Bloody Love Chapter 29 – That Night | @beth91191


Anyeonghaseyoooo…

Chap ini isinya apa yaa??

Menurutku chap ini adalah chap yang tidak terlalu mengobral Yunjae moment.. Tetep ada sih.. Tapi gak banyak.. Chap ini lebih konsen ke keluarga Shim. Ya, appa umma dan Changmin gitu dehhhh..

Mau tau gimana cerita tentang hubungan Yunho dengan appanya saat ini?

Mau tau??

Silakan baca aja dan leave komen yapp..

😀

 

Title        : Bloody Love

Author   : Beth

Chapter : 29 – That Night

Genre    : Romance, Action, Yaoi

Rate       : 21+

 

 

 

Chapter XXIX – That Night

[Yunho pov]

Tangannya yang dingin entah mengapa membuatku hatiku terasa hangat. Kegalauanku sirna seketika ketika tangan lembutnya menggenggam tanganku. Seperti ada ketenangan di hatiku ketika dia berkata seperti itu. Aku yakin tidak akan terjadi apapun ketika aku bertemu dengan appa, semuanya akan terasa mudah jika ada Jaejoong disampingku seperti ini. Aku tersenyum dan mengangguk.

 

“Baiklah.”Kataku.

 

Kuketok pintunya..

 

Tok tok tok..

 

Kembali kutatap pemilik wajah manis di sampingku. Dia tersenyum ke arahku. Bibir merahnya benar-benar indah. Bibir merah delimanya benar-benar magnet bagiku. Sejenak aku lupa kalau aku berada di depan rumah appa. Wajahnya mengalihkan duniaku.

 

“Yunhoooo…” Sebuah suara memanggilku dengan lembutnya.

 

Sebelum aku sempat menatap wajah pemilik suara itu, aku sudah sangat mengenalinya dengan jelas.

 

“Umma..” Kataku sambil mendapati wajah wanita setengah baya yang tetap cantik seperti dulu berdiri di depanku membukakan pintu untukku.

 

“Yunho…” Umma pun memelukku erat. “Umma sangat merindukanmu Yunho..” Serunya.

 

Aku pernah bertemu tiga kali dengan umma setelah kepergianku dari rumah itu. Namun ketiga-tiga terjadi di saat aku masih duduk di bangku SMA. Semenjak itu aku benar-benar tak pernah bertemu  dengannya. Mungkin beberapa kali aku pernah menitip salam untuk umma melalui Changmin. Tapi salam tetaplah salam. Yang dia butuhkan untuk melepas rindu tak cukup hanya dengan salam dariku.

 

Kulihat mata umma mulai berkaca-kaca.

 

“Kau tampak lebih kurus Yunho. Makanmu berkecukupan tidak? Kau selalu menjaga kesehatanmu kan? Bagaimana dengan penghasilan? Kau berkecukupan kan? Semua baik-baik saja kan? Ahh Yunhoo.. Anak umma. Umma sangat rindu dan khawatir denganmu. Tapi kau tampak lebih tampan. Sangat tampan. Kau benar-benar bujang anak umma. Kau sudah dewasa Yunhoku..” Umma memelukku erat bahagia sambil bertanya membabi buta yang sebetulnya tidak memperlukan jawaban dariku.

 

“Nae umma. Semua baik-baik saja dan memang benar aku kini sudah dewasa. Aku sudah 25 tahun umma.” Kataku berusaha tampak tenang di depannya.

 

“Sepertinya baru kemarin kau datang kerumah ini.. Sepertinya baru kemarin kau memperkenalkan diri pada umma. Sepertinya baru kemarin kau minum susu ketika kau akan tidur di malam hari. Sepertinya baru kemarin kau belajar bersama dengan Changmin di kamar. Ternyata itu sudah lama sekali… Dan banyak hal yang telah terjadi setelah itu dan saat ini setelah sekian lama kau pergi meninggalkan rumah, saat ini kau datang kembali dan kau sudah sangat berubah.” Ucapnya dengan sedikit mendesah di akhir kalimatnya.

 

“Nae umma.” Sahutku sambil tersenyum masam.

 

“Sudahlah.. Maafkan umma.. Umma sampai lupa. Ayo masuk ke dalam. Ayo masuk..” Kata umma sambil mengajakku masuk.

 

Namun ummapun sadar keberadaan Jaejoong yang sedari tadi berdiri di sampingku. Umma sedikit terkejut ketika melihatnya. Beberapa saat dia terdiam menatap Jaejoong. Tatapannya memancarkan kebingungan dan keraguan.

 

“Siapa dia Yunho? Teman perempuanmu? Atau kekasihmu? Atau istrimu? Cantiknyaa..” Seru umma tiba-tiba.

 

Apa yang umma katakan? Teman perempuan? Kekasih?? Istri??? Dia kan namja, kenapa umma berpikir dia yeoja. Tapi kalau dipikir-pikir, benar yang umma katakan kalau dia itu  cantik.. Sangat cantik.. Wajar kalau umma salah mengira kalau dia adalah yeoja.

 

“Namja ini Kim Jaejoong, teman sekaligus pegawai di tempat makanku.” Kataku sambil menahan senyum.

 

Kulihat kedua pipi Jaejoong memerah saat ini. Dia hanya menunduk dan tersenyum malu, menyembunyikan kesalah tingkahannya.

 

“Ohh.. Mianata.. Umma kira..” Belum selesai umma berkata.

 

“Tidak apa-apa ahjuma..” Jaejoong berkata malu-malu.

 

“Kau pasti teman baiknya Yunho sampai diajak makan malam bersama kami. Kalau begitu ayo masuk-masuk.. Ayo masuk..” Kata umma sambil melepaskan tangannya dari tanganku dan kini ganti memegang tangan Jaejoong.

 

Di rangkulnya dan di tepuk-tepuknya punggung Jaejoong. Ummapun mengajak Jaejoong masuk dengan merangkulnya erat. Tampak umma begitu merasa sudah sangat dekat dengannya walau baru beberapa detik saja bertemu. Aku rasa Jaejoong adalah seseorang yang bisa dengan mudah membuat orang-orang yang baru mengenalnya merasa begitu akrab dengannya. Sama seperti aku pertama kali berjumpa dengannya. Dia mampu membuat orang lain menyukainya dalam sekali bertemu saja. Sosoknya memang menarik orang untuk berbuat baik dan peduli padanya.

 

Kami pun melangkah masuk. Sinar hangat dari dalam rumah masih terasa sama bagiku. Kulihat barang-barang yang terdapat di ruang tamu rumah itu. Tak banyak berubah dari benda-benda di ruang tamu ini. Semuanya masih sama. Sofa, meja, hiasan dinding, rak buku, karpet bahkan vas dan jam dindingnya sama sekali tak berubah. Setelah beberapa langkah kami melangkahkan kaki di ruang tamu, Changminpun muncul dari dalam dengan masih mengenakan kemeja dan dasinya.

 

“Hyung…” Pekiknya sambil mendekatiku dan memelukku. “Aku kira kau tak akan datang.” Ucapnya.

 

“Mana mungkin aku tak datang. Aku kan sudah berjanji.” Kataku.

 

“Oh.. Ternyata kau juga datang hyung.”Katanya sambil menatap Jaejoong.

 

Dilepaskannya pelukan kami dan dipeluknya juga Jaejoong. Umma yang semula merangkulnya pun,membiarkan Changmin memeluknya.

 

“Oya hampir saja lupa. Kami membawakan sesuatu untuk appa, umma dan Changmin.” Kataku.

 

“Jangan repot-repot Yunho.” sahut umma.

 

“Tidak umma. Sama sekali tidak repot. Jaejoonglah yang memilihkan semua barang-barang ini.” Kataku.

 

“Mana hyung? Mana hyung?” Ucap Changmin sambil mengambil semua tas kantong yang di bawa olehku.

 

“Hey nanti saja Changmin. Yunho baru saja tiba, bahkan diapun belum bertemu dengan appa.” Kata umma sambil merebut tas tas itu dari tangan Changmin.

 

“Appa mana umma?” Tanyaku.

 

“Dia sudah menunggumu dari tadi sore di ruang keluarga sambil menonton tv. Sampai-sampai dia ketiduran.” Jawab umma.

 

“Lalu bagaimana?” Tanyaku lagi.

 

“Umma bangunkan dulu ya.” Kata umma berjalan di depan menuju ruang tengah.

 

“Tidak usah umma. Biar hyung saja yang membangunkan.” Kata Changmin yang membuatku menjadi gugup.

 

Beberapa saat aku terdiam.

 

“Baiklah.. Aku saja yang akan membangunkannya.” Kataku sedikit berat dengan senyum yang dipaksakan.

 

“Yunho..” Jaejoong memanggilku.

 

Kupandangi wajahnya. Dari matanya, aku seperti mendapatkan keyakinan yang sempat hilang tadi. Aku yakin tak akan terjadi apa-apa, aku yakin karena dia yakin. Ya.. Jung Yunho.. Yakinlah bahwa appa sudah berubah. Semua akan baik-baik saja. Bertahun-tahun kami berpisah pasti sudah ada perubahan ke arah yang lebih baik pada diri appa. Tenanglah Jung Yunho.. Tenanglah..

 

Akupun melangkahkan kakiku mendekati appa yang tertidur di sofa. Kupandangi wajahnya yang tampak lebih tua dari terakhir aku bertemu dengannya. Tubuhnya tampak sangat kurus, guratan-guratan tua sudah sangat tampak di wajah dan tangannya. Kudengar dia mendengkur pelan. Sepertinya nyenyak sekali tidurnya. Ku berusaha sekuat tenagaku untuk tidak membayangkan hal-hal yang pernah terjadi dulu. Kuberusaha untuk menguburnya dalam-dalam.

 

 

Kusentuh telapak tangannya pelan. Namun seperti ada cambukan di hatiku ketika melakukannya. Kutarik kembali tanganku. Kumemandang ke arah Jaejoong. Dia hanya menganggukan kepalanya pelan sambil tersenyum kecil.

 

Pfuhhhh…

 

Kau harus berani Jung Yunho. Pfuhhh… Harus.. Harus.. Harus..

 

Kupegang kembali tangan appa. Ke sentuh pelan sambil membangunkannya.

 

“Appa.. Appa..” Kataku.

 

Kulihat appa belum bereaksi. Tidurnya sangat nyenyak hingga membuatnya tak mudah untuk terbangun.

 

“Appa.. Appa..” Kuulangi kata-kataku dengan menepuk pelan bahunya.

 

Kulihat matanya terbuka perlahan. Selama beberapa detik dia berusaha mengumpulkan kesadarannya dan kini dia perlahan-lahan menatap ke arahku. Menatapku lekat. Menyakinkan dirinya bahwa benar akulah yang ada di depan.

 

“Yunho??” Tanya pelan.

 

“Iya appa..” Aku tersenyum tulus.

 

“Yunho?” Dia bingung untuk berkata apa.

 

“Ada apa appa? Yunho disini..” Kataku.

 

“Yunho..” Dia masih ragu berkata.

 

Matanya tampak berkaca-kaca. Tiba-tiba appa bangkit dari duduknya dan berlutut di depanku yang masih duduk di sofa.

 

“Maafkan appa Yunho maafkan appa..” Ucapnya sambil tiba-tiba berurai air mata.

 

Aku berusaha menahan agar tak menangis di depannya. Aku berusaha agar tidak tampak sisi lemahku.

 

“Appa tidak ada salah padaku appa..”  Kataku berusaha melupakan apa yang pernah ia lakukan dulu.

 

“Kau jangan berkata seperti itu Yunho. Dosa appa padamu besar sekali. Appa telah melakukan hal menjijikan yang tak seharusnya dilakukan seorang appa pada anaknya. Maafkan appa Yunho. Maafkan appa.. Tak seharusnya appa melakukannya padamu. Tak seharusnya appa menyentuhmu. Mungkin kau sudah sangat membenci appa saat ini. Tapi appa mohon maafkan appa..” Dia memegangi tanganku dan menempelkannya di dahinya.

 

Aku yang semula berusaha agar appa berhenti berlutut padaku, tiba-tiba mematung dengan perkataan appa yang terlalu frontal di depan umma. Kenapa dia harus membuka semua ini sekarang, saat kami sudah berusaha menutupinya selama bertahun-tahun lamanya.

 

Dengan takut-takut kutatap wajah umma yang ada di sampingku. Umma tengah berlinang air mata juga saat ini. Umma menangis? Aku benar-benar telah membuat umma terluka.. Umma pasti terluka, sedih dan kecewa sekali. Hatiku ikut merasa sakit ketika melihat umma akhirnya mengetahui skandal ini.

 

“Umma..” Kataku berat.

 

“Umma sudah tahu semuanya Yunho. Appa sudah menceritakannya tak lama sejak kau pergi. Appa sudah minta maaf pada umma dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Umma tahu kau sangat trauma dengan kejadian itu. Oleh karena itu, walaupun umma sudah tahu keberadaanmu dari Changmin, tapi umma sama sekali tidak menghubungi dan membujukmu untuk kembali lagi. Umma tahu pasti berat untuk menyembuhkan luka itu. Umma tak mau kau akan sulit melupakan luka itu ketika kau bertemu dengan umma. Umma berusaha menahan kerinduan dan keinginan yang amat besar untuk bertemu denganmu, demi kau menata kembali hatimu dan menyembuhkan rasa sakit hatimu dulu. Setiap malam umma selalu berdoa agar psikismu segera benar-benar membaik dari ketraumaan itu. Dan kini umma yakin, inilah saat yang tepat untuk kita bertemu lagi. Umma yakin, bertahun-tahun yang sudah kita lewati ini sudah sangat mendewasakanmu dan menyembuhkan luka hatimu. Umma yakin kau siap untuk bertemu lagi dengan appa. Bertepatan dengan pernikahan Changmin yang semakin dekat, maka umma meminta untuk mengadakan makan malam ini dan mengundangmu kemari. Maafkan appa, Yunho. Maafkan appa. Demi umma maafkan appa. Umma sudah benar-benar memaafkan kesalahan appa saat itu. Umma sudah berusaha memahami kondisi appa. Dan lagipula appa sudah berjanji untuk tidak akan melakukannya lagi. Maafkan appa, Yunho.. Umma mohon..” Ucap umma dengan Changmin disisinya merangkul untuk menenangkannya.

 

Mwo?? Apa yang umma katakan? Benarkah itu? Kupandang wajah umma lekat-lekat dan kini kupandang appa yang masih bersimpuh di depanku.

 

“Umma.. Appa.. Changmin..” ucapku terhenti sejenak

 

Kutarik nafas dalam-dalam dan kemudian kuhembuskan perlahan.

 

“Demi Tuhan..”

 

“Aku sudah memaafkan appa sejak pertama kali aku meninggalkan rumah. Aku tak sanggup berkata yang sebenarnya selama ini. Karena aku takut menyakiti perasaan kalian semua. Tapi aku sudah mengubur kenangan itu dalam-dalam. Aku minta setelah ini, jangan lagi sekalipun kita ungkit-ungkit hal ini. Aku sudah benar-benar melupakannya. Aku sudah benar-benar memaafkan appa. Bangunlah appa.. Kumohon jangan pernah bersimpuh seperti ini lagi. Bagaimanapun juga kau appaku yang tak sepatutnya bersimpuh di depan anaknya. Ayo appa.. Bangunlah..” Kataku sambil mengangkat appa agar berdiri.

 

“Benarkah Yun??” tanya appa sambil berdiri dengan ragu.

 

“Tentu appa.. Tentu..” jawabku cepat.

 

Kamipun sama-sama berdiri. Kupeluk erat appaku ini. Aku berjanji akan melupakan hal itu. Tanpa dendam sedikitpun. Semuanya kembali dari nol. Aku menganggap appa tetaplah appaku yang dulu yang selalu hangat, ramah, dan melindungiku sepenuh hatinya. Umma dan Changminpun berjalan mendekati kami. Kurangkul umma dan Changmin erat-erat. Begitu juga dengan appa yang berusaha merangkul mereka erat-erat. Akhirnya kamipun berangkulan bersama berempat dengan penuh haru bahagia. Kunikmati momen ini dengan penuh syukur. Tak pernah menyangka aku masalah yang selama ini membebani hatiku hampir sebagian umurku,telah diselesaikan dengan sangat indahnya hari ini.. Kuintip Jaejoong yang berdiri tak jauh dari kami, turut bahagia, tersenyum manis melihat kami berpelukan. Tanpa dia yang memberiku semangat dan keyakinan untuk berani datang ke rumah appa hari ini, tak akan pernah ada datangnya kebahagiaan ini padaku. Kebahagiaan yang sangat aku nanti-nanti. Kulemparkan senyuman balik padanya.

 

Gomawoeyo Kim Jaejoong.

 

Gomawo..

 

Jeongmal Gomawo..

 

 

-oOo-

 

Saat makan malam…

 

Kami berlima sudah duduk di meja makan dengan rapi. Appa seperti biasa di posisi utama di salah satu tepi meja yang berhadapan denganku. Umma di tepi sebelah kiri meja dekat dengan appa dan Jaejoong di samping umma dekat denganku. Changmin berada di tepi sebelah kanan dan juga duduk dekat denganku. Seharusnya calon adik ipar ku duduk di sebelah Changmin, tapi sayang sekali dia tak bisa datang malam ini.

 

“Ayo Yunho, anak tertua appa. Pimpin doa sebelum makan.” Kata appa sudah mulai merasa nyaman bicara denganku.

 

“Nae.. Berdoa dimulai.”

 

“Tuhan.. Terima kasih atas nikmat kebahagiaan yang telah kau berikan pada keluarga kami malam ini,Tuhan. Nikmat indahnya sebuah keluarga. Nikmat indahnya bersatu kembali dalam rasa kasih dan sayang di antara kami semua. Terima kasih banyak Tuhan. Tanpa kuasa dari-Mu, aku yakin tak akan ada mukjizat seluar biasa ini yang kami rasakan. Atas pertolongan-Mu lah yang telah membuat permasalahan di antara kami terselesaikan dengan baik. Terima kasih banyak Tuhan, terima kasih. Semoga kebahagiaan yang kami rasakan ini akan tetap terjaga seumur hidup kami. Kami berjanji, kami akan saling mencintai dan menjaga satu sama lain mulai hari ini. Kami tak akan membiarkan nikmat yang Kau berikan ini hancur di kemudian hari. Terima kasih Tuhan, Engkau telah memberikan makanan yang baik dan lezat ini untuk kami. Semoga makanan ini bermanfaat untuk kami. Amin.” Ucapku menyelesaikan doaku.

 

“Amin..” Sahut yang lain.

 

“Baiklah… Saatnya kita makannnnn…” Kata Changmin sambil sibuk mengambil nasi.

 

“Changmin….. Kau sudah menjadi pembawa berita masih saja tak berubah kalau melihat makanan. Biar appa dulu yang mengambil makanan.” Kata umma sambil memukul pelan tangan Changmin.

 

“Yahh umma.. Aku kan lapar sekali umma.. Sepulang dari stasiun tv tadi siang, aku belum makan sedikitpun. Sebetulnya aku ingin makan dulu.tapi mengingat umma masak enak jadi aku buru-buru pulang kemari.” Kata Changmin menggebu-gebu.

 

“Yasudah.. Tidak apa-apa. Ambilah dulu makanannya.” Kata appa sabar.

 

Dengan cepat Changminpun mengambil nasi hingga memenuhi piringnya, lauk pauk yang banyak dan akhirnya piringnya pun menggunung. Semuapun ikut mengambil makanannya sendiri-sendiri.

 

“Yunho anak umma.. Ambil bulgoginya yang banyak. Umma khusus membuatnya untukmu. Kau pasti rindu bulgogi buatan umma ini.” Kata umma sambil menyendokan bulgogi ke piringku.

 

“Nae umma. Jangan banyak-banyak.. Nanti Changmin kurang.” Kataku.

 

“Makan saja Yunho makan saja. Tadi appa lihat di belakang, umma sudah menyiapkan tambahan extra untuk dongsaengmu yang suka sekali makan ini.” Kata appa.

 

“Jeonmaleyo umma?” Tanya Changmin.

 

“Nae.” Sahut umma sambil tersenyum.

 

“Ayo makan-makan kalau begitu.. Selamat makan..” Kata Changmin ya begitu antusias untuk segera makan.

 

“Selamat makan..” Jawab kami semua.

 

Kamipun mulai menikmati makanan kami masing-masing. Appa yang semula kurang begitu menyadari keberadaan Jaejoong, akhirnya menyadarinya juga.

 

“Siapa dia Yunho? Calon istrimu? Tidak kau kenalkan pada appa?” Tanya appa padaku dengan maksud menunjuk Jaejoong.

 

Suasana makan yang tenang tiba-tiba berubah menjadi suara tawa dari Changmin. Kulihat umma pun juga ingin tertawa. Tapi di tahannya sekuat tenaga. Aku dan Jaejoong yang tak mengira akan ada yang mengatakan hal seperti itu lagi hanya bisa malu dan salah tingah.

 

“Appa ini bagaimana? Dia itu namja, appa..” Kata Changmin menjelaskan.

 

“Mwo??? Namja?? Aniyeyo.. Namjaniyeyo.. Kau cantik sekali anak muda.” Appa masih tidak percaya.

 

“Namanya Kim Jaejoong appa. Dia teman sekaligus pegawaiku di tempat makan.” Aku berusaha membenarkan.

 

“Perkenalkan. Kim Jaejoong imnida.” Kata Jaejoong pada appa.

 

“Mwo??? Kau benar-benar pria?” Appa masih sangat terkejut.

 

“Nae appa. Umma tadi juga salah mengenali. Umma juga mengiranya yeoja, kekasih atau calon istri Yunho. Ternyata umma salah. Benar kata appa. Kau cantik Jaejoong-shi.. Lebih cantik dari yeoja malahan. Mianhe mianhe.. Umma tidak bermaksud mengejekmu. Itu suatu berkah, umma rasa.” Kata umma.

 

“Nae.. Appa juga minta maaf kalau appa salah bicara.” Kata appa.

 

Wajah Jaejoong sudah sangat memerah saat ini.

 

“Gwechanayeyo. Tidak apa-apa.” Jawabnya malu-malau.

 

“Ahh hyung.. Jangan pedulikan kata-kata mereka.” Changmin berusaha menetralisir suasana.

 

Lucunya wajah Jaejoong jika sedang menahan malu seperti itu. Aku rasa tak bisa disalahkan kalau umma dan appa sampai mengira dia yeoja. Dia memang benar-benar cantik seperti yeoja. Bahkan lebih cantik menurutku. Kulihat di piring Jaejoong hanya ada sepotong daging dan tanpa nasi sedikitpun.

 

“Jae.. Kenapa kau makan sedikit sekali?” Tanyaku.

 

“Apa ada yang aneh dengan rasa masakan umma?” Tanya umma padanya juga.

 

“Andwe ahjuma. Makanannya sangat lezat. Tapi saya masih kenyang. Sebelum kemari sebenarnya kami sudah makan.” Katanya.

 

“Makan??” Sahut appa.

 

“Nae appa. Sebenarnya aku sempat lupa acara makan malam ini. Kami baru ingat saat kami sedang makan di Duck House yang pernah kita kunjungi dulu. Dia yang membuatku ingat makan malam ini. Bahkan dia jugalah yang memilihkan apa yang akan aku bawakan untuk kalian semua. Dia banyak membantu.” Kataku menjelaskan.

 

“Oya.. Mana tadi tas-tas kantong plastik yang di bawa oleh hyung, umma?” Tanya Changmin ingat.

 

“Di meja ruang tamu. Nanti setelah makan kita lihat sama-sama apa isinya. Nae?” Kata umma.

 

“Nae umma.” Sahut kami bersamaan.

 

Kamipun melanjutkan makan dengan lahapnya. Di sela-sela makan kami sesekali mengobrol hangat. Membahas banyak hal, mulai dari pekerjaanku, pekerjaan Changmin, pernikahan Changmin yang tinggal menghitung hari dan lain sebagainya. Makan malam yang sungguh luar biasa. Makan malam yang sudah tak pernah aku rasakan bertahun-tahun lamanya. Makan malam bersama seluruh anggota keluargaku.

 

-oOo-

 

Setelah makan malam…

 

Kami duduk-duduk di ruang tengah, tempat favorit yang sering menjadi tempat kami menghabiskan waktu bersama. Kami duduk bersama sambil menyalakan music era-80an pelan. Perapian hangat di dekat kami membuat suhu di sini lebih baik dari pada diluar yang sudah mulai masuk musim dingin.

 

“Ayo kita lihat apa oleh-oleh dari Yunho..” Seru appa.

 

“Bawakan kemari Changmin..” Perintah umma.

 

“Nae umma.” Changminpun berjalan ke ruang tamu untuk mengambil apa yang aku bawakan tadi.

 

Tak berapa lama, dia kembali dengan membawanya.

 

“Ini..” Dia menyerahkan dua tas kantong dan serangkai bunga pada umma tapi satu tas kantong lagi dia bawa sendiri.

 

“Apa yang itu Changmin?” Kata umma sambil menunjuk tas yang dibawa Changmin.

 

“Kue-kue itu umma. Sini jangan kau makan sendiri.” Aku mengambil paksa tas kantong itu dan meletakannya di meja depan kami.

 

“Yahhh hyunggg…” seru Changmin tak terima.

 

“Biar umma saja yang meletakannya di piring” kata umma akan mengambil kue itu dari meja.

 

“Aku saja umma.” Tiba-tiba Jaejoong mengambil tas itu duluan.

 

Semua mata tertuju padanya. Jaejoong yang sedari tadi hanya terdiam dan hanya berkata ketika ada yang bertanya saja, kini sedang berkata dengan inisiatifnya sendiri. Situasi tiba-tiba terasa begitu canggung. Untung saja umma segera mengkover suasana yang ada. Ummapun berkata untuk menetralisir situasi yang ada.

 

“Gomawo Jaejoong.. Sini umma bantu..”Kata umma.

 

Umma dan Jaejoongpun berjalan menuju dapur untuk menata kue-kue itu dipiring. Kuamati mereka mengobrol kecil dengan akrabnya di dapur.

 

“Appa.. Ini hadiah untuk appa.” Kataku sambil menyerahkan jaket rajutan yang dipilihkan Jaejoong.

 

“Benar ini untuk appa? Wah bagus..” Kata appa sambil mengambilnya dari tanganku.

 

“Yang memilihkan Jaejoong, appa..” Kataku.

 

“Seleranya bagus ya. Dia tahu saja warna yang cocok untuk appa.” Sahut Changmin.

 

“Lalu untuk umma mana?” Tanya umma muncul dari dapur dengan Jaejoong berjalan di belakangnya membawa sepiring kue.

 

“Ini umma, selimut yang juga pilihan Jaejoong.” Jawabku.

 

“Kamu yang memilihkannya?” Tanya umma pada Jaejoong sambil mengambil selimut itu.

 

“Nae..” Jawab Jaejoong meletakan piring kue di atas meja.

 

“Wahhh.. Lembut.. Warnanya bagus..” Kata umma.

 

“Wah hyung.. Kau tidak membelikan apa-apa untukku?” Tanya Changmin yang iri dengan barang-barang yang kuberikan pada umma dan appa.

 

“Nanti saja ya waktu pernikahanmu. Sekarang makanlah kue ini aja.” Jawabku.

 

“Asyikkkk.. Berarti semua kue untukku..” Kata Changmin sambil memakan kue-kue itu hingga mulutnya penuh.

 

“‎​​​​Hahahaha…” Kami semua tertawa melihat polah tingkah Changmin. Usianya yang menginjak usia 23 tahun tidak membuatnya tampak dewasa. Padahal tak lama lagi dia akan menikah.

 

Malam ini kami habiskan mengobrol bersama di ruang tengah. Rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Dulu pernah aku mengira apa yang aku rasakan adalah kenyataan. Tapi setelah appa melakukan hal itu kepadaku, ternyata kenyataan yang ada saat itu tak seindah mimpi yang aku rasakan. Dulu tetaplah dulu. Kini semua telah berubah. Saat ini aku yakin seyakin-yakinnya, bahwa aku sudah benar-benar tidak bermimpi lagi kali ini, dan kenyataan yang aku rasakan telah seindah apa yang aku mimpikan. Ya.. Benar-benar kenyataan yang indah. Memang benar, kenyataan indah tak begitu saja bisa kita raih, perlu adanya usaha yang luar biasa untuk memperbaiki yang kurang indah sehingga dapat mengubahnya menjadi indah.

 

Appa, umma, dan Changmin, sudah lengkap rasanya kebahagiaanku hari ini. Apalagi ada Jaejoong yang menjadi pelengkapnya. Masalah yang sebesar ini saja mampu kami lewati saat ini, aku yakin jikalau suatu hari nanti, ada suatu masalah yang terjadi walau sebesar apapun akan mampu kami lewati bersama. Aku berjanji, aku yang akan menjaga keutuhan keluarga ini, selamanya. Aku tak ingin keluarga ini tercerai berai lagi. Aku Jung Yunho. Aku berjanji, keluarga Shim akan tetap bersatu dan bahagia untuk selama-lamanya. Walaupun aku akan tetap memegang nama keluarga Jung ku,bagaimanapun juga aku tetaplah anak tertua keluarga Shim, yang memiliki tanggung jawab pada keluarga ini. Itulah janjiku pada diriku sendiri.

 

 

-oOo-

 

Malam hari…

 

“Sepertinya sudah malam umma appa. Kami harus pamit pulang dulu.” Kataku minta ijin untuk undur diri.

 

“Menginap disini aja. Sudah terlalu larut kalau kau mau pulang sekarang. Sudah hampir setengah dua belas. ” Kata appa.

 

“Tapi..” sahutku ragu.

 

“Kamarmu setiap hari umma bersihin kok. Kalau malam ini ingin menginap, sudah siap. Tak ada yang berubah dari kamarmu, sedikitpun tidak.” Timpal umma.

 

“Tapi kami harus membuka tempat makan besok pagi umma appa.” Jawab ku berusaha menolak tawaran itu dengan halus.

 

“Ya, setelah sarapan pagi, kau baru pulang saja. Lagipula tidak ada kendaraan umum jam segini dan Changminpun sudah mengantuk. Tak baik mengendara malam-malam. Jadi sepertinya dia juga tidak bisa mengantarkanmu.” Kata umma.

 

“Tapi kami tidak bawa pakaian untuk ganti.” Aku terus berusaha menolak.

 

Sejujurnya aku ingin menginap di rumah appa malam ini tapi yang membuatku ragu adalah aku tak yakin Jaejoong mau menginap malam ini. Dia pasti kelelahan dan ingin tidur di rumah saja.

 

“Kau bisa pinjam pakaian Changmin. Walau dia sudah mempunyai apartemen tapi dia masih sering menginap di rumah ini. Pakaiannya banyak yang ia tinggalkan disini.” Jawab umma.

 

“Tapi…” Aku masih saja berusaha menolak.

 

“Sudahlah Yunho. Kita menginap saja. Aku sudah sangat mengantuk.” Kata Jaejoong tiba-tiba.

 

“Mwo? Kau mengantuk? Benarkah?” Tanyaku.

 

Dia hanya menangguk.

 

“Baiklah. Kami menginap disini malam ini.” Sahutku cepat.

 

Jikalau Jaejoong sudah memberi perintah untuk tidur disini saja, aku tak mampu menolaknya. Aku tak mau membuatnya kecewa.

 

“Ini rumahmu Yunho. Jangan merasa sungkan-sungkan.” Kata appa.

 

Aku benar-benar tak bisa menolak keinginan Jaejoong jika dia sudah berkata dia sudah mengantuk dan ingin menginap saja malam ini, maka kamipun harus menginap. Aku tak mau dia harus menempuh perjalanan jauh dahulu untuk menuju rumah. Rumah appa degan rumahku sekitar 30 menit dengan kendaraan pribadi. Kalau dengan bis bisa mencapai 40 menit sampai 1 jam. Dari pada dia harus lebih lelah lagi, sebaiknya kami menginap saja. Ini karena mu Jae, akhirnya setelah sekian lama, aku menginap juga di rumah ini. Tak apalah. Aku akan mengambil kenangan manis yang pernah terjadi di rumah ini. Bagaimanapun juga, banyak kenangan manis yang melekat di rumah ini.

 

 

-oOo-

 

Beberapa saat kemudian…

 

Aku sudah mengganti pakaianku dengan kaos milik Changmin. Rasanya kaos ini sedikit pas di tubuhku. Maklumlah tubuh Changmin memang sedikit lebih kecil di bandingkan tubuhku. Aku tengah berdiri melihat-lihat barang-barang ku yang masih tertinggal di kamar ini.

 

Tak lama kemudian, Jaejoong keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kaos pinjaman dari Changmin juga. Tapi baru aku sadari betapa kecilnya badannya ketika menggunakan kaos itu. Kaos yang ia kenakan tampak begitu kedodoran, tubuh mungilnya tersembunyi di dalamnya.

 

“Sedikit kebesaran..” Katanya.

 

“Tidak apa-apa. Kan cuma dipakai untuk tidur.” Kataku.

 

“Terserah..terserah..” Jawabnya.

 

“Aku sudah pernah bilang, kau akan selalu bagus mengenakan apapun Jae.” Kataku lagi.

 

Kulihat dia tidak menggubris kata-kataku dan langsung berbaring di atas tempat tidur.

 

“Ahh.. Nyamannya..” Dia berbaring sambil menempatkan tubuhnya senyaman-nyamannya.

 

“Benarkah??” Akupun meloncat ke sisinya.

 

Kutatap wajahnya yang sedang merasa senang bisa berbaring di kasur springbed yang empuk. Tak seperti kasur busa ku yang tipis dan kurang empuk. Sepertinya dia benar-benar merasa nyaman tidur disini.

 

“Jung Yunho… Alihkan pandanganmu itu…” Bentaknya.

 

“Emang salah kalau aku melihatmu? Aku tidak melakukan apa-apa juga.” Jawabku.

 

“Aku risih. Jaga jarak denganku. Mundur-mundur..” Katanya.

 

“Biasanya kita juga satu kasur tapi kau biasa-biasa saja. Kenapa malam ini aku harus jaga jarak?” Tanyaku tidak terima.

 

“Pokoknya kalau bilang jaga jarak ya jaga jarak walau tanpa alasan.” Serunya ketus dan membalik tubuhnya membelakangiku.

 

“Tidak mau…” Sahutku sambil dekat-dekat dengannya.

 

Diapun berbalik badan lagi dan mendorongku mundur.

 

“Hyaa Jung Yunho… Mundurrrrr!!!” Teriaknya.

 

“Tidak mau..” Sahutku sambil terus mendekat.

 

“Mundur!!”

 

“Tidak..”

 

“Mundur!!”

 

“Tidak..”

 

“Mundur!!!!!”

 

“Tidak..”

 

“Mundurrrrrrrr!!!!!”

 

Kami terus menerus dorong-dorongan hingga sebuah suara membuat kami berhenti.

 

“Hya hya hyaa.. Ada apa ini?” Umma ternyata sudah masuk tanpa kami sadari.

 

Kulihat dia tengah membawa sebuah nampan berisi dua gelas susu diatasnya.

 

“Kalian ini kenapa?” Umma duduk di dekatku.

 

“Masak aku disuruh mundur-mundur sampai mau jatuh umma..” Kataku memanja pada umma.

 

“Salahnya kenapa dekat-dekat??” Kata Jaejoong ketus.

 

“Aku tidak dekat-dekat kok..” Jawabku.

 

“Tidak dekat-dekat?? Jelas-jelas kau menempel ke arahku..” Dia tak mau kalah.

 

“Sudah-sudahh.. Jangan dorong-dorongan. Kalian dapat sebagian tempat tidur masing-masing dan jangan mengambil bagian tempat tidur yang lain. Yunho, Jangan ganggu dia. Umma tahu kau yang salah kan.. Sifat usilmu tak pernah berubah..” Kata umma.

 

“Tapi umma..” Sahutku.

 

“Sudah-sudah.. Cepat tidur..” Kata umma.

 

Umma masih saja tak berubah. Dia tetaplah selalu menjadi sosok yang penenang, penengah, dan pendamai dalam situasi masalah apapun. Dia tetaplah selalu menjadi sosok yang sabar, hangat dan penuh kasih sayang seperti dulu umma yang aku kenal. Tak berubah sama sekali. Akhirnya akupun menahan diriku untuk berhenti mengganggu Jaejoong untuk sementara waktu.

 

“Ini susu mu Yunho..” Kata umma menyodorkan segelas susu untukku.

 

“Umma masih memberikan ku susu sebelum tidur? Aku tapi sudah dewasa umma. Aku sudah 25 tahun sekarang.” Kataku.

 

“Walau kau sudah 25 tahun, 35 tahun, 45 tahun, atau 55 tahun sekalipun, kau tetaplah anak kecil umma. Sudahlah cepat minum susunya.” Kata umma.

 

Akupun meneguk susu itu sedikit demi sedikit. Agak aneh bagiku minum susu seperti ini dengan usiaku yang sudah tak muda lagi ini. Tapi momen-momen seperti ini adalah momen-momen yang sudah sangat aku rindukan bertahun-tahun silam. Umma.. Aku janji.. Aku akan selalu disisi umma, menjaga umma dan keluarga kita.

 

“Trus yang satunya buat Changmin ya? Tapi kan dia sudah ketiduran dari tadi. Boleh untukku juga umma?” Kataku melirik gelas satunya yang dibawa umma.

 

“Siapa bilang ini buat Changmin?? Dia sudah umma sediakan susu di samping tempat tidurnya. Susu ini untuk Jaejoongie..” Kata umma sambil tersenyum ramah ke arah Jaejoong.

 

 

[Jaejoong pov]

 

“Mwo??” Untukku ahjuma??” Aku benar-benar kaget dibuatnya.

 

“Iya tentu saja untukmu.” Ahjuma menyodorkan susu itu untukku.

 

“Tapi aku kan bukan siapa-siapa.” Ucapku pelan.

 

“Siapa bilang kau bukan siapa-siapa. Kau teman baik Yunho dan kau sudah umma anggap seperti anak umma. Cepat minum susu mu, keburu dingin” Ucapnya yang membuatku tersentuh sambil membelai rambutku.

 

Aku benar-benar tak pernah merasakan sosok umma seperti ini sebelumnya. Memang umma ku meninggal saat aku sudah menginjak usia remaja. Tapi umma ku bukanlah sosok yang selalu ada waktu untuk memberikan segelas susu untuk anaknya sebelum tidur. Tak ada senyuman hangat. Tak ada belaian lembut. Tak ada.. Umma ku adalah seorang bisniswoman yang sangat sibuk. Tak banyak kenangan yang bisa aku dapat darinya selain uang dan harta yang dia berikan padaku. Dia selalu berpikir sumber dari suatu kebahagiaan adalah uang. Semula aku juga berpikir seperti itu. Kuhabiskan uang pemberiannya untuk bersenang-senang sepuasku, semauku, sesuka hatiku hingga tanpa sadar aku berubah menjadi sosok yang begitu arogan, sombong, acuh tak acuh, dan mau menang sendiri, bahkan aku sempat benar-benar mendewakan uang dan menganggap uang adalah segala-galanya. Ya begitulah aku dulu, sebelum aku mati, sebelum aku menjadi vampir, sebelum aku mengenal arti kesederhanaan dari Jung Yunho dan sebelum aku hidup kembali sebagai tukang masak di sebuah tempat makan kecil yang hidup serba apa adanya.

 

“Kamsahamnida ahjuma.. Ummaku sudah meninggal saat aku menginjak usia remaja. Tapi sejak aku kecil aku tak pernah merasakan yang seperti ini dari ummaku sebelumnya, karena umma ku dulu adalah orang yang sangat sibuk. Jeongmal kamsahamnida ahjuma.” Kuambil gelas itu dan keminum sedikit demi sedikit.

 

“Kalau kau mau kau bisa memanggilku umma. Kau bisa menganggapku umma mu mulai detik ini.” Ucapnya sambil tersenyum hangat.

 

“U..u..um..umma..” Ucapku ragu.

 

“Apa? Tidak dengar.” Dia memintaku mengulangi perkataanku.

 

“Umma..” Ucapku lebih yakin.

 

“Apa?” Ulangnya lagi.

 

“Umma..” Kuulangi lagi dengan lebih yakin.

 

“Iya anakku.. Mulai hari ini aku adalah umma mu.” Dia membelai wajahku lembut.

 

“Kamsahamnida..”Ucapku tertunduk.

 

“Iya.. Iya..” Katanya.

 

Kumelirik ke arah Yunho. Dia menatapku dengan senyumannya seperti biasa. Saat ini aku tahu kenapa dia begitu berat meninggalkan keluarga dulu saat masalah itu menimpanya. Aku tahu kenapa dia begitu mudahnya memaafkan appanya demi bersatu kembali dengan keluarga ini. Semula aku selalu bertanya-tanya kenapa dia begitu menjaga dan menyayangi keluarganya sampai rela mengorbankan apapun, termasuk mengorbankan perasaannya sendiri. Tapi kini aku tahu kenapa dia berbuat seperti ini. Cinta murni dari sebuah keluargalah yang membuatnya rela melakukan apapun.

 

 

-oOo-

 

Sejak saat itu, bisa kurasakan hubungan Yunho dan keluarganya kembali rukun dan damai. Aku sering di ajak untuk berkunjung, makan siang atau makan malam bersama appa dan ummanya, terkadang ada Changmin dongsaengnya, kadang tidak ada. Bisa dimaklumi, karena Changmin adalah orang sibuk. Tapi semakin aku sering di ajak menghabiskan waktu bersama mereka, semakin aku menyadari arti dari sebuah keluarga. Keluarga kecil yang hangat, bahagia dan sederhana.

 

Seiring berjalannya waktu hubunganku  dengan Yunho juga kian membaik. Aku mulai bisa terbiasa hidup bersamanya. Kuhabiskan waktu-waktu ku dengan bekerja, bercanda, mengobrol bersama, dan berjalan-jalan di kota bersamanya. Walau kadang aku merasa terganggu dengan sifatnya yang tak pernah membiarkan aku dalam ketenangan barang sebentarpun, tapi aku selalu merasa nyaman bersamanya. Perhatian dan kehangatannya yang dia berikan selama ini seperti pelipur lara dan pelepas rinduku pada dongsaengku, teman-temanku dan kehidupanku yang dulu. Jika saat ini aku ditanya apakah aku menyesal mengenal Jung Yunho atau tidak, aku jawab tegas ‘TIDAK!’. Walau belum sepenuhnya aku menerima kehidupan baru ku ini yang benar-benar berbeda 180 derajat. Tapi berkat dialah aku mampu menjalaninya dengan mudah. Berkat dia, aku bisa mengenal dunia yang baru ini dengan jiwa Kim Jaejoong yang baru, yang lebih bisa menghargai kehidupan dan seluruh nikmat yang ada di dalamnya.

TBC

 

Komen komeN komen komen komen komeennnnnnnn…

uoowwww…

Menyenangkan ya semuanya jadi baik-baik saja. Akhirnya permasalahan yang terjadi terselesaikan juga. Yunho dapat bersatu kembali dengan keluarga tercintanya.. Ihiiiyyyyy Jaejoong juga sudah diterima di keluarga itu. Jaejoong Jaejoong.. Cantikkkk..

hahahahaha

 

Chap berikutnya rasa jengkel kalian atas kelemotan Jaejoong menyadari perasaan Yunho akan terjawabkan.

Tunggu kelanjutannya ya..

Gomawo all

Salam Yunjae❤

 

-Beth-

22 thoughts on “Bloody Love Chapter 29 – That Night | @beth91191

  1. Hufh… Masalah keluarga appa akhir.y selesai sudah.
    Seneng deh pas appa godain umma dtempat tidur… ^^

  2. Wkwkwk…lucu bgt wkt umma n appa yun bilang jae cantik!!tpkan jae skrg lbh manly gitu kwkwkw

  3. Cantik??? Jae kamu memang cantik ko, makanya yunho cinta sama kamu, jadi terima aja kalo dibilang cantik, hahahahaha
    akhirnya appa udah beneran sadar dan janji ga bakal ngulangin perbuatan hina itu lagi, Yunho berjiwa besar banget mau maafin appanya yang udah jahat lahir dan batin ke dia.. #peluk Yunho, ditendang jaejoong…wkwkwkwkwkwkw

    jae udah kaya menantu keluarga Shim yaa…
    chingu cepet2 diresmiin dong hubungan Yunjaenya??? terus Yunho tau kalo jae itu vampire #reader banyak maunyaaaaa

  4. makiiiiinnn seruuu yo yo i love it*sambil nge rapp*
    g sbar nunggu jae sadar dri klemotannya…sgra dunk mreka jadian n si yunho tau sapa jae tuh

  5. akhr ny smua pndritaa appa brakhir,gomawoe una udh bntu appa!
    Aduh umma d blg cntik,iy sh umma emng lbh cntik dre yaoja mn pun!
    Akh ga sbr ma prytaan cinta appa ma umma neh!

  6. Ih umma diblg cantik..
    Tp emang umma cantik sih..Lbh cntik dr yeoja mlahan..
    Hehey..
    Msalah yunpa dah kelar skrg tnggl mkirin msalah yunjae..
    Q jd inget kta2 sunggie yg blg jk hbngn vampre n mnusia g kn bsa dprthankn?? Q tkut trjdi sswtu ma yunjae..Trutma yunpa yg mnusia..

  7. Love love love this chap walo yunjaenya sedikit tapi aq suka banged.. Cara penulisannya itu lho bagus deh author
    Konflik keluarganya bikin terharu.. Reader jd ngerasa apa yang dirasain jaejoong waktu liat yunho dan keluarganya.. Rasanya gimana gituu

  8. Di chap ini air mataQ Ъ>:/ Berhenti ngalir…terharu banget ˘ϑέcђ…akhirnya yunpa nemuin kebahagiannya kembali…appa’a Meminta maaf atas tindakannya ýanƍ dulu pernah nyakitin jiwa raganya yunpa…
    Jae juga di trima dengan tangan terbuka..mudah”an Nanti mereka nrima jae kalau yunpa mau kawin sam̶̲̅α̇ jae #ngarep dgn tulus mereka ber 2 jadian# hoooaaaah senengnya…yunjae selalu lah bahagia….
    Appa ko belum ketemu” ýª ªⓜª calon bini’a mimin

    Jaema pake dorong” yunpa suruh tidurnya jauhan…jangan mau appa!! Kalau jae ųϑªђ tidur peluk aja…oke!!!

  9. wowww ….
    keluarga Shim hangat banget
    salut
    dan paling salut krna mreka bisa baikan lagi semuanyaaa dan lupain masa lalu kelam itu

    Jae sama Yun jadi kayak anak kecil deh kali udah berantem
    aigooo …

  10. Kluarga shim udah kmbali sprti dulu lagi

    Agak trkjut pas appa shim blang smuanya. Trnyata umma shim udah tau smua

    Cie cie cie
    Yunjae makin dekat

  11. Syukurlah yunyun akhirnya memaafkan appa shim. Benar benar keluarga yang harmonis. Tepat dugaanku kalau calon istri bang min adalah mantan cinta pertama appa. Mak kapan kamu sadar appa mencintaimu?

  12. Syukurlah yunyun akhirnya
    memaafkan appa shim.
    Benar benar keluarga yang
    harmonis. Tepat dugaanku
    kalau calon istri bang min
    adalah mantan cinta
    pertama appa. Mak kapan
    kamu sadar appa
    mencintaimu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s