BLACK FLOWER/ YUNJAE/ CHAPTER 2 OF ?


CHAPTER 2 : NICE TIME

Author : Amee

Pairing : Jung Yunho x Kim jaejoong x Shim Changmin

Warning : Tolong untuk tidak meng-copy cerita ini tanpa permisi. Dan jangan lupa untuk meninggalkan jejak^^ Ini menggunakan bahasa yang sedikit “serius” semoga tidak membosankan untuk dibaca.

Backsound : calm envy by the gazzette #plaakkk ga nyambung

.

.

Apa yang kau harapkan, tak selamanya menjadi kenyataan, justru berbanding terbalik dan terasa menyakitkan.

Apa yang kau harapkan, terkadang harus kau sembunyikan, setidaknya dengan begitu semuanya akan baik-baik saja.

Apa yang kau harapkan, terkadang harus kau lepaskan, dan percayalah, ada hal baru diluar sana yang jauh lebih menakjubkan.

.

.

Desiran angin terasa lembut membelai pipi sesosok makhluk yang tengah menopang dagu di atas bingkai jendela, membiarkan pandangannya lolos, menatap apa saja yang ada di hadapannya. Takdir itu tidaklah kejam, hanya sedikit ingin mempermainkan, meski bagaimanapun kendali atas takdir ada di tangan manusia. Tidak ada kebetulan, tidak ada ketidaksengajaan, yang ada hanyalah jalan kehidupan.

Jaejoong melirik jam dinding putih yang membiarkan jarumnya terus berputar, memberitahu waktu yang tepat. Ia menghela nafas panjang. Masih satu jam lagi, sebelum Changmin datang. Kenapa hanya rasa lelah yang terus menghampiri. Tidak bisakah sedikit saja ia merasakan perasaan nyaman. Sepertinya ia sudah benar-benar gila sekarang. Ia tidak bisa merasakan sakit yang seharusnya ia rasakan. Ia tidak bisa, sungguh. Ia mati rasa.

Apapun yang Changmin lakukan di luar sana, ia sudah tidak peduli. Bukan tidak ingin peduli, tapi sudah tidak bisa peduli. Jika dulu ia akan merasakan sesak di rongga dadanya ketika melihat Changmin berhubungan dengan seorang gadis, terutama seseorang yang pernah menjadi kekasihnya, namun hal itu sudah tidak berlaku lagi kini. Ia sudah tidak bisa merasakan apa-apa.

Sebenarnya ia malas untuk beranjak pergi hari ini, namun terpaksa. Jika ini bukan acara dengan teman-teman lamanya, dan hanya berdua dengan Changmin, ia tidak akan pergi.

Jaejoong mengedarkan pandangannya malas. Sebuah memori melintas begitu saja dalam pikirannya tanpa meminta persetujuan. Jika dulu, setiap ada acara Siwon yang akan setia menjemputnya, meskipun harus melancarkan sedikit rayuan. Ah, bukan-bukan, bukan rayuan seperti itu maksudnya. Hanya saja Siwon akan selalu menolak, dan setelahnya dia akan mengatakan ayo, rayu aku, jika Jaejoong benar-benar ingin meminjam jasanya. Pemuda cantik itu tersenyum mengingatnya.

“Suatu hari nanti, aku akan merindukan semuanya,” gumamnya pelan.

Pikirannya melayang sejenak, dan kembali dihempaskan sepersekian detik kemudian, bersamaan dengan getar ponsel, yang menandakan masuknya sebuah pesan. Matanya melirik menembus jendela, ada Changmin di sana, itu berarti ia tidak perlu membaca pesannya, karena ia tahu siapa pengirim dan apa isinya.

“Tunggu sebentar,” Jaejoong berkata setengah berteriak.

“Jangan lama,” tak ada suara, namun setidaknya itulah yang ia tangkap dari gerakan bibir pemuda di hadapannya.

Perjalanan yang membosankan, tidak terlalu jauh, namun terasa sangat lama. Hening. Tidak ditanya, dan tidak dijawab. Demi Tuhan, selalu seperti ini. Tidak mengerti, tentu saja. Ia pikir seorang kekasih akan marah dan kesal jika diacuhkan, namun sosok yang bersamanya justru sebaliknya.

Changmin baru saja memakirkan motornya. Dengan gerakan elegan, Jaejoong turun, dan memposisikan dirinya beberapa meter dari Changmin, yang tengah membuka helmnya.

“Sedang apa kau disitu?” tanya Changmin begitu sudut matanya menangkap sosok Jaejoong yang tengah menunggunya.

“Menunggumu, ayo kita masuk,” Jaejoong tersenyum.

“Kau jalan duluan saja, aku akan menyusul,” Changmin menggerakan tangannya seolah memberi isyarat. Jaejoong tersenyum pahit, mengangguk, dan berbalik untuk melangkah pergi. Tidak terlalu sakit kali ini, ia sudah biasa, bahkan ia sudah tidak merasakan apa-apa lagi..

**BF**

3 bulan kemudian…

Apa yang kau harapkan mengingat hari ini adalah hari ulang tahunmu? Sebuah kado? Ucapan selamat? Atau kejutan dari orang spesial yang bisa membuatmu menangis karena terharu? Ingatkan seorang Kim Jaejoong bahwa itu adalah mimpi baginya.

Waktu bergulir begitu cepat, sangat cepat. Kenapa tiba-tiba saja sudah hari ini? Tampak pemandangan seorang pemuda tengah duduk di halaman kampus, duduk dengan gusar, menunggu seseorang adalah hal yang paling membosankan. Membuatnya harus diam, diam dan diam.

Jaejoong menghela nafas berat. Ini hari ulang tahunnya, namun justru ia tidak mendapatkan apa-apa dari kekasihnya. Bukan, bukan ia mengharapkan hadiah, ucapan selamat ulangtahun saja sudah cukup baginya, tapi sepertnya Changmin tidak dapat melakukan itu. Berkali-kali ia mengetuk layar ponselnya, sudah banyak ucapan di sana, tapi bukan itu yang ia harapkan.

Pemuda cantik itu merutuki dirinya sendiri, ia seperti orang bodoh tadi malam. Tidak bisa tidur nyenyak, dan berharap Changmin akan menjadi tokoh pertama yang memberi ucapan selamat ulang tahun padanya, namun ia salah. Ternyata bukan dia, namun justru Donghae. Ia yang meneleponnya tengah malam tadi, mengucapkan selamat padanya.

Ah, hampir saja lupa untuk memberitahukannya. Saat ini, Jaejoong sedang dekat dengan seseorang. Donghae. Seseorang yang menyukainya, tidak perlu bertanya bagaimana perasaan Jaejoong, karena ia tidak merasakan apapun padanya, hanya menghargainya. Ah, jangan melupakan satu fakta bahwa Jaejoong sangat tidak bisa untuk menolak, begitu sulit untuk mengeluarkan kata tidak dari mulutnya.

Jaejoong mencoba menarik nafas dalam, merelakskan tubuhnya. Membiarkan angin menerpa dan mengibarkan rambutnya. Momen yang sangat jarang terjadi benar? Jaejoong bergumam tak jelas, ini sangat mengesalkan bukan? Sebuah ingatan yang baru saja ia ia alami kemarin kembali menghampiri.

Jaejoong tengah duduk bersebelahan dengan Changmin, menatap lurus kedepan tanpa saling memandang. Hanya kesunyian yang tercipta diantara keduanya. Suasana yang sangat biasa. Bahkan teman-temannya pun pernah mempertanyakan bagaimana bisa Jaejoong dan Changmin bersatu? Sama sama pendiam, dan sama-sama sedikit bicara. Bagaimana mereka berkomunikasi. Saling berbisikkah?

“Jae, besok hari ulang tahunmu kan?”

“Iya, jangan lupa belikan aku kado, ya,”

“Selamat ulang tahun,” Changmin menghentikkan ucapannya sejenak. “Aku sudah mengucapkannya, dan aku tidak akan mengucapkannya lagi besok,” tambahnya.

Pemuda cantik itu menepuk-nepuk pipinya berkali-kali. Kenapa hidupnya sangat menyebalkan? Ia mengerlingkan matanya bosan. Dari kejauhan ia dapat menangkap Kyuhyun, Ryewook, dan Yesung mendekat ke arahnya, sedikit mengerutkan dahi namun akhirnya ia tersenyum menyapa.

Ia tak bisa menyembunyikan kekagetannya ketika mendapati ketiganya benar-benar menghampirnya, ia pikir mereka hanya lewat untuk masuk ke kelas. Belum sadar sepenuhnya, ketiganya tiba-tiba saja menyanyikan lagu selamat ulang tahun, sedikit tersipu mendengarnya. Ini sangat aneh, dan dia baru pertama kali merasakannya. Setelah selesai menyanyikannya, ketiganya menyalaminya bergantian, dan Jaejoong hanya mampu tersenyum bingung menanggapinya.

“Kami duluan, selamat ulang tahun,” Kyuhyun melambaikan tangannya, sebelum akhirnya mereka bertiga menghilang setelah berbelok ke kanan menaiki tangga.

Jaejoong melempar pandangannya ke sisi sebelah kanan, kedua bola matanya menangkap sosok Donghae yang tengah berjalan ke arahnya. Mau tak mau ia tersenyum, bukan tersipu, hanya merasa lucu dengan kejadian tadi malam. Ia melemparkan pandangannya ke arah lain, berpura-pura tidak melihatnya, meskipun Jaejoong tahu, Donghae sempat melihatnya tadi. Namun ia tidak mau tahu, sedang tidak ingin berbasa-basi dengan siapapun. Membiarkan Donghae melewatinya begitu saja hingga menghilang di balik tangga yang tertutupi tembok.

“Maaf membuat menunggu terlalu lama,” Jaejoong mendapati Junsu yang tengah tersenyum lebar ke arahnya ketika ia membalikkan tubuhnya. “Dan selamat ulang tahun!” dua tamparan mulus mendarat mulus di kedua belah pipinya, membuatnya meringis sembari mengelus-ngelus pipinya yang terasa panas.

“Yaa… itu sakit, Junsu-ah!” Jaejoong merengut. “Tidak lama, tapi sangat lama. Terimakasih sudah membuatku menunggu, ayo!” Jaejoong berjalan sendiri, mendahului Junsu yang kemudian berlari mengejar untuk menyamakan langkah.

“Antar aku ke toilet dulu,” Jaejoong segera berbelok tanpa menunggu jawaban, sementara Junsu hanya tersenyum melihatnya.

“Ritual, eum?”

“Yaa…!” dan keduanya tertawa bersamaan. “Aku juga ikut,”

Bukan hal yang baru bagi keduanya. Mampir ke toilet sebelum memasuk kelas sekadar untuk menatap cermin. Merapikan rambut, dan memastikan bahwa dirinya telah tampak sempurna.

**BF**

Jaejoong baru saja menghentakkan beberapa langkahnya ketika memasuki kelas, dan jeritan sang diva, Key, menyambutnya begitu saja. Sosok bermata tajam itu menghampirinya, dan menekap kedua pipinya, menepuk-nepuknya gemas, kemudian mencubitnya keras tanpa peringatan. Menyisakan Jaejoong yang meringis kesakitan dan Junsu yang terkekeh menatapnya.

“Yaa… Joongie, selamat ulang tahun! Semoga kau bertambah cantik, dan sukses, dan semuanya,” Key melepaskan Jaejoong bersamaan dengan saat ia mengakhiri kata-katanya.

“Ne,” Jaejoong hanya mengangguk sambil tersenyum sedikit dipaksakan, mengingat kedua belah pipinya yang terasa nyeri.

Jaejoong melangkahkan kakinya, dan duduk di salah satu bangku. Menunduk sejenak, dan begitu ia mengangkat lagi wajahnya, sebuah pemandangan menakjubkan telah menanti di hadapannya. Teman-temannya telah berbaris rapi untuk memberikan selamat satu persatu padanya. Senang, tentu saja. Karena berarti ada yang peduli pada hidupnya.

Pemuda cantik itu mengedarkan pandangannya menyisir sekeliling, mencari sosok yang telah menarik hatinya. Ia telah menetapkan bahwa ia akan menyukai hari ini, setelah apa yang dilihatnya  hari itu, hari ini dua bulan yang lalu. Ketika pertama kali ia mengikuti mata kuliah ini, dan mendapati dia, yang entah siapa namanya, berada di kelas yang sama. Ya.. tidak lagi seperti itu sebenarnya. Karena kini ia telah tahu namanya. Dan entah kenapa, hal itu membuatnya semangat untuk pergi ke kampus. Mungkin karena sejak pertama Jaejoong telah menandainya sebagai penyemangat.

Sedikit lemas mendapati ternyata sosok itu duduk di sisi sebelah kiri belakang, tidak memungkinkan baginya untuk mencuri-curi pandang. Ah, mungkin Tuhan memang menginginkannya untuk fokus pada apa yang diterangkan dosen hari ini.

Sedikit berisik, ia tidak bisa fokus pada apa yang diterangkan, atau mungkin memang tidak pernah bisa fokus. Ah, terkadang ia memang mendengarkan namun tidak benar-benar mendengarkan. Mencatat, namun tidak benar-benar mencatat. Bosan, harus ada seseorang yang mengajaknya berbicara, jika tidak ia akan mengantuk. Sedikit melirik Junsu di sampingnya, sepertinya tidak bisa diganggu, ia sedang mencatat. Sedikit berfikir, jika ia menggangunya, Junsu tidak akan mencatat lengkap, dan sia-sia ketika nanti ia meminjam untuk menyalinnya.

Hanya berselang beberapa saat setelah itu, seseorang menepuk-nepuk pundaknya pelan. Ia menolehkan pandangannya tidak minat. Siapa? Jaejoong mengeryitkan dahi ketika menangkap sosok yang sama sekali tidak bisa dingatnya bahwa ia mengenalnya. Membuatnya kembali mengalihkan pandangan ke depan.

“Hey!” kembali pundak Jaejoong di tepuk, kali ini mungkin menggunakan bolpoint.

“Ya?” Jaejoong menjawab seadanya tanpa keinginan untuk berbalik.

“Kau dari jurusan apa?  Salam kenal dari jurusan X,” ujarnya.

“Iya, salam kenal dari Kangin, jurusan X,” tambah yang sebelahnya.

“Ya, Jaejoong jurusan Y,” Jaejoong berbalik sekilas, sekedar untuk tersenyum, menjaga sopan santun.

“Siapa?”

“Jaejoong,”

“Siapa?”

“Yaa.. kau berisik sekali Kangin-ah, Leetuk-ah, tadi dia bilang namanya Jaejoong. Aa.. Jaejoong-ah, salam kenal, aku Taemin, jurusan X,” seseorang di samping Junsu ikut angkat suara, sembari mengulurkan tangannya untuk berkenalan.

“Ne,” Jaejoong menggapai ulurannya sembari tersenyum.

“Menjadi orang yang popular itu merepotkan benar? Hahaha,” Junsu hanya tertawa singkat sembari mengerling, sementara Jaejoong hanya menarik nafas mengabaikannya.

Kembali berkutat pada catatan, berpura-pura memerhatikan dosen yang entah sedang menjelaskan apa di depan sana mungkin jauh lebih baik dibanding menanggapi orang-orang yang duduk dibelakannya, mereka yang terus saja memanggil-manggilnya, hingga Jaejoong merasa lelah mendengarnya.

Aula kelas terasa dingin mengingat ini masih pagi dan ukuran ruangan yang sangat besar, dengan jendela yang memenuhi hampir seluruh bagian ruangan. Sesekali Jaejoong melemparkan pandangannya keluar jendela, berharap Tuhan menjatuhkan keajaiban dari langit dan ia menjadi orang pertama yang menangkapnya. Hingga sesuatu menyentakannya. Ponselnya bergetar, dengan cekatan, Jaejoong segera merongoh ponsel didalam tasnya.

“Jaejoong,” pemuda cantik itu membaca pesan yang tertempel di layar ponselnya, dari nomor tak dikenal, dan ia sama sekali tidak tertarik. Mungkin orang-orang dibelakangnya yang mengirimi ia pesan, dan mengingatnya membuat ia semakin malas.

Jaejoong menyandarkan tubuhnya pada dinding, tangan kanannya membuat coretan-coretan abstrak di atas selembar kertas. Dan ketika ia tersadar, dosen telah meninggalkan aula, dan orang-orang tengah merapikan bukunya. Sedikit bingung, namun kemudian ia turut membereskan bukunya. Dan ponselnya kembali bergetar, sebuah pesan masuk, menampilkan nama Enhyuk disana.

“Jae, jangan pergi dulu, tunggu sebentar, Donghae ingin menyampaikan sesuatu padamu,” Jaejoong membaca setiap untaian kata yang terpampang jelas di ponselnya.

“Ada apa?” Junsu bertanya spontan ketika melihat perubahan raut wajah Jaejoong. Pemuda cantik itu tidak menjawab. Hanya memberikan ponselnya pada Junsu, dan membiarkannya membaca sendiri. “Ah, mau apa lagi dia?”

“Entahlah,”

“Ya sudah, kita tunggu saja,”

“Ya… Jaejoong-ah, tadi ada yang menanyakanmu, dari jurusan X,” tampak dua orang menghamprinya, dan menyampaikan itu padanya. Sedikit mengerutkan dahi, meski kemudian Jaejoong mengangguk.

“Aa… bukan dari jurusan X, tapi dari jurusan Z,” sosok yang satunya mengintrupsi.

“Siapa?”

“Yunho. Aa… padahal aku menyukainya, kenapa dia malah bertanya tentangmu? Sudah ya, kita duluan,” dan keduanya menghilang dari hadapan Jaejoong, meninggalkan sebuah senyuman yang mau tidak mau tertinggal di bibirnya.

Donghae tampak mendekat dan segera memposisikan diri dengan duduk dihadapan Jaejoong setelah memutar kursi. Dan di saat yang bersamaan, sosok yang ia kagumi berdiri tepat di garis lurus sudut matanya. Berdiri disana, berbincang dengan teman-temannya sembari sesekali tertawa. Tampan. Jaejoong tidak ingin mengalihkan pandangannya, namun ada seseorang yang akan mengajaknya berbicara di hadapanya, sangat tidak sopan bukan?

“Sepertinya aku harus sedikit menyingkir dari sini,” Junsu memecahkan kecanggungan yang tercipta disana, dan segera mendapat hadiah tatapan tajam Jaejoong.

“Tidak apa-apa, disini saja,” jawab Donghae, yang diamini Jaejoong, terbukti dengan fakta bahwa pemuda cantik itu menahan tangan Junsu. “Hari ini kau ulang tahun, benar? Selamat ulang tahun,”

“Aa.. iya, terimakasih,”

Donghae tampak membuka tasnya, mengeluarkan sesuatu dari dalam sana, sebuah bingkisan yang dibungkus rapi menggunakan kertas kado berwarna merah muda. Jaejoong mengeryitkan dahinya bingung, terlebih lagi ketika Donghae menyodorkan itu padanya.

“Ini untukmu,” Donghae memamerkan senyumannya.

“Eh? Tidak perlu, kenapa kau harus repot-repot seperti itu?”

“Tidak apa-apa, anggap saja ini hadiah pertemanan,”

“Ah, termakasih,” dan mau tidak mau Jaejoong tetap menerimanya, meskipun sedikit canggung.

“Ayo bersalaman,” Junsu memamerkan kehebohan yang sebenarnya tidak perlu, membuat Jaejoong semakin malu dengan keadaan ini. Meskipun akhirnya keduanya bersalaman.

“Kau sudah makan?” tanya Donghae yang hanya dijawab oleh gelengan kepala Jaejoong. “Mau mencari makan bersama?” Jaejoong sedikit tersentak dan reflex menolehkan kepalanya untuk menatap Junsu. “Ayo, ke Random café,” Donghae, member isyarat agar kedua sosok dihadapannya mengikutnya.

Tuhan memang sangat baik pada setiap makhluknya. Tidak peduli bagaimanapun keadannya, Tuhan sangat senang memberikan kebahagiaan, dan kejutan-kejutan tak terduga di setiap jalannya. Termasuk sebuah kejutan yang akan menanti seorang pemuda cantik di depan sana, sebuah awal yang akan terus menuntunya kepada sebuah jalan cerita yang sesungguhnya.

Jaejoong membiarkan Donghae berjalan sendiri di depannya, sementara ia dan Junsu berjalan berdampingan, meskipun sesekali Donghae menyamakan langkah dengan Jaejoong sekadar untuk mengobrol. Getar ponsel Jaejoong mengintrupsi percakapan mereka.

“Nomor ini lagi,” gumam Jejoong ketika mengingat bahwa nomor yang meneleponnya kini adalah nomor yang sama dengan yang mengirimi ia pesan saat di kelas tadi.

“Siapa?” tanya Junsu tdak bisa menutupi keingintahuannya.

“Entahlah. Hn.. tolong angkat,” Jaejoong menyerahkan ponselnya pada Junsu.

“Hallo,”

“…”

“Ya, ini dengan Jaejoong, siapa ini?”

“…”

“Hah? Yuno? Siapa?” Junsu menatap Jaejoong sembari mengeryitkan dahi. Sementara Jaejoong bergedik, sembali menggerakkan bibirnya tanpa suara, menanyakan sapa yang meneleponnya.

“…”

“Jurusan Z?” Junsu mengulang apa yang diucapkan sosok yang menelepon di sebrang sana, sekadar agar Jaejoong tahu apa yang sedang dibicarakan. Jaejoong membelalakan matanya setelah menangkap sesuatu. Jantungnya berdebar penuh harap.

“Mungkin Yunho bukan Yuno,” ujar Jaejoong pelan, sementara Junsu mengangguk mengerti.

“Ah, maksudmu, kau Yunho dari jurusan Z kan?” tanya Junsu, sepersekian detik kemudian Junsu mengangguk pada Jaejoong tanda mengiyakan.

“Aku mau bicara, aku mau,” Jaejoong tersenyum sembari sedikit meloncat tanpa ia sadari. Junsu menyerahkan ponsel itu, namun kemudian ia menolaknya, membiarkan sahabatnya menyelesaikan percakapan. Ia menggerakkan kepalanya, seolah mengisaratkan agar Junsu melanjutkannya.

“Ada apa?” tanya Junsu lagi pada penelepon di sebrang sana.

“…”

“Ah begitu. Iya, salam kenal,”

“…”

“Baiklah, sampai nanti,” dan sambungan telepon terputus.

“Apa katanya tadi?” Jaejoong sungguh tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya. Sesuatu di dalam perutnya terasa bergejolak menimbulkan sensasi aneh yang entah apa.

“Dia bilang dia hanya ingin berkenalan denganmu,”

“Benarkah? Ah… senangnya!” teriak Jaejoong tanpa sadar, menghentkan langkah seseorang dihadapannya.

“Ada apa?” tanya Donghae setelah membalikkan tubuhnya, pemuda itu menunjukan ekspresi yang sangat sulit dimengerti. Sedangkan Jaejoong segera menekap mulutnya dengan kedua tangan.

“Tidak ada apa-apa,” Junsu menjawab, yang dibalas oleh anggukan Donghae, dan kembali pemuda itu kembali berjalan. “Memangnya Yunho itu siapa?”

“Dia, yang aku tunjukan waktu itu, saat pertama kali kita ikut kelas mata kuliah umum, yang memakai baju coklat duduk dibelakangku. Yang aku bilang aku menyukainya sejak masa ospek, kau tidak mengingatnya?” ujar Jaejoong setengah berbisik

“Ah iya, aku ingat,”

TBC

Dengan ini saya menyatakan bahwa saya akan hiatus untuk sementara waktu, minna-san, hontouni gomennasai / chingudeul, neomu mianhe / semuanya, saya benar-benar minta maaf *apa dah?!* ok, jaa na^^

13 thoughts on “BLACK FLOWER/ YUNJAE/ CHAPTER 2 OF ?

  1. changminnya koq gitu c =___________=

    ciee yg CLBK (Cinta Lama Belum Kelar) .____________.V *poke mommy and appa* *kaburr

    huaa
    lanjutt thor ^^d

  2. kyaaa seru
    ternyata banyak yang suka sama jaemom,termasuk yundad
    tapi tetep dong yg akan jadi pasangan jae adalah yunho
    yunjae momentnya agak banyakin dong author
    hehe
    bingung sama kelakuan changmin,emang kenapa gak mau deket2 sama jae

  3. greget ma jae… kenapa gak putusin changmin sich.?? dari pada kesiksa… akhirny impian jae kenyataaan… bisa kenalan juga ma yunho..hahaha… tu donghae suka ma jae ya??

  4. Nyaa….nemu lanjutanya disini :3
    mumpung paket internet masih full, aku nyoba komen disini ya…
    fic ini mau dilanjutin di ffn kan? #amin
    nunggu next chap XP

    Bloody Evil From Heaven

  5. Jaema kalau kesiksa pacaran sam̶̲̅α̇ changmin knp Ъ>:/ di putusin aja c

    Ternyata jaema sangat populer ýª…hadeuh cape deh ngadepin ýanƍ mau kenalan banyak banget, τρ untung yunpa ǰƍ mau kenalan..senangnya hati ini…(~_^)

    Thor hiatus’a jgn lama” ýª..ųϑªђ Ъ>:/ sabar nih nunggu lanjutannya..please!!!

  6. hwaaaaa ,, jaema cukup populer d kalangan namja2 ganteng …
    Heuheu
    sudah jaema putusian z namja yg bermarga shim i2 ,,
    haha
    *bkin gregetan dech

    wah yunho yg lbh awal mengajak jaema kenalan ,, yeaaaayyy !!!!
    Kaya’x yunho menyukai jaema sjak pertemuan d ospek dulu dech *sotoy

    NEXT !!!

  7. Pingback: BLACK FLOWER/ YUNJAE/ CHAPTER 3 | Fanficyunjae

  8. Pingback: BLACK FLOWER/ YUNJAE/ CHAPTER 4 | Fanficyunjae

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s