Kuperhatikan isi dompetnya. Tampak uang-uang terselip rapi dengan jumlah yang cukup banyak di dalamnya. Sepertinya hari ini dia sengaja membawa uang cukup banyak. Jangan-jangan dia memang berniat membelikan aku macam-macam hari ini.

Setelah dia menyelesaikan pembayarannya, di serahkannya tas kantong plastik berisi pakaian tadi padaku.

“Aku tak bisa menerimanya Yunho.” Ucapku pelan.

“Sudahlah ambil saja..” jawabnya tak mempedulikan kata-kataku.

Aku hanya terdiam dan tak mengambil kantong itu dari tangannya.

“Kenapa? Kau tak mau lagi menerima pemberianku?” Tanyaku.

Aku masih menatapnya tanpa suara.

“Jae..” Pintanya padaku untuk menerimanya.

“Baiklah baiklah.. Aku akan menerimanya. Tapi lain kali akan aku belikan juga sesuatu untukmu.” Jawabku sambil menerima kantong itu.

“Dengan senang hati..” Jawabnya sambil tersenyum puas.

“Ayo Yun.. Kita jangan lagi masuk ke dalam toko-toko itu. Kita langsung ke Duck House saja.” Kataku.

“Tapi kita belum melihat-lihat toko buku, toko kue, toko jam dan lain sebagainya.. Kita kan memang sedang jalan-jalan.” Ucapnya tak terima.

“Sudah cukup.. Kalau kau mengunjungi toko-toko itu, kau pasti akan membeli barang lagi di toko itu dan memberikannya padaku dengan alasan barang itu sesuai denganku atau aku suka dengan barang itu. Terus aku akan menolaknya dan kau akan tetap memaksaku menerima. Benar bukan??”

“Mungkin.” Jawabnya.

“Oleh karena itu kita langsung ke restauran saja..” Aku menyeretnya dengan cepat agar dia tidak lagi tolah-toleh ke toko-toko itu lagi.

TBC

 

Gimana?? Gak boong kan kalo chapter ini so sweet??? Aku iri sama Yunjae… I-R-I…….!!!!!

Berdoalah semoga Yunjae di dunia nyata bisa se-so-sweet mereka yaaa…

Kasihan mereka sekarang nggak bisa memamerkan kemesraan mereka di depan media seperti jaman berlima dulu.. Tapi tenang aja.. Mereka masih sering ketemu kok.. Percayalah..

Komen dan tunggu kelanjutannya yaa..

Gomawo🙂

 

Salam Yunjae❤

 

-Beth-

29 thoughts on “Bloody Love Chapter 27 – Out to the Town | @beth91191

  1. he.eum. chapter ini emang so sweet banget. aku baca sampe senyum-senyum sendiri. hehe
    oh iya. kenapa Yunpa gak beliin Jaejoong TV LED 3D? bukannya Jae juha menginginkannya ya?
    Chapter selanjutnya kapan nih? sudah gak sabar baca chap selanjutnya ^^

  2. so sweet…snengnya lhat mreka akur n mesra…duh jae kok g ngrasa sih yunho tuh cinta ma u…aihaihaih…lemot nih jaenya

  3. saya bingung thor, sebenernya yunho itu miskin apa kaya? apa gara2 udah kepelet sama pesona jaejoong ya ampe yunho jadi kaya mendadak gitu, apa aja dibeliin buat jae ckckckck …
    mmm kalo adegan sweet’y yujae terus kayanya ga bakalan bosen bosen deh thor !🙂

    • apa sih yg gak dikasih yun buat jae??
      mobil, apartemen, baju, dll aja dibeliin..
      bentar2 di FF ini gak bahas mobil, apartemen deh..
      oya lupa itu dalam kehidupan nyata ding..
      isu2nya gitu,,🙂
      gosip dikit yuk jengg… yukkkk…

  4. Jae narsis bget sih….. Bener kta yun,senyum seperti apapun jae tetap manis dech….
    Jiah jae gak pernah naik bus?! Ckckck…..
    Bah kejam.a bus di blang jorok,kotor,org2.a bau,berisik,.. Wah author kejam nich!!
    SALUT AKU AMA AUTHOR yg tau byk jenis TV…
    Romantis sekali…. Cieh.. Jae malu ma yun… YUN jangan mangap terus nanti ada lalat msuk.. Wkwk..
    Knp gak ada foto pakaian.a author.. Biar reades (yg bca) bisa liat pakaian.a..
    AKU TUNGGU KELANJUTANYA SECEPATNYA YA AUTHOR..
    Ni email fb ku indriemaulia@ymail.com supaya kta sesama cassiopeia bsa saling kenal..

    • Hahaha,,, Aku hanya menggambarkan prasangka buruk seorang kaya raya bgt yaitu jae ttg bis.. Dia kan emang doyan berprasangka buruk.. wkwkwk..
      Soal TV, hahahahaaa.. maklum pas ngetik tu TV abis jalan2 liat2 barang elektronik, ngidam pinginTV bagus tapi gak keturutan.. Hikz😥
      Bajunya kyk apa ya?? Hmmmm… di bayangkan aja sndiri deh.. pokoknya jae bagus pake tu baju. apalagi kalo gak pake baju.. LHOHH?? cukup.. siang2 otak gak beres.. =_____=”
      Ditunggu ya lanjutannya..
      Tapi lum tau kapan.. ntar ada di jadwal deh..
      Gomawo all..🙂

  5. Yunjae momen.y sweet banget….
    Appa emg bener2 romantis.
    Kek.y umma emg beneran dah jatuh cinta ma appa,
    cie..cie.. *evil smirk
    yunjae is real…..*kibarin spanduk yunjae

  6. koq pas bc adegan d ff ne q jd bs byangin adegan yunjae y *parah wkwk!
    Wah appa tu mbil dah bs d gnti kyak ny ck ck

  7. Yunho manjain jaejoong, kyaaaaaa enaknya jae dibeliin ini itu,
    pasti keuntungan tempat makan yunho abis dalam sehari kalo begitu terus, hahahaha
    sukaaaa yunjae momentnya.banyak lagi dong, terus penyakit lemotnya jaejoong rada di kurangin, rada iritasi liat jae lemot begitu padahal yunho udah pol-polan nunjukin rasa cintanya dia #PLAK~ ditabok authornya

  8. ah… so sweet bgt sich… pa gi pas di dalam kamar pas.. yunho bener2 salah tingkah bgt..hahaha…

  9. ya ampuuunnn… so sweet bgt yang pas di kamr pas.
    jae, km lum tau km kenapa sering malu malu gt, mau aku kasih tau? itu km kena penyakit yang susah sembuhnya. bernama CINTA. hahaha

  10. Daddy,,
    so sweetty..
    Hehehe..
    Tp jaemom..
    Npa kau lemot gtu sich..Aish..
    Bner2 bkin geregetan deh..
    Lanjut ea..

  11. Soooo sweeeett banged yunjaenya.. Ihhh bikin iri aja >////<
    Yunho udah terang terangan nunjukin perasaannya tapi jaejoong aja yg lola ga sadar sadar hahaha
    Lucu sama jaejoong yang malu malu kucing gitu abis dipuji sama yunho..
    Yakin deh jaejoong punya rasa sama yunho tp blm sadar

  12. Jinja…??? Mereka sering bertemu di dunia nyata??? ☺☺☺°˚°Ħ senengnya hatiQ…umma appa Ъ>:/ jadi cerai..hanya pisah ranjang aja kan…iyaaakaaan???
    Q doakan semoga umma appa cepet” show up lagi…~(^.^~) ~(^.^)~ (~^.^)~

    Appa bae banget ýª ªⓜª jaema…jaema jadi Ъ>:/ enak hati…ayo appa bilang saranghae lagi sam̶̲̅α̇ jaema mumpung jaema Ъ>:/ lagi nagih darah….jaema harus trima cintanya yunpa ýª…AWAS kalau Ъ>:/ di trima!!!

    Lagi…lagi…yunjae moment’a ýanƍ banyak ýª thor

  13. hahay
    jadi inget gosip atau beneran ya
    yg Yun suka beliin Jae macem2
    kikikikiki ….

    hehehehe
    Jae masih aja nyembunyiin ronanya dibalik angkuhnya
    aigooo

  14. Romantisss…….

    Umma ampe blusing gitu gra2 appa
    Rayuan appa majurrr

    Cepat lah klian brsatu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s