GYEOLHON?/YUNJAE/CHAPTER 3 OF ?


CHAPTER 3 OF ? – MY WEDDING DAY
Pairing : Kim Jaejoong x Jung Yunho x Shim Changmin
Author : Amee
.
Warning : don’t copy this story without permission!

Bahasanya sederhana, semoga tetap menarik untuk dinikmati sebenarnya cerita ini dibuat 4 tahun yang lalu, dan tidak pernah terselesaikan sampai saat ini, lmao #curcol

.

.

Jaejoong baru saja melangkahkan kakinya memasuki rumah. Wajah berseri dan perilaku riang seperti biasanya tidak pernah luput menghasi kesehariannya. Ah… ia benar-benar sosok jelmaan malaikat, bukan, ia adalah jelmaan bidadari. Kenapa wajahnya bisa secantik itu? Sungguh membuat sekumpulan wanita di luar sana merasa cemburu dengan apa yang ia miliki.

Jaejoong mengedarkan pandangannya untuk menyapu seisi ruangan. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, bingung. Apa benar ini rumahnya? Kenapa begitu banyak manusia yang tampak sibuk kesana kemari. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali, sepertinya ia salah memasuki rumah, ini bukan rumahnya, pikirnya. Pemuda dengan rambut coklat madu itu hampir saja melangkahkan kaki kembali keluar rumah, jika ia tidak menangkap sosok wanita yang selama ini ia panggil Ibu.

“Kau sudah pulang sayang?” tanya Nyonya Kim sembari tersenyum.

Jaejoong segera berlari menghampiri malaikatnya, memeluknya dengan sekali gerakan, kemudian melepaskannya, memeluknya lagi dan melepaskannya lagi. Ia menatap dalam-dalam dua bola mata di hadapannya, kemudian mencubit pelan kedua belah pipi wanita dihadapannya.

“Yaa… Kim Jaejoong, kau ini kenapa? Kau tidak mengenali Eomma mu, eum? Dasar anak nakal,” Nyonya Kim menjitak lembut kepala putranya, yang dibalas oleh cengiran lebar Jaejoong.

“Aku pikir, aku salah memasuki rumah, hehe,” Jaejoong meletakan kedua tangannya di belakang kepala. “Aku benar-benar tidak mengenali rumahku sendiri, betapa tampan dan pintarnya aku,”  ia menertawakan dirinya sendiri yang hanya diikuti oleh gelengan kepala nyonya Kim.

“Betapa cantik dan bodohnya putraku,” Nyonya Kim mencubit hidung putranya gemas, yang diikuti oleh rengutan pemuda auburn di hadapannya.

“Yaa… aku ini tampan, bukan cantik,” Jaejoong menggembungkan pipinya kesal. “Lagipula kenapa banyak orang seperti ini? Mereka sedang apa? Lalu hwarot itu untuk apa? Eomma mau menikah lagi? Lalu bagamana dengan Appa? Poor appa,” tunjuk Jaejoong sambil menunjuk hwarot merah muda yang dipajang angkuh di tengah ruangan, kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya iba.

“Yaa Joongie… tentu saja Eomma akan bersama Appa selamanya. Itu untuk kau pakai besok, jadi kau tidak boleh kemana-mana besok, ne? Kau sudah janji pada Eomma, dan malaikat sudah mencatat janjimu,“

“Baiklah… baiklah,” Jaejoong menganggukkan kepalanya cepat, sebelum akhirnya ia tersadar akan sesuatu. “APA? Eomma menyuruhku memakai hwarot, astaga… aku pikir aku memang benar-benar salah memasuki rumah, sebaiknya aku pulang sekarang,” Jaejoong segera membalikan tubuhnya, namun sebelum ia sempat melangkah, nyonya Kim telah lebih dulu menahan tangannya.

“Kau tidak salah Jaejoongie Eomma yang tersayang,” nyonya Kim menyeringai lebar, menciptakan suasana mencekam yang mampu membuat bulu kuduk Jaejoong berdiri seketika.

“Ta… tapi… besok akhir pekan Eomma, besok hari minggu, memangnya ada acara apa? Aku tidak ingat kalau besok akan ada karnaval atau pesta kostum atau sebagainya yang mengharuskan aku menggunakan pakaian mengerikan seperti itu. Lebih baik Eomma memberiku segudang berlian daripada memaksaku menggunakan itu, aku tidak mau!!!” Jaejoong mengacak-acak rambutnya frustasi. Oh tidak, hwarot, ada yang salah dengan otak eommanya. Itu pakaian pengantin wanita, dan eomma memintanya untuk menggunakannya. How a crazy it is!

“Yaa,, Kim Jaejoong, Eomma tidak menerima protes, lebih baik kau bantu Eomma untuk menata semuanya. Ayo!”

+++amee+++

Yunho tampak masih terbaring lelap di atas ranjangnya, ditutupi selimut sampai batas leher sembari memeluk guling bercorak polkadot hitam putih kesayangannya. Pintu kamar berderit kecil khas, menandakan seseorang masuk ke dalam kamar. Bunyi sol sandal rumah terdengar mengalun menimbulkan nada lembut yang familiar.

Nyonya Jung tersenyum manis, kemudian berjalan mendekat, duduk dengan gerakan anggun di tepi tempat tidur, kemudian menggoyang-goyangkan lembut tubuh putra semata wayangnya. Yunho menggeliat, ia membuka matanya perlahan, pemandangan pertama yang ia tangkap begitu ia tersadar adalah wajah cantik bidadarinya, dan ia tersenyum, seolah-olah menyampaikan kata selamat pagi Eomma.

“Tidak ingin cepat bangun, eum? Bukankah ini hari yang spesial untukmu?” Nyonya Jung mengerling kemudan tersenyum penuh arti, sedikit menggoda putranya di pagi hari bukan hal yang salah kan?

“Ne, Eomma. Aku sudah bangun, Eomma bisa melihatnya kan?” Yunho segera bangun, duduk bersila di atas kasur dengan mata yang masih setengah terpejam, diikuti oleh uapan lebar sembari menggaruk-garuk bagian kepalanya. Mau tak mau nyonya Jung tertawa mendapatinya. Putranya ternyata sudah besar, eum?

“Eomma melihatnya dengan sangat jelas. Sekarang ayo cepat mandi sana, jangan buat Appamu menunggu terlalu lama, ia sudah rapi sejak tadi pagi. Kemeja dan jasnya Eomma taruh di sini, ne?” ujar nyonya Jung yang hanya dibalas anggukan oleh Yunho. Wanita cantik itu segera menaruh satu stel tuxedo di atas kasur, kemudian keluar meninggalkan kamar setelah sebelumnya membukakan gorden hingga matahari pagi mampu mengintip apa yang tengah dilakukan oleh pemuda tampan di dalam sana.

Yunho menguap lebar sekali lagi sembari merentangkan kedua tangannya ke atas, dan sepersekian detik kemudian ia telah berada di kamar mandi. Membasahi tubuhnya dengan air, membiarkan dirinya berada dalam kesejukan barang sejenak saja.

Yunho membiarkan rambutnya basah, dengan beberapa butir air yang jatuh dari ujung rambutnya, dengan selembar handuk putih yang melingkar di pinggangnya, seakan ia ingin memamerkan setiap abs di tubuh toplessnya pada dunia. Membiarkan semua makhluk di alam ini terpesona pada kesempurnaannya.

Ia tersenyum sekilas memikirkan apa yang menantinya di kehidupan mendatang. Rasa dingin perlahan mulai menjalar, memaksanya untuk segera berpakaian. Setelah semua setelan melekat di tubuhnya, Yunho bersiul kecil, sembari mendekati cermin berukuran besar yang terpasang kokoh di sudut kanan kamar. Ia mematut bayangannya sendiri disana sembari merapikan rambut. Menarik salah satu sudut bibirnya, tersenyum angkuh.

“Aku memang tampan, dilihat dari sudut manapun aku tetap tampan, sempurna untuk ukuran seorang namja, tidak heran jika para gadis di luar sana saling berlomba memperebutkanku. Berbahagialah bagi siapapun nanti yang akan memilikiku,”

Yunho hampir saja membuka pintu untuk keluar kamar, namun langkah kaki menghianatinya, ia justru membawanya untuk kembali menghampiri cermin.

“Apa aku sudah benar-benar tampak sempurna ya?” tanya Yunho yang entah pada siapa. Namun sepersekian detik berikutnya ia mengangguk mantap, kemudian segera berlari keluar kamar, dan menghampiri kedua orangtuanya yang telah menunggu sejak tadi.

“Eomma, Appa, apa tuxedo ini benar-benar cocok untukku?” tanya Yunho sedikit ragu atas jawaban yang akan diterimanya.

“Tentu saja, itu sangat pas, kau terlihat sangat tampan,” jawab Tuan Jung mantap yang segera diamini oleh istrinya.

“Yaa… kalau masalah tampan atau tidaknya, aku memang sudah sangat tampan sejak dulu, tidak perlu diragukan lagi,”

“Kenapa kalian malah meributkan hal tidak penting seperti ini, eoh? Sudah, ayo cepat berangkat, tidak enak jika datang terlambat, ini acara yang sangat penting,” ujar nyonya Jung sembari merapikan dasi putranya.

“Tapi Eomma, Yun belum sarapan,”

“ Kau tenang saja, semuanya sudah Eomma siapkan, sudah Eomma taruh di mobil tadi. Ayo cepat, kau ini senang sekali membuang-buang waktu. Nappeun namja, eum?” nyonya Jung mengacak-acak rambut putranya, mengabaikan dengusan kesal yang lolos begitu saja dari bibir Yunho.

“Yaa… aku sudah menatanya tadi, dan Eomma merusaknya begitu saja tanpa permisi, terimakasih,” Yunho membungkukkan badannya, diikuti oleh gelak tawa kedua orangtuanya. Sepertinya mereka akan sangat merindukannya nanti. “Ya sudah kalau begitu, aku berangkat!”

Nyonya Jung mengangguk setelah sebelumnya mencium pipi Yunho. Ingin rasanya ia meneteskan air mata saat itu juga, ada buncahan kebahagiaan yang begitu meluap-luap dalam hatinya, namun tak ingin ia perlihatkan. Sudut matanya mengikuti langkah Yunho dan tuan Jung yang berjalan beriringan.

Yunho, makhluk Tuhan yang sempat mengisi rahimnya selama Sembilan bulan, kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan, kenapa begitu cepat waktu berlalu. Seolah tak ingin kehilangan jejak, ia terus menekuni punggung bidang putranya yang semakin menjauh. Nyonya Jung menarik nafas panjang sebelum akhirnya tersentak karena tiba-tiba saja Yunho berbalk dengan mata yang memnelalak lebar, seolah menyadari sesuatu.

“Tunggu dulu!” ujar Yunho begitu saja tanpa peringatan.

“Kau itu kenapa?” Tuan Jung mulai mendelik, menahan kekesalan pada tingkah putranya.

“Eomma tidak ikut? Tidak ingin mengantar kepergianku, eum?”

“Aa… Eomma ingin ikut, hanya saja Eomma merasa tidak enak badan, sampaikan salam dan permintaan maaf Eomma pada mereka,”

“Aa.. baiklah,”

+++amee+++

Dunia benar-benar sudah gila sekarang, bahkan Jaejoong hampir tidak mengenali dimana ia berada sekarang. Ingin rasanya ia menjambak rambutnya sendiri saking frustasi, namun hal itu urung dilakukan mengingat rambutnya yang telah ditata sedemikian rupa oleh sang Eomma selama tiga jam tanpa henti, tolong garis bawahi itu, tiga jam.

Tolong siapa saja yang mengerti akan kondisi ini jelaskan padaku, gumam Jaejoong dalam hati. Ia benar-benar tidak memahami situasi yang tengah berlangsung di depan matanya, orang-orang yang berlalu lalang kesana kemari tanpa gerakan yang jelas, terlebih lagi ruang tamu yang disulap menjadi sebuah ruangan asing yang begitu penuh dengan aksen yang terasa menusuk matanya.

Sebelum kegilaan itu berakhir, Jaejoong sudah lebih dulu disadarkan pada sebuah kenyataan bahwa sekarang ia tengah mengenakan hwarot merah muda lengkap dengan segala aksesoris dan hiasan lainnya. Berdiri seperti orang bodoh di tengah ruangan yang ia ketahui merupakan rumahnya.

“Rasanya aku benar-benar ingin pingsan sekarang. Jika memang akan dilaksanakan suatu karnaval, kenapa tidak cepat dimulai saja?” dengan gerakan lambat, Jaejoong menyentuh kening dengan punggung tangnnya.

“Ne, Joongie, lebih baik kita menunggu di ruang tamu saja, eum!” ujar Nyonya Kim yang tanpa disadari telah berdiri sembari tersenyum manis di samping Jaejoong.

Jaejoong hanya mengangguk mengiyakan, ia seperti terhempas dari alam sadarnya, terlalu banyak berpikir membuatnya sedikit linglung, seakan tidak mengenali apa-apa. Ia duduk di atas sofa merah darah yang menghiasi ruang tamunya. Mungkin tidur sejenak akan lebih baik, pikir Jaejoong.

Sebelum ia benar-benar sempat memejamkan mata, sudut pandangnya menangkap kedatangan seseorang pria yang tidak ia kenal dengan balutan jas hitam. Jaejoong mencoba mengabaikan. Meskipun ia berusaha mencari tahu siapa itu, tidak akan ada untungnya sama sekali.

Jaejoong menarik nafas panjang, mencoba melepaskan kekalutan yang menggantung setengah kesadarannya. Rasanya ia ingin agar hari ini segera berakhir. Tidak lama berselang setelah itu, mata jadetnya menangkap dua orang yang begitu familiar baginya akhir-akhir ini. Jaejoong tersenyum tanpa diminta begitu mendapati Yunho yang tampak begitu sempurna dalam balutan kemeja merah muda dan  tuxedo putih yang dikenakannya.

Pemuda auburn itu menepuk-nepuk pipinya berkali-kali, sepertinya hanya ia yang mengenakan kostum yang salah. Darah naik begitu saja, dan seolah berkumpul dikepala, memunculkan semburat merah yang menjalar di kedua belah pipinya.

Masih belum memahami situasi, tiba-tiba saja nyonya Kim memintanya untuk duduk berdampingan dengan Yunho, menghadap pada pria berjas hitam yang tidak dikenalnya. Jaejoong menyapukan penglihatannya ke seluruh isi ruangan, ia dapat menangkap rona kebahagian terpancar dari wajah setiap orang yang berada di sana, terkecuali dirinya, dan hal ini membuatnya sedikit kesal, sungguh.

“Aa.. jeongmal mianhe, Young Ae tidak bisa ikut hadir, ia sedang sakit, kondisinyatidak memungkinkan untuk datang, aku harap kau bisa mengerti,” ujar Tuan Jung membuka percakapan.

“Benarkah? Aku tidak tahu itu, aku harap istrimu segera sembuh. Tidak apa-apa, aku juga minta maaf, karena Dong Min juga tidak bisa hadir karena ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan di luar kota,” jawab Nyonya Kim pasti, sementara di samping mereka Jaejoong tengah menatap keduanya silih bergantian. Sementara Yunho hanya duduk diam dengan sikap tenang.

“Maaf mengganggu percakapan anda sekalian. Bagaimana kalau kita mulai sekarang?” tanya pria berjas hitam yang sejak tadi berada di hadapan mereka namun keberadaannya seolah diabaikan.

“Baiklah,”

Jaejoong merasakan ribuan kupu-kupu tengah menari dengan lincah di dalam perutnya, dengan debaran jantung yang entah kenapa menjadi 2000 kali lebih cepat dari debaran normal. Pemuda berambut coklat madu itu menolehkan kepalanya ke kanan, berusaha mengintip ekspresi pemuda  tampan di sampingnya. Tidak ada yang berubah, tetap seperti tadi, tenang dan datar.

“Baiklah, kalau behitu kita mulai upacaranya,” pria itu menarik nafas panjang, kemudian menatap Yunho dalam. “Jung Yunho, apa kau bersedia menerima Kim Jaejoong sebagi istrimu, menjalani kehidupan bersama dalam keadaan sehat maupun sakit, susah maupun senang, sampai maut memisahkan kalian?”

“Ya, saya bersedia,” jawab Yunho mantap.

Seolah-olah tak menangkap apa yang terjadi, Jaejoong seolah asik dengan pikirannya sendiri. Dari sekian banyak kata yang diucapkan pria dihadapannya, ia hanya mampu menangkap dua kata terakhir dan itu sama sekali tdak membantu.

Jaejoong seakan tersadar begitu ia merasakan seseorang menepuk-nepuk lembut pundaknya. Ia menolehkan kepalanya untuk mengetahui sumber sentuhan, dan ia mendapati wajah pangeran berkuda putihnya tengah tersenyum begitu manis di sana.

“Jaejoong ah, kenapa kau tidak menjawab, bagaimana? Kau bersedia?” tanya Yunho dengan wajah penuh harap yang tak bisa ia sembunyikan.

“Eh, ya.. ya… aku bersedia,” jawab Jaejoong spontan. Bersedia untuk apa? Pikirnya, namun ia mengabaikannya.

Jaejoong merasa indra pendengarannya menangkap sesuatu, ia menolehkan kepalanya ke kiri dan mendapati nyoya Kim tengah terisak, bergeser sedikit dari garis astronomi sebelumnya, ia mendapati tuan Jung tengah tersenyum penuh kebahagiaan. Sebenarnya ada apa Tuhan?

“Silahkan kalian berdua mengucapkan janji nikah kalian,”

“Saya, Jung Yunho mengambilmu Kim Jaejoong sebagai istri saya, dan saya berjanji akan mencintaimu, dalam keadaan susah maupun senang, dalam keadaan sehat maupun sakit, sampai kematian memisahkan kita. inilah janji saya di hadapan Tuhan,”

Yunho menatap Jaejoong begitu dalam dengan tatapan bahagia, melelehkan dirinya, begitu tersepona, jauh ke dalam pusara kebahagiaan yang begitu membuncah.

“A.. aku juga,” entah kenapa, kata-kata aneh itulah yang justru keluar dari bibir mungil seorang Kim Jaejoong, dengan setengah kesadaran yang tengah melayang, ia bahkan tidak paham dengan apa yang katakannya.

“Kalian telah sah menjadi sepasang suami istri,”

Atmosfer ruangan tiba-tiba terasa menghangat. Semuanya tersenyum bahagia, sembari menatap ke arah Jaejoong dan Yunho secara bergantian. Kebingungan seolah enggan pergi, masih begitu nyaman bermain-main dengan pikiran polos, namun keinginan kuat dalam diri Jaejoong untuk mengetahui kebenaran yang terjadi, memaksa semuanya terbuka.

“APA? MENJADI SEPASANG SUAMI ISTRI? AKU DAN… YUNHO? BAGAIMANA BISA? KAPAN KAMI MENIKAH?” teriak Jaejoong dengan kekuatan penuh begitu ia menuai kembali kesadaran sepenuhnya.

Seolah menjadi seekor semut di dalam sekelompok gajah, Jaejoong merasa benar-benar kecil sekarang, ia merasa menjadi makhluk paling menyedihkan di dunia. Belum lagi ketika semua pandangan tertuju padanya, membuat nyalinya semakin menciut. Ia benar-benar kikuk sekarang.

“Kau terlalu bahagia sayang, Eomma bisa merasakannya. Kau hanya merasa gugup, kau begitu menggemaskan. Eomma baru kali ini melihat ada pengantin yang melupakan ikrar yang baru saja diucapkannya,” nyonya Kim benar-benar hampir menangis saat mengatakannya.

“Itu berarti aku dan Yunho sudah…”

“Ya, kalian sudah menikah,”

Demi apapun yang ada di dunia ini, Jaejoong benar-benar ingin menjatuhkan diri dari tempat paling tinggi yang ada di dunia ini sekarang. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali, berusaha menolak kenyataan bahwa kini ia telah menjadi istri seseorang. Aku belum mau menikah, aku masih ingin merasakan kebebasan dan indahnya masa muda, racaunya dalam hati.

Pemuda auburn itu belum dapat mencerna semuanya dengan halus, pikirannya terus berkelana mencari jawaban yang sesungguhnya. Tentang alasan kedua orangtuanya yang selalu bertindak konyol. Perjodohan yang tiba-tiba, dan pernikahanpun dilaksanakan begitu saja tanpa bertanya. Demi Tuhan, apa haknya untuk menjalankan kehidupan sudah dirampas? Jaejoong menundukkan kepalanya dalam-dalam.

+++amee++

“Jae, kenapa kau bertingkah seperti itu tadi?” tanya Yunho sembari menggenggam erat tangan Jaejoong.

Jaejoong merasakan bulu kuduknya meremang sekarang. Entah kenapa, ia merasa sedikit risih sekarang, terlebih lagi karena Yunho yang menggenggam tangannya terlalu erat seolah tak terpisahkan. Ia sungguh ingin melepaskannya sekarang, tanpa alasan.

“Jae, ada apa? Kenapa kau tak menjawab pertanyaanku?”

“Eh, apa? Hm.. iya, mianhe. Aku… Sebenarnya aku tidak bermaksud bertindak seperti itu, Yun. Hanya saja tadi aku benar-benar sedang tidak focus tadi. Entahlah, ini benar-benar aneh. Lagipula aku benar-benar tidak tahu kalau aku akan menikah denganmu,”

“Ooh….” Yunho melepaskan genggaman tangannya.

Keduanya seakan hanyut dalam sebuah simponi kebisuan, ditemani cahaya bulan yang seakan menjadi ibu bagi para bintang disekelilingnya. Seolah angin yang membawanya, begitu keduanya tersadar, Tuan Jung telah berdiri di hadapan mereka, tersenyum lembut untuk kemudian menepuk pundak Yunho pasti.

“Yun, ayo kita pulang, atau kau masih mau di sini? Kalau benar seperti itu tidak apa-apa,” ujar Tuan Jung.

“Ani, aku akan ikut pulang sekarang,” jawab Yunho mantap, sembari bergeser beberapa langkah.

“Mwo? Pulang?” gumam Jaejoong spontan. Sepertinya sisa sisa kebingungan tadi siang masih enggan memisahkan diri dari benaknya.

Tuan Jung tersenyum penuh pengertian, kemudian mengusap lembut pundak Jaejoong. “Iya, meskipun kalian sudah menikah, kalian masih tetap tinggal dengan orangtua masing-masing. Kau ingat sesuatu Jae, kalian masih belum cukup umur,”

“Ne, ahjusshi, aku mengerti,”

“Yaa.. seharusnya kau memanggilnya Appa, saying,” tiba-tiba saja Nyonya Kim telah berada di samping Jaejoong, dan tanpa permisi membawa Jaejoong kedalam dekapannya.

“Hahaha… ya itu benar, sekarang aku adalah Appa mu,”

“Ne… Appa,”

“Boojae, jangan terlalu merindukan aku ya,” ujar Yunho dengan bibir yang tak luput mengulum senyum sembari mengelus kepala istrinya dengan gerakan seduktif.

“Jangan terlalu berharap!” Jaejoong mengerlingkan matanya, kemudian menggembungkan pipinya kesal. Semuanya tertawa.

TBC

Nb: ini hanyalah acara pernikahan dalam fanfic, mohon di maklumi *deep bow*

8 thoughts on “GYEOLHON?/YUNJAE/CHAPTER 3 OF ?

  1. ah bingung nih sama si umma
    dia kan suka sama appa,tapi kenapa sikapnya seolah-olah kaya gak suka ?
    yah yah yah T.T kenapa gak tinggal serumah ?
    oh cepatlah yunjae dewasa,biar mereka cepat tidur seranjang
    hahaha
    #otak yadong

    astajae masa umma lupa kalo udah ngucapin janji
    ckck terlalu terpesona sama ketampanan appa sih..

  2. ciee yg udah nikah u,u
    ciee suit” :3
    c appa kepengennya tinggal bareng mommy itu u,u
    hohoho~
    c mommy lupa kalo udah ngucapin janjinya gara” ngeliat appa yg ganteng yaa ;;O;;
    *sotoy kumat*

    lanjutt thor °\(^▿^)/°

  3. hahaha… luchu bgt… jae polos bgt sich… sampai ngucapin ikrar ja gak sadar… hahahaha… baru ja bilang kalian jadi suami istri yang sah baru ja sadar…

  4. Huooooohh aq jd bingung
    Yunho suka sama jaejoong kan buktinya dia mau nikahin jaejoong.. Tapi kenapa datar datar gitu yah..mmmmm
    Trus jaejoong bukannya suka juga sama yunho pangeran berkuda putihnya,tp knp harus nolak gitu..harusnya kan seneng yah…
    Tinggal pisah????jiah ini mah bs gawat dong
    Apalgi jae juga tertarik sm changmin.. Semoga yun bs ngejaga jae tetep disampingnya

  5. Asyiiikk….. Yunjae married…..*lompat2 geje
    tapi..tapi..kok umma shock?? Tsk….
    Pasti umma cakep ups salah tpi cantik bget pas pake gaun pengantin…… 😉

  6. ya ampun kok bisa ya orang nikah dengan keadaan setengah sadar gitu.

    tapi seneng juga akhirnya YunJae dah nikah.
    yah meskipun gak tinggal baren.

  7. Dari chap 2 q mulai bnggung ma prasaanny jaema..
    Ktany suka ma yunpa tp npa ko’ dy jg nympen rasa ke minmin..
    N skrg mlahan kliatan klau jaema kyak g suka gtu ke yunpa..
    Aduh duh duh duh..
    Bnggung nieh q ma karakter umma..
    Yg tegas dong umma..

  8. Umma pasti cantik banget ýª pake baju pengantin…beruntungnya appa
    Tapi kenapa belum boleh tinggal bareng? Kalau gitu kapan bulan madu’a?

    Umma tuh sebenernya suka Ъ>:/ sih sam̶̲̅α̇ aPpa ko ýª Ъ>:/ mudeng gitu sih pas lagi akad nikah…ck..ck!!
    Semoga appa bisa jagain hatinya umma biar Ъ>:/ mendua ke Changmin
    Yunjae…selamat ýª!! Di tunggu kapan punya momongan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s