SNOW IN THE DESERT/YUNJAE/CHAPTER 4 OF 4


CHAPTER 3 OF 4 – THE END OF THIS STORY
Pairing : Kim Jaejoong x Jung Yunho
Author : Amee
.
Warning : don’t copy this story without permission!
.
.
Malam menyelimuti segenap udara di Seoul diikuti hiasan rintik-rintik hujan yang di turunkan langit. Hujan melukiskan suatu kepedihan, menegaskan guratan garis-garis kekacauan dan kelemahan diri.
Di salah satu rumah sakit di sudut kota, seorang pemuda cantik duduk gusar di samping ranjang rawat. Matanya menatap kosong berpengharapan, kemudian menatap sosok yang terbaring di sampingnya tentram. Tangannya di genggamkan erat, berusaha menguatkan sosok tersebut.

Sebuah butiran bening telah menggenang di pelupuk mata Jaejoong, ia rapuh sekarang. Kenapa Tuhan senang mempermainkan takdirnya, kenapa jalan hidupnya harus serumit ini, dan kenapa harus ada orang lain yang terlibat dalam apa yang dialaminya.

“Selamat malam Yun. Cepat sembuh! Bukankah kau sudah berjanji untuk selalu melindungiku?”

Pertahanan Jaejoong akhirnya runtuh, butiran bening itu turun membasahi pipinya menetes tepat pada punggung tangannya. Ia selalu berharap Tuhan masih sudi mengasihaninya sedikit lagi saja. Berharap Tuhan masih mau mengabulkan pengharapannya, meskipun ini yang terakhir. Ia tidak meminta sesuatu yang terlalu muluk, hanya ingin Yunho sembuh, itu saja.

Jaejoong merasakan sesuatu yang bergerak dalam genggamannya, ia mencoba memfokuskan pandangannya meski sedikit buram, ia kelelahan. Pemuda itu dapat menangkapnya, mata Yunho perlahan terbuka, memberi sebuah pencerahan bagi pikiran Jaejoong yang hampir buntu. Ia tersenyum, dan ia tahu Tuhan akan selalu menyayanginya.

Di saat yang bersamaan sayup-sayup pintu terbuka, Jaejoong menolehkan kepalanya, berusaha mencari tahu siapa yang muncul di baliknya. Sosok itu tersenyum padanya, seorang suster. Jaejoong membalas senyumannya dengan tarikan bibir yang lebih indah.

“Dia sudah sadar, Sus. Sebaiknya dokter segera di beri tahu,” Jaejoong begitu tenang mengucapkannya.

Suster hanya tersenyum miris, ia dapat merasakan kesakitan itu. Beberapa saat kemudian ia mengangguk dan meninggalkan tempat itu, membiarkan Jaejoong dan Yunho berdua dalam suasana kerinduan sebentar lagi saja.

“Kau sudah sadar Yun?” Jaejoong mempererat genggaman tangannya meski ia merasa harus sudah limbung sekarang. Pada wajahnya yang pucat terbesit cahaya pengharapan. Pada bibirnya terlukis senyuman kedukaan.

“Kau… Kim Jaejoong? Cantik,” tiba-tiba Yunho tersadar akan sesuatu, ia membelalakan matanya sempurna, dan ia dapat merasakan jantungnya akan segera melompat dari tempatnya. “Aku bisa melihat! Mataku sembuh. Jaejoongie, aku bisa melihat, aku bisa melihatmu!”

“Selamat ya, akhirnya kau bisa melihatku. Aku senang. Tapi berjanjilah, kau harus tetap menyukaiku, meski fisikku seperti ini, meski wajahku seperti itik buruk rupa. Janji?” Jaejoong mengaitkan jari kelingkingnya pada kelingking Yunho, pemuda itu hanya mengangguk kemudian tersenyum lemah.

“Kau tidak buruk rupa, kau cantik, Jaejoong. Sangat cantik. Hanya saja, kenapa mataku–”

“Stt.. jangan banyak bicara dulu, kau masih lemah Yunho, istirahatlah, aku akan menemanimu!” Jaejoong menaruh telunjuknya di bibir Yunho sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya.

“Kau pucat Jae,”

“Karena kau juga pucat Yun. Tapi aku tidak apa-apa, aku hanya sedikit lelah,”
Jaejoong mencondongkan tubuhnya, berusaha memperpendek jaraknya dengan Yunho. Ia mengecup kening Yunho lembut, kemudian tersenyum, manis sekali. Senyuman pertama yang Yunho lihat tersungging dari bibir Jaejoong, sungguh indah, manis, membingkai wajah cantiknya.

Jaejoong merasa pandangannya mulai meredup, ia harus istirahat sekarang. Ia segera menolehkan wajahnya ketika mendengar pintu kembali berdecit, membiarkan rambut hitam panjangnya berayun indah, memanjakan Yunho dengan keindahannya.

“Ah, dokternya sudah datang. Aku keluar dulu. Aku ingin kau sembuh total, istirahatlah, jangan melakukan tindakan yang aneh – aneh,” Jaejoong menarik nafas panjang, kemudian mendekatkan kepalanya pada Yunho, membisikkan sesuatu di telinganya. “Aku menitipkan sesuatu pada suster, dan kau harus membukanya setelah kau sembuh nanti!”

Jaejoong memutar kursi rodanya 180 derajat. Membiarkan matanya bertatapan langsung dengan dokter yang kini berdiri di hadapannya. Tatapan itu, tatapan mengiba yang dibencinya. Dan Jaejoong dapat melihat dengan jelas, suster di sampingnya hampir saja meneteskan air mata, namun ia mengabaikannya, tidak memperdulikannya.

Yunho memerintahkan penglihatannya untuk membuntuti Jaejoong, sampai siluet punggungnya menghilang di balik pintu. Keindahan. Makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna, dan Yunho baru saja menyadari, bahwa ia benar-benar mencintainya, benar-benar mengaguminya, dan ingin memilikinya.

“Bagaimana keadaanmu? Kau sudah merasa lebih baik Yunho-sshi?” pemuda tampan itu mengangguk lemah. “Istirahatlah, kita akan lakukan operasi pencangkokan konea untuk mata kirimu, agar penglihatanmu sempurna,”

Keganjilan apa lagi ini? Ia berada di rumah sakit ini karena kecekalakaan, bukan untuk operasi pencangkokan kornea. Pikiran Yunho menerawang jauh entah kemana, memikirkan sesuatu yang paling tidak ingin dipikirkannya, hal terburuk yang paling ia takutkan.
***love***

Yunho terduduk sendiri di dalam sebuah ruangan. Ia menghadap cermin, dan dapat melihat pantulan dirinya. Tampan, dengan kemeja dan tuxedo yang dikenakannya. Ia menyentuh bayangannya sendiri di cermin. Sebuah sosok muncul di sana. Seorang pemuda cantik dengan rambut hitam panjang tergerai yang menutupi tengkuknya dalam balutan long dress putih dengan hiasan bunga sakura dipundaknya tersenyum begitu manis padanya. Yunho tersentak, ia segera memutar tubuhnya dan mendapati tak ada seorang pun di belakangnya. Halusinasi.

“Kau yang membuatku tak bisa menepati janjiku padamu, Jaejoong-ah! Kau yang memintaku untuk terus menjagamu, tapi justru kau yang meninggalkanku!” Yunho mengacak-acak rambutnya, frustasi.

Sungguh menyakitkan bukan, ketika kau menyadari perasaanmu pada seseorang, justru orang itu pergi meninggalkanmu. Dan itulah Yunho sekarang. Ia hancur.

Yunho mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya. Ia membukanya perlahan, isinya penuh dengan kumpulan karya maerstro dunia. Diatas tumpukan itu, sepucuk surat yang dibalut amplop pink tergeletak begitu saja. Yunho meraihnya, menggenggamnyaa erat.

Ia membukanya perlahan. Entah berapa kali ia membaca surat itu, tidak pernah terbesit dalam pikirannya suatu kejenuhan. Ah, seribu kali ia membaca surat itu, maka seribu kali juga ia mampu meneteskan air mata. Sekuat apapun Yunho, setegar apapun dia, ia hanya manusia yang diciptakan Tuhan dengan segala perasaan.

Bandung, 24 Februari
Kata pertama yang ingin aku ungkapkan adalah, selamat datang di dunia Kim Jaejoong! Selamat bersenang-senang!

Yunho menyunggingkan sebuah senyuman kepedihan dari sudut bibirnya. Keperihan itu begitu dalam, hingga mampu menyentuh dasar hatinya. Begitu sakit, hingga ia merasa tak sanggup lagi, begitu rumit hingga ia tak mampu menemukan penangkalnya. Bersenang-senang, gumannya pelan.
Yunho, biarkan aku sendiri dan berpisahlah denganku dengan tenang sebagaimana bunga – bunga badam dan apel berpisah ketika tiupan bulan menyerakkannya.
Yunho, aku tidak akan pernah bosan-bosan mengatakan bahwa aku mencintaimu, sangat mencintaimu Yunho. Karena itu, aku ingin melihatmu tersenyum bahagia, kau harus bertahan hidup, kau harus sukses, dan kau harus membuatku bangga. Kau sudah berjanji padaku ya, jadi tidak boleh kau ingkari.
Aku tebak, saat kau membaca surat ini artinya kau telah sembuh. Betul kan? Dan aku tahu, matamu sudah bisa melihat sempurna kan? Selamat ya, aku turut senang.
Yunho menyentuh mata kirinya perlahan. Sebuah kesia-siaan menyeruak di sana. Mata yang seharusnya digunakan untuk menyelami keindahan, justru digunakan untuk meratapi kesedihan. Bukan untuk menikmati kecantikan bidadari, melaikan untuk menangisi sebuah nisan. Meski begitu, ia masih cukup waras untuk menyadari bahwa keluh kesahnya tak akan mengembalikan apapun. Hanya menambah kesia-siaan.
Kau tahu Yunho? Aku merasa bodoh saat itu, saat aku memaksamu untuk menikmati langit biru, dan kau yang harus menderita karena aku. Kau tahu bagaimana rasanya menjadi aku saat itu, rasanya sangat perih Yunho, perih sekali di dalam sini, di dadaku. Rasanya aku ingin mati saja melihatmu bersimbah darah, dan kau membiarkanku selamat. Dan kenapa orang-orang hanya memelototimu, bukan menolongmu? Apa mereka tidak tahu, aku tidak bisa berjalan? Apa mereka tidak tahu aku tidak bisa menolongmu? Aku merasa sangat tidak berguna Yunho, maafkan aku.
Aku bersusah payah menarik diri mendekat ke arahmu, membelai rambut hitammu yang sudah berubah warna menjadi merah. Kau egois Yunho! Kenapa kau tak membiarkanku ikut celaka bersamamu? Kenapa kau memonopoli kecelakaan ini sendiri? Aku membencimu Yunho, sempat membencimu. Tapi sekarang aku tidak marah sama sekali, aku tahu, kau melakukan ini karena kau menyayangiku, benarkan? Atau aku yang terlalu percaya diri ya? Kalau benar begitu, aku akan sangat malu. Hehe..
“Karena ada ruang spesial dalam hatiku yang menyeruak memaksa tubuhku untuk melindungimu, Jaejoong. Tapi justru kau yang melindungiku. Bukankan ini lucu?” Yunho tertawa dalam kepedihannya, terdengar seperti seringaian miris yang begitu menusuk ulu hati.
Dan kau tahu apa yang paling berat untukku? Saat dokter mengatakan kau kehilangan banyak darah. Dan rumah sakit kehabisan pasokan golongan dengan rhesus darahmu. Aku benar-benar merasa rapuh, di sampingku, Eomma dan Halmeoni terus menyemangatiku. Membesarkan hatiku. Untung mereka ada di sampingku, karena jika tidak, mungkin aku akan bunuh diri saat itu juga.
Tapi sesuatu membuatku bahagia. Kau tahu apa itu Yunho? Ternyata golongan darahmu sama denganku, begitu pula dengan rhesusnya, sebuah kebetulan yang aku harapkan. Aku senang, dan dengan senang hati pula aku memberikan darahku untukmu. Aku membiarkan dokter mengambil darahku sebanyak yang kau butuhkan. Dokter bilang aku akan mati jika memaksanya. Tapi aku tidak keberatan, selama dokter bisa membantuku untuk bertahan hidup sampai kau sadarkan diri aku pikir itu saja sudah cukup bagiku.
“Kau memang selalu tidak pernah berpikir panjang, Jaejoong. Kau pemuda cantik yang kurang pintar. Karena tindakan anehmu itu sekarang aku hidup, tapi jiwaku yang mati. Sepertinya kau belum memahami arti kebahagian yang sesungguhnya ya? Dasar pemuda menyebalkan!”
Yunho tolong aku, aku merasa sangat lemas. Bahkan untuk menggerakan tanganpun rasanya sulit. Dan saat itu sebuah pikiran terbesit. Jika kau sadar nanti, kau tidak bisa melihatku, dan aku meninggal, rasanya ada yang kurang. Akhirnya aku memaksa dokter untuk memberikan kornea mata kananku padamu, dan memberikan sebelahnya lagi nanti ketika aku benar-benar tidak ada di dunia ini. Aku egois kah? Tapi akhirnya aku senang karena dokter menuruti keinginanmu, mungkin karena aku terlihat sangat menyedihkan, sehingga dokter mengasihaniku, ya? Aku tidak peduli.
Aa.. sulit juga meyakinkan Eomma, tapi akhirnya dia menyerah meskipun masih berurai air mata. Aku memang egois dan keras kepala, tapi jika tidak seperti itu bukan Jaejoong namanya, benarkan? Aku mengatakan padanya bahwa kau mau menjadi anaknya meskipun aku sudah tidak ada. Kerena itu, aku mohon satu permintaan lagi padamu. Tolong jaga Eomma dengan baik ya. Aku titip padamu.
“Tentu, tentu aku akan menjaganya, Jaejoong. Aku akan menyayanginya sebagimana caramu menyayanginya, dia Ibuku juga. Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku janji, pasti,”
Aku tidak pernah menyesal telah melakukan semuanya. Aku akan meninggal dengan tenang, aku janji. Dan aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun. Jadi kau juga harus berjanji untuk selalu mencintaiku, simpan aku dalam hatimu selalu, meski aku tahu, lambat laun kau pasti akan mulai menyukai seorang gadis yang lebih baik. Tapi aku mohon, kenang aku. Asal kau tahu, aku tetap hidup dalam dirimu, sebagai darahmu, sebagai matamu.
Ah iya, hampir aku lupa. Ini kumpulan karya maestro kelas dunia favoritku. Kau harus belajar membaca notnya, dan kau harus bisa memainkan semuanya. Aku ingin kau memainkannya khusus untukku, aku akan setia mendengarmu dari sana. Aku tahu kau bisa.
Salam rindu selamanya.
Sosok yang mencintaimu, Kim Jaejoong.
Air mata Yunho jatuh menetes untuk kesekian kalinya. Hatinya begitu teriris perih. Ia tak akan mencintai gadis lain lagi selama hidupnya, biarkan Jaejoong selalu dalam hatinya.
“Maaf, Yunho-sshi, konser akan segera di mulai. Harap anda segera memasuki panggung!” ujar seorang pemuda sembari membungkukkan tubuhnya.
“Ya,”
Yunho menyeka air matanya, dan segera berjalan dengan pasti memasuki panggung. Ini konser tunggalnya. Matanya mampu menatap ratusan pasang mata yang tak sabar ingin menyaksikan penampilannya. Pemuda itu menarik nafas panjang, kemudian tersenyum ketika mendengar riuhnya tepuk tangan penonton.
“Selamat menyaksikan. Lagu pertama yang akan saya bawakan adalah Serenade karya Mozart. Konser ini saya persembahkan khusus untuk seseorang yang selalu saya cintai, sosok cantik yang saya anggap sebagai istri dalam hati saya, Kim Jaejoong,”
Riuh rendah tepuk tangan penonton memenuhi seluruh penjuru gedung. Dengan pasti Yunho mulai memposisikan tubuhnya. Ia menarik nafas panjang. Harmonipun mengalun indah. Yunho tersenyum ketika lagu yang ia mainkan berakhir. Ia kembali menarik nafas panjang, kemudian mulai kembali memainkan pianonya, membawakan sebuah lagu yang hampir membuat seluruh penonton tercengang tak percaya mendengarnya. Bukan sebuah lagu klasik. Namun begitu dalam dan menyentuh hati dengan lembut, seolah permainan yang ia mainkan diiringi oleh suara indah kekasihnya, Kim Jaejoong.
Demi cintaku padamu..
Kemanapun kau kan kubawa, walaupun harus ku telan lautan bara
Demi cintaku padamu..
Ke gurun ku ikut denganmu, biarpun terus berkorban jiwa dan raga
Bulan madu di awan biru, tiada yang mengganggu
Bulan madu di atas pelangi, hanya kita berdua, nyanyikan lagu cinta, walau seribu duka
Kita takkan terpisah.
***
.
.
.
so short right? Dengan ending fic yang tidak diharapkan -___-* tapi apa mau dikata,penulis berkata lain, hahaha, jangan bosan untuk membaca karya author abal ini ya, review sangat diharapkan untuk kedepannya, sankyuu gomawo😛

32 thoughts on “SNOW IN THE DESERT/YUNJAE/CHAPTER 4 OF 4

  1. ya tuhaaaaaan~. Aku lemes baca part endingny. Rasany ga rela klo eomma pergi ninggalin appa.
    Sumpah deh, kyakny smua perasaan yg ada tumpah jdi satu lewat ff ini, getar bgt bacany #lebay -.-

    Aaah~ buat skuelny thor, reinkarnasi jeje eomma gitu. Hahaha. #memandai sajah

    Nice ending mskipun sad ToT. Huwaaaaaa, hiks, hiks. Tapi aku ttp suka😀 hahahaha

    Selalu, keep writing nd sukses sllu karya2ny author😀 fighting😀

  2. Hiks..Hiks..Chngu tega bner bkin yunjae g brsatu..
    Q bca part ni nangis tau..Bneran deh nangis..
    Q kra yunpa bsa mlihat tu krn keajaiban tp trnyta bkn..
    Tu bkn keajaiban..
    Tp pngorbanan..
    Hiks..Hiks..
    Q sungguh sngat sdih saat ini..
    Ummmmmmaaaaa
    #pluk yunpa..

  3. Kok kayak gini ending nya??
    Aq..aq..aq ngga papa kok..#plak
    Kan terserah author mau dibawa kmna endingnya,,wkwkwk
    Bikin FF lainnya ya thor..
    Epilog maybe?? >.<
    Hwaiting..^^

  4. fufufu~ siapa sih authornya???*reader gg bs bc*lap ingus*hiks,,tragiss,,, br prtm ni bc epep yunjae srasaa klasik bangett,,ngejelsn perasaan keduana,,rs cinta yg blm sempat terucappp,,ahh aq suka klo yunppa jd sosok yg setia*emang biasanya??,,,ditimpuk yunjaeshipper* hiks hiks,,walo sad end,,,tp niiii bwagwusszz bwangwet thorr,,,kpn” bkn ff yg hapi(?)y unn???*ditimpuk gr”nyuruh”* msh galau gr” news kissing scene umma yg d ulang mpe lmapuluh kali ehh skarang SITD malah jd sad end gni,,dah gtu gr”umurq msh 15 jd gg dpt pass,,,ahhh sebelll angkaaa limaaaa,,,,lengkaplah deritaq*dihanta jidat uchun krn mlh curcol*,,,mian thor kbawa suasanaaa

    yoshhh nice epep,,,good job thorr 8)

  5. So sad…..😥
    padahal appa bru ja liat wajah umma yg cantix,
    tp knapa malah pergi tuk slama.y….
    Poor appa TT
    ntu yg trakhir lgu jadul ikut muncul,
    pas bget gambarin perasaan yunjae, ckckck *ketawa geje

  6. thorr T______T
    kenapa jeje haruss mati?? Щ(˚♊˚щ)
    dikirain mereka bakalan happy ending T^T
    kasian appa (T-T)
    *peluk appa* *dihajar cassie yg lain*

  7. .yaaaa ampun
    ni bener2 nguras air mata

    .dah d’wanti2 pasti part akhir sad end
    tp te2p ajj kg relaaaaa
    huweee umma pergii jaohT,T

    tpi appa hebad udah jd pianist

    ff’a keren bgt,romantic namun menyedihkn
    feel’a dpt bgt:'(

    daebak author amee

  8. Thanks author yg udah bikin bantalku banjir air mata :”<
    gakuaaat aaaaaa, but overall ceritanya DAEBAAK! *walau ngarepnya happy ending* haha.

    Keep writting thor! Hwaiting! :''D

  9. wah chukhae fanfic ini berhasil bikin aq nangis hiks hiks hiks
    bener bener sedih banged.. sedalem itu perasaan jae sampe dia rela ngasih banyak darah and matanya buat yunpa T____T
    jadi yang bikin jaejoong meninggal itu bukan karna kecelakaan tapi karena banyak darah yang diambil yah..

    seru banged author fanficnya ^^

  10. kyaaa author apa-apaan ini?
    kenapa umma meninggal
    hiks hiks
    beneran nih ff sukses bikin aku nangis bombay
    selamat ne author
    srot srot
    /ngelap ingus pake kutang umma/

    tapi suka pas appa bilang tidak akan mencintai gadis lain selamanya
    karena di hatinya cuma ada kim jaejoong seorang

    • RT @rijejeyunjae tapi suka pas appa bilang tidak akan mencintai gadis lain selamanya
      karena di hatinya cuma ada kim jaejoong seorang :pppp

  11. authorr.. ini apaa??
    knpa umma nya saya meninggal?
    kyaaaaaaaaaaa!!!
    buat chapter slanjutnya dong Thorrr…
    buat umma nya bangkit lagi(?)
    wkwkwkwkwk xD

  12. tanggung jawab thor, puasa saya batal gara2 bca endingnya.
    butuh sequel, karena belum puas sma endingnya.*diketekinauthor*

  13. Q menangiiiiiiss melepaskan kepergianmu dari sisi hidupQ #nyanyi Lagu’a Rosa
    Sediiih banged ˘ϑέcђ sumpah mampus, τρ ýanƍ mampus bkn àƙύ hehehe #ngaco
    Umma itu namanya Ъ>:/ syg appa, masa appa’a di tinggalin sendirian di dunia ini…!!
    Lama” appa juga mati karna rindu umma

  14. Huweee, sedih banget endingnyaaa.. T^T
    Yunpa, Jaema cinta banget sama Yunpa sampe ikhlas ridho donorin darah sama kornea matanya.
    Terharu banget sama pengorbanan Jaema buat Yunpa. Sampe kapan pun cinta Yunpa cuma buat Jaema begitu jg sebaliknya. YunJae foreverrrr..🙂

  15. Ampunn.. Deg”an bgt pas bca ending nya..
    Ternyata Sad end.. Umma meninggal..
    Huwaaaaaaaa Cba aj kalian bsa bersama.. Kasihan Yunppa.. Walau udh bisa ngeliat lgi..tpi gak ad Jaemaa d sampingnya.. Huuuu pasti perasaannya sngat Sedih..

  16. daebak~ gak nyangka sad ending. hiks umma~ T_T knpa tggalin appa sendiri. tp syang chapter yg ini kependekan. smgat author dtunggu karyanya. hehe ^^

  17. entahlah ini sad ending atau happy ending, bingung menilainya~~~
    umma mengorbankan hidupnya untuk appa, meninggalkan appa membawa serta hati dan jiwa appa~~~
    aku yakin appa akan selalu mengingatmu, karna setiap hembus nafasnya hanyalah untukmu umma~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s