Saranghae Do Dwel Gayo Part 3


Title        : Saranghae Do Dwel Gayo

Author   : Kim Chi Hee

Part         : 3

Pair         : Yunho x Jaejoong, Yunho x Karam, Mika x Karam

Genre    : Romance, Yaoi

Rate       : PG


“Kau mau buat apa Jung Jaejoong?” Tanya Yunho.

 

“Yak! Jangan ganti-ganti namaku! Sejak kapan nama keluargaku berubah?” Seru Jaejoong sengit.

 

“Jadi kau tidak mau kalau nama keluargamu berubah? Artinya kau tidak mau menikah denganku dong. Kim Jaejoong?” Goda Yunho.

 

“Ihhhh~ Yunho!” Seru Jaejoong kesal sambil mencubit pinggang Yunho.

 

$$$

 

“Pot bunga. Kau juga lupa tentang itu?” Tanya Mika pada Karam.

 

“Pot bunga?” Tanya Karam balik.

========================================================================

 

*Flashback*

 

Karam kecil berlarian di antara bunga-bunga dan tanaman perdu yang tumbuh liar di belakang panti asuhan tempat dia tinggal. Di taman belakang itu terhubung langsung dengan halaman belakang sebuah rumah besar dengan penghuni seorang sepasang kakek dan nenek. Semua anak panti asuhan takut terhadap mereka karena ada sebuah cerita tentang kakek dan nenek itu kalau mereka adalah pemakan anak kecil. Tapi tidak dengan Karam. Karam sama sekali tidak percaya dengan cerita itu.

 

Karam yang penasaran mulai memasuki halaman belakang rumah itu. Dengan hati-hati Karam berjalan agar tidak merusak satu pun tanaman yang ada di halaman itu. Bahkan Karam berusaha untuk tidak menginjak rumput – rumput yang sengaja di tanam oleh pasangan kakek dan nenek itu. Satu-satunya jalan yang ada hanya deretan batu-batu kali yang disusun sedemikian rupa hingga membentuk jalan setapak.

 

Setelah beberapa saat akhirnya Karam bisa juga sampai di depan pintu belakang rumah besar itu. “Pintunya besal.” Seru Karam cadel.

 

Pintu itu memang kelihatannya besar bagi Karam yang notabenenya hanya anak umur lima tahun dengan tinggi badan tidak sampai satu meter, malah sangat kurang. Karam melihat-lihat teras belakang rumah itu, menyusuri dan memeperhatikan benda-benda apa saja yang ada di sana.

 

Di sana banyak sekali terdapat tanaman – tanaman hias yang ditanam di pot-pot bunga dengan ukiran-ukiran yang menurut Karam menyerupai tubuh ular. Karam menyenderkah tubuh mungilnya di sebuah pot tanaman besar yang ditaruh di sebuah rak yang tidak terlalu tinggi.

 

Tanpa Karam sadari ada bola yang terbang dan tepat mengenai kepala Karam. Alhasil, Karam jatuh terhuyung dan ikut mendorong pot tanaman itu. Dan….

 

#PRANGG

 

Pot bunga itu jatuh dan pecah berantakan. Karam benar-benar kaget setengah mati. Sambil memegangi kepalanya Karam mencoba untuk berdiri, tapi sebelum sempat dia berdiri Karam jatuh tersungkur kembali akibat dari teriakan keras yang keluar dari mulut seorang kakek tua yang sambil membawa sapu lidi besar.

 

“SIAPA YANG MENGHANCURKAN TANAMAN KESAYANGANKU?!” Teriak kakek itu. “Kau ya?!” Tunjuk kakek itu pada Karam yang terduduk dan hampir menangis.

 

“Kim Ahjucci! Aku yang memecahkannya!” Teriak seorang anak laki-laki dari kejauhan. Anak laki-laki berlari menghampiri Karam.

 

“Aku yang memecahkannya Kim Ahjucci! Bukan dia. Mianhaemnida.” Seru anak itu sambil membungkuk.

 

“oh, tuan muda yang memcahkannya, saya kira anak bandel itu.” Tunjuk kakek menyeramkan itu.

 

Karam yang ketakutan hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan air mata mulai membanjiri pipi mulusnya. Anak laki-laki itu mengulurkan tangannya pada Karam. “Perlkenalkan aku Mika! Kau tidak apa-apa kan?”

 

Karam menatap Mika dengan mata yang masih dibanjiri air mata. Setelah beberapa lama Karam kecil menatap Mika, tangan mungilnya terulur menyambut tangan Mika. Senyuman  lebar khas anak kecil tersungging di bibir mungil Mika, dengan sergap Mika membantu Karam berdiri dan mengajaknya masuk ke rumah besar itu yang ternyata rumah itu adalah rumah peninggalan kakek dan nenek Mika. Dan sepasang kakek dan nenek tua yang selama ini meninggali rumah itu adalah pembantu mereka.

 

*End of flashback*

=====================================================================

 

“Sudah ingat? Ini kalung yang kau buatkan untukku saat ada pelajaran prakarya di panti asuhamu iya kan?” Tanya Mika.

 

“Oh, jadi kau anak kecil menyebalkan yang membuat kepalaku benjol selama seminggu?” Tanya Karam sarkastik.

 

“Ya, maafkan aku! Aku gak sengaja waktu itu. Tapi untungnya semenjak kejadian itu kita jadi dekatkan? Kita bagai perangko dan amplop. Kau selalu menempel padaku kan?” Cengir Mika.

 

“Oh ya?! Bukankah kau yang selalu menempel-nempel padaku? Aku sebal selalu diikuti olehmu!” Seru Karam sinis.

 

“Benarkah begitu? Bukannya justru kau malah senang jika aku tempel?” Mika membalik keadaan. “Kau kan dulu kesepian, tidak punya teman, selalu bermain sendiri,  semenjak kehadiranku kau jadi anak periang kan? Itu yang kudengar dari mulut ibu panti asuhanmu.”

 

“Jangan ungkit masa lalu!” Karam membuang mukanya agar Mika tidak bisa melihat betapa merahnya mukanya saat ini karena menahan malu.

 

“Jangan buang wajahmu! Kau masih sama seperti dulu, gampang sekali malu dan gampang sekali wajahmu menjadi merah.” Seru Mika sambil mendekati Karam lalu menangkup pipi chubby Karam dan memalingkan wajah Karam ke depan agar ia bisa menatapnya.

 

“Lepaskan tanganmu!” Titah Karam. “Lalu kenapa kau pergi?”

 

“Aku pergi mengikuti keinginan orang tuaku.” Jawab  Mika santai.

 

Karam menatap mata Mika dingin. Mika balas menatapnya. “Dari mana kau tahu aku ini Karam teman masa kecilmu?” Tanya Karam

 

“Aku pintar Karam, jangan lupakan itu.”

 

Karam mendengus. “Sombong sekali kau.”

 

“Buktinya aku sudah kelas tiga, padahal umurku satu tahun di bawahmu, iya kan? Walaupun aku pindah, aku masih bisa memantaumu Karam. Dan aku senang sekali kau akhirnya bersekolah di sekolah yang sama denganku. Tuhan menjawab do’aku.” Terang Mika panjang dan lebar.

 

“Sifat sombongmu tidak berubah sejak terakhir kali aku bertemu denganmu.” Lagi-lagi Karam mendengus.

 

“Kau suka pada kakak angkatmu kan?” Tanpa tedeng aling-aling Mika menanyakan hal yang sukses membuat wajah Karam memerah sempurna. “Jangan mengelak! Aku sudah tahu jawabannya dari kelakuanmu dan wajahmu yang semerah kepiting rebus saat ini.”

 

“Dari mana kau tahu?” Karam mencoba menutupi perasaan malunya.

 

“Sudah berapa lama sih kau sekolah di sini?” Tanya Mika enteng.

 

“Enam bulan.” Jawab Karam malas.

 

“Enam bulan waktu yang cukup kan untuk mengenal ketua osismu sendiri? Oh aku tahu,” Mika menepuk jidatnya sendiri. “Aku tahu, semua yang ada dipikarnmu itu yang ada hanyalah Senior Yunho kan?”

 

“Kau terlalu banyak bicara.” Seru Karam dingin. Sedingin es di kutub utara.

 

“Aku sering mengawasimu Karam, aku punya kuasa untuk mengawasi siapa saja yang ada di SMP ini. Dilihat dari sikapmu, cara menatapmu, dan cara berbicaramu terhadap senior Yunho itu berbeda dengan orang kebanyakan, ya walaupun memang senior Yunho itu idola para siswa maupun siswi bahkan para guru, tapi aku yakin orang yang baru mengenalmu saja tahu bahwa kau menyimpan rasa suka padanya.” Mika melipat tangannya di dada.

 

“Sudah bicaranya? Aku mau pulang.” Karam hendak pergi meninggalkan Mika, tapi dengan cepat Mika menahan tangan Karam.

 

“Sebenarnya apa arti senior Yunho bagimu?” Tanya Mika.

 

Karam memutar tubuhnya. “Kau tidak tahu apa-apa. Yunho hyung adalah segalanya bagiku.”

 

“Segalanya eh? Bukannya kau sudah punya segalanya setelah menjadi anak angkat keluarga Jung?” Tanya Mika. Seringai terpampang jelas di bibirnya.

 

“Kau ini kenapa? Ada apa dengamu hah?!” Hardik Karam. Karam mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Mika.

 

Mika akhirnya melepaskan tangan Karam. “Mereka baru saja jadian dua bulan yang lalu. Menurutku mereka pasangan yang cocok. Tapi mereka sudah seperti pasangan dari dulu. Hanya saja mereka baru meresmikannya pada dunia dua bulan yang lalu.” Mika memandang Karam sinis.

 

Karam tidak menggubris perkataan Mika. Dia terus berjalan meninggalkan Mika. Tapi baru beberapa langkah ia berjalan, ia memutar tubuhnya. “Kau tidak tahu apa yang kurencanakan?” Setelah berbicara seperti itu Karam kembali melanjutkan langkahnya. Malah kali ini Karam melangkah dengan setengah berlari.

 

“Jangan rusak hubungan mereka!” Teriak Mika.

 

Karam yang mendengarnya terus berlari tanpa memperdulikan teriakan dari Mika, tapi Karam mengacungkan jari tengahnya ke belakang. Melihat hal itu Mika hanya tersenyum sinis. “Jangan rusak hubungan mereka Karam.” Seru Mika yang lebih mirip berseru pada diri sendiri.

 

“Jangan mengharap pada sesuatu yang tidak pasti Karam. Aku tahu semua tentang dirimu Karam. Kau bahkan bisa bertindak gila untuk mendapatkan apa yang kau inginkan. Itu sudah tabiatmu.” Lirih Mika.

 

$$$

 

Sementara itu di kantin Yunho dan Jaejoong masih mencoba menghabiskan makanan yang mereka pesan tadi. “Yun~” Panggil Jaejoong.

 

“Apa jagi?” Jawab Yunho sambil menyuapkan sesendok es krim ke mulutnya.

 

“Ulang tahunnya Karam bulan depankan?” Tanya Jaejoong.

 

Yunho mengangguk. “Kau benar-benar menyetujui perkataan Karam? Sebulan itu waktu yang lama Boo~” Seru Yunho sambil melap mulutnya yang tercecer es krim.

 

“Aku tahu! Aku mau tanya sesuatu. Kau menemukan, eh maksudku di mana pertama kali bertemu Karam?” Tanya Jaejoong sambil menatap Yunho.

 

“Perasaan aku sudah pernah cerita ya? Aku bertemu Karam 6 bulan yang lalu saat aku baru pulang kejuaraan kendo di sini kan? Aku bertemunya di jalan sempit tidak jauh dari sini. Kau tahu kan?”

 

“Iya aku tahu. Tapi seingatku tidak ada panti asuhan di kota ini dan kau bilang panti asuhan Karam terletak di kota sebelah kan? Kenapa malam-malam Karam bisa berkeliaran seperti itu? Apa tidak aneh?” Tanya Jaejoong.

 

“Tidak tahu! Mungkin dia tersesat.” Jawab Yunho sambil memasukan es krim terakhir ke mulutnya.

 

“Apa dia punya keluarga lain?”

 

“Setahuku sih tidak.”

 

“Oh begitu.” Jaejoong mengangguk-angguk.

 

“Ayo kita pulang, aku sudah selesai. Kau mau pulang naik apa? Bus?”

 

“Jangan! Jangan naik bus!” Jaejoong memotong ucapan Yunho. “Kau tahu kan aku phobia naik mobil apapun dan jenis apapun.”

 

“Apa sih yang kau takutkan saat naik mobil atau semacamnya?”

 

“Sebenarnya bukan mobilnya yang aku takutkan, tapi aku sudah pernah cerita padamu kan kalau aku pernah kecelakaan saat aku berumur 7 tahun. Dan bayangan kecelakaan itu masih terus terbayang jika aku naik mobil.” Terang Jaejoong.

 

“Ya aku tahu, jadi selama ini kau menahan rasa takutmu?” Tanya Yunho. Jaejoong mengangguk.

 

“Kenapa kau tidak berbagi rasa takutmu padaku?”

 

“Kan kita baru jadian 2 bulan lalu Yun~” Jaejoong merajuk.

 

“Aku suka melihat seorang Jung Jaejoong merajuk.” Goda Yunho.

 

“Jangan menggodaku Jung Yunho!” Teriak Jaejoong. Yang diteriaki hanya terkekeh.

.

.

.

TBC

 

Bagaimana komentarnya…. Jung Yunho dan Kim Jaejoong.. hemmmm… benar-benar pasangan yang romantis yahhh..

Ditunggu lanjutannya yaa.. dan jangan lupa selalu komen..

 

Gomawo all🙂

Kim Chi Hee

10 thoughts on “Saranghae Do Dwel Gayo Part 3

  1. Karam bener2 cari mati,
    mika sebener.y siapa sih, bikin penasaran.
    Aduh umma, knapa phobia dg mobil sih, padahal kan enak naik mobil, ckckck…*dcekik jaema😉

  2. karam koq keras kpala bgt sh,mau ngrusak hbungan org laen n siapa mika sbnar ny..?
    Mika,tlong hntikan karam!
    Cie yunjae moment brtebarn,jd umma mau naik ap dng?

  3. mika harus terus ngawasin karam tuh klo perlu gagali terus semua usaha karam buat ngancurin hubungan yunjae

  4. Bahaya…mengancam hubungan’a yunjae…aigooo!!!

    Şiaρα mika??? Şiaρα karam sebenernya???

    Demen deh kalau ųϑªђ yunjae moment…bawa’annya pengen liat yunjae moment secara langsung ✘i✘i✘i✘i

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s