SNOW IN THE DESERT/YUNJAE/Chapter 2 of 4


CHAPTER 2 OF 4 – BRIGHTEN

Pairing : Kim Jaejoong x Jung Yunho

Author : Amee

.

cuap cuap sedikit, lmao😀 maaf, di chapter kemaren yunjaenya belom nongol, jadi untuk chapter ini selamat menikmati^^

Warning : don’t copy this story without permission!

.

.

Aku belum memejamkan mataku sedikitpun, meskipun kantuk telah benar-benar menyerangku sekarang. Suasana telah sepi sempurna. Tentu saja, orang bodoh mana yang memilih berkeliaran di tengah malam seperti ini.

 

            Jam dinding berdetak singkron, menghasilkan melodi yang sangat indah, aku menikmatinya. Angin malam yang begitu dingin masuk melalui jendela yang tidak terkunci, mungkin Eomma lupa menutupnya. Sebenarnya bisa saja aku menutupnya sendiri, tapi itu artinya aku harus menaiki kursi beroda itu, maaf, tapi aku sangat tidak menginginkannya, kecuali untuk keadaan terpaksa. Dan ini bukanlah keadaan terpaksa aku kira.

 

            Menunggu itu memang sesuatu yang sangat menyebalkan. Hampir satu jam, tapi yang aku tunggu belum juga tampak. Aku menarik nafas panjang, membiarkan oksigen membasahi dinding paru-paruku.

 

            Akhirnya alunan musik klasik itu terdengar, kali ini Pachabel Cannon in D minor karya Mozart.  Sungguh menghanyutkan, permainan piano yang begitu tanpa cela. Aku ingin bertemu dengannya.

 

            Ah, hampir aku lupa menceritakannya. Pianis itu tetanggaku, dan aku belum pernah melihatnya. Jangan pikir aku ini anti sosial. Hanya saja dia mengisi rumah itu tepat di hari kecelakaanku, sebulan yang lalu. Aku hanya mendengar sedikit  tentangnya dari Eomma. Itu pun sangat sedikit, hanya sebatas dia ahli memainkan piano, dan dia sangat introvert. Aku ingin bertemu dengannya, ingin sekali. Aku harap ia tidak akan jijik melihat keadaanku ini.

oOoOoOo

Burung-burung saling bersautan, meramaikan pagi yang indah. Dedaunan saling menggesekan menghasilkan melodi yang sangat merdu. pemuda bermata biru baru saja terbangun dari mimpinya, ia mengerjap-kerjapkan matanya, membiarkan cahaya menerobos korneanya.

 

Jaejoong mencoba menata kesadarannya. Kemudian bangkit perlahan. Ah, hampir ia lupa, kakinya sudah tidak berfungsi sekarang. Ia memalingkan wajahnya perlahan, tampak kursi roda dengan sedikit sentuhan silver tergeletak begitu saja di samping ranjangnya. Ia mendecih muak. Tapi ini telah dipikirkannya. Dan ia menilai, ini adalah keadaan terpaksa.

 

“Aku harus menemuinya sekarang!” tekad pemuda itu dalam hati.

 

Perlahan ia menggeser tubuhnya, memposisikannya senyaman mungkin di atas kursi roda. Tidak nyaman, dan tidak akan pernah nyaman, pikirnya.

 

Dengan mantap Jaejoong menyusuri lantai kamarnya. Dihadapannya seorang wanita dengan air muka tenang tengah menatapnya takjub. Malaikat kecilnya tampak begitu bahagia, dan Ibu mana yang tidak turut bahagia menatap putranya yang hampir sebulan terdiam dalam kebisuan, kini kembali riang.

“Jaejoongie!”

 

“Aa.. Selamat pagi, Eomma,” Jaejoong memperlihatkan senyuman terindahnya, senyuman yang hampir sebulan menghilang dari wajahnya.

 

“Ayo sarapan! Eomma temani,”

 

“Nanti saja aku menyusul, ada hal yang ingin aku kerjakan lebih dulu,”

 

Jaejoong menjalankan kursi rodanya perlahan. Jika tebakannya benar, maka tempat yang akan ia datangi adalah tempat yang sempurna.

 

Alunan musik klasik itu kembali terdengar, ini lagu favoritnya, lagu yang selalu ia dengar berulang-ulang dari rekaman yang ia miliki, Beethoven. Dan tebakannnya 100% sempurna, suara itu memang berasal dari sana.

 

“Hei,” teriak Jaejoong. Suara lembutnya menggema di setiap sudut halaman, menembus tembok yang kini ada di hadapannya. Tembok yang memisahkannya dengan seseorang yang ingin ditemuinya.

Tidak ada tanggapan sama sekali. Ini baru permulaan, ia harus kembali mencobanya. Jaejoong menarik nafas panjang, memastikan hatinya siap. Ketika ia melayang ke dalam keheningan yang membuat dirinya canggung, dengan jelas telinganya dapat menangkap suara itu, suara baritone yang akan dikaguminya dalam waktu yang lama, suara yang akan dirindukannya hampir setiap malam. Dalam perkenalan pertama ini, suara itu telah mampu mencairkan hatinya.

 

“Siapa? Kau berbicara denganku?”

 

“Aa… iya, aku Kim Jaejoong, dan kau?” Jaejoong dapat merasakan kegugupan di dalam hatinya.

 

“Yunho, Jung Yunho. Kau ada dimana?”

 

“Dibalik tembok yang menyekat rumah kita,”

 

Sejenak keduanya terperangkap dalam kebisuan, hanya desir angin yang terdengar. Jaejoong mengerlingkan matanya, berharap dapat membidik sesuatu untuk dijadikan pertanyaan.

 

Dibaliknya, Yunho hanya diam. Orang yang sepertinya terbiasa hidup dalam kepasifan tentu tidak ada masalah jika harus berada dalam situasi seperti ini. Sesekali bibirnya bergerak mengalunkan sebuah lirik, terkadang tangannya yang bergerilya lincah di atas tuts piano.

 

“Kau tahu Yunho-ssi, sejak kecil aku sudah menaruh perhatian pada musik klasik. Setiap melodi yang mengalun terasa begitu merdu. Bagiku, musik klasik adalah suatu kemewahan, suatu keeleganan. Aku hampir saja menjadi seorang violis, jika aku tidak segera sadar bahwa aku lebih tertarik menjadi seorang pendengar, bukan pemain. Menurutmu, musik klasik itu apa?” Yunho hanya terdiam, tak menanggapi sama sekali.

 

Jaejoong hanya tersenyum menanggapi pengabaian ini. “ Kau tahu, saking senangnya aku pada musik klasik, kamarku hampir penuh oleh CD rekaman. Aku selalu mendengarkannya setiap malam, sampai aku mendengar permainanmu, sungguh sempurna,”

“Aku tidak mengerti, sebenarnya musik klasik itu apa?” tanya Yunho.

“Hahaha… Jangan bercanda Yun, setiap harmoni yang kau mainkan adalah musik klasik,”

“Benarkah? Jadi itu musik klasik? Aku hanya seenaknya menekan tuts piano, aku pikir semua lagu itu aku yang menciptakannya,”

“Apa? Jadi kau tidak tahu lagu apa yang kau mainkan? Sama sekali? Aa.. aku jadi ingin sekali bertemu denganmu, kau menarik,”

Yunho kembali terdiam. Ia tidak ingin berkubang dalam sesuatu yang merepotkan. Diam adalah emas, jika pada tempatnya.

“Tapi aku takut, ketika kau melihatku, kau langsung membenciku. Aku yang penuh kekurangan ini,” ujar Jaejoong.

 

“Kalau begitu, kau beruntung, karena aku tidak bisa melihatmu, apalagi dari tempat sejauh ini,”

***love***

 

Jaejoong membiarkan dirinya hanyut dalam fantasi. Malam ini ia hampir tidak dapat memejamkan matanya sama sekali, bukan terkena insomnia seperti biasanya, tapi karena ia terlalu jauh masuk ke dalam dunia imajinasi.

 

Jaejoong menatap langit-langit kamarnya yang di cat soft green, memberikan nuansa alam dan menenangkan. Ada bayangan seseorang di sana. Imajinasi tentang wajah Jung yunho yang bahkan belum pernah di lihatnya.

 

“Seperti apa wajah pianis berbakat itu, aku harap ia adalah seorang pemuda yang sangat tampan, aku ingin segera melihatnya,”

 

Malam ini terasa begitu panjang, detik yang berlalu bagaikan jam, dan jam yang berlalu bagaikan hari. Ah, ini terlalu berlebihan, toh ia hanya akan bertemu seorang Jung Yunho besok, bukan akan bertemu presiden Amerika.

 

Ia membiarkan rambutnya tergerai begitu saja di atas bantal, matanya menyapu sekeliling ruangan, kemudian ditutupnya perlahan, dan dalam hitungan detik saja Jaejoong telah memasuki alam mimpinya.

***love***

 

Yunho duduk santai di atas bingkai jendela kamar, membiarkan tubuhnya diterpa angin malam. Pikirannya entah melayang kemana. Suara itu, suara yang tadi siang menyapanya terekam begitu jelas di memorinya. Pemilik suara itu pasti gadis yang sangat cantik.

Ia mendesah panjang, kemudian terbatuk, namun coba ia abaikan. Yunho terbatuk lagi, namun ia kembali mengabaikannya. Tapi kemudian Yunho sadar, sepertinya angin malam mulai tidak bersahabat bagi kesehatan.

Perlahan Yunho menutup jendela kamarnya, berjalan pelan di dalam ruangan yang gelap menuju tempat tidurnya. Pemuda itu berusaha memposisikan tubuhnya senyaman mungkin di atas tempat tidur, membiarkan dirinya masuk ke dalam dunia imajinasi.

“Aku ingin bisa melihatmu Jaejoong, mendekapmu erat, dan membiarkanmu menjadi bagian dari hidupku,”

 

Sekali lagi Yunho menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan.

***love***

 

Jaejoong memacu kursi rodanya cepat, mengabaikan Mrs. Kim yang hampir kehabisan suara memanggilnya. Ia bukan tipe pemuda yang keras kepala, namun untuk yang satu ini, tidak ada yang dapat menghentikannya.

Mrs. Kim berjalan cepat, sesekali berlari mengejar putra kesayangannya. Ia menarik nafas panjang, tersenyum, kemudian mendesis, “Setidaknya ini lebih baik daripada ia mengurung diri di kamar sepanjang hari,”

“Tunggu Jaejoong! Kau mau kemana? Biar eomma yang mengantarkanmu ne,” Mrs. Kim berhasil mensejajari Jaejoong, tangannya segera mendorong kursi roda Jaejoong, halus.

“Gomawo, eomma! Tapi aku tidak ingin merepotkanmu, lagipula aku hanya ingin ke rumah sebelah, berkenalan dengan tetangga baru,” Jaejoong tersenyum manis.

“Ani, biar Eomma yang mengantarkanmu, kau tidak boleh menolak,”

“Aa.. ne,”

Jaejoong menikmati setiap hembusan angin yang menerpanya. Sesekali ia menengadahkan wajahnya menatap langit, mendung seperti biasa. Jaejoong kembali menunduk kemudian tersenyum kecut. Bahkan langitpun tidak senang menyambutnya.

Jaejoong mulai memasuki halaman rumah seorang Jung Yunho, halaman yang cukup besar dan terawat. Memberi kesan mewah dan menenangkan. Mrs. Kim mengetukan pintu untuk anaknya, tidak perlu menunggu lama, Hye Jun halmeoni segera membukakan pintu dan menyambut keduanya dengan senyuman.

“Apa Yunho ada di rumah?” Jaejoong segera bertanya sebelum Hye Jun halmeoni  sempat menegur keduanya.

“Ah, kau teman Tuan Muda Yunho, ia ada di dalam, silakan masuk!”

Jaejoong segera menerobos pintu rumah, dengan kursi roda yang dipacu dengan kekuatan tinggi. Hye Jun halmeoni  kembali tersenyum, sementara Mrs. Kim hanya menggeleng-gelengkan kepala menatap putra kesayangannya.

Jaejoong tiba-tiba saja menghentikan kursi rodanya, menyadari hal itu, Mrs. Kim dan Hye Jun halmeoni  segera menghampirinya.

“Ada apa Jae?” seru keduanya bersamaan.

“Aku tidak tahu, di mana Yunho berada, ruangan di rumah ini terlalu luas jika aku harus mencarinya ke setiap sudut ruangan,”

Hye Jun halmeoni  tersenyum mendengarnya, wajahnya yang mulai menua tampak begitu bahagia. Sementara Mrs. Kim tertawa lepas, Jaejoong hanya mampu memanyunkan bibirnya menatap sang Ibu yang tertawa puas. Menyebalkan.

“Kalau begitu ayo halmeoni antar!” Hye Jun halmeoni  mendorong kursi roda Jaejoong perlahan.

“Lebih baik Eomma pulang sekarang, kalau kau perlu Eomma untuk menjemputmu, telfon Eomma, maka Eomma akan segera muncul di hadapanmu dalam hitungan ketiga, arrachi?”

“Yaa… Eomma pikir, Eomma super woman yang bisa muncul begitu saja?” Jaejoong kembali mengerucutkan bibirnya sementara Mrs. Kim kembali tertawa.

Jaejoong menatap punggung Mrs. Kim hingga menghilang di balik pintu, Hye Jun Halmeoni hanya mengangguk memberi isyarat kemudian mendorong Jaejoong menuju tempat Yunho.

“Tuan Yunho, aku mengantarkan tuan Jaejoong, kalian bersenang-senang ya! Aku tinggal dulu,” Hye Jun halmeoni  meninggalkan mereka berdua.

“Terimakasih, sudah mengantarnya,” jawab Yunho terlambat.

Jaejoong menatap Yunho heran, pemuda satu ini masih saja berkutat pada pianonya, mengabaikan dirinya. Ah, bahkan menatapnya sekali saja, tidak. Jaejoong berusaha memahami setiap lekuk tubuhnya, pundaknya yang bidang, punggungnya yang panjang, dan rambut hitam melawan gravitasi yang menambah nilai plus dirinya. Sungguh, ia ingin segera memandang wajahnya, apakah seperti apa yang ia pikirkan?

 

Perlahan namun pasti, Yunho mulai bangkit dari kursinya, dengan singkron membalikan tubuhnya. Ah, demi Tuhan, Jaejoong benar-benar terperosok ke dalam pesona seorang Jung Yunho. Wajahnya begitu terukir sempurna, tanpa cela. Semuanya indah. Hidung mancung, dua bola mata  kecil dengan sudut tajam, dan bibir yang selalu mengulum senyum. Ah, dia lebih indah daripada si tunggal Shim, Shim Changmin.

 

Jaejoong merasa detak jantungnya berpacu puluhan ribu kali lebih cepat, dan ia sama sekali tidak dapat mengontrolnya. Dan semuanya bertambah kacau ketika Yunho mulai berjalan ke arahnya, dengan bibir yang tetap menyunggingkan senyuman. Jaejoong merasa tubuhnya benar-benar melumer.

 

Yunho menatap Jaejoong cukup lama. Pemuda itu bisa merasakan wajahnya mulai memanas sekarang. Pikirannya melayang dalam fantasi yang tidak dapat ia tafsirkan. Apa yang sedang dipikirkannya? Pikir Jaejoong dalam hati.

 

Jaejoong menggelengkan kepalanya berkali-kali, saat ia tersadar, ia masih mendapati Yunho menatapnya dalam diam, dan ini membuat wajahnya kembali memerah.

 

“Kenapa kau menatapku seperti itu, apa aku begitu anehnya di matamu?” Jaejoong berusaha menyembunyikan kegugupan dalam hatinya.

 

“Apa aku tepat menatap matamu, noona?”

 

“Aiish.. aku bukan noona! Kau bertanya apa kau sedang menatapku? Tentu saja, kau sedang bercanda?”

“Tapi aku tidak bisa melihat wajahmu sama sekali,” Yunho kembali duduk menghadap pianonya, sesekali memainkan tuts pianonya asal.

 

“Apa maksudmu?”

 

“Aku buta,”

 

Jaejoong membuka mulut dan menutup lagi, rahangnya tergantung sempurna. Kepalanya ia jatuhkan pada sandaran kursi roda, kemudian memalingkan wajahnya. Pemuda itu merasa dunianya tengah jungkir balik sekarang. Ia yakin ini semua lelucon, tidak mungkin Tuhan melewatkan pemberian mata bagi malaikat di hadapannya. Meskipun ia tahu, Tuhan telah mengambil kembali izin berjalannya.

 

“Apa kau sedang mempermainkanku Yunho-ssi?” Jaejoong menundukan kepalanya dalam.

 

“Tidak,”

 

“Lalu apa maksudmu?”

 

“Aku buta Jaejoong-ssi, kau tahu artinya kan? Atau kau mulai  jijik padaku?”

 

“Ani… bukan itu maksudku, mianh. Jika kau ingin tahu, aku juga hanya seorang pemuda lumpuh,”

 

Yunho kembali membisu, membiarkan Jaejoong gundah dalam pikirannya sendiri. Suasana begitu magis, Jaejoong memutar matanya ke sekeliling ruangan, hingga ia dapat melihat siluet Hye Jun halmeoni  yang tengah asik dengan kesibukannya.

 

Perlahan namun pasti Jaejoong mulai mendekat ke arah Yunho. Di satu sisi, Yunho merasa nyaman dengan kehangatan yang baru saja di dapatkannya, namun di sisi lain ia merasa tidak pantas, ia harus menghindarinya.

 

Sembilu berkarat itu terasa menusuk. Jaejoong bukan pemuda bodoh, ia bisa merasakan, gerakan kecil yang di buat Yunho adalah untuk menghindarinya.

 

“Maaf kalau kehadiranku di sini mengganggumu, kalau kau mau, aku akan pergi sekarang,” Jaejoong merasakan dadanya sesak, ingin sekali air matanya tumpah saat ini juga, tapi ia bukan pemudalemah.

 

Jaejoong membiarkan rambut auburn panjangnya bergerak seirama saat ia memutarkan kursi rodanya 180 derajat. Ia tidak tahu, jika pria yang kini berdiri kaku di belakangnya tangah merasakan perasaan asing yang bercampur aduk menjadi satu.

 

Yunho hanya bisa menggigit bibir bawahnya frustasi, ia terlalu pengecut untuk mengakui rasa takut kehilangannya terhadap sosok yang mungkin baru saja tersakiti hatinya.

 

“Aku pergi Yunho-ssi, maaf mengganggu waktu santaimu!”

 

“Tunggu!” Yunho segera bangkit dan memutar tubuhnya 180 derajat.

 

Jaejoong menghentikan kursi rodanya. Keduanya kembali terpenjara dalam diam. Mereka mangabaikan angin yang menguping mereka dari sela – sela jendela, membiarkan gesekan ranting yang menyajikan harmoni yang indah, mengacuhkan kicauan merpati yang menyuguhkan suatu keromantisan.

 

“Boleh aku memintamu kembali? Dan boleh aku memelukmu? Sekali saja,” Yunho merasakan kegugupan dalam nadanya, namun angin yang membelai rambutnya, memberikan sebuah ketenangan yang sulit di jelaskan.

 

Jaejoong mengangukkan kepalanya berkali – kali, meski ia tahu Yunho tidak bisa melihatnya. Jaejoong memutar arah kendali kursi rodanya. Pendengaran Yunho masih tajam, dan ia cukup pintar untuk  mengetahui bahwa kursi beroda itu membawa Jaejoong kembali padanya.

 

Yunho mengulurkan tangannya lambat-lambat, menunggu kehangatan malaikat yang begitu dinantinya. Tangan itu hadir, merengkuhnya perlahan.

 

Pemuda itu sudah tidak bisa menahan desiran darahnya, detak jantung di luar batas normal benar-benar membuatnya hampir gila. Dorongan hati membuatnya berlari menghampiri Jaejoong, dan memeluknya erat dalam diam.

 

Waktu terasa berhenti begitu saja, membiarkan keduanya hanyut dalam suasana keromantisan. Membiarkan mereka menikmati saat-saat kebersamaan.

 

Jaejoong merasa tubuhnya memanas seketika, darah bergejolak hebat tepat di ubun-ubunnya, seakan siap dimuntahkan keluar kapan saja.

 

“Yunho-ah,” ujar Jaejoong parau. Hanya kata itu yang mampu diungkapkannya setelah berusaha sekuat tenaga.

 

Bola mata Yunho membulat sempurna. Ia kembali dapat menguasai diri, kesadarannya dihempaskan paksa ke dalam jasadnya. Pemuda itu segera melepaskan pelukannya, dengan tergesa-gesa kembali duduk menghadap piano. Ingin rasanya ia mengutuki diri sendiri. Tampak Yunho menekan-nekan tuts piano asal, sembari sesekali mengacak-acak rambutnya, frustasi.

 

“Maaf, aku sudah melakukan hal bodoh! Kau boleh membenciku. Dan jika memang kau mau, kau boleh bergi sekarang,” pemuda itu menundukan kepalanya dalam-dalam.

 

Yunho melemparkan pandangannya kearah jendela, mata emerald Jaejoong membuntutinya. Meskipun ia tahu, ke mana pun pandangan Yunho dilemparkan, hanya kegelapan yang menyambutnya. Namun, setidaknya ia mau memahami apa yang pemuda pujaannya pikirkan.

 

Jaejoong menggerakkan kursi rodanya perlahan, berusaha memperpendek jarak diantara mereka berdua, menjembatani jurang yang terasa memisahkan mereka.

 

“Kau terlalu percaya diri Yunho-ssi, aku bahkan sama sekali tidak merasakan di mana kesalahanmu, jadi bagaimana bisa aku membencimu?”

 

“Menurutmu begitu?”

 

“Ne,” Jaejoong menarik nafas panjang kemudian memposisikan kepalanya senyaman mungkin diatas pundak Yunho.

 

Yunho hanya terdiam, meskipun sempat terbesit dalam benaknya untuk menghindar, namun ia mengabaikannya. Hati kecilnya berontak, memaksanya untuk melihat rupa sang malaikat. Namun, setiap kali ia mencoba untuk melihatnya, Yunho  merasa dirinya jatuh cepat dan keras.

 

“Yunho-ah, kau tahu? Menurutku, Tuhan begitu senang mempermainkan takdir kita,” sekali lagi Jaejoong menarik nafas panjang.

 

“Ne. Setidaknya aku bersyukur, Tuhan hanya mengambil penglihatanku, karena jika ia juga mengambil pendengaranku, maka aku tidak akan pernah menyadari kehadiranmu,”

 

“Hahaha… sepertinya kita jadi terlalu melankolis ya? Bagaimana kalau sekarang kau membawakan satu lagu untukku?”

 

“Lagu?”

 

“Ya. Aku ingin kau mainkan karya Beethoven, Simphoni kesembilan dan fur elise, sonata in c minor pathetique, Op 13. Aku yakin kau bisa melakukannya, karena aku sudah sering mendengarmu memainkannya,”

 

“Tapi aku sama sekali tidak tahu yang mana itu,”

 

Jaejoong hanya tersenyum paham, meskipun telinganya telah seringkali mendengar Yunho memainkan kedua lagu itu, tapi ia tahu, Yunho tidak pernah menyadarinya.

 

Jaejoong memainkan simphoni kesembilan dengan suara indahnya, setiap alunan melodi meluncur begitu halus bagaikan sutera. Tanpa disadari, jemari Yunho mulai bermain lincah diatas tuts piano, mengiringi permainan Jaejoong. Harmoni yang begitu indah, sebuah keselarasan, nada sempurna.

TBC

27 thoughts on “SNOW IN THE DESERT/YUNJAE/Chapter 2 of 4

  1. akhir’ya joongie bisa bersemangat kmbali
    g nyangka tr’yata yunho tu g tau simphoni pa yg dia maenin
    kereeeendia berbakat bgt jadi pianis
    hiyaaaaa,ni ff kereen bgt,bener2 g ketebak
    ter’yata yunho itu buta,
    hiyaaa penasaran chap selanjutnya

  2. hiks,,hikss,,hiksss,,,knapa mestida TEBECE ssiiiii,,,lagi seru”na bacaaa,,,

    uwwaa appa buta?q da pny feel sejak pertama appa nongol*soktau*
    ehh eon(?)ni cm mpe chap mpat y?

    tak tunggu apdetan slanjutnaaa~

    thnx for writing~

  3. Yunjae itu.. Saling melengkapi kekurangan mereka masing-masing.
    dan akhirnya aku menemukannya di FF ini. yeay!!

    oh iya lupa. tentang chapter sebelumnya…. TENDANG CHANGMIIIIIN!!!!!
    kau telah membuat Joongieku terluka! kau bla bla bla.. *ngoceh gak jelas*

  4. akhirnya yunjae muncul.
    huwaa romantis sekaligus menyedihkan.
    mereka benar-benar saling melengkapi.
    aku gak sabar baca kelanjutannya,
    daebak thor!!!

  5. ternyata pianis tu yunho… tp gak nyangka klo yunho buta… ah… jae lumpuh sedangkan yunho buta… kenapa harus tbc sich, kan gi rame…

  6. Wowww si jj lumpuh s yunho buto co2k deh😀
    Penasaran konflikya mo kmn ff ini
    D tunggu kelanjutannya y author
    Mian commentnya pendek

  7. Romantiss !! Romantisssss!!!! Aku udah nebak kalo yunho pasti buta, hehe ternyata bener. Cos kalo dia ga buta dia udah loncat kali dari tembok wat nemuin jejung haha.

    2 chap lagi yah ? Ga sabar >o< semoga ada keajaiban !!

  8. Hiks… Hiks…. Hiks…..
    Masa yunho nya buta (╥_╥) ….
    Yunho dan jaejoong akan saling menutupi kekurangan mereka…
    Seneng akhir nya jae punya semangat hidup lagi….. Trus ketemu yunho……
    Haaa~ penasaran sama kelanjutannya…

  9. yeaah. Akhirny eomma nd appa bertemu. #tebarconfeti
    chap kli ini lebih ringan, wuuaah. Bner2 maniiiis. Gak nyangka klo appa buta, tpi mrka sma2 sling terpesona dgn cra yg berbeda. Penyampaian yg unik.😀

    Smangat author.😀 Keep writing, sukses sllu karyanya😀

  10. Ya tuhan..
    Yunpa buta n jaema lumpuh..
    Hiks..Hiks..
    Tuhan knp kau bkin mndrita umpaQ..
    Aish..
    Tp yunpa hebat bsa mainin musik klsik trknl tnp bljr dr mnapun..

  11. Numpang rcl……. Unnie
    yunho di ff ni tdiny q kira tuh kga buta eh trnyta tuh perfect cple malah sama q kan jdi ilfell ma en ding na un ni ff happy ending kan??

  12. yunho butaa??? ga nyangka,.. tapi berarti yunho itu jenius banged dong.. buktinya dia bisa mainin musik klasik padahal dia sama sekali ga pernah liat not not nya kereeeennn appa

    hihihi lucu liat jaejoong akhirnya punya semangat lagi and itu berkat yunpa ^^

  13. ternyata dengan kesempurnaan seseorang
    tapi tetap ada kekurangannya

    yah appa jadi gak bisa liat umma nan cantik jelita dong..
    suka sama chap ini,romantis banget
    yunjae saling melengkapi kekurangan mereka berdua

  14. Ternyata itu beneran yunppa yah…
    Wah tpy ternyata yunppa buta yah…huft..
    Yah meskipun yunjae mempunyai kekurangan sperti itu tpy mreka akan slalu jady couple pling sempurna…

  15. Mwy?? yunppa buta?
    omoo…
    *ga bs ngbayangin*
    tp so sweet, mreka slg mlengkapi dlm kkurngn msg2..
    hihihi

  16. akhirnya Yunpa nongol juga!! huee~ walau dibuta’in ama author tapi tetep kagak bakal ngilangin tampannya wajah Yunpa!!! hehehehe…

  17. langsung baca chap ini~~
    miris bgt…yg satu lumpuh & yg satu buta T___T
    tp te2p ya…romantis bgt mereka^^
    Q suka bgt gaya tulisnya thor….simple tp te2p sweett^^
    next

  18. Omo!!! Ternyata appa darkness eyes..ky Lagunya dbsk!! ^.^

    Ternyata cinta Ъ>:/ memandang kekurangan org, justru kekurangan itu saling melengkapi menjadi kesempurna’an…umma kalau ųϑªђ ketemu appa…pada pandangan pertama aja langsung lumer ýª

  19. Omo!!! Ternyata appa buta…pas ƭªŮ appa buta sambil baca Q langsung puter Lagu darkness eyes (╥﹏╥)

    Ternyata cinta Ъ>:/ memandang kekurangan org, justru kekurangan itu saling melengkapi menjadi kesempurna’an…umma kalau ųϑªђ ketemu appa…pada pandangan pertama aja langsung lumer ýª

  20. Gomawo appa, berkat appa, Jaema bisa ceria lagi..
    Sedih banget waktu tau Yunpa ga bisa liat.😦
    *mewek diketek Yunpa*
    *digolok Jaema*

  21. Huwaaa.. Appa buta.. Umma lumpuh !?
    Aduh.. Penasaran nih.. Gmna yah endingnya..
    Ap kah Yunppa bsa ngeliat dan Jaemma bsa bjalan lgi yah.?? Penasaran…

  22. gyaaa..senang joongie udah senyum kembali…tp knp yunnie jg buta? sedih..(T_T)
    ya udh..gini az..yunnie jadi kakinya joongie dan jongie jadi matanya yunnie..klop kn?? cinta kn harus saling melengkapi…#jiaahh..sotoy mode on#

  23. yunpa ga bisa melihat? jaema ga bisa berjalan? emh takdir menuntun mereka untuk saling menyempurnakan🙂
    mereka bisa saling membuka diri dan mengerti satu sama lain. the power of love eoh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s