Bloody Love Chapter 32 – Would You Be.. | @beth91191


Anyeonghaseyo readerdulllll….

Bagaimana kabarnya?? Baik2 saja?? #basabasibanget

Udah penasaran sama gimana jawaban Jae yaaaaa?? hehehe..

Jae gimana ya njawabnya?? Apakah nolak apakah nrima?? Yakin bakal ditrima??

Yah yah yahh…

Chapter ini bisa dibilang sub-klimaks pertama setelah sekian panjang reader membaca ff ini.. Tapi masih ada 3 sub-klimaks dibelakang yang akan hadir dengan alur yang lebih cepat.. Chap ini membuatku bahagiaaaa…

hehe

Udah ahh langsung baca aja yaa…

Yuk~~~

Title        : Bloody Love

Author   : Beth

Chapter : 32 – Would you be

Genre    : Romance, Action, Yaoi

Rate       : 21+

 

CHAPTER XXXII – Would you be..

 

[Jaejoong pov]

Belum selesai aku menjelaskan semuanya, tiba-tiba dia memelukku dengan sangat erat.

“Jaejoong…”

Mwo? Ada apa dengannya? Mengapa dia begitu khawatir padaku? Mengapa dia memelukku seperti ini? Tiba-tiba jantungku berdetak cepat dan wajahkupun menghangat.

“Kau jangan pergi lagi dariku..”

Sekarang apa yang dia katakan? Aku benar-benar tak mengerti.

“Aku menyayangimu, Joongie ku sayang..”

DEG!!

A..a..apa?? Apa yang barusan dia katakan? Apa aku tak salah dengar? Kenapa tiba-tiba dada ini terasa sangat sesak. Jantungku berdetak dengan semakin cepat, seakan akan meledak saja. Aku tak mampu berkata apa-apa. A..aa..aaku terlalu bingung dengan perasaan yang sekarang aku rasakan. Kemudian Yunho melepas pelukannya dan melihat ke arahku dengan tatapan tajamnya. Tatapannya benar-benar menusuk hatiku. Jantungku yang berdebar kencang hingga sakit sekali rasanya.

“Jaejoongie.. Aku sudah tak sanggup lagi menahan perasaan ini. Berkali-kali aku memikirkan tentang apa yang aku rasakan ini. Tapi entah mengapa semakin aku berpikir, semakin aku berkata tidak, semakin aku yakin bahwa aku..” dia berhenti sejenak dan menggenggam tanganku hangat,”Aku sangat mencintaimu Kim Jaejoong. Maukah kau menjadi kekasihku?” tanyanya dengan memegang kedua tanganku.

GLEK!!

Aku menelan ludahku. Aku bingung.. Aku benar-benar bingung dengan perasaanku. Lebih membingungkannya lagi, aku bingung dengan perasaannya padaku. Apa yang harus aku katakan. Kenapa denganku? Jika aku memang tidak menyukainya aku pasti akan dengan mudah menolak permintaannya dan memakinya mentah-mentah. Apalagi aku bukanlah seorang gay. Tapi mengapa aku ragu untuk menolaknya. Hatiku benar-benar bergejolak. Aku benar-benar bingung.

“Kau tidak perlu menjawab sekarang. Aku tahu kau pasti bingung saat ini. Aku menunggu jawabanmu hingga malam terakhir di pulau Jeju.” Jawabnya dengan mengusap kepalaku lembut.

“Tapi..” kataku terputus.

“Sudahlah.. Pikirkan dahulu baik-baik. Yang perlu kau tahu, aku sangat mencintaimu dan menyayangimu serta aku akan selalu melindungi dan membahagiakanmu.” Ucapnya lembut.

Diapun tersenyum sangat manis padaku. Omo?? Kenapa jantungku masih saja berdetak cepat seperti ini?

“Sudahlah.. Kau istirahat saja. Kau masih belum sehat. Kau pasti pusing karena banyak sekali darahmu yang keluar tadi.” Kataku mengalihkan pembicaraan dengan tak berani menatap matanya.

“Baiklah..” jawabnya hendak kembali ke atas tempat tidur.

Kubantu dia untuk naik ke atas tempat tidur. Kuselimuti tubuhnya dan akupun duduk di sebelahnya. Digenggamnya tanganku erat seakan-akan tak ingin aku menghilang lagi dari sisinya.

“Kau sudah makan?” tanyanya.

“Sudah..” kataku dengan masih tertunduk.

“Kau tadi kemana memangnya?” tanyanya sambil masih memegang tanganku.

Tak kujawab pertanyaannya. Entah kenapa aku terdiam selama beberapa saat dan masih merasa malu dan salah tingkah bersamanya. Rona-rona kemerahan menghiasi wajahku. Apalagi merasakan tangannya yang menggenggam tanganku erat. Kuberusaha menenangkan perasaanku saat ini. Apa yang telah ia katakan sebelumnya masih sangat membuatku terkejut.

“Jung Yunho..” aku berkata setenang mungkin yang aku mampu.

“Hemm..” sahutnya.

“Maafkan aku sudah membuatmu khawatir..” ucapku pelan membuka topik baru.

“Kau tidak salah.. Justru aku yang salah telah bercanda seperti tadi sore. Seharusnya aku tak melakukannya. Maafkan aku.” Jawabnya dengan mempererat genggamannya.

“Nae..” jawabku lemah.

“Lalu kau pergi kemana tadi? Kau belum menjawab pertanyaanku.” Tanyanya ulang.

“Tadi aku pergi ke pantai.” Jawabku.

“Ternyata kau ke pantai. Kenapa tidak kepikiran aku untuk mencarimu disana ya? Oya, bagaimana pantai pulau Jeju di malam hari? Indahkah?” tanyanya.

“Pantainya sangat sepi di malam hari.”jawabku pendek.

“Lalu indah atau tidak?” tanyanya lagi.

“Indah.” Jawabku cepat.

“Bagaimana kau tahu pantainya indah, padahal hari sudah malam kan?” dia bertanya seakan mengetesku.

Kutatap matanya sambil mempoutkan bibirku. Kenapa dia bertanya suatu hal yang dia sanggah sendiri. Kenapa dia tanya pantai indah atau tidak, tapi setelah aku menjawabnya, kenapa dia bertanya aku tahu dari mana kalau pantai itu memang indah. Dasar Jung Yunhoo..

“Walaupun keindahan pantai tidak terlalu terlihat. Tapi dengan mendengar suara deburan ombak dan hembusan angin pantai yang semilir. Membuat suasana di pantai begitu indah dan nyaman. Apalagi jika bulan sedang bersinar. Redup-redup bisa kita lihat gulungan-gulungan ombak yang menyapu pasir-pasir di bibir pantai dan menghantam batu karang tampak indah sekali. Tapi sayangnya hari ini bulan tertutupi oleh awan-awan. Sehingga langit terasa begitu gelap.” Aku berusaha menjawab dengan lengkap detail dan antusias, aku terus berbicara hingga tak sadar Yunho telah tertidur nyenyak.

Aku yakin dia pasti kelelahan karena mencari-cariku tadi. Kupandangi wajahnya. Damai sekali ketika melihatnya tertidur seperti ini. Kuamati kepalanya yang dililiti perban. Pasti sakit rasanya. Andai aku tidak menghilang tadi, dia pasti tidak akan khawatir dan mencari-cariku hingga terjatuh seperti ini. Kuusap kepalanya yang terlilit perban. Kubelai rambutnya perlahan. Tanpa sadar tangan ini sudah berada di pipinya. Pipinya terasa begitu hangat.  Kuusap pipinya hati-hati tak ingin membuatnya terbangun.

Jung Yunho…

Jawaban apa yang harus aku berikan padamu? Apa? Aku takut salah memberikan jawaban. Karena aku sendiri belum yakin dengan perasaanku.

Tangan kami terus saja saling bergenggaman satu sama lain hingga akhirnya akupun tertidur di sebelahnya.

-oOo-

 

Keesokan harinya..

Yunho sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Tentu saja, dia sudah boleh pulang, karena memang lukanya tidaklah parah. Hanya saja benturan dari sesuatu itu menghasilkan luka yang mengeluarkan darah cukup banyak. Tapi dokter berkata, dia akan baik-baik saja. Dokter sebenarnya ingin agar Yunho menginap minimal satu hari lagi di rumah sakit. Tapi dia berpikir, akan lebih bermanfaat jika dia habiskan waktunya untuk mengikuti seminar kuliner ini. Yasudahlah.. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Dia sendiri sudah merasa baikan.

Setelah selesai membayar registrasi rumah sakit, kamipun langsung menuju ke hotel. Dia masih tampak kurang sehat, tapi ekspresi cerianya menutupi kondisinya yang belum begitu baik itu. Tanpa mengambil istirahat lebih lama lagi, kamipun langsung mengikuti seminar. Aku berusaha menjaganya agar tidak terlalu kelelahan. Bagaimanapun juga dia masih dalam proses penyembuhan. Selalu kuperhatikan kesehatannya, waktu minum obatnya, makannya dan isirahat cukupnya.

Beberapa hari sisa waktu di pulau Jeju ini, aku gunakan untuk benar-benar berbikir keras, aku berusaha menanyakan pada hati nuraniku sendiri. Sebenarnya bagaimana perasaanku pada Jung Yunho. Aku benar-benar bingung. Jung Yunho.. Kau benar-benar membuatku bingung. Sungguh rasanya kepala ku ini ingin pecah setiap memikirkan hal ini. Hatiku rasanya mau meledak.

Namun disamping itu beberapa hari ini aku rasakan suatu perubahan yang sedikit mencolok. Kumerasa dia semakin peduli dan perhatian, serta  bersikap lebih hangat padaku dibanding biasanya. Sepertinya dia merasa lebih berani memperlihatkan perhatiannya itu, setelah mengutarakan isi hatinya.

Perhatian yang dia berikan salah satunya adalah ia tidak pernah membiarkan aku membawa barang-barang yang bahkan bisa dibilang tidak terlalu berat. Saat aku membawa sesuatu, dia pasti meraihnya dari tanganku dan membawakannya. Untuk barang-barang yang sama sekali tidak ada hubungan dengannya sekalipun, seperti tasku, dia dengan senang hati mau membawakannya untukku. Padahal dia sendiri belum begitu sehat. Seharusnya justru aku yang menjaganya agar dia tidak terlalu kelelahan. Tapi mengapa justru dia yang selalu tidak pernah membiarkan aku kelelahan. Pernah suatu saat, ketika semua kursi sudah penuh dan aku tidak mendapat tempat duduk, dia berdiri dan mempersilakan aku duduk di kursinya. Padahal dia sendiri berdiri di sampingku dengan bersandar pada dinding hingga acara selesai.

Selain itu, dia juga tidak pernah membiarkan aku kepanasan maupun kedinginan. Pernah suatu saat aku lupa tidak membawa jaket, padahal kami duduk tepat berada di bawah AC yang sangat dingin, karena tidak ada tempat duduk lain, terpaksa kami tetap berada di situ. Saat itu tiba-tiba Yunho melepas jaketnya dan memakaikannya padaku.

Diapun juga selalu memeperhatikan makanku. Dia selalu bertanya aku sudah makan atau belum. Jika aku berkata belum makan, dia pasti langsung menarikku ke restoran hotel. Dan memesankan makanan untukku. Padahal aku sama sekali tidak membutuhkan makan. Dan satu hal yang cukup menggangguku ialah ia selalu saja memperhatikan setiap gerak-gerikku. Tapi begitu aku melihat ke arahnya dan bertanya ada apa, dia hanya tersenyum dan melanjutkan apa yang sedang dia lakukan. Sedangkan saat aku tidak berada di dekatnya dia mencari-cariku seakan-akan takut aku kenapa-kenapa. Pernah suatu saat aku berada pada jarak yang cukup jauh darinya, tapi aku masih bisa melihatnya dengan jelas. Tetapi entah mengapa dia sudah kebingungan mencariku hingga menelepon dan men-SMS ku berkali-kali dimana aku berada.

-oOo-

 

Suatu malam..

[Yunho pov]

Kulihat Jaejoong sedang menulis-nulis di sebuah buku. Dia mendokumentasikan apa saja yang telah kita dapatkan hari ini.

“Melelahkan sekali ya hari ini Kim Jaejoong..” kataku padanya sambil duduk di sebelahnya.

“Nae.” jawabnya singkat.

“Tak terasa besok kita harus kembali ke Seoul..” kataku.

“Nae.” jawabnya dengan masih berkonsentrasi dengan apa yang dia lakukan.

“Berarti ini malam terakhir kita di pulau Jeju kan.” Ucapku mengingatkan sesuatu.

Dia menghentikan aktifitasnya dan melihat ke arahku dengan tatapan tajam. Mata bulatnya yang indah selalu membuatku kagum. Tampak dia hanya terdiam menatapku dan menungguku melanjutkan kata-kataku.

“Tak inginkah kau pergi berjalan-jalan di pinggir pantai malam ini. Selama kita disini kita sama sekali belum menikmati keindahan pulau Jeju bukan?” Tanyaku.

Dia masih terdiam tapi kulihat dia tengah menutup bukunya sendiri dan berjalan keluar kamar tanpa berbicara apa-apa. Apakah ini berarti dia setuju dengan ajakanku? Aku anggap saja iya. Mana mungkin dia menolak ajakanku tapi justru berjalan keluar. Akupun mengikutinya dari belakang.Kami berjalan bersama melewati lorong-lorong hotel. Setibanya di lantai dasar, kami langsung menuju pintu keluar. Dia masih saja diam dan terus berjalan tanpa menoleh ke arahku.

“Jaejoong..” panggilku padanya.

“Hmm..” jawabnya.

“Gomawo ya kau mau menemaniku ke pantai.” Kataku.

“Hmm..” jawabnya pelit kata-kata.

Kami terus berjalan hingga kamipun tiba di sebuah pantai yang tak jauh dari hotel kami. Kulemparkan pandanganku pada hamparan air dan pasir yang ada di depanku. Malam ini bulan bersinar sempurna. Bintang-bintang berserakan di atas sana menghiasi langit yang hitam. Deburan ombak terdengar mengalu-alu di telinga. Hembusan lembut sang bayu tidak terlalu kencang tapi menyejukan. Wah ternyata benar pantai nya memang benar-benar indah. Perpaduan bau pasir-pasir basah dan bau khas asinnya air laut mempertegas situasi pantai yang indah malam ini.

Setelah berjalan menyusuri pasir-pasir lembut, kami berhenti di bebatuan karang di pinggir pantai dan duduk di situ.

“Kim Jaejoong..” panggilku.

“Hmmm..” jawabnya pelan.

“Sekarang aku menunggu jawabanmu. Aku siap menunggu jawabanmu apapun itu. Walaupun jawaban yang kau berikan adalah jawaban yang tidak kuharapkan sekalipun, aku ikhlas. Aku akan menerima semua keputusanmu.” Ku melihat ke arah Jaejoong yang sedang menatap langit. Sejenak kami terdiam satu sama lain. Dia masih sibuk melihat langit dan aku masih sibuk menganggumi wajah manisnya.

“Jung Yunho..” panggilnya lirih memecah keheningan di antara kami yang sempat terjadi.

“Nae..” jawabku.

“Kenapa kau mencintaiku?” tanyanya yang membuatku terkejut dengan masih menatap langit.

Aku bingung dengan apa yang dia tanyakan. Aku tak pernah berpikir dia akan bertanya seperti itu. Memang itu adalah sebuah pertanyaan sederhana, tapi makna yang ada di dalamnya sangat mendalam. Aku tak mampu menjawab hal itu begitu saja. Ku pejamkan mataku untuk berpikir jawaban dari pertanyaannya. Aku berpikir matang-matang. Kuselami hatiku untuk mencari jawabannya. Setelah sekiranya aku siap dengan apa yang akan aku katakan, kemudian ku buka mataku.

Kulihat Jaejoong melihat ke arahku dalam-dalam. Mata kami beradu.

“Kenapa Jung Yunho? Kenapa kau ingin aku menjadi kekasihmu?” katanya dengan menatapku lekat.

“Karena..” aku belum menyelesaikan kata-kataku.

Dia masih melihat ke arah ku, bahkan kini lebih dalam lagi menunjukan dia menunggu jawabanku.

“Karena kau..” kataku kembali terputus.

“Karena kau adalah Kim Jaejoong..” kulihat dia mengernyitkan dahinya. “Ya benar. Karena kau adalah Kim Jaejoong yang selalu membuatku senang, tenang, damai dan nyaman bila berada di sampingmu. Karena kau adalah Kim Jaejoong yang membuatku sedih bila tak berada di sampingmu. Karena kau adalah Kim Jaejoong yang mengisi hati dan pikiranku. Karena kau adalah Kim Jaejoong yang membuatku tergila-gila padamu. Karena kau adalah Kim Jaejoong yang sangat aku sayangi dan cintai. Kau..” belum selesai aku berbicara..

Tiba-tiba Jaejoong mencium bibirku. Aku sempat kaget saat bibirnya menyentuh bibirku. Mwo?? Benarkah dia tengan menciumku? Hati ini begitu terkejut hingga rasanya seperti ada pedang yang langsung menghujam ke dada.

“Aku juga sangat mencintaimu Jung Yunho.. Aku mau jadi kekasihmu..” jawabnya setelah mengecup bibirku lembut.

“Benarkah?” aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia katakan.

“Tentu saja Jung Yunho.. Selama ini menahan untuk mengakui perasaanku yang sebenarnya padamu adalah hal yang sangat mengganjal di hatiku. Aku selalu berpikir mencintaimu adalah hal yang seharusnya tidak aku lakukan. Tapi aku tak peduli lagi dengan itu. Aku terlanjur menyayangimu lebih dari apa yang aku kira. Kau benar-benar meluluhkan hatiku Jung Yunho..” jawabnya.

“Terima kasih banyak Jaejoong.. Terima kasih banyak.. Saranghaeyo.. Jeongmal saranghaeyo..” ucapku.

Aku seketika pun mencium bibir merahnya lembut. Dia menyambut ciumanku dengan senang hati. Kamipun saling berciuman di bawah sinar rembulan. Bibirnya terasa sangat manis, lembut dan hangat. Kami saling memagut satu sama lain. Kurasakan gesekan yang timbul antara bibirnya dan bibirku membuat ledakan-ledakan di dalam hati ini. Kuberusaha untuk memberikan ciuman yang dapat menunjukan betapa aku mencintainya. Dan ini adalah ciuman paling indah yang pernah aku rasakan seumur hidupku.

Sedikit kutarik kepala ku hingga ciuman kami berhenti sesaat. Remang-remang kulihat wajah Jaejoong di bawah sinar rembulan. Dia benar-benar manis. Sangat manis. Matanya yang membulat indah. Lekak keluk wajahnya yang indah. Hidungnya yang indah. Dan bibirnya yang merah, kecil dan tampak sangat menawan.

Ya Tuhan.. Dia begitu indah. Dia begitu sempurna. Terimakasih banyak Tuhan, Kau sudah mempersatukan aku dengannya yang sangat aku sayangi ini.

Ku kembali menciumnya. Ku sapu bibirnya dengan bibirku hangat.

“Oh Jaejoong.. Jeongmal saranghaeyo..”

Kucium bibirnya.. Semakin dalam dan semakin dalam. Kulihat matanya terpejam. Mataku pun ikut terpejam. Kurasakan bibirnya benar-benar lembut. Tangannya menggenggam erat bahu ku dan aku memegang rahangnya untuk mendekatkan ciuman kami lebih dalam lagi.

Oh Jaejoong.. Ini benar-benar malam yang indah.. Jeongmal saranghaeyo Jaejoong.. Saranghaeyo..

-oOo-

 

[Yunho pov]

Pagi ini adalah mentari pertama aku sebagai kekasih Jaejoong. Kulihat wajah kekasih ku ini yang masih tertidur pulas di sampingku. Tak pernah ada habisnya aku mengagumi kesempurnaan wajahnya. Dia sangat manis jauh melebihi wajah-wajah wanita pada umumnya. Kulit putihnya yang berhiaskan bibir merahnya terlihat sangat sangat indah. Bak wajah malaikat yang turun dari surga.

Dalam tidurnya, kukecup bibirnya lembut. Lembut tapi sangat dalam. Tiba-tiba matanya terbuka. Dia melepaskan ciuman kami.

“Jung Yunho..” katanya lirih.

“Saranghaeyo ne saranga.” ucapku sambil melanjutkan ciuman kami.

Dia kembali menarik bibirnya dan mendorong tubuhku menjauh.

“Kita harus segera bersiap. Sebentar lagi kita harus mengikuti acara penutupan dan harus kembali ke Seoul.” Katanya sambil beranjak bangun dari tempat tidur.

“Ku mohon.. hanya ciuman saja..” pintaku dengan wajah memelas.

“Andwe Jung Yunho..” jawabnya sambil berlalu ke kamar mandi.

Tapi sesaat kemudian, dia mengeluarkan kepalanya dari pintu kamar mandi.

“Nanti saja kalau sudah tiba di Seoul ya, Yunnie..” katanya.

“Mwo? Yunnie??” kaget aku dengan panggilan itu yang ditujukan padaku.

“Ya..Yunnie.. Aku suka memanggilmu begitu.” Jawabnya sambil kembali menutup pintu kamar mandi.

“Lalu bagaimana kalau aku memanggilmu dengan Joongie?” tanyaku dari balik pintu kamar mandi.

“Boleh juga.. Aku suka dengan panggilan itu.” Teriaknya dari dalam.

“Baiklah Joongie ku sayang.. Jangan lama mandinya. Yunnie menunggumu..hehe” ucapku padanya.

Singkat cerita…

Setelah menghadiri penutupan acara. Kami berangkat menuju bandara. Pesawat kami take off tak lama setelah kami check in di bandara. Kulihat pemandangan pulau Jeju dari dalam jendela sesaat setelah take off. Benar-benar indah.. Kami tinggalkan Pulau Jeju dengan banyak sekali kenangan yang tak mungkin aku lupakan. Di pulau Jeju inilah aku memperoleh cinta sejatiku. Kim Jaejoong yang sangat aku cintai. Tak lama kemudian pemandangan yang indah itu berubah dengan langit biru dan hamparan awan-awan yang memenuhinya. Biasanya perjalan seperti ini adalah hal yang sangat membosankan bagiku. Tapi entah mengapa hari ini terasa begitu menyenangkan sekali. Mungkin ini berkat keberadaan namja cantik di sampingku ini, Kim Jaejoong.

-oOo-

 

Setibanya di rumah. Jam sudah menunjukan pukul 6 malam. Ku buka pintu rumah. Kemudian kamipun masuk dan menuju lantai dua tempat kamar kami. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya bila aku dan Jaejoong sekamar setelah kami resmi menjadi sepasang kekasih seperti ini. Pasti banyak kesempatan yang bisa kami habiskan untuk saling memadu kasih. Saat ini aku masih asyik memasuk-masukan tas dan barang bawaan kami lainnya. Kulihat Jaejoong sudah berbaring di atas tempat tidur sambil mengutak-atik HP nya.

“Joongie.. jangan tidur dulu ya.. Kau berjanji akan memberiku ciuman jika kita sudah di Seoul.”pintaku padanya.

“Hmmm..” jawabnya singkat.

Ku tata-tata barang bawaan kami dengan cepat, aku tak ingin Jaejoong keburu tidur. Menyia-nyiakan kesempatan mendapat ciuman darinya adalah suatu hal yang bodoh.

Setelah selesai aku membereskan semuanya, ku melihat ke arah Jaejoong.

“Joongie..” Panggilku.

Dia sama sekali tidak menjawab. Benar apa yang aku takutkan, ternyata dia sudah tertidur duluan. Kudekati tubuhnya dan aku pun berbaring di sampingnya. Ku lihat wajahnya yang tertidur pulas. Dia pasti lelah sekali. Yasudahlah.. Biarlah dia istirahat.

Aku pun tak berapa lama juga tertidur di sampingnya.

-oOo-

 

Tengah malam..

 

[Jaejoong pov]

Mengapa malam-malam begini aku terbangun. Kucoba memejamkan mata ini kembali, tapi rasanya sia-sia. Kumenghadap ke kanan, menghadap ke kiri, telentang, dan tengkurap, tapi rasanya aku sudah tidak mengantuk lagi. Ada perasaan ingin menuju ke lantai bawah. Aku pun beranjak dari tempat tidur dan menuju ke lantai bawah. Kususuri tangga yang gelap. Karena memang tak ada lampu yang dinyalakan jika tempat makan tidak sedang dibuka.

Saat aku tiba di lantai satu, aku langsung menuju ke dapur. Tiba-tiba aku melihat sesosok bayangan yang sedang berdiri di sudut tempat makan.

“Hai.. Siapa itu??”tanyaku pada sosok itu.

Dia tidak menjawab dan tidak merespon sama sekali. Ku kucek-kucek mataku untuk memastikan apakah aku benar-benar melihat sesosok bayangan atau bukan. Saat aku melihatnya kembali bayangan itu sudah tidak ada.

Kemudian ku nyalakan lampu. Memang benar tak ada siapa-siapa di pojok situ, Tapi kata hati ku berkata lain. Aku yakin bahwa aku melihat seseorang tadi. Bahkan sampai sekarang aku merasa ada seseorang yang mengamatiku. Seseorang yang rasanya aku kenal sosoknya. Ku melihat ke penjuru ruangan tapi lagi-lagi aku tak menemukan siapa-siapa. Aku pun duduk di salah satu kursi dan memejamkan mataku.

“Aku tahu kau sudah mengikuti beberapa hari ini. Kumohon munculah di depanku. Aku merasa sangat terganggu jika kau mengikutiku seperti ini.” Kataku.

“Mianhae shimnida Tuan Kim Jaejoong” sebuah suara muncul dari arah samping.

Kubuka mataku dan mencoba melihat siapa yang berkata.

“Yesung-ssi..” ucapku.

“Iya benar Tuan.” Jawabnya.

“Kau masih saja mengikutiku?”tanyaku padanya.

“Tentu saja Tuan. Selama Yang Mulia Choi Siwon belum mengatakan saya untuk berhenti menjaga Anda, saya akan selalu berada di dekat Anda.” Jelasnya.

“Katakan pada Yang Mulia-mu, aku tak  butuh perhatiannya sama sekali. Aku bisa sendiri.”kataku dengan tatapan tajam ke arah Yesung-ssi.

Dia sama sekali tidak melihat ke arahku, dia hanya menundukan kepalanya dan melihat ke arah bawah.

“Akan saya sampaikan.” jawabnya.

“Baguslah.. Cepatlah pergi sebelum Yunho mengetahui keberadaanmu.”pintaku.

“Oya Tuan..” katanya terputus.

“Hmm.. ada apa?” tanyaku.

“Saya mohon Tuan jangan terlalu dekat dengan manusia bahkan sampai memiliki hubungan spesial dengan manusia. Saya sendiri pernah mengalaminya.” Katanya yang membuatku terkejut.

“Lancang sekali kau berbicara seperti itu padaku?” gertakku dengan nada tinggi.

“Itu demi kebaikan Tuan sendiri. Terlalu susah untuk menyatukan seorang vampir dan seorang manusia. Terlalu banyak perbedaan yang ada. Saya tak ingin Tuan mengalami hal yang menyedihkan seperti yang saya alami. Jatuh cinta pada seorang manusia. Dan akhirnya orang yang saya cintai ituu..” dia tak melanjutkan kata-katanya.

“Apa yang terjadi pada orang yang kau cintai??” tanyaku padanya.

Tiba-tiba dari arah belakang..

“Joongie.. Kau bicara dengan siapa?”

Aku menoleh ke arah sumber suara. Aku benar-benar terkejut ketika melihat Yunho sudah berada tak jauh dariku.

“Yunnie.. kau terbangun..” seruku.

Kemudian kulihat kembali ke tempat Yesung-ssi berdiri. Ternyata dia sudah tidak lagi berdiri disitu.

“Andwe.. aku sedang bernyanyi saja.” Jawabku tanpa berpikir. Mwo? Bernyanyi? Apa yang aku katakan? Kenapa aku tidak memberi jawaban yang lebih bagus?

Kulihat dia mendekatiku dengan langkah sedikit terhuyung-huyung karena masih diselimuti rasa kantuk.

“Joongie sayang..kau sebenarnya sedang apa?” tanyanya sambil memegang pipiku.

“Bernyanyi Yunnie..” jawabku.

“Datar sekali nadamu kalau kau memang sedang bernyanyi..” katanya sambil mencolek hidungku.

“Benarkah? Aku rasa kau masih mengantuk sehingga tidak begitu jelas mendengarku. Aku lapar Yunnie..Tapi tak ada bahan makanan sama sekali.” Kataku dengan wajah memelas berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Oya benar.. setelah tiba di Seoul tadi kita belum makan malam dan kau sudah tidur duluan. Bagaimana jika kita mencari makanan sekarang. Aku dengar di pusat kota sedang dibuka food festival yang dibuka hingga dini hari dalam rangka menyambut Tahun Baru.”

“Benarkah? Yasudah.. Ayo berangkat sekarang” pintaku.

Untunglah dia sudah lupa pada apa yang aku lakukan tadi. Dia tidak boleh tahu sama sekali mengenai hal itu. Bisa-bisa dia tahu kalau aku adalah vampir. Aku harus menjaga rahasia ini sampai tiba saat yang tepat untuk mengatakannya. Tak selamanya aku akan menyembunyikan hal ini darinya. Aku harus mengatakannya tentunya. Tapi tidak saat ini, tidak malam ini, tidak disini.

-oOo-

Setelah berganti pakaian dan mengenakan jaket, kami pun mengendarai mobil menuju pusat kota. Kami berkeliling-keliling mencari lokasi food festival itu. Benarkah ada food festival yang buka hingga dini hari? Tapi mengapa kami tak juga menemukannya.

“Dimana sebenarnya tempatnya Yunnie?” tanyaku yang sudah mulai bosan melihatnya berputar-putar.

“Entahlah aku juga kurang tahu.” Jawabnya polos.

“Yunnie apa itu yang disana itu. Sepertinya banyak lampu-lampu disana.” Tunjukku pada suatu tempat.

Yunho pun menjalankan mobilnya menuju tempat yang aku tunjuk.

“Wah iya benar Joongie ini tempatnya.” Ucapnya.

“Akhirnyaaa..” teriakku.

Setelah kami memarkir mobil, kami berjalan ke jajaran penjual makanan yang berada disitu. Banyak sekali pilihan makanan yang ada disitu. Semua jenis makanan, minuman dan jajanan yang Korea yang ada di pikiran ku ada semua di tempat ini. Mulai dari yang harganya sangat murah hingga yang harganya bisa masuk dalam kategori atas. Pasti lezat-lezat semua rasanya. Walau aku tak akan kenyang dengan makanan-makanan seperti itu tapi aku tetap senang jika harus mencicipi makanan yang lezat seperti ini.

 

[Yunho pov]

Kulihat wajah Jaejoong berbinar-binar melihat makanan-makanan yang berhamburan di tempat itu. Dia pasti kelaparan karena seingatku tadi siang dia makan sangat sedikit, karena sudah diburu-buru oleh pesawat.

“Kau mau makan apa Joongie?” tanyaku sambil memeluk pinggangnya dari samping.

“Yunho.. banyak orang disini..” katanya sambil melepaskan pelukanku.

“Baiklah.. Ah.. disana sepertinya enak..” aku menggandeng tangannya untuk pergi ke suatu barisan makanan khas Korea.

“Ahjussi beli bulgoginya ya..” kataku pada penjual bulgogi.

“Kau ingin makan apa Joongie?”

“Sama denganmu saja. Oya.. aku mau membeli minuman dulu ya disana.” Ucapnya sambil menunjuk penjual soju.

“Aku saja yang beli.” Sahutku.

“Andwe.. kau tunggu saja di sini.” Katanya sambil menunjuk meja di dekat kami membeli bulgogi. Kemudian kulihat dia pun melangkah pergi ke tempat penjual soju yang berjaraK lumayan jauh dari meja tempat ku menunggu.

Kupandangi Jaejoong dari kejauhan yang sedang asyik melihat-lihat makanan dan minuman yang dia lewati. Lucu sekali melihat tampangnya seperti itu. Bibir mungilnya berkomat kamit berbicara dengan penjual soju itu. Tangannya sibuk mengangkat-angkat botol-botol soju yang tertata rapi di tempat itu. Dipandanginya botol-botol itu dengan berbicara pada ahjushi penjualnya. Aku terus mengamatinya hingga tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara yang menyapaku.

“Yunho hyung..” seru seseorang dari belakang.

Kumenoleh ke asal suara sepertinya aku kenal dengan suara itu..

 

TBC

 

Gimana hayo gimanaaaaa??? Diterima kannn.. Kikikikikkkk..

So sweet ya mereka.. jadi iriii…

Tapi tapi tapiii.. Siapa tuh yang manggil Yunho?? O’o?? Jangan-jangannnnn… */sensor/*

Ya jangan lupa komennya yang banyakk.. Jangan hemat kata.. kalo urusan komen, boros itu nggak masalah.. Aku tunggu yaa..😉

Gomawo all…

Salam Yunjae❤

-Beth-

29 thoughts on “Bloody Love Chapter 32 – Would You Be.. | @beth91191

  1. Co cweeeettt….
    Seneng banget saat umma nrima cinta appa ~~ *senyum2 geje
    baru jadian, appa dah muncul pervert.y, tsk *dbungkem appa pake bibir
    emg knpa kalo vampir dg manusia thor?
    Trus siapa yg manggil appa barusan?
    Minnie kah??
    Huwaaa…. Banyak pertanyaan diotak aq….

  2. Wawawa yunjae jadian waaaaa…

    Yesung pernah jadian sama manusia ?? Tapi aku ga mau yunjae berahir tragis !! Harus bahagia !!

  3. akhirnye setelah skian lama nunggu, yunjae jadian juga
    hahaha
    penasaran nih ma reaksinya yun kalo jae ntu vampir , , ,
    eh eh siapa ntu yg manggil yun??

  4. KYAAAAAAAA!! yunjae resmi pacaran cieee >,< ohya, reader baru nih eonn. baru komen di chapter ini juga *digampar* aku udah baca dari part awal, pas bagian yg masa lalu yunho itu aku skip. ga kuat bacanya hohoh.

    yosh, update-an ff nya aku tungu ya eonn ~

  5. horeeeeeeeeeee~
    akhirnya yunjae pacaran jga stelah mlewati 31 episod #plak
    so sweet~

    hoho jatah kiss’a yunpa msh blon d kasih nih,,,tak sabar nuggu’a …haha
    lanjuuuut…lanjuuut…..

  6. ne . .
    akhirnya JJ oppa sama Yunho oppa jadian…
    hmmm🙂

    soal Yesung oppa, siapa tuh manusia yg pernah bersama oppa . . .

  7. annyeong,,,reader baru d sini,,,emm blh ikt nimbrung bc epep d sini??
    akhirnaa stelah ngubekngubek n menjelajah mbah google dpt juga fandom yunjaeee,,,
    uwaaa maap sbenerna q bc dr chap 30an n q lom koment,,baru skrng ni*nemu d mbah gugel dpt chap 30*,,*n q gg koment d chap slanjutna,,soalna q emang gg bs koment,,cos hpq cm bs komen d wp,n bary nemu wp na skrng,,mian authorssie,,bkn brmksd gg menghargai*

    umm critana sweet,,tp emang dasar yunpa,br nembak lngsng ksh hot kissu gtuuu*d gplak*
    ntu umma vampir y??rda gg ngerti*y iyalah orang ktingaln 30 chap*dodol mode;on,,,

    uk gomawo,,thnx for writing~ ^^

  8. Siapa ea kira2 yg manggil appa??
    Pnasaran tingkat akut..
    Cpa ea??
    Minnie kah??
    Chunnie kah??
    Or su-ie kah??
    Psti jwbnny antra 3org tu..
    Lnjutkn..

  9. Nah lho siapa yang manggil yunho tuh?? Changmin kah??
    Oohh jd yesung pernah pacaran sm manusia.. Pasti tragis deh endingnya.. Wah klo jj ngasih tau yunho dia vampir berarti yunho harus diubah jd vampir dong klo ga yunho mati.. Jangan jangan jaejoong lupa yg satu ini

  10. AKHIRNYA! AKHIRNYAAAAA!! yunjae resmi berpacaran juga~ kekeke~ daaaan kebiyasaan, pas udah bahagia, eh muncul deh masalah~ –zz

  11. Senengnya…cinta’a appa Ъ>:/ bertepuk sebelah tangan…makasih ýª umma ųϑªђ nrima cinta’a appa..

    Appa nih…baru jadian aja ųϑªђ nyosor mulu mau’a ✘i✘i✘i

    Kenapa memangnya kalau vampir sam̶̲̅α̇ manusia?? Semuanya sam̶̲̅α̇ kecuali dy minum darah,,τρ kan jae Ъ>:/ mau minum darah, semoga Nanti kalau jaema ųϑªђ ngungkapain Şiaρα dy sebenernya appa nrima jaema dengan tangan terbuka dan bisa nyari solusi biar jaema Ъ>:/ minum darah lagi..!!!

    Şiaρα ýanƍ mangil appa?? Minnie kah?? ªª junsu???
    Lanjuuut aaaaccchhh

  12. Yay mpa ahirnya jadian juga. Eh tp appa bakal knp ya kalo pacaran sama vampir. Umma gigit aja appa iar jd vampir juga

  13. yippi
    Akhirnya Jae nerima Yun juga
    ahiw
    manisnya mereka berdua
    hahaha
    mana Jae nyium duluan lagi
    asiiikkkk ….

    Yesung kenapa itu?
    apa akibatnya kalo cinta sama manusia
    hiks
    jgn kenapa2 lah
    kasian YunJae nantinya.

    siapa itu yg ktmu Yun

  14. Akhirnya yunjae jadian juga
    Stelah skian lma mnunggu

    Apa yg akan trjadi dg appa ?

    Siapa orang yg mnyapa appa ?
    Apakah yoochun ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s