SNOW IN THE DESERT/YUNJAE/CHAPTER 3 OF 4


CHAPTER 3 OF 4 – MIRACLE

Pairing : Kim Jaejoong x Jung Yunho

Author : Amee

.

Warning : don’t copy this story without permission!

.

Dengan malu – malu matahari mulai kembali ke peraduannya. Burung – burung saling berkicau, berterimakasih kepada hangatnya sang surya yang telah membelai mereka. Bunyi dedaunan yang saling bergesekan tersentuh angin menghasilkan melodi yang begitu indah. Syahdu.

“Aku suka musik,” pemuda bermata biru itu tersenyum.

Jaejoong melongokkan kepalanya keluar jendela, matanya disuguhi pemandangan kota kelahirannya, Seoul.

Lihat kanan kiri kota ini, sangat hitam putih. Gedung-gedung pencakar langit bertatapan tajam dengan pepohonan yang menatap sinis sampah-sampah yang berserakan. Para manusia berdasi disandingkan dengan manusia berbaju hitam dan kumal. Tapi mereka tidak saling memahami satu sama lain. Egois sekali.

Semuanya harus di bayar dengan uang di kota metropolitinan ini. Apa yang gratis di dunia ini. Tidak ada. Semuanya diuangkan. Ah, ini memusingkan.

Jaejoong menengadahkan kepalanya memandang langit, masih kelabu seperti biasanya. Sepertinya, selama sebulan ini Jaejoong belum pernah dimanjakan oleh langit biru, berapa kalipun ia memandangi langit.

Jaejoong mengangkat cermin kecil yang sejak tadi digenggamnya. Ia tersenyum simpul. Dihadapannya, ada sesuatu yang membesarkan hati pemuda itu. Cermin tanpa cacat menyajikan pantulan dirinya. Cantik. Ah, maksudnya sangat tampan.

“Aku tidak terlalu buruk, mungkin jika Yunho bisa melihatku dia akan memujiku tampan,”

Jaejoong memejamkan matanya, kemudian membukanya perlahan. Sebuah bayangan melintas begitu saja dalam benaknya. Seorang pemuda tampan dengan rambut hitam mengadakan sebuah konser besar yang dihadiri banyak orang.

Jaejoong meremas cermin dalam genggamannya. Ia terhanyut dalam pikirannya sendiri, entah apa.

“Yunho lebih membutuhkan mata ini. Ia masih muda, tampan, dan berbakat. Aku tak apa jika harus hidup tanpa melihat dan tetap berada dalam kelumpuhan jika Yunho ada untuk menemaniku, dan aku akan lebih bahagia jika bisa tahu bahwa ia sukses,” Jaejoong menarik nafas panjang. “Ah, kenapa jalan hidupku harus serumit ini?”

Ia menggeserkan tubuhnya sedikit, membiarkannya merasa nyaman di atas tempat tidur. Tangan kanannya meraih sebuah bingkai foto dari atas buffet. Jaejoong tersenyum sinis memandang foto dalam bingkai. Sesekali tangannya mengelus permukaannya.

“Kau merindukannya, sayang?” Jaejoong melempar pandangannya, dan mendapati Mrs. Kim tengah berdiri di ambang pintu, tersenyum lembut padanya.

“Merindukan siapa?” Jaejoong menjatuhkan kepalanya di atas bahu sang Ibu, membiarkan wanita itu membelai rambutnya,

“Shim Changmin,”

“Sama sekali tidak, aku hanya ingin menyampaikan salam perpisahan, karena aku akan segera menguburnya di dalam gudang. Eomma tahu? Aku sudah memilih seseorang yang akan menggantikannya,”

***love***

 

Rasanya sudah seperti rutinitas bagi Jaejoong untuk mengunjungi Yunho, seperti mendatangi konser yang dipersiapkan khusus untuk dirinya. Ini sangat menyenangkan. Jaejoong berjalan menyusuri jalan dengan kursi rodanya sendiri, ia menolak ketika Mrs. Kim menawarkan untuk mengantarnya. Ia mampu sendiri.

Angin menerpa wajahnya, sesekali ia tersenyum ketika angin membelai hidungnya. Tanpa merasa canggung. Angin seolah memanjakannya, menyisir lembut rambutnya. Ia tampak cantik. Selalu begitu. Setetes air hujan jatuh tepat di pipinya ketika pemuda itu memasuki kediaman Jung. Sambutan yang cukup indah. Ada sepasang mata yang mengamatinya sejak melewati gerbang. Ia merasakannya. Mungkin hanya angin lalu. Lupakan.

“Yunho-ah,” Jaejoong mendekat.

“Kau datang lagi hari ini?”

“Apa aku mengganggumu?”

“Ya, kau menggangguku. Sebaiknya kau pulang saja, aku sedang ingin sendiri,”

“Kau menyebalkan Yunho-ssi, kau tahu bagaimana sulitnya aku sampai di sini. Aku marah!”

“Hahaha.. Aku hanya bercanda, noona. Kemarilah!”

“Aku bukan noona, dan aku sudah berada di sampingmu sejak tadi,”

“Ah, maaf. Aku tidak menyadarinya,”

Jaejoong tidak menjawab. Kedua bola matanya terus menekuni sosok di sampingnya. Ia menarik nafas panjang. Sebuah melodi mengalun di dalam hatinya, namun ia sama sekali tidak dapat menafsirkannya.

Yunho mulai merasa kesunyian ini mengganggunya, harus ada yang mencairkannya. Baru saja ia membuka mulutnya, telinganya menangkap Jaejoong mengatakan sesuatu.

“Yunnie, aku ingin kau bisa melihatku. Aku mau jika harus memberikan kornea ini untukmu, selama kau ada di sampingku dan menuntunku, aku yakin aku tidak akan apa-apa,”

“Apa yang kau bicarakan, Joongie?” Yunho memutar tubuhnya menghadap Jaejoong, meskipun ia tidak dapat menatap sosok di hadapannya. Jaejoong dapat melihat dengan jelas lipatan di dahi Yunho, ia pasti bingung, pikirnya.

“Aku akan memberikan mata ini untukmu,”

“Aku menolaknya. Akan lebih baik jika kau jadi mata untukku dan aku jadi kaki untukmu, kita bisa saling melengkapi,”

“Aku tidak mau Yunho, itu tidak adil, aku ingin kau yang memiliki mata ini, kau lebih membutuhkannya. Dengan mata ini kau bisa mendalami seni musikmu, kau bisa melihat not, kau bisa mengadakan konser, dan kau bebas melakukan segalanya,”

“Dengan cara mengorbankanmu? Tidak Jaejoong, terimakasih. Lagipula aku tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang pianis. Berhenti berbicara seperti itu, aku tidak ingin mendengarnya,” Yunho mengacak-acak rambut Jaejoong, meski kemudian pemuda itu menepisnya. Yunho sedikit tersentak, namun dengan cepat dapat menguasai diri.

Jaejoong sudah cukup merasakan kesulitan untuk mengatakannya, namun hati kecil tetap memaksanya untuk bersemangat. Sekali lagi ia menatap sosok di hadapannya dalam. Ia merasakan penolakan itu tulus, ia yakin Yunho memang tidak ingin menyakitinya. Tapi apa ia salah? Jaejoong hanya ingin melihat Yunho bahagia, sekarang dan nanti.

“Kalau aku tidak mau?” Jaejoong tetap bersikukuh.

“Aku akan marah, noona,”

“Tapi aku lebih dulu marah padamu, dan sekarang kemarahanku menjadi dua kali lipat karena kau terus saja memanggilku noona. Kau menyebalkan!”

“Baiklah, aku mengalah. Tapi jangan ulangi lagi pembicaraan ini ne,” Yunho menarik kepala Jaejoong mendekat, mengacak-acak rambutnya singkat, kemudian melepaskannya lagi.

“Baik! Tapi ada syaratnya, kau harus mengajariku cara bermain piano sekarang! Harus!”

“Tapi aku tidak bisa. Bagaimana caranya seseorang yang tidak tahu not lagu dan buta dengan judul lagu yang dimainkannya mengajari orang lain. Dan dengan mata seperti ini, bukankah mustahil bagiku untuk mengarahkanmu, noona?”

“Baiklah, baiklah, baiklah, Tuan Yunho yang terhormat. Kalau begitu aku mau mendengarmu memaikan lagu gubahan Vivaldi dan si jenius Mozart,”

“Tapi aku tidak tahu yang mana itu,”

“Aku akan diam. Cari tahu sendiri, aku akan mendengarkannya,”

Yunho  memfokuskan pendengarannya pada apa yang tengah diterangkan Jaejoong. Ingatannya dengan gesit mencatat hal-hal yang ia anggap penting. Pikirannya telah melayang mengingat-ingat sesuatu, beharap ia mendapat bayangan tentang karya-karya Mozart.

Yunho menarik nafas panjang, mempersiapkan diri dan semua memorinya. Yunho menekan satu not, menghasilkan dentingan yang begitu lembut di telinga Jaejoong.

Yunho meregangkan tangannya, dan mulai bermain dengan pianonya, membawakan sebuah harmoni, indah sekali. Jaejoong tertawa mendengarnya. Dan itu cukup bagi Yunho untuk mengetahui bahwa apa yang ia mainkan salah.

Ia mencoba memainkan lagu-lagu lainnya, yang ia ingat dalam pikirannya. Namun Jaejoong selalu tertawa mendengarnya. Ah, ini mulai menyebalkan. Yunho memainkan lagu terakhir yang ia pikirkan, dan Jaejoong kembali tergelak mendengar permainannya. Perminan sempurna, tapi bukan ini yang pemuda itu maksud.

Yunho berhenti bermain. Ia mendesah panjang, kemudian menyandarkan tubuhnya di atas kursi. Dilempar pandangannya ke sekeliling ruangan. Suasana terasa begitu magis meski ia tidak dapat melihat apapun, di manapun.

Tanpa sadar, sepasang mata tengah mengawasi mereka, Hye Jun halmeoni  , ia tersenyum menatap keduanya. Tuan muda yang telah dirawatnya sejak kecil itu kini tampak begitu bahagia, lepas dan bebas tanpa beban.

“Aku menyerah, kau selalu tertawa, menyebalkan!” Yunho mulai memberengut kesal. Menyulap wajah tampannya yang indah menjadi semakin indah. Mampu membius Jaejoong dalam pandangan pertama.

“Karena kau juga menyebalkan. Tentu saja aku tertawa, sejak tadi yang kau mainkan adalah karya Beethoven, tentu saja salah, dasar aneh,”

“Aku kan sudah bilang, aku tidak tahu  semua lagu itu, aku hanya memainkannya. Lebih baik, sekarang kau beritahu aku, senorita. Lagu mana yang kau maksud? Dan aku akan memainkannya untukmu,”

“Aku pernah mendengarmu memainkan The four seasons karya Vivaldi, dan juga Marriage of Figaro, Pachabel Cannon in D minor, dan Manuett G dur, itu semua karya Mozart. Tapi yang paling ingin aku dengar sekarang adalah Serenade. Kau memainkannya malam itu, kali pertama aku mendengar permainanmu Yunho. Kau bisa ingat yang mana?”

“Ah, ya, 28 Oktober….”

Yunho segera memainkan jari-jarinya dengan lincah di atas tuts piano, menghasilkan harmoni yang begitu indah, dalam, dan berbekas. Jaejoong memutar film lama dalam memorinya, ketika lagu ini pertama kali menyentuh gendang telinganya saat Yunho membawakannya, sungguh menghanyutkan.

Dua ekor merpati turut menyaksikan keindahan konser tunggal Yunho, kedua burung itu menikmati dengan takjim penampilannya dari bingkai jendela. Perlahan Yunho menghentikan permainannya. Jaejoong tersenyum ketika Yunho menekan tuts terakhir. Ia menikmatinya.

“Semoga langit juga menikmati permainanmu Yunho, sehingga ia berhenti mendung,” Jaejoong masih memejamkan matanya, mencoba mengingat-ingat keindahan yang baru saja menghampiri pendengarannya.

“Ada apa dengan langit?”

“Aku ingin melihat langit biru, sudah lama aku tidak melihatnya,”

“Apa kau tidak merasa kalau hari ini akan cerah?”

“Tidak,”

Dengan semangat yang tak terkalahkan, Yunho tertawa riang menggiring kursi roda di hadapannya hingga menyambangi ambang pintu. Ia menghentikan langkahnya di sana. Menyesap dalam-dalam aroma alam yang begitu memabukkan dan tiada dua.

“Aku benar kan Jaejoong? Hari ini cerah, tidak akan turun hujan,” ujar Yunho bersemangat sembari kembali mendorong kursi roda Jaejoong hingga perlahan melewati gerbang. “Ayo pergi jalan – jalan !”

“Aku pikir bukan tidak akan turun hujan, tapi belum turun hujan. Dan langit tidak cerah Yun, tapi mendung!” Jaejoong menginterupsi semua pendapat Yunho, namun pemuda itu seakan mengabaikannya.

“Percaya padaku, Jaejoongie. Kau mau kemana? Biar aku yang menjadi kakimu, asalkan kau mau menjadi mataku,”

“Meskipun sebenarnya aku mau kau sendiri yang memiliki mata ini, tapi baiklah. Ayo ke taman hiburan!”

Yunho segera menyongsong dunianya, dengan bersemangat. Mereka menikmati setiap inchi jalanan yang dilalui, sesekali tertawa dan saling menggoda satu sama lain. Mengabaikan hembusan angin yang menerpa mereka dengan kurang bersahabat. Membuat siapapun merasa iri saat melihatnya.

Sesekali Yunho meregangkan tangannya dengan  meninju udara dan kemudian Jaejoong akan tertawa melihatnya. Meskipun tidak melihatnya, Yunho tahu pemuda itu begitu bahagia bersamanya.

Dengan seringaian jahilnya Yunho mengalungkan tangan kirinya pada leher Jaejoong, dan menggunakan tangan kanan untuk mengacak – ngacak rambut belahan jiwanya. Sedikitpun pemuda tampan itu tidak membiarkan Jaejoong untuk membalasnya. Lingkaran itu seakan menghubungkan antara saat ini dengan yang akan datang, cerminan kebahagian masa depan keduanya.

Manusia memang mahluk yang tidak pernah puas, selalu merasa iri dan menginginkan kebahagian orang lain. Keduanya tidak sadar jika di kanan kiri mereka orang – orang telah siap dengan segala komentarnya.

“Lihat itu, lihat itu! Dia benar – benar tampan, kenapa Tuhan baru sekarang memperlihatkan mahluk setampan dia?”

“Ah, iya benar. Aku pikir dia tidak kalah dengan para artis luar negeri,”

“Kau benar, dia sama tampannya dengan Jeong Hoon, atau mungkin lebih tampan lebih dari itu,”

Jaejoong hanya tersenyum mendengar celoteh – celotehan dan tatapan lapar dari gadis – gadis itu, sedangkan Yunho mengabaikannya seolah dia tuli. Jaejoong tahu, bagaimana pesona ketampanan seorang Jung. Jika dia ada di posisi gadis-gadis itu, mungkin dia akan sama ributnya seperti mereka. Rasanya seperti mimpi, bisa berjalan bersama seorang pemuda yang telah diakui ketampanannya.

“Ah, dia benar – benar tampan. Rasanya aku ingin berlari ke arahnya dan meminta foto bersamanya,”

“Tapi sayangnya dia sudah bersama seseorang, tapi kenapa harus dengan namja lumpuh seperti itu?”

“Ah iya, rasanya Tuhan tidak adil. Meskipun ia cantik, tetap saja dia namja, terlebih lagi ia cacat. Sepertinya pemuda tampan seperti dia pantas mendapatkan yang lebih baik,”

“Lihat baik – baik, sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat, sungguh, bukankah dia yang pernah bersama Changmin, dia kan-”

Yunho sudah tidak tahan lagi, ia merasa telinganya tengah berdengung keras, mengahasilkan ketidaknyamanan dalam hatinya. Apakah ketampanan bisa membutakan seseorang, membuat lidah mereka lebih tajam dari sebilah pedang? Membicarakan seseorang yang jelas – jelas tengah berjalan di hadapan mereka, apa begitu mudahnya bagi mereka? Seperti tidak memiliki hati. Yunho tersenyum kemudian berjalan meninggalkan Jaejoong, membiarkan dirinya tersandung dan menubruk seseorang di sampingnya.

“Ah maaf, aku tidak bisa melihat!” Yunho membungkukan badannya, kemudian kembali menghampiri Jaejoong sembari menggapai-gapai udara dengan tangannya seolah tak ingin kembali tersandung.

“Kau lihat tadi, ternyata dia buta. Pantas saja dia mau dengan pemuda itu. Ah sayang sekali, aku pikir ada yang mengalahkan seorang Shim dengan kesempurnaan dan keangkuhannya, ternyata tidak,”

Yunho membiarkan angin membawa terbang bisik – bisik pedas mereka sejauh mungkin, bersama ketidaknyamanan dan kekesalannya saat mendengar kata – kata itu terucap. Sepertinya mereka belum mengerti arti sebuah kata – kata bijak yang mengatakan kekurangan adalah sebuah kesempurnaan.

Yunho kembali mendorong kursi roda Jaejoong perlahan. Jaejoong menundukan kepalanya dalam, membiarkan hidungnya menyesap udara lebih banyak. Tangan kecilnya berusaha menyentuh tangan Yunho. Ia membalikan wajahnya perlahan, mencari tahu apa yang pemuda itu pikirkan. Meskipun pemuda itu tahu, pemuda dihadapannya tidak akan pernah tahu apa yang ia lakukan.

“Apa yang kau lakukan Yunho?” tanya Jaejoong sembari mempererat genggamannya.

“Tidak ada. Aku hanya melakukan yang seharusnya aku lakukan. Aku tidak suka mereka mengolokmu seperti tadi, kenapa tidak sekalian mengolokku saja?” jawab Yunho datar.

“Karena mereka tidak mengetahuinya,”

“Karena itu aku ingin mereka tahu,”

“Tapi mereka mengagumimu!”

“Lalu apa peduliku? Jika mereka mau mengagumiku, mereka harus belajar mengagumiku dengan segala kekuranganku. Lagi pula untuk apa bangga dengan semua itu, bukankah sudah ada si bungsu Shim. Ah, apakah Changmin telah tumbuh menjadi setampan itu sekarang?”

“Kau mengenal Changmin?”

“Sedikit. Dulu aku sering diajak untuk mengunjungi kediaman mereka. Sejak dulu ia memang tampan, tapi aku tidak menyangka dia bisa sangat dipuja seperti sekarang ini. Kau juga mengenalnya?”

“Tidak hanya sering mendengar namanya,” Jaejoong tersenyum dalam kebohongannya.

Langit semakin mendung dan angin semakin tidak bersahabat, menghasilkan hawa yang begitu menusuk hingga ke sum – sum tulang. Butiran – butiran air hujan telah jatuh dari langit dan menyentuh bumi. Membasahi keduanya, membuat orang-orang berhambur begitu saja mencari perlindungan.

Yunho berlari dengan kedua tangannya tetap menggenggam erat kursi roda Jaejoong, membawanya terbang ke sangkar untuk berlindung, menjaga malaikat pujaanya dari terpaan hujan yang membuatnya semakin rapuh.

Pemuda itu membuka jaketnya dan memakaikannya pada Jaejoong. Jaejoong hanya tersenyum, dengan air mata berkaca – kaca di kelopak matanya, sebuah keterharuan.

“Aku bilang apa tuan muda Yunho, hari ini akan turun hujan,” Jaejoong membrengut kesal, meskipun ia merasakan kedamaian dalam hatinya.

“Setidaknya, ini lebih baik dari pada membatu di rumah kan? Dan aku pikir hujannya akan berhenti sebentar lagi,” Yunho tersenyum dengan seringaian jahilnya. Ini kali pertamanya ia menikmati dunia seindah ini, meski ia tidak dapat melihatnya, tapi kebahagian ada di sisinya.

Jaejoong tidak menjawab, ia hanya bersenandung kecil dengan suara lembut dan merdu. Memberi kehangatan pada jiwa Yunho yang terasa dingin. Dia tidak ingin berlama – lama bergumul diantara kebingungan dan kebisuan.

“Hei kakek aneh,” ujar Jaejoong datar, namun ia bisa merasakan, ada sedikit keterkejutan yang ditunjukkan Yunho.

“Yaa.. sedang mengejekku, eum? Ada apa blue namja?”

“Kalau aku meninggal, aku mau kau membawakan Serenade gubahan Mozart untuk penghormatan terakhirku. Aku sangat menyukainya,”

“Baik. Lalu, jika aku yang meninggal, apa yang akan kau lakukan?”

“Mungkin bunuh diri,”

Yunho terdiam mendengarnya, namun beberapa saat kemudian, ia tertawa lepas. Pemuda yang lucu, pikirnya.

Hujan seakan mendengar pengaharapan Jaejoong. Butiran – butiran bening itu berhenti turun. Langit yang kelabu berubah biru. Keharuan berganti kebahagian.

“Yunho-ah, kau tahu, langit berubah biru.”Jaejoong tersenyum dengan begitu manis.

“Benarkah? Hahaha… ternyata permohonanku manjur ya. Apa aku bilang, hari ini akan cerah,”

“Baiklah, kau menang kali ini. Mau melanjutkan jalan – jalan?” tanya Jaejoong. Yunho hanya tersenyum menyetujuinya.

Matahari tersenyum begitu anggun, langit biru mengahadirkan cakrawala yang begitu indah, sebuah perpaduan yang menghasilkan keeleganan. Mereka menikmati setiap angin yang berhembus, kicauan burung yang meramaikan suasana. Keduanya saling tertawa, saling melengkapi dalam kebahagian.

Keduanya menyebarangi jalanan di tengah kota Seoul. Jaejoong menengokkan kepalanya, berusaha menikmati pemandangan yang ada. Matanya membelalak seketika, membentuk bulatan sempurna. Ia ingin berteriak saat itu juga, namun lidahnya terasa kelu.

“YUNHO, AWAS MOBIL!” teriak Jaejoong histeris. Sebuah mobil Nissan skyline gtr hitam melaju dengan kecepatan tinggi.

“Dimana?” Yunho mulai panik, namun tak ingin menunjukannya.

“Di sebelah kanan kita,”

Neeetttt….!!! Suara klakson begitu memekakan telinga. Yunho hampir kehilangan akal, ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengatasi keadaan mereka, ia tak berguna.

Tinggal beberapa meter lagi, mobil menyentuh keduanya, dengan setengah kesadaran Yunho mendorong kursi roda Jaejoong. Pemuda itu meluncur bebas, dan terjatuh ketika roda kursinya menyentuh sebuah kerikil. Pemuda itu terpental cukup keras, ia merasa tulangnya sedikit berpindah posisi, rasa sakit menjalar di sekujur rubuhnya. Di saat yang bersamaan, sebuah hantaman keras mementalkan sesuatu. Teriakan-teriakan histeris begitu memekakan di sepanjang jalan.

Jaejoong berusaha untuk bangkit, ia harus kuat. Pemuda itu mendongakkan kepalanya dan mendapati malaikatnya telah tergeletak begitu saja. Rambut hitamnya telah berubah menjadi merah darah. Jaejoong merasakan hatinya hancur menjadi kepingan-kepingan kecil. Sudut matanya dapat menangkap orang-orang yang berlarian mengiba, namun mereka hanya diam menonton, seakan kecelakan Yunho adalah suatu pertunjukan.

Jaejoong ingin menolongnya, ingin membantunya, setidaknya menggenggam tangannya. Ia berusaha mendekat, meskipun harus terseok-seok, ia merasa penglihatannya mulai samar, tapi sedikit lagi. Jaejoong meraih tangan Yunho dengan sisa-sisa kekuatannya, ia menggenggam tangannya, dan untuk beberapa saat kemudian ia roboh. Dunianya tiba-tiba gelap semua.

TBC

Bagaimana bagaimana? Semoga tidak mengecewakan^^ Tinggal satu chapter lagi, dan selesai🙂

24 thoughts on “SNOW IN THE DESERT/YUNJAE/CHAPTER 3 OF 4

  1. ANDWAEEEEE,,,yunppa gg boleh matiiiiii uweee,,,ntar umma tak ambil lho*digeplakyunpa*,,wae,wae,wae???,,,gg bs bayangnn,,gimana paniknaaa*kebawasuasana*,,hiks hiks,jangan tinggalin umma,,ntar umma jd janda deh*dihajar*,,uhh q dah pny feeling,,napa entu yunjae pd ngmng mati” sgalaaaaa???,uhh ni epep genre apa y authorr??angstkah??,,moga cuma mimpiiiiii,,,>.<

    Q sk banget cara nulis authorr,,palagi pengetahuan msk klsk ntuuu,,author emang sk msk klasikkah??,,q mah jrg denger apalagi mudengg,,,

    thnx for writing~ ^^

  2. .aiish ini bener2 angst
    .ak suka ff ini,coz bnyak bahaz lagu klasik..
    .aplg baca’a pke denger’n lagu klasik’a secara nyatu bgdt

    .aac,,cerita ff ini KEREN bgd,
    ak suka bgd dg kta2 ini
    “jika mereka mau mengagumiku,mereka harus belajar mengagumiku dg segala kekuranganku”
    bener2 sesuai dg realita,,

    .ak tunggu last part’a author:))

  3. AAAA…
    jangan sampai yunho meninggal.
    aduh pliss dong jangan sampai salah satu dari mereka meningal.
    rese banget sih tuh mobil.
    baru aja mereka lagi bahagia. IKH!

  4. kereeeeen……
    yunpa bner” keren gak terpuruk dengan keadaanya sndiri
    salu melindungi jaema
    huhuhu yunpa kecelakaan yaaT.T
    moga baeik” saja~

  5. hiks…hiks… bener2 sedih ceritany… tp so sweet jae ma yunho saling melengkapi.. hua… mereka kecelakaan jangan mati….

  6. huahuahua penasarannn

    c mommy ma appa kasian bngt kecelakaan
    T^T
    truss itu nasibnya gimana?? ;______;
    lanjutt thor >.<

  7. yunppa ketabrak mobil, ah tidaaakkk yunppa jangan meninggal yah, jaema gimana?
    ff keren eonnie, daebak tapi kurang panjang

    annyeong, aku rita new reader, salam kenal yah..

  8. ya tuhaaaa~n. Aku bner2 shock baca bgian2 akhir ini. Aku mhon author, jgan trjadi apapun sma eomma nd appa.

    Eh ? Itu apa hubungan appa sma min oppa ? Mrka kenal kah ?
    Aaaargh #ngacakrambutfrustasi. Ayo lanjut ne😀 . Jgan buat readersmu ini kecewa dgn ending kisahny ne😥
    Aku brharap happy ending nd ssuai harpan.
    Udah ckup buat eomma apa yg dialaminy, jgan ditambah lagi ne. Jgan trjdi apa2 sma appa. Ooh, ya tuhaaan, aku bner2 gmeteran jdiny author, asli kebwa suasana🙂

    Yosh, keep wriiting aja deh😀 sukses sllu karya2mu author😀 Fighting😀

  9. Ccchhhhiiiinnngggu..
    Knp gni??
    Umpa g bleh mati ea.. Tidak..
    Tidak boleh n g akn prnh mati..
    Mungkn dgn kclakaan ni bsa mnimbulkan swtu mkjizat..
    Yg dpt mmbuat appa bsa liat n umma bsa jln..
    Smoga ja bgitu..
    Qhrapkn crta ni brakhr bhgia..

  10. OH MY GOD ANDWEEEEEE yunpa ga mati kan andwe andwe andwe
    pliiisss jangan sampe mereka kenapa-kenapa.. masa sad ending sih hueeeee T___T
    semoga mereka baek baek aja.. and semoga kecelakaan ini malah bikin mereka sembuh

  11. andwe andwe andwe
    appa jangan meninggal
    hiks hiks
    bikin nangis chap ini

    siapa sih tuh yang bawa mobil
    maen tabrak appa aja
    gak punya mata apa? hah?
    /emosi/

  12. mwo..? mwo. .? mwo?
    yunppa ktabrak??
    hiks
    jgan blg nie akhrny jd sad ending.
    andwae. .
    ga rela😦

  13. Di Saat mereka sedang menikmati kebersama’an mereka…kenapa masalah selalu saja datang pada 2 sejoli ini…(╥﹏╥)
    (╥﹏╥)
    (╥﹏╥)

    Semoga yunnie sam̶̲̅α̇ Joongie Ъ>:/ kenapa-napa…semoga mereka bisa melewati coba’an ini, Ъ>:/ ά̲ϑª ýanƍ di korbankan…Q Ъ>:/ mau mereka melewati hidup ini sendirian

  14. Part yg ini sedih banget laaah..
    Arghhhh, YunJae jangan matiiii.. T^T
    Mereka harus baik2 ajaaa.. T^T
    Amiiiin T_T

  15. omaigad…yunpa kecelakaan?????andweee…!!!
    jaema jg ikutan pingsan??ommoooo…#nangis pundung di pojokan#
    btw author daebak…tau ttg lagu/musik klassik….tp ini jgn sad ending duonk..ya? ya? ya?#puppy eyes#

  16. kyaaaaa so sweet banget😥 bener2 ff paling manis yang pernah ku baca~~~
    keduanya saling melengkapi, saling memahami, saling menerima kekurangan satu sama lain~~~
    bahkan keduanya saling mencintai sampai titik terdalam, sehingga jika salah satu pergi, yang lain belum tentu bisa bertahan~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s