Bloody Love Chapter 31 – Where’re u? | @beth91191


Anyeonghaseyoooo…

Sudah kangen dengan keromantisan hubungan mereka??

Banyak nih di chapter ini, apalagi dibagian akhirnya..

hohoho..

Yuk langsung baca aja, yang pasti ntar jangan lupa leave comment yaww..

“Komen mu apresiasi untukku”

🙂

 

 

Title        : Bloody Love

Author   : Beth

Chapter : 31 – Where’re u?

Genre    : Romance, Action, Yaoi

Rate       : 21+

 

CHAPTER XXXI – Where’re u?

 

[Jaejoong pov]

 

Saat Perjalanan Menuju Pulau Jeju..

 

Sepanjang perjalanan aku hanya duduk terdiam di samping Yunho. Yunho pun tampak diam membisu pula sepertiku. Kami sama-sama sadar dan bingung apa yang telah kami lakukan tadi saat masih di rumah. Tangisanku, emosiku, kekhawatirannya, rasa bersalahnya, dan pelukan itu serasa begitu aneh bagi kami berdua. Mungkin bisa dikatakan akulah yang paling merasa canggung, buat apa aku harus bereaksi seperti itu ketika melihatnya memeluk dan mencium kening yeoja itu. Padahal aku tahu siapa yeoja itu dengan pasti. Seharusnya tak ada alasan bagiku untuk bertindak sekonyol itu. Marah, melempar tas, menangis.. Ichhhh!!! Malunyaaaa akuuuuu… Semoga dia tidak mengungkit-ungkit hal itu lagi untuk selamanya. Sejujurnya aku sendiri aku masih bingung dan terkejut dengan peristiwa tadi. Aku malu bila sampai hal itu diungkit-ungkit kembali. Sungguh aku benar-benar malu.

 

Aku berusaha mengalihkan pikiranku dengan melihat keluar jendela pesawat. Tampak awan-awan terbentang luas bagai permadani putih bersih sejauh mata memandang. Begitu menyenangkan pastinya jika awan-awan itu bisa dipijak. Aku membayangkan pasti awan-awan itu terasa sangat empuk dan halus jika di sentuh. Ingin rasanya berlarian di antara awan-awan itu.

 

“Jae..” panggil Yunho padaku.

 

Aku yang semula melupakan kejadian tadi pagi seketika langsung teringat kembali.

 

“Hmmmm….” jawabku datar sambil terus melihat keluar.

 

“Kau masih marah padaku?” tanyanya membuat ku seakan tersedak. Untuk apa dia kembali mengungkit-ungkit hal ini? Aku sudah sangat berharap dia melupakannya. Tapi mengapa dia justru bertanya seperti itu.

 

“Tidak.” Jawabku tanpa ekspresi.

 

“Benarkah? Aku minta maaf jika aku membuatmu sedih dan marah seperti tadi.” Ucapnya.

 

Buat apa dia berkata seperti itu?? Yunho.. Segera hentikan pembicaraan yang sangat membuatku tak nyaman ini.

 

“Tidak.” Kujawab singkat.

 

“Yakin kau tidak marah?” tanyanya kembali.

 

Aku benar-benar jenuh dengan pertanyaannya yan terus menyinggung-nyinggung tentang hal yang sama sekali sedang tak ingin kubahas.

 

“Bisakah kita menghentikan pembicaraan ini sebelum aku benar-benar marah?” jawabku tegas tanpa melihat wajahnya.

 

“Maafkan aku. Aku tak bermaksud…” belum selesai dia berkata.

 

“Hentikan atau kau ku lempar keluar?” tanyaku secara tiba-tiba tanpa berpikir panjang. Kusesali apa yang barusan aku katakan. Mengapa aku mengatakan hal sekonyol ini. ‘Melempar keluar’??? Aduhhh..

 

Kudengar suara tawa yang sedikit ditahan keluar dari bibirnya. Kutolehkan kepala ini untuk menatap sumber suara itu. Kulihat dia tengah berusaha menahan tawa sekuat tenaganya.

 

“Maaf.. Maaf.. Aku tak akan membicarakan hal itu lagi, aku tak ingin di lempar keluar..” ucapnya sambil menahan tawanya.

 

Sedikit tersenyum aku ketika menyadari wajahnya yang tampak lucu jika sedang menahan tawa. Tak menyangka aku, hal seperti itu bisa membuatnya tertawa. Andai dia tahu, aku bisa saja benar-benar melemparnya keluar jika aku ingin. Tapi tidak.. Itu hanya sebuah kata-kata konyol yang keluar begitu saja dari bibirku.

 

“Hentikan tawamu..” ucapku berusaha terlihat marah.

 

Akupun kembali menatap keluar jendela sambil melampiaskan senyum kegelian yang sedari tadi aku tahan. Melihatnya menahan tertawa seperti tadi, memercikan sedikit kesenangan dihati ini. Yunho.. Yunho..

 

-oOo-

 

 

Setelah beberapa saat, tibalah kami di Pulau Jeju. Pulau yang sangat indah dengan pemandangan alam yang masih sangat alami. Tampak pepohonan tumbuh dengan sangat subur di sana. Begitu tampak hijau dibanding dengan kondisi di Seoul. Udara begitu terasa segar. Langitpun juga tampak sangat cerah. Semua tampak begitu indah. Tapi sayangnya, vampir sepertiku tak baik lama-lama di ruang terbuka seperti ini.

 

Setelah tiba di bandara Pulau Jeju, kami langsung menuju hotel. Hotel ini sudah masuk dalam fasilitas seminar,termasuk konsumsi dan transportasi. Kamar kami pun sudah ditentukan dari pihak penyelenggara. Yunho membayar cukup mahal untuk bisa mengikuti seminar ini. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah sebagai usaha mengembangkan tempat makannya. Dia benar-benar pekerja keras yang sangat ulet. Aku berani bertaruh, dia akan menjadi pemilik restauran yang sukses suatu hari nanti.

 

Setelah melakukan registrasi ulang, kami menuju kamar kami. Letaknya berada di lantai paling atas,lantai 10. Kami susuri lorong lantai 10 dan tibalah kami pada kamar kami. Kamar 1010. Saat terbuka pintu kamar, kami dapat melihat kalau kamar itu cukuplah bagus. Lebih bagus di banding kamar kami saat ini di Seoul. Tapi walaupun begitu, tetap saja ini jauh jika dibandingkan dengan kamarku dulu saat aku tinggal bersama Junsu.

 

Dalam kamar ini terdapat sebuah springbed ukuran double,meja kecil di sampingnya, sebuah TV kecil menempel di tembok, lemari sederhana, dua buah kursi dengan meja di antaranya dan sebuah kamar mandi kecil menjadi salah satu fasilitas yang ada di kamar itu.

 

Kemudian Yunhopun berkata dan membuyarkan lamunanku yang sedang memperhatikan ruangan hotel itu.

 

“Acara hari ini hanya pembukaan seminar nanti malam. Setelah itu akan ada makan malam dan acara bebas.” kata Yunho sambil memasuk-masukan tas.

 

Aku yang sangat lelah pun berbaring-baring di tempat tidur. Kuamati Yunho yang masih saja mengangkat-angkat dan menata-nata tas. Lucu sekali melihatnya susah payah mengangkat tas seperti itu. Tangannya yang berotot dengan singgap memindah-mindahkan tas. Ekspresinya yang sedikit kelelahan membuat wajahnya menjadi lucu.  Ternyata dia memiliki sisi lucu juga yang selama ini baru aku sadari.

 

Lama kelamaan sepertinya dia mulai menyadari bahwa aku sedang mengamatinya. Dia berhenti merapikan tas dan melihat ke arahku. Omo.. Tatapannya.. Berbeda dengan tatapannya yang biasanya. Tatapan kali ini datar tetapi sangat tajam dan menusuk ke dalam hatiku. Apa yang dipikirannya saat ini? Kenapa dia menatapku seperti itu? Kenapa kemampuan ku membaca pikiran manusia tidak bekerja khusus untuk pikiran Yunho? Kenapa?? Apalagi di situasi seperti ini..

 

Dia mendekatiku. Apa yang akan dia lakukan? Apapun yang akan dilakukannya aku tak boleh membiarkannya. Sampai berani dia melakukan sesuatu yang buruk padaku, dapat kupastikan dia akan mati di tanganku. Lihat saja kalau dia benar-benar berani melakukannya.

 

“Jung Yunho.. Apa yang kau lakukan?? Jangan pernah kau berpikir hal itu..” kataku dengan nada tinggi.

 

Dia sekarang sudah berada di depanku dan mulai duduk di tempat tidur. Tubuhnya mulai mengarah ke padaku. Wajahnya mendekatiku. Tangannya berusaha memegang erat tanganku. Aku berusaha menghindar. Tapi dia terlalu cepat. Tanpa sadar aku sudah dalam cengkeramannya. Aku berusaha melepaskan diri dari tangannya. Tapi dia memegangku sangat erat dan kuat. Aku sama sekali tak berkutik. Hatiku berdebar-debar. Serasa dadaku akan meledak karena perlakuannya.

 

“Apa?? Apa yang kau pikirkan?? J..ja..jja..jangannnnnn…..”

 

Didekatkannya wajahnya ke wajahku sangat dekat.. Hingga hampir tak ada jarak lagi di antara kita, bisa kurasakan hembusan nafasnya begitu terasa segar di wajahku. Matanya terus menatap tajam mataku hingga membuatku tak sanggup berkutik apa-apa. Sepertinya tubuhku membeku dan tak mampu melawan sedikitpun karena tatapannya yang tajam seperti itu. Namun tiba-tiba…

 

Kulihat ekspresi datarnya berubah menjadi ekspresi menahan tertawa.

 

“phh..phhh..phuahahaha…”

 

Mengapa dia tertawa? Apa jangan-jangan dia hanya..

 

“Sialannnn… Ternyata kau…” kataku.

 

“Lihat ekspresi wajahmu.. Hahahaha.. Ekspresimu.. Hahahaha.. Ekspresi ketakutan mu lucu sekali. Memangnya kau pikir, aku akan melakukan ‘itu’ padamu? Hahaha..” dia tertawa sekeras-kerasnya.

 

“Hyaaa… Jung Yunho!!!!” teriakku.

 

Dia masih saja tertawa sambil memegangi perutnya sendiri dan berguling-guling di kasur.

 

“ITU SAMA SEKALI TIDAK LUCU!!!” kataku sambil meninggalkannya keluar dari kamar dan membanting pintu keras-keras.

 

“Mianhe Jaejoong.. Kau mau kemana? Jangan lupa pembukaan seminar dua jam lagi.. Jaejoong.. Jaejoong…” dia entah berkata apa aku tak peduli.

 

Aku hanya tidak ingin berada didekatnya. Aku benar-benar marah padanya. Dia sama sekali tak seharusnya melakukan hal sebodoh itu. Itu bukanlah suatu hal yang lucu. Sejujurnya aku sudah merasa sangat takut dan gelisah ketika ia bertingkah seperti itu padaku. Seperti yang kurasakan tadi, tubuhku begitu mematung, membeku, dan aku begitu pasrah dan sedikitpun tak berusaha melawannya. Aku benar-benar terhipnotis dan seketika tak berdaya. Padahal jika aku ingin melawan, pasti bukan suatu perkara yang sukar bagiku untuk melepaskan diri darinya. Tapi tubuhku sepertinya tak sejalan dengan hati dan pikiranku. Yang jauh lebih menjengkelkan lagi, aku tak menyangka dia akan melakukan gurauan seperti itu. Gurauan yang amat sangat memuakan.Tak seharusnya dia melakukannya. Sedikitpun tak ada pembenaran atau persetujuan atas gurauan seperti itu. Benar-benar memuakan!!!

 

-oOo-

 

Saat Pembukaan…

 

[Yunho pov]

 

Dimana Kim Jaejoong? Acara pembukaan seminar sebentar lagi dimulai. Tapi dia sama sekali belum memunculkan batang hidungnya. Dimana dia? Ahh.. Sebentar lagi dia pasti datang. Aku tunggu saja dulu. Dia pasti tak akan melewatkan acara ini. Kumenunggu dan terus menunggu.

 

Tak lama kemudian, pembukaan resmi sudah dimulai. Ternyata aku salah. Dia belum juga datang. Aku masih berharap dia datang sebelum pembukaannya berakhir. Aku terus menunggu dengan sabar dengan sesekali melihat jam tangan dan mencari sosoknya di penjuru ruangan.

 

Waktu terus berjalan, hiburan sudah dipentaskan satu demi satu. Sesi puncak pun sudah terlewati. Sepertinya lagi-lagi aku salah.  Bahkan saat setelah pembukaan resminya berakhir, dia belum juga datang. Acara masih berlangsung dengan acara ramah tamah. Para peserta ada yang sibuk makan ada pula yang sudah kembali ke kamarnya masing-masing. Semua orang sudah bebas untuk melakukan apa yang mereka inginkan.

 

Mana Jaejoong? Tidak laparkah dia? Aku berusaha menghubungi HP nya. Tapi dia tidak mengangkat. Beberapa kali aku telepon. Tetap saja dia tidak mengangkat. Dimana dia? Ku kirimkan beberapa sms menanyakan keberadaannya. Tapi mana mungkin dia membalas smsku, aku telepon saja tidak dijawabnya.

 

Jaejoong..

 

Dimana kau??

 

Acara makan-makan ini sudah bisa dibilang selesai. Banyak tamu yang sudah pergi dari ruangan. Makanan-makanan pun kebanyakan sudah habis. Para pelayan sibuk membereskan alat makan, membersihkan meja dan menyapu lantai. Dan Jaejoong belum juga datang.

 

Aku putuskan menunggunya di kamar saja.. Kutinggalkan gedung ini dengan perasaan berat.

 

 

-oOo-

 

Tik tak tik tak..

 

Kucoba hubungi dia sudah puluhan kali. Sent message ku untuknya pun sudah sangat banyak. Tapi sama sekali tidak ada balasan. Sekarang jam sudah menunjukan jam 11 malam.

 

“Hyaaa… Dimana dia??” kuambil jaketku dan beranjak keluar kamar. Kususuri lorong-lorong hotel dan segera ku menuju lift. Dunia berasa sangat lambat. Kenapa lift ini berjalan sangat lambat.

 

Dimana-dimana dia? Mulai dari mana aku harus mencarinya? Aku bahkan tak tahu daerah ini. Ku menuju lobby hotel ku cari dia di lobby tidak ada. Ku melangkah ke restaurant hotel,dia juga tidak ada. Ku keluar hotel dan berjalan ke gedung tempat pembukaan tadi. Pintu gedung sudah terkunci, mana mungkin dia di dalam. Ku cari dia ke tempat-tempat di sekeliling hotel yang aku ketahui.

 

Jaejoong!!! Kau dimana?? Mengapa kau membuatku sangat khawatir.

 

Hujan pun turun dengan derasnya. Ku melangkah kesana kemari di bawah tetesan air. Tak juga ku menemukannya. Aku tak mempedulikan air hujan yang membasahiku. Walaupun hujan sangat deras,aku tak peduli. Yang aku fikirkan hanyalah mencari Jaejoong. Aku takut terjadi hal buruk padanya.

 

Tubuh ini terasa semakin berat melangkah. Kurasakan kepalaku pusing. Mungkin terlalu lama terkena air hujan. Tanpa aku sadari kakiku menyandung sebuah batu dan akupun terjatuh.

 

Sakit rasanya.. Di kakiku.. Di kepalaku.. Sepertinya kepalaku terluka. Semua terasa buram.. Kepala ku sangat sakit.

 

Tiba-tiba aku melihat seseorang mendekatiku. Kupertajam penglihatanku.

 

Yaaa.. Dia adalah Kim Jaejoong..

 

Benarkah dia disini??

 

 

[Jaejoong pov]

 

Aku benar-benar marah padanya tadi. Aku benar-benar tidak ingin bertemu dengannya. Biarkan aku menikmati malam ini sendiri di pantai dibawah gazebo-gazebo tua.

 

Hujan pun mulai turun. Dan semakin lama semakin deras. Aku menyukai saat-saat hujan. Harum bau tanah menyeruak membuat bau manusia-manusia itu tersamarkan. Jujur.. Beberapa hari ini aku sudah mulai haus. Aku takut jika suatu hari aku tak sanggup menahan nafsuku untuk meminum darah manusia. Bayangan noonaa itu kembali terbesit di otakku. Noonaa itu merasakan kesakitan dan ketakutan yang amat sangat ketika aku menerjangnya, menggigit lehernya dan menghisap darahnya. Menyakitkan sekali mengingat hal itu.

 

Yunho adalah orang yang seharusnya paling berbahaya di dekatku. Jika sewaktu-waktu aku tidak dapat menahan nafsuku, aku bisa kapanpun menyerangnya. Mungkin selama ini aku selalu terpaksa meminum darah pemberian Yesung-shi. Tapi jauh dilubuk hatiku, aku merasa enggan untuk meminumnya. Mungkin aku harus berhenti meminum darah manusia. Ya, aku harus berhenti. Entah apa yang akan terjadi padaku nantinya. Aku tak peduli, aku hanya tak ingin terus membahayakan Yunho seperti ini. Jika aku terbiasa meminum darah manusia, bisa kapan saja suatu saat nanti, saat aku lepas kontrol akau akan mencelakakannya. Lebih baik aku mati dari pada membuatnya dalam kondisi berbahaya seperti saat ini.

 

Tiba-tiba disaat aku merenung memikirkan masa depanku,ku melihat sebuah penglihatan yang berasal dari beberapa orang yang berbeda. Bukan dari pikiran Yunho. Tapi di dalam penglihatan ku melihat dirinya. Sepertinya penglihatan yang aku dapatkan ini berasal dari orang-orang yang berada di sekitarnya yang direfleksikan padaku.

 

Yunho.. Ya.. Jung Yunho.. Dia sedang berlari-lari keluar kamar. Dia menyusuri lorong-lorong hotel. Dia melangkah keluar hotel. Dia berjalan kesana kemari tak tentu arah. Ku pertajam indera keenamku ini.

 

Dapat kudengar dia memanggil-manggil  “Jaejoong.. Kau dimana? Jaejoong.. Jaejoong..”

 

Apa yang dia lakukan. Kenapa dia harus khawatir mencari-cariku. Tapi aku tak tega melihatnya seperti itu. Namun tiba-tiba bayangan tentangnya hilang. Sepertinya dia berada di suatu tempat yang tak ada orang lain didekatnya yang melihatnya. Sehingga tidak dapat kurefleksikan bayangannya dari orang tersebut. Entah mengapa ada suatu hal yang menarikku untuk mendatanginya. Tanpa berpikir lebih, aku pun dengan secepat kilat mendatanginya.

 

Kulihat dia dari kejauhan. Berlari tanpa arah dan kebingungan.

 

“Jaejoong..Jaejoongg..”

 

Dia masih saja mencariku sambil memanggil-manggil namaku.

 

Dan tiba-tiba..

 

BRUKKKK….

 

Kulihat Yunho jatuh terJungkal.

 

Semula aku tak ingin menolongnya. Buat apa aku menolong dia. Aku sedang marah padanya. Tapi setelah kutunggu beberapa saat,dia juga tak segera bangkit. Apa yang terjadi padanya? Ku mendekat ke arah nya namun tiba-tiba..

 

Busssshhhhhh….

 

Bau darah segar menyeruak diantara bau tanah yang basah terkena hujan.

 

Tuhan.. A.. Aku.. Aku.. Tak tahan dengan bau ini. Bau darah yang sudah lama tidak aku hirup. Bau darah yang sangat membuatku gelisah. Bau darah yang sangat membuatku melayang. Bau darah yang dalam alam bawah sadarku sangat aku inginkan.

 

Sadar Kim Jaejoong… Sadar… Aku tak mau meminum darah lagi. Aku tak mau melakukan hal yang sangat menakutkan dan menjijikan itu. Aku tak boleh melakukannya.. Tak boleh..

 

Seketika aku sadar sumber bau darah itu. Kumelihat kearah Yunho.

 

Yun..Yun..Yunho berdarah. Terdapat luka cukup parah di kepalanya. Darah mengalir cukup deras dari lukanya. Apa yang harus aku lakukan? Kalau dibiarkan saja bisa berakibat buruk padanya. Tapi.. Aku takut.. Aku takut jika aku mendekatinya aku tidak bisa menahan nafsuku untuk menghisaP darahnya.

 

Tapi.. Aku harus bertindak cepat. Ottoke? Ottoke? Apa yang harus aku lakukan?

 

Yunho…

 

 

[Yunho pov]

 

Aku tadi tak sadarkan diri. Entah berapa lama aku itu terjadi. Entah apa yang terjadi padaku setelah aku tak sadarkan diri. Aku sama sekali tak ingat. Yang aku ingat terakhir adalah saat aku mencari dan memanggil-manggil nama Jaejoong dan ohh yaa.. Aku ter jatuh saat itu dan kepalaku terasa sangat sakit..

 

Kucoba kupegang kepalaku.. Ada perban di kepalaku. Akupun sadar bahwa aku sekarang sedang berada di suatu tempat. Dimana ini. Aku berusaha mengenali ruangan ini. Sepertinya ini ruangan rumah sakit. Ya benar,aku sekarang dirumah sakit.

 

Lalu dimana Jaejoong? Jaejoong menghilang. Dan aku belum menemukannya.

 

“Jaejoong..Jaejoong..” aku memanggil-manggil namanya sambil berusaha bangkit dari tempat tidur. Kulepas selang infus dari tanganku. Saat aku berusaha berdiri.

 

Ahhh… Kepalaku sangat sakit..

 

Akupun terjatuh ke lantai.

 

-oOo-

 

 

[Author pov]

 

Di tempat lain..

 

“Berikan aku darah..” ucap Jaejoong datar.

 

Wajahnya sudah amat pucat sepucat saat malam dimana dia tak sengaja menepis tangan Yunho sehingga ia melukainya atau saat malam dimana dia tiba-tiba pingsan di depan Ducking House tengah malam itu. Sorotan matanya tampak kelam dan tajam. Ini adalah kedua kalinya dia amat sangat terpaksa meminta darah. Demi menghindari hal-hal yang lebih dia tidak inginkan.

 

“Hahahaha… Tak salah dengarkah aku?” tanya Siwon sambil tersenyum puas.

 

“Aku datang kemari bukan untuk mendengar tertawamu.” Ucapnya dingin.

 

“Hahaha… Kau tahu.. Ini pertama kalinya aku bertemu dengan seorang vampir yang tak ingin menggigit manusia tapi justru meminta darah instan yang siap minum. Hahaha… Kenapa? Kau sudah mulai haus kembali? Kenapa kali ini kau justru meminta darah tak seperti seminggu yang lalu dimana kau berusaha mati-matian untuk tidak meminum darah hingga akhirnya untuk kesekian kalinya Yesung-shi harus mencekokan darah di mulutmu?? Ada apa memangnya?” tanya Siwom sambil menatap Jaejoong angkuh.

 

“Aku kemari bukan untuk berbicara denganmu. Aku kemari hanya meminta darah seperti yang kau tawarkan dulu. Aku hanya tak ingin tiba-tiba tak dapat mengontrol diriku ketika bersama Yunho.” Jawabnya ketus.

 

“Apa?? Yunho?? Kau menyukainya ha??” tanya Siwon dengan ekspresi berubah marah. Matanya tampak menatap tajam. Rahangnya mengeras. Giginya bergemeretak.

 

“Tak bisakah kau bahasa manusia? Tak tahukah kau arti dari, ‘aku kemari bukan untuk berbicara denganmu?’ ha???” ucapnya dengan menatap tajam pada Siwon.

 

Siwon yang sempat sangat emosi, tiba-tiba kembali mencair. Sebuah senyuman kembali tersenyum di bibirnya.

 

“Yesung-shi.. Bawa kemari apa yang dia minta.” Perintahnya pada asistennya.

 

Tak berapa lama, Yesung pun datang dengan membawa sebuah gelas besar berisi darah merah yang sangat kental.

 

Dengan secepat kilat Jaejoongpun merebut gelas itu dari tangan Yesung-shi. Diminumnya darah itu dengan sangat cepat. Tanpa dia sadari dia sudah menghabiskan darah itu dalam beberapa detik saja. Darah mengalir lembut dari sudut bibirnya. Diusapnya bibirnya yang terkena sisa-sisa darah. Wajahnya yang sempat pucat kembali merona. Disaat dia tengah masih menikmati sisa-sisa darah dari gelas itu, seketika dia berhenti. Dia merasakan suatu perasaan yang sangat aneh. Sepertinya telah terjadi sesuatu pada Yunho, tapi dia tak mengetahui apa yang terjadi. Dengan cepat di lemparnya gelas itu dan hendak pergilah dia untuk kembali menemui Yunho yang tengah berbaring di rumah sakit.

 

“Kau mau kemana?” tanya Siwon sambil mengenggam erat tangan Jaejoong.

 

“Bukan urusanmu.” Ucap Jaejoong sambil berusaha pergi.

 

“Seberapa pentingnya kah dia bagimu?” tanya Siwon dengan wajah sedih.

 

“Sangat..”

 

Siwon hendak berkata sesuatu lagi, namun Jaejoong tak mempedulikannya. Di langsung berhamburan pergi tanpa melihat kebelakang dan tanpa mendengar kata-kata Siwon lagi. Yang ada di pikirannya saat itu adalah menemui Yunho secepatnya. Perasaannya tiba-tiba merasa tidak tenang. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Yunho yang dia tahu pasti saat ini Yunho memerlukan bantuannya. Dia terus berlari berlari dan berlari..

 

-oOo-

 

 

[Yunho pov]

 

Kemudian ku dengar pintu terbuka dan berhamburlah sosok yang aku kenal. Sesosok yang sudah kucari sedari tadi.

 

“Yunho.. Apa yang kau lakukan? mengapa kau mencoba bangkit dari tempat tidurmu?” kata orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Kim Jaejoong.

 

“Jaejoong.. Kau baik-baik saja? Kau kemana saja? Kenapa kau menghilang tadi? Kenapa kau tidak bilang pergi kemana? Kenapa kau tidak mengangkat teleponku atau membalas sms ku? Kenapa?” aku melancarkan pertanyaan yang bertubi-tubi.

 

“Ssssttttt… Istirahatlah Jung Yunho.” jawabnya.

 

“Kau tidak menjawab pertanyaanku..” kataku dengan nada sedikit tinggi.

 

“Aku baik-baik saja..aku hanya…” belum selesai dia menjelaskan semuanya,aku sudah tak tahan untuk memeluknya.

 

 

[Jaejoong pov]

 

Belum selesai aku menjelaskan semuanya, tiba-tiba dia memelukku dengan sangat erat.

 

“Jaejoong…”

 

Mwo? Ada apa dengannya? Mengapa dia begitu khawatir padaku? Mengapa dia memelukku seperti ini? Mengapa tiba-tiba jantungku berdetak cepat?

 

“Kau jangan pergi lagi dariku..”

 

Sekarang apa yang dia katakan? Aku benar-benar tak mengerti.

 

“Aku menyayangimu, Joongie ku sayang..”

 

DEG!!

 

A..a..apa?? Apa yang barusan dia katakan? Apa aku tak salah dengar? Kenapa tiba-tiba dada ini terasa sangat sesak. Jantungku berdetak dengan semakin cepat, seakan akan meledak saja. Aku tak mampu berkata apa-apa. A..aa..aaku terlalu bingung dengan perasaan yang sekarang aku rasakan. Kemudian Yunho melepas pelukannya dan melihat ke arahku dengan tatapan tajamnya. Tatapannya benar-benar menusuk hatiku. Jantungku yang berdebar kencang hingga sakit sekali rasanya.

 

“Jaejoongie.. Aku sudah tak sanggup lagi menahan perasaan ini. Berkali-kali aku memikirkan tentang apa yang aku rasakan ini. Tapi entah mengapa semakin aku berpikir semakin aku mengatakan tidak semakin aku yakin bahwa aku..” dia berhenti sejenak dan menggenggam tanganku hangat,”Aku sangat mencintaimu Kim Jaejoong. Maukah kau menjadi kekasihku?” tanyanya dengan memegang kedua tanganku.

 

GLEK!!

 

Aku menelan ludahku. Aku bingung.. Aku benar-benar bingung dengan perasaanku. Lebih membingungkannya lagi, aku bingung dengan perasaannya padaku.

 

TBC

 

Gimana gimana???

Ihhiyyyyy… Ini chapter yang kalian nanti-nanti kan??

Makanya komen.. ditunggu lho..

Gomawo all..

 

Salam Yunjae❤

-BETH-

20 thoughts on “Bloody Love Chapter 31 – Where’re u? | @beth91191

  1. cie..yun usil bgt sh ma jae wkwk,nah kn jd mrah tuh jae ny…
    Kyak ny bneran dh siwon sk ma jae,siwonppa ga blh suka ma jae lbh baek sk ma yg ne ajah *kedip2 mata smbil lmpar #kibum..gmn oppa?,ga kalah imutkn dre jae?
    Wah s yun dah mulai brgerak,dah umma jwb aj iya oceh,..

  2. kasian Jae oppa, harus minum darah manusia, kalo nggk dia akan mati.

    kelihatannya Siwon oppa suka deh sama Jae oppa. hmmm_
    gimana dong?

  3. Woaaaaaa….hhh
    yunjae co cweeeettz bangetz.. *senyum2 geje ^^
    seneng dah, akhir.y appa ngaku n nyatain perasaan.y, wkwkwk

    makin seru ja nih crita cinta yunjae…
    Makin gak sabar nunggu chap brikut.y
    ;-D

  4. jae salah tingkah… tu yunho knp?? pa jatuh gara2 nyari jae?? akhirny yunho nyatain perasaan ny ke jae…

  5. Appa trnyta bsa usil jg..
    Brarti keusilan minnie brasal dr appany#g nyambung..

    Tuh sprtiny siwon pny rasa deh ma jaema..Cz ko’ prhtian bgt gtu n scra dy kn raja..Ea g??Raja bkn??Or pngeran??
    Lupa2 inget q..

  6. Hmmmm firasat sih kayaknya siwon suka sama jaejoong deh.. Mungjin utu yah yang mau dibilang yesung waktu itu
    Kyaaaa yunpa nyatain perasaannya.. Terima umma terima appa

  7. Maukah Kau menjadi kekasihku???

    Glek!!!

    Ayo..jawab..jawab..iyaaaa..gitu jae..awas jangan nolak..kalau nolak Q tabok Kau author #eh salah nabok..mianhae=^.^=

    Siwon…jangan ngrusak hubungan’a umma appaQ ýª
    Mending Cari ýanƍ lain aja…

  8. wowwww
    Yun usil euy
    Jae sampe ngambek gitu dan pergi
    Ya ampuuunnn

    Hayooo itu Yun ungkapin perasaan lagi
    dan kali ini Jae denger dengan jelas
    ihhh
    Jae udah jelas kan Yun berarti buat kamuuuh
    apa lagi yg ditunggu

    Jar bikin gregetaaan ih

  9. Appa pabo tapi so sweEtttt buanget

    Aduh,iri ama yunjae

    Appa ,yg sakit itu kamu
    Tapi knapa mlah khawatir sma mom

    Dasar jung yunho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s