WHEN PAIN IS REJECTED/ YUNJAE/ ONE SHOOT


WHEN PAIN IS REJECTED

Pairing : Kim Jaejoong x Jung Yunho

Author : Amee

Genre : angst gagal to happy ending (sungguh gagal, tapi masih bisa dibaca <?>)

.

Warning : This story is dedicated for Kim Jaejoong. serious language, less dialog, many typos, angst is failed, so far from perfect. don’t copy this story without permission!

.

.

Kau tampak seperti cangkang kosong yang telah mati, meski sesungguhnya  aku tahu kau tetap bernafas.

Aku tahu kau hidup, meski tak benar-benar hidup.

Aku tahu kau melihat, meski tak benar-benar melihat.

Aku tahu kau mendengar, meski tak benar-benar mendengar.

Dan aku tak tahu apa kau masih bisa bicara, karena aku tak pernah mendapatinya.

Sometimes the end is the beginning, and the beginning is the end, it’s the in-between that matters.

Dari ambang pintu aku mengamatimu diam, ingin bicara, ingin menyentuh, dan ingin menandaimu sebagai miliku. Bagaimanapun kau terduduk disana adalah kesalahanku. Aku hanya manusia hina yang entah bagaimana harus diungkapkan.

Aku hanya bercanda saat itu, bukan berarti aku benar-benar ingin meninggalkanmu. Aku hanya ingin sedikit menggodamu, tidak bisakah kau mengerti akan hal itu. Tidak bisakan kau membedakan mana permainan dan mana kenyataan? Atau mungkin candaanku terlalu berlebihan hingga membuatmu seperti ini.  Menjatuhkan diri dari sepeda motor yang kau tumpangi, dan hidup namun seolah-olah mati. Tak bisakan kau melihat keberadaanku disini? Aku menunggumu, hampir satu tahun.

Aku tersadar dari semua lamunanku ketika Nyonya Kim menekankan telapak tangannya pada pundakku. Ini adalah hari dimana semuanya terjadi. Empat jam lagi, jika aku tak salah mengingatnya, empat jam lagi genap setahun peristiwa ini terjadi. Nyonya Kim berjalan melewatiku, berbelok ke kanan lalu berjalan lurus, berbincang sedikit dengan dua orang perawat di ujungnya, kemudian menuruni tangga marmer menuju lobi rumah sakit.

Aku melongokan kembali kepalaku ke arahnya, dia baru saja menutup buku diarinya setelah menorehkan beberapa guratan di sana, hal manusawi yang masih bisa ia lakukan. Satu-satunya jalan bagiku untuk memahami apa yang tengah dirasakannya.

Aku berjalan cepat ke arahnya, mendudukan tubuhku di tepi ranjang, dan segera menyambar lengannya, seperti anak kecil yang tengah merajuk pada ibunya, dan dia tidak memberikan respon sama sekali. Hanya sebentar, dan aku segera melepaskannya kembali. Sakit, rasa sakit itu kembali menghampiri. Rasanya seperti dibakar hidup-hidup, atau mungkin lebih buruk dari itu. Kenapa harus sesakit ini.

“Jae,” aku menyentuh pipi putih pucat itu. Lembut, masih sama seperti dulu, dan aku selalu menyukainya.

Jaejoong menoleh ke arahku, menatapku dengan kedua bola mata yang seolah-olah tak bisa diam. Hanya sekilas, kemudian ia mengalihkannya lagi, seolah aku tak benar-benar berada di sana.

“Aku ingin memelukmu, aku merindukanmu, sungguh, tak bisakah kau mendengarku barang sekali lagi ini saja?” dan Jaejoong tetap mengabaikanku.

Aku sungguh tak bisa mengontrol emisoku. Kepalaku benar-benar terasa pening sekarang, dan bau khas rumah sakit yang tajam semakin membuatku mual dan ingin menumpahkan seluruh isi perutku.

Melirik Jaejoong sedikit yang tampak begitu cantik dengan pakaian rumah sakit yang dikenakannya. Kulit putih pucatnya seakan lebih menonjolkan aura, dan rambut coklat madunya sesekali bergoyang seolah menggoda setiap kali ia melakukan gerakan kecil.

Aku segera berhambur kepelukannya meski tak mendapat respon apapun. Memeluknya, menghirup aromanya dalam-dalam, dan mencuminya dengan rakus. Tak tahu pasti sejak kapan aku menjadi lemah seperti ini, aku meneteskan air mata lagi hanya karena memeluk dan menciuminya, sementara memori indah di pikiranku mendesak untuk keluar.

“Jaejoong, apa kau ingat kau pernah mengatakan hal ini padaku? Jika kau melupakannya maka aku akan membuatmu mengingatnya. Ketika kita berpelukan dan berciuman untuk pertama kali, kau mengatakan hal ini padaku. Sungguh aku mengingatnya dengan jelas. Kau mengatakan bahwa ini aneh, karena rasanya setiap gerakan mesra dan penuh cinta yang kita lakukan seolah pernah kita lakukan sejak lama, seolah kita adalah pasangan kekasih sejak lama. Apa kau mendengarku, Jae? Apa kau mengingatnya sekarang?” aku mengeram frustasi, dan Jaejoong tetap bergeming.

Sosok itu seolah mengabaikan segala hal yang ada di sekitarnya, ia benar-benar menolak semuanya. Aku memerhatikannya dengan rasa nyeri yang terus berkembang di dalam dadaku. Jari-jari lentiknya dengan lihai melipat berpuluh-puluh kertas dan merubahnya menjadi orgami, dalam diam.

Semua gerakannya terhenti, begitu mata indahnya menatap jam dinding putting yang terpajang elegan di hadapannya. Ia meremas dadanya kuat-kuat, seakan ada lobang besar bekas koyakan disana, namun tak tampak. Jaejoong meraih diari coklat di samping kanannya, membukanya, kemudian menorehkan sesuatu di sana.

Tidak selamanya langit membentang dengan panorama biru muda yang indah, terkadang semuanya berubah kelabu, seperti ingin melepaskan kesakitan bersama air hujan. Tidak selamanya burung-burung berkicau dengan riang, terkadang mereka hanya diam dan mengepakan sayap membelah langit bersama ketenangan.

Seperti apa perasaan manusia, rasanya sulit untuk menggambarkan setiap detailnya, selalu ada kejutan tak terduga tentang apa yang mereka pikirkan setiap detiknya, semuanya berubah dengan begitu mudahnya. Seperti sebuah kesakitan yang seakan keberadaannya tertolakkan. Ketika sebagian belahan jiwamu merasakan sakit, maka kau akan merasakan sakit yang berlipat dari itu.

Aku meliriknya diari itu tajam, ingin membacanya namun takut, ingin menyentuhnya namun perasaan bersalah terus menghantui, dan aku menciut. berdiri menghadap kaca jendela besar di dalam rumah sakit, menatap jalanan di bawah sana. Jalanan cukup ramai mengingat ini hampir tengah malam. Orang-orang dalam balutan mantel tebal beraneka warna berjalan di sepanjang trotoar dan mobil berseliweran di jalan raya.

“Dia sedang menulis lagi?” aku membalikkan tubuhku, dan mendapat Nyonya Kim berdiri di sana.

“Iya, aku akan melihatnya nanti, tapi aku takut,” tubuhku bergetar dengan sendrinya. Tuhan, bahkan aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri.

“Kau lelah, beristirahatlah. Biar aku yang menjaganya. Semuanya akan baik-baik saja, dan buanglah jauh-jauh perasaan bersalahmu itu!”

“Aku baik-baik saja, aku ingin ada di sampingnya. Aku tahu ini akan segera berakhir, hanya tiga jam lagi, dan aku harap semuanya benar-benar selesai,”

“Tapi kau butuh istirahat Yun, walau memang seperti itu, ini hampir tengah malah,” nyonya Kim melempar pandangannya ke kanan, seulas senyuman terkembang di sana. “Kau yang menyiapkan semua itu?”

Setumpuk bungkusan kado, kue tart, dan segala macam keindahan berserakan di atas sofa. Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya telah aku beli. Hanya mengikuti insting, dan aku membeli semuanya.

“Ya, aku ingin memberi kejutan yang spesial ketika ia tersadar nanti. Jika yang dokter katakan benar, kalau selama setahun ini Jae hanya mengulang kejadian setahun yang lalu dalam memorinya, maka hari ini semuanya akan berakhir di hari kecelakaannya. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan memberikan akhir yang manis untuknya,”

“Jangan terlalu memaksakan diri,” nyonya Kim mengalihkan pandangannya pada Jaejoong. Menarik nafas panjang yang terdengar begitu berat. “Dia sudah tertidur. Aku harap Tuhan masih menyayangi putraku barang sedikit saja, semoga ketika ia terbangun nanti, ia benar-benar akan baik-baik saja,” wanita itu memejamkan matanya, dan setetes cairan bening membasahi pipinya.

“Tentu,”

Nyonya Kim melangkahkan kakinya menjauh setelah sebelumnya memberi kode bahwa ia ingin menenangkan diri barang sejenak saja. Sebelum ia menghilang, kulihat ia berusaha keras menutup matanya yang justru meneteskan bulir-bulir bening. Aku tahu ia menyerah,  hanya mencoba untuk berkonsentrasi pada bulan di luar yang seakan menyusut karena malu, betapa sekarang adalah malam yang kelam, meski aku yakin akan segera terang.

Kududukan tubuhku di samping Jaejoong, memperhatikannya yang tengah menutup mata, selagi bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman simpul di alam bawah sadar, selagi otot-otot di keningnya mengendur dan tenang. Sekali lagi kecupan di kening sebelum aku mengambil diari bersampul coklatnya dengan takut-takut lalu membacanya.

Seoul, 18 Februari 2010

Lihatah aku? Aku hanya seorang pemuda biasa yang nyaris tak punya kelebihan jika hobi menulisku ini tidak bisa disebut kelebihan. Sedang dia yang sering ku lihat adalah sosok yang nyaris penuh dengan kelebihan. Lihatlah dia! Tampan, tinggi, berwibawa dan berkarisma. Tuhan, ini adalah saat pertama aku melihatnya, kenapa aku sudah harus terjerat sejauh ini dalam pesonanya. Entahlah, rasanya sangat sulit mendefniskan perasaan apa yang sedang aku alami kini

Seoul, 29 Februari 2010

Aku selalu merasa kerdil jika harus dibandingkan dengannya. Kenapa ia bisa tampak sempurna seperti tu? Dikelilingi banyak orang, dan aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan. Sesekali mata kita bertemu pandang memang. Oh ayolah Kim Jaejoong, kau harus sadar, itu bahkan bukan pandangan untukmu, kau terlalu berharap. Hapuslah sedikit harapanmu itu, jika kau tak ingin menuai kekecewaan nantinya. Dia bisa saja memilih salah satu bidadari yang sehari-hari ada di sampingnya. Tidak ada alasan ia harus melirikmu. Oh ayolah, siapa pula yang ingin bercinta dengan pemuda sepertiku? Aku tahu jawabannya tak akan ada. Maka dari itu aku disini, memandangnya dari kejauhan…

Seoul, 10 Maret 2010

Apa aku sedang bermimpi kali ini? Aku menepuk-nepuk wajahku berkali-kali, dan itu terasa sakit. Kau tahu apa artinya? Aku sedang tidak bermimpi! Kenapa aku bisa sesenang ini, ingin rasanya aku meloncat dan berteriak keras saking senangnya. Aku tahu Tuhan sangat menyayangiku.

Seorang Jung Yunho menyapaku hari ini, dia tersenyum, dan aku tahu tu adalah senyuman paling indah yang pernah aku lihat. Dia mengatakan kepadaku bahwa aku sangat manis. Apa itu benar? Tapi aku pikir itu adalah kesalahan telingaku dalam menyerap suara, tidak mungkin ia mengatakan hal seperti itu, meskipun aku sangat mengharapkan bahwa itu benar adanya.

Seoul, 27 April 2010

Aku tahu bahwa semua aliran kebahagiaan yang tengah aku kecap adalah bentuk kasih sayang Tuhan. Begitupun hari ini. Yunho-ah mengajakku untuk menonton film hari ini. Apakah setiap orang yang tengah jatuh cinta merasakan buncahan kembang api di dalam perut mereka ketika akan bertemu dengan orang yang kita cintai, sama sepertiku?

Berulang kali aku mematut diriku di cermin, memastikan apa aku telah tampil sempurna. Aku tidak ingin menunjukan cela meskipun hanya sedikit. Ini kencan pertamaku, jika memang bisa dikatakan sebagai kencan. Aku pikir aku memang telah gila sekarang.

Tuhan, jantungku hampr meledak merasakan aroma tubuhnya yang tengah duduk di sampngku. Ia menggenggam tanganku, membuatku mau tidak mau menoleh ke arahnya.

“Apa kau mau menjadi kekasihku?” ujarnya pelan meski aku masih bisa mendengarnya.

“Hm…” jawabku sembari mengangguk. Ah, sebenarnya aku ingin berterak dan mengatakan ‘iya, aku mau’ keras-keras, agar semua orang tahu. Tapi hanya itu yang keluar dari mulutku.

“Terimakasih,” Yunho menarikku kedalam dekapannya. Ia memelukku dengan lembut, lantas mengecup keningku. Ia menatap dua bola mataku dalam-dalam, perlahan mencondongkan tubuhnya, dan kami bercuman disana. Ciuman yang lembut, bukan ciuman liar yang penuh nafsu.

“Ini aneh, rasanya setiap gerakan mesra dan penuh cinta seolah pernah kita lakukan sejak lama, seolah kita adalah pasangan kekasih sejak lama,” aku mengucapkannya pelan. Memejamkan mata sejenak, kemudian membukanya untuk menatapnya dalam diam.

Seoul, 18 Agustus 2010

Hubungan kami baik-baik saja, dan akan selalu baik-baik saja selamanya.

Seoul, 2 Januari 2011

Aku tidak tahu, ada rasa sakit yang terasa begitu mengoyak di dalam hatiku. Mungkin ini hanya perasaanku saja. Mungkin ini karena dia terlalu popular, kau harus ingat itu Kim Jaejoong, Jung Yunho adalah sosok berkharisma yang dekat dengan semua orang.

Aku selalu menggumamkan mantra itu setiap kali aku merasa sakit. Tapi ini hal yang berbeda, terkadang mantra itu sama sekal tidak mempan, dan aku tetap merasa sakit. Dia terlalu dekat Jessica Kim, Go Ahra, kenapa kau harus memancing mereka? Aku tdak suka!

Seoul, 19 Januari 2011

Sepertinya aku merasa sangat lelah sekarang. Kenapa rasanya kita semakin menjauh, kenapa rasanya pertengkaran-pertengkaran kecil begitu merepotkan dan berdampak besar?Apa dalam setiap hubungan memang seperti ini?

Seoul, 20 Januari 2011

Tuhan, aku menangis lagi hari ini, apa aku sangat lemah? Seharusnya aku mencoba untuk sedkit tegar, aku yakin Yunho pun tidak terlalu senang melihatku menangis. Aku percaya, kesakitan adalah kebahagiaan yang tertunda, dan tangisan adalah awal dar sebuah senyuman.

Seoul, 21 Januari 2011

Kenapa aku selalu melakukan kesalahan yang sebenarnya bahkan tidak perlu dilakukan? Aku sudah mencoba sebaik yang aku bisa namun tetap tak dapat menghindarnya, aku lelah jika harus seperti ini, lelah dengan kebodohan aku sendiri.

Seoul, 22 Januari 2011

Apa tidak ada lagi yang bisa aku lakukan?

Seoul, 23 Januari 2011

Tak tahu apalagi yang sanggup ku tulis dalam lembaran-lembaran ini. Aku kalah…

Seoul, 24 Januari 2011

Hari ini aku akan mempersiapkan pesta untuk hari ulang tahunku. Aku ngn tampak memesona, setidaknya dengan begtu Yunho akan tetap mencintaku. Aku tahu, meskpun ia selalu mengatakan bahwa ia akan mencntaiku apa adanya, meski bagaimanapun rupaku, namun tetap saja aku merasa was-was. Apa di luar sana ia bertemu dengan orang lain yang lebih memesona dibandingkan denganku? Apa ia akan berpaling dan meninggalkanku?Apa ia akan melupakanku begitu saja.

Rasanya hatiku masih sakit jika mengingat tentang siapa saja yang dekat dengannya. Mungkin aku memang tak semenarik mereka. Namun setdaknya aku ada di sini untuknya. Tuhan, aku titpkan Yunho padamu barang sebentar saja, ketika aku tak sedang disisinya. Jaga pandangannya, ketika aku bukan menjadi objek pandangnya. Jaga pendengarannya, ketika bukan aku yang memanggilnya dengan nada manja, dan jaga suaranya, agar ia hanya ada untuk memuji dan berbagi kata cinta denganku.

Seoul, 25 Januari 2011

Sepertinya apa yang aku mimpikan hanya akan menjadi abu yang terserakan oleh angin. Itu sama sekali tidak mungkin terjadi. Aku benar-benar tidak mengerti apa kesalahanku, mungkin aku terlalu bodoh, mungkin aku terlalu naïf, dan aku sama sekali tdak peka.

Tuhan, tunjukan apa kesalahanku agar aku bisa memperbaikinya mesikpun ini benar-benar sangat terlambat. Aku tidak ingin merasakan situasi seperti ini. Yunho sangat marah padaku. Aku takut sangat takut, da benar-benar membenciku sekarang. Aku sangat takut. Aku tidak tahu lagi apa yang sebaiknya aku lakukan. Aku sangat tidak mengharapkan dia meninggalkanku.

Fokusku terpecah, begitu ponselku menerma panggilan masuk. Ternyata Donghae. Ini hal yang wajar, satu-satunya yang tak wajar adalah info yang ia sampaikan padaku. Yunho berkencan dengan Jessica, dan ia menciumnya. Kau tahu, duniaku tiba-tiba jungkir balik seketika. Hatiku benar-benar hancur, Inikah hadiah ulang tahun yang kau persiapkan untukku, Jung Yunho? Terimakasih, karena ini sangat berkesan bagiku, kau memberikan kesan yang sangat mendalam,  menyakiti hatiku, meski aku tak akan membencimu!

Ini mungkin adalah goresan terakhir dari pena yang akan mengisi lembaran buku harian ini. Karena besok, mungkin aku tidak akan menyentuhnya lagi. Mungkin aku akan benar-benar melenyapkan diriku sendiri jika hal itu benar, meski kenyataannya aku masih berharap bahwa semua yang aku dengar adalah mimpi. Aku tidak bisa membayangkannya. Aku terlalu mencintaimu Jung Yunho, dank au terlalu menyakitiku. Terimakasih. Aku akan tidaur sekarang, memejamkan mata mungkin akan membantuku melupakan semua. Aku harapa ketka aku membuka mata nanti, aku dihadapkan pada kenyataan bahwa ni adalah mimpi, sekalipun tidak, biarkanlah aku pergi dengan tenang, sebagaimana angin menyerakan debu debu kecl yang berserakan di jalan.

Aku menutup buku harian itu sembar menahan nyeri yang teramat sangat di dadaku. Ruangan putih dan bau khas rumah sakit seakan memperburuk keadaanku. Bagamana tidak, aku merasa sangat mual kini.

“Kim Jaejoong, aku pikir kau benar-benar sangat bodoh. Aku hanya bercanda soal aku marah padamu, aku hanya ingin menggodamu sedikit dan memberimu kejutan di hari ulang tahunmu, meski kenyataannya, Donghae merusak segalanya. Sungguh, aku sudah hampir sampai di rumahmu ketika aku mendengar kabar tentang keadaanmu. Maafkan aku! Tolong bantu aku, percaya padaku. Bualan si bodoh itu tentang Jessica dan semuanya sama sekali tidak benar. Aku sangat menyayangimu, sungguh. Bangunlah demi aku, aku ingin menjelaskan banyak hal padamu. Aku mohon, jangan meninggalkan aku tanpa salam perpisahan, Jae aku mohon,” aku mencengkram pundak Jaejoong kuat-kuat, mengabakan rasa sakit yang mungkin saja ia rasakan. Aku hanya merasa frustasi, sungguh.

Suara bising kendaraan diluar sana seakan tidak mengerti akan kepenatanku. Aku membalikan tubuh setelah sebelumnya mengintip sedikit pada jam dndng lewat sudut mataku. Sudah tengah malam lewat. Sepertinya Jaejoong tidak akan terbangun sekarang. Aku ingin menjauhkan dri dari tempat yang begtu menyiksa hatiku ni. Begnikah perasaanmu ketika mendapatmu yang sering emosi tanpa alasan yang jelas? Lebih sakitkah yang kau rasakan ketika kau mendapatkan berita bualan Donghae tentang aku dan Jessica? Beginikah? Maafkan aku.

“Arrggghhh, Yun!” suara merdu yang aku rindukan selama setahun ini akhirnya mampu aku dengar lagi.

Membalkan tubuhku seketika dan mendapati Jaejoong tengah terengah-engah, dengan peluh membasahi keningnya. Ia sungguh terbangun.

“Maafkan aku, Jae. Maafkan aku. Aku menyayangimu sungguh, dan lupakan tentang bualan Donghae yang benar-benar tidak bernilai, sungguh. Aku merindukanmu, sangat. Aku rndu suaramu, terimakasih karena kau mau berbicara lagi untukku, terimakasih” aku terisak, memeluknya erat dan menciumi wajahnya dengan seduktif.

“Yun, kenapa kau ada di sini? Apa yang sedang kau lakukan? Apa yang sedang kau bicarakan? Donghae kenapa?” Jaejoong balas memelukku dan mengusap-usap punggungku. Sedikit tersentak, karena da tidak mengingat apapun, ia melupakannya.

“Tidak ada. Aku disini, karena ingin memberimu ciuman selamat ulang tahun,” aku mencium bibir cherrynya singkat, lembut. “Selamat ulang tahun sayang, aku sangat mencintaimu,” dan kulihat Jaejoong menitikkan air mata.

“Terimakasih, sungguh terimakasih. Aku mencintaimu lebih dark au mencintaiku, jangan pergi. Kau sudah berjanji padaku, jangan pernah pergi, jangan… ja-”

“Aku mendengarnya, aku tidak akan pergi. Tersenyumlah untukku, aku sudah berusaha untuk menjadi yang pertama di hari ulang tahunmu,”

Ia tersenyum, dengan sangat lebar. Mengingatkanku pada sosoknya ketika pertama kali aku mengenalnya. Mata besarnya yang seolah-olah tak mau diam menatapku penuh pengharapan. Dan bibir cherrynya tak henti menggumamkan kata terimakasih.

Aku mengarahkan telunjukku pada sofa, membiarkan Jaejoong mengikutinya lewat sudut matanya. Terbelalak, ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Menangis, seolah-olah tak percaya pada apa yang dilihatnya.

“Selamat ulang tahun sayang, maaf karena aku memberikanmu hadiah yang mungkin belum cukup special. Jadilah penguasa untuk har ni, ini adalah harmu. Dan biarkan aku menjadi budakmu karena aku telah lancang mencintaimu,” Aku tersenyum padanya. Dan Jaejoong tersenyum haru. Tuhan aku tahu kau sangat mencintai kami, dan merest hubungan ini. Terimakasih karena Jaejoong telah membuka lagi suaranya, melupakan semuanya, dan aku berjanji untuk selalu menjaganya.

.

.

Lembaran terakhir buku harian Kim Jaejoong

Seoul, 26 Januari 2012

Aku tahu, tak sepantasnya aku menulis untuk melengkapi kisah dalam buku ini. Tapi ketahulah sayang, ini adalah waktu yang sangat kunantikan. Terimakasih karena kau telah membuat penantian setahunku tidak sia-sia. Terimakasih karena ketika kau tersadar akulah orang pertama yang kau ingat. Dan terimakasih karena kau tidak pernah lupa untuk mencintaiku. Kau harus tahu, meskipun aku senang bermain-main di luar sana, namun bagiku kau adalah kampung halamanku, tempat ku kembali. Dan karena itu aku membeli cincin untuk melamarmu, percayalah padaku selamanya, biarkan aku menjagamu, dan jadulah mlikku seutuhnya. Menikahlah denganku, Kim Jaejoong

Terimakasih untuk kisah yang menakjubkan…

Tertanda,

Jung Yunho

**END**

19 thoughts on “WHEN PAIN IS REJECTED/ YUNJAE/ ONE SHOOT

  1. Ngomongin soal cangkang kosong jadi inget damaged……
    Sempet kesel n salah paham ama Yunho oppa tapi langsung reda lagi……
    Ngomongin Changmin yang cocok jadi pihak ke3 aku jadi agak risih….
    Aku dah pernah baca Yunjae FF yang authornya Yunjaemania……
    Aku jadi agak kesel bacanya soalnya di FF You Hurt My Pride Jae oppa mendua….
    Trus di FF yang are we in love ada 2 ending n di salah satu endingnya Yunho oppa malah jadi kayak orang gila…..
    Awal pas baca FF ini aku ngerasa agak kurang ngerti…..Tapi setelah baca lagi jadi ngerti……
    Oh, iya…Author….
    Nulisnya buru-buru, ya? Penulisannya banyak yang kurang huruf….

  2. nice story min ^^d

    perjuangan appa buat mommy keren bngt :’) *terharu*
    pas endingnya nice bngt ^^d

    sukaa thor >”<

  3. Huuaaaa appa umma \(゜ロ\)(/ロ゜)/
    Sedih beud tp keren…
    Percayalah umma appa hny mencintaimu…
    really just u T.T

  4. yunppppaaaaaaaa keren TT.TT

    Aq berharap dapat suami yg kyk yunpa,,cinta banget sama istrinya, gentle plus lembut..

    yunpa keren, dimatamu n di hati cuma ad jaema,,n bakal ngelakuin apa aja demi umma
    Umma kau harus percaya sm yunpa, yunpa tulus loh!!

  5. kyaaaa kupikir angst… tapi bagus kok aq lumayan sedih juha hehehe
    kupikir juga setelah satu tahun jae bakalan meninggal atau apa, ternyata dia sadar dari cangkang kosongnya yah.. akhirnya penantian yunho ga sia-sia..
    hmmmm jadi jeje sebenernya kayak gini itu gara gara omong kosong donghae.. ish donghae jahat juga yah klo gitu

  6. hadewww,,napa q rda gg mudeng gni y??apa ni efek dr tryout??*loading*,,,ahh tp q slalu suka cr tuliss eonni(?)*sokkenal*,,,puitis tis tis,,,ni d post pas ultah umma y??met ultah ummaaaa*telat*,,,moga mkn cantik makin muda n makin d syang ma yunppaaaa,,,wish all d best for u,,,,,,,bentar lg ultahna appa kan??itung hari,,,
    emm ada bbrapa kata yg krg lngkp,,tp gg mslh lahh ,,,gomawooo thor~

  7. So sweeet….
    Yah, meski di awal blum paham ma kejadian.y..
    Tp akhir.y masalah mereka terselesaikan juga….😉
    yunjae is REAL….
    Saengil chukae umma…
    I lv U so much…

  8. soooo sweeettttt
    kata katanya begitu indaah,,,aq benar benar tersentuh membacanya
    author daebak!
    yunjae saranghae ^^

  9. baguss.. ide cerita keren meskipun rada bingung jeje kenapa.. apa dia ngalami shock?trauma? atau apa?
    endingnya bagus.. sebenernya epep ini masih misterius sih.. hehehehe

  10. so sweet yubjae emang kaga ada matinya..,
    heheheeheheee..
    sedih pas jaema kaga inget sma unpa..,
    donghae knp sih ko bilang gtu sma jaema..
    kan klo ga bilang kyk gtu mungkin jaema ga akn kclakaaan

  11. Bagus baged nih epep…biasanya Q kurang suka sam̶̲̅α̇ angst τρ ini bagus… bener” terharu #airmata mbrebel(╥﹏╥)
    (╥﹏╥)
    Nice ending!!!

    Τнäπκ чöü thor!!

  12. ehmm… how i say it?? nice story~ really
    ^^
    tapi mgkn krn ada typos atau akunya yg ngerasa agak aneh, mksudnya pas genap setahun jae terbangun dan viola~ jae lgsg lupa semua yg dialaminya slama di rs dan kembali ke masa sblum hari naas itu.
    i think it just..
    anyway im still enjoy read it!!🙂
    aplg dg kesetiaan yunho menunggu dg sabarnya… thats sweet!!
    gomawo~ ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s