Saranghae Do Dwel Gayo Part 4


Saranghae Do Dwel Gayo? (Part 4)

Dengan perasaan kesal Karam pulang ke rumah. Setelah sampai di depan pintu Karam mengecek keadaan rumah. Kosong. Berarti Yunho belum pulang. Karam membuka pintu dengan malas dan dengan langkah gontai Karam masuk ke rumah, setelahnya ia melempar tas sekolahnya ke atas sofa, begitu pula dengan dirinya.

 

Karam menarik napas panjang. Pertanyaan Mika masih terus terngiang di telinganya. “Apa arti Yunho hyung bagiku?” Lirih Karam.

 

Karam masih ingat benar saat pertama kali ia menginjakan kaki di rumah keluarga Jung. Keluarga Jung amat sangat baik terhadapnya. Dia dimanjakan oleh kedua orang tua angkatnya itu terlebih lagi Yunho. Yunho tidak pernah lagi keluyuran, semenjak kedatangan Karam Yunho lebih betah di rumah. Yunho selalu mengajak Karam bermain, entah itu mian PS atau hanya sekedar bermain kartu.

 

Orang tua angkatnya pun selalu membuat kejutan untuknya. Tiap minggu atapun hari libur, mereka berdua pasti mengajak Karam dan juga Yunho untuk pergi berlibur bersama. Tidak ada yang dibedakan antara Yunho dan dirinya. Begitupun saat membeli sesuatu, orang tua mereka tidak pernah mebeda-bedakan antara dirinya dengan Yunho.

 

“Yunho hyung telah menyelamatkan aku.” Lirih Karam. “Dan tanpa sadar aku jatuh cinta padanya. Dan aku sangat tidak suka dengan kehadiran Jaejoong. Aku bingung, kenapa wajahku mirip sekali dengan wajahnya. Dan itu makin membuatku makin membenci dirinya”

 

Karam melihat sekilas kea rah dinding, tepatnya kea rah jam dinding. Pukul tiga siang, seharusnya Ibunya ada di rumah, tapi hari ini sampai seminggu kedepan ayahnya ditugaskan keluar kota, jadi ibunya juga harus ikut untuk mengurusi ayahnya –yang lumayan manja- itu.

 

Karam beranjak dari sofa untuk menyiapkan makan malam untuk dirinya dan juga Yunho. Karam yakin kakaknya itu pasti akan pulang sore kalau sudah bersama dengan Jaejoong. Memang semenjak ada Karam, ibunya meminta Karam untuk mengurus Yunho, terutama dalam hal makan karena Yunho memiliki sakit maag yang parah.

 

===========================================================================

Hari sudah mulai senja. Akhirnya Yunho harus mengantar Jaejoong dengan berjalan kaki akibat phobia yang diderita Jaejoong. Padahal rumah Jaejoong dan sekolah lumayan  jauh. “Lumayan, walau capek kan dapet hadiah. Nyolong dikit juga gak apa-apa.” Cengir Yunho.

 

****

*Flashback*

 

“Yun~ maaf  yah, kamu jadi jalan bareng aku.” Seru Jaejoong sedih.

 

“Gak apa-apa jagi.” Seru Yunho sambil mengunyah permen karetnya. “Tapi harus ada syaratnya.”

 

“Apa syaratnya jagi?” Tanya Jaejoong penasaran.

 

“Nah sudah sampai!” Seru Yunho, seringaian tersungging di bibirnya pertanda Jaejoong dalam bahaya.

 

“Yun~ aku takut deh liat seringaianmu itu.” Jaejoong mundur perlahan saat Yunho mulai mendekat. “Jae~” Panggil Yunho.

 

Tanpa sepengetahuan Jaejoong, Yunho menangkup wajah Jaejoong dan langsung melumat habis bibir merah dan menggoda milik Jaejoong. Lama Yunho melakukan itu sampai-sampai kaki Jaejoong lemas bahkan untuk menopang badan sendiri dia kesusahan.

 

Jaejoong akhirnya bisa melepaskan diri dari ciuman maut seorang Jung Yunho. “Yunho!” Teriak Jaejoong.

 

“Mian boo~ itu kan anggap aja jadi bayaran aku nganterin kamu.” Cengir Yunho.

 

“Jadi kamu gak mau anterin aku kalau aku gak kasih kamu ciuman?!” Jaejoong berkata dengan nada sinis. “Ya udah besok-besok gak dianter kamu juga gak apa-apa, oh iya sekalian aja kamu gak usah ngeliat aku selamanya!” Seru Jaejoong.

 

“Jangan gitu dong boo~” Rajuk Yunho.

 

“Ih~ kamu mah gampang diboongin!” Jaejoong lalu mencubit perut Yunho. “Yun~ mengenai Karam, aku setuju. Sebelum aku menyiapkan kejutan ultah untuknya bulan depan, turutin aja maunya dia, tapi ingat! Awas kamu kelepasan! Kalau sama aku sih gak apa-apa.” Jaejoong terkesiap mendengar ucapannya sendiri, secara refleks Jaejoong menutup mulutnya dengan tangannya sendiri apalagi setelah melihat seringaian iblis dari Yunho.

 

“Jadi sama kamu boleh dong boo kalau lepas kendali?” Goda Yunho.

 

“Yunho! Udah cepat pulang sana!” Jaejoong buru-buru masuk ke rumahnya.

 

*flashback end*

****

 

Yunho senyum-senyum sendiri mengingat kejadian barusan. Tapi air wajahnya berubah saat ia membuka pintu rumahnya. Tercium bau masakan yang sangat sedap yang mengundang cacing-cacing di perut Yunho berdemo minta haknya. Tanpa kesadaran Yunho melangkahkan kakinya ke arah dapur.

 

#KRUCUKK

 

Saking kerasnya bunyi perut Yunho, Karam yang tadinya tidak menyadari kedatangan Yunho terkesiap, tanpa sengaja  jarinya teriris pisau saat ia sedang mengiris bawang.

 

“Aw~” Rintih Karam.

 

Yunho yang melihat itu dengan sigap meraih jari telunjuk Karam yang berdarah dan langsung mengisapnya. Karam yang melihat itu hanya bisa memelototkan matanya. Tidak tahu harus berbuat apa. Dadanya berdegup sangat cepat. Dia yakin sekali saat ini wajahnya pasti semerah kepiting rebus.

 

“Hyung~” Panggil Karam tergagap.

 

Yunho menyudahi kegiatannya dan tersenyum ke arah Karam. Dengan lembut Yunho mengelus pipi Karam. Bisa dirasakan saat ini jantung Karam ingin melompat keluar dari sarangnya. Yunho yang melihat kegugupan di diri Karam hanya tersenyum. Karam yang tersadar langsung melepaskan tangan Yunho dari wajahnya.

 

“Hyung, makan malam sudah siap. Hyung cuci tangan dulu.” Titah Karam sambil membereskan hasil pekerjaannya.

 

“Boleh kubantu?” Tanya Yunho lembut.

 

“Tidak usah.” Jawab Karam dingin.

 

Yunho mengangkat bahunya. Ia meletakan tasnya di salah satu kursi dan beranjak menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Setelah itu ia kembali duduk di kursi meja makan. Yunho terus memandangi Karam yang sedang menata meja makan, setelah selesai Karam melepas celemek yang dipakainya.

 

“Hyung makanlah. Kalau sudah selesai taruh saja piringnya di sana. Nanti aku yang cuci.” Setelah berbicara seperti itu Karam berniat untuk masuk kamarnya.

 

Yunho yang melihat itu buru-buru menghentikan Karam. Yunho langsung memeluk pinggang Karam dari belakang dan disandarkannya kepalanya di bahu kiri Karam. Bisa dirasakan oleh Karam nafas Yunho yang berhembus di tengkuknya. Karam hanya bisa diam membatu.

 

“Kenapa kau selalu menghindariku, adikku yang manis?” Bisik Yunho di telingan Karam. Karam tidak bergeming, ia tidak tahu harus berbuat apa.

 

“Mengenai perkataanmu tempo hari.” Lanjut Yunho.

 

“Lupakan saja, aku hanya bercanda waktu itu.” Akhirnya Karam buka suara walau masih ada nada kegugupan di dalamnya. “Dan- untuk ciuman waktu itu aku minta maaf.”

 

“Tidak perlu minta maaf. Aku sudah melakukan apa yang kau minta kok.”

 

“Hah?!” Karam memutar kepalanya agar bisa melihat Yunho. Melihat kesempatan itu Yunho langsung meraih dagu Karam dan mendekatkan bibirnya ke bibir Karam.

 

Yunho hanya menempelkan bibirnya di bibir Karam, Yunho masih ingat benar ancaman Jaejoong agar ia tidak lepas kendali. Yunho mulai menutup matanya begitupun Karam, Karam yang awalnya terbelalak kaget juga ikut menutup matanya.

 

Perlahan Yunho melepaskan bibirnya dari bibir Karam begitu juga dengan pelukannya. Yunho memutar tubuh Karam agar ia bisa menatap wajah Karam dengan jelas. “Dengarkan aku adikku sayang. Aku akan menuruti perkataanmu, jika memang kau ingin aku membuktikan jatuh cinta itu menyenangkan, aku akan menunjukannya kepadamu. Oke!”

 

“Hyung, kau serius?” Tanya Karam penasaran.

 

Yunho mengangguk mantap. “Iya! Aku sangat serius.” Seru Yunho sambil mengelus sayang pipi Karam.

 

“Apa Jae hyung tidak marah?”

 

“Dia tidak akan marah, dia sudah menganggapmu seperti adiknya sendiri kok.” Yunho meyakinkan.

 

“Kau mau aku ajarkan dari mana tentang cinta itu, hm?

 

“Hyung, habiskan dulu makananmu hyung, keburu dingin.”

 

Yunho tersenyum dan kembali duduk di kursinya, dengan perasaan yang campur aduk Karam akhirnya ikut duduk menemani Yunho. Karam mengambilkan nasi dan sayuran serta lauk-pauk ke piring Yunho. Yunho sendiri menerimanya dengan senang hati. Setelah mendapatkan piringya Yunho mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.. Karam hanya memandangi Yunho tanpa ekspresi.

 

Yunho yang tersadar sedang dipandangi menaruh sendoknya ke atas piring. “Aku sudah selesai.”

 

“Hyung kan baru saja makan, kenapa sudah selesai? Aku gak mau hyung sakit. Jadi habiskan makananmu.”

 

“Seleraku hilang jika kau memandangiku seperti itu adikku sayang.”

 

“Kalau begitu aku ke kamar saja.”

 

“Aniya~” Yunho merangkul pundak Karam. “Apa kita bisa bicara? Berdua?” Tanya Yunho.

 

Karam mengangguk. Yunho tersenyum setelah mendapat persetujuan dari Karam lalu mengajaknya untuk pindah ke ruang keluarga. Karam duduk di sofa depan TV sementara Yunho memilih untuk duduk di bawah tepat di depan Karam yang sedang duduk di sofa. Yunho menyandarkan punggungya di sofa di antara kedua kaki Karam, selain itu Yunho juga menyandarkan kepalanya dipaha kiri Karam.

 

“Aku mau Tanya sesuatu tentangmu Karam.”

 

“Tanya apa hyung? Hyung tinggal bicara saja.”

 

“Tapi sebelumnya aku minta maaf ya! Kenapa kau berada jauh dari panti asuhanmu saat kita pertama kali bertemu?” Tanya Yunho sambil menengadahkan wajahnya.

 

“Aku….”

 

===========================================================================

 

“Jaejoong~ah” Panggil seorang wanita paruh baya di depan sebuah pintu kamar yang terdapat tulisan ‘MY SECRET ISLAND’. “Jaejoong~ah!” Panggilnya lagi.

 

#CEKLEK

 

Pintu kamar itu terbuka dan tampaklah seorang Kim Jaejoong dengan wajah kusut sehabis bangun tidur. Jaejoong menguap sejadinya dan mengucek-ngucek kedua matanya. Dengan pandangan yang masih setengah Jaejoong membungkuk di depan wanita itu.

 

“Hai Nyonya Kim.” Seru Jaejoong malas.

 

“Apa kau sudah makan Jae?” Tanya Nyonya Kim lembut.

 

“Aku tidak bernafsu.”

 

“Tapi kau harus makan, kau tidak mau kan umma dan appamu sedih di alam sana?” Seru Nyonya Kim.

 

“Aku tahu Nyonya Kim, untuk kali ini saja aku tidak ikut makan malam bersama dengan anda.” Seru Jaejoong, setelahnya ia membungkuk dan berniat untuk menutup pintu kamarnya. Namun niatnya tertahan oleh sebuah tangan yang tiba-tiba muncul.

 

“Mika?” Seru Jaejoong.

 

“Hyung harus makan. Nyonya Kim kan sudah memasak untuk hyung. Ayolah hyung~” Bujuk Mika.

 

“Okelah, kalau kamu yang meminta apa boleh buat.” Dengan malas Jaejoong keluar dari kamarnya dan dengan ditemani oleh Mika dan Nyonya Kim Jaejoong menuju meja makan.

 

Jaejoong duduk di ujung meja sedangkan Mika duduk di sebelah kanannya dan Nyonya Kim segera menyiapkan piring untuk Mika dan Jaejoong.

 

“Hyung, besok hari ulang tahun appa hyung kan? Besok mau pergi ke pemakaman? Kalau iya bagaimana kalau aku yang antar?” Tawar Mika.

 

“Tidak usah aku tidak mau pergi bulan depan aja saat peringatan hari kematian appa dan umma. Kau memang sepupu yang baik” Jawab Jaejoong sambil mengacak-acak rambut Mika.

 

“Hyung, maafkan aku. Karena ingin melihat aku dan keluargaku hyung jadi kehilangan kedua orang tua hyung.” Seru Mika sedih.

 

“Hei! Kemana sifat logismu? Itu sudah takdir Mika. Sudahlah~ aku sudah selesai. Aku mau tidur saja.”

===========================================================================

 

“Sebenarnya, kata ibu pantiku kemungkinan aku masih mempunyai keluarga. Dan aku pergi malam itu untuk mencari keluargaku.” Jawab Karam.

 

“Begitukah?” Yunho mengangguk-angguk. “Bagaimana kalau malam ini kau tidur di kamarku? Selama ini kau tidak pernah tidur denganku kan?”

 

“Sudah kok! Waktu kita piknik dengan ayah dan ibukan?”

 

“Itu berbeda! Aku ingin lebih mengenal adikku yang tercinta ini. Bagaimana?” Yunho bangkit dan langsung menggenggam tangan Karam untuk mengajaknya ke kamarnya.

 

“Hyung! Makanannya belum dibereskan kan?!” Seru Karam namun Yunho tidak menggubrisnya, ia terus saja menarik Karam ke kamarnya.

 

===========================================================================

 

“Hyung sudah mau tidur? Masih sore kok hyung?” Seru Mika. “Bagaimana kalau kita main dulu?” Seru Mika sambil menunjukan dua buah kaset game.

 

“Aku lagi malas melakukan apapun Mika. Aku mau langsung tidur saja.” Seru Jaejoong malas. Ia langsung melangkahkan kakinya menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya.

 

“Hyung.” Panggil Mika.

 

“Ya?” Jaejoong menhentikan langkahnya dan memutar badannya agar ia bisa melihat Mika yang ada di bawahnya.

 

“Berhati-hatilah hyung!” Seru Mika.

 

“Hati-hati?” Dahi Jaejoong mengerenyit. “Aku selalu hati-hati kok kalau naik tangga, kau ini ada-ada saja.” Ucap Jaejoong asal. Jaejoong melanjutkan langkahnya yang tadi tertunda.

 

Setelah sampai di depan kamarnya Jaejoong membuka pintu kamarnya dengan malas. Dia tidak ingin melakukan apapun saat ini, ia membanting tubuhnya ke ranjang besar miliknya. Ia menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi bermacam-macam bentuk tempelan, mulai dari binatang, tanaman, dan lain-lain. Jaejoong memang sengaja menempeli langit-langit kamarnya dengan tempelan agar ia tidak bosan saat membuka matanya pertama kali.

 

Bosan hanya tiduran, Jaejoong bangkit duduk, ia menyilakan kakinya dan menumpukan dagunya dengan tangan kirinya. Jaejoong mendesah berat. “Umma~” Lirih Jaejoong. “Jae kangen.”

 

Tangan mulus Jaejoong bergerak meraih sebuah pigura yang tergeletak di sebuah meja hias di samping tempat tidurnya. Tampaklah sepasang suami istri dan bersama kedua putra mereka, anak mereka yang paling besar digendong oleh sang suami sedangkan anak yang paling kecil digendong oleh sang istri.

 

Dengan sangat pelan Jaejoong mengusap pigura foto itu. “Umma, appa Jae  kangen,”

 

Tak terasa air mata mulai menitik dari mata indah Jaejoong. “Iya umma aku juga kanegn sama Jaekyu.”

 

===========================================================================

 

Mika memandang layar computer yang ada di depan tanpa ekspresi. Lalu tangan kirinya mengambil sebuah pigura yang tergeletak di depannya. “Kau kangen sama anak ini ya Jae hyung? Aku akan mempertemukan kalian. Tapi dengan situasi yang sama sekali tidak kalian duga sebelumnya.” Seringai terkembang di wajah Mika.

 

..

 

TBC

 

ini chapter apaan sih thooooorrrrr????

Andweyo Jung Yunho… Kenapa kau menciumnyaaaaaaa??? #Nangis dipojokan..

Penasaran gimana kelanjutannya?? Silakan beri komentar dulu yaaa..

Tunggu kelanjutannya di kesempatan berikutnya..

 

Gomawoooo

KIM CHI HEE

9 thoughts on “Saranghae Do Dwel Gayo Part 4

  1. Woaaa….
    Appa nyium si karam gak tau diri ntu?
    Andwe!
    Appa ntu cuma milik umma seorang, titik. *emosi mode on
    Jangan2 adik.y jaema si karam,
    wah, bakal seru dong….
    Ni chap pendek skali thor…..
    Kurang puas aq baca.y *dlindes author pake tubuh sexy yunpa😉

  2. diriku penasaran dengan sosok Mika . . .
    kayaknya tu anak tau macem macem deh
    #sotoy
    chap ini kependekan thor . . .
    ^^

  3. hiyaaaaa ko yun malah jd nyium karam?
    untung z yun g smpe klepasan
    pnsrn deh ma asal-usul kram,ko bisa y muka’y mirip bgt ma jae
    sebenar’y mika itu spa?kyk’y dia tau tentanng kluarga’y jae

  4. mian yaa min baru komen T^T

    appa nyium karam, O_O koq mommy kagak jeles yaa u_u
    trus mika itu yg buat penasaran thor u_u

    koq ceritanya pendek yaa /perasaan dioank ._. / ditoyor author

  5. appa salah langkah,, padahal karam udah ga mikirin pembicaraan yang waktu itu tapi appa malah ngasih lampu ijo yah udah deh karam makin menjadi
    ckckckck
    jangan2 jaekyu yang dimaksud jaejoong itu karam lagi??/

  6. aiss appa ngapain cium-cium karam
    nyuruh tidur bareng lagi
    biarin loh gak akan di kasih jatah sama umma sebulan

    jangan-jangan adiknya umma tuh si karam lagi?

  7. BUNUH AUTHOR!!!!!!!!!!!!!!
    APAAN TUH??
    CEPAT HABISKAN CRITANYA SBLUM AKU YANG MENGHABISKANNYA(?)
    WKWKWKKWKWKW😄

  8. bnyak sekalii yg jadi tnda tanya d sini..
    penasran.. penasraannn….
    aaiishh appa bhayaa ituu karamm…

  9. Eeeiiihhh…jauhkan ntu bi2r appa dari bi2r karam…bi2r appa cuma boleh buat nyium umma..no body else
    Ъ>:/ boleh…Ъ>:/ boleh Ъ>:/ Sudi aq..!!! #sebel ªⓜª karam

    Ayolah mika…bantuin yunjae…jangan sampai karam merusaknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s