GYEOLHON/YUNJAE/CHAPTER 4 OF ?


CHAPTER 4 OF ? – IT’S DAMN DAY
Pairing : Kim Jaejoong x Jung Yunho x Shim Changmin
Author : Auliya Millatina F a.k.a Amee
.
Warning : don’t copy this story without permission!

Bahasanya sederhana, semoga tetap menarik untuk dinikmati sebenarnya cerita ini dibuat 4 tahun yang lalu, dan tidak pernah terselesaikan sampai saat ini, lmao #curcol dan maaf jika terdapat banyak typo(s)

.

.

Ah, tuhan memang mencIntai semua makhluk ciptaannya, termasuk mencintai seorang namja cantik, yang baru saja menikmati nyenyaknya tidur malam tadi. Rasanya ia begitu enggan untuk beranjak, dan godaan untu menarik selimut begitu besar. Hanya saja…

“Waa… terlambat!!!”

Jam dinding merah muda yang tergantung manis telah menunjukan pukul tujuh lewat. Bagaimana mungkin malaikat lupa membangunkannya, meskipun kenyataannya Tuhan menyayanginya.

Tanpa banyak berpikir lagi, Jaejoong segera bangkit dari kenyamanannya. Mengacak-acak rambutnya frustasi, kemudian dengan kecepatan yang tak bisa ditalar oleh pemikiran manusia ia meninggalkan kamarnya.

Pemuda hazel itu mengerlingkan matanya bosan, apa keberadaannya sudah mulai diabaikan sekarang. Rambut coklatnya bergerak ringan. Langkahnya membawa tubuh rampingnya menuruni tangga, menghampiri nyonya Kim yang tengah kerepotan membawa nampan berisikan segelas susu hangat.

“Yaa.. eomma, apa kau sudah melupakanku, eoh? Kenapa tidak membangunkanku? Aku terlambat,” Jaejoong menpoutkan bibirnya, menambah sedikit nilai plus di wajahnya.

“Terlambat? Terlambat apa? Kau punya rencana apa hari ini ? Kau tidak memberitahu Eomma apa schedulemu, jadi jangan menyalahkanku,”

“Yaa.. tapi ini kan jadwal harianku, dan Eomma melupakannya begitu saja. Tapi terimakasih, susu ni untukku bukan?”

Jaejoong menyesap susu di tangannya dalam satu tegakan besar. Kemudian ia memamerkan sebuah senyuman pada nyonya Kim yang menatapnya bingung. Satu pemikiran yang terukir dalam benaknya. Ini pasti untukku, tidak mungkin Eomma membuat susu untuk dirinya sendiri, pikirnya.

“Yaa.. JUNG JAEJOONG, itu untuk appamu!”

“Mwo? Appa? Appa ada d rumah? Eomma tidak sedang membodohiku, eoh?”

“Kau pikir aku memiliki banyak waktu untuk bermain-main seperti itu? Tentu saja aku tidak bercanda, dia ada di ruang tamu,”

Jaejoong mengedarkan pandangannya menyisir sekeliling, menikmati sejenak warna putih dinding yang menenangkan. Menghirup aroma lemon yang mengguar di sekelilingnya. Ia memeluk nyonya Kim sejenak, kemudian segera berlari secepat yang ia bisa. Jaejoongie sudah tidak sabar ingin memeluk sang appa, eum?

“Appa? Kenapa datang?” tanya Jaejoong sembari mendudukkan tubuhnya di atas sofa beludru, yang telah lebih dulu diduduki tuan Kim.

“Kau tidak merindukanku? Mungkin sebaiknya aku memang tidak pulang,” jawab tuan Kim datar. Ia tetap fokus pada koran yang tengah dibacanya, meskipun sesekali sudut matanya mengintip Jaejoong diam-diam.

“Maksudku bukan seperti itu, hanya saja… bukankah biasanya Appa hanya pulang saat hari libur?”

“Aku semakin meragukanmu, joongie. Apa benar kau ini anak sekolah? Hari ini memang hari libur, atau jangan-jangan kau memang tidak mengharapkan kepulanganku?”

“Ya… Appa, maksudku bukan seperti itu. Hanya saja ini kan hari Senin, bukan hari Minggu,”

“Iya, kau benar. Tapi kau melupakan sesuatu, ini hari libur nasional, saying,”

“Aa… ne, aku lupa. APA? INI HARI LIBUR?”

**M2M**

 

Drama kehidupan berlangsung ketika kita memulai langkah, bukan, ketika kita mulai mengedipkan mata kita begitu kita terbangun di pagi hari. Apa yang kita lakukan sebenarnya telah digariskan, telah dibuat sebuah garis besar oleh Tuhan, dan kita hanya berkewajiban untuk memainkannya.

Yunho tengah menikmati hidupnya. Ia tampak tengah duduk santai di depan televisi sembari menikmati semangkuk pop corn dan segelas lemon tea. Cuaca di luar sana memang tengah tak bersabat, seperti ingin mempermainkan suasana hati setiap manusia. Sesekali yunho mengipasi dirinya dengan majalah yang tergeletak di sampingnya. Ia mengedarkan pandangannya, sesekali matanya mengintip pada layar televise, meskipun ia tidak benar-benar mengikuti acara yang tengah ditayangkan.

Yunho masih asik dengan pikirannya sendiri, hingga tidak menyadari bahwa nyonya Jung telah berada dbelakangnya kini. Wanita cantik itu menggelengkan kepalanya berkali-kali, tdak mengerti dengan kebiasaan putranya yang begitu senang bermalas-malasan.

“Jung Yunho, tak bsakah kau membawa Joongie kemari, Eomma ingin bertemu dengannya,” nyonya Jung sedkit mengagetkan yunho, meski sepersekian detik kemudian ia mengabaikannya.

“Ne, akan Yun telepon nanti, kalau tidak aku akan menjemputnya langsung. Tapi nanti, jika film ini sudah selesai,”

Nyonya Jung berdecak kesal. Ia segera meraih remote kemudian mematikan televise. Mata jadetnya menatap tajam putra semata wayangnya. Atmosfer terasa berubah begitu saja dengan sendirinya, menghipnotis Yunho sehingga pemuda tampan itu tidak bisa berkata apa-apa lagi, dengan langkah berat dan terseok karena malas yang menghadang ia berjalan menuju telepon.

Wanita cantik itu menggelengkan kepalanya lelah. Berjalan angkuh meninggalkan ruang keluarga untuk kembali ke dalam kamar. Yunho mengedarkan pandangannya menyisir sekeliling. Ia mengangguk tiga kali mantap begitu merasa suasanasudah aman, dan dengan langkah ringan kembali menduduki sofa merah yang sempat ditinggalkannya sejenak, kembali duduk santai di sana sembari menikmati acara televisi.

Yunho tdak menyadari apapun hingga semangkuk por corn tumpah di atas kepalanya. Ia membalikkan tubuhnya takut-takut, mengabsen satu persatu apa saja yang ada disana, mencoba mencari tahu siapa yang berani menumpahkan semangkuk pop corn di atas kepalanya, bukankah itu sebuah penghinaan?

“Yaa.. eomma!” teriak yunho terkejut, begitu mendapati nyonya jung yang berdiri tepat di depan wajahnya, tengah menatap sangar ke arahnya. Ia hampir terjungkal tadi, dan bersyukur karena hal itu belum terjad. Ia mengurut dadanya, menenangkan.

“ne, ini aku, eommamu. Memangnya kau pikir aku ini siapa?” tanya nyonya jung geram sembari berkecak pinggang.

“Ano, aku kira… hh… aku kira…”

“Kau pikir apa? Alien yang jatuh dari langit kemudian tersesat di bumi? Begitu?”

“Hehe… bisa jadi seperti itu,” Yunho memamerkan senyuman lima sentinya, membuat nyonya jung semakin mengeram kesal mendapatnya.

“YAA… JUNG YUNHO!!! Apa kau tidak mendengar apa permintaanku tadi? Aku menyuruhmu untuk menelepon jaejoong, dank au mengabaikanku, eum? Aku pikir kau akan semakin bersikap dewasa setelah menikah, aku pik-” nyonya jung tidak sempat menyelesaikan kata-katanya, dan itu membuatnya semakin merasa kesal.

“Yaa.. eomma, kau tidak perlu secerewet itu. Baiklah, baiklah, aku akan menelepon jaejoong sekarang,” Yunho mulai beranjak dari duduknya. Baru dua langkah, ia berhenti kemudian berbalik sembari memamerkan sebuah seringaian yang entah apa maksudnya. “Aku memang sudah menikah, eomma. Tapi aku belum melakukan apapun yang bisa membuatku tampak dewasa,” Yunho menyerngai lebar kemudian segera berlari, meninggalkan nyonya kim yang membatu disana sepersekian detik untuk kemudian meneriakan nama putranya hingga memenuhi ruangan.

**M2M**

Angin bertiup sepoi sepoi menggerakkan gorden yang menutupi jendela asal. Jaejoong baru saja ke luar dar kamar mandi, dengan handuk putih yang menutupi lehernya, dengan tetesan air yang menggantung diujung rambutnya, namun ia mengabaikannya. Segar. Jaejoong melirik sesaat menembus jendela, hari yang ndah. Setelah berganti baju, pemuda hazel itu segera keluar kamar, menjadwalkan untuk menyongsong harinya yang ndah. Sungguh, ia tidak ingin menyia-nyiakan liburannya kali ini, ia harus bisa bersantai-santai seharian, menjelajah internet, atau menghabiskan waktu seharian untuk menonton film mungkin.

Jaejoong tengah membaringkan tubuhnya di atas sofa sembari mendengarkan lagu kesayangannya ketika telepon berbunyi. Ia menggeliat malas, hendak berdiri untuk mengangkatnya. Meski kemudian ia mendesah lega, karena nyonya kim telah berdiri lebih dulu di sana untuk mengangkatnya.

Pemuda cantik itu menolehkan kepalanya sekali-kali. Pikirannya melayang sejanak, memikirkan sebuah alasan yang mungkin bsa menjawab pertanyaan yang berputas di kepalanya. Kenapa wanita senang sekali bergosip?

Setelah cukup lama berbincang-bincang, lewat sudut matanya Jaejoong menangkap siluet nyonya kim yang tengah berjalan ke arahnya. Ia sedikit mengerutkan dahi ketika menyadari telepon belum ditutup, namun mengabaikannya.

“Ne, Joongie, ada telepon dari Yunho,” ujar nyonya Kim sembari mengangguk. Sebuah senyuman samar masih dapat Jaejoong tangkap melalu kedua bola matanya.

“Eoh? Yunho itu siapa?” tanya Jaejoong dengan wajah polos yang terkesan malas.

“Andra tuh siapa sih Ma?” tanya gue dengan wajah polos

“Yaa.. Jaejoong, kau tidak boleh seperti itu. Kau lupa atau hanya pura-pura lupa. Eomma tidak menerima banyak alasan, ayo cepat angkat sana!”

“Malas,” gumam Jaejoong pelan sembari menguap.

“JUNG JAEJOONG!!”

“Aa… ne,”

Dengan langkah gontai dan perasaan malas yang begitu ketara di sana, Jaejoong memaksakan diri untuk mengangkat telepon. Pemuda cantik itu seakan tak bsa berhenti menggerutu dalam diam. Ia dapat merasakan degupan jantung diatas batas normal karena menahan kekesalan. Apa pemuda tampan di sebrang sana tidak tahu bahwa ia tengah malas, kenapa Jung Yunho justru mengganggu waktu santainya?

“Annyeong!” sapa Jaejoong ketus.

“Ne, annyeong. Kenapa kau lama sekali mengangkat teleponnya, sayang?”

“Sayang, sayang, siapa yang kau panggil sayang, hah? Aa.. kenapa? Kau keberatan jika aku lama mengangkatnya? Jika jawabanmu iya, maka cepat tutup telepon ini. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladenimu!”

“Yaa… kenapa jawabanmu sepert itu?”

“Aku pikir, tidak perlu terlalu banyak basa basi seperti itu. Demi Tuhan, Jung Yunho, apa kau tidak tahu bahwa aku ini sedang malas? Kau tahu, M-A-L-A-S!”

“Aku tidak tahu,”

“Arrghh..!” teriak Jaejoong frustasi. “Sekarang cepat katakana, apa maksudmu meneleponku?”

“Begini, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku akan ke sana sekarang,”

“Hanya itu”

“Ne,”

“Astaga, kenapa kau harus bersusah payah meneleponku? Kenapa kau tidak mengirim sms saja?”

“Aku tidak tahu nomor ponselmu,”

“JUNG YUNHO, KAU MENYEBALKAN!”

Jaejoong menutup telepon dengan kasar. Ia menarik nafas panjang mencoba untuk menenangkan diri. Ia bahkan sampai menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri mengingat kenapa ia bisa jatuh cnta pada pemuda seperti itu. Sepertinya sesuatu yang salah telah terjadi di otaknya.

Pemuda hazel itu menepuk-nepuk dahinya gusar. Ia baru saja membalikkan tubuhnya hendak beranjak, ketika matanya menangkap sesuatu yang membuatnya tersentak. Nyonya Kim sudah berada di sana, menampakan wajah suram yang begitu jauh dari kata ramah. Dengan mata yang hampir melotot keluar, dan kedua tangan yang tengah menolak pinggang.

Tersenyum kecut, hanya itu yang bisa Jaejoong lakukan saat ini. Pemuda cantik itu melenggang pergi begitu saja, menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan kasar kemudian menopang dagu. Tuan Kim hanya menatap putra semata wayangnya sembari tersenyum, sedangkan Nyonya Kim hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Angin yang mengalun senjuk, terasa begitu lembut mengelus kedua belah pipi Jaejoong. Kenapa? Karena pintu dibiarkan terbuka lebar, dan itu merupakan salah satu alasan kenapa pemuda cantik itu tak berhenti menggerutu sejak tadi.

Sejak tadi Jaejoong mencoba merajuk agar pintu cepat ditutup, karena sebentar lagi saja, ia yakin bahwa dirinya akan terserang flu. Meskipun Tuhan berkehendak lain, karena kenyataannya nyonya Kim tetap bersikeras membuka pintu, dengan sebuah alasan yang sungguh menohok jantung seorang Jung Jaejoong. Membiarkan pintu terbuka agar ketika Yunho datang ia dapat segera masuk. Tuhan, bukankah itu alasan konyol yang pernah ia dengar dalam hidupnya.

Jaejoong terus saja mengetuk-ngetukkan jarinya pada layar ponsel. Ini sudah berlalu lebih dari lima belas menit dan belum ada tanda-tanda kedatangan Yunho di sini. Sepertinya pangeran berkuda putih memang tidak akan datang. Jaejoong menarik nafas panjang. Ini lebih baik mungkin, setidaknya jadwalnya ntuk bersanta-santa tdak terganggu.

“Eomma, Appa, pagi! Hai Jae!”

Jaejoong merasa sinyal bahaya dalam dirnya tengah memanggil. Suara itu, suara bass yang begitu ia kenali. Suara yang taka sing lagi di telinganya, namun coba ia hindari.

“Aa.. Yunho, ayo masuk!” ujar tuan Kim ramah.

“Ne, gommawo, Appa,” Yunho mengangguk singkat sembari tersenyum.

“Yaa.. Jaejoong, kau sangat beruntung bisa memiliki suami sebaik Yunho,” ujar tuan Kim, senyuman tak bisa ia enyahkan dari wajahnya.

“Ne, Jaejoong. Appamu benar, kau memang sangat beruntung.Dia pemuda yang baik, dan satu lagi, Yunho sangat tampan,” nyonya Kim menambahkan.

“Eomma, Appa, sebenarnya siapa yang kalian maksud dengan kata suami? Sejauh ini aku masih single,”

“Kau!” nyonya Kim berdecak jengkel.

“Aku tidak menganggap pemuda yang sok tampan itu sebagai suamiku, bukankah aku tidak sadar kapan kita menikah, jadi itu hal yang wajar,” Jaejoong mengangguk-anggukan kepalanya yakin.

“JUNG JAEJOONG “ teriak nyonya dan tuan Kim bersamaan.

“Ne.. ne.. aku mendengarnya,”

***

 

Jaejoong mematut dirinya di cermin berkali-kali, hanya untuk memastikan apakan ia pantas dengan apa yang ia kenakan, hanya sedikit tidak yakin, meski akhirnya rasa percaya diri mengalahkan segalanya. Dalam balutan t-shirt putih tanpa lengan dengan v-neck, skinny jeans, dan cardigan biru langit begitu memancarkan pesonanya, menonjolkan kecantikan alami yang memang telah dimilikinya sejak lahir.

Jaejoong menggiring langkahnya keluar tangga, menuruni tangga yang terasa begitu panjang, melangkah perlahan menghampiri Yunho. Tampan, mungkin itu kata pertama yang akan keluar dar bibir setiap wanita yang menatap Yunho sekarang, dengan sebuah senyuman manis yang terkembang dari bibirnya.

“Kenapa dia sangat tampan Tuhan? Aa.. tidak tidak, ini salah. Kau tidak boleh menunjukkan bahwa kau terpesona padanya, kau harus semangat  kau pasti bisa. Ayo semangat Kim Jaejoong, maksudku Jung Jaejoong!” pemuda hazel itu berusaha menyemangati dirinya sendiri.

“Ayo Pak sopir, kita berangkat sekarang!”

“JAEJOONG! Bersikap sopanlah sedikit pada Yunho,” nyonya Kim sudah benar-benar jengkel sekarang.

“Hehe… hanya bercanda, tidak perlu dianggap serius eum,” Jaejoong menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.

“Hh… sudahlah, lebih baik kau berangkat sekarang sana!” nyonya Kin menarik nafas panjang, hanya menghadapi satu anak laki-laki namun rasanya seperti menghadapi sepuluh anah perempuan.

“Ne, Jae pergi sekarang. Aa.. Eomma, jangan terlalu cepat emosi, itu dapat menyebabkan penuaan dini. Annyeong!”

“JAEJOONG!” teriak nyonya Kim, sementara suaminya hanya menggeleng-gelengkan kepala. Dan Jaejoong hanya terkekeh kecil sembari berlari meninggalkan rumah, diikuti Yunho dibelakangnya.

**M2M**

 

Jaejoong mengedarkan pandangannya kesekeliling, menatap takjub sebuah umah yang berdiri kokoh di hadapannya. Bukan sebuah rumah yang sederhana, namun bukan juga rumah yang menghabiskan banyak lahan, meskipun sedikit lebih besar dari rumahnya. Sebuah rumah bergaya klasik dengan cat hijau muda, dipenuhi oleh ornament-ornamen kecil yang menimbulkan efek memikat yang sempurna.

“Aa.. Yun, sepertnya aku tidak perlu masuk,” Jaejoong memainkan jari-jarinya, tegang.

“Kenapa?” tanya Yunho singkat.

“Aku.. Aku malu jika harus bertemu Eomma mu,”

“Malu. Kenapa kau harus malu? Ingat Jung Jaejoong, mulai sat ini, Eomma ku adalah Eommamu juga,”

“I… iya,”

“Lalu? Apalagi yang kau pikirkan? Ayo masuk!”

Sedikit terpaksa, meskipun pada akhirnya Jaejoong tetap mengangguk dan mengikuti langkah Yunho. Perlahan namun pasti, Jaejoong mulai mencengkram dadanya, rasanya sesuatu di dalam sana berdebar tanpa terkontrol.Tuhan, lancarkan apapun yang ada di hadapannya.

Pemuda cantik itu mengangkat wajahnya perlahan, dan mendapati seorang wanita cantik tengah berduduk-duduk santai sembari membaca majalah di dalam sana. Jaejoong mengeryitkan matanya, mencoba menajamkan penglihatannya. Itu Eomma Jung? Antic, tdak heran ia memiliki putra setampan Yunho.

Jaejoong merasakan grogi yang tiba-tba membuncah. Ia mencoba untuk tetap santai, namun rasanya begitu sulit. Ini akan sangat memalukan jika ia menunjukan kegugupannya. Pemuda cantik itu menarik nafas dalam dalam. Dengan tekad yang ulat, setelah ia menganggukan kepalanya tiga kali, ia berusaha untuk maju. Ia bisa, dan ia yakin akan kemampuannya.

“Pa… pagi, Eomma!” tegur Jaejoong. Ada sedikit getaran dalam suaranya.

“Aa… kau pasti Joongie, eum? Ayo sini, duduk di sebelah eomma!” pinta nyonya Jung.

“I… iya,” jaejoong melangkah perlahan menuju sofa, seakan tak ingin melakukan kesalahan sedikitpun. Ia ragu, namun ia harus tetap maju.

“Ne, Jaejoongie, ternyata kau lebih cantk dibandingkan dengan yang aku lihat di foto. Aku tidak heran jika Yunho menyukaimu,”

Yunho merasakan kedua belah pipinya memanas. Ah, iya tersipu. Pemuda tampan itu merasakan jantungnya berdetak lebih kencang, belum lagi ketika JHaejoong menatapnya, dan pandangan mereka bertemu meskipun singkat. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi, memilih berlari menuju kamarnya, dan menyembunyikan diri di sana.

“Ne.. ahjumma. Aa.. Eomma, terimakasih!” Jaejoong menepuk jidatnya sendiri. Ini gila. Kegugupan ini terasa akan membunuhnya.

“Sama-sama. Kau terlihat masih sangat canggung, Joongie. Tidak apa-apa, cobalah relaks sedikit. Kau sangat manis,” nyonya Jung tersenyum lembut.

“Aa.. ne, mianhe, Eomma,”

“Tidak apa-apa, jangan terlalu dipikirkan, eomma mengerti, Eomma juga pernah mengalaminya,”

Tidak selamanya langit membentang dengan panorama biru muda yang indah, terkadang semuanya berubah kelabu, seperti ingin melepaskan kesakitan bersama air hujan. Tidak selamanya burung-burung berkicau dengan riang, terkadang mereka hanya diam dan mengepakan sayap membelah langit bersama ketenangan.

Seperti apa perasaan manusia, rasanya sulit untuk menggambarkan setiap detailnya, selalu ada kejutan tak terduga tentang apa yang mereka pikirkan setiap detiknya, semuanya berubah dengan begitu mudahnya. Bahkan seorang wanita mampu merasakan dan memikirkan banyak hal dalam satu waktu yang bersamaan. Menakjubkan.

Pembicaraan Jaejoong dan nyonya jung mengalir begitu saja, semuanya seakan tampak telah saling mengenal sejak lama, tidak ada lagi kecanggungan sekarang.

“Aa.. Eomma hampir lupa. Kalau suatu hari nanti kau memiliki rumah sendiri, kau ingin yang seperti apa?”

“Tidak perlu yang terlalu besar, cukup yang sedang saja. Yang terpenting adalah bentuknya. Aku ingin memiliki rumah yang unik dengan dinding berwarna merah muda, agar aku bisa memasang gorden berwarna biru muda nantinya,”

**M2M**

 

10 thoughts on “GYEOLHON/YUNJAE/CHAPTER 4 OF ?

  1. first reader hohohoho
    aish masih dibikin bingung sama sikap yunjae.. mereka itu beneran saling suka apa cuma maen-maen yah??? hufh gini nih klo nikah muda hohoho
    eh umma jung nanya soal rumah.. jangan -jangan yunjae mau dibikinin rumah hihihi asik asik cepet – cepet deh yunjae tinggal berdua biar bisa NC >///////<

  2. Jaema sok2an gak suka disamperin Jaema.
    pdahal sbnerx seneng tuh ampe deg2an.

    pertemuanx Jaema n Mrs.Jung awalx emang rada canggung tapi mungkin itu karna ni pertama kalix mereka ketemu.

    Yunpa malah sembunyi dikamar.

  3. c mommy masi malu” gitu ;;)
    trus appanya kenapa malah sembunyi? malu yaa cieeee ;;)
    suit” ┐(‘⌣’┐) (┌’⌣’)┌ ┐(‘⌣’┐) (┌’⌣’)┌

    lanjutt thor (•̪ . •̪)

  4. hihihi…jeje ngegemesin… malu2 tp ntar mau..
    jd gregetan sndri liat tingkahx itu..
    so cuteeee…

    yunjae kocak bner dsni.. q pek senyum2 sndri bacax…
    dtunggu next chapt

  5. ah jae, kenapa masih ketus ja, kasihan yunho… yunho juga sama ja suka ngegoda jae…hehehe… jae cepat akrab ma mrs jung… benar2 menantu yang baik… ih, yunho malu2…

  6. Oh My God Sun!!
    Bisa2.y umma lupa dg hari lbur, ckckck…*cubit hidung mancung umma
    masih penasaran ma sikap umpa,
    mereka ntu sebener.y suka g sih??
    Dan oh, umma juga lupa ma pernikahan.y…
    Py suami guanteng kek appa kok dsia2in… ^^

  7. aduh..duh..duh..
    q mkin bnggung..
    Nie sbnarny jaema suka kn yunpa..
    dy cma g mau ngakuin ja..
    .
    .
    n prtmuan jaema ma umma jung awlny mmang canggung tp lama” kerasa kyak dah knl lma..
    q suka prtmuan mnantu n mrtua nie..

  8. Aq reader bru tp lbih tpatny bru bca ff nich..
    G pa” kan klo qu numpng bca..
    Iiih umma blg ja klo appa gantng..
    Umma knpa pke’ acra kyk org linglung klo bcra tntg prnikhan.. Jgn nerves ya klo ktmu ma mertua sndri..
    ..
    Mian bru ngomen soalny qu bru nmu fanfic yg mnrik utk d-bca..
    Ayo lnjut k-chap briktny, qu tnggu ya? Jgn kelamaan updateny dan jgn tingglin ff nich bgtu ja sblum ending, Ocey🙂
    sekian gomawo🙂

  9. Ayolah…jaema jangan malu2 gitu sam̶̲̅α̇ yunpa…sok Jaim ih!! ^o^»
    appa juga tunjukin dong ke umma kalau appa cinta mati sam̶̲̅α̇ umma
    ªª mungkin appa kesel x ýª gra” ųϑªђ kawin τρ Ъ>:/ tinggal serumah…✘¡✘¡✘¡
    Tenang aja appa..tuh mertua sam̶̲̅α̇ menantu lagi ngobrol seru ngomongin mau bangun rumah wat x an #yunjae NC uhuy!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s