GYEOLHON?/YUNJAE/CHAPTER 2 OF ?


CHAPTER 2 OF ? – ANOTHER PROBLEM
Pairing : Kim Jaejoong x Jung Yunho x Shim Changmin
Author : Amee
.
Warning : don’t copy this story without permission!

Bahasanya sederhana, semoga tetap menarik untuk dinikmati sebenarnya cerita ini dibuat 4 tahun yang lalu, lmao #curcol

.

.

Jaejoong telah terbingkai sempurna dalam seragamnya. Ia tampak begitu sempurna dengan segala keindahan yang terpancar kuat dari dalam dirinya. Rambut coklat madu yang dibiarkan tergerai menutupi tengkuknya, dengan penjepit rambut hitam sebagai aksen yang hamper tak terlihat. Jaejoong memfokuskan pandangan pada apa yang tengah menjadi fokus pandangnya. Cermin berukuran besar yang memantulkan bayangannya dengan nyata tanpa cacat yang dapat mengurangi kesempurnaannya

Sebenarnya, pikirannya telah melayang sejak tadi, kegusaran yang menyelimuti hatinya, seaakan enggan untuk pergi. Bagai kabut tebal di pagi hari setelah turun hujan malam tadi. Pemuda itu menolehkan kepalanya. Menatap jendela yang dibiarkan tebuka. Memejamkan mata sesaat cukup mengurangi kegelisahan.

Ia menatap lurus menembus jendela. Meresapi alam, memuji kecantikannya. Seakan keindahannya tak pernah surut, tetap terjaga. Perasaan tenang mulai menelusup ke dalam hatinya, memberikan rasa nyaman yang sulit ditafsirkan. Jaejoong menyunggingkan sebuah senyuman, ia kembali mengalihkan pandangannya.

Ketenangan tidak berlangsung lama. Telinganya menangkap sesuatu. Bunyi klakson yang ditekan berkali-kali begitu memekakan telinga. Membuyarkan semua ketenangan yang baru saja diperolehnya, dalam sepersekian detik saja semuanya berubah menjadi kekesalan. Ia tahu bahwa Seoul memang kota yang tidak pernah tidur, tapi bisakah hidupnya terasa tenang sehari saja. Pemuda itu menggurutu sendiri, meski ia tahu semuanya percuma.

“Apa dia bodoh atau terlalu pintar? Mengganggu! Meneyebalkan!”

Dengan gesit ia merapikan buku-bukunya dan segera menyambar tasnya. Dan dalam hitungan detik saja, ia telah meninggalkan kamar. Jaejoong menghentikan langkahnya tepat di balik pintu. Ia menarik nafas panjang, bersiap memberi pidato dan nasihat panjang lebar pada makhluk yang telah mengganggu ketenangan paginya. Pemuda itu mengangguk dua kali, dan dengan pasti membuka pintu, siap menerjang apa saja yang ada di hadapannya.

“Dasar merepotkan! Seperti kura-kura, ah bukan, tapi siput. Apa semua makhluk menyerupai gadis sepertimu itu lama? Membosankan! Kau bisa lebih cepat dari ini Kim Jaejoong? Kita sudah hampir terlambat!” bentak Yunho, menghadang kemunculan Jaejoong dengan elegannya.

Jaejoong memiringkan kepalanya, berusaha mencerna satu persatu kata yang ditujukan padanya. Kenapa jadi aku yang diberi nasihat? Pikirnya. Jaejoong masih berkubang dalam pikiran dan keterkejutannya sendiri, sementara Yunho hanya menatapnya horror. Sorot mata tajam yang hampir membuat Jaejoong bergidik ngeri. Pemuda itu seakan tidak peduli dengan ekspresi pemuda cantik di hadapannya. Acuh tak acuh.

“Aa.. kau tahu? Kau yang menyebalkan. Kau bisa bersabar sedikit tuan muda Yunho yang terhormat? Kalau kau tidak ingin terlambat, kenapa tidak pergi sendiri saja? Kau tidak perlu repot-repot menjemputku!” Jaejoong memberengut kesal. Kenapa ia diharuskan berhadapan dengan monster berwajah malaikat seperti ini?

“Ne? Benarkah? Tapi terimakasih, aku masih ingin hidup dengan normal tanpa ceramah kedua orangtua kita,”

“Penakut! Kalau memang begitu, seharusnya kau bersabar sedikit. Menyebalkan!”

Jaejoong menepuk-nepuk jidatnya, sementara Yunho hanya menatapnya bosan. Jaejoong menoleh. Tampak Yunho tengah bersiap – siap dengan motornya. Sekali lagi pemuda cantik itu mendelik sebal. Jangan menilai buku dari sampulnya, dan pepatah itu seratus persen benar. Bagi Jaejoong, Yunho adalah serigala berbulu domba, monster berkedok malaikat, dan segala julukan buruk lainnya. Seorang pemuda menyebalkan, kasar, dan suka membentak. Jika ia mampu, ingin rasanya menumpahkan segala unek-unek yang bersarang kokoh di dalam hati dan pikirannya ke dalam sebuah hardikan.

Dengan ragu-ragu, Jaejoong menaiki motor putih di hadapannya. Rasanya ia ingin menjatuhkan diri dari atas puncak menara eifel sekarang. Demi Tuhan, sekarang ini ia tengah mengalami kontradiksi hati yang maha dahsyat. Pertarungan antara keinginan hati dan ego yang dimiliki. Hatinya menciut, ia mengakui keinginan hatinya untuk duduk dekat dengan Yunho, namun di sisi lain, egonya meminta untuk menahan harga. Jaejoong memalingkan wajahnya, matanya menatap pohon akasia yang tumbuh sehat sejauh garis matanya memandang. Pemuda cantik itu menepuk-nepuk jidatnya sendiri, Mungkin jika ia menabrakan kepalanya pada pohon akasia di depan sana kefrustasiannya akan sedikit berkurang.

Akhirnya ego yang memenangkan pertarungan sengit itu. Jaejoong memilih untuk menjaga jarak. Angin pagi berhembus menerpanya, mengibarkan rambut auburnnya. Hidungnya dapat mencium aroma maskulin dari tubuh Yunho yang mengguar karena terpaan angin. Membuatnya meleleh karena terperosok ke dalam pesona pangeran berkuda putih. Jaejoong memastikannya sekali lagi, dan ia mengangguk paham. Di matanya, meskipun Yunho adalah sosok yang sempurna menyebalkan, namun ketampanannya tidak pernah pudar.

Di sisi lain, Yunho hanya tersenyum begitu angin menerpa wajahnya. Dan senyumannya semakin terkembang begitu menyadari semilir angin turut memainkan rambut coklat madu tunangannya.

Angin begitu lembut pagi itu, Jaejoong benar-benar tampak bak bidadari yang baru saja lahir. Cantik, putih, dengan rambut auburn panjang yang terbang tertiup angin. Dan Yunho adalah pangerannya, dengan ketampanan yang ia miliki, sungguh suatu kepaduan saat disandingkan dengan Jaejoong,

“Jae, tidak bisakah kau duduk lebih maju sedikit? Rasanya aku seperti sopir jika kau duduk dengan jarak sejauh itu,”

“Kau pikir kau siapa? Seenaknya mengaturku. Menyebalkan!”

“Aa… Terserah!”

Dari kejauhan tampak Shinki High School bYoochunri dengan kokoh. Bagai kaset yang diputar ulang setiap harinya, aktivitas yang sama selalu terulang. Murid-murid memasuki gerbang bersamaan, saling menyapa dan menggoda satu sama lain. Menghidupkan pagi yang indah.

“Ya… Yun. Berhenti, berhenti! Yun, berhenti!” Jaejoong memukul-mukul tunangannya, berharap pemuda tampan itu segera menghentikan laju motornya.

“Mwo? Ada apa? Kau ini kenapa Nona? Sebentar lagi kita sampai, untuk apa kau memintaku berhenti di sini?” Yunho mengerutkan dahinya. Terjerembab dalam sebuah kebingungan.

“Aa.. ternyata kau tak sepandai yang aku pikirkan. Tuan Jung yang terhormat, justru karena alasan itu aku meminta turun di sini. Aku yakin, kau juga keberatan jika satu sekolah tahu tentang pertunangan kita, benar?

“Aa.. kau benar. Baiklah, terserah!”

Jaejoong segera beringsut turun dari motor, rasa malas mulai menyeruak menginfeksinya. Jaejoong menarik nafas panjang, memandang kosong jarak yang memisahkannya dengan sekolah. Cukup jauh. Sementara itu, Yunho hanya tersenyum penuh arti, dan tanpa ucapan pamit, ia menerjang jalanan begitu saja, meninggalkan Jaejoong sendiri dengan kebingungannya.

++M2++

“Wah, indah. Kenapa kau tak mengabarkannya padaku Jae. Aku ingin yang seperti itu. Itu cincin baru? Kau membelinya sendiri?” Junsu mulai berkoar dengan segala celotehannya. Hampir membuat Jaejoong jenuh dan ingin meninggalkan tempat itu segera.

“Ya,”

“Astaga, itu cincin yang cantik Jae, ah, aku mau,”

“Tentu saja. Ini memang cincin yang begitu cantik, sama seperti aku yang mengenakannya. Ah, maksudku aku begitu tampan sehingga tampak cantik,”

“Ya Tuhan, kau menggelikan! Kalau begitu, cincin itu akan semakin indah jika aku yang mengenakannya, karena aku lebih indah dibandingkan denganmu!” tawa Junsu membahana memenuhi indra pendengarannya, Jaejoong hanya mendelik malas menanggapinya. “Baiklah, baiklah, aku kembali ke kelasku dulu!”

Lewat sudut matanya, Jaejoong menangkap siluet Junsu yang mulai menghilang di balik pintu. Ia menarik nafas panjang, kemudian menyandarkan tubuhnya pada kursi. Tangan kanannya meraih I-pod yang tergeletak di atas meja, dengan lincah ia memasang earphone pada kedua telinganya. Membiarkan pendengarannya dimanjakan oleh alunan musik. Ia melemparkan pandangannya menembus jendela, menatap beberapa murid yang tengah asik berkubang dengan kesibukannya masing-masing.

Jaejoong masih berkutat pada garis astronomi yang menjadi fokus pandangnya hingga tidak menyadari bahwa Yoochun telah bYoochunri di sampingnya. Menatap takjim cincin yang dikenakannya. Jaejoong menolehkan kepalanya, dan mendapati Yoochun yang menatapnya ‘tak berkedip’, membuatnya tersentak seketika. Kenapa rasanya Tuhan begitu senang mengolahragakan hatinya akhir-akhir ini?

Jaejoong merasa kepalanya benar-benar pening sekarang. Apa pemuda jenius itu telah menyadari keganjilannya? Apa semua rahasia akan terbongkar secepat ini? Jaejoong berusaha memposisikan tubuhnya senyaman mungkin, memasang sebuah senyuman, dan menata hatinya agar keterkejutannya tidak tampak menonjol.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Yoochun dengan tatapan menyelidik yang Jaejoong benci.

“Tentu aja. Kenapa tidak,” pemuda cantik itu mencoba untuk tetap bersikap tenang,meskipun kenyataan menghianatinya.

“Apa cincin seperti itu sedang musim? Aku melihat Yunho mengenakannya tadi, dan kebetulan sekali kau juga memiliki yang sama persis. Tapi ini aneh, kau tahu, Yunho mengatakan dia memesannya. Ah, merepotkan sekali memikirkan hal seperti ini!”

Jaejoong merasa lidahnya kelu. Suara tercekat di kerongkongan. Dan otaknya mulai berhenti bekerja. Pemuda cantik itu kehabisan pasokan udara dan alasan yang mungkin saja membunuhnya. Hanya orang bodoh yang berfikiran untuk menyampaikan sebuah alasan konyol pada orang jenius. Menggelikan.

“Aa.. Eomma yang membelikanku ini, dan aku tidak tahu dari mana ia mendepatkannya. Dan jika Yunho memiliki cincin yang serupa dengan ini mungkin hanya kebetulan saja. Lagipula..”

Jaejoong belum sempat menyelesaikan kalimatnya, matanya lebih dulu menangkap sebuah siluet yang terasa begitu menamparnya. Yunho tengah berdiri di ambang pintu. Jaejoong benar-benar lemas sekarang, bukan hanya otaknya yang berhenti bekerja, namun mata, telinga, jantung, dan paru-parunya juga. Ia lumpuh, bahkan hampir mati. Kepanikan ini benar-benar membunuhnya perlahan. Kenapa ia harus muncul di saat seperti ini? Pikirannya meracau entah kemana.

“Jae, Yunho mencarimu!” teriak Siwon. Kata-kata itu benar menohok ulu hatinya. Kenapa pemuda tampan itu tidak bisa membaca suasana barang sidikit saja? Kenapa ia harus memunculkan diri di saat yang tidak tepat? Jaejoong merasa dirinya menjadi pusat perhatian, entah ia harus senang atau justru merasa kalut. Jaejoong benar-benar merasa mengerdil sekarang, belum lagi ketika matanya bertemu pandang dengan Yoochun yang notabene adalah sahabat Yunho. Ini semakin rumit.

“Kau mengenal Yunho? Sejak kapan?” Yoochun menautkan ke dua alisnya, rasa penasaran dan keganjilan yang berputar di dalam kepalanya telah sampai batas maksimal.

“Aa.. i..itu.. aku bisa menjelaskannya nanti!”

Jaejoong segera berlari menjauh, menghindari tatapan menyelidik seorang Park. Ia mengabaikan semua pandangan bingung yang ditujukan kepadanya, ia sungguh tidak peduli. Pemuda cantik itu hanya berlari dengan tatapan lurus ke depan, berusaha segera mungkin tiba di tempat Yunho menantinya. Satu langkah lagi dan ia sampai. Tanpa banyak basa-basi dan memperhitungkan kondisi serta situasi yang ada, Jaejoong segera menarik pemuda tampan itu menjauh.

“Aku harap kau bisa lebih pintar sedikit, Yun! Kenapa kau harus datang sekarang? Kau tahu, kau datang di saat yang tidak tepat. Menyebalkan!”

“Apa yang sedang kau bicarakan, Kim Jaejoong? Aku tidak mengerti. Memangnya kenapa jika aku mengunjungimu? Apa aku salah?”

“Bukan, maksudku bukan seperti itu, Yun. Hanya saja, kau datang di saat yang tidak tepat,”

“Maksudmu?”

“Yoochun sedang mengintrogasiku, tentang ini, cincin kita. Dan kau tahu apa artinya? Dengan kedatanganmu ini suasana semakin kacau. Dan aku tidak yakin dapat menyelesaikannya. Jadi, lebih baik sekarang kau pergi,”

“Aa.. baiklah. Tapi terima ini!”

Yunho melemparkan sebatang coklat pada sosok dihadapannya, dan dengan sigap Jaejoong menangkapnya. Yunho segera pergi setelah memberikan senyuman selamat tinggal. Jaejoong sedikit menggeram. Tangannya menggenggam erat coklat yang dihadiahkan oleh tunangannya.

Ia melangkahkan kaki takut-takut kembali ke kelas. Menyongsong segala kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi padanya. Perasaannya benar-benar kacau sekarang, Jaejoong merasa ada yang menggelitik di dalam perutnya, jantungnya terasa berdetak dengan irama yang tidak menentu. Membuatnya mual. Dari sudut matanya, Jaejoong dapat menangkap tatapan tajam Yoochun yang begitu menohok. Namun hati kecilnya tetap memaksa untuk tenang.

“Apa yang kalian bicarakan?”

“Tidak ada. Yunho hanya memberikan coklat ini padaku,” jawab Jaejoong sembari melemparkan coklat dalam genggamannya pada Yoochun.

Untuk kedua kalinya, Jaejoong membelalakan matanya sempurna. Sosok berambut coklat itu masih berdiri sempurna di ambang pintu. Memperhatikannya sembari tersenyum.

“Jae, Chun, Yunho menunggu kalian!”teriak Siwon. Jaejoong tidak menjawab, ia hanya menatap Yunho dan Yoochun bergantian kemudian tersenyum kecut.

Tanpa banyak berpikir panjang lagi, Jaejoong segera berlari menuju Yunho, diikuti oleh Yoochun yang berjalan di belakangnya. Jaejoong sungguh tidak mengerti jalan pikirannya, entah apa yang berputar dalam pikiran pemuda itu, sungguh tidak dapat ditaksir jawabannya.

“Ada apa? Merepotkan!” Yoochun mendekat dengan kedua tangan dilipat dibelakang kepalanya.

“Aku pikir semuanya memang selalu terasa merepotkan untukmu, Chun. Jadi aku harap kau diam saja dengan tenang!” balas Yunho tanpa ekspresi. Yoochun hanya bergeming menanggapinya.

Yunho menarik tangan Jaejoong dan Yoochun dengan paksa, membawa keduanya menuju halaman belakang sekolah. Yunho menghela nafas panjang, mengabaikan tatapan bingung kedua makhluk di hadapannya. Yunho menarik Jaejoong mendekat ke arahnya, kemudian mengerlingkan tatapan pada Yoochun yang menatapnya skeptis.

“Kau saksinya Chun!” pinta Yunho datar.

“Saksi? Saksi apa?” tanya Yoochun. Ini membosankan. Sangat membuang-buang waktu, lebih baik tidur di kelas, daripada harus menonton pertunjukan bodoh seperti ini, pikirnya.

“Saksi… untuk ini. Jaejoong, maukah kau menjadi kekasihku?”

Dunia Jaejoong jungkir balik sekarang. Kenyataan mulai runtuh digantikan kemayaan tiada akhir yang entah apa. Membuat kepalanya hampir pecah, karena tidak mampu menafsirkan semuanya. Sebuah celotehan singkat, berupa intermezzo yang memuakkan. Jaejoong dapat melihatnya, cahaya itu, cahaya yang membebaskannya dari kebutaan, menuntunnya menuju tujuan yang sesungguhnya.

“Aa.. i.. iya,”

“Chun, kau saksinya. Jaejoong milikku mulai saat ini, dia kekasihku!” Yunho membawa Jaejoong ke dalam pelukannya, memeluknya erat.

“Ah, iya. Baiklah!”

++M2++

Hanya sekilas Jaejoong memperhatikan pemuda tampan yang tengah terlelap tenang di atas rerumputan dengan dipayungi langit biru berawan, matanya terpejam, tampak sangat bahagia. Jaejoong merasa jantungnya berdegup kencang. Ia takut, sangat takut. Namun ia harus maju, hati kecilnya sungguh ingin tahu.

“Eum.. Yun, kenapa kau mau merepotkan diri sendiri sekadar untuk memintaku menjadi kekasihmu di hadapan Yoochun?” Jaejoong merasakan wajahnya memanas saat mengatakannya.

“Kau pikir kenapa aku tidak menolak saat diminta untuk bertunangan denganmu?”

“Maksudmu? Kau sungguh menyukaiku?”

“Hm,”

Jaejoong merasa jantungnya siap melompat keluar saking riangnya. Ini mimpi yang menjadi kenyataan, sungguh. Pangeran berkuda putih impiannya kini menjadi miliknya, seutuhnya, bukan hanya raganya, namun juga hatinya. Pemuda itu masih asik dalam pikirannya sendiri, sehingga ia tidak sadar bahwa Yunho telah bangkit dari tidurnya, menatapnya dalam diam. Memperhatikan setiap gerakan rambut coklat madunya yang tertiup angin. Menikmati pesona kecantikan dan senyum tulus seorang Kim Jaejoong.

“Kau sedang memikirkan apa? Melamunkanku? Kau tidak mau pulang? Ini sudah sore,” tegur Yunho. Jaejoong benar-benar merasa terbakar sekarang. Malu, mengetahui Yunho tengah mendapati dirinya dalam sebuah fantasi.

“Aa.. iya, ayo!”

++M2++

Pagi  yang indah. Lebih cerah dari biasanya. Langit menghadirkan cakrawala keindahan yang tiada tara. Semilir angin yang begitu menyejukan, dan tarian ranting pepohonan turut menyemarakkan.

Jaejoong menengadahkan kepalanya menatap permadani biru yang terhampar luas, menikmati pertunjukan dua merpati yang tengah bergelut dalam nuansa keromantisan. Ia tidak sadar akan keberadaan seseorang di hadapannya, hingga ia menubruknya. Jaejoong tersungkur, sementara sosok yang ditabraknya seolah tak acuh dengan apa yang terjadi, ia pergi menjauh, membiarkan Jaejoong tetap meringis dalam diam.

Dari kejauhan, siluet itu tampak mendekat. Sosok lain yang selalu ia kagumi selain Yunho. Sosok yang mampu membuatnya selalu bersemu merah, merasakan detak jantung di luar batas normal, dan selalu jatuh ke dalam jurang pesona yang sama. Dialah Shim Changmin.

Tanpa disadari, pemuda berambut hitam dengan sorot mata teduh itu telah berada di hadapannya, dengan senyuman khas bangsawan ia mengulurkan tangannya. Perlahan namun pasti, Jaejoong berusa meraih uluran itu, memimpikan untuk menggenggamnya. Namun di saat yang bersamaan seseorang mengangkat tubuhnya dari belakang. Memupuskan semua harapan yang terukir dalam benaknya.

Jaejoong menolehkan kepalanya, berusaha mencari tahu siapa yang menolongnya. Yunho. Jaejoong hanya menatapnya sekilas, kemudian kembali mengalihkannya untuk menatap keindahan seorang Shim. Changmin hanya tersenyum tanpa banyak berkata, kemudian ia pergi.

“Aa.. Kenapa dia pergi?”

“Kau ingat sesuatu, Jaejoong? Kau TUNANGANKU!” tegas Yunho.

 

TBC

Silahkan tinggalkan jejak berupa review setelah bunyi *pppiiiiiiippppppppppppppp*😀

11 thoughts on “GYEOLHON?/YUNJAE/CHAPTER 2 OF ?

  1. Cie…cie…cie…
    Ternyata mereka sama2 suka toh, tsk.
    Suie polos bget, dbohongi umma nurut ja.
    Semoga stlah chun tau, yunjae makin deket….
    Wah, umma kesengsem ma min,
    gawat….
    Tuh kan appa marah… :-C

  2. uwow..uwow… *_*
    cerita 4 tahun yang lalu?? still fresh ya..wkwkwkwk
    tapi makasih thor udah di post skrg, jadinya kita bs baca juga..^^

    Changmin memang pihak ketiga yang selalu cocok membuat pasangan Yunjae jadi panas..wkwkwkwk
    Ayo lanjutin lagi thor..^^

  3. woaa yunjae sama-sama suka
    appa minta umma jadi kekasihnya
    ck bahkan mereka udah tunangan,kenapa gak jujur aja?
    kyaa umma andwee jangan suka sama bang min
    kan umma sukanya sama appa
    aishh appa marah kan tuh jadinya

    di tunggu lanjutannya
    jangan lama2 yah
    hehe

  4. Seruuuu kupikir,yunho ga suka sama jaejoong abisnya datar banged waktu tunangan.. Jaejoong kan suka sama yunho tapi kenapa dia kok kayaknya malah judes gitu sama yunho ckckck
    ehhh serius jaejoong sebenernya lbih suka sama changmin atau sama yunho??? Koq blg sosok changmin,sosok yg bs bikin dia merah… Aiguu pantesan aja yunho cemburu

    Ayoo lanjutkan jangan lama2 updatenya yah ^^

  5. su~ ie polos amat yaa, diboongin mau aj =_____=
    cieee jg jadi saksi *poke, toel uchun* u,u
    cieee shim changmin yg jaid pihak ketiga u.u

    lanjuttt thor (ʃƪ˘▿˘) (˘▿˘ʃƪ)

  6. ah… akhirny jadian juga… pa gi smpai da saksi segala bwat neresmiin hub mereka… yunho cemburu tuch ma changmin… hahaha… ayo lanjut… gak sabar nich nunggu kelanjutanny…

  7. ah,ini menggembirakan.
    ternyata Yunpa suka ma Jaema,makanya gak nolak pas disuruh tunangan ma Jaema.

    Uchun ampe dijadiin saksi ma Yunpa.
    tapi napa Jaema berdebar-debar pas ketemu Changmin?

    hihi,,,Yunpa cemburu tuh.

  8. O..O.. Ni sbnerny gmn sih prasaanny jaema..
    Sukany ke spa sbnerny..
    Ke yunpa ato ke min”..
    Aduh pusing deh q mkirin jaema..
    Cpet lnjut chngu..
    Q tnggu next chapny..

  9. Uhuy….ternyata oh ternyata yunpa juga suka ýª ªⓜª jaema, habisnya tadi pagi waktu jemput jaema galak gitu..kirain Ъ>:/ suka…tapi…tapi..kenapa hati jaema mendua, jangan suka sam̶̲̅α̇ Changmin umma, umma ųϑªђ hak milik aPpa, ųϑªђ di patenkan ‘yunjae’ Ъ>:/ boleh jadi ‘minjae’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s