BLACK FLOWER/ YUNJAE/ CHAPTER 1 OF ?


CHAPTER 1 : PROLOG – STRONG BABY

Author : Amee

Pairing : Jung Yunho x Kim jaejoong x Shim Changmin

Warning : Tolong untuk tidak meng-copy cerita ini tanpa permisi. Dan jangan lupa untuk meninggalkan jejak^^ Ini menggunakan bahasa yang sedikit “serius” semoga tidak membosankan untuk dibaca.

Back sound : Lee Sun Hee – Fox Rain #abaikan

.

.

Aku ingin mencintainya seutuhnya, apa adanya, tapi seakan aku tak bisa. Kenapa Tuhan? Benar yang mereka katakan, bahwa cinta dan kebodohan itu berada dalam satu garis lurus yang tidak dapat dipisahkan.

.

.

Rasa frustasi dalam diri manusia bukanlah hal baru, perasaan itu muncul dengan sendirinya karena kita yang telah membuatnya. Kita terperosok ke dalam sebuah kekhawatiran berlebihan karena kita yang menciptakannya. Tidak ada sosok lain yang dapat disalahkan dan dimintai pertanggungjawaban. Ketika kita telah memutuskan untuk menceburkan diri pada suatu kubangan permasalahan, maka pada saat itu kita harus siap dengan segala konsekuensi yang akan menghadang.

Jaejoong menggenggam erat ponsel miliknya, sesekali mengetuk-ngetukkan jarinya pada layar. Ia berdecak kesal, pikirannya melayang entah kemana. Terkadang sesuatu yang begitu mudah untuk dimengerti justru menjadi sangat sulit untuk dimengerti.

“Sudah berapa lama aku menjalin hubungan dengannya? Aku lupa…”

Ia mengacak-acak rambutnya, frustasi. Terkadang ia berfikir, meskipun Changmin duduk di hadapannya, tersenyum padanya bahkan tanpa dibatasi jarak, namun ia benar-benar tidak mengenalnya. Seperti apa perasaannya? Apa yang tengah dipikirkannya? Apakah Changmin menyayanginya? Ia tidak tahu.

Jaejoong menarik nafas panjang sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang, sementara ponsel yang sejak tadi di genggamnya ia lempar asal. Pikiran labilnya membahana mengunjungi masa lalu, ia tersenyum kecut mengingat hal apa yang menghampiri pikirannya. Sebuah alasan tidak masuk akal yang membuatnya kini bisa bersama dengan Changmin.

“Mungkin sejak awal ini adalah sebuah kesalahan, tapi tidak egoiskan kalau aku berharap semuanya akan baik-baik saja, dan memiliki akhir yang indah,”

Kotak pandora itu akhirnya kembali terbuka, mau tidak mau, pada akhirnya tetap akan terasa menyakitkan. Rasa suka Jaejoong pada Choi Siwon, sahabatnya, selama dua tahun berakhir pada satu titik yang mengharuskan ia menjalin hubungan dengan Shim Changmin.

Jaejoong merasa kepalanya benar-benar berat sekarang, setiap kali ia mengingat hal ini, ia merasa sangat bodoh. Hanya karena tidak ingin merusak persahabatannya dengan Siwon, ia menyebarkan gossip bahwa ia menyukai Changmin, benar-benar kisah yang begitu konyol bukan? Dan siapa yang menyangka bahwa ternyata Changmin benar-benar menyukainya sejak kepindahannya ke sekolah yang sama dengan Jaejoong. Dan inilah klimaksnya, Jaejoong berusaha untuk menyayangi Changmin perlahan dalam sebuah ikatan yang mengikat mereka sebagai sepasang kekasih.

Ah… Itu cerita lama ketika mereka masih berada di sekolah tinggi, ketika mereka masih mengenakan seragam. Sekarang semuanya telah berubah, perlahan berubah dengan sendirinya tanpa dibuat konsep akan menjadi seperti apa nantinya. Perguruan tinggi, sebuah tempat yang tanpa para aktor di dalamnya tahu, akan merubah semua jalan cerita perlahan, mengantarkan meraka pada sebuah klimaks baru yang tengah menunggu mereka di depan sana. Sebuah kejutan, yang entah baik atau buruk, entah menghasilkan kebahagiaan atau kesediahan.

“Dia bahkan sama sekali tidak menghubungi ku,”

Jaejoong  bangkit perlahan, kemudian meraih bingkai yang memuat foto dirinya dan Changmin. Satu-satunya foto yang ia miliki, bahkan untuk mendapatkannya pun, ia harus bersusah payah menyembunyikan kamera yang telah ia set timer. Menyedihkan bukan?

Jaejoong menatap bingkai itu sebari tersenyum, sembari menyentuh wajah Changmin pada gambar tersebut, tampan. Shim Changmin, pemuda itu terkadang memang bisa terlihat begitu tampan, pendiam, sedikit bicara, dan seolah tidak peduli dengan keadaan sekitar, begitu tak acuh.

Lelah. Ya perasaan lelah itu kerap kali menghampirinya. Ia lelah dengan hubungan ini, ia lelah seolah hanya dianggap sebagai manekin berjalan, atau anak kucing yang begitu menyedihkan. Malukah Changmin jika berjalan bersamanya? Hingga ia tak pernah sekalipun berjalan berdampingan dengannya, jika tidak meninggalkannya, maka ia akan mendorongnya agar berjalan dengan cepat. Terlalu risihkan Changmin untuk menggandeng tangannya, semata-mata untuk memproterknya ketika menyebrang? Sehingga ia harus menarik ujung baju Jaejoong ketika menyebrang. Sebegitu mahalkah kata maaf, sayang dan rindu bagi seorang Shim Changmin hingga ia tidak pernah mengucapkannya? Sebegitu malaskah Changmin mendengar suara Jaejoong hingga selama 5 bulan berhubungan ia hanya satu kali menelepon? Sebegitu tidak pentingkah anniversary sehingga setiap kali Jaejoong mengugkapkannya hanya akan dibalas dengan kata-kata pedas Changmin seperti, lalu kau bangga? Atau apa itu penting? Dan sebegitu banggakah Changmin sehingga ia mengakui dengan lantang bahwa ia seorang parasit? Jaejoong menghela nafas panjang, berat. Sebenarnya apa arti keberadaannya?

“Aku tidak apa-apa jika kau menduakanku, asalkan kau memperlakukannya sama seperti kau memperlakukanku tidak lebih baik dari itu,” kata-kata itu lolos begitu saja dari bibir mungilnya. Jauh di dalam lubuk hatinya ia berharap, mungkin rasa lelahnya akan berkurang sedikit jika ia membaginya dengan orang lain. Itu saja.

Jaejoong menggangguk-anggukkan kepalanya seolah menyakinkan keseriusannya. Kamar berukuran 4×6 itu begitu hening selama beberapa saat, hanya detik jam yang seolah setia menemani kesendiriannya.

“Yaaa…  Dimana poselku?” teriak Jaejoong tiba-tiba membuyarkan keheningan.

Pemuda itu segera berlari kesana kemari dengan keributan yang mampu mengalahkan pemain orchestra. Ia terus mengulangi ritualnya, merunduk, berdiri, merunduk lagi, berdiri lagi, dan terus sepirti  itu.

Ia menggerutkan keningnya  bingung, apa ponselnya diberi keajaiban oleh Tuhan seperti pinokio yang mampu hidup dan berjalan sendiri, karena sudah 5 menit belalu ia mencarinya dan belum menemukannya, bahkan ia merasa pinggangnya  kram karena ritual merunduk-berdiri yang sejak tadi dilakukannya.

“Ternyata kau disini eoh?” Jaejoong tersenyum lebar sembari meraih ponsel yang terngeletak mengenaskan diantara lemari  dan meja rias.

Sebuah pesan masuk baru terpampang di layar ponsel berwallpaper kelinci putih yang tengah duduk di atas kursi. Jaejoong segera membukanya, sebuah pesan singkat yang hanya berisikan satu kata, “Jae”, dikirim oleh seseorang yang sejak tadi ditunggunya.

To : Nae Saranga

Iyaaa, maaf lama membalasnya, aku lupa menaruh ponselku🙂 Kau sedang apa?

Jaejoong memerhatikan jam digital yang bergerak pasti di layar ponselnya, menanti sebuah balasan atas pesannya. Ponselnya bergetar, dan mau tidak mau sebuah senyuman mengembang di bibirnya.

From : Nae Saranga

Diam di rumah. Bisa kau mainkan game onlineku? Sedang ada event besar dan penting, kuota modemku habis, aku belum sempat mengisinya. Mainkan seperti yang aku tunjukan kemarin.

Entah kenapa, tubuh Jaejoong bergetar dengan sendirinya. Mungkin ia tengah menjadi perasa kini. Sebuah kesalahankah mengharapkan kekasihnya menanyakan bagaimana kabarnya? Terlalu berlebihankah? Pada kenyataannya, Changmin menghubunginya karena membutuhkannya, itu saja.

To : Nae Saranga

Bukannya aku tidak mau, tapi aku harus mempersiapkan keperluan untuk ospek fakultasku besok, maaf😦

From : Nae Saranga

Kalau memang tidak mau katakan saja langsung, tidak perlu berbelit-belit seperti itu, aku hanya meminta bantuanmu sedikit. Tapi terserah, aku tidak memaksa.

Dan pada akhirnya, kembali Jaejoong menjadi pihak yang salah, pihak yang perlu mengutarakan kata maaf. Ia menarik nafas panjang, kembali merebahkan dirinya di atas kasur, melemparkan ponselnya asal. Mungkin akan lebih baik tidak berkomunikasi. Untuk kesekian kalinya, ia lelah.

oooooHURTooooo

Jaejoong mengeluh dalam hati. Kenapa ia selalu saja terlambat. Demi apapun yang ada di dunia ini, ini hari ospek pertamamu Kim Jaejoong, dan kau terlambat? Betapa hebatnya itu. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari gerbang universitas menuju fakultasnya karena ulah para senior kurang kerjaan yang membuatnya berputar-putar, akhirnya ia sampai.

Jaejoong mengedarkan pandangannya. Mencari di mana kelompoknya berkumpul. Dan hey, dia menemukannya. Teman-teman satu kelompoknya telah berbaris rapi, sedikit rasa canggung menggelitik hatinya. Ia merasa asing, tidak ada satupun wajah familiar di sana. Andai ia tidak terlambat tadi. Nasi sudah menjadi bubur, dan tidak dapat kembali.

“Permisi,” ucap Jaejoong pelan.

Seorang pemuda yang tengah duduk bersimpuh menolehkan kepala ke arahnya, kemudian memberikan sedikit spasi untuk Jaejoong melangkah. Kesan pertama yang dapat di tangkap indra penglihatannya adalah tampan. Mata sipit, rambut hitam yang membingkai wajahnya, hidung mancung, kulit kecoklatan, dan bibir yang selalu mengulum senyum. Dia telah menetapkannya, sosok itu akan menjadi sosok penyemangatnya selama ospek. Dan ia tersenyum.

Beberapa kali mata mereka bertemu, tanpa kesengajaan. Mata mereka, mata Kim Jaejoong dan sosok itu, yang entah siapa namanya. Dia menjadi penyemangatnya, setidaknya itulah yang Jaejoong tanamkan dalam pikirannya. Dan selama itu pula, Changmin tidak mengabarinya, ah.. mungkin ia mengabarinya, hanya saja ia terlalu lelah untuk banyak bercakap-cakap, dan sepertinya, dihubungi atau tidak pun tidak akan ada perbedaan yang berarti. Sejak awal, hubungan ini hanya terlihat sebagai sebuah status, tidak lebih dari itu.

Tidak ada getaran apapun, hanya sebuah ketertarikan yang mendorongnya untuk menjadikannya penyemangat. Itu saja, berhenti sampai di situ, bahakan ia tidak begitu tertarik pada siapa nama sosok itu. Benarkah? Entahlah, tidak ada yang tahu.

Waktu berlalu begitu cepat, rasanya baru saja kemarin ia terlambat di hari pertama ospek, namun justru kini telah memasuki hari terakhir. Jaejoong tengah berbaris, matahari terasa begitu terik menghujam, namun ia pantang menyerah, hanya menyerah pada keaadaan mudah seperti ini berarti ia lemah.

Sang Raja Siang sepertinya memang tengah menguji kesabaran setiap makhluk yang ada di bawahnya. Tuhan, ini bahkan sudah lewat tengah hari, kenapa begitu terik?  Jaejoong mengeluh dalam hati. Rasanya ia ingin cepet pulang, berendam di dalam air es, dan tertidur. Ia menyingkap lengan bajunya untuk melihat pukul berapa sekarang, dan sungguh disayangkan ternyata ia tidak memakainnya. Betapa pintarnya ia.

Setengah menunduk ia menolehkan kepalanya ke samping kanan. Hey, seseorang memakai jam tangan. Ia mengangkat kepalanya perlahan. Dua orang pemuda tengah berbaris di sampingnya sembari asik memperbincangkan sesuatu, dan salah satunya pemuda itu. Jaejoong tiba-tiba tersenyum tanpa diminta, seperti orang bodoh.

“Hey, jam berapa sekarang?” tanya Jaejoong sembari menatap keduanya bergantian. Tidak ada respon, bahkan didengarpun sepertinya tidak. Jaejoong merutuk dalam hati. Ini benar-benar menyebalkan.

Setelah menarik nafas panjang sembari menggembungkan pipi, Jaejoong mencoba memberanikan diri mencolek pundak salah satu pemuda di sampingnya hingga ia berbalik dan menunjukan gerakan wajah yang seolah bertanya ada apa.

Ada perasaan yang menggelitik dalam hatinya, mungkin kikuk, ia tidak mengenal mereka namun bertindak seolah-olah sudah saling mengenal. Ah, tapi apa itu salah, toh tidak ada salahnya benar? Sebagai makhluk sosial, ketergantungan kepada orang lain dan adanya komunikasi mutlak perlu. Jaejoong membuat pembelaan bagi dirinya sendiri.

“Ano… sekarang jam berapa ya?”

“Aa… jam tiga,” jawab salah satu dari mereka setelah sebelumnya ia mengintip jam tangan yang dikenakannya.

“Aa.. gomawo,” ujar Jaejoong sambil tersenyum, yang hanya dibalas anggukan oleh sosok di sampingnya.

“Kau berasal dari Incheon?” tanya pemuda yang lainnya.

“Ne, bagaimana kau bisa tahu?”

“Itu tercetak di permukaan topimu,” jawabnya sembari menunjuk topi yang tengah di genggam Jaejoong, diikuti oleh tawa ketiganya.

oooooHURTooooo

Pagi ini langit tampak begitu cerah, bak permadani biru yang terhampar tanpa cela, tak ada awan di sana, namun tak mengurangi keindahannya. Angin bertiup sepoy sepoy, memainkan helaian rambut seorang Kim Jaejoong yang terngah tersenyum sembari menopang dagu pada bingkai jendela yang terbuka.

Hidup adalah suatu petualangan panjang. Sebuah jawaban yang akan didapat dengan menjalaninya, bukan dengan diam. Ketika dalam keadaan seperti ini, seolah masalah dan emosi yang berkecamuk membakar jiwa menguap perlahan begitu saja. Sungguh menenangkan.

Jaejoong merasakan ponsel yang ia letakan di sebelahnya bergetar, ia mengambilnya, sebuah pesan masuk. Jaejoong mengerutkan keningnya bingung, sebuah nomor yang tak ia kenal, menanyakan apakah benar ini dirinya.

Ia membacanya sekali lagi, sembari mengingat-ngingat apakah nomor itu familiar dengannya, sayangnya kenyataan berkhianat padanya, ia tidak mengingat apapun. Jaejoong menarik nafas panjang, kemudan jari-jari lentiknya dengan lincah menari di atas keypad ponsel kesayanganya, untuk menanyakan siapa ia.

“Kau yang berambut coklat madu, bukan? Aku yang tadi  berbincang denganmu,” Jaejoong membaca balasan pesan yang dikirimkan padanya. Ia menggaruk tengkuknya bingung, siapa ini? Pikirnya. Apa ia seterkenal itu? Pemuda itu tiba-tiba tersenyum kecil, menertawakan pikirannya sendiri.

Sepertnya Tuhan masih saying padanya, ingatan ikan masnya mampu mengngat sesuatu, dan itu berhasil membuatnya tersenyum berharap. Hanya ada dua orang yang berbicara dengannya, pada saat ia bertanya jam. Ah, Tuhan memang baik, ia begitu berharap sosok itulah yang menghubunginya.

Jaejoong segera mengetikan balasan, menanyakan benarkah ia yang berbincang dengannya tentang jam tadi? Apakah ia yang mengenakan jam atau bukan? Dan siapa namanya. Pemuda auburn itu terus berdoa dalam hati, semoga semuanya sesuai dengan yang ia harapkan, dan ia dapat rasakan jantungnya yang berdetak di atas normal, bahkan tanpa perlu menyentuhnya.

“Ya, aku yang memakai jam tangan. Aku Yoochun, salam kenal. Boleh aku tahu di mana rumahmu Jae?” Jaejoong membaca lemas balasan pesan yang ia dapatkan. “Hn… bukan dia,” gumamnya. Ia menaruh ponselnya, mengabaikan pesan yang menanti untuk dibalas.

Jaejoong melangkahkan kakinya. Ia tidak menyadari bahwa semuanya akan berubah mulai sekarang, akan ada banyak kejutan yang menghampirinya perlahan, sesuatu yang mengukir kegalauan dalam hatinya, sesuatu yang menanamkan kebimbangan dalam pikirannya. Masih ada waktu sebelum semua itu terjadi, bersenang-senanglah.

Kau mempercayai takdir? Kau harus mempercayainya, takdir bukanlah suatu kebetulan, takdir adalah sebuah tujuan yang telah kita buat sendiri tanpa kita sadari. Kita yang mencarinya, kita yang merencanakanya, dan semuanya terjadi seolah-olah itu adalah suatu kebetulan.

Perlahan tapi pasti, diasadari atau tidak, semua telah mulai memainkan perannya masing-masing, benang telah menghubungkan banyak pihak yang akan menjadi aktor di dalamnya tanpa terkecuali. Dan sebuah drama kehidupan akan segera di mulai.

TBC

22 thoughts on “BLACK FLOWER/ YUNJAE/ CHAPTER 1 OF ?

  1. Chingu 2 jempol untk mu.. Kebetulan aku suka ff yg seperti ini.. Apa lgi kata bijak dan serius itu…
    #Ky.a di ff ini perasaan jae di uji bget ya… Dan ini tetap yunjaekan akhirnya chingu…?? Penulisannya juga benar,# aku tggu lanjutanya chingu..

  2. waw………Changmin orangnya kelewat cuek kali ya,hahaha
    kasihan tuh Jae jadinya serba salah.
    lha koq Jae bisa tau klo Yoochun bukan yg tadi?? emang Jae ngeharap siapa??

    ditunggu lanjutannya!!!

  3. Crita khidupan jaema sungguh rumit eoh??
    Ska ma siwon tp ngkuny ska ma min”..Jdiny kjebak ma omnganny sndri..
    N skrg disaat rasa tu da umma ditnggalkan..
    Aish dasar si evilmin..
    Sbar jaema..
    Khidupanmu kn kmbli brwrna stlh nie..
    Q ykin tu..Jd tunggulah tkdr bhgiamu..

  4. aq jg jadi bingung sama perasaan changmin beneran dia suka sama jae apa ga sih??
    kelewatan banged sikapnya ckckckckckck
    mmm jangan jangan cowo yang diincer jae waktu hari pertama ospek itu yun..
    aiguuu baru hari pertama udah dapet inceran baru aja hahahahah
    tapi malah salah sasaran yah,yang sms dia ternyata yoochun,, jae langsung jadi lemes gitu hohoho

    aku suka ff yang penggunanaan bahasanya kayak gini.. ga tau kenapa jadi berasa baca novel novel luar

  5. Tega bget min g nganggep khdran umma…. ToT *iket minnie pake kolor yunjae
    wah, umma ni kek.y love 1st sight ma tmn bru.y,
    berdsrkan ciri2.y, ntu org yunpa deh…*sotoy
    chun kok bsa tau no hp umma yah,
    aneh…
    Nice ff thor…
    Bhsa.y bagus n g trlalu sulit dmengerti…
    Good job ^.~

  6. wah ada ff baru..^^
    mantap nih thor ceritanya..^^
    ayo dilanjutin lagi..hehehehe
    aq akan setia menanti..

  7. q ngrasa karakter min kya yg d SITD y thor??angkuh,cuek,gaje,sokperpek*digiles*,,,adeww,,q sneng deh klo rivalna min pa won,,starap gtuu ma appa*digaplok*,,tp tetep arus brkhirr dgn YUNJAE,,*kibar kolor umpa*,,ahhh dr yg SITD,,,q sneng bgttt cara tulis authoorr,,,serius,padat,gg brblit”,gg byk typo,ngegambarin bgt prasaanna,minim dialog,,n trlbihhh kt”na eksplisit,,lg suka ma ff yg hemat dialog,,,lanjuuttt thooorrr

  8. bahasa berat bgt… bener2 kayak baca novel… jae suka ma siwon tp malah jadian ma changmin… n sekarang changmin malah mengabaikan jae.. trus penasaran ma co yang ditunggu ma jae??

  9. Daeebaak unn haha, walau ceritanya sederhana tapi bisa dibikin jadi luar biasa dari diksi-nya. Jadi harap2 cemas pas baca tiba2 ada tulisan ‘TBC’ karena gamau berenti baca :p
    *maafkomenlebay *tapinyata haha
    anyway keep writting ne! Hwaiting!

  10. whoooaaa…. kok changmin nya jutek gt sih?
    apa dy gak suka sama jae? smoga aja gt sih. soalnya jae kan milik yunho, hahaha dan changmin milik…………. ada deh

  11. Aish!! Kenapa yoochun ýanƍ ngubungi jaema?…kenapa bukan namja ýanƍ 1 nya lagi…Şiaρα ýª ýanƍ 1 nya lagi?? Apakah yunpa???

    Lanjut baca aja ach ųϑªђ penasaran

  12. annyeong saya readers baru ,, mohon bantuan’x🙂

    ya ampuuuun, kisah percintaan jaema sungguh rumit …
    Suka ma siwon v ngaku’x sama changmin ..
    Hmmmz
    dan sikap cangmin terlalu cuek ,, saya jd gak yakin bhwa dia menyukai jaema *plakk

    smga dg pertemuan 2 namja itu kehidupan jaema bisa berubah🙂

    author-ssi, sungguh fanfic’x keren ..
    Aq suka bgtz sma alur crita’x ,, dan rangkaian kata2’x jga bgus, mudah d mengerti, dan enak d bca’x ..🙂

  13. like it thor…
    bhsax berat..pnuh makna..
    .
    .
    duh minnie kok kelewatan cuek gtu c…kasian jaema..
    yunpaaa mna???

  14. udh tinggalin aja changmin mah
    Org gk perhatian gtu,,
    Sapa yah sosok yg diharapkan jae itu?
    Yun kh?

  15. Pingback: BLACK FLOWER/ YUNJAE/ CHAPTER 3 | Fanficyunjae

  16. Pingback: BLACK FLOWER/ YUNJAE/ CHAPTER 4 | Fanficyunjae

  17. Apa sebenernya changmin udah tahu kalo jaejoong ga beneran suka sama dia ,makanya sikap nya cuek gtu?
    Akhirnya jj suka ama yun kah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s