TADA (Special Xiah Birthday) – DB5K | @beth91191


 

Title        : TADA (Special Xiah Birthday) – DB5K

Author   : Beth

Chapter : one shoot

Genre    : Friendship

Rate       : Segala umur

Summary : Kenapa hari ini aku jadi begitu serba salah. Sungguh bukan itu maksudku. Kenapa dia bisa berkata sekasar itu padaku. Ternyata…

 

[Junsu pov]

 

Hari ini aku terlambat ketika mendatangi latihan rutin JYJ. Mobilku terjebak macet dan harus berjalan merambat selama berjam-jam lamanya.

 

Sial..

Benar-benar sial..

 

Setelah kuparkirkan mobilku, secepat mungkin aku keluar dari dalam mobil. Aku berlarian menyusuri lorong gedung dan dengan cepat memasuki lift. Lift pun melesat menuju lantai tiga. Begitu pintu terbuka,berlari-larianlah aku menuju ruang latihan.

 

Perlahan kubuka pintu ruang latihan dan terlihatlah Yoochun dan Jaejoong hyung tengah menari dengan instruksi dari pelatih dance kami. Tampak mereka menari dengan semangatnya.

 

“Mianhe shimnida yorobeun..” Ucapku sambil berhamburan masuk.

 

Tiba-tiba mereka semua langsung menghentikan aktifitas yang tengah dilakukan. Manager kami, para asisten, kru, team pelatih dance, Yoochun, Jaejoong hyung dan yang lainnya, tiba-tiba berhenti dan melihat ke arahku dengan tatapan yang tidak aku sukai.

 

“Maafkan aku, aku terlambat. Aku terjebak macet.” Ucapku sambil meletakan tasku di pinggir ruangan.

 

Semua orang masih menatapku mematung dalam kebisuan. Yoochun tengah melihatku dengan tatapan yang terasa begitu mencanggungkanku. Begitu juga dengan Jaejoong hyung, dia menatapku tajam, sangat tajam, dan dialah yang sebenarnya yang paling aku takuti, di ruangan ini.

 

“Maafkan aku..” Ucapku sambil berjalan mendekati mereka berdua yang masih terdiam menatapku. Aku benar-benar tak suka situasi seperti ini. Begitu menyesakan di dada.

 

“Hyung.. Maafkan aku..” Ucapku pada Jaejoong hyung.

 

Dia masih saja diam, tak merespon.

 

“Hyung.. Aku benar-benar..” Belum selesai aku bicara..

 

“HYAAA!!!!!” Teriak Jaejoong hyung keras sekali. Aku benar-benar terkejut dan takut.

“M..ma..maaf.. Maafkan aku hyung..” Ucapku terbata-bata.

 

“Kau tahu sekarang jam berapa???!” Tanyanya dengan ekspresi marahnya.

“Jam 3 sore hyung..” Ucapku lirih.

 

“Lalu jadwal latihan kita jam berapaaa???!!” Pekiknya lagi padaku.

“Jam 11..” Jawabku lagi.

 

“LALUU??!!!” Lagi-lagi dia berteriak padaku.

“Maafkan aku hyung.. Aku terlambat..” Ucapku lagi dan kali ini tak berani menatap matanya.

 

“Terlambat..terlambat..terlambat!!!! Kau tahu kau terlambat bukan 10menit, 30menit, 1jam! Tapi 4jam!!!” Ucapnya marah.

“Aku kena macet hyung.” Sahutku lirih.

 

“Aku tahu itu!!” Ucapnya lagi.

“Maaf..” Itu satu-satunya kata yang keluar dari bibirku.

 

“Kau bukan anak kecil lagi. Kau tahu itu!! Kau harusnya bertindak dengan otak!! Pakai otakmu!! Entah kau harus berangkat kemari dini hari agar tak terkena macet atau kau menginap saja disini,aku tak peduli.. Yang pasti aku tak pernah mentolerir kata ‘terlambat’..!!” Ucapnya yang membuatku jantungku berdebar ketakutan.

 

Jaejoong hyung tampak benar-benar marah. Sudah lama rasanya aku tak melihat dia semarah itu. Terakhir kali dia marah, saat kami masih berlima, dan itupun juga karena aku melakukan kebodohan di saat semua member sudah sangat lelah. Dulu saat Jaejoong hyung sedang marah besar seperti ini,pasti Yunho hyung berusaha menengahi kami. Dia pasti menenangkan emosi Jaejoong hyung dan menghiburku agar tak ketakutan lagi.

 

Namun sekarang Yunho hyung tak ada. Siapa yang aku melindungiku dari mereka. Aku tahu aku salah. Aku tahu mereka pantas marah padaku.

Aku tahu itu..

Tapi aku takut sekali ketika ada yang marah padaku.

 

“Maaf..” Ucapku lagi.

“HAHHHH!!” Pekiknya.

 

Kulihat dia kembali melanjutkan latihan dance yang tengah dia lakukan. Yoochun dan lainnya yang semula diam, kembali melanjutkan apa yang sempat terhenti.

 

Aku sudah ingin menangis saja saat ini. Dimarahi pelatih bola lebih baik dari pada dimarahi oleh Jaejoong hyung. Aku tahu aku memang ceroboh dan serba salah jika melakukan hal-hal selain bermain bola dan menyanyi. Aku tahu itu.

 

 

***

 

Setelah menghela nafas sedetik, dua detik, aku melepas jaket yang tengah kukenakan dan berdiri di dekat Yoochun dan Jaejoong hyung untuk mengikuti latihan dance yang aku sempat tertinggal ini. Aku tahu orang-orang menganggapku sebagai member yang pandai dance setelah Yunho hyung. Tapi bagaimanapun juga aku masih perlu banyak latihan. Kuikuti gerakannya, satu gerakan, dua gerakan hingga tak sengaja gerakan tanganku salah dan mengenai Yoochun cukup keras.

 

“Xiah Junsu!!!” Teriak Yoochun tiba-tiba yang membuatku kaget.

“Maaf..” Ucapku.

 

“Kau tak bisa ya tidak membuatku marah satu hari ini aja??” Ucapnya terlihat benar-benar marah kali ini.

“Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Aku pasti cepat bisa jika saat berlatih dance. Aku tak akan melakukan kesalahan lagi setelah ini.” Jawabku sambil mengelus bagian tangannya yang tak sengaja terkena tanganku.

 

Namun tiba-tiba ditepisnya tanganku cepat.

 

“Jadi kau sombong sekarang?? Kau pikir kau yang paling pandai dance?? Haa??!!” Pekiknya yang benar-benar membuatku terkejut.

“Mwo? Andweyo.. Aku tak pernah berpikiran seperti itu. Sedetikpun tidak.. Kita semua masih perlu banyak latihan dance..” Jawabku jujur.

 

Dan kemudian Jaejoong hyungpun menyahut. “Jadi kau bilang kami tidak pandai dance?? Jadi tanpa kami, kau bisa sukses sendiri?? Fine!!” Timpal Jaejoong hyung.

 

Ya Tuhan bagian mana kalimatku yang bermaksud seperti itu. Kenapa hyung salah menangkap??

 

“Andweyo hyung! Aku tak pernah berpikir seperti itu, apalagi mengatakannya. Ini salah paham. Aku hanya mau bilang…” Lagi-lagi belum selesai aku bicara.

“Sombong kau!!” Ucap Yoochun.

 

“Andwe andwe andwe… Aku tak bermaksud seperti itu..” Jawabku cepat.

“Sudahlah, aku sudah malas..” Ucap Jaejoong hyung melempar kelantai handuk yang semula tergantung di lehernya dan mulai berjalan meninggalkan ruangan.  Kulihat Yoochun juga melakukan hal serupa.

 

“Kalian mau kemana??” Tanyaku sambil menahan tangan Jaejoong hyung. Lagi-lagi tanganku terkena tepisan. Jaejoong hyung menepis tanganku dengan kerasnya.

“Ya jelas pergi lah.. Aku capek melihat tampangmu, anak ceroboh yang sombong!!”Ucap Jaejoong yang lagi-lagi membuat hatiku sakit.

 

Sakit sekali rasanya ketika dia bilang seperti itu. Kenapa aku begitu gampangnya membuat orang lain marah padaku.

 

“Jangan pergi Jaejoong hyung..” Ucapku memohon.

“Kalau begitu aku yang pergi..” Timpal Yoochun.

 

“Hah? Kau juga jangan chun..” Ucapku sambil melihat ke arahnya.

“Kau hanya bilang jangan pergi Jaejoong hyung, kau tak bilang aku juga jangan pergi. Jadi oke aku yang akan pergi..” Sahut Yoochun yang benar-benar membuat mulutku menganga.

 

“Tidak!! Aku tak bermaksud begitu juga!!” Jawabku cepat.

 

Jaejoong hyung kembali menimpali. “Mwo?? Kau berteriak??? Kau sudah berani meneriaki hyungmu sekarang?? Haaa??!!” Ucap Jaejoong hyung lagi.

 

“Ya Tuhan, maaf.. Tidak.. Aku tidak bermaksud begitu.. Aku hanya tidak ingin kalian pergi..” Jawabku bingung seraya memohon pada mereka berdua. Kenapa hari ini aku jadi begitu serba salah.

 

 

“Baiklah kami tak akan pergi, tapi kami tak ingin melihat tampangmu. Kalau kami tidak pergi lalu bagaimana, agar kami tak perlu melihat tampang sombongmu itu??” Tanya Jaejoong hyung dengan wajah seriusnya.

 

Sejenak aku terdiam. Menatap kosong pada ubin-ubin lantai. Aku ingin mengatakannya. Tapi kenapa berat sekali mengatakan hal ini. Aku terdiam mematung bingung tak tahu bagaimana mengatakannya. Namun, akhirnya kuucapkan juga dengan berat hati apa yang terlintas di benakku, “Baiklah aku saja yang pergi..” Ucapku lirih sambil melangkah mengambil jaketku dan tas yang aku letakan di pinggir.

 

“Si sombong ceroboh yang lari dari masalah..” Ucap Jaejoong hyung yang benar-benar membuatku ingin menangis saja. Kenapa dia bisa berkata sekasar itu padaku.

 

“Jeongmal mianhaeyo Jaejoong hyung, Yoochun,semuanya.. Aku tak bermaksud lari dari masalah, aku tak bermaksud sombong, aku tak bermaksud ceroboh, apapun kata-kataku yang membuat kalian marah, aku tak bermaksud begitu. Jeongmal mianhaeyo.. Aku hanya tak ingin membuat kalian marah lagi. Mianata.. ” Ucapku sambil berjalan keluar.

 

Langkahku lemah dan terseret. Berat sesungguhnya meninggalkan mereka dan latihan dance kami. Tapi benar-benar aku tak ingin merusak mood mereka. Biar saja emosi mereka mereda dulu. Baru setelah itu aku akan minta maaf dengan baik-baik pada mereka.

 

Aku tahu aku selalu yang paling ceroboh. Selalu bikin salah. Selalu membuat mereka marah. Aku tahu itu. Tapi bagaimana lagi. Aku sudah berusaha melakukan yang terbaik yang aku bisa. Tapi aku tetap saja itu tidak memenuhi keinginan mereka.

 

***

 

Setelah kususuri lorong-lorong yang terasa sedikit sepi, tibalah aku di depan lift. Kumasuk kedalamnya, kutekan tombolnya dan melesatlah aku kebawah. Begitu tiba di lantai dasar, kembali kumelangkah dengan malasnya. Kulihat bayang-bayangku yang terbentuk di lantai karena terkena sinar matahari sore yang menyusup masuk menembus jendela-jendela.

 

Lalu kemana aku sekarang harus pergi?

Tak mungkin aku pulang lagi..

 

Biasanya disaat seperti ini ada Yunho hyung yang menenangkanku dan menghiburku. Atau juga terkadang Changmin selalu mendengar keluh kesahku walaupun sebenarnya dia juga jengkel dengan kebodohan dan kecerobohanku.

 

Kenapa tiba-tiba aku rindu dengan mereka??
Aku rindu masa-masa dimana kami masih berlima..

Aku rindu masa-masa dimana kami trainee.

Masa-masa awal perjuangan kami.

Masa-masa kami berlatih keras bersama.

Masa-masa kami masih menjadi newcomers di Jepang.

Masa-masa kami merintis hallyu wave.

Masa-masa pertama kami melakukan tour keluar Korea.

Masa-masa dimana kami sukses di puncak popularitas.

Masa-masa kami mendapat penghargaan sebagai Dong Bang Shin Ki.

Masa-masa keemasan kami saat masih bersama.

Masa-masa dimana kami tertawa dan menangis bersama.

Masa-masa itu..

 

Fyuhhh…

Aku rindu itu semua.

 

Langkahku sudah sangat lemah saat ini. Lututku tergetar. Tak sanggup lagi aku melangkah. Aku merapat ke dinding. Air mata tak sengaja menetes dari ujung mataku, meratapi semua yang sudah terjadi saat ini di antara kami berlima.

 

Kenapa semua jadi seperti ini?

Kenapa harus ada kejadian seperti ini?

Kenapa Dong Bang Shin Ki harus terbagi dua?

 

Tanganku berusaha menahan tubuhku yang bergetar karena tangisanku sendiri. Lambat laun lututku sudah benar-benar melemas dan tak sanggup menahan beban tubuhku. Aku menangis bersimpuh di lantai. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tak peduli jika ada yang melihat. Aku benar-benar sudah lelah dengan ini semua. Aku lelah dengan anggapan JYJ dan Homin yang sudah terpisah. JYJ tetaplah bagian dari DBSK. Seperti yang Jaejoong hyung bilang di akun twitternya, “JYJ from 동방신기”. Kami hanya melakukan aktifitas terpisah sementara waktu. Kami hanya tak bisa dengan leluasa berkomunikasi satu sama lain seperti dulu karena alasan suatu hal. Kami hanya tak bisa leluasa bertemu, bercengkerama dan tampil bersama sepertiku dulu. Aku tahu itu. Aku tahu..

 

Tapi sampai kapan?? Sampai kapan?? Aku tak tahu untuk hal yang satu ini.. Aku benar-benar rindu masa-masa itu. Semua jadi terasa lebih berat ketika kami tidak berlima.

 

Fyuhh…

Fyuhhhh…

Fyuuuuhhhhh… Kuhembuskan nafas kuat-kuat beberapa kali.

 

Kutenangkan diriku. Tak boleh aku meratapinya terus menerus. Aku yakin akan ada masa-masa indah dimana kami akan bersama kembali. Aku yakin itu. Seyakin para fans kami. Kuseka air mataku. Kuambil tas ku dan kembali melangkahlah aku menyusuri lorong-lorong.

 

***

 

Setibanya aku di dalam mobilku. Kunyalakan mesinnya dan kujalankan mobilku. Tak tahu aku harus pergi  kemana. Biasanya jika orang-orang sedang banyak pikiran sepertiku, pasti minum-minum atau merokok. Tapi sayangnya aku tak terbiasa melakukan keduanya. Bagaimana dengan bermain bola. Aku pasti akan lebih baik jika bermain bola. Tapi masalahnya ini hari kamis. Seingatku lapangan bola yang biasa kugunakan sedang dipakai turnamen antar sekolah.

 

Ahhh.. Ottokae?

 

Lapangan bola lainnya yang aku tahu susah untuk digunakan untuk orang umum dan selain itu aku tak tahu lagi dimana aku bisa bermain bola. Lapangan futsal kah? Tapi aku ingin bermain bola di lapangan berumput hijau, warna hijau itulah yang membuatku merasa tenang setiap bermain diatasnya.

 

Lalu aku harus pergi kemana sekarang?

 

Akhirnya kujalankan saja mobilku tanpa tahu harus kemana. Aku berputar-putar, melewati pusat kota, kulihat orang-orang berlalu lalang disana. Kukemudikan mobil melewati sebuah sekolahan, kulihat murid-murid sedang berhamburan keluar hendak pulang ke rumah masing-masing. Sepertinya sudah jam pulang sekolah. Kukemudikan mobil melewati pertokoan, kulihat toko-toko kue, took-toko pakaian, toko buku, toko lampu hias, bengkel, dan showroom-showroom mobil. Semua orang sibuk dengan kegiatannya sendiri-sendiri. Kukemudikan mobil melewati taman-taman, ku lihat anak-anak kecil sedang bermain-main dengan asyiknya. Sepertinya tempat ini lebih baik dari pada tempat-tempat lain yang bisa aku tuju.

 

Kuhentikan mobilku disisi taman. Kumatikan mesin dan keluarlah aku dari dalam mobil. Akupun berjalan mendekati anak-anak yang tengah bermain-main disana. Terduduklah aku di kursi-kursi taman yang berada tak jauh dari mereka dan kini kuamati seorang anak kecil yang sedang bermain perosotan. Dia menaiki tangga dengan semangatnya, lalu meluncurlah dia kebawah, hingga akhirnya..

 

PLUK..

 

Pantatnya jatuh ke pasir-pasir dengan cukup keras. Semula kukira dia akan menangis, ternyata tidak. Dia justru tertawa terbahak-bahak. Beberapa anak lain melakukan hal serupa. Dan mereka tertawa bersama.

 

Sedangkan di sudut lain terdapat anak-anak yang bermain jungkat-jungkit, ayunan, box-box kayu, bermain pasir, kejar-kejaran dan lain sebagainya. Pasti senang yang menjadi anak-anak itu. Tak ada beban, tak ada masalah, tak ada tanggung jawab. Ingin rasanya menjadi anak-anak..

 

 

Aku terus mengamati mereka dengan senyum yang terkembang di bibirku. Tentramnya berada di antara anak-anak. Namun tiba-tiba kulihat ada sebuah bola yang menuju ke arahku, hingga akhirnya bola tersebut berhenti karena menatap kakiku perlahan. Kuangkat bola itu dan seorang anak laki-laki berlari ke arahku.

 

Ahjushi minta bolanya..”Ucap anak kecil itu lucu.

 

“Siapa namamu?”Tanyaku yang tidak segera memberikan bola itu.

“Junsu. Kim Junsu.” Jawabnya menggemaskan.

 

Jeongmal? Aku juga Kim Junsu.” Sahutku.

Ahjushi penyanyi kan?” Tanya anak kecil itu yang membuatku terkejut, bagaimana dia tahu aku seorang penyanyi.

 

“Kau tahu?? Tahu darimana??” Tanyaku balik.

Ummaku suka sama ahjushi. Umma adalah Cassiopeia. Di rumah banyak poster ahjushi.” Jawabnya sambil menggaruk pipinya. Terlihat bekas merah timbul dari tempat yang digaruknya itu.

 

“Benarkah? Wow! Kau kemari sama siapa?”Tanyaku sambil mengusap rambutnya.

“Sendiri..”Jawabnya polos.

 

“Rumahmu dimana memangnya?” Tanyaku.

“Ituhh..” Jawabnya sambil menunjuk sebuah rumah cukup besar di belakangku.

“Oww.. Itu rumahmu.. Pantas saja kamu berani sendiri kemari.”Kataku.

 

Ahjushi bolanya..” Ucapnya meminta bolanya lagi.

“Hehe.. Mian yaa.. Ini bola mu.” Kataku sambil menyerahkan bola itu.

 

Khamsa hamnida..” Jawabnya sambil meraih bola itu.

 

“Oya, Junsu kecil? Cita-citamu apa?? Menjadi pemain sepak bola??” Tanyaku cepat.

Andweyo.. Aku mau jadi penyanyi kayak ahjushi tapi tetep jago main bola..”Jawabnya dengan tersenyum imut sekali.

 

Wahhh.. Tak menyangka aku ada seseorang yang ingin menjadi sepertiku. Aku yang begitu ceroboh dan suka membuat kesalahan, ternyata ada juga yang ingin menjadi sepertiku?? Seburuk-buruknya aku ternyata aku punya fans yang selalu mengamatiku, mendukungku, dan menjadikanku panutannya.

 

Kubelai kembali rambut anak kecil itu.

“Sudah ya ahjushi.. Annyeong..” Katanya sambil berlari ke arah teman-temannya.

Nae..” Jawabku sambil melambaikan tangan padanya.

 

Akhirnya dia kembali dalam kerumunan teman-temannya. Dan aku terus tersenyum memandang anak-anak kecil yang lucu-lucu itu. Aku benar-benar merasa nyaman di sini. Semua beban yang aku rasakan seketika terasa begitu ringan. Aku tersihir untuk terus berlama-lama di sini. Aku tak ingin cepat-cepat pergi meninggalkan kedamaian ini.

 

Angin sore yang berhembus lembut. Suara gemericik air mancur yang berada di tengah-tengah taman. Anak-anak kecil yang berteriak-teriak senang, tertawa-tawa riang dan bersuka ria. Burung-burung kecil berkicau terbang kesana kemari.

 

Nyamannyaaa…

Tanpa sadar aku tertidur di atas kursi taman ini dengan nyenyaknya..

 

 

===Beberapa Saat Kemudian===

 

No Gain.. No Gain.. 

 

HP ku berbunyi dengan nyaringnya..

 

Rasanya aku tertidur baru sesaat. Kubuka mataku perlahan.

Kenapa hari sudah gelap?

 

Matahari sore sudah berubah dengan lampu-lampu taman. Anak-anak kecil sudah menghilang entah kemana. Yang tersisa hanyalah beberapa orang yang berlalu-lalang dan mobil-mobil terdengar begitu berisik di belakang sana.

 

Kulihat jam tangan yang menempel di pergelanganku.

Jam berapa ini?

Mwo?

Sudah jam 8 malam.

Jam ramai-ramainya jalanan ini.

 

No Gain.. No Gain.. 

 

Ku teringat kembali pada HP-ku yang sedang berdering. Kubaca layar HP-ku dan langsung kuketahui siapa yang tengah menghubungiku.

 

Yabuseyo hyung..” Ucapku pada Jaejoong hyung yang meneleponku.

“Kami tunggu di tempat latihan, sekarang.” Sahutnya datar.

 

“Ada apa?” Tanyaku belum mengerti.

“Jangan buat kami menunggu lama lagi.” Jawabnya sambil langsung mematikan HP.

 

Sebenarnya ada apa ini?

Kenapa hyung  mendadak menyuruhku kesana?

 

Sepertinya mereka ingin membicarakan kejadian sore tadi. Aku harus minta maaf pada mereka. Aku benar-benar sudah membuat mereka emosi.

 

Dengan cepat aku berlari ke arah mobilku. Setelah masuk ke dalamnya, buru-buru kunyalakan mesin dan melajulah aku menuju tempat latihan. Jalanan terasa cukup ramai, tapi aku harus segera tiba disana. Kuberusaha menyelip mobil-mobil lain dari kanan dan kiri dengan gesitnya. Walau aku jarang mengebut ketika berkendara seperti hal-nya Jaejoong hyung dan Yoochunie, namun bukan berarti aku tidak jago mengebut.

 

Aku terus memacu mobilku hingga tibalah aku di parkiran gedung tempat latihan. Kumatikan mesin dan keluarlah aku dari dalam mobil. Tanpa pikir panjang, berlari-lari aku masuk ke dalam gedung.

 

Sekilas terbesit di benakku kenapa gedung ini terasa begitu gelap dan sepi. Tak biasanya situasi gedung ini, seperti saat ini. Walau hari sudah malam, pasti masih banyak orang yang bekerja dan berlalu lalang di dalamnya. Namun kini yang kutemui hanyalah satpam-satpam, dan pegawai-pegawai cleaning service. Ingin aku bertanya pada mereka, kemana semua orang-orang ini? Tapi aku benar-benar sudah diburu waktu dan harus segera menuju ruang latihan. Aku berlari menyusuri lorong dan naiklah aku ke lantai 3 dengan menggunakan lift.

 

Setibanya aku di lantai 3, pintu lift-pun terbuka dan hanya gelap, gelap dan gelap yang kutemui. Lantai 3 terasa begitu sepi. Jauh lebih sepi dari pada lantai dasar. Sama sekali tak ada satu orang-pun yang aku temui. Perasaanku sedikit tidak tenang. Seperti ada yang tengah mengamatiku di belakang sana.

 

Kenapa hyung menyuruhku kemari? Padahal disini hanya gelap dan sepi yang aku dapatkan. Aku berjalan perlahan menuju ruang latihan. Mataku benar-benar tak menangkap sinar sedikitpun. Semuanya begitu gelap.

 

Hyung..” Panggilku lirih.

 

Tak ada jawaban yang kudapatkan. Berusaha aku meraba-raba dinding mencari dimana saklar lampu berada.

 

Hyung..” Panggilku lagi.

 

Aku masih terus mencari saklar lampu. Namun tiba-tiba..

“TADA…..” seketika lampu menyala.

 

Terlihat Jaejoong hyung, Yoochunie, Junho, Yoohwan, Song Jihyo noona, manager kami, seluruh kru, seluruh pelatih dance, fashion stylish, hair stylish, make up artis, semuanya sudah berada dalam ruangan latihan itu.

 

Kulihat Jaejoong hyung tengah membawa sebuah kue ulang tahun yang cukup besar bewarna coklat dengan hiasan krim putih minimalis dengan beberapa buah ceri di atasnya. Sebuah lilin bertuliskan angka usiaku melengkapi kue itu. Kulihat juga Song Jihyo noona membawa kue dengan ukuran yang hampir sama, tapi kue yang ini terlihat lebih fresh dengan hiasan buah-buahan disana-sini dan beberapa batang lilin di atasnya.

 

Saat itu juga aku tahu kalau seharian ini aku sudah dikerjai oleh mereka semua…

“Hyaaaa…” Seruku pada mereka semua.

 

Mereka tertawa dan mendekatiku. Dinyanyikannyalah lagu ulang tahun yang membuatku sangat bahagia.

 

Saengil chukae hamnida~

Saengil chukae hamnida~

Saranghae neun uri Junsu..

Saengil chukae hamnida..

 

“Tiup lilinnya Junsuie..” Ucap Yoochun padaku.

“Nae.. Tiup lilinnya..” Sahut Junho saudara kembarku.

 

Kemudian mereka menyanyi sebuah lagu lagi bersama.

 

Tiup lilinnya..

Tiup lilinnya..

Tiup lilinnya sekarang juga..

Sekarang juga..

Sekarang juga..

 

Kemudian dibawanya kue-kue ulang tahun itu di depanku..

“Ayoo tiup Junsuie.. Junhoah” Ucap Jaejoong hyung pada kami berdua.

 

“Ayo Junho,kita meniup bersama..” Ajakku pada saudara kembarku itu.

“Nae..” Sahutnya sambil lebih mendekat pada kue.

 

1.. 2.. 3..

 

Fyuuuhhhhh…

 

Semua lilin yang nyala langsung padam dalam sekali tiupan kami.

 

“Yeayyyyyy!!!!!” Seru semuanya.

 

Gomawo yorobeun..” Seruku bahagia.

Kupeluk Junho erat. “Saengil chukkae Junsu..” Ucapnya padaku.

Gomawo saudara kembarku. Saengil chukkae juga untukmu..” Sahutku.

 

Ganti kupeluk erat Yoochun dan dia pun juga mengucapkan selamat padaku.

Happy b’day Xiah Junsu..” Serunya..

“Gomawo Micky Yoochun..” Sahutku.

 

Kemudian berpindah kupeluk lebih erat lagi Jaejoong hyung.

Happy b’day anak ceroboh dan sombong..” Ucapnya menyindirku.

“Hyaaa..!! Jadi kejadian sore tadi hanya.. ” Belum selesai aku bicara.

“Andwe itu benar. Aku benar-benar marah padamu, gara-gara kau terlambat sampai 4 jam. Bayangkan saja 4jam!! Mana mungkin aku tidak marah.. Hanya saja…” dia berhenti sejenak, “Hanya saja marahku aku hiperbolakan saja. Hahaha..” Serunya bahagia.

 

“Dan kau tahu, betapa susahnya kami menahan tawa kami ketika melihat ekspresi ketakutanmu tadi sore itu.. pffffft…” Sahut Yoochun.

“Dan ekspresinya ketika kita pojokan benar-benar lucu sekaliiii..” Seru Jaejoong hyung lagi.

“Benar, benar.. Benar sekali..” Seru yang lain.

 

Mereka semuapun tertawa terbahak-bahak bahagia melihat penderitaanku tadi sore..

 

Hahahahaaaa..

 

“Wahh.. Sayang sekali aku tak ada di lokasi..” Seru noona Jihyo menimpali.

“Hyaaa! Kalian ini…” Seruku tak terima.

“Sudahlah.. Sini aku peluk.. Happy b’day uri Junsuie..” Seru Jihyo noona.

 

Kubalas pelukan Jihyo noona yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri itu. Tak lupa kupeluk juga Yoohwan, manager, para kru dan lainnya. Tak bisa kubendung perasaan bahagia ini. Aku tersenyum sepanjang waktu. Kupotong kue dan kubagikan kue itu kepada semuanya. Semua orang melahapnya sambil menertawai kejadian sore tadi yang benar-benar menjengkelkan jika aku mengingatnya.

 

“Kau tahu, ini semua ide Jaejoong hyung.” Kata Yoochun sambil melahap kuenya.

 

Jeongmal?? Aku sudah curiga siapa otak di balik ini semua.. Tapi gomawo, hyung..” Ucapku pada Jaejoong hyung.

 

“Tidak apa-apa.. Traktir kami makan sepuasnya di restoran mahal saja setelah ini, sebagai gantinya.” Jawabnya sambil tersenyum ke arah Yoochun.

“Nae.. Tentu..” Sahutku polos.

 

Kami semuapun melanjutkan menikmati kue ini dalam suka cita..

 

 

===Tak Berapa Lama Kemudian===

 

Setelah beberapa saat orang-orang menikmati kue ulang tahunku sambil berbincang-bincang di ruangan latihan, merekapun mulai pulang satu demi satu ke rumahnya masing-masing. Hingga yang tersisa tinggalah aku, Yoochun, Jaejoong hyung, Junho, Yoohwan, dan Jihyo noona.

 

“Ayo kita makan-makan sekarang..” Seruku antusias.

Nae.. Ayo..” Seru Song Jihyo noona juga tak kalah antusias.

 

Namun tetapi….

 

“Mmmm…” Kulihat Jaejoong hyung menatap aneh pada Yoochun kali ini.

“Mmmmmm…” Yoochun juga balik menatapnya penuh arti.

 

“Bagaimana Chunnie-ah??” Tanya Jaejoong hyung pada Yoochun.

 

“Begini saja, Song Jihyo noona berangkat dulu dengan Junho dan Yoohwan ke restauran. Pesankan tempat yang nyaman dan bagus. Kita akan menyusul kesana secepatnya.” Ucap Yoochun yang membuatku bingung.

 

Mwo?” Jihyo noona juga terlihat bingung.

 

Terlihat Jaejoong hyung menatap lekat Junho dan Yoohwan, hingga kemudian..

“Ayoo Jihyo noona.. Tidak apa-apa kita berangkat dulu saja.” Sahut Junho cepat.

“Iya ayoo..” Seru adik Yoochun juga.

“Lho kenapa??” Tanyanya semakin bingung.

 

Kini Yoochun ganti menatap penuh arti pada Jihyo noona seakan memberi isyarat-isyarat melalui telepati.

 

“Oooo… Arasho.. Oke.. Baiklah..” Sahutnya sambil tersenyum, “Kalian cepat menyusul yaaa..” Ucapnya sambil menarik Junho dan Yoohwan. Mereka bertigapun melangkah pergi meninggalkan kami bertiga, hingga hilanglah mereka dibalik pintu.

 

“Memangnya ada apa? Kenapa mereka harus berangkat lebih dulu?” Tanyaku pada mereka berdua.

 

“Mmmm…” Gumam Yoochun sambil lagi-lagi menatap Jaejoong hyung penuh arti.

“Mmmm.. Kami ada hadiah spesial untukmu..” Ucap Jaejoong hyung sambil tersenyum aneh.

 

Jeongmal??” Tanyaku terkejut sekaligus bingung.

 

Nae.. Sebentar ya..” Jawab Jaejoong hyung. “Suruh masuk, Yoochun-ah..” Perintahnya pada Yoochun.

Mwo? Suruh masuk? Siapa??” Tanyaku makin tak mengerti.

“Baiklah..” Sahut Yoochun sambil berjalan keluar ruangan.

 

Dia tak terlihat selama beberapa saat. Menghilanglah dia dibalik dinding. Sekilas kudengar dia tengah bercakap-cakap dengan seseorang di luar sana. Terdengar pula suara namja yang sedikit asing, namun… sepertinya aku sedikit mengenal suara itu.

 

Bicara dengan siapa memangnya dia?? Apa yang mereka bicarakan tidak terlalu jelas.

 

Tak lama kemudian Yoochun pun kembali muncul di depan pintu. Sebuah senyuman mencurigakan terkembang dibibirnya.

 

“Ha? Apa? Siapa? Kau bicara dengan siapa?” Tanyaku yang sudah sangat penasaran ini.

 

Kulihat Yoochun masih tersenyum di pintu sana. Beralih kali ini kutatap Jaejoong hyung. Dia juga sama saja masih tersenyum-tersenyum mencurigakan.

 

“Masuklah hubby..” Seru Jaejoong hyung yang membuatku sudah berada di titik penasaranku.

 

Mwo??” Tanyaku.

 

Kembali mataku tertuju pada pintu ruangan itu dan tiba-tiba kulihat seorang namja muncul di belakang Yoochun. Wajahnya benar-benar tak asing lagi bagiku. Dan tak lama kemudian seorang namja lebih muda ikut muncul dari balik dinding.

 

“Hwaaa…. Yunho hyunggggg… Changminnieeeee….” Pekikku sekeras-kerasnya.

 

Ya, kedua namja dibelakang Yoochun adalah Yunho hyung dan Changmin. Sudah lama rasanya aku tak berjumpa dengan mereka. Aku ingin bertemu dengan mereka sejak dulu. Tapi aku tak mau mempersulit keadaan mereka berdua. Mungkin tak apa-apa bagiku untuk bertemu mereka. Tapi tidak bagi mereka. SM benar-benar melarang mereka berhubungan dengan kami lagi. Tanpa sadar air mata menetes dari sudut mataku. Kudengar mereka berdua mulai menyanyikan lagu Saengil Chukae untukku dengan Yunho hyung membawa sepotong rainbow cake dan Changmin membawa sebuah kotak kado besar. Dinyanyikannya lagu itu dengan ritme yang lebih lambat. Suara mereka terdengar bergetar.

 

Saengil chukae… hamnida~

Saengil chukae… hamnida~

 

Lagunya terpotong. Kulihat mata Yunho hyung mulai berkaca-kaca, begitu juga dengan Changmin. Kemudian dilanjutkannya lagu itu sambil berjalan mendekatiku.

 

Sarang..hae….neun.. uri Junsu..

Nyanyinya lagi yang semakin membuat hatiku terenyuh bahagia.

 

Dan ketika mereka sudah berada di depanku, Saengil chukae….. hamnida…..

 

Air mata sudah benar-benar membasahi wajahku. Sungguh aku merasa malu terlihat sisi lemahku ini di hadapan mereka semua. Aku ingin tak menangis, tapi hal ini terlalu membahagiakan untuk disembunyikan perasaan bahagiaku itu. Ditepuknya punggungku pelan oleh Jaejoong hyung.

 

Saengil chukkaeyo uri dolphin.” Ucap Yunho hyung masih dengan suara yang bergetar, “Jangan menangis. Ayo tiup lilinnya.”

“Iya hyung.. Ayo tiup lilinnya.” Seru Changmin juga.

 

Kutatap wajah kedua namja yang sangat aku sayangi ini. Aku benar-benar rindu pada mereka. Kutatap sekilas wajah Jaejoong hyung dan Yoochun. Mereka berdua mengangguk pelan dan tersenyum hangat kepadaku seakan ikut menyuruhku meniup lilin itu. Akhirnya kutiup lilin itu..

 

1.. 2.. 3..

Fyuhhhhh..

 

Padamlah api lilin itu dan berganti dengan asap-asap putih yang berterbangan.

 

“Yunho hyunggggg…” Seruku sambil memeluknya erat dan tak peduli dengan kue yang tengah dia bawa. Sudah tak tahan aku untuk memeluknya. Kutarik juga Changmin mendekat, sehingga kami jadi berpelukan bertiga.

 

“Aku merindukan kalian berduaaaa..” Seruku terisak-isak.

“Aku juga merindukan kalian..” Ucap Yunho hyung diikuti Yoochun yang ikut berpelukan dengan kami.

 

Jaejoong hyung pun merenggangkan tangannya lebar-lebar dan ikut memeluk kami semua. Akhirnya kamipun berpelukan bersama berlima. Emosi kami benar-benar sudah tak tertahankan lagi. Tak ada satupun dari kami yang tak menitikan air mata.

 

Aku ingin berkata bahwa aku sangat-sangat bahagia kita berlima bisa berkumpul bersama seperti ini di hari yang begitu special ini.

Aku ingin berkata bahwa aku sangat bahagia kita bisa berpelukan bersama seperti ini.

Aku ingin berkata bahwa aku mencintai mereka semua sampai kapanpun.

Namun, hanya isakan tangis bahagia yang keluar dari bibirku.

Kami sama-sama tak sanggup berkata-kata lagi. Kami terdiam, berpelukan erat satu sama lain.

 

Biarkan kami seperti ini. Rasanya tak ingin kami cepat-cepat melepaskan pelukan yang indah ini selamanya..

 

 

===Beberapa Saat Kemudian===

 

Di restauran..

 

Kami berdelapan duduk bersama di salah satu pojok eksklusif restauran khas Korea yang terkenal di Seoul ini. Aku duduk di sebelah Junho, kemudian Yoohwan disamping Yoochun. Di hadapanku Yunho hyung dan Jaejoong hyung, serta di disampingnya Changmin dan Jihyo noona. Kami berdelapan menunggu makanan yang dipesan datang dengan mengobrol bersama.

 

“Oya.. sampai lupa ini hadiah yang kami siapkan untuk-mu.” Ucap Yunho hyung padaku sambil menyerahkan kotak besar yang semula di bawa oleh Changmin.

“Wahhh.. ini dari kalian Yunho hyung dan Changmin?” tanyaku sambil menerima kotak itu.

Nae.. Aku dan Changmin mengelilingi kota Seoul untuk mencari hadiah ini. Tapi kami bingung untuk memberi kado apa. Jadi kami hanya bisa memberi kado kecil itu.” kata Yunho hyung merendah.

“Ahhh.. Yunho hyung.. Changminnie.. Apapun hadiah kalian aku senang menerimanya. Kalian datang saja aku sudah sangat senang..” seruku sambil membuka kado itu.

 

Setelah kertas kado kubuka, kotak pembungkus kubuka, dan ternyata yang kudapatkan adalah….

“Hwaaa….. boneka??” pekikku tak percaya..

 

Semua tertawa melihat hadiah yang Yunho hyung dan Changmin berikan tak terkecuali mereka berdua.

 

“Bebek berkantong?? Hahaha… Kau pikir aku anak kecil perempuan?? Hahaha..” aku ikut tertawa geli dan memeluk boneka itu erat,

“Jangan geli dulu kau hyung, coba check kantong bebek itu..” seru Changmin.

 

Mwo?? Ada apanya?” tanyaku kaget.

Kuraih kantong boneka bebek itu dan kurogoh ke dalamnya. Kurasakan sesuatu benda tipis seperti kertas berada di dalamnya.

 

“Apa ini??” tanyaku belum berani mengambil benda itu dan mengeluarkan kembali tanganku.

“Ambil saja..” ucap Yoochun.

 

Lalu kumasukan lagi tanganku dan menarik sesuatu itu keluar. Kudapatkan sebuah amplop di dalam kantong boneka bebek itu. Kubuka amplop itu dan kudapatkan lima tiket perjalanan ke….

 

Ke mana ini??

Kukucek-kucek mataku..

 

Benarkah??

 

“Apa ini??” tanyaku tak percaya.

 

“Itu hadiah dari kami berempat untukmu Xiah Junsu.. Perjalanan liburan selama seminggu di pulau Bali..” jawab Jaejoong hyung sambil tersenyum.

“Aku yang mengusulkan kita kesana hyung..” seru Changmin.

 

Mwo?? Liburan?? Ke Bali?? Indonesia?? Jeongmal?” Tanyaku antusias.

Nae.. Kami bingung mau memberi apa.. Semuanya pasti sudah kau punya. Bahkan sebetulnya untuk pergi ke Bali, kau pasti sanggup. Tapi mungkin yang tak bisa kau beli adalah liburan itu akan kita lakukan berlima.” jelas Jaejoong hyung.

Nae.. Benar sekali. Kapan lagi kita bisa liburan bersama?” Sahut Yoochun.

 

“Lalu bagaimana dengan…” Belum selesai aku bicara.

“Tenanglah.. Dia tak akan bisa berbuat apa-apa.” Jawab Yunho hyung cepat seakan tahu apa yang aku maksud adalah SM.

 

“Benar tidak apa-apa?” Tanyaku lagi.

Nae.. Tenanglah.. Kita sudah mengaturnya baik-baik..” Sahut Jaejoong hyung.

 

“Mengatur??” Tanyaku bingung.

“Sudahlah.. Nanti aku ceritakan..” Jawab Jaejoong hyung.

“Ohh.. nae baiklah..” ucapku menjadi tenang.

 

Junho, Yoohwan dan Jihyo noona juga memberiku hadiah yang luar biasa yang mungkin aku sanggup membelinya sendiri. Namun hadiah-hadiah itu terasa begitu spesial ketika mereka yang memberikannya untukku.

Gomawoyo semuanya… Gomawoyo.. Jeongmal gomawoyo.. Aku senang sekali malam ini..” Ucapku pada mereka semua.

 

Beberapa saat kemudian datanglah pelayan-pelayan yang membawa makanan pesanan kami. Semua makanan yang spesial dihidangkan di depan kami. Tanpa menunggu lebih lama lagi, kamipun mulai menyantap makanan itu tentu dengan bercanda dan mengobrol bersama sepanjang malam.

 

Apalagi yang lebih indah selain berkumpul dengan semua member, saudara dan teman dekat di acara ulang tahunku?

 

This is it..

Terima Kasih Tuhan..

Kau telah memberiku hadiah ulang tahun yang sangat luar biasa yang sangat aku harapkan selama ini..

 

Always keep the faith..

 

 

END

 

Tadaaaa~~~

Happy Birthday Junsu Oppa yang ke 25th (Indonesia) / 26th (Korea)….

Semoga Junsu oppa tambah sukses, panjang umur, sehat selalu, tambah unyu, tambah cute, tambah keren, tambah duckbutt, tambah banyak mobilnya(?), tambah disayang sama smuanya…
Happy b’day juga buat Junho oppa..
sukses keduanya..
amin, GBU!

 

2011-11-16

Salam Yunjae!!

-Beth-

11 thoughts on “TADA (Special Xiah Birthday) – DB5K | @beth91191

  1. happy birthday junchan oppa (⌒˛⌒)

    kasian amat awalnya junchan oppa dikerjain tp gpplah akhir yg membahagiakan ^-^

  2. happy birthday junchan oppa (⌒˛⌒)

    kasian amat awalnya junchan oppa dikerjain tp gpplah akhir yg membahagiakan^_^

  3. aamiin,,*ngaminin doa author*,,tmbh duckbutt,tmbh bnyk mobilna*wkwk*,,,

    uhh umma kok menakutkan gtuu ssie,,*aq ja takut pa lagi dolphine*,,uhh bahagianaa DB5K,AKTF,,,

    uwwaa DBSK liburan ke balii??,,kapan?kapan??*mecah beruang-an buat bli tiket k bali*

  4. junchan’a d marahi abis”an kasian bgt
    tp ending’a mreka dpt brkmpul
    smoga itu bneran trjdi
    amin

  5. Saengil Chukae su oppa ^^

    I hope it’ll be come true
    Kangen banget ngeliat mereka b’5 lagi
    T.T

    Hadiah paling berharga banget bwt junsu klo bs kumpul b’5 lagi…apa lg bwt cassie >.<

  6. Sukses buat aku nangis kejer ‎​(-̩̩-̩̩-̩̩-̩̩__-̩̩-̩̩-̩̩-̩̩) ‎​(-̩̩-̩̩-̩̩-̩̩__-̩̩-̩̩-̩̩-̩̩)
    Huwaaaa~ bener2 kangen bgt sama masa2 mrk (˘̩̩̩_˘̩̩̩)
    Keren onn!! 대박!!

  7. AirmataQ menetes tanpa henti (╥﹏╥)
    Menahan kerinduan ýanƍ teramat sangat…andai benar seperti itu kejadiannya…bahagiaQ melihatnya…semoga impian semua cassie cepet terwujud
    Jeongmal bogoshipo OT5

    Suie…akhirnya harapanmu terwujud bisa ketemu yunpa and Minnie

  8. saengil chukkaehamnida uri junsu.,
    hik..hik.. terharu aku pas HONIM dateng..
    ga nyangka aja mreka bsa hdir di HBd junchan tanpa ada gngguan dri si tuyul soeman..
    heheheeheheee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s