Bloody Love Chapter 28 – Duck House | @beth91191


Anyeonhaseyoooo..

Buat kalian yang jengkel dengan kelemotan Jae dalam menerima sinyal-sinyal cinta dari Yunho, silakan semakin berjengkel riaaaa… Lagi2 Jae agak lola di chap ini.. hahahahhaa…

Author lagi suka menyebar kesweetan cerita Yunjae nih.. kayaknya asyik ya bisa ngaduk2 perasaan reader..

Langsung baca aja dehh.. yukkk

 

Title        : Bloody Love

Author   : Beth

Chapter : 28 – Duck House

Genre    : Romance, Action, Yaoi

Rate       : 21+

 

 

Chapter XXVIII – Ducking House

 

[Jaejoong pov]

 

Tak lama kemudian, tibalah kami di Duck House yang mana kemarin kami gagal makan bersama di tempat ini. Hembusan harum masakan langsung tercium ketika kami melangkahkan kaki masuk ke dalam. Harum masakan ini yang menjadi salah satu harum khas Duck House yang tidak bisa di temukan di restauran lain. Ketika kami masuk seorang pelayan menerima kami dengan sangat ramah.

 

“Selamat siang. Selamat datang di Duck House. Kalau saya boleh bertanya, Anda ingin makan di tempat atau bawa pulang?” Tanya pelayan itu.

 

“Makan di tempat” jawab Yunho.

 

“Baiklah kalau begitu, Anda ingin indoor atau outdoor tuan?” Tanyanya lagi.

 

“Bagaimana indoor atau outdoor jae?” Tanya Yunho padaku.

 

“Di dalam saja Yun. Diluar panas.” Jawabku mengingat tubuhku yang sedikit lelah karena terkena sinar matahari siang ini.

 

Walau hari ini cukup berawan, tapi matahari kadang masih menyinariku. Terlalu lama keluar di siang hari memang tak baik untuk seorang vampir. Sinar matahari membuatku mulai merasa lemas.

 

“Hanya berdua saja? Baiklah Tuan. Silakan ikuti saya. Akan saya tunjukan meja Anda.” Kata pelayan itu sambil memandu langkah kami.

 

Kami terus berjalan menyusuri meja-meja lain dan menujulah kami ke salah satu sujud restauran yang langsung menghadap ke restauran bagian outdoor. Tapi walaupun begitu, sinar matahari tidak masuk melalui kaca ini. Jadi tak apalah menurutku kalau kami makan di sini saja. Setelah kami duduk di meja kami.

 

“Ini menunya. Silakan memesan Tuan..” Ucapnya sambil membukakan buku menu padaku dan Yunho.

 

Tanpa perlu membaca Yunho sudah memutuskan.

 

“Bebek Peking Special untuk kami dan Lemon ice untukku. Kau Jae, mau minum apa?” Tanyanya.

 

“Mmmm… Coffee ice saja.” Jawabku.

 

“Atau kau ingin memesan makanan lain? Snack? Appetizer? Atau mungkin dessertnya?” Tanya Yunho padaku.

 

“Ani.. Itu saja.” Jawabku sungkan untuk meminta yang lain.

 

“Sudah Tuan?” Tanya pelayan itu lagi.

 

“Mmmmm.. Aku rasa cukup.” Katanya.

 

“Baiklah. Bebek Peking Special, satu lemon ice dan satu coffe ice. Pesanan akan segera datang.” Kata pelayan itu sambil pergi masuk ke dalam.

 

Kuamati restauran ini. Tak banyak yang berubah sejak terakhir aku kemari. Beberapa pelayan bahkan aku kenal wajahnya, karena terlalu seringnya aku kemari. Mengingat aku pelanggan setia di restauran ini, semoga pelayan-pelayan itu tidak berbicara yang aneh-aneh di depan Yunho.

 

Kuingat-ingat, dulu aku tak pernah makan di ruangan ini. Begitu aku masuk, aku pasti langsung meminta ruangan VIP di lantai dua. Aku selalu berpikir ruangan VIP selalu lebih baik dari pada ruangan biasa. Yang membedakan adalah pelayanannya lebih cepat, tempatnya lebih privasi, dan musiknya bisa disesuaikan dengan keinginan. Tapi ternyata ruangan biasa sudah cukup nyaman untuk hanya sekedar makan.

 

Tak berapa lama pelayan pun mengantarkan makanan dan minuman yang kami pesan. Diletakannya pesanan kami di atas meja. Sebuah piring besar dengan bebek peking diatasnya beserta pelengkap-pelangkapnya membuat mata Yunho berbinar-binar dibuatnya.

 

“Silakan dinikmati..” Ucap pelayan itu.

 

“Kamsa hamnida.” Jawab kami bersamaan.

 

Aku yakin makanan ini pasti enak rasanya. Keenakan masakan restauran ini sudah terkenal di seantero Korea Selatan, tapi entah mengapa tak ada nafsu makan sedikitpun ketika melihatnya. Kuambil sepotong kecil bebek itu dan kumakan dengan perasaan enggan. Enak.. Tapi aku sudah tak setertarik dulu ketika memakannya.

 

“Enak jae? Kau suka?” Tanyanya padaku.

 

Aku hanya tersenyum masam dan mengangguk. Makanan ini memang enak. Semua orang mengakuinya. Tapi kalau soal suka. Mmmmm… Aku memang benar suka, tapi itu dulu, sekarang sepertinya tidak. Demi menghargainya ku ambil lagi beberapa potong bebek itu. Kulihat dia makan sangat lahap sekali. Sepertinya dia benar-benar ingin dan suka makan di sini. Aku senang dapat menebus kesalahanku kemarin yang tidak dapat menemuinya tepat waktu untuk makan di tempat ini.

 

“Yunho-ah..” Panggilku.

 

“Ada apa?” Sahutnya.

 

“Boleh aku tanya sesuatu?” Tanyaku.

 

“Tentu. Apa?” Jawabnya.

 

“Kenapa kau suka sekali memberikan aku barang-barang?” Tanyaku sambil meneguk coffee ice ku.

 

“Barang-barang? Aku rasa hanya dua barang belum bisa dikatakan barang-barang. Tapi tenanglah sebentar lagi pemberianku akan bisa disebut barang-barang. Karena aku akan memberikanmu sesuatu lagi lagi dan lagi.” Ucapnya sambil tertawa.

 

“Aku serius Jung Yunho.” Ucapku sambil berhenti minum.

 

“Aku juga.” Jawabnya berhenti tertawa.

 

“Ayo jawab pertanyaanku..” Ucapku serius.

 

“Mmmmm… Kenapa ya? Mungkin karena sudah lamaaaa sekali tidak ada seseorang yang bisa aku berikan sesuatu untuknya. Menyenangkan rasanya bisa memberikan apa yang orang itu sukai.” Jawabnya.

 

“Berikan saja sesuatu itu pada dongsaengmu.” Ucapku sambil melahap sepotong daging bebek.

 

“Dia sudah kaya. Tidak perlu diberi apa-apa.” Jawabnya.

 

Asal kau tahu Jung Yunho, aku juga kaya. Tapi dulu. Sekarang aku serba keterbatasan. Ya ya ya.. Kasihanilah aku kalau begitu.

 

“Kenapa tak kau beri sesuatu pada appa dan ummamu?” Tanyaku.

 

“Changmin sudah memberikan banyak pada mereka.” Jawabnya.

 

“Tapi walaupun kebutuhan dan keinginan mereka sudah terpenuhi, tak ada salahnya kau memberi sesuatu sebagai tanda kasih sayang bukan?” Tanyaku.

 

“Memang benar, tanda kasih sayang. Tapi jika ada yang lebih mebutuhkan tanda itu dari pada mereka, bagaimana?” Tanyanya balik.

 

“Hee?? Maksudmu aku yang perlu tanda kasih sayang darimu? Kau benar-benar gila Jung Yunho.” Ucapku ketus.

 

Dia hanya tersenyum dan melanjutkan makannya. Benar-benar dia sudah gila sepertinya. Aku sudah mulai terbiasa dengan sikapnya yang aneh yang satu ini. Kulanjutkan makan ku tanpa menganggap berlebihan kata-katanya. Namun tiba-tiba..

 

“Sebentar-sebentar.. Ini hari apa?” Tanyanya sedikit terkejut.

 

“Hari Sabtu aku rasa.” Jawabku.

 

“Ya Tuhan…..” Pekiknya.

 

“Ada apa memangnya?” Aku ikut terkejut.

 

“Changmin mengundangku makan malam di rumah. Aku sudah janji akan datang.” Dia kebingungan.

 

“Yasudah.. Datanglah.. Kenapa bingung?” Ucapku kembali tenang.

 

“Tapi aku sudah lama tidak ke sana.” Jawabnya dengan ekspresi galau.

 

Aku mengerti kenapa dia sedikit merasa enggan harus kembali ke rumah itu. Pasti masih ada perasaan sakit di hatinya jika melihat suatu tempat yang menjadi ketraumaannya selama bertahun-tahun. Kulihat dia menghentikan makannya dan pikirannya melayang entah kemana yang tak mampu aku ketahui. Tapi kurasa hanya dengan melihat ekspresinya, aku tahu kalau dia tengah mengalami perang batin.

 

“Yunho-ah” ucapku lirih.

 

Lamunannya berhenti ketika aku memanggilnya.

 

“Iya Jae?” Dia menoleh ke arahku ragu.

 

Sambil mengaduk coffee iceku, aku berkata,”Sejauh ini kau selalu berani dalam mengambil sikap dalam menghadapi segala hal, kenapa tidak sekali lagi ini kau berani menghadapinya. Walaupun mungkin aku tak tahu apa yang membuatmu ragu untuk datang ke rumah orang tuamu, tapi tak perlulah kau menolak undangan Changmin. Meski masalah yang mungkin pernah terjadi di antara kalian sangatlah besar, tapi tetap saja itu hanyalah masa lalu dan bukan waktunya lagi kau terus berkutat pada hal yang sama. Mungkin semua sudah berubah, seiring berjalannya waktu. Mungkin tak ada yang perlu kau khawatirkan lagi kali ini.” Kataku hati-hati dan selalu berusaha menekankan kata ‘mungkin’ untuk menunjukan seakan-akan aku tak tahu apa yang terjadi padanya bertahun-tahun silam.

 

Dia memperhatikan kata-kataku dengan seksama.

 

“Walaupun hal itu sangat menyakitkan dan akan selamanya membekas di hati?” Tanyanya yang masih ragu.

 

“Tentu saja.. Jika kau terus berkutat pada hal itu, akan menyia-nyiakan pikiranmu yang justru akan membuatmu terus merasakan sakit hati. Tapi aku tak tahu inti masalah yang terjadi antara kalian. Aku hanya menebak saja.” Jawabku berusaha tak membuatnya curiga.

 

Kulihat dia berhenti menatapku dan mengalihkan pandangannya pada taman-taman di luar jendela. Dia tampak berpikir sangat keras. Tapi alisnya menurun sepertinya perasaannya benar-benar sedang galau.

 

“Yun..” Panggilku lagi.

 

“Iya?” Dia kembali menatapku.

 

“Perlukah kau aku temani?” Tanyaku.

 

Dia mengamatiku lekat-lekat. Berpikir sejenak dan kemudian tersenyum lebar.

 

“Benarkah kau mau menemaniku???” Tanyanya menyakinkan diri.

 

“Kalau kau membolehkan.”Jawabku berusaha tidak membuatnya kege-eran.

 

“Tentu saja boleh. Justru aku senang sekali. Kau akan menemani. Ayo berangkat sekarang..” Sahutnya.

 

Namun tiba-tiba aku merasa bodoh atas apa yang aku katakan. Aku ingat kalau malam ini adalah makan malam bersama orang tuanya, Changmin dan calon istri Changmin, Yeonhee. Bagaimana aku bisa mengatakan ingin menemaninya? Padahal jika aku bertemu dengan Yeonhee, dia pasti mengenaliku walaupun memang sangat kita jarang bertemu. Bagaimanapun juga Yeonhee adalah adik dari Eunhyuk, teman Junsu sekaligus kekasih sepupuku Donghae. Dia pasti mengenaliku. Ottokae??

 

Kring Kring..

 

HP Yunho berbunyi. Begitu dia memegang HPnya dan menempelkan speaker di telinganya,seketika kebingungan sesaat ku itu sirna, aku menjadi begitu tenang untuk ajakan  makan malam yang telah aku iya-kan ini. Aku tahu bahwa…

 

Yunho : Yabuseyo..

 

Changmin : Yabuseyo hyung..

 

Yunho : Ada apa Changmin?

 

Changmin : Ingat kan hyung malam ini akan makan malam di rumah?

 

Yunho : Ya aku ingat. Sebentar lagi kami akan berangkat ke sana.

 

Changmin : Kami?

 

Yunho : Nae, kami. Aku mengajak Jaejoong yang kemarin aku kenalkan padamu, pegawai ku di tempat makan sekaligus temanku.

 

Changmin : Ohh.. Bagus lahh.. Jadi nanti saat makan malam tidak akan sepi hanya kita berempat.

 

Yunho : Berempat? Maksudmu?

 

Changmin : Oya aku lupa belum mengatakan pada hyung, calon istriku tidak bisa ikut makan malam. Dia pergi mengunjungi neneknya yang sakit di Busan. Sebenarnya semua sudah melarangnya untuk pergi. Tapi dia benar-benar keras kepala. Bahkan saat aku ingin ikut menemaninya ke Busan, dia tidak mengijinkannya. Dia tidak mau aku membatalkan makan malam bersama hyung malam ini. Dia bilang tidak ingin membatalkan makan malam yang sudah sangat aku nanti-nanti ini. Akhirnya aku hanya mengantarnya ke stasiun tadi pagi.

 

Yunho : Sayang sekali. Padahal aku ingin sekali bertemu dengannya. Tapi kalau kau ingin menemani calon istri dan calon anakmu itu, tidak masalah kalau makan malam ini di batalkan, atau cukup aku saja yang makan dengan umma dan appa.

 

Changmin : Tidak tidak.. Dia baik-baik saja. Satu jam sekali aku meneleponnya. Lagipula dia tidak sendiri. Ada oppanya yang menemani.

 

Yunho : Baiklah kalau begitu. Sebelum malam kami sudah tiba di rumah.

 

Changmin : Aku tunggu hyung..

 

Yunho : Nae..

 

Teleponpun diputuskannya.

 

“Ada apa?” Aku pura-pura belum tahu.

 

“Calon adik iparku tidak bisa ikut makan malam. Padahal aku ingin sekali bertemu dengannya.” Jawabnya.

 

“Sangat disayangkan ya..” Sahutku pura-pura ikut kecewa. Padahal di dalam hati hal inilah yang aku harapkan.

 

“Lain waktulah. Cepat selesaikan makanmu. Kita segera berangkat.” Diselesaikannya makannya dengan menghabiskan lemon ice nya.

 

“Kenapa buru-buru. Ini baru jam 3.” Jawabku.

 

“Kita akan beli sesuatu dulu.” Katanya.

 

“Haa?” Tanyaku.

 

“Ayo. Sudah selesaikan?” Dia berdiri dan kemudian menarikku agar ikut berdiri.

 

“Sebentar-sebentar..” Aku terpaksa berdiri dan cepat-cepat mengambil kantong plastik belanja yang di berikan Yunho tadi.

 

Setelah Yunho menghampiri meja kasir, dia kembali menarikku keluar tempat makan. Langkahnya tampak bersemangat sekali. Seperti tak pernah ada beban sedikitpun di hatinya.

 

“Kira-kira aku membelikan apa ya untuk orang tuaku?” Dia berjalan di sampingku.

 

“Memang kita mau kemana sekarang?” Tanyaku.

 

“Menurutmu..” Jawabnya mengambang.

 

-oOo-

 

 

Beberapa menit kemudian…

 

[Yunho pov]

 

“Hyaaa Jung Yunho.. Kau tidak bilang akan pergi ke mall…” Teriaknya begitu kami tiba di mall terbesar di Seoul.

 

“Memang kenapa?” Aku bertanya sambil membayar uang taxi pada sopirnya.

 

“Kalau tahu akan ke mall aku kan bisa pakai baju yang lebih bagus. Lihatlah.. Cuma kaos polos dan jaket dekil ini. Aisssshhh..” Dia menggerutu sambil sibuk merapikan pakaiannya.

 

“Ada dengan pakaianmu. Bagus menurutku.” Kataku jujur.

 

Di mataku dia selalu tampak indah walau mengenakan apapun. Apalah arti pakaian indah kalau dirinya saja sudah terlalu indah. Kutatap wajahnya lekat. Bibirnya yang merah diatas wajahnya yang putih,membuat bibir itu tampak semakin indah. Wajahnya tampak begitu merona saat ini. Cerah bagai tomat yang baru dipetik.

 

“Pakai saja pakaian yang tadi aku belikan.. Aku rasa cukup bagus pakaian itu.” Kataku sambil mengajaknya melangkah ke dalam.

 

Dibuka-bukanya kantong plastiknya dan diintip-intipnya pakaian itu.

 

“Bagaimana kalau aku ganti baju di kamar mandi sekarang?” Tanyanya padaku.

 

“Ganti Saja. Itu toiletnya.” Kataku sambil menunjuk papan bertuliskan toilet.

 

“Ayo cepat kalau gitu.. Temani aku..” Dia menarik tanganku dengan langkah cepat menuju ke toilet.

 

Tangannya yang selalu terasa dingin menyalurkan getaran ke hatiku. Jantungku berdebar. Tak pernah sekalipun dia memegang tanganku seperti ini. Rasanya senang sekali ketika dia akhirnya menganggapku ada di sampingnya dan membutuhkanku walau hanya untuk hal sepele.

 

Dia terus menarikku dengan langkah terburu-buru. Sepertinya dia malu dengan pakaian yang dikenakan saat ini. Padahal aku rasa itu tidak terlalu buruk. Ketika kami tiba di toilet, dia langsung menuju ke salah satu pintu toilet. Dia masuk ke dalam dan menutupnya pintunya rapat-rapat. Serta aku hanya terdiam di depan pintunya dengan perasaan senang di hatiku karena hal sepele tadi. Namun tak berapa lama dia kembali membuka pintunya. Aku mengira kalau dia sudah selesai ganti baju, ternyata dia masih mengenakan pakaian tadi dan baru hanya melepas jaketnya.

 

“Ada apa? Kok belum ganti baju?” Tanyaku.

 

“Tidak ada tempat untuk menggantungkan pakaian. Aku ganti baju disini aja. Bisa bantu pegang pakaianku.” Katanya sambil menyerahkan kantong plastik berisi pakaian tadi dan jaketnya.

 

Belum sempat aku mengiyakannya, dia sudah membuka kaosnya tepat di depan mataku. Kulihat dia membukanya perlahan hingga kini tampak sebagaian perutnya dan kemudian diloloskannya kaos itu dari kedua tangannya serta dilewatkannya kaos itu dari kepalanya. Terlepaslah sudah pakaiannya dan munculah badannya yang menakjubkan. Ini pertama kalinya aku melihat tubuhnya, selama ini dia selalu membuka baju dikamar mandi jika saat aku berada di dalam kamar. Otot-otot tubuhnya yang menonjol dengan indahnya tapi tak membuat tubuhnya tampak besar. Tetap kecil dan indah. Sebuah tato kecil ada di dadanya dan tampak samar-sama sebuah tato lebih besar ada dipunggungnya membuatku tertegun. Hatiku sudah sangat bergetar saat ini. Aku hanya bisa terdiam mematung melihatnya.

 

“Hyaa Jung Yunho mana pakaianku?” Dia melotot ke arahku.

 

Dan akhirnya akupun kembali mendapatkan kesadaranku.

 

“Nae..” Akupun cepat mengambilkan pakaiannya dan menyerahkannya padanya.

 

“Cepatlah.. Keburu ada orang yang liat.” Katanya cepat-cepat merebut pakaian itu dan menukarnya dengan kaos yang ia pegang.

 

“Aku kan juga orang jae. Kau tak malu kalau aku melihatmu?” Tanyaku.

 

“Kau..” Tampak dia bingung untuk menjawab apa. Sepertinya dia salah tingkah saat ini. Cepat-cepat dikenakannya pakaiannya itu.

 

“Sudahlah jangan malu padaku.” Kataku sambil tersenyum melihat polah tingkahnya.

 

“Cukup senyuman itu. Ayo cepat membeli sesuatu untuk orang tuamu.” Katanya sambil segera berjalan keluar meninggalkanku tanpa menarikku lagi dan membiarkan aku yang membawa barang-barangnya.

 

Setibanya diluar..

 

“Kau ingin membeli apa-apa?” Tanyanya sambil melihat-lihat pakaian yang di pajang.

 

“Entahlah.. Mungkin kau lebih tau. Aku sama sekali tidak ada ide.” Jawabku.

 

“Ayo kita lihat store kebutuhan rumah tangga.” Ucapnya sambil segera berjalan di depan.

 

“Kau mau beli apa? Kau tahu tempatnya?” Tanyaku mengikuti langkahnya.

 

“Ikut aja. Aku tahu apa barang yang tepat yang bisa kau berikan pada kedua orang tuamu.” Jawabnya yakin.

 

Kamipun tiba di store kebutuhan rumah tangga. Tanpa berbicara apa-apa dia sudah langsung masuk ke dalam, mengambil keranjang dan menyerahkannya padaku serta kamipun menuju rak-rak yang tersusun disana dengan aku hanya mengikutinya dari belakang. Kulihat dia menuju bagian alat-alat masak.

 

“Kau mau membelikan umma alat masak?” Tanyaku sambil ikut-ikut melihat-lihat.

 

“Tidak.. Aku hanya suka melihat-lihatnya. Aku dulu suka sekali memasak.” Jawabnya.

 

“Sekarang kan kau juga bisa memasak di tempat makan kita.” Sahutku.

 

“Nae.. Aku dulu suka sekali membuat kue dan makanan kecil. Tapi di tempat makan mu tidak ada alat-alatnya.” Katanya memegang-megang cetakan kue dan alat-alat lainnya yang tidak aku ketahui gunanya.

 

“Kapan-kapan masakkan kue untukku ya.. Nanti aku belikan alat-alatnya.” Jawabku.

 

“Sudah lupakan.. Ayo kita lihat sebelah sana.” Ajaknya pergi darI bagian itu, takut kalau aku akan membelikan sesuatu lagi untuknya.

 

“Apa sebelah sana?” Tanyaku

 

“Perlengkapan kamar.” Jawabnya.

 

“Kau mau beli apa?” Kataku.

 

Tak lama kami sudah tiba di rak-rak perlengkapan kamar yang dia maksud.

 

“Tiba-tiba diotakku pingin membeli selimut untuk ahjuma. Pasti nyaman memeluk selimut kalau ahjuma sedang rindu padamu.” Katanya memilih-milih selimut.

 

Diambilnya sebuah selimut besar bewarna merah muda dengan hiasan bunga-bunga minimalis. Diusapnya selimut itu berkali-kali menikmati kelembutan yang terasa di telapak tangannya. Kadang di usapkannya selimut itu di pipinya.

 

“Umma mu suka warna apa?” Tanyanya.

 

“Entahlah. Aku tak pernah memperhatikan.” Jawabku.

 

“Ahjuma pasti seorang umma yang hangat dan lembut. Mungkin warna ini bagus untuknya.” Katanya sambil mengambil sebuah selimut bewarna coklat soft dengan hiasan yang simple.

 

Diusapnya kembali selimut yang ada di tangannya. Akupun mencoba ikut mengusapnya perlahan. Benar-benar lembut.

 

“Dia pasti suka dengan pilihanmu.” Jawabku.

 

“Baiklah kalau gitu, kita beli yang ini ya?” Tanyanya.

 

Aku hanya mengangguk dan memasukannya ke keranjang. Dia kini kembali berjalan menuju rak lainnya.

 

“Sekarang untuk ahjushi.”Katanya memimpin jalan.

 

“Apa yang sebaiknya untuk appa?” Tanyaku bingung.

 

“Ahjushi sepertinya perlu sesuatu yang tidak ada di sini.” Jawabnya.

 

“Lalu?” Sahutku.

 

“Sebentar aku mau melihat-lihat setelah itu kita ke store pakaian. Aku ingin melihat-lihat barang-barang.” Katanya.

 

“Sepertinya menyenangkan sekali melihat-lihat barang.” Kataku menebak.

 

“Aku selalu ingin beli ini beli itu.. Membayangkan rumahku ada benda ini dan benda itu. Pasti menyenangkan bisa membuat barang-barang rumah sesuai keinginan kita.” Sebuah raut gembira terukir di wajahnya.

 

Dia sepertinya sangat menyukai shopping time. Aku yakin dia pasti suka shopping dulu. Jemarinya yang mulus dan putih menyentuh semua barang yang ia lewati. Kadang diangkat-angkat, di buka-buka, di tekan, di geser, dan dicoba semuanya. Kuamati dia yang sedang asyik dengan dunianya.

 

Beberapa jam kemudian..

 

Setelah berputar-putar di penjuru mall, setelah keluar masuk beberapa store, setelah berkutat pada hal-hal yang jarang aku sentuh, setelah beberapa kali menghampiri meja kasir akhirnya kini ditanganku sudah membawa kantong tas berisi selimut umma, sebuah jaket rajutan untuk appa, CD yang tadi kubelikan untuk Jaejoong dan pakaiannya yang tadi ia kenakan. Sedangkan di tangannya tengah membawa sekotak besar berisi kue-kue.

 

“Aku rasa cukup ini saja untuk ahjuma dan ahjushi.” Katanya berjalan di sampingku.

 

“Kau pandai sekali memilih barang. Kalau aku beli sendiri dan tanpa bantuanmu, aku pasti hanya membeli bunga untuk umma.” Kataku.

 

“Bunga katamu?” Tanyanya.

 

“Iya.. Memang kenapa?” Tanyaku balik.

 

“Aku tak pernah memikirkannya. Aku rasa serangkai bunga menjadi penyempurna pemberianmu untuk ahjuma dan ahjushi.” Jawabnya.

 

“Ya sudah kita langsung ke sana saja. Sebelumnya kita bisa sekalian membeli bunga di toko bunga yang ada di depan mall ini.” Kataku bersemangat.

 

Setibanya diluar, hari sudah mulai malam. Setelah aku membeli seikat bunga matahari segar, kamipun naik taxi untuk pergi ke rumah appa. Tidak terlalu jauh memang. Tapi aku tak ingin membiarkan Jaejoong kelelahan. Seharian dia sudah berjalan kesana kemari, mulai dari berjalan di pertokoan sebelum makan di Duck House tadi, hingga berjalan-jalan di mall untuk mencari barang-barang untuk keluargaku.

 

-oOo-

 

 

[Yunho pov]

 

10 menit kemudian..

 

Tibalah kami di depan rumah appa.

 

Hatiku berdebar saat ini. Ini pertama kalinya setelah aku melangkahkan kakiku keluar dari rumah ini. Rumah ini tampak tak banyak berubah dari luar. Bunga-bunga tersusun rapi di halaman. Rerumputan menutupi taman dengan segarnya. Pepohonan tampak lebih tinggi saat ini. Cat tembok rumah masih tetap sama, putih kebiruan dan hanya tampak sedikit lebih kusam saja. Retakan kecil di jendela kaca depan karena perbuatanku masih tetap ada. Lantai terasnya masih terasa hangat seperti dulu. Tak banyak yang berubah sejak kepergianku malam itu.

 

Kami sudah berada di depan pintu utama saat ini. Tanganku ku angkat perlahan untuk mengetuk pintu. Tapi berat rasanya untuk mengayunkannya. Ada perasaan ragu untuk bertemu dengan appa di rumah ini lagi. Haruskah aku menemuinya setelah bertahun-tahun tak bertemu. Aku benar-benar…

 

“Tenanglah..” Tiba-tiba Jaejoong menggenggam tanganku yang satunya.

 

Ku tatap wajahnya yang tengah menatapku pula.

 

“Ada aku.. Jangan ragu. Semuanya sudah berubah saat ini.” Katanya.

 

TBC

 

Gimana?? Sinyal-sinyal nya Yunho belum ngena ke Jaejoong yaa?? HAHAHA…

Komen komen dongg..

Komen kalian yang membuatku semangat menulis..

Tapi jujur selain komen2 dari pembaca setia yang super gahol ini, alasan kuat aku untuk tetap nulis ff yunjae adalah melihat video2, brita2 ttg yunjae.. Too obvious untuk tidak mempercayai kerealan mereka. Aku menulis dengan hati. Aku nggak akan bisa dapat feel menulis kalau di dunia nyata mereka memang nggak ada feel satu sama lain. So, Yunjae is real..

Yayaya… cukup untuk virus Yunjae kali ini..

Tunggu kelanjutannya yaaa..

Gomawo all..

 

Salam Yunjae❤

 

-Beth-

12.00

Normal
0

false
false
false

IN
JA
AR-SA

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Chapter XXVIII – Ducking House

 

Tak lama kemudian, tibalah kami di Duck House yang mana kemarin kami gagal makan bersama di tempat ini. Hembusan harum masakan langsung tercium ketika kami melangkahkan kaki masuk ke dalam. Harum masakan ini yang menjadi salah satu harum khas Duck House yang tidak bisa di temukan di restauran lain. Ketika kami masuk seorang pelayan menerima kami dengan sangat ramah.

 

“Selamat datang di Duck House. Mau makan di tempat atau bawa pulang?” Tanya pelayan itu.

 

“Makan di tempat” jawab Yunho.

 

“Mau indoor atau outdoor tuan?” Tanyanya lagi.

 

“Bagaimana indoor atau outdoor jae?” Tanya Yunho padaku.

 

“Di dalam saja Yun. Diluar panas.” Jawabku mengingat tubuhku yang sedik lelah karena terkena sinar matahari siang ini.

 

Walau hari ini cukup berawan, tapi matahari kadang masih menyinariku. Terlalu lama keluar di siang hari memang tak baik untuk seorang vampir. Sinar matahari membuatku mulai merasa lemas.

 

“Baiklah Tuan. Silakan ikuti saya. Akan saya tunjukan meja Anda.” Kata pelayan itu sambil memandu langkah kami.

 

Kami terus berjalan menyusuri meja-meja lain dan menujulah kami ke salah satu sujud restauran yang langsung menghadap ke restauran bagian outdoor. Tapi walaupun begitu, sinar matahari tidak bersinar masuk melalui kaca ini. Jadi tak apalah menurutku kalau kami makan di sini saja. Setelah kami duduk di meja kami.

 

“Silakan memesan Tuan..” Ucapnya sambil membukakan buku menu padaku dan Yunho.

 

Tanpa perlu membaca Yunho sudah memutuskan.

 

“Bebek Peking Special untuk kami dan Lemon ice untukku. Kau Jae, mau minum apa?” Tanyanya.

 

“Mmmm… Coffee ice saja.” Jawabku.

 

“Atau kau ingin memesan makanan lain? Snack? Appetizer? Atau mungkin dessertnya?” Tanya Yunho padaku.

 

“Ani.. Itu saja.” Jawabku sungkan untuk meminta yang lain.

 

“Sudah Tuan?” Tanya pelayan itu lagi.

 

“Mmmmm.. Aku rasa cukup.” Katanya.

 

“Baiklah. Bebek Peking Special, satu lemon ice dan satu coffe ice. Pesanan akan segera datang.” Kata pelayan itu sambil pergi masuk ke dalam.

 

Kuamati restauran ini. Tak banyak yang berubah sejak terakhir aku kemari. Beberapa pelayan bahkan aku kenal wajahnya, karena terlalu seringnya aku kemari. Mengingat aku pelanggan setia di restauran ini, semoga pelayan-pelayan itu tidak berbicara yang aneh-aneh di depan Yunho.

 

Kuingat-ingat, dulu aku tak pernah makan di ruangan ini. Begitu aku masuk, aku pasti langsung meminta ruangan VIP di lantai dua. Aku selalu berpikir ruangan VIP selalu lebih baik dari pada ruangan biasa. Yang membedakan adalah pelayanannya lebih cepat, tempatnya lebih privasi, dan musiknya bisa disesuaikan dengan keinginan. Tapi ternyata ruangan biasa sudah cukup nyaman untuk hanya sekedar makan.

 

Tak berapa lama pelayan pun mengantarkan makanan dan minuman yang kami pesan. Diletakannya pesanan kami di atas meja. Sebuah piring besar dengan bebek peking diatasnya beserta pelengkap-pelangkapnya membuat mata Yunho berbinar-binar dibuatnya.

 

“Silakan dinikmati..” Ucap pelayan itu.

 

“Kamsa hamnida.” Jawab kami bersamaan.

 

Aku yakin makanan ini pasti enak rasanya. Keenakan masakan restauran ini sudah terkenal di seantero Korea Selatan, tapi entah mengapa tak ada nafsu makan sedikitpun ketika melihatnya. Kuambil sepotong kecil bebek itu dan kumakan dengan perasaan enggan. Enak.. Tapi aku sudah tak setertarik dulu ketika memakannya.

 

“Enak jae? Kau suka?” Tanyanya padaku.

 

Aku hanya tersenyum masam dan mengangguk. Makanan ini memang enak. Semua orang mengakuinya. Tapi kalau soal suka. Mmmmm… Aku memang benar suka, tapi itu dulu, sekarang sepertinya tidak. Demi menghargainya ku ambil lagi beberapa potong bebek itu. Kulihat dia makan sangat lahap sekali. Sepertinya dia benar-benar ingin dan suka makan di sini. Aku senang dapat menebus kesalahanku kemarin yang tidak dapat menemuinya tepat waktu untuk makan di tempat ini.

 

“Yunho-ah..” Panggilku.

 

“Ada apa?” Sahutnya.

 

“Boleh aku tanya sesuatu?” Tanyaku.

 

“Tentu. Apa?” Jawabnya.

 

“Kenapa kau suka sekali memberikan aku barang-barang?” Tanyaku sambil meneguk coffee ice ku.

 

“Barang-barang? Aku rasa hanya dua barang belum bisa dikatakan barang-barang. Tapi tenanglah sebentar lagi pemberianku akan bisa disebut barang-barang. Karena aku akan memberikanmu sesuatu lagi lagi dan lagi.” Ucapnya sambil tertawa.

 

“Aku serius Jung Yunho.” Ucapku sambil berhenti minum.

 

“Aku juga.” Jawabnya berhenti tertawa.

 

“Ayo jawab pertanyaanku..” Ucapku serius.

 

“Mmmmm… Kenapa ya? Mungkin karena sudah lamaaaa sekali tidak ada seseorang yang bisa aku berikan sesuatu untuknya. Menyenangkan rasanya bisa memberikan apa yang orang itu sukai.” Jawabnya.

 

“Berikan saja sesuatu itu pada dongsaengmu.” Ucapku sambil melahap sepotong daging bebek.

 

“Dia sudah kaya. Tidak perlu diberi apa-apa.” Jawabnya.

 

Asal kau tahu Jung Yunho, aku juga kaya. Tapi dulu. Sekarang aku serba keterbatasan. Ya ya ya.. Kasihanilah aku kalau begitu.

 

“Kenapa tak kau beri sesuatu pada appa dan ummamu?” Tanyaku.

 

“Changmin sudah memberikan banyak pada mereka.” Jawabnya.

 

“Tapi walaupun kebutuhan dan keinginan mereka sudah terpenuhi, tak ada salahnya kau memberi sesuatu sebagai tanda kasih sayang bukan?” Tanyaku.

 

“Memang benar, tanda kasih sayang. Tapi jika ada yang lebih mebutuhkan tanda itu dari pada mereka, bagaimana?” Tanyanya balik.

 

“Hee?? Maksudmu aku yang perlu tanda kasih sayang darimu? Kau benar-benar gila Jung Yunho.” Ucapku ketus.

 

Dia hanya tersenyum dan melanjutkan makannya. Benar-benar dia sudah gila sepertinya. Aku sudah mulai terbiasa dengan sikapnya yang aneh yang satu ini. Kulanjutkan makan ku tanpa menganggap berlebihan kata-katanya. Namun tiba-tiba..

 

“Sebentar-sebentar.. Ini hari apa?” Tanyanya sedikit terkejut.

 

“Hari Sabtu aku rasa.” Jawabku.

 

“Ya Tuhan…..” Pekiknya.

 

“Ada apa memangnya?” Aku ikut terkejut.

 

“Changmin mengundangku makan malam di rumah. Aku sudah janji akan datang.” Dia kebingungan.

 

“Yasudah.. Datanglah.. Kenapa bingung?” Ucapku kembali tenang.

 

“Tapi aku sudah lama tidak ke sana.” Jawabnya dengan ekspresi galau.

 

Aku mengerti kenapa dia sedikit merasa enggan harus kembali ke rumah itu. Pasti masih ada perasaan sakit di hatinya jika melihat suatu tempat yang menjadi ketraumaannya selama bertahun-tahun. Kulihat dia menghentikan makannya dan pikirannya melayang entah kemana yang tak mampu aku ketahui. Tapi kurasa hanya dengan melihat ekspresinya, aku tahu kalau dia tengah mengalami perang batin.

 

“Yunho-ah” ucapku lirih.

 

Lamunannya berhenti ketika aku memanggilnya.

 

“Iya Jae?” Dia menoleh ke arahku ragu.

 

Sambil mengaduk coffee iceku, aku berkata,”Sejauh ini kau selalu berani dalam mengambil sikap dalam menghadapi segala hal, kenapa tidak sekali lagi ini kau berani menghadapinya. Walaupun mungkin aku tak tahu apa yang membuatmu ragu untuk datang ke rumah orang tuamu, tapi tak perlulah kau menolak undangan Changmin. Meski masalah yang mungkin pernah terjadi di antara kalian sangatlah besar, tapi tetap saja itu hanyalah masa lalu dan bukan waktunya lagi kau terus berkutat pada hal yang sama. Mungkin semua sudah berubah, seiring berjalannya waktu. Mungkin tak ada yang perlu kau khawatirkan lagi kali ini.” Kataku hati-hati dan selalu berusaha menekankan kata ‘mungkin’ untuk menunjukan seakan-akan aku tak tahu apa yang terjadi padanya bertahun-tahun silam.

 

Dia memperhatikan kata-kataku dengan seksama.

 

“Walaupun hal itu sangat menyakitkan dan akan selamanya membekas di hati?” Tanyanya yang masih ragu.

 

“Tentu saja.. Jika kau terus berkutat pada hal itu, akan menyia-nyiakan pikiranmu yang justru akan membuatmu terus merasakan sakit hati. Tapi aku tak tahu inti masalah yang terjadi antara kalian. Aku hanya menebak saja.” Jawabku berusaha tak membuatnya curiga.

 

Kulihat dia berhenti menatapku dan mengalihkan pandangannya pada taman-taman di luar jendela. Dia tampak berpikir sangat keras. Tapi alisnya menurun sepertinya perasaannya benar-benar sedang galau.

 

“Yun..” Panggilku lagi.

 

“Iya?” Dia kembali menatapku.

 

“Perlukah kau aku temani?” Tanyaku.

 

Dia mengamatiku lekat-lekat. Berpikir sejenak dan kemudian tersenyum lebar.

 

“Benarkah kau mau menemaniku???” Tanyanya menyakinkan diri.

 

“Kalau kau membolehkan.”Jawabku berusaha tidak membuatnya kege-eran.

 

“Tentu saja boleh. Justru aku senang sekali. Kau akan menemani. Ayo berangkat sekarang..” Sahutnya.

 

Namun tiba-tiba aku merasa bodoh atas apa yang aku katakan. Aku ingat kalau malam ini adalah makan malam bersama orang tuanya, Changmin dan calon istri Changmin, Yeonhee. Bagaimana aku bisa mengatakan ingin menemaninya? Padahal jika aku bertemu dengan Yeonhee, dia pasti mengenaliku walaupun kita jarang bertemu. Bagaimanapun juga Yeonhee adalah adik dari Eunhyuk, teman Junsu sekaligus kekasih sepupuku Donghae. Ottokae??

 

Kring Kring..

 

HP Yunho berbunyi. Begitu dia memegang HPnya dan menempelkan speaker di telinganya,seketika kebingungan sesaat ku itu sirna, aku menjadi begitu tenang tentang makan malam ini. Aku tahu bahwa..

 

Yunho : yabuseyo..

 

Changmin : yabuseyo hyung..

 

Yunho : ada apa Changmin?

 

Changmin : ingat kan hyung malam ini akan makan malam di rumah?

 

Yunho : Ya aku ingat. Sebentar lagi kami akan berangkat ke sana.

 

Changmin : kami?

 

Yunho : ya kami. Aku mengajak Jaejoong yang kemarin aku kenalkan padamu, pegawai ku di tempat makan.

 

Changmin : ohh.. Bagus lahh.. Jadi nanti saat makan malam tidak akan sepi hanya kita berempat.

 

Yunho : berempat? Maksudmu?

 

Changmin : oya aku lupa belum mengatakan pada hyung, calon istriku tidak bisa ikut makan malam. Dia pergi mengunjungi neneknya yang sakit di Busan. Sebenarnya semua sudah melarangnya untuk pergi. Tapi dia benar-benar keras kepala. Bahkan saat aku ingin ikut menemaninya ke Busan, dia tidak mengijinkannya. Dia tidak mau aku membatalkan makan malam bersama hyung malam ini. Dia bilang tidak ingin membatalkan makan malam yang sudah sangat aku nanti-nanti ini. Akhirnya aku hanya mengantarnya ke stasiun tadi pagi.

 

Yunho : sayang sekali. Padahal aku ingin sekali bertemu dengannya. Tapi kalau kau ingin menemani calon istri dan calon anakmu itu, tidak masalah kalau makan malam ini di batalkan, atau cukup aku saja yang makan dengan umma dan appa.

 

Changmin : tidak tidak.. Dia baik-baik saja. Satu jam sekali aku meneleponnya. Lagipula dia tidak sendiri. Ada oppanya yang menemani.

 

Yunho : baiklah kalau begitu. Sebelum malam kami sudah tiba di rumah.

 

Changmin : aku tunggu hyung..

 

Yunho : nae..

 

Teleponpun diputuskannya.

 

“Ada apa?” Aku pura-pura belum tahu.

 

“Calon adik iparku tidak bisa ikut makan malam. Padahal aku ingin sekali bertemu dengannya.” Jawabnya.

 

“Sangat disayangkan ya..” Sahutku pura-pura ikut kecewa. Padahal di dalam hati hal inilah yang aku harapkan.

 

“Lain waktulah. Cepat selesaikan makanmu. Kita segera berangkat.” Diselesaikannya makannya dengan menghabiskan lemon ice nya.

 

“Kenapa buru-buru. Ini baru jam 3.” Jawabku.

 

“Kita akan beli sesuatu dulu.” Katanya.

 

“Haa?” Tanyaku.

 

“Ayo. Sudah selesaikan?” Dia berdiri dan kemudian menarikku agar ikut berdiri.

 

“Sebentar-sebentar..” Aku terpaksa berdiri dan cepat-cepat mengambil kantong plastik belanja yang di berikan Yunho tadi.

 

Setelah Yunho menghampiri meja kasir, dia kembali menarikku keluar tempat makan. Langkahnya tampak bersemangat sekali. Seperti tak pernah ada beban sedikitpun di hatinya.

 

“Kira-kira aku membelikan apa ya untuk orang tuaku?” Dia berjalan di sampingku.

 

“Memang kita mau kemana sekarang?” Tanyaku.

 

“Menurutmu..” Jawabnya mengambang.

 

-oOo-

 

 

Beberapa menit kemudian…

 

[Yunho pov]

 

“Hyaaa Jung Yunho.. Kau tidak bilang akan pergi ke mall…” Teriaknya begitu kami tiba di mall terbesar di Seoul.

 

“Memang kenapa?” Aku bertanya sambil membayar uang taxi pada sopirnya.

 

“Kalau tahu akan ke mall aku kan bisa pakai baju yang lebih bagus. Lihatlah.. Cuma kaos polos dan jaket dekil ini. Aisssshhh..” Dia menggerutu sambil sibuk merapikan pakaiannya.

 

“Ada dengan pakaianmu. Bagus menurutku.” Kataku jujur.

 

Di mataku dia selalu tampak indah walau mengenakan apapun. Apalah arti pakaian indah kalau dirinya saja sudah terlalu indah. Kutatap wajahnya lekat. Bibirnya yang merah diatas wajahnya yang putih,membuat bibir itu tampak semakin indah. Wajahnya tampak begitu merona saat ini. Cerah bagai tomat yang baru dipetik.

 

“Pakai saja pakaian yang tadi aku belikan.. Aku rasa cukup bagus pakaian itu.” Kataku sambil mengajaknya melangkah ke dalam.

 

Dibuka-bukanya kantong plastiknya dan diintip-intipnya pakaian itu.

 

“Bagaimana kalau aku ganti baju di kamar mandi sekarang?” Tanyanya padaku.

 

“Ganti aja. Itu toiletnya.” Kataku sambil menunjuk papan bertuliskan toilet.

 

“Ayo cepat kalau gitu.. Temani aku..” Dia menarik tanganku dengan langkah cepat menuju ke toilet.

 

Tangannya yang selalu terasa dingin menyalurkan getaran ke hatiku. Jantungku berdebar. Tak pernah sekalipun dia memegang tanganku seperti ini. Rasanya senang sekali ketika dia akhirnya menganggapku ada di sampingnya dan membutuhkanku walau hanya untuk hal sepele.

 

Dia terus menarikku dengan langkah terburu-buru. Sepertinya dia malu dengan pakaian yang dikenakan saat ini. Padahal aku rasa itu tidak terlalu buruk. Ketika kami tiba di toilet, dia langsung menuju ke salah satu pintu toilet. Dia masuk ke dalam dan menutupnya pintunya rapat-rapat. Serta aku hanya terdiam di depan pintunya dengan perasaan senang di hatiku karena hal sepele tadi. Namun tak berapa lama dia kembali membuka pintunya. Aku mengira kalau dia sudah selesai ganti baju, ternyata dia masih mengenakan pakaian tadi dan baru hanya melepas jaketnya.

 

“Ada apa? Kok belum ganti baju?” Tanyaku.

 

“Tidak ada tempat untuk menggantungkan pakaian. Aku ganti baju disini aja. Bisa bantu pegang pakaianku.” Katanya sambil menyerahkan kantong plastik berisi pakaian tadi dan jaketnya.

 

Belum sempat aku mengiyakannya, dia sudah membuka kaosnya tepat di depan mataku. Kulihat dia membukanya perlahan hingga kini tampak sebagaian perutnya dan kemudian diloloskannya kaos itu dari kedua tangannya serta dilewatkannya kaos itu dari kepalanya. Terlepaslah sudah pakaiannya dan munculah badannya yang menakjubkan. Ini pertama kalinya aku melihat tubuhnya, selama ini dia selalu membuka baju dikamar mandi jika saat aku berada di dalam kamar. Otot-otot tubuhnya yang menonjol dengan indahnya tapi tak membuat tubuhnya tampak besar. Tetap kecil dan indah. Sebuah tato kecil ada di dadanya dan tampak samar-sama sebuah tato lebih besar ada dipunggungnya membuatku tertegun. Hatiku sudah sangat bergetar saat ini. Aku hanya bisa terdiam mematung melihatnya.

 

“Hyaa Jung Yunho mana pakaianku?” Dia melotot ke arahku.

 

Dan akhirnya akupun kembali mendapatkan kesadaranku.

 

“Nae..” Akupun cepat mengambilkan pakaiannya dan menyerahkannya padanya.

 

“Cepatlah.. Keburu ada orang yang liat.” Katanya cepat-cepat merebut pakaian itu dan menukarnya dengan kaos yang ia pegang.

 

“Aku kan juga orang jae. Kau tak malu kalau aku melihatmu?” Tanyaku.

 

“Kau..” Tampak dia bingung untuk menjawab apa. Sepertinya dia salah tingkah saat ini. Cepat-cepat dikenakannya pakaiannya itu.

 

“Sudahlah jangan malu padaku.” Kataku sambil tersenyum melihat polah tingkahnya.

 

“Cukup senyuman itu. Ayo cepat membeli sesuatu untuk orang tuamu.” Katanya sambil segera berjalan keluar meninggalkanku tanpa menarikku lagi dan membiarkan aku yang membawa barang-barangnya.

 

Setibanya diluar..

 

“Kau ingin membeli apa-apa?” Tanyanya sambil melihat-lihat pakaian yang di pajang.

 

“Entahlah.. Mungkin kau lebih tau. Aku sama sekali tidak ada ide.” Jawabku.

 

“Ayo kita lihat store kebutuhan rumah tangga.” Ucapnya sambil segera berjalan di depan.

 

“Kau mau beli apa? Kau tahu tempatnya?” Tanyaku mengikuti langkahnya.

 

“Ikut aja. Aku tahu apa barang yang tepat yang bisa kau berikan pada kedua orang tuamu.” Jawabnya yakin.

 

Kamipun tiba di store kebutuhan rumah tangga. Tanpa berbicara apa-apa dia sudah langsung masuk ke dalam, mengambil keranjang dan menyerahkannya padaku serta kamipun menuju rak-rak yang tersusun disana dengan aku hanya mengikutinya dari belakang. Kulihat dia menuju bagian alat-alat masak.

 

“Kau mau membelikan umma alat masak?” Tanyaku sambil ikut-ikut melihat-lihat.

 

“Tidak.. Aku hanya suka melihat-lihatnya. Aku dulu suka sekali memasak.” Jawabnya.

 

“Sekarang kan kau juga bisa memasak di tempat makan kita.” Sahutku.

 

“Nae.. Aku dulu suka sekali membuat kue dan makanan kecil. Tapi di tempat makan mu tidak ada alat-alatnya.” Katanya memegang-megang cetakan kue dan alat-alat lainnya yang tidak aku ketahui gunanya.

 

“Kapan-kapan masakkan kue untukku ya.. Nanti aku belikan alat-alatnya.” Jawabku.

 

“Sudah lupakan.. Ayo kita lihat sebelah sana.” Ajaknya pergi daro bagian itu, takut kalau aku akan membelikan sesuatu lagi untuknya.

 

“Apa sebelah sana?” Tanyaku

 

“Perlengkapan kamar.” Jawabnya.

 

“Kau mau beli apa?” Kataku.

 

Tak lama kami sudah tiba di rak-rak perlengkapan kamar yang dia maksud.

 

“Tiba-tiba diotakku pingin membeli selimut untuk ahjuma. Pasti nyaman memeluk selimut kalau ahjuma sedang rindu padamu.” Katanya memilih-milih selimut.

 

Diambilnya sebuah selimut besar bewarna merah muda dengan hiasan bunga-bunga minimalis. Diusapnya selimut itu berkali-kali menikmati kelembutan yang terasa di telapak tangannya. Kadang di usapkannya selimut itu di pipinya.

 

“Umma mu suka warna apa?” Tanyanya.

 

“Entahlah. Aku tak pernah memperhatikan.” Jawabku.

 

“Ahjuma pasti seorang umma yang hangat dan lembut. Mungkin warna ini bagus untuknya.” Katanya sambil mengambil sebuah selimut bewarna coklat soft dengan hiasan yang simple.

 

Diusapnya kembali selimut yang ada di tangannya. Akupun mencoba ikut mengusapnya perlahan. Benar-benar lembut.

 

“Dia pasti suka dengan pilihanmu.” Jawabku.

 

“Baiklah kalau gitu, kita beli yang ini ya?” Tanyanya.

 

Aku hanya mengangguk dan memasukannya ke keranjang. Dia kini kembali berjalan menuju rak lainnya.

 

“Sekarang untuk ahjushi.”Katanya memimpin jalan.

 

“Apa yang sebaiknya untuk appa?” Tanyaku bingung.

 

“Ahjushi sepertinya perlu sesuatu yang tidak ada di sini.” Jawabnya.

 

“Lalu?” Sahutku.

 

“Sebentar aku mau melihat-lihat setelah itu kita ke store pakaian. Aku ingin melihat-lihat barang-barang.” Katanya.

 

“Sepertinya menyenangkan sekali melihat-lihat barang.” Kataku menebak.

 

“Aku selalu ingin beli ini beli itu.. Membayangkan rumahku ada benda ini dan benda itu. Pasti menyenangkan bisa membuat barang-barang rumah sesuai keinginan kita.” Sebuah raut gembira terukir di wajahnya.

 

Dia sepertinya sangat menyukai shopping time. Aku yakin dia pasti suka shopping dulu. Jemarinya yang mulus dan putih menyentuh semua barang yang ia lewati. Kadang diangkat-angkat, di buka-buka, di tekan, di geser, dan dicoba semuanya. Kuamati dia yang sedang asyik dengan dunianya.

 

Beberapa jam kemudian..

 

Setelah berputar-putar di penjuru mall, setelah keluar masuk beberapa store, setelah berkutat pada hal-hal yang jarang aku sentuh, setelah beberapa kali menghampiri meja kasir akhirnya kini ditanganku sudah membawa kantong tas berisi selimut umma, sebuah jaket rajutan untuk appa, CD yang tadi kubelikan untuk Jaejoong dan pakaiannya yang tadi ia kenakan. Sedangkan di tangannya tengah membawa sekotak besar berisi kue-kue.

 

“Aku rasa cukup ini saja untuk ahjuma dan ahjushi.” Katanya berjalan di sampingku.

 

“Kau pandai sekali memilih barang. Kalau aku beli sendiri dan tanpa bantuanmu, aku pasti hanya membeli bunga untuk umma.” Kataku.

 

“Bunga katamu?” Tanyanya.

 

“Iya.. Memang kenapa?” Tanyaku balik.

 

“Aku tak pernah memikirkannya. Aku rasa serangkai bunga menjadi penyempurna pemberianmu untuk ahjuma dan ahjushi.” Jawabnya.

 

“Ya sudah kita langsung ke sana saja. Sebelumnya kita bisa sekalian membeli bunga di toko bunga yang ada di depan mall ini.” Kataku bersemangat.

 

Setibanya diluar, hari sudah mulai malam. Setelah aku membeli seikat bunga matahari segar, kamipun naik taxi untuk pergi ke rumah appa. Tidak terlalu jauh memang. Tapi aku tak ingin membiarkan Jaejoong kelelahan. Seharian dia sudah berjalan kesana kemari, mulai dari berjalan di pertokoan sebelum makan di Duck House tadi, hingga berjalan-jalan di mall untuk mencari barang-barang untuk keluargaku.

 

-oOo-

 

 

[Yunho pov]

 

10 menit kemudian..

 

Tibalah kami di depan rumah appa.

 

Hatiku berdebar saat ini. Ini pertama kalinya setelah aku melangkahkan kakiku keluar dari rumah ini. Rumah ini tampak tak banyak berubah dari luar. Bunga-bunga tersusun rapi di halaman. Rerumputan menutupi taman dengan segarnya. Pepohonan tampak lebih tinggi saat ini. Cat tembok rumah masih tetap sama, putih kebiruan dan hanya tampak sedikit lebih kusam saja. Retakan kecil di jendela kaca depan karena perbuatanku masih tetap ada. Lantai terasnya masih terasa hangat seperti dulu. Tak banyak yang berubah sejak kepergianku malam itu.

 

Kami sudah berada di depan pintu utama saat ini. Tanganku ku angkat perlahan untuk mengetuk pintu. Tapi berat rasanya untuk mengayunkannya. Ada perasaan ragu untuk bertemu dengan appa di rumah ini lagi. Haruskah aku menemuinya setelah bertahun-tahun tak bertemu. Aku benar-benar…

 

“Tenanglah..” Tiba-tiba Jaejoong menggenggam tanganku yang satunya.

 

Ku tatap wajahnya yang tengah menatapku pula.

 

“Ada aku.. Jangan ragu. Semuanya sudah berubah saat ini.” Katanya.

 

TBC

20 thoughts on “Bloody Love Chapter 28 – Duck House | @beth91191

  1. Yunjae makin tambah deket nih…
    Pas dkamar ganti /toilet,
    appa mpe cengo liat tubuh umma.
    Seksi abis ^^

  2. yeiy…i love this chapter..g trasa udah chap 28…mkin asik n dpt feelnya…tpi kpn mreka jadian n yunho tau jae vampir…???lnjut

  3. yeiy…i love this chapter..g trasa udah chap 28…mkin asik n dpt feelnya…tpi kpn mreka jadian n yunho tau jae vampir…???mreka sling kterkaitn rpanya calon changmin saudara eunhyuk sdangkn donghae sepupu jae…klu g slah yeonhee calon changmin mntannya yunho yaah..wadau..cmna tuh..moga hati yunho sdah sepenuhya untuk jae…amin

  4. suka suka suka😀
    thooooorrr … author ini mau nunjukin keromantisan yunjae apa nunjukin kelemotan’y jae siiih?😦
    masa udah jadi vampir ga ada peka peka’y? pan kasian itu yunho ngegalau mulu😦
    ihiiiiy jae udah berani gandeng tangan’y yun, makin deket aja niiiiih🙂
    haduuuuh ikutan deg deg ser yunho mau ketemu appa’y itu ! apa yang bakal terjadi ya?
    thor ini kapan klimaks’y ?
    ga sabaran konflik’y nih! ga sabar juga kapan yunjae jadian ! dan yang penting ga sabar yunjae nc’an *yadongmode:on

  5. aduh kenapa jae jadi lemot begini sih thor😀
    padahal Yun udah ngasih sinyal/tanda/alarm sekenceng itu, ckckckckckck

    Jae rempong bener,, mentang-mentang mau ketemu calon mertua, hahahaha
    Yunho sampe ga ngedip liat tubuh jae yang mulus bak porselen ntu, hahahahaha

    semoga appa yunho udah tobat, tenang aja yun ada jae ko yang siap berdiri di sampingmu menggenggam erat tanganmu dan tersenyum😀

    Yunjae is real…tebar-tebar kolor yunjae

  6. hia…jae knp gak sadar2 sich klo yunho tuch sayang ma km.. bikin gemes ja… hm… jae milih barang bwat ortu yunho bener2 baik bgt…

  7. G krasa udh chap 28..Keren..
    Ff ni emang keren sih..
    N part ni jg mnrutQ yunjae momentny sweet buanget..
    Author daebak..
    Hahahaha..
    #trtwa breng minnie

  8. Jaejoong bener bener paham yunho yah
    So so so sweeeettt banged deh ah apalgi pas mereka belanja koq dipikiran aq kayak pasangan suami istri baru yah
    Semangat yunpa lupakan masa lalu mu

  9. wach dari mana jaeppa taw klu calon iparnya yunppa tuh mantannya ??
    jdi makin penasaran..
    tdi pas di kmr mandi yunjaeppa harusnya melakukan sesuatu … haha
    lol lmao *yadong mode on* 😀

  10. tuhkan tunangan changminie itu mantannya yunnie -,- gmana nih jadinya keke~ mana jaejoong juga trnyata kenal~ dunia per ff-an(?) emg sempit~ xDD

  11. Untung jae nawarin diri nemenin yun ke makan malamnya Minnie…jae belum ƭªŮ ýª kalau calon bini’a Minnie tuh mantan’a yunpa??? Pastilah tuh cewe Ъ>:/ mau ketemuan ªⓜª yunpa..malu x ýª ??? Jadi dy alasan halmonie’a sakit…
    Yunpa jangan mangap gitu np ngliatin tubuh seksoy’a jaema…kalau Q sih langsung peluk aja drpd cm ngliatin doang…
    Jaema ųϑªђ berani pegang tangan’a yunpa kapan pegang ýanƍ lain”nya…haduuuhh kapan mereka kissu annya ampe chap 28 baru pegang tangan doang…skrg Q baca ųϑªђ mau bulan puasa bisa gaswat kalau moment NC nya Q bacanya siang” batal dong…padahalkan Q gak bisa lepas dari baca epep ini everytime everyday

  12. shoping time itu emang waktu yg paling menyenangkaaannnn ….
    apalagi kalo pasangannya juga suka shopping
    hahaha

    Jae jadi tau ya keadaan rumah nya Yun
    jadi dia bisa dapet barang2 buat ummppa Shim

    tuhkan benerrrr Younhee calon istrinya Min
    gimana kalo Yun tau ya
    haduuhhh

  13. Calon istri changmin adalah mantan pacar appa ?

    Umma emang slalu menawan

    Smoga makan mlam klian brjalan lancar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s