SNOW IN THE DESERT/YUNJAE/Chapter 1 of 4


CHAPTER 1 OF 4 : L’AMORE

Pairing : Jung Yunho X Kim Jaejoong x Shim Changmin

Author : Amee

.

.

If tomorrow is the end of the world

I’ll wanna be, always here

Let’s go

where is the heaven? Tenchi wo hikisaki kono mi wa fukaku tsuranukare

inori wa tooku anata e todokanu kuchihateta kurosu

naze shinjitsu hohoende genjitsu wa Justice nai mama?

eien ni tatakau kono sugata hitomi de uketomete

No More Pain

.

.

Tokyo, Jepang. 1 tahun yang lalu

Tokyo, kota hidup yang memesona, pintu gerbang bagi Jepang. Ah, ia selalu mampu menarik jutaan manusia dari seluruh pelosok dunia untuk datang mengaguminya. Belum lagi jika kau mengunjungi Kokyo –istana kaisar, tempat wisata yang berlokasi di tengah-tengah kota Tokyo, tempat yang dikelilingi oleh parit besar buatan dan benteng batu, membuat siapapun mampu berimajinasi membayangkan suasana zaman Edo di sana. Medan magnet kasat mata yang sungguh nyata.

Lagit sore yang begitu menakjubkan, sebuah lukisan masterpiece terlukis jelas di atas langit yang seakan menjadi kanvas yang terbentang tanpa batas. Gumpalan awan putih yang memenuhi langit dengan bias-bias kekuningan memberikan sensasi hangat yang sulit dirangkai dengan kata. Hanya mampu dinikmati dan diabadikan dalam memori selamanya.

Kim Jaejoong baru saja menginjakkan kakinya di taman Ueno. Ia memejamkan matanya perlahan, dan menyesap dalam-dalam aroma bunga sakura yang tengah bermekaran di sana. Taman Ueno tampak begitu padat sore ini, tidak aneh mengingat ini adalah musim gugur. Pemandangan yang sempurna, musim gugur pertama baginya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, dan membiarkan pandangannya mengabsen lincah setiap sudut taman, mengamati tumpukan orang-orang dalam balutan berbagai busana yang tengah asik menikmati hanami.

Ia hampir menyelesaikan tahun pertamanya di negeri bunga sakura ini. Pemuda itu menuntun langkahnya menuju salah satu pohon sakura dan duduk bersandar di bawahnya. Ia memasang earphone di kedua telinganya, memutar lagu-lagu klasik koleksinya. Menyempurnakan nuansa di sekelilingnya.

Ah, ia sungguh tidak akan pernah bosan dengan kota ini. Ia selalu mengaguminya, sungguh. Belum lagi karena Tokyo menyimpan segudang kesenian modern, yang mengharuskannya membangun berbagai gedung. Tokyo Dome, tempat terhebat yang paling ingin ia jamah. Menikmati konser di sana, menikmati nuansa kemewahan yang sungguh nyata.

Bruk, sebuah blazer coklat mendarat mulus diatas kepala Jaejoong, menghalangi pemandangan. Ia mencoba membukanya, namun sebuah tangan menahannya, seolah-olah tengah mengacak-acak rambut Jaejoong yang masih tertutupi blazer. Jaejoong mencoba untuk berontak, seolah tidak ingin kalah, dan dalam hitungan ke tiga, blazer coklat itu terangkat, menampilkan sosok tampan yang tengah tersenyum padanya.

“Jaejoongie! Sudah lama menungguku, eoh?” suara tenor itu memanggilnya, entah untuk yang keberapa kali. Suara itu, suara yang selalu ia kagumi, suara yang selalu ia rindukan. Selalu hadir dalam setiap episode mimpi ketika matanya terpejam. Memberika kenyamanan yang tak menjenuhkan.

Jaejoong membalikan tubuhku perlahan, membiarkan matanya mengekspos pahatan wajah yang sempurna. Ia tidak akan pernah bisa terbiasa menatapnya, selalu terpesona.

Menatap rambut pirangnya yang dipotong pendek sedemikian rupa, dua bola mata dengan iris coklat muda, suara tenor tinggi, dan apa yang dikenakannya selalu tampak elegan. Ia memuja Changmin, dan Changmin lebih memujanya.

“Kau sudah siap?” tanya Changmin sembari kedua tangannya menyentuh pundak Jaejoong. Hanya seperti itu. Namun entahlah, ia merasa nyaman sekali.

“Ne,” Jaejoong menganggukan kepala berkali-kali kemudian tersenyum.

“Kalau begitu ayo!” Changmin merapikan rambut auburn Jaejoong yang menghalagi matanya,  kemudian berbalik.

Jaejoong masih terpaku di sana, menatap punggung kekasihnya yang semakin menjauh.

“Changminie!”

“Ne, ada apa? Dan kenapa kau masih berdiri di situ, eoh?”

“Tidak ada,”

“Dasar gadis nakal!” Changmin tersenyum, kemudian berbalik dan kembali berjalan, mengabaikan Jaejoong yang menyimpan berjuta kerutan di dahinya.

“Yaa… Shim Changmin, aku bukan gadis!” teriak Jaejoong membahana sembari mengejar pemuda yang baru saja meninggalkannya. Dan Changmin hanya tertawa tanpa berbalik mendengarnya.

oOoOoOoOo

JAEJOONG POV

Aku Menatap Changmin yang tengah duduk di hadapanku lekat-lekat. Dia, malaikat tanpa sayap yang diciptakan Tuhan dengan segala kesempurnaanya, kini berada di sini. Di dalam hatiku. Dia milikku, satu-satunya. Aku hampir tidak percaya dengan segala kenyataan itu sekarang. Aku seorang pemuda aneh dengan kelainan hormone esterogen yang membuat wajahku terlalu cantik, mampu mendapatkan seorang Shim Changmin yang tampan, kaya, berkharisma, pintar, dan berdarah campuran. Tapi aku sangat bersyukur. Tuhan, aku tahu kau menyukaiku.

Waktu terasa begitu cepat berlalu, rasanya baru kemarin aku bertemu dengannya, mempermalukan diri sendiri di hadapannya. Dan kini, dia benar-benar telah menjadi miliku. Pikiranku berputar kembali pada memori itu.

Hari itu, aku berlari menyusuri jalanan Tokyo yang gemerlap di bawah guyuran hujan. Inilah aku, seorang pemuda yang selalu berkubang dalam kebodohannya. Aku tahu, tadi pagi langit mendung, tapi aku terlalu naif dengan berharap bahwa hujan tidak akan turun. Dan inilah posisiku sekarang, basah kuyup tanpa perlindungan.

Rasanya ada seseorang yang mendekat. Ah tidak mungkin, itu pasti hanya paranoidku saja. Tapi seperti biasa, apa yang aku pikirkan adalah kebalikan dari kenyataan. Seseorang menghampiriku.

“Kau kehujanan,” ujar orang itu sembari memayungiku.

Aku segera membalikan tubuh. Tuhan, hampir saja aku mencair dan hanyut bersama air hujan yang turun. Sosok itu, sosok yang kini ada di hadapanku, sungguh sulit untuk digambarkan. Dia adalah mahakarya Tuhan yang begitu sempurna.

Aku memahami setiap lekuk wajahnya, hidung mancung, bibir tipis yang selalu mengulum senyum, wajah tirus, dua bola mata dengan iris coklat muda yang indah, dan semakin sempurna dengan postur tingginya. Aku pikir ini mimpi.

“Noona, kau kehujanan,” ujarnya. Suara tenor itu, suara terindah yang pernah aku dengar.

“Ah, ya,” aku baru saja terhempas kembali ke dunia nyata. Kesadaranku perlahan pulih, dan aku bukan noona. Dengan pasti, perlahan aku menjauh darinya.

“Ada apa? Apa aku sudah melakukan kesalahan?” tanyanya. Tatapannya sungguh tepat diarahkan pada sepasang irisku.

“Ne, aku bukan noona. Dan apa kau sedang merayuku?”

“Merayu? Apa kau pikir aku sedang merayumu?”

“Aaa…. mianhe, aku salah,” Aku merasa wajahku memanas sekarang. Satu kebodohan lagi dalam catatan Kim Jaejoong.

Aku berlari sekencang yang aku mampu. Mencoba menghapus kebodohan dibawah guyuran hujan. Mencoba menghindari pria asing itu sejauh yang aku bisa, aku malu, sungguh malu. Betapa bodohnya aku. Harusnya aku sadar, pemuda yang terlalu biasa seperti seorang Kim Jaejoong tidak mungkin mengundang perhatian.

Pernahkah kau merasakan jatuh ke dalam lumpur dan ditertawakan oleh semua orang yang melihatnya? Jika belum pernah, inilah rasanya. Malu, sedih, dan marah pada diri sendiri. Ingin rasanya aku mengutuki diriku sendiri atas setiap kebodohan yang pernah aku perbuat. Kenapa Tuhan menakdirkanku untuk menjadi seperti ini.

Sayup- sayup, aku bisa merasakan derap langkah mendekat, sepertinya tidak terlalu asing. Tentu saja. Aku baru mendengarnya tadi. Aku segera memacu langkah dengan kekuatan maksimal, mencoba menghindari siapapun yang mengejarku.

Aku tahu, Tuhan selalu mempunyai rencanya bagi setiap umatnya. Dan inilah rencana Tuhan, aku terkejar. Aku takut, takut sekali. Aku tidak ingin terjebak dalam suatu keadaan yang menyudutkanku.

Hujan masih mengguyur, langit tampak semakin kelabu. Ini memang bukan saat yang tepat bagi orang-orang piknik, tentu saja. Jadi, bukan suatu hal yang aneh jika aku mendapati tempat ini cukup sepi. Hanya dua tiga orang yang tampak berlalu lalang.

“Hei, tunggu dulu!” orang itu menggapai pundakku. Aku takut. Tolong!

Aku merasakan jantungku turun ke perut sekarang, dan dengan sadis mengoyak-oyak seluruh isi perutku. Aku pengecut, aku tahu. Sejak dulu aku memang seperti itu.

Dengan takut-takut aku mencoba membalikan badan. Mencari tahu kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Aku pasrah jika orang itu mau menghajarku sekalipun.

“Mianh, aku tidak bermaksud berpikiran seperti itu tadi! Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku, mianhe!”

“Tidak apa-apa,” ujarnya sembari tersenyum. Tangan kanannya bergerak mengacak-acak rambut kuyupku. Ini pertama kalinya seseorang berlaku seperti ini, aku senang. “Jika kau pikir aku mau merayumu, sekarang aku benar-benar akan merayumu. Ikut aku!”

Pemuda tinggi itu menarik tanganku, membawa kami berlari menyusuri jalanan kota Tokyo yang kelabu. Membiarkan tubuh kami kuyup dibanjiri hujan. Aku seperti anak kecil yang ditarik kakaknya. Tapi ini menyenangkan.

Aku bisa melihat punggungnya dengan jelas dari sini. Rasanya langit kelabu berubah menjadi biru seketika, bunga-bunga lili bermekaran, dan burung-burung kecil saling bercicit menambah kehangatan.

Ia membawaku ke suatu tempat. SHIM’s RESTAURANT. Ini tempat termewah yang pernah aku datangi, sepertinya orang ini tersesat, dia salah masuk. Mungkin seharusnya kita ke sana, aku melirik pedagang ramen di seberang restoran.

Ternyata ini nyata, dia tidak salah masuk. Ruangan ini sungguh mewah, dengan disain klasik, dan tiga orang pemain biola diatas panggung memberikan suasana yang nyaman bak menonton pertunjukan opera. Ini sungguh mewah.

Kami duduk di salah satu kursi di tengah restoran, sangat tepat untuk menjadi pusat perhatian. Seorang tuan muda dengan pelayannya, aku rasa itu julukan yang tepat. Rasanya aku ingin menjambak kuat rambutku, frustasi.

“Kau mau pesan apa? Atau kau mau memesan menu yang sama denganku?” tanyanya. Aku hanya mengganguk.

Jangankan untuk menjawab, lidahku terasa kelu, saking terpesona atas keajaiban yang hari ini menimpaku.

Aku menatap pria dihadapanku takjim, ia memang tampan. Aku mengamati setiap gerak-geriknya, mulai dari menggeser kursi, hingga aktivitas yang baru saja ia lakukan, memesan pesanan, sungguh elegan.

Jika kenyataannya ini memang mimpi, aku berharap ini tidak akan berakhir. Dan jika ini adalah kenyataan, aku berharap ini akan terus berlanjut. Semoga Tuhan mewujudkan setiap harapanku.

“Kenapa kau mengajakku ke sini? Apa ini hukuman? Bukankah aku sudah meminta maaf padamu tadi, tuan…..”

“Changmin,”

“Ya, tuan Changmin,” Akhirnya aku tahu namanya, Changmin.

“Apa jika seseorang mengajak kenalannya untuk makan bersama dapat dikatakan sebagai sebuah hukuman?” Changmin menyunggingkan seulas senyuman di bibirnya.

“Ah, mianh, aku mengatakan hal yang salah lagi,” aku memalingkan wajahku yang telah memunculkan semburat merah.

“Tidak apa-apa,”

“Aku Kim Jaejoong, salam kenal!” aku mencoba untuk membuyarkan kecanggungan. Dia hanya tersenyum menanggapinya.

Untuk beberapa saat kami terlibat dalam kebisuan, sebisa mungkin tenang menikmati hidangan yang disajikan. Tapi aku tidak tahan lagi, ini membuatku semakin canggung.

“Kenapa kau mau mencoba dekat denganku? Aku sadar, aku tidak terlihat,” aku mencoba membuka percakapan.

Dia bangkit dari tempat duduknya, mencondongkan wajahnya ke arahku, kemudian sedikit memiringkan kepalanya. Apa ini? Aku merasa jantungku berdetak puluhan ribu kali lebih cepat. Apa yang akan dia lakukan.

Changmin tersenyum ke arahku, sanggat tampan. Kemudian kembali duduk, mengambil gelas jusnya, meneguknya sekali, kemudian kembali tersenyum.

“Kau pembohong! Aku dapat melihatmu dengan jelas,” Changmin mencubit pipiku perlahan.

“Aa… maksudku bukan itu. Maksudku wajahku, aku… aku terlalu biasa,”

“Kau tahu, hal yang biasa akan tampak luar biasa jika apa adanya. Aku pikir kau juga begitu, kau cantik Jae,”

“Ani, tapi aku ini laki-laki,”

“Benarkah?” Changmin kembali menatapku dari dekat kemudian tersenyum. “Itu artinya kau adalah pria yang sangat tampan hingga terlihat cantik,”

Untuk kesekian kalinya hari ini, aku bisa merasakan wajahku memanas. Aku ragu, aku bisa bertahan. Aku rasa, sepertinya sebentar lagi aku akan terbakar.

Aku mengorek-korek isi tasku, mencari sekeping koin. Aku mendapatkannya. Aku harus mencoba peruntunganku saat ini. Apa aku bisa bertemu lagi dengan Changmin di lain waktu? Kepala untuk ya, dan ekor untuk tidak.

Aku melempar koin, kemudian menangkapnya lagi dengan kedua tanganku. Aku membuka tanganku perlahan, dan seperti dugaanku, aku akan selalu mendapat ekor, sampai kapanpun.

Aku dapat melihat dengan jelas kebingungan terpahat di wajah tampan Changmin. Sepertinya aku benar-benar tampak aneh baginya. Aku tidak peduli lagi sekarang, toh sejak dulu orang-orang selalu berpikiran begitu, aku tahu.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Changmin, menjawab seluruh pertanyaan yang berputar di benakku.

“Melempar koin, kau tidak tahu?” tanyaku, dia hanya menggeleng. “Jika kau ingin mengetahui sesuatu yang terjadi kau bisa melempar koin. Bagian kepala untuk harapan baik, dan bagian ekor untuk harapan buruk. Tapi aku selalu mendapat ekor,”

“Benarkah?” sepertinya Changmin mulai tertarik. “Kalau begitu, kenapa kau tak ubah saja peraturannya. Ekor untuk harapan baik, dan kepala untuk harapan buruk,” Aku hanya tersenyum menanggapinya.

Ah, andai dia tahu. Sekuat apapun, sekeras apapun, aku akan selalu berakhir sebagai seorang pecundang, tak peduli itu kapan dan dimana. Akhir akan tetap sama.

“Aku tahu, kau pasti akan tetap mendapatkan yang buruk, iya kan?” terkanya tepat.

“Aku memang telah ditakdirkan untuk selalu sial, dipecundangi. Kau tahu, setiap orang yang bersamaku selalu saja terkena sial, aku memang bodoh. Dulu, ayahku meninggal dalam kecelakaan, kemudian sahabatku meninggal saat kebakaran, semuanya terjadi ketika aku tengah bersama mereka,” aku menundukan wajah dalam-dalam. Aku tahu Changmin pasti tengah merasa iba padaku, tapi aku tak ingin dikasihani.

“Aku tidak percaya. Aku ingin membuktikannya. Aku berjanji tidak akan terjadi apa-apa padaku.”

Aku merasakan tangan Changmin menyentuh pipiku, mengembalikanku kembali ke dunia nyata, membiarkan bola mata amethyst ku menatap dalam kedua bola matanya.

“Apa yang sedang kau pikirkan joongie? Aku berbicara padamu sejak tadi, dank au tak mendengarkanku, eoh?” tanya Changmin lembut.

“Aa.. maaf, aku seperti orang bodoh saja,” jawabku malu-malu. Satu kebodohan lagi dalam catatan Kim Jaejoong. Tapi aku tidak menyesalinya sekarang, ini ciri khas ku.

“Kalau begitu, cepat makan es krimmu! Itu sudah hampir mencair,”

Aku hanya tersenyum menanggapinya. Mengangguk cepat dan segera melahap es krim dihadapanku.

oOoOoOoOo

Aku hampir lupa, sudah berapa lama dia tidak menghubungiku. Aku menunggunya dan terus menunggunya, bukan tidak ingin menghubunginya lebih dulu, tapi aku takut mengganggunya, aku tidak ingin egois. Aku tidak akan bosan Tuhan, aku tahu kau menyayangiku.

Aku ingat perkataan Junsu kemarin, dia mengatakan bahwa Changmin berselingkuh di belakangku. Aku tahu itu, aku tahu sejak lama bahwa menjalin hubungan dengan Sara, Inoue, dan banyak yeoja di luar sana, baik di Jepang maupun Korea. Tapi aku tetap percaya bahwa Changmin hanya mencintaiku, hanya aku. Ini hanya sebuah rintangan dalam sebuah hubungan bukan?

Ponselku bergetar, sebuah panggilan masuk, menampilkan nama Changmin di layar ponselku. Aku segera mengangkatnya, tidak ingin membuatnya menunggu.

“Yeoboseyo,”

“Ne, Jae, bisakah kau membuatkan kimchi untukku? Aku rindu masakan Korea, tapi aku ingin buatanmu, antarkan sekarang ke apartemenku, jangan terlalu lama, aku sudah sangat lapar, arraseo? Jangan membuatku menunggu,”

“Ne, arraseo, aku akan ce…” dan sambungan terputus, “…pat,”

Aku segera berlari ke dapur, membuka kulkas dan tersenyum selebar-lebarnya. Untung sekali aku baru saja membuatnya, aku tidak ingin membuat Changmin menunggu, Ayo Jae, Hwaiting!

Setelah memasukannya ke dalam keranjang makanan, aku segera menstater scoopy ku. Jangan membuatku menunggu. Kata-kata Changmin terus berputar-putar di pikiranku. Aku menambah gas semaksimal yang aku bisa, dan berbelok begitu saja tanpa mengurangi kecepatan. Aku ini handal dalam mengendarai kendaraan roda dua, dan aku tidak ingin membuat kekasihku menunggu.

Mataku membelalak sempurna, dari arah berlawanan sebuah taksi melaju dengan cepat, aku menekan rem dalam-dalam, membuat motorku oleng ke samping, menabrak bumper taksi, kerdorong keras hingga tebalik, tubuhku terbentur keras pada aspal, diikuti scoopy ku yang mendarat sempurna menimpa kakiku.

“Aarrrggh…” teriakku keras. Itu sakit, sangat sakit, kurasakan cairan merah pekat merembes melewati tengkorak kepalaku, dan duniaku tiba-tiba gelap semua.

oOoOoOoOo

Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Aku tengah berada di salah satu kamar rumah sakit sekarang. Aku dapat mendengar isakan Eomma di sampingku, setelah mendengar berita kecelakaanku Eomma segera terbang dari Seoul menuju Tokyo.

“Jae, kembali ke Tokyo ne? Eomma akan mengurus semuanya. Eomma akan mengurusmu di sana,” Eomma merapikan rambutku yang berantakan menutupi sebagian wajahku.

“Aku hanya akan merepotkan Eomma di sana, aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa sekarang, aku tidak bisa berjalan, bahkan untuk berlari ke pelukan Eomma pun aku sudah tidak mampu, aku laki-laki yang lemah, ne?” Aku membuang wajahku ke kiri, berusaha menghindari tatapan Eomma yang menatap sendu ke arahku.

Dengan gerakan lembut Eomma membawaku ke dalam pelukannya, hangat. Pelukan yang hamper setahun tak ku rasakan karena jarak yang memisahkan kami. Aku mengangguk perlahan, walau bagaimanapun aku merindukan Seoul. Bayangan Changmin tiba-tiba berputar di benakku, bagaimana dengan Changmin, apa dia akan mengizinkanku kembali ke Seoul. Apa tidak akan apa-apa aku meninggalkannya sendiri? Siapa yang akan membuatkannya makanan Korea ketika dia menginginkannya? Siapa yang akan memberikannya perhatian? Siapa yang akan merapikan apartemennya yang selalu berantakan? Dan siapa yang…

“Eomma, bagaimana dengan Chang…”

“Changmin?” Eomma memutus perkataanku. “Eomma yang akan menjelaskan padanya, kau tidak perlu khawatir, ne?” dan aku mengangguk.

Pintu dihadapanku terbuka dengan gerakan perlahan, menampilkan sosok tinggi tampan yang begitu aku kenal. Shim Changmin. Ia tersenyum ke arahku, namun tampak ada yang berbeda, meski aku tidak tahu apa.

Changmin berjalan mendekat ke arahku, tanpa melepaskan senyumannya. Ia menyentuh kakiku perlahan, membuatku sedikit meringis tertahan, appo.

“Apa ini sakit, eum?” tanya Changmin sembari membelainya.

“Ti.. tidak,” jawabku menahan nyeri yang terasa begitu.

“Jangan berbohong padaku, aku tahu ini sakit, aku sudah mendengarnya dari dokter,” wajah Changmin berkerut menunjukan kekhawatiran sementara aku segera menggeleng cepat.

“Aa.. sepertinya keberadaan Eomma di sini mengganggu kalian. Jae, Eomma keluar dulu ya. Ne, Changmin-shii, tolong jaga Jae baik-baik ne,”

“Ne, ahjumma,” jawab Changmin mantap. Aku melihat Eomma tersenyum kemudian meninggalkan kami berdua.

Aku mengangkat wajahku perlahan, membiarkan kedua mataku menatap Changmin yang masih belum beranjak dari tempatnya semula. Ia tengah tersenyum padaku, namun bukan lagi senyuman lembut yang hangat. Aku membenci senyuman yang seperti ini, senyuman yang terbentuk karena menarik salah satu ujung bibir. Senyuman sinis. Aku membencinya, kenapa ia tunjukan padaku?

“Kau lumpuh, Jae?” tanya Changmin sambil menatapku kosong. Aku hanya mengangguk. Au ingin menangis jika mengingat keadaanku. “Cepatlah sembuh!”

Aku tersenyum mendengarnya. “Ne, aku akan segera sembuh, untukmu,”

“Bukan untukku, tapi untuk dirimu sendiri. Berhentilah merepotkan orang lain, apa kau tidak sadar, dengan kondisimu yang seperti ini akan semakin banyak orang yang kau repotkan nanti,” Changmin mengerutkan keningnya. “Kau lemah!”

“Ne, aku tahu,” senyumanku memudar seketika. Kenapa rasanya begitu sakit, Changmin tidak pernah berkata seperti itu padaku sebelumnya.

“Hubungan kita selesai,” ujar Changmin datar.

Aku membelalakan mataku tak percaya. Aku membatu seketika. Ini pasti lelucon aku tidak percaya. Aku semakin menarik tubuh changmin mendekat, mengeratkan genggamanku pada jaket yang ia kenakan. Ini lelucon, aku tahu ini lelucon. Changmin, kau selalu memberikan lelucon dan membuatku kesal, tapi kau tahu, lelucon kali ini tidak lucu. Tidak lucu!

“Leluconmu kali ini benar-benar tidak lucu, Minnie,” aku tertawa sarkastik, sembari menarik narik jaket yang Changmin kenakan, namun ia menepisnya.

“Apa aku terlihat seperti sedang bercanda Kim Jaejoong? Apa kau tidak bisa membedakan sesuatu yang serius dengan sebuah lelucon? Kenapa kau begitu menyedihkan Jae. Kau pikir aku sudah gila harus hidup terjebak bersama seorang namja, sementara di luar sana banyak sekali yeoja yang ingin hidup bersamaku. Aku masih muda, tampan, kaya, dan serba bisa, kenapa aku harus menghancurkan hidupku sendiri demi bersamamu? Apa kau pikir selama ini aku benar-banar mencintaimu? Tentu saja jawabannya TIDAK, aku hanya memanfaatkanmu. Berhentilah bersikap bodoh!”

“Aku tahu, selama ini kau menjalin hubungan dengan banyak yeoja bukan? Aku sudah memaafkanmu, aku tidak marah padamu,”

“Dengarkan aku Jaejoong. Aku tidak butuh kata maafmu, kau dengar itu? Aku tidak membutuhkan kata maaf darimu! Bahkan jika kau membenciku seumur hidup pun aku tidak pedulu!”

“Apa salahku Minnie? Apa aku melakukan kesalahan yang membuatmu kesal padaku? Aku akan merubah sikapku, aku akan menjadi sosok yang lebih baik, aku tidak akan mengecewakanmu. Aku minta maaf, tapi tolong jangan tinggalkan aku, aku membutuhkanmu. Kau penyemangat hidupku. Kau sudah berjanji padaku bukan, kau akan membuktikan bahwa aku bukan pembawa sial,”

“Dan aku salah, kau menjijikan!”

Pandanganku kabur, karena kristal-kristal bening yang menggenang di pelupuk mataku. Mengantar kepergian Changmin yang pergi meninggalkanku sendiri di sini. Benarkah ini semua berakhir? Sekarang siapa lagi yang mau menambah penderitaanku? Silahkan datang padaku, aku akan menerimanya dengan senang hati hingga hatiku tidak dapat merasakan kepedihan lagi. Frozen heart.   Kepalaku pening, aku limbung, duniaku tiba-tiba gelap semua. Sepertinya Tuhan membenciku, baru saja aku merasakan kebersamaan, dia telah merebutnya kembali.

TBC

nb : follow me @auriyaaa , hahaha, author aneh yang ngejalanin ritual promosi sekalian, mianhe :p

29 thoughts on “SNOW IN THE DESERT/YUNJAE/Chapter 1 of 4

  1. Changmin tega banget…… Jae lagi butuh dukungan malahan di putusin… Yaampun, trus gimana nantinya ??? Haaa sedih baca ini FF, *nyesek….

  2. romantis bgt sih hubungan jae ma changmin
    tapiiiiii,knp cpt barakhir sih?
    knp cangmin malah mutusin jae,di saat jae membutuhkannya
    da pa sbnr’y dengan changmin?
    jae sabaaaar y

  3. uwwaaa minnieee,,,gg takut jd anak durhakaaa,,,emm mungkn ada sedikit typo,,but i’ts oke*sok*,,,andwaeee minnie kejam amatt,,eh ni flash back,,yaaa,,,aduuhhh appa dimana ssie,,,misterius amattt ,,,dimana?dimana?dimana?*ayutingting.com*

    thnx for writing

  4. Aigoo~~ min jahat bget sama umma.y.
    Gak dkasih makan seumur hidup baru tau rasa loh…*emosi tgkt tinggi ><

  5. Aigoo~~ min jahat bget sama umma.y.
    Gak dkasih makan seumur hidup baru tau rasa loh…*emosi tgkt tinggi ><'

  6. aaahh… akhirnya menyedihkan.
    aku suka ff ini!
    daebak!
    changmin jahat banget. aku pikir dia beneran sayang ama jae

  7. changmin tega bgt sich… dah selingkuh, sekarang jae lumpuh malah ditinggalin… jae yg sabar ya… sedih ceritany…

  8. Changmin sadis =___= ah tp dengan gini dia tau kan kek apa changmin, dan bersiaplah keemu org terbaik didunia kim jaejoong!! Hwaiting!!

  9. .aiigo ak nemu ni ff dri mbah google
    .iseng baca trnyata keren bgt

    .mian ea ikud baca,hehehe

    .duh pertama baca udah sakidt dulu coz jaejoong bener2 jatuh cinta ma changmin
    .tp minie kok jhad bgt cii,d’saat jongie bner2 btuh seseorang dy malah seenaknya buang jongie
    .umma jongie kn lumpuh krna minie juga..HUAAaT,T kcian bgt umma
    mungkn umma akn dpt kabhagian saat ktmu yunpa,ne?
    .yg sabar umma,tunggulah appa!

    .ak suka bgd penggambaran tentang latar’a!!KEREN^.^’b

  10. wooah, bru baca nih #nyengir
    Aku suka bhasa kmu author😀 bhasany kompleks, seperti tergambarkan smuany.😀

    Euum, knpa minnie oppa jhat sma jae eomma. Haaah, harusny eomma sma anak ga bole pacaran tuh #plak. mian
    Jujur aja, pas part jeje eomma tdi, kyak ngemis cinta sma min oppa T-T tega amat min sama eomma.
    Dan lgi, eomma knpa pasrah bgt sih sma keadaan ? ==’

    Ne, author, keep writing nd sukses sllu tulisanny😀 fighting !!😀

  11. Astga minnie..
    Kau sungguh sangat jahat n kejam..
    Tak taukah bgmana prsaan jaema saat tu?? Aish ni org prlu diksih hkuman deh..
    .
    . Jaema yg sbar n tbah ea..Kesbaran+Ktbahan umma psti akn brujung pda kbhagiaan yg abadi..
    Ykinlah tu umma..

  12. paraaaahhh… changmin jahat banged ngomong begitu ke jaejoong.. bener bener kejam
    akkhh kasian jaema.. udah lupain aja changmin,, cowo kayak gitu mah buat apa disayang sayang bener ga yunpa *lirik lirik yunpa?*
    sabar aja yah jae, bentar lagi umma bakalan ketemu appa kok *sok tau* >////<

  13. changmin tega bgt sich,, di saat jae terpuruk bkan’a ngasih dukungan untuk sembuh tpi mlah ninggalin jae.. ck, cwo brengsek…
    knp yunho blom muncul…
    jae d jepang kuliah y!o_O

  14. Wah chap nie cast.a minjae y,, yunppa.a lom dkluarin..
    changmin jahat iiih, tp gpp deh kn ntar jg ad yunppa.
    hohoho

  15. huaaa~ changmin jahat amat!!! sempet kira diawal tuh Yunho eh kagak taunya changmin!!!
    ihh~ nappun changmin!! tega banget sih sama jaema!! hueee~ #peluk jaema

    tapi keren thor!! aku suka kata-kata diawal tuch!!! kesannya kayak baca novel!! bahasanya tingkat dewa euy!! hehehhe…

  16. Kok changmin yg manis jd kejam bgtu? Y sudah lah, biar tmpt changmin d gnti oleh yunho d hati jae.

  17. selalu ya.. hehe.. jeje emg enaknya dibuat yg menyedihkan” gitu kayaknya klo dibuat fanfic x'(

  18. Oohh jangan terlalu menyiksa jae ýª author!!!

    Umma kasian sekali..di Saat Kau butuh dukungan Kau malah di putusin…Minnie Kau kejaaaaam (╥﹏╥)
    Ýanƍ sabar ýª umma…tetap semangat ne!!!

  19. Astajae, Changmin kejaaaam ><
    Umma, udah lupain aja Changmin.. Changmin tega banget sama emakkk.. T^T

  20. omona😮 minnie jahat banget😦 padahal kan jaema kecelakaan karena berusaha ngikutin omonganmu minnie. setelah dia lumpuh kamu tinggalin gitu aja?😥 jadi jaema cuma dijadiin mainan ajaa? *ngasahgolok*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s