Bloody Love Chapter 30 – Jealous | @beth91191


Anyeonghaseyo… Setelah author sekian lama author berkutat pada banyak hal, akhirnya ada juga waktu untuk mengepost lanjutannya Bloody Love. Di chapter ini, ada sedikit titik terang perasaan Jaejoong ke Yunho yang sebenarnya. Jika kita lihat dari judulnya udah tau lah apa yang akan terjadi di chapter ini. Bisa ditebak juga siapa yang bakal cemburu.. hahaha..

Dah dari pada kelamaan lagsung baca aja ya.

Yukkkk.. ~

 

Title        : Bloody Love

Author   : Beth

Chapter : 30 – Jealous

Genre    : Romance, Action, Yaoi

Rate       : 21+

 

CHAPTER XXX – Jealous

 

Beberapa hari kemudian..

 

[Jaejoong pov]

 

“Pagi.. Ayo bangun.. Kita ada acara penting hari ini..” seru Yunho mengoyang-goyangkan tubuhku.

 

“Acara?” tanyaku sambil setengah membuka mataku yang baru saja tertidur beberapa jam.

 

“Yak.. Kita akan ke pulau Jeju.” serunya lagi.

 

“Mwo? Memang ada perlu apa ke sana?” akhirnya aku benar-benar sadar.

 

“Aku lupa belum bilang padamu. Hari ini kita akan menghadiri seminar bisnis kuliner selama beberapa hari. Itu merupakan kesempatan berharga untuk mengembangkan bisnis tempat makan ini. Mana kabarnya akan banyak para penanam bisnis yang sengaja hadir untuk mencari rekan kerja sama. Ayo cepat mandi cepat mandi…”

 

“Nae…” jawabku sambil bangkit dari kasur.

 

“Aku tunggu di bawah ya? Aku akan menyiapkan sarapan dulu.” kata Yunho.

 

Kuambil pakaian bersihku dan handukku. Akupun mandi dan melakukan ritual manusiaku yang terasa aneh jika aku tinggalkan. Setelah selesai mandi dan menyiapkan apa yang perlu aku bawa,aku pun turun ke bawah untuk menemuinya. Aku tak mau dia menunggu ku lama-lama. Aku tak mau dia kelaparan menungguku bersiap diri. Manusia sungguh lemah setiap hari harus makan minimal dua kali. Jika tak begitu pasti akan kelaparan, tubuhnya akan lemah atau  mungkin terkena penyakit. Benar-benar rapuh.

 

Setelah tiba di bawah kulihat Yunho duduk dengan seorang yeoja. Bukankah itu Lee Yeonhee? Seperti yang ada di benak Changmin malam itu. Kulihat ekspresi wajah mereka sama-sama sedih. Bahkan  yeoja itu mulai menangis saat ini. Yunho tampak sangat sedih melihat yeoja itu menangis. Didekatinya yeoja itu dan Apa yang akan dia lakukan? Apa yang ada dipikirannya? Kulihat Yunho seketika memeluknya dan menyeka air mata di wajahnya.

 

DEG!!

 

Kenapa? Kenapa hatiku merasakan kesedihan dan kepedihan. Seakan-akan aku tak rela Yunho menyentuh wajah yeoja itu. Hatiku seperti disilet-silet kemudian disiram oleh air garam. Perih sekali rasanya. Apa-apaan ini? Ada apa denganku? Apa yang salah denganku? Ada apa dengan perasaanku? Peduli apa aku dengan mereka?

 

[Yunho pov]

 

Saat aku sibuk menyiapkan sarapan untuk ku dan Jaejoong kulihat seorang namja masuk ke tempat makanku.

 

“Anyeonghaseyo” kata namja itu.

 

“Mianhe tempat makan kami tutup sampai awal minggu depan.” kataku masih sambil memotong sayuran.

 

“Hyung..” seseorang berkata. Sepertinya aku mengenal suaranya.

 

Kulihat seseorang yang memanggilku itu. Kala itu matahari tengah tertutup mendung, kondisi dalam kedai makanku sedikit gelap, sehingga aku tak bisa langsung mengenali sosok itu. Kupertajam pandanganku. Tenyata..

 

“Changmin..  Rupanya kau yang datang. Duduk duduk.. Ada perlu apa?” tanyaku.

 

“Saat itu calon istriku tak bisa ikut bertemu denganmu dan saat makan malam diapun juga tidak bisa hadir. Kebetulan aku dan calon istriku dari rumah sakit seberang jalan untuk cek kandungannya. Kami masih menunggu hasil cek upnya. Menurut ku tidak ada salahnya kami mampir sebentar kemari. Bukannya kau penasaran dengan calon istriku?” katanya.

 

“Nae nae.. Mana dia?” tanyaku.

 

“Chagi.. Kau masih apa diluar sana? Ayo masuk.” kata Changmin sambil menggandeng seorang yeoja.

 

Kulihat wajah yeoja itu.. Lagi-lagi karena pencahayaan yang kurang, ku tak begitu jelas melihat wajahnya. Sepertinya cukup familiar..

 

Ha?? Siapa dia?

Apakah dia…

 

Yeonhee?? Benarkah dia Yeonhee? Yeonhee cinta pertamaku??

 

“Anyeonghaseyo oppa.” kata yeoja itu.

 

“A..an..anyeong..” jawabku terbata-bata.

 

Benarkah dia Yeonhee? Benarkah Yeonhee akan menikah dengan adikku? Benarkah dia telah hamil?Benarkah dia yang akan menjadi adik iparku? Benarkah aku tak bermimpi? Benarkah ini semua? Setelah sekian lama aku tak bertemu dengannya, sekarang kami dapat bertemu kembali di saat dia akan menikah. Apalagi dia akan menikah dengan adikku sendiri. Sebuah perasaan aneh berkecamuk di hatiku. Perasaan yang sangat aneh yang tak mampu aku gambarkan dengan kata-kata.

 

Jujur aku masih sangat menyesal pada Yeonhee. Aku sudah menyakiti nya. Aku sudah mencampakannya. Aku tak mempedulikan perasaannya. Aku tak menganggapnya. Aku tiba-tiba menghilang dari kehidupannya. Setelah kebahagiaan-kebahagiaan yang pernah kita alami bersama.

 

“Perkenalakan hyung. Dia lah calon istriku. Namanya Lee Yeonhee. Dia mantan adik kelasmu juga saat SMA. Ingatkah?” kata Changmin.

 

“Oh..ya..” jawabku.

 

Mana mungkin aku tak ingat. Dialah cinta pertamaku. Seseorang yang sempat sangat aku cintai dengan sepenuh hatiku dan hancur begitu saja perasaan dan hubungan kami itu karena ketraumaanku pada Appa.

 

“Saat SMA sebenarnya dia kakak kelasku. Tapi umur kami tidak jauh beda. Hanya lebih tua dia beberapa minggu.” Katanya.

 

“Tidak apa-apa. Bukan umur kan yang menentukan tingkat kedewasaan seseorang.” Kataku dengan menatap wajah Yeonhee.

 

Wajahnya tak berubah sedikitpun. Masih tetap seperti Yeonhee di saat SMA. Kemudian kami bercakap-cakap bersama. Yeonhee tampak diam saja. Sedangkan aku hanya menanggapi kata-kata Changmin dengan singkat dan datar. Aku sama sekali tidak konsentrasi mengobrol dengannya. Aku justru lebih terfokus menatap wajah Yeonhee. Dia masih saja tetap cantik. Tapi sepertinya ada ekspresi sedih di balik senyumannya yang terkesan dipaksakan ketika menanggapi kata-kata Changmin.

 

KRING..KRING..

 

HP Changmin berbunyi dan kulihat dia mengangkat HPnya. Setelah beberapa saat.

 

“Mian hyung.. Aku harus mengambil hasil cek up Yeonhee di rumah sakit. Hasilnya sudah keluar. Aku akan mengambilnya sebentar.” kata Changmin.

 

“Aku ikut ya..” seru Yeonhee.

 

“Tidak usah. Kasihan kau harus berjalan lagi. Mana jaraknya cukup jauh. Nanti setelah kuambil hasilnya. Aku ambil mobilku dari parkiran rumah sakit dan menjemputmu kemari ya.. Lagi pula Yunho hyung pasti masih ingin mengenal calon adik iparnya lebih baik.” kata Changmin sambil tersenyum dan membelai rambut Yeonhee.

 

“Baiklah..” jawab Yeonhee lemah.

 

Kemudian Changminpun pergi meninggalkan tempat makan ini.

 

Sempat beberapa saat suasana antara aku dan Yeonhee membeku, kami terdiam satu sama lain untuk waktu yang cukup lama. Bunyi jam dinding dan kendaraan yang lalu lalang di luar sana yang terdengar di telinga. Aku tak tahu harus berkata apa. Mungkin lebih tepatnya aku takut untuk berbicara padanya. Diapun juga sepertinya begitu. Dia hanya menunduk dan memain-mainkan cincin yang dia kenakan. Sepertinya itu cincin yang diberi Changmin ketika melamarnya. Cincin yang indah, cocok dengan tangannya yan indah.

 

“Mmmm…” aku dan Yeonhee sama-sama mulai angkat suara.

 

“Kau dulu saja..” kataku.

 

“Tidak.. Oppa dulu saja..”kata Yeonhee.

 

Kutarik nafas dalam-dalam dan kuhembuskan perlahan.

 

“Mmmmm… Kau tahu bahwa aku adalah kakaknya Changmin?” tanyaku berusaha membuka percakapan.

 

“Sejak lama.” jawabnya.

 

Mwo? Dia sudah tahu sejak lama,tapi mengapa dia tak pernah menghubungiku sebelumnya? Padahal aku sangat ingin bertemu dengannya untuk minta maaf sejak beberapa tahun yang lalu. Aku berusaha menghubungi nomernya dahulu, tapi sepertinya sudah tidak aktif lagi. Aku pergi ke rumahnya dulu yang sering kunjungi, ternyata dia sudah pindah. Aku berusaha mencari informasi tentangnya, tapi sama sekali tak kuketahui keberadaannya, hingga akhirnya tiba-tiba dia muncul di hadapanku hari ini sebagai calon istri dari adikku, Changmin.

 

Aku berusaha tenang dan tidak terlihat kecewa.

 

“Ohh..” ucapku pelan. “Lalu bagaimana kabarmu Yeonhee?” tanyaku basa-basi.

 

“Baik.Bahagia.” jawabnya singkat.

 

‘Bahagia’ katanya? Apa maksud kata-katanya? Apakah dia dulu tidak bahagia saat bersamaku? Apakah dia dulu dia tidak bahagia saat kami habiskan waktu bersama saat makan malam, jalan-jalan, bercanda dan mengobrol bersama? Apakah dia dulu tidak bahagia saat menghabiskan hari-hari bersamaku, ke taman, ke bioskop, ke pusat kota, ke toko buku, ke tempat karaoke, dan tempat-tempa lainnya? Apakah dia dulu tidak bahagia?

Tapi…. sepertinya wajar rasanya jika dia dulu tak bahagia. Aku telah merenggut kebahagiaannya sejak aku meninggalkannya begitu saja tanpa memberinya penjelasan. Aku meninggalkannya di saat dia benar-benar mencintaiku. Pasti betapa sedihnya dia ketika seseorang yang sangat dia cintai meninggalkannya secara tiba-tiba seperti itu.

 

“Mianhae shimnida Yeonhee-ah.. Mianhe..” aku tak mampu lagi menyembunyikan perasaanku.

 

Kulihat Yeonhee tertunduk.

 

“Maafkan aku yang telah… Aku telah..” aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku.

 

Tanpa kusadari tiba-tiba kulihat air matanya menetes begitu saja

 

“Yeonhee..” desahku. “Jangan menangis. Sakit hatiku melihatmu menangis..” kataku jujur.

 

Disekanya sedikit air mata nya. Tapi tetap saja ada air yang mengalir kembali dari sudut matanya. Diangkatnya kepalanya dan kini dia menatapku sedih.

 

“Sakit?? Sejak kapan oppa peduli pada perasaanku? Saat oppa tiba-tiba menghilang dari kehidupanku,dan aku..aku..” dia tak sanggup menyelesaikan kata-katanya juga.

 

“Mianhae shimnida..mianhe..” tak mampu aku berkata yang lain selain meminta maaf padanya.

 

Air mata membasahi kedua belah pipinya. Entah mengapa secara reflek akupun bangkit dan memeluknya. Kupeluk sangat erat. Kuseka air matanya dan kucium keningnya dengan sangat hangat. Dia tak melawan. Dia hanya diam dan tertunduk kembali. Sejujurnya aku merindukannya. Sangat.. Dia pernah menjadi orang yang paling spesial dalam hatiku. Melihatnya sedih membuatku ikut merasa sedih. Hatiku benar-benar teriris-iris melihatnya menangis. Padahal aku sendirilah yang telah membuatnya menangis.

 

Kuseka kembali airmata di wajahnya untuk kesekian kalinya. Tapi air mata tak henti-hentinya menetes kembali.

 

“Kumohon Yeonhee.. Jangan menangis. Aku benar-benar menyesal. Jeongmal mianhae shimnida..” aku mengelus rambutnya sama seperti saat dia masih menjadi kekasihku dulu.

 

Tapi tentu kini semua sudah berbeda. Dia sudah milik Changmin. Bahkan dia sedang mengandung anak Changmin. Aku masih sangat menyayanginya. Mungkin tidak lagi sebagai seorang kekasih, tapi lebih ke sosok seorang kakak pada adik perempuannya.

 

“Sudahlah.. Aku tahu kau pasti sangat marah padaku. Tapi saat ini kau akan menikah dengan Changmin. Dia pria luar biasa. Dia sangat bertanggung jawab dan setia. Dia tak akan pernah menyakiti hatimu seperti yang pernah aku lakukan dulu.” kataku tertunduk.

 

Yeonhee melepaskan pelukanku dan menyeka airmatanya sendiri.

 

“Aku tak pernah marah padamu oppa. Aku justru takut kau yang marah padaku. Selama bertahun-tahun aku dibayangi rasa bersalah padamu. Tanpa aku ketahui apa kesalahanku hingga oppa meninggalkanku.” jawabnya.

 

“Oh..Yeonhee..” kataku berat. Sakit rasanya mendengar bahwa dia tidak pernah marah padaku. Justru dia yang merasa bersalah padaku. Jahat sekali aku padanya saat itu. Betapa egoisnya aku padanya..

 

“Tapi.. Sejak aku dekat dengan Changmin, semuanya mulai membaik. Aku tak pernah menangis kembali. Dia selalu membuatku bahagia dan membuatku tersenyum.” ucapnya.

 

“Baguslah kalau begitu. Dia memang seseorang yang pantas untukmu.”kataku dengan senyuman yang dipaksakan.

 

Dia mengangguk kecil.

 

Kemudian kamipun sama-sama kembali terdiam kembali beberapa saat. Kami sama-sama bingung dan canggung apa yang harus dikatakan saat ini.

 

“Oya, bagimana keadaan calon keponakanku?” tanyaku berusaha mencairkan suasana.

 

“Baik..” jawabnya .

 

“Berapa bulan usia kandungannya?” tanyaku.

 

“4 bulan. Masa-masa keemasan pertumbuhannya.” Jawabnya sambil mengelus perutnya.

 

Dengan reflek aku ikut mengelus perutnya.

 

“Aaa…” dia sedikit berteriak.

 

“Mianhe.. Mianhe.. aku benar-benar tidak bermaksud begitu.” kataku sungguh menyesal.

 

Walaupun dulu aku sering menyentuhnya bahkan lebih, tapi secara tak sengaja menyentuhnya seperti tadi sungguh bukan suatu hal yang seharusnya aku lakukan. Yeonhee kini milik Changmin, dongsaeng ku. Tak sepantasnya aku menyentuh calon adik iparku seperti itu.

 

“Tidak apa-apa.” jawabnya sambil tersenyum kecil yang dibuat-buat.

 

“Changmin tahu kalau kita pernah memiliki hubungan?” tanyaku lagi padanya.

 

“Jangan.. Lebih baik dia tidak tahu. Biarlah ini jadi rahasia kita berdua.” Katanya dengan tatapan memohon.

 

“Baiklah.. Yeonhee.. Jeongmal Kamsahamnida ya karena kau mau memaafkanku ya.” kataku.

 

“Tentu oppa.. Oppa iparku..” dia berkata sambil tersenyum. Kali ini tampak senyumnya tulus. Sungguh manis senyumannya. Sama sekali tidak berubah, masih sama dengan senyumannya saat aku masih menjadi kekasihnya. Justru dengan usianya yang lebih dewasa. Senyumannya semakin indah. Changmin kau beruntung mendapatkan yeoja seperti dia.

 

Kemudian kulihat Yeonhee menatap ke arah belakangku dan berkata.

 

“Anyeonghaseyo..” salamnya sambil tersenyum dan sedikit menunduk.

 

Aku melihat ke belakang,siapakah yang dia sapa. Setelah aku menengok ternyata yang dia sapa adalah Jaejoong. Sejak kapan dia ada disana? Sejak kapan dia berdiri disitu dan melihat apa yang terjadi di tempat ini? Saat menyadari kami telah melihat ke arahnya,dia langsung menjatuhkan tas yang sedang ia bawa  dan berjalan meninggalkan kami dengan tergesa-gesanya untuk kembali ke kamar di lantai dua.

 

“Jaejoong.. Tunggu sebentar.. Aku dapat menjelaskannya..” seruku.

 

Aku sama sekali tidak mengerti kenapa dia bereaksi seperti itu, seperti orang yang cemburu saja. Yang lebih membingungkannya lagi kenapa aku harus takut, saat melihat dia salah paham seperti itu. Memang apa akibatnya bagiku kalau dia menyangka aku ada apa-apa dengan Yeonhee. Tidak ada pengaruhnya bagiku. Tapi entahlah.. Yang ada di benakku sekarang hanya ingin mengatakan padanya bahwa aku sama sekali tidak ada apa-apa dengan Yeonhee. Hubungan kami saat ini hanyalah hubungan antara calon kakak ipar dan calon adik ipar. Tidak lebih dari itu.

 

Saat aku hendak mengejarnya,tiba-tiba Changmin sudah tiba. Akupun menunda untuk  mengejar Jaejoong.

 

“Yeonhee sayang..” kata Changmin.

 

“Ya.. Bagaimana hasil cek-upnya?”tanya Yeonhee pada Changmin.

 

“Baik.. Baik sekali kondisi kehamilanmu. Kata dokter sepertinya anak kita kembar.” jawab Changmin sambil mengelus perut Yeonhee.

 

“Selamat.. Aku turut bahagia.” sahutku.

 

Kulihat Yeonhee tersenyum-senyum melihat polah tingkah Changmin yang menjongkok di depannya sambil menciumi perut Yeonhee. Dia membelai rambut Changmin sambil tersenyum padaku. Seakan membagi kebahagiaan mereka kepadaku.

 

 

Tak lama Changmin dan Yeonheepun pamit pulang. Aku turut bahagia dengan pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari lagi ini. Kulihat mobil mereka melesat meninggalkan tempat makanku. Seketika akupun teringat pada Jaejoong. Aku segera masuk ke dalam dan  berlari menuju kamar.

 

Saat aku masuk ke dalam kamar,ku lihat Jaejoong sedang terduduk di depan jendela kamar menghadap keluar dan tak dapat kulihat wajahnya.

 

 

[Jaejoong pov]

 

Ada apa denganku? Kenapa aku begitu marah ketika melihatnya berpelukan dan mencium kening yeoja itu? Kenapa aku sangat ingin marah? Hingga aku harus berusaha menahan emosiku ini dengan menggenggam erat tanganku. Kenapa ketika aku marah justru mataku terasa berat menahan air mata yang sedari tadi sudah ingin jatuh. Apa yang terjadi padaku? Peduli apa aku pada hubungan mereka? Kenapa aku seperti ini? Yang aku tahu dadaku terasa sakit saat mengingatnya. Sakit..

 

“Jaejoong.. Mianhae shimnida.. Aku tak ada hubungan apa-apa dengannya.” suara Yunho terdengar dari arah pintu. Aku tak merespon kata-katanya.

 

Aku tahu memang Yunho sudah tidak memiliki perasaan apa-apa pada Yeonhee. Aku sudah tahu pasti hal itu tanpa Yunho perlu menjelaskan. Tapi..

 

“Aku dan Yeonhee pernah berpacaran. Tapi itu sudah dulu sekali dan kami berpisah karena suatu hal. Kini dia akan menikah dengan adikku. Dan…” belum selesai dia bicara..

 

Aku pun berbalik dan melihat ke arahnya.

 

“Aku sudah tahu semua. Aku hanya..” kata-kataku terputus karena tak sanggup menahan isakan tangisku yang menggetarkan tubuhku.

 

Tiba-tiba dia memelukku. Aku sangat terkejut. Aku berusaha meronta. Dia memelukku erat dalam dekapannya dan tak membiarkan aku lepas dari pelukannya. Akhirnya aku tak sanggup melepaskan diri dari pelukan itu. Walaupun  sebagai seorang vampir aku seharusnya sanggup melepaskan diri ini dari nya. Tapi pelukannya benar-benar hangat dan menenangkanku yang sedari tadi menangis. Nyaman sekali dalam pelukannya. Pelukan yang mampu membuatku melupakan rasa sedihku.

 

Banyak sekali hal-hal yang aneh yang terjadi sejak aku mengenalnya. Kim Jaejoong benar-benar sudah berubah. Dan aku tak peduli hal itu. Yang aku rasakan hanya Yunho memelukku dengan hangat dan nyaman. Tangisanku pun berhenti. Aku nikmati pelukan ini bersamanya, tanpa ada usaha lagi dariku untuk melawan kehangatan dan kenyamanan yang dia berikan.

 

TBC

 

 

Gimana gimana gimana gimana???

Komen yaa… Jangan lupa..

Yahh.. Selangkah lebih dekat aja mereka. Ya berdoalah mereka cepat bersatu ya..

Gomawo ya reader yang sudah menyempatkan membaca dan meninggalkan komen..

Gomawo…

 

Salam Yunjae❤

 

-Beth-

 

21 thoughts on “Bloody Love Chapter 30 – Jealous | @beth91191

  1. JJ oppa jangan nangis dong. sini aku peluk :p *ditendang Yunpa*
    chapter ini kok dikit banget sih thor? baru menikmati, eh tiba2 udah ada tulisan TBC.
    lain kali di perpanjang yaa😀

  2. Nah lo, umma cemburu kan???
    Appa sih, maen peluk ja….
    Wah, umma mpe nangis tuh karna nahan cemburu.y, ckckck….
    Pas bagian akhir.y aq suka…
    Sweeeeet bget….*senyum2 g jelas
    mudah2an appa juga suka ma umma…. ^__^

  3. hey chingu..q gnti id neh hehe
    akhr ny saat yg q nanti dtng jg yaitu muncul ny prsaan umma untuk appa.,.semua bkal ad yg ungkapin prsaan dan mreka brsatu

  4. Mian chingu q lama ga
    rcl lama di ff chingu q kmaren lupa nma blog chingu n ru nmu hri ni jdi maap aj ya wat yg kmaren q lom smpt rcl btw ni ff kok klo lgi yj momnt kok lngsung tbc cih.. Bkn org pnasaran aj deh chingu.. Dah dulu y q mo bca cap 31 dlu gomawo.. Annyeong

  5. Ciyaaaaaaaa ayolah jadian kalian berdua!! XDD

    Ga ada cara biar jejung balik jadi manusia lagi apa yah ?? Ayolah author =((

  6. ah.. jadi calon istri changmin tu mantan yunho… aduh jae tu namany cemburu.. jae knp masih blm sadar dgn perasaan sendiri sich… bener2 greget lht kelakuan jae..

  7. lama ga mampir ke sini ternyata udah banyak update-an yang baru,
    Omo? Jae kamu cemburu? yes yes yes #jingkrak jingkrak
    benar dugaanku yeonheenya changmin itu mantannya yunho dulu

  8. Umma jgn sdih dong..
    Q jd ikt sdih nieh..
    Yunpa..Aish..
    Ni appa diblangin yg sbar appa+smngat bwt nrik prhtian umma..
    Eh ni mlah umma dbwt sdih..
    Huft..

  9. Hooohh jaejoong cemburu wkwkwkwk
    Kira kira jaejoong sadar ga yah klo dia cemburu tuh berarti dia ada rasa sama yunho
    Pengen cepet cepet liat yunjae jadian deh

  10. ciee jeje jeles nie yee…
    dah kliatn tuh jeje emnk ad rasa ma yunnie, msa msh lola jga c ah..

  11. Ini kemajuan besaarrr! JJ cemburu!!! HAHAHA

    yunho: “gomawo author. Lain kali lebih mesraaaa lagi, arraseo??” *ngasihduitkeauthor* #plak

  12. Ko dikit siih…lagi asyik”nya menikmati moment umma appa berpelukan eehh tiba” TBC (╥﹏╥)

    Jae cemburu…suit…suit #jogedbarengyunpa#
    Akhirnya jaema ųϑªђ mulai merasakan perasa’an’a terhadap yunpa…

  13. Waaaaaaa umma cemburunya gtu masa udah tau appa ga ada prasaan apa2 msh aja marah ckckckc umma yeoppooo

  14. yyyeeeeiiiyyyyyy
    thanks to Younhee karena udh dateng ke tmpt YunJae
    dan bikin Jae salah paham
    dan akhirnya dia sadar sama perasaannya sendiri
    Yiiiippppiiii …
    sampe nangis gitu Jae
    ahahaha

    appa berhasil berhasil horeee hoooreee

  15. Wah, umma cemburu

    Yunjae mmiliki prasaan tapi mreka mncoba mnutupi prsaan mreka masing”

    Kpan klian brsatu umpa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s