Vicious Jonquil 2 – The Apple of The Eye FULL NC 1/2 | @beth91191


Anyeonghaseyo reader2 yang sudah cukup umur… Ooopsss….

Mungkin saat ff ini dipublikasikan banyak teman2 lain yg belum bisa membacanya karena terbatasnya umur mereka.. Jadi beruntunglah chingudeul yang sudah cukup umur dan sudah mendatakan diri ini..

Oya.. masih inget Vicious Jonquil  nggak?? Terakhir Yunho-shi harus berpisah dengan si VJ gara2 si VJ harus melarikan diri dari serangan anak buahnya Yunho-shi..Sepertinya sejak kejadian malam itu, Yunho-shi telah kehilangan barang berharganya, bukan hanya the Rubby nya yang hilang tapi juga hatinya lah yang ikut hilang bersama dengan hilangnya Vicious Jonquil..

Dan FF ini adalah sekuelnya Vicious Jonquil -The Haughtiness in a Blaze..

Silakan komen agar ada sekuel nya lagi yaa.. hahaha #kaburrrrrrr

Yuk langsung baca ajaa…

VICIOUS JONQUIL 2 – YUNJAE – 21+

 

Title        : Vicious Jonquil

Author   : Beth

Chapter : one shoot PART 1

Genre    : Romance, Action, Yaoi

Rate       : 21+

 

 

[Yunho pov]

 

Sudah hampir dua bulan ini aku mencari keberadaannya, tapi hasilnya nihil. Jejaknya terlalu sulit untuk dilacak. Bantuan dari kepolisian, mata-mata, detektif hingga seseorang yang biasa melakukan pembunuhan bayaran dari berbagai negarapun, tak berbuahkan apa-apa. Mereka hanya memberikan berita kosong dan sampah. Aku benar-benar nyaris menyerah untuk menemukannya. Hampir setiap saat aku memikirkannya. Hampir setiap malam aku memimpikannya. Hampir seluruh pikiranku terkuras untuknya. Aku ingin berhenti memikirkannya, seseorang yang tak lebih dari 30 menit menghabiskan waktu bersamaku itu. Tapi entah mengapa semakin aku berusaha melupakannya semakin aku ingin bertemu dengannya. Bibirnya, matanya, wajahnya, senyumannya, suaranya, sentuhannya, tubuhnya, ahhhh… Damn!! Aku benar-benar tergila-gila padanya. Namja cantik yang telah mencuri the Ruby milikku sekaligus hatiku.

Kududuk terdiam menatap keluar. Walau diluar sudahlah cukup larut malam, tapi masih bisa kulihat pepohanan yang mulai tumbuh pucuk-pucuk dahannya. Bisa kurasakan musim semi sudah di depan mata. Udara masih terasa sedikit dingin tapi tidak sedingin di saat musim dingin. Rasa kesejukan dari musim dingin masih tersisa malam ini. Kupandangi dan kubelai-belai syal merah muda yang ada di tanganku ini. Berkali-kali kubuang nafas ketika merasa begitu gelisah tak kunjung juga bertemu dengannya. Seorang Jung Yunho, pemilik Jung Corporation yang terhormat dan disegani semua orang, bisa dengan mudahnya ditundukan oleh seorang pencuri kecil. Kecil bukan dalam arti pencuri kelas teri atau amatiran, melainkan kecil dalam arti sebenarnya, kecil dalam arti memang pencuri yang satu ini berpawakan kecil. Kecil dan cantik. Cantik sekali..

Kudengarkan sayup-sayup berita di TV mengenai the Ruby yang lagi-lagi hilang di belahan bumi lain. Sudah hampir seminggu ini, semua stasiun TV terus mengekspos cerita tentang pencurian the Ruby yang dilakukan olehnya. Mereka hanya memberitakan mengenai pemilik the Ruby, saksi mata, lokasi pencurian dan lain sebagainya tanpa memberi informasi yang berhubungan dengan keberadaan pencuri berdarah dingin itu. Sudah bosan rasanya mendengar berita yang sama diulang-ulang terus dan terus. Para wartawan pun tak sanggup menguak berita lebih lanjut mengenai Vicious Jonquil. Bahkan foto pun tak berhasil mereka dapatkan. Benar-benar penjahat yang seperti angin, bagi mereka. Tak bisa diraba, tak bisa dilihat, tetapi hanya bisa dirasakan. Namun bagiku dia tidaklah seperti angin, karena aku bisa merabanya, melihatnya dan yang pasti merasakannya.

Ahhhh…

Jaejoong..

Kim Jaejoong..

Jika aku berhasil menemukanmu, aku tak akan melepaskanmu kembali. Kau terlalu berharga untuk tak dimiliki. Aku ingin memilikimu seutuhnya, menjadi milikku satu-satunya, menjadi milikku Jung Yunho selama-lamanya.

TOK.. TOK.. TOK..

Kudengar pintu ruangan kerjaku diketuk.

“Masuk..” ucapku masih terduduk menatap keluar.

Pintu terbuka dan..

“Permisi Tuan.” Ucap asistenku yang belum juga pulang karena menungguku hingga aku pulang.

“Ada apa?” tanyaku sambil menatapnya sekilas dan kembali fokus pada pemandangan diluar.

“Saya sudah mendapatkan berita tentang keberadaan Vicious Jonquil dari FBI.” Ucapnya yang membuatku seketika terperanjat.

Kutatap kembali wajah asistenku itu. Kucari keseriusan dari kata-kata yang baru saja dia ucapkan.

“Benarkah apa yang kau katakan?? Benarkah keberadaannya sudah ditemukan?? Cepat katakan dimana dia? Di negara mana dia saat ini, setelah melakukan pencurian di Manhattan minggu lalu itu?? Cepat katakan..” sahutku gusar.

“Benar Tuan. FBI mengabarkan dia berada di Jepang saat ini, di sebuah rumah yang tidak diketahui secara pasti siapa pemiliknya. Mereka berhasil melacak letak rumah tersebut dan telah memberitahukannya pada pihak kita. Saat ini saya sudah memegang lokasi penjahat itu, Tuan.” Jawabnya.

“Kalau begitu segera atur keberangkatanku untuk ke Jepang besok. Siapkan tiket penerbangan paling awal yang bisa aku gunakan. Aku sudah sangat tak sabar untuk bertemu dengannya.” Ucapku sambil menggenggam erat syal merah muda ini.

“Tapi..” ucapnya terhenti.

“Tapi apa??” tanyaku.

“Tapi Tuan.. Masalahnya..” ucapnya terhenti kembali.

“Apa masalahnya? Cepat katakan..” sahutku.

“Tapi FBI akan melakukan penggerebekan di rumah itu tepat tengah malam nanti. Penerbangan terawal yang ada esok pagi adalah jam 6 pagi. Sedangkan penerbangan terakhir untuk hari ini sudah berangkat sekitar 20 menit yang lalu.” Jawabnya.

“Apa?? Pabo…!!!” teriakku keras sambil memukul meja.

“Maaf Tuan..” jawabnya terlihat ketakutan.

“Kenapa kau baru mengatakannya sekarang??? Sekarang, saat penggerebekan itu akan dilakukan?? DAMN!!!!” umpatku pada asisten bodohku itu.

“Maafkan saya Tuan. FBI sendiri baru mengetahuinya dan langsung memberikan kabar pada saya beberapa menit yang lalu. Ketika mendengar berita itu saya langsung mengecek keberangkatan pesawat dan melapor pada Anda.” Jawabnya.

Aku berusaha untuk tidak larut dalam emosi. Sejenak aku terdiam dan berusaha berpikir..

“Kalau begitu cepat siapkan pesawat jet tercepat yang bisa tiba di Jepang secepat mungkin. Aku harus mendahului para FBI tiba di rumahnya dan membawanya ke tempat yang aman. Cepat siapkan sekarang juga..” Perintahku pada asistenku.

“Baiklah Tuan..” ucapnya sambil segera keluar.

Kulihat jam yang menempel di dinding. Jarum pendek sudah menunjukan angka sepuluh dan jarum panjangnya berada di angka tiga. Kugenggam erat-erat syal merah muda yang sedari tadi aku bawa sambil berusaha mengingat wajahnya. Tak pernah lepas aku dari syal merah muda miliknya ini. Aku pasti membawanya kemanapun aku pergi. Ini adalah barang satu-satunya yang bisa membuatku sedikit tenang ketika aku sudah sangat gelisah karena tak juga bertemu dengannya.

Jaejoong tenanglah.. Aku akan menyelamatkanmu dari FBI itu. Tak akan kubiarkan pencuri hatiku tertangkap polisi. Tak kubiarkan kau terluka. Apapun yang terjadi, aku akan melindungimu. Aku benar-benar sudah gila hingga sampai berusaha menyelamatkanmu, buronan nomer satu Internasional. Aku benar-benar tergila-gila padamu, Vicious Jonquil ku.

-oOo-

[Jaejoong pov]

Kring.. kring…

Teleponku berbunyi. Baru saja aku berhasil memejamkan mata, tapi mengapa ada yang mengangguku malam-malam begini. Aku benar-benar lelah beberapa hari ini kurang tidur karena memikirkan pencurian ke-delapan yang akan aku lakukan di Yokohama Jepang. Sebetulnya aku ingin mengambil istirahat sejenak setelah pencurian The Ruby yang baru saja aku lakukan dengan sukses di Manhattan minggu lalu, tapi sepertinya cukup rasanya membuang-buang waktu terus-menerus. Aku harus mendapatkan kesembilan The Ruby secepatnya. Sebelum semuanya terlambat. Aku tak yakin ada banyak waktu tersisa lagi. Kuberusaha meraih gagang telepon dan kuangkat teleponku sambil mengenali siapa yang menelepon hampir tengah malam ini..

 

“Yabuseyo..” suara dari seberang sana.

Sepertinya aku tahu siapa orang ini.

“Yabuseyo hyung..” sahutku.

Sapa ku pada namja yang sudah hampir seperemat abad bekerja di keluargaku. Orang tua nya adalah orang kepercayaan keluargaku. Sejak aku lahir aku sudah sering bermain dengannya. Bisa dibilang aku sudah menganggapnya sebagai hyungku sendiri.

“Maaf Tuan malam-malam saya menghubungi.” Ucapnya.

“Ada apa?” tanyaku sambil berusaha bangkit dari tempat tidur dan mengambil kacamataku.

Sebetulnya aku tidak begitu suka menggunakan kacamata, aku lebih suka memakai lensa kontak, tapi berhubung belakangan ini aku belum sempat membeli yang baru dan belum sempat memikirkan hal lain selain pencurian the Ruby, jadi kacamata adalah pilihan yang paling tepat. Aku pun berdiri dan melangkah hendak menutup tirai kamar yang ternyata belum ku tutup.

“FBI tuan..” ucapnya terputus yang membuat langkahku ikut terhenti. “FBI sudah mengetahui lokasi Anda saat ini Tuan. Maaf saya baru mengetahuinya. Benar-benar saya mohon maaf Tuan.. Mata-mata kita di FBI baru saja tahu dan langsung menghubungi saya. Apa yang bisa saya lakukan Tuan? Apa?  Seharusnya Tuan jangan menolak ketika saya menawarkan bodyguard untuk Anda. Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang Tuan?” ucapnya gelisah.

Aku terdiam sejenak.. Berpikir.. Dan kemudian..

“Tenanglah.. Aku akan baik-baik saja. Kapan mereka akan bergerak?” tanyaku dengan tenang.

“Tengah malam Tuan. Aishhhh… Pabo nya saya.. Saya benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa. Maafkan saya Tuan. Saya sudah mengirim beberapa orang dengan pesawat jet, sesaat yang lalu saat saya baru tahu FBI akan segera melakukan penangkapan malam ini. Tapi secepat-cepatnya pesawat yang digunakan, sepertinya sudah terlambat. Sekarang saja sudah hampir tengah malam. Maafkan saya Tuan.. Maafkan saya..” ucapnya merasa bersalah.

“Tenanglah hyung.. Tenanglah.. Kau tidak salah. Kau sudah melakukan tugasmu dengan sangat baik.” Ucapku terputus ketika mendengar suara dari arah ruang tengah.

KREEKKK..

“Nanti kuhubungi lagi.” Ucapku sambil menutup telepon cepat-cepat.

KREEKKK.. KREEKKK..

Kudengar dengan cukup jelas bahwa ada suara dari luar kamarku. Kulihat jam yang menempel di dinding. Omo.. Sudah hampir tengah malam. Apakah suara itu adalah FBI?? Aku benar-benar terlambat. Dengan cepat ku ambil pistolku yang aku simpan di bawah bantal. Kuisi pelurunya dan ku tarik bidiknya. Aku bersembunyi di balik pintu dan bersiap menembak jika FBI itu masuk. Kudengar suara langkah kaki mendekat ke pintu kamarku. Jantungku berdetak cepat saat ini. Aku benar-benar kecolongan. Aku belum sempat memikirkan jalan untuk melarikan diri. Kesadaranku belum kembali seutuhnya, rasa lelah membuyarkan kewaspadaanku.

Gagang pintu kamarku bergerak ke bawah. Perlahan tapi pasti pintu terbuka. Bersiap-siap aku melakukan penyerangan dengan kesadaran yang belum berhasil aku kumpulkan sepenuhnya. Pintu terbuka sedikit demi sedikit. Aku benar-benar siap menembak. Dengan cepat kumuncul dari balik pintu dan mengarahkan pistolku pada orang itu hingga nyaris kutarik pelatuknya. Namun dengan cepat kuurungkan niatku ketika melihat siapa yang ada di depanku.

“Jung Yunho..” ucapku lirih.

“Malam cantik..” ucapnya sambil tersenyum yang seketika membuat lututku tiba-tiba melemas.

Aku sudah sangat takut sekali kalau-kalau yang masuk ke dalam rumahku ini adalah FBI. Untunglah FBI belum datang. Untunglah dia yang datang. Aku terjatuh kelantai dengan indahnya. Pistol yang sedari tadi kupegang kuat terlepas begitu saja dari tanganku.

Yunho tampak terkejut melihat reaksiku ketika melihatnya.

“Kau tidak apa-apa Jae..” ucapnya sambil memegang kedua lenganku dan berusaha menatap wajahku yang tertunduk lemah.

“Aku kira kau FBI.” Ucapku pelan.

“Tidak. Aku kemari secepat mungkin untuk menyelamatkanmu. Aku takut kau tidak tahu mengenai penggerebakan ini. Ternyata kau tahu. Tapi beruntung aku berhasil mendahului FBI dan mendahului sebelum kau pergi. Sehingga aku bisa bertemu denganmu. Dan berdasarkan informasi dari FBI sendiri, mereka saat ini sudah mengarah ke rumah ini. Jadi sebaiknya kita segera pergi dari sini.” Ucapnya padaku.

“Benarkah?” sahutku sambil berusaha menatap wajahnya.

“Cepatlah Jae.. Tak banyak waktu tersisa.” Ucapnya sambil menyentuh pipiku.

Seketika kudapatkan kesadaranku kembali. Aku berusaha bangkit dan dia membantuku untuk berdiri. Dengan susah payah karena kaki yang masih terasa lemah, akhirnya akupun berdiri.

“Aku harus mengilangkan jejakku. Tak boleh ada satupun bukti boleh yang mereka temukan.” Ucapku sambil mulai berjalan mendekati tasku.

Kuambil barang-barang yang sekiranya aku butuhkan. Kuambil berkas-berkas, kertas-kertas, foto-foto, laptop kesayanganku, gadget-gadgetku dan lain sebagainya yang berhubungan dengan misi pencurianku selama ini. Kuambil beberapa senjataku yang tak mungkin aku tinggalkan. Kuambil kunci mobilku walaupun sebenarnya mobilku tengah kuparkir di tempat lain. Kuambil semua barang penting yang mampu aku ingat.

“Ayo cepat kita pergi. Kau kemari naik apa?” tanyaku sambil berjalan mendahuluinya.

“Mobilku ada di belakang rumahmu. Aku tadi masuk lewat belakang.” Jawabnya cepat.

“Baguslah kalau begitu. Bawalah aku pergi dari tempat ini.” Ucapku sambil berjalan menuju pintu keluar.

Dia berusaha menyamai kecepatan langkahku dan ditariknya tanganku tiba-tiba untuk menghentikanku.

“Ada apa??” tanyaku sambil menatapnya tajam.

“Bagaimana dengan pakaianmu, sidik jarimu, helaian rambutmu, dan mungkin barang-barang lain yang bisa mengacu padamu. Benar katamu, kita harus menghilangkan jejakmu. Aku tak mau mereka mengenali siapa Vicious Jonquil yang sebenarnya dan akhirnya identitas aslimu akan menjadi target pencarian seluruh dunia. Kau tak akan bisa hidup tenang jika mereka sampai tahu siapa kau sebenarnya.” Ucapnya yang terlihat khawatir padaku.

Aku berusaha tersenyum untuk menenangkannya.

“Tenanglah Jung Yunho. Aku tak bodoh.” Ucapku sambil balik meraih tangannya dan menariknya untuk keluar dari dalam rumahku.

Kutarik dia melalui pintu pagar bagian belakang, hingga tibalah kami di depan mobilnya.

“Ayo kita berangkat sekarang ,aku takut tak banyak yang tersisa. Aku takut mereka keburu datang.” Ucapku sambil masuk ke dalam mobil.

Dia masih belum mengerti dengan tindakanku. Dengan wajah yang masih ragu, dia ikut masuk ke dalam.

“Lalu bagaimana dengan semua barang bukti yang masih ada di dalam rumahmu?” tanyanya khawatir.

Lagi-lagi aku tersenyum melihat ekspresi wajahnya yang sebegitu khawatir denganku.

“Tenanglah Jung Yunho.” Ucapku sambil menatapnya sejenak dan kemudian menatap ke rumahku.

Kuamati baik-baik rumah itu. Rumah yang baru saja aku beli atas nama palsuku, Vicious Jonquil , tanpa memberikan identitas asliku dalam transaksi dan pengurusan suratnya. Kurogoh celanaku dan kudapatkan kunci mobilku. Kubalik kunci itu dan kudapati bagian rahasia dari kunci mobilku. Ini bukanlah kunci biasa. Ini adalah kunci ajaib. Kudorong penutupnya hingga terlihat sebuah tombol kecil di dalamnya. Kutatap kembali wajah Jung Yunho yang sepertinya mulai mengerti dengan apa yang kumaksud ‘aku tidaklah bodoh’. Kulihat dia menyalakan mesinnya dan memundurkan mobilnya terus hingga keluar ke jalanan. Setelah kami tiba di jalan. Kutatap rumah itu untuk terakhir kalinya. Kemudian kembali ku tatap wajah Yunho dan ku anggukan kepalaku seakan memberi isyarat menyetujui sesuatu. Yunhopun menekan gas dan mobilnya pun melaju melesat dengan cepat. Bersamaan dengan jarak kami yang sudah cukup aman dengan rumah itu, kutekan tombol kecil di kunci mobil yang aku bawa itu dan kemudian..

BOOOMMMMMMM…..

Dengan kerennya bak di film-film, mobil kami melesat, meninggalkan rumah yang terbakar dalam api yang membara-bara. Rumah yang baru saja kami tinggalkan sudah terbakar dengan dahsyatnya. Aku memang sudah memasang beberapa bom di beberapa spot di dalam rumahku yang apabila kutekan pemicunya akan segera menyala dan membakar apa yang ada di dekatnya. Dengan rumah yang berbahan kayu akan membuatnya cepat tersambar api dan ikut terbakar bersama yang lain. Dengan jumlah titik api yang aku buat cukup banyak, aku yakin rumah itu akan hangus dalam waktu kurang dari 15 menit. Aku berani bertaruh, rumah itu akan hancur lebur sebelum mereka berhasil memadamkannya.

Semua rumah yang kutempati selalu ku pasang bom yang dapat meledak dengan hanya menekan sebuah pemicu yang aku bawa-bawa kemana-mana ini. Pemicu kecil yang mana bergabung dengan kunci mobil yang tidak akan bisa diketahui oleh orang lain bahwa barang ini sangatlah berbahaya. Dengan begitu segala bukti yang ada di rumah itu, telah dilenyapkan. Seperti yang aku katakan, aku bukanlah orang bodoh. Aku sudah memikirkan segala hal dengan teliti. Hanya saja aku hampir saja kecolongan ketika nyaris terlambat mengetahui FBI yang akan melakukan penggerebekan sesaat lagi.

Lalu mengapa Jung Yunho perlu jauh-jauh kemari untuk menyelamatkanku? Mengapa dia bisa menemukanku? Mengapa dia menemuiku setelah sekian lama aku sempat lupa padanya? Mengapa dia melakukan ini? Jujur kejadian malam itu memang suatu pengalaman yang luar biasa. Aku akui dia memang luar biasa, namja terhebat yang pernah kucoba. Tapi aku tak pernah berpikir akan bertemu lagi dengannya. Aku hanya menganggapnya one night stand belaka. Kupandangi wajahnya yang konsentrasi menyetir. Belum ada niatan untuk menanyakan hal itu padanya. Aku merasa begitu lelah dan mengantuk. Mataku terasa sangat berat. Hingga akhirnya akupun kehilangan kesadaranku dan pergi ke alam mimpi.

-oOo-

[Yunho pov]

 

Aku terus menyetir tanpa memikirkan kemana aku akan menuju. Yang ada di otakku adalah membawa Jaejoong sejauh mungkin dari tempat berbahaya dan menuju tempat yang aman. Aku tak tahu haru kemana.

“Jae.. Kau ingin aku antar kemana?” tanyaku sambil masih melihat ke jalan.

Tak ada jawaban.

“Jae..” panggilku padanya.

Belum juga ada jawaban. Kuberusaha melihat ke arahnya. Kudapati matanya terpejam dibalik kacamata yang tengah dia kenakan sedari tadi. Bibirnya mengatup kecil. Tangannya memeluk erat tas yang dibawanya. Ekspresi benar-benar seperti orang yang kelelahan. Tak sampai hati aku untuk membangunkannya.

Lalu harus kubawa kemana dia saat ini?

===BEBERAPA SAAT KEMUDIAN===

Tiba lah kami disebuah rumah vila sederhana di daerah pegunungan yang merupakan milikku. Sudah lama aku tak mengunjungi vila ini. Dulu aku suka sekali meluangkan waktu pergi kemari. Sekedar untuk mengistirahatkan tubuh dan menyegarkan pikiran. Beberapa tahun terakhir aku sangat sibuk untuk mengurus berbagai hal di kantor, hingga lupa bahwa aku memiliki tempat senyaman dan seindah ini. Vila kecil ini dikelilingi perkebunan dan persawahan. Letaknya yang berada di dataran tinggi membuat suhu disini terasa cukup dingin. Setelah kuparkirkan mobilku, kembali kutatap wajah namja cantik yang masih tertidur ini. Ingin rasanya aku membangunkannya tapi entah mengapa tak ada suara yang berhasil keluar dari bibirku. Aku tak ingin menganggunya tidur. Akupun memutuskan untuk keluar terlebih dahulu. Kuberjalan menuju pintunya dan kubuka perlahan agar ia tidak terbangun. Sejenak kupandang lagi wajahnya. Kumantapkan diriku bahwa tidak apa-apa jika aku melakukannya. Dengan hati-hati kuangkat tubuh nya yang terasa kecil bagiku. Kuangkat dengan perlahan. Benar-benar terasa ringan tubuhnya sesuai dengan dugaanku. Setelah kututup pintu mobil, kugendong dia menuju pintu utama. Dari kejauhan sudah kulihat ahjushi penjaga vila muncul dari balik pintu dan berjalan mendekatiku.

“Tuan Jung.. Anda kenapa tidak memberi tahu saya terlebih dahulu kalau akan kemari. Mari saya bantu membawa tasnya.” Ucap ahjushi sambil mengambil tas yang berada di tangan Jaejoong.

“Aku sebetulnya tidak merencanakan kemari ahjushi. Tapi berhubung tak ada tempat lain yang aman yang bisa aku tuju, maka akupun memutuskan untuk kemari.” Jawabku sambil membawanya masuk ke dalam.

Setibanya di dalam, kubawa dia ke kamar utama. Kulihat ahjushi sedang menyalakan perapian yang ada di dalam kamar itu dengan sigapnya. Kubaringkan tubuh Jaejoong dan kuselimuti dia.

“Maaf Tuan saya belum sempat menyiapkan apa-apa. Mungkin Tuan mau makan sesuatu yang hangat atau sesuatu yang lain. Saya akan menyiapkannya dengan cepat.” Ucapnya setelah menyalakan perapian.

“Tidak usah ahjushi. Kami sangat lelah. Jika aku perlu sesuatu aku akan membuatnya sendiri. Ahjushi tidur saja. Kami ingin istirahat dan tak ingin diganggu.” Ucapku sambil mengantar ahjushi itu keluar.

“Baiklah Tuan kalau begitu. Saya ada di rumah sebelah jika Tuan perlu apa-apa.” Jawabnya mengerti dengan maksudku.

“Oya ahjushi, aku minta jangan katakan siapa-siapa mengenai namja itu.” ucapku mengacu pada Jaejoong. “Pada siapapun termasuk istri dan anakmu.” tambahku mempertegas kata-kataku.

“Baiklah Tuan, saya mengerti. Sangat mengerti.” Jawabnya.

“Aku mempercayaimu ahjushi. Kau sudah bekerja padaku sejak lama.” Kataku ketika kami sudah sampai di depan pintu.

“Kalau begitu saya ijin ke rumah sebelah. Jika ada apa-apa, langsung hubungi saya saja.” Ucapnya.

“Ya..” sahutku singkat.

Setelah kulihat dia melangkah pergi menuju rumah kecil di samping yang masih sehalaman dengan rumah vila tempat aku berada, kututup pintu ini dan kembalilah aku menuju ke dalam kamar. Betapa kagetnya aku ketika melihat Jaejoong sudah beranjak dari tempat tidur dan tengah berdiri di depan jendela, menatap keluar. Perlahan kudekati dirinya. Kupeluk tubuhnya hangat dari belakang.

“Jung Yunho..” panggilnya.

“Hmm?” tanyaku.

“Gomawo..” ucapnya lirih.

“Nae..” sahutku dengan memeluknya kian erat.

“Kenapa kau melakukan semua ini? Kau tahu bahwa akan sangat berbahaya jika kau turut campur dalam masalah ini. Nama besar dan nama baikmu sebagai pemilik Jung Corp pun dipertaruhkan.” Ucapnya sambil berbalik ke arahku. “Kenapa?? Kenapa kau mencariku sampai jauh-jauh kemari? Kenapa kau repot-repot menyelamatkanku? Kenapa kau harus capek-capek melakukan semua ini??” tanyanya dengan menatap mataku tajam.

Sesaat aku terdiam, menatap matanya dalam.

“Entahlah.. Aku yang justru ingin bertanya padamu, kenapa kau terus berada disini?” tanyaku balik sambil meraih kedua tangannya dan meletakannya di dadaku. “Sedetikpun kau tak pernah pergi dari hatiku Jae.. Tersiksa rasanya aku ketika tak bertemu denganmu. Aku sendiri tak tahu apa yang aku lakukan. Yang pasti aku merindukanmu Jae..”

Matanya membulat indah saat ini, menatapku dengan menggemaskannya. Hatiku berdebar hanya dengan tatapannya saja.

“Jung Yunho..” desahnya pelan.

Perlahan kudekatkan wajahku dengan wajahnya. Kukecup bibir merahnya dengan lembut. Kembali kutatap wajahnya. Tampak semburat merah menghiasi pipi putihnya. Kubelai pipinya yang memerah itu. Hangat.. Lembut.. Seperti bantalan benang wol berkualitas tinggi.. Kuraih wajahnya dengan kedua tanganku. Mata kami saling menatap satu sama lain. Kembali kukecup bibirnya dengan lebih dalam. Kudapati perasaan bahagia dihati ini bisa kembali merasakan bibir manisnya. Setelah beberapa bulan kumerindukan untuk merasakan bibir manis ini lagi, setelah berbulan-bulan kucari pemilik bibir manis ini, setelah berbulan-bulan hati ini tersiksa karena tak dapat bertemu dengannya.

Kubenamkan wajahku lebih dalam lagi. Kunikmati setiap detik menempelnya bibir ini dengan bibirnya. Kulumat, kupagut, kukulum habis bibirnnya. Tak mampu lagi aku mengontrol emosiku sendiri. Emosi kerinduan yang amat sangat. Sulit rasanya untuk tidak mengakui bahwa aku kecanduan akan bibirnya. Kami terus berciuman hingga kurasakan Jaejoong mendorongku dengan kuatnya. Terpaksalah ciuman kami terlepas.

“Ada apa?” tanyaku bingung.

“Aku tak bisa bernafas.” Jawabnya dengan dada yang kembang kempis dan bibir yang mengerucut. Menggemaskan sekali..

“Mianhaeyo..” ucapku sambil tersenyum dan mendekatinya kembali.

Kubelai rambutnya perlahan. Aku tak ingin kelepasan kontrol seperti tadi. Aku tak ingin namja cantik ini marah padaku.  Kubelai  dengan sangat lembut. Dia tengah menatapku lekat yang membuatku tak ingin berjauhan dengannya. Kembali kupagut bibirnya dengan lebih hati-hati dan tentu saja dengan lebih lembut dari sebelumnya. Setelah cukup rasanya kunikmati bibirnya ini, bibirku mulai menjelajah ke daerah lain yang menarik perhatianku. Leher putihnya yang jenjang sangat membuatku tergoda. Kuhirup harum tubuh dari lehernya itu. Kunikmati dengan sepenuh hati.

Harum..

Harum sekali..

Harum seperti aroma sandalwood bercampur dengan kayu manis. Begitu segar, manis, mewah dan elegan. Kuhirupi terus harum tubuhnya hingga tanpa sadar kudengar dia mendesah sendiri.

“Ahhhhhh…” desahnya pelan.

Kuciumi lehernya secenti demi secenti tak ada yang terlewati. Kutinggalkan bekas-bekas merah disana. Kunikmati seluruhnya dan tak terlewatkan sedikitpun. Tanganku mulai gemas untuk bermain-main untuk menjamah tubuhnya. Kuraba dengan lembut dadanya dari balik pakaiannya. Kuberi tekanan-tekanan pada bagian-bagian sensitif yang ada di sana. Sekilas kulihat wajahnya yang tengah menikmati apa yang aku lakukan pada tubuh kecilnya. Kukecupi seluruhnya turun terus hingga ke dada. Tapi pakaiannya terasa sedikit mengganggu. Ingin kulepaskan kaos yang menempel pada tubuhnya itu namun tiba-tiba di tahannya tanganku.

“Ada apa?” tanyaku bingung untuk kedua kalinya.

“Aku ingin mencoba cara lain.” Ucapnya sambil tersenyum genit.

Kukernyitkan dahiku berusaha menelaah apa maksud di balik kata-katanya. Namun kemudian diciumnya bibirku cepat olehnya. Diciumnya terus dengan setengah menekanku hingga akhirnya aku terdorong kebelakang. Terus terdorong terus terus dan terus hingga tanpa sadar aku sudah berada di tepi tempat tidur. Ciuman kami terhenti. Dengan sekali dorongan jatuhlah aku keatas tempat tidur.

“Biarlah aku yang melakukannya untukmu malam ini.” Ucapnya dengan mulai ikut naik ke atas tempat tidur.

Kuberusaha mengatur posisi senyaman mungkin di atas tempat tidur ini. Kulihat dia mendekatiku. Dibukanya pakaiannya sendiri. Sedikit demi sedikit, tubuh putihnya mulai terlihat. Begitu mulus dan lembut tanpa cela sedikitpun. Ingin rasanya menyentuh kulit itu.  Kudekatkan tanganku hendak menggapai dadanya. Namun di tepisnya tanganku dengan cepat.

“No.. No.. No.. Aku bilang malam ini aku yang melakukannya..” ucapnya sambil kembali mengerucutkan bibirnya tak terima aku hendak menyentuhnya.

“Baiklah baiklah.. Tanganku tak akan main-main. Bagaimana kalau diikat saja?” tawarku padanya.

“Benar juga.. Tangan jahilmu itu harus diikat biar tidak berbuat nakal.” Sahutnya sambil mengambil sabuknya yang sudah dia lepaskan.

Kemudian diikatnya kedua tanganku di atas kepalaku melingkar sekenanya ke celah ukiran tempat tidur ini. Ikatannya tidaklah terlalu kuat, sekali hentakan yang sedikit keras pasti berhasil meloloskan tanganku ini. Tapi aku berusaha mematuhi perintahnya dengan tidak ikut campur dalam permainannya malam ini. Aku ingin merasakan bagaimana dia melayaniku malam ini. Biarlah malam ini dia bersenang-senang. Aku berusaha untuk tidak ikut campur.

Setelah diikatnya tanganku di atas kepalaku. Mulai dibukanya kemeja ku sekancing demi sekancing. Dibukanya sambil menciumi dadaku.

Ahhhh….

Aku berusaha menyembunyikan desahanku.

Nikmatnyaa..

Aku mulai menikmati kata-kata “malam ini biar aku yang akan melakukan” yang di ucapkan olehnya. Sengatan listrik menjalar ke seluruh tubuh setiap kali bibirnya mengenai kulitku. Diciuminya dengan sangat mahir tubuhku ini yang membuatku benar-benar gila. Aku berani bertaruh aku bukanlah yang pertama baginya. Tapi aku berharap akulah yang terakhir untuknya. Bibirnya terus turun hingga ke pusarku. Dikecupnya juga pusarku sekilas dan kembalilah dia melanjutkan perjalanan bibirnya menjelajahi tubuhku bagian lain. Dikecupinya terus turun ke bawah, hingga sampai batas celana yang tengah kugunakan. Sesaat diapun berhenti dan menatapku ke arahku.

Dia tak berkata apa-apa. Hanya tersenyum kecil dan lagi-lagi menggemaskan. Nafasku sudah naik turun bahkan sebelum dia menyentuh milikku. Dia memang luar biasa dalam menaikan nafsuku. Kulihat tangan terampilnya tengah membuka sabukku. Setelah sukses melepaskannya, dilemparkan sabukku itu ke lantai begitu saja. Perlahan tapi pasti di bukanya resleting celanaku sedikit demi sedikit. Semakin kebawah gerigi resleting yang terbuka, semakin berdebar-debar aku dibuatnya. Setelah berhasil terbuka resletingku hingga gerigi terakhir, diapun menatapku dengan lagi-lagi memperlihatkan senyuman nakalnya. Tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu, cepat-cepat ditariknya celanaku kebawah dan dilemparnya ke bawah. Dan akhirnya, diraihnya kain terakhir yang menutupi tubuh bagian bawahku dan diloloskannya dari kedua kakiku.

Saat ini dengan jelas terpampanglah apa yang ingin dilihatnya sedari tadi. Aku benar-benar nyaris tak berpakaian sedikitpun, hanya tinggal kemejaku yang sudah terbuka semua kancing tapi masih menempel ditubuh karena terhalang tanganku yang terikat di atas. Tanpa membuang waktu lagi segera diraihnya milikku dengan kedua tangannya. Berusaha dimasukannya milikku ke dalam mulut kecilnya.

Sssssssshhhhhhh…

Ahhhhh..

Aku mendesah pelan. Seketika aliran listrik yang lebih kuat menjalar keseluruh tubuhku.  Tubuhku langsung melemas dibuatnya. Sebuah perasaan yang tidak bisa aku gambarkan secara pasti, menyeruak begitu saja. Ketika bibir dan tangannya sibuk bermain-main di bawah sana, seperti ada ledakan-ledakan yang membuat hati terasa berdebar dahsyat. Bibir kecilnya tengah asyik mengeluar masukan milikku di dalamnya, sesekali dimain-mainkan dengan lidahnya, sesekali diciuminya, dilumat dan dihisapnya milikku bak sedang memakan permen lolipop yang sangat lezat. Tangannya pun tak begitu saja tinggal diam, diremas-remasnya milikku dengan lembut tetapi justru itulah yang semakin membuat dada ku kian kembang kempis.

Sssssshhhhh…

“Ahhhhhh…”

“Jae….”

“Ahhhhhhhhhhhhh….”

“Segera masukan saja.. Segera..” ucapku yang benar-benar sudah tahan dengan foreplay yang dilakukannya.

Begitu mendengar kata-kataku, diapun langsung menghentikan gerakan mulutnya dan dengan cepat dinaikinya tubuhku.

“Aku masukan sekarang ya?” tanyanya.

“Nae.. Cepatlahhhh..” ucapku tak sabar.

“Arasho..” perlahan dia mulai memasukan milikku ke dalam lubangnya. Tampak meringis dia menahan rasa yang timbul ketika milikku menyeruak masuk ke dalam. Digigitnya sendiri bibir bawahnya. Kedua tangannya mencengkeram lengan dan dadaku kuat-kuat. Matanya terpejam-pejam menahan rasa sakit yang dirasakannya.

“Ahhhhhh…” desahnya pelan.

Aku benar-benar menahan nafas saat itu. Begitu sempitnya di bawah sana. Sepertinya dia jarang melakukan hubungan seperti ini. Atau mungkin terakhir kali dia melakukannya saat malam itu bersamaku. Belum sampai seluruh milikku masuk ke dalam lubangnya dia sudah berhenti.

“Waeyo?? Sakit?” tanyaku.

Dia mengangguk kecil sambil meringis kesakitan.

“Yakin kau tidak apa-apa?” tanyaku lagi.

“Tenanglah.. Aku baik-baik saja. Aku kan sudah bilang biar malam ini aku yang melakukannya.” diulanginya lagi kata-katanya.

Dia kembali berusaha memasukannya milikku ke dalam lubangnya. Sedikit demi sedikit dia masukan sambil berusaha membiasakan lubang sempit nya dengan milikku yang memang di atas rata-rata pria Asia pada umumnya. Demi mengurangi rasa sakit yang dia rasakan, kuloloskan tanganku dari ikatan sabuk ini, kuraih miliknya sudah mulai menegang. Semula aku takut dia akan marah karena aku ikut campur dalam permainannya, namun sepertinya dia terima-terima saja. Kumain-mainkan miliknya dengan tanganku kananku, sedangkan tangan kiriku masih terikat di atas. Dia melenguh pelan. Nafasnya tampak berburu, bahkan sebelum permainan yang sebenarnya dimulai. Setelah rasa sakit yang timbul mulai berkurang dia kembali berusaha memasukan milikku ke dalam lubangnya dan akhirnya pun berhasil lah masuk seluruhnya milikku ke dalamnya. Kudengar dia kembali melenguh panjang.

Dengan mulai terbiasa dengan benda asing di dalam sana, diapun mulai menaik turunkan pantatnya. Membuat seluruh kulit milikku merasakan gesekan-gesekan yang luar biasa dengan lubangnya.

Ahhhhh…

Ahhhhhhhhh… ~

Ahhhhhhhhhhhhhh…

Kami medesah bersama. Suara desahannya terdengar lebih keras. Sepertinya dia menikmatinya. Sambil milikku keluar dan masuk dari lubangnya, tanganku terus bermain-main dengan miliknya. Tampak dia mengerjap-ngerjapkan matanya menikmati semuanya. Semakin lama ritme yang dia berikan semakin cepat. Tanganku juga semakin cepat menge’shake miliknya. Luar biasa perasaan yang kami rasakan saat itu. Sudah tak terhitung peluh yang menetes dari tubuh kami. Sudah tak terhitung desahan yang keluar dari bibir kami. Sudah tak terhitung sudah berapa kali sengatan listrik menjalar-jalar dari tubuh kami. Permainan kami semakin cepat, semakin cepat, semakin cepat dan akhirnyaaaa…..

Sssssshhhhhhhh….AAARRRGGGGHHHHHHHHHHH….!!!!!

Kami berteriak bersamaan. Kami mencapai klimaks kami dengan sempurna.

Tubuhnya seketika melemas dan jatuh di dadaku.

PLUKK!!

Kepalanya tepat berada di dadaku. Kutarik tanganku yang semula masih terikat di atas kepalaku dan kupeluk tubuh kecilnya dengan kedua tanganku. Kupeluk dengan sangat erat dan hangat. Jantung kami berdetak seirama. Nafas kami terhembus senada. Mata kami terpejam menikmati perasaan luar biasa yang tengah kami rasakan. Kukecup keningnya dalam lelah kami. Kuperat pelukanku. Betapa sayangnya aku padanya.. Sangat… Dengan sepenuh hatiku.. Tak peduli aku pada fakta siapakah dia, siapakah aku, apa yang dilakukannya, apa yang mereka pikirkan tentangnya, aku benar-benar tak peduli. Aku mencintainya apa adanya dia dengan seluruh hal yang ada dalam dirinya.

Uri Kim Jaejoong, uri Vicious Jonquil…

Naedo saranghaeyo..

Jeongmal naedo saranghae…

Selamanya aku akan selalu mencintaimu dan menyayangimu..

Aku akan menjadi pelindung bagimu..

Aku berjanji..

-oOo-

 

[Author pov]

Semantara itu..

Sebelumnya di tempat lain..

Terlihat berpuluh-puluh orang berjajar rapi dengan kesiagaan paling tinggi. Mereka berjajar berdasarkan kesatuan mereka.

“Kita sudah bahas tentang teknik dan lokasi penangkapan tadi. Sekarang saatnya kita beraksi. Saatnya kita menangkap penjahat yang sudah meresahkan masyarakat di seluruh negara. Bubarkan barisan dan segera menuju kendaraan masing-masing. Bubarrrr jalannn!” seru komandan utama operasi penangkapan Vicious Jonquil.

“Siap!” seru anak buahnya sambil membubarkan barisan dan berlari menuju kendaraan masing-masing.

“Ayo bubar ayo gerak.. Ayo ayo ayo….” seru kepala dari masing-masing kesatuan.

TBC

 

Wahhhhhh Yunhoooooo… Wahhhhhh Jaejoongggggggg…. Kaliannnnnnnn…..??

$^$%#T^&*&((*)()**%$#@(

Mereka akhirnya bisa bertemu kembali, tapi apa yang akan terjadi berikutnya ya?? Kira2 bagaimana kelanjutannya? Apakah jati diri Vicious Jonquil akan terungkap? Bagaimana nasib hubungan mereka selanjutnya, tunggu saja di Vicious Jonquil – The Apple of The Eye 2/2

Segini dulu yaaa… Ditunggu komennya.. Komen chingu penentu sekuelnya.. #kaburrrrr lagiiiiiiii

Jeongmal Khamsahamnida..

Salam Yunjae<3

 

-Beth-

41 thoughts on “Vicious Jonquil 2 – The Apple of The Eye FULL NC 1/2 | @beth91191

  1. Fyuuuuuu… #panas dingin… Hahaha
    Gimana hubungan mereka yah ? *mikir*
    Semoga VJ ga ketangkep…. Trus Yunjae Bersama2…. Sebenernya Jaema ngapain sih nyuri2 begitu ???? Haa~ penasaran…..

  2. yunpa nyelamtin jaema tepat pada watunya

    hohoho jaema yg mengabil kendali rupa’a…so hot~
    ntu cpa yg d kepung…..jangan” yunjae
    andwae!!!!
    lanjuuut
    penasaan

  3. Wah ngga bsa npas..btuh tbung oksigen..FBI klah cpet ama yunho..jae udah dsrbu duluan ama yunho..tp ngga dbwa kpnjara tp ksurga he he

  4. syukur yunppa dtang tpat waktu..
    aduh makjae ne mah nama ny penyerahan tnpa perlwanan,mlh dy yg nakal pkeq jdi penendali..dasar ktularan pervert yunppa neh haha
    eh s emakjae cina ga y ma yunppa?
    jgn smpe cm cinta bertepuk sblah tangan neh hikz hikz

  5. hua… tu sapa yg mo nangkap jae???? bukanny rumah td dah di bakar.. jangan2 ketahuan gi klo jae diselametin ma yunho? hua… jangan smpe tertangkap…

  6. Waaahhhh, jadi ngiler #plaaakkk, hahaha >.<

    apa jangan" jae bakal ketangkep?? wiwhihi makin penasaran,

  7. owooooo seruuuuu
    yunho hebat juga 2 bulan langsung ketemu
    awalnya kupikir bakal tahunan

    yunjae kalo ketemuan ujung nya pasti kamar dan nc *digaplok

    itu para fbi udah tau langkah jeje kemana ya?
    Ih ga keren banget kalo kegap lagi nc
    hihihi

    ga sabr tunggu lanjutannya

  8. Ckckck…uri umpa emg g da hbs2.y n slalu bikin sensasi dg nc yg super duper hotz😉
    service umma bener2 mantep n bikin yg bc dag dig dug serr…n ngiler abis*ketawa gejeh
    makin penasaran ma next chap,
    cmon thor… I’ll waiting U ^^
    daebak ff nc.y….

  9. Hah akhirnya nc ny g panjang tpi HOt… Ni ff happy end kagak y??? Part lanjut ada nc ny lgi kah?? Q mw baca dlu ah… Anneong

  10. FBI TELLLAAAAATTT!!!
    Wkwkwkwkwk…
    penjahatnya ydah kabur dan malah NCan XDD

    kekekekeke….

  11. wewww…
    nakal yah..
    wkwkwk…
    tpy saia suka bget deh…
    eh itu fbi kan yg di akhir itu…??
    emang mw nangkap sapa bang…
    wonk rumahnya udah dibom kok…:p

  12. akhirnya umma dan appa bertemu kembali

    “namja terhebat yang pernah kucoba” maksudnya apa umma ngomong gitu? berarti umma udah pernah melakukannya dong selain dengan appa

    moga-moga gak terjadi apa-apa sama yunjae

  13. kereeeeeennnnn apalagi pas bagian jaejoong yang ngebom rumahnya itu bener bener manteb banged deh..
    yunhonya juga buat nyelametin jaejoong sampe buru buru terbang ke jepang.. tapi akhirnya yunjae bisa ketemu lagi yeeeeyyy ^^
    NCnya hot hot hot hot hot hot banged deh pokoknya nosebled nih >///<

    semoga umma berhasil nyuri rubi sampe ruby ke 9 nanti.. setelah itu kan jaema pensiun jadi pencuri.. tp btw kenapa umma jadi pencuri yah???

  14. Wow. .
    uke on top..
    smbl bca smbl ngbayangin.
    #ngiler

    pasukn polisi udh siap siaga gtu, aq brharap jeje ga ktangkep. ^^

  15. huah yunho kena penyakit malarindu, begitu tau jeje lahi diincer FBI langsung ga pake pesawat.. pake jet.. hahahahahaahha bisa diacungi jempol deh ^.^

  16. wowwwww daebak, stlh dimanjakan dg nc, skrng nc lagi xD
    Aq suka gaya penulisan Beth, nc nya bukan nc yg penuh dg kata2 kasar spt kebanyakan ff nc skrng ini. Ga nyebut kemaluan dg gamblang, pokoknya mirip sama penulis novel yg terkenal kalo ada chap nc nya, begitu sopan, namun mengena.
    Teruslah menulis Beth, dan aq akan terus membaca #heuheu😀

  17. hue jae nakal juga ternyata
    salut sma yunppa yang belain ke jepang buat slamatin jaema
    jaema knpa jdi pnjhat *

  18. Aduuh maa…so hot…hoss..hoss…hoss!!! Ambil napas dulu…panas dingin nih…ªⓜª kelakuannya jaema, sok jadi pemimpin^__^

    Tuh FBI ngepung rumahnya Şiaρα lagi??
    Hei! ªª kalian Ъ>:/ bisa nunggu barang sebentar kalau memang FBI ngepung rumahnya yunpa, mereka lagi menikmati surga dunia dl..capek ƭªŮ!!!

  19. Weee keren bgt adegan yg ngebom rumah itu hehe
    Shiiiiit hot bgt nc-nya lhooo xDD
    Mestinya berapa ronde gtu thor,secara kan vitalitas yunow grade A😄
    Lanjuuutt ke chap berikutnyaa~

  20. hwooaaaaaa HOT lah..,
    pas jaema ngebom beneran alu lngsung ke mr& mrs. jung eh.., maksudnya mr & mrs. smith.. daebakkk

  21. O em ji….to tuit…asli keren bgt…yunpa jd hero-nya jaema…abis ntu, lgsg nc-an lg…waaaa….daebak…authornya keereeeennn…#acungin jempol bareng JJ#..

  22. (⌒˛⌒) jaema nakal iaaaaa ƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐ
    Yunpa ke enakan tuch ƗƗoƗƗoƗƗo”̮‎​ƗƗoƗƗoƗƗo”̮‎​
    Jgn ketawannn donkkk jaema😦

  23. kyaaa oemma!!
    uke on top. . . appa mesum banget, baru aja ketemu oemma langsung aja di sosor…
    appa bener2 beruntung dapet oemma yg bohai ctar membahana menggelegar begitu. .
    .
    khukukuku😀

  24. aduhhhh mimisan nih bacanyaa hottt bangett jadi keraasaaa panaaass nih yang bacaaa . kerenn authornya daebakkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s