Saranghae Do Dwel Gayo Part 7


Title        : Saranghae Do Dwel Gayo

Author   : Kim Chi Hee

Part         : 7

Pair         : Yunho x Jaejoong, Yunho x Karam

Genre    : Romanc, Yaoi

Rate       : PG
Warning: ini mah pasti udah faham semua, tapi di part ini saya merasa galau T^T dan Part ini sangaaaaatttt pendek T..T
Yang mau tau FB saya apa, namanya Fitrah Kim cari aja yang fotonya gambar chibi lady hee hee bermuka jjinbang #apasih

and follow me ya @ELFitrah (mention dulu kalo mo di follback) emang ada yang mau? T^T

==========================================================================
Seorang laki-laki dengan tampang datar dan tanpa ekspresi menatap selembar foto yang ada di genggamannya. Ia terus menerus memandangi foto itu tanpa menunjukan ekspresi apa-apa. Setelah bosan menatap foto itu ia mengalihkan pandangannya ke arah kalender yang juga berada di depannya. Senyuman sinis tersungging di bibirnya.
“Sudah tujuh tahun, aku akan membalas dendam pada kalian. “ Seru laki-laki itu seraya membakar foto yang berada di tangannya.
===========================================================================
“Nah~ sudah sampai boo, jangan kangen yah~” Yunho mencium pucuk kepala Jaejoong yang sontak membuat pipi Jaejoong merona merah. Yunho yang melihatnya hanya trsenyum senang, pasalnya Yunho sangat suka melihat wajah Jaejoong yang sedang merona.
“Yak! Sampai kepan mau senyum-senyum gak jelas?!” Seru Jaejoong sambil mencubit pinggang Yunho. Yunho sendiri hanya meringis menerima cubitan maut dari seorang Kim Jaejoong.
“Sakit honey! Aku kan suka sekali melihatmu merona.” Yunho mengelus-elus pipi Jaejoong sayang.
Jaejoong memajukan bibirnya berpura-pura marah, setelah itu ia memalingkan wajahnya untuk menutupi rona merah yang tadinya di pipinya sekarang menyebar ke seluruh wajahnya. Yunho hanya terkikik geli melihat Jaejoong yang sedang malu-malu.
“Sudah sana pulang!” Seru Jaejoong sambil mendorong badan Yunho dan setelahnya secepat kilat Jaejoong masuk rumahnya sambil berteriak. “Sampai jumpa di sekolah besok!”
Yunho hanya tersenyum dan melambai ke arah rumah Jaejoong. Yunho menyampirkan tas selempangnya di bahu dan dengan bersiul-siul kecil Yunho pulang ke rumahnya.
***
CEKLEKK
Jaejoong membuka pintu rumahnya dengan perasaan takut, takut jika tiba-tiba Mika muncul di hadapannya dan memberondonginya dengan pertanyaan bagaimana hasil ujiannya hari ini. Mulut Jaejoong terus komat-kamit berdo’a semoga kebiasaan Mika -yang duduk di sofa yang terletak di depan pintu saat menunggu Jaejoong pulang dan menyerahkan hasil ujiannya padanya- ia tinggalkan untuk hari ini saja.
Jaejoong masuk dan terperangah melihat sofa pesakitannya kosong. “Biasanya Mika selalu menungguku di sana, dia tidak akan pergi dari sana sebelum aku menyerahkan hasil ujianku. Tapi syukurlah hari ini aku selamat dari amukan Mika.”
Jaejoong terus berjalan menuju kamarnya di lantai dua, namun tiba-tiba saat ia baru menaiki tangga setengah jalan. Kepalanya terasa sangat sakit. Seperti ada ribuan paku yang menusuk-susuk kepalanya. Sekelilingnya terasa berputar. Tangan kanan Jaejoong berusaha meraih pegangan tangga yang ada di sampingnya. Namun itu tidak berhasil. Akhirnya Jaejoong terjatuh. Mata Jaejoong tertutup rapat, ia hanya memikirkan satu hal. Pasti dia akan mati.
Sesaat setelahnya Jaejoong membuka matanya terasa sekali tubuhnya sangat ringan dan seperti mengambang di udara. Sama sekali tidak terasa sakit. Pandangan Jaejoong masih belum pulih yang dilihatnya hanyalah sebuah kabut putih yang tidak nampak apa-apa. Jaejoong mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali.
Akhirnya kesadaran Jaejoong sudah puling benar, ia melihat kebawah walaupun kepalanya masih agak pening. Yang dilihat ternyata cukup mengejutkan. Jaejoong melayang. Secepat itukah Jaejoong meninggal tanpa merasakan sakit sedikitpun? Bahkan Jaejoong bisa merasakan kakinya yang tidak menyentuh tanah sama sekali.
Perlahan namun pasti Jaejoong menggerak-gerakan kakinya. “Yak! Yak! Jangan bergerak!nanti kujatuhkan nih!” Suara bass yang terdengar di telinga Jaejoong cukup membuat Jaejoong melongo sesaat. Jaejoong mengerjap-ngerjapkan matanya lagi lalu memindahkan pandangannya keatas, samar-samar terlihat sebuah wajah yang begitu familiar baginya.
“Mika?!” Tanya Jaejoong. Jaejoong membulatkan matanya tidak percaya.
“Ya, dan ngapain hyung ngeliat begitu? Tampankah aku?” Tanya Mika dingin.
Mika akhirnya sampai di kamar Jaejoong. Mika membuka kamar Jaejoong tanpa harus bersusah payah. Setelah masuk, ia mendudukan Jaejoong di kasurnya. Mika duduk di sebelah Jaejoong, meraba kening Jaejoong dengan punggung tangannya. Lalu tangannya turun meraba leher Jaejoong. Setelah cukup Mika beranjak dari duduknya. Pandangan Jaejoong hanya mengikuti arah kemana Mika pergi.
Mika beranjak menuju meja yang terletak tepat di samping kiri ranjang Jaejoong. Mika membuka lacinya dan mengambil thermometer dari sana. Setelah itu Mika kembali duduk di samping Jaejoong. “Buka mulutmu.” Titah Mika. Jaejoong mengikuti perintah Mika tanpa banyak komentar.
Mika memberikan isyarat dengan kepalanya yang menyuruh Jaejoong untuk menaikan badannya agar Jaejoong berbaring. Jaejoong menuruti isyarat Mika –lagi-lagi tanpa berkomentar. Sebelumnya Mika menyiapkan bantal yang bisa menyangga kepala Jaejoong supaya bisa lebih tinggi.
Jaejoong akhirnya membaringkan tubuhnya masih dengan thermometer di mulutnya. Setelah merasa cukup Mika mengambil thermometer itu dari mulut Jaejoong dan mengeceknya. “38 derajat” Seru Mika.
“Harusnya kau memasukan itu ke dalam madu dulu tadi biar aku lebih suka menghisapnya.” Seru Jaejoong sambil memanyunkan bibirnya.
“Kau cukup panas, kalau sampai nanti malam panasmu belum turun, besok kau tidak boleh sekolah.” Seru Mika. “Aku ambilkan air hangat dan piyama untukmu dulu.”
“Tapi ini masih sore Mika!” Rajuk Jaejoong.
“Kau masih ada urusan denganku soal nilaimu hyung.”  Seru Mika tanpa tedeng aling-aling.
JEGGERRR
Perkataan Mika barusan sukses membuat wajah Jaejoong tambah pucat. Dalam hati Jaejoong masih berkomat-kamit agar Mika segera melupakan hal yang paling ditakutinya. Jaejoong sadar benar bagaimana hukuman Mika jika dia tahu Jaejoong mendapat nilai rendah di dalam ujiannya.
Hukumannya sudah jelas, dia terpaksa harus belajar dengan Mika seminggu penuh. Mika tidak akan mengijinkan Jaejoong untuk keluar rumah sama sekali selain pergi sekolah. Dan itu artinya neraka bagi Jaejoong karena tidak bisa bertemu Yunho di luar jam sekolah.
Saat Jaejoong menggeser tubuhnya, Jaejoong merasakan nyeri di seluruh persendiannya. Sendi-sendinya seakan-akan mau rontok. Jaejoong tahu, kalau sudah begini dia pasti akan sangat tidak berdaya, bahkan untuk berbicara saja susah. Jaejoong hanya bisa meremas sprei.
Keringat dingin terus membanjiri wajah Jaejoong. Kepalanya sangat pusing bagai ribuan paku menghujam kepalanya. Pandangannya mengabur. Perutnya mual. Jaejoong benar-benar tidak tahan dengan sakitnya. Puncaknya Jaejoong berteriak.
“Arrrggghhhhh~ Mika!!!!” Teriak Jaejoong pilu.
======================================================================
PRANGGG
Karam terkaget saat tiba-tiba piring yang dipegang mendadak tergelincir dari tangannya lalu jatuh dan pecah berantakan. Yunho yang sedang asyik menonton tv terlonjak kaget mendengar suara gaduh di dapur, secepat kilat Yunho melesat ke dapur dan mendapati Karam yang sedang memunguti pecahan piring.
“Karam stop!” Seru Yunho.
Karam mendongakan kepalanya. “Kenapa?”
“Nanti tanganmu terluka, biar aku aja.” Yunho ikut-ikutan berjongkok dan memunguti pecahan piring yang berserakan.
“Gak apa-apa kali hyung, aku kan bisa sendiri lagian yang pecahin juga aku.” Seru Mika dengan tampang polosnya.
Yunho terperangah melihat mimik wajah Karam yang mengingatkannya pada wajah polos Jaejoong. Yunho terus memandangi wajah Karam. Karam mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali dan memandang aneh ke arah Yunho yang menatapnya.
“Hyung~” Panggil Karam.
Akhirnya Yunho kembali sadar setelah mendengar panggilan Karam. “Hyung tidak apa-apa?” Tanya Karam.
“Aku… gak apa-apa kok.” Jawab Yunho . Karam tersenyum manis mendengar jawaban Yunho.
====================================================================
Mika yang mendengar teriakan Jaejoong buru-buru melesat ke dalam kamar Jaejoong. Ia langsung meraih tangan Jaejoong yang tiba-tiba saja mengejang. Mika buru-buru meraih sebuah kotak yang berada di atas meja di samping ranjang Jaejoong. Mika membuka kotak itu dengan sedikit kesusahan sebab tangan kanan Mika dicengkram erat oleh Jaejoong yang masih mengerang kesaktan.
Akhirnya setelah beberapa saat Mika berhasil membuka kotak itu, dari dalamnya Mika mengambil dua buah suntikan dengan isi dan warna yang berbeda. Dengan susah payah pula Mika mengambil alcohol di dalamnya dan menuangkanya sedikit ke kapas, setelah itu mengusap kapas itu di tangan kiri Jaejoong yang sedang meremas seprai.
Setelah selesai Mika mulai menyuntikan pereda nyeri. “Tahan ya hyung.” Lirih Mika.
Jaejoong sedikit terlonjak kaget saat jarum tajam nan panjang suntikan itu menembus permukaan kulitnya menyalurkan cairan berwarna putih pereda nyeri. Setelah selesai menyuntikan pereda nyeri Mika menyuntikan cairan lain dari suntikan yang berbeda.
Mika memastikan terlebih dulu kalau dosis yang ia berikan sudah tepat. Setelah benar-benar yakin Mika menyuntikan cairan siklofosfamid di tangan kiri Jaejoong. Setelah selesai Mika membereskan semua suntikan yang berceceran di ranjang Jaejoong.
Mika mencoba melepaskan cengkraman tangan Jaejoong di tangannya yang mulai melemah. “Mika dingin sekali.” Lirih Jaejoong.
“Ya, makanya lepaskan dulu tanganmu hyung. Aku mau ambil selimut dulu.” Seru Mika lembut. Jaejoong menurut, kesadarannya pun juga mulai berkurang. Setelah lepas, Mika beranjak menuju lemari pakaian Jaejoong yang terletak di pojok ruangan. Mika membuaka lemari itu untuk mencari selimut-selimut tebal untuk membungkus tubuh Jaejoong. Karena Mika yakin setelah ini Jaejoong akan kedinginan hebat. Mirip seperti orang yang sedang menjalani terapi untuk penyakit kanker.
Dahi Mika megerenyit melihat tumpukan benang wol berwarna-warni di dalam lemari Jaejoong, di sana juga terdapat sebuah kain yang belum selesai dirajut, Mika yakin ini adalah pekerjaan Jaejoong. Mika ingin bertanya pada Jaejoong, tapi niat itu ia urungkan. Lebih baik rasa penasarannya saat ini harus di nomor duakan dulu, pikirnya.
Mika mengambil dua buah selimut tebal berwana baby pink dan baby blue lalu setelahnya Mika menyelimuti badan Jaejoong yang mulai bergetar menahan dingin. Tidak lupa juga Mika mematikan pendingin ruangan yang ada di kamar Jaejoong. Sepertinya obat yang Mika suntikan tadi belum menunjukan reaksi. Namun pengurang rasa sakit itu sudah mulai menunjukan reaksinya.
Mika berjalan ke arah pintu, ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya sebentar mengambil buku-buku pelajarannya agar ia bisa belajar sambil mengawasi Jaejoong. Mata Jaejoong yang setengah tertutup menangkap bayangan Mika yang sedang membuka pintu.
“Mau kemana Mika?” Lirih Jaejoong.
“Mau ke kamar.” Jawab Mika.
“Kau tidak mau menemaniku?” Rajuk Jaejoong.
“Aku mau ambil buku-buku pelajaranku, supaya aku bisa belajar di sini” Jawab Mika. Jaejoong mengangguk. Setelah mendapat persetujuan dari Jaejoong, Mika keluar dari kamar Jaejoong dan menuju kamarnya yang tidak jauh dari kamar Jaejoong.
Mika menghela napas panjang, memandang dingin pada pintu kamar  Jaejoong. Dengan langkah perlahan Mika menjauhi kamar Jaejoong, menuju  kamarnya. Namun, langkahnya terhenti saat handphone yang berada di saku celananya bergetar. Mika meraih handphonenya dan lagi-lagi memandang dingin ke arah layar handphonenya.
“Appa?” Dahi Mika berkerut. Dengan perasaan malas Mika mengangkat handphonenya. “Ada apa?”
“Mika, kau sudah dengar orang itu sudah keluar dari penjara?” Seru suara dari sebrang.
“Aku belum tahu, tapi aku sudah menghitungnya dan aku tidak kaget lagi.” Jawab Mika.
“Kau sudah bicarakan ini pada Nyonya Kim? Hanya dia dan kau yang tahu tentang kematian kedua orang tua Jaejoong juga-“
“Juga tentang Jaekyu?” Sambung Mika saat suara ayahnya mendadak terhenti. “Aku akan bicarakan ini pada Nyonya Kim.”
“Bagaimana dengan keadaan Jaejoong, Mika?”
“Dia-“ Mika menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan berat. “Keadaannya makin memburuk. Kita bersyukur dia masih bisa bertahan selama ini berkat obat temuan paman dan orang itu.”
“Aku kira juga begitu, kau belum cerita semuanya pada Jaejoong? Tentang obat yang selalu kau berikan, tentang Jaekyu, dan juga tentang orang itu kan?”
“Belum, aku tidak tega kalau sampai harus cerita pada Jae Hyung kalau orang tuanya dulu adalah mantan anak buah mafia yang tidak segan-segan membuat para lawannya mati perlahan dengan virus dan penyakit ciptaan mereka.” Jawab Mika.
Jaejoong memang tidak pernah mengetahui siapa sebenarnya orang tuanya, yang ia tahu kedua orang tuanya hanyalah dokter biasa dan seperti dokter pada umumnya, mereka berkerja di rumah sakit. Tapi itu semua hanya kamuflase yang dibuat oleh orang itu. Ya, orang itu.
Dalang dibalik kecelakaan itu sebenarnya adalah orang itu, dia adalah seorang bos mafia yang terkenal di seluruh dataran Asia bahkan Negara-negara di benua biru. Ia bermaksud menciptakan sebuah tatanan system dunia baru dengan menciptakan sebuah antibody yang bisa melawan semua penyakit yang ada di dunia. Ia sengaja menggunakan itu untuk melindungi dirinya dari para musuhnya yang terlebih dahulu menciptakan virus-virus aneh dan berbahaya.
Dan Jaejoonglah, seorang bayi kecil dan mungil yang terlahir dari keluarga Kim yang notabenenya adalah anggota dari mafia tersebut yang harus menjadi kelinci percobaannya. Ia terpilih dari 100 bayi yang dipilih secara acak. Cara kerja antibody ini cukup kompleks, bahkan antibody ini belum diuji cobakan pada makhluk hidup lain, seperti tikus atau semacamnya sebab bos mafia itu ingin melihat hasilnya yang diuji cobakan pada manusia.
Antibodi ini akan memperkuat jaringan sel darah putih ribuan kali lipat. Tapi sayangnya saat diuji cobakan pada Jaejoong terdapat kesalahan prosedur yang menyebabkan sel darah putih Jaejoong terlalu kuat dan malah memakan sel-sel lain yang ada di tubuhnya. Orang tua Jaejoong telah mengantisipasi hal ini. Mereka yakin antibody yang mereka ciptakan itu belum sepenuhnya berhasil. Maka dari itu orang tua Jaejoong membuat penawarnya.
Gejala yang timbul di dalam tubuh Jaejoong mirip dengan penyakit lupus. Bedanya, obat yang diberikan pada Jaejoong berbeda dengan obat penyakit lupus pada umumnya, obat itu berfungsi juga untuk mengebalkan semua sel-sel yang ada di dalam tubuh Jaejoong. Jadi intinya, di dalam tubuh Jaejoong miliaran sel-sel itu saling bertarung untuk memakan satu sama lain.
Obat yang disuntikan ke tubuh Jaejoong mempunyai efek samping yang dahsyat. Yaitu, perlahan akan membuat semua organ-organ vital Jaejoong melemah. Itulah sebabnya Jaejoong mudah sekali lemas, susah bernapas dan lain-lain.
Saat pertama kali orang tua Jaejoong mengetahui bahwa antibody ciptaan mereka yang disuntikan ke tubuh Jaejoong mengalami kegagalan, mati-matian mereka membuat penawarnya, selain obat yang senantiasa harus disuntikan ke tubuh Jaejoong. Empat tahun mereka berusaha untuk menemukan penawarnya, dan akhirnya berhasil.
Orang tua Jaejoong pun berbalik membenci bos mafia itu dan berniat untuk membalas dendam padanya. Bos mafia itu mempunyai banyak sekali identitas. Bahkan identitas yang diketahui oleh kedua orang tua Jaejoong merupakan identitas samaran. Orang tua Jaejoong meminta bantuan seorang pengacara dan detektif yang juga merupakan musuh dari bos mafia itu untuk bisa memenjarakan bos mafia itu.
Mereka membuat semacam kasus palsu yang cukup rumit untuk bisa menjerat dan memenjarakan bos mafia itu. Berkali-kali mereka harus berhadapan dengan kematian, sebab anak buah bos mafia itu mengejar mereka, tapi untungnya mereka bisa selamat dengan akhir sang bos mafia itu bisa ditangkap dan dipenjarakan.
Tapi sayangnya, mereka semua tidak tahu walau bos mafia itu telah dipenjara, ia masih bisa mengontrol anak buahnya. Ia memerintahkan untuk membunuh kedua orang tua Jaejoong, dan teman-temannya yang telah membantunya untuk memenjarakannya.
Obat penawar yang ditemukan kedua orang tua Jaejoong sebenarnya adalah Jaekyu. Kenapa Jaekyu? Karena Jaekyu sebenarnya bukanlah adik Jaejoong melainkan kloningan Jaejoong. Kedua orang tua Jaejoong sengaja mengambil sebagian sel Jaejoong lalu ditanamkan pada sel telur milik ibu Jaejoong, setelahnya sel telur itu ditanamkan kembali ke dalam rahim ibunya Jaejoong. Jadi seakan-akan Jaekyu adalah adik dari Jaejoong.
Kloningan itu sebenarnya dibuat untuk mendonorkan semua sel-sel dari organ-organ vitalnya untuk ditransferkan ke dalam organ-organ vital Jaejoong. Intinya Jaekyu adalah organ cadangan Jaejoong.
“Aku yakin Jaekyu sekarang baik-baik saja.” Seru suara dari sebrang.
“Iya appa, Jaekyu baik-baik saja. Kapan kau akan mengadakan operasi tarnsplantasi organ ke Jaejoong hyung?” Tanya Mika.
“Jika urusanku di sini sudah selesai, aku akan kembali ke Korea. Pastikan Jaekyu ada di dekatmu. Aku yakin orang itu mencari Jaejoong dan Jaekyu dan akan melenyapkan mereka berdua. Kau tahu Mika? Ikatan dokter internasional mencarinya karena ia menciptakan sebuah antibody yang bisa membahayakan dunia. Dan kami sedang memburunya, sayangnya ia mempunyai banyak sekali identitas samaran.” Jelas ayahnya Mika.
“Dan saat itu tiba, aku yakin semua akan jadi menarik.” Seru Mika.
==========================================================================
“Karam, okeh~ pecahan piringya sudah dibereskan, ayo kita tidur.” Ajak Yunho sambil menggenggam tangan Karam.
“Hyung~ aku masih belum mengantuk, lagian ini masih jam delapan hyung. Aku bukan bayi.” Seru Karam sambil cemberut. Yunho tersenyum melihat tingkah Karam, lalu ia mulai mengacak-acak rambut Karam. “Hyung, jangan diacak-acak!” Seru Karam kesal.
TING… TONG…
Terdengar suara bel pintu dipencet seseorang. Karam yang berniat untuk membukakan pintu ditahan oleh Yunho. Yunho member isyarat pada Karam kalau ia saja yang membukakan pintu. “Itu pasti Changmin.” Seru Yunho.
“Changmin hyung? Mau apa datang malam-malam?” Tanya Karam.
Yunho menggendikan bahunya. ia tidak tahu Changmin ke sini untuk apa. Tapi kenapa Yunho yakin yang memencet belnya adalah Changmin? Karena Yunho yakin, siapa lagi yang memncet bel dengn kasar sambil menggedor-gedor pintu selain sepupunya yang rakus itu.
Di luar, Changmin yang menggedor-gedor pintu mulai tidak sabar. Ia mengambil sebuah kunci dari dalam tasnya. “Kau lama Yunho hyung!” Teriak Changmin yang berhasil membuka pintu rumah Yunho.
Changmin masuk dengan terburu-buru dan langsung melesat ke arah dapur, dimana Yunho dan Karam berada. Setelah menuju dapur Changmin buru-buru membuka pintu kulkas dan mengambil sebuah botol air mineral, lalu membukanya dan menenggaknya hingga tak bersisa.
“Min, kenapa kayak orang kesetanan gitu sih?” Tanya Yunho sambil menepuk bahu Changmin.
Changmin berbalik dan menatap Yunho dengan tatapan anak kucing yang kelaparan. “Aku kabur dari rumah hyung~” Isak Changmin.
“Kabur?” Tanya Yunho sambil mengangkat alisnya.
“Iya! Tadi Min habis dimarahin sama appa gara-gara Min negrusakin jam tangan kesayangan appa.” Seru Changmin yang tidak diketahui oleh Yunho dan Karam kalau ia sudah mengambil sebungkus cemilan dari kulkas dan kini tengah asyik memakannya.
“Hyung lapar? Mau aku masakin?” Tawar Karam.
Changmin menghentikan kegiatan mengunyahnya dan menatap Karam. Changmin pun mulai mencubiti pipi Kaam. “Kau baik sekali sih~” Seru Changmin. “Masak yang enak ya?!” Seru Changmin. Lalu ia mendudukan dirinya di kursi meja makan yang tepat berada di depan kulkas, Yunho pun mengikutinya dsan duduk di sebelah Changmin yang masih sibuk mengunyah.
“Dua hari lagi kamu tanding kan? Udah siap menghadapi turnamen?” Tanya Yunho yang entah kapan juga ikut ngemil bareng Changmin.
“Belum! Makanya aku kemari mau sekalian tanding sama hyung, tuh liat!” Changmin menunjuk ke arah tasnya yang teronggok di depan dapur. Yunho mengikuti arah jari telunjuk Changmin.
“Ramenya siap!” Seru Karam sambil membawa semangkuk ramen lalu ia menaruhnya di depan Changmin.
“Yah~ kok Cuma ramen?” Rajuk Changmin.
“Masih mending Karam mau masakin kamu!” Seru Yunho ketus. “Ya sudah sini buat aku aja!” Yunho lalu mengambil mangkuk dari Changmin.
“Gak jadi!” Changmin merebut kembali mangkoknya. Setelah mendapatkan kembali mangkuknya Changmin dengan semangat memakan ramen dengan semangat. “Oh, iya sebentar lagi ulang tahun kamu kan Karam?” Seru Changmin di sela-sela makannya. Karam mengangguk.
“Aku penasaran, kau kan dari panti asuhan, kenapa kau tahu ultahmu?” Tanya Changmin yang dihadiahi jitakan gratis dari Yunho.
“Kata ibu pantiku hari ulang tahunku diberikan saat mereka menemukanku.” Jawab Karam sambil tersenyum kecil.
“Begitukah?” Changmin dan Yunho mengangguk-anggukan kepala mereka.
=========================================================================
“Mika?” Seru Jaejoong tepat di belakang Mika yang tengah berdiri membelakangi pintu kamar Jaejoong.
Mika terkejut dan buru-buru membalikan badannya. “Hyung? Sejak kapan kau di situ?” Tanya Mika yang sudah merubah air wajah terkejutannya menjadi dingin kembali.
Jaejoong yang masih lemas mencengkram pundak Mika. “Katakan! Kau tahu kemana Jaekyu kan?” Seru Jaejoong.
“Jaekyu sudah meninggal hyung.” Seru Mika datar lalu menarik tubuh Jaejoong untuk kembali tidur di tempat tidurnya. Jaejoong menepis tangan Mika yang mencoba menggendongnya.
“Bohong! Tadi yang telpon paman bukan?! Dan tadi kau sebut-sebut nama Jaekyu kan?! Jaekyu masih hidup bukan?!” Teriak Jaejoong.

Aie mata mulai membasahi pipi Jaejoong. Mika terdiam. “JAWAB MIKA!” Teriak Jaejoong dengan sisa tenaga yang ia punya.
“Sudah kubilang hyung Jaekyu sudah meninggal.” Seru Mika.
Jaejoong menarik napas panjang. “Jangan bohong padaku Mika.”

 

TBC

 

Sekian dulu ya… DItunggu komennya..

Gomawo dah meluangkan waktu baca ff ini dan ninggalin komen..

 

Salam Yunjae<3

7 thoughts on “Saranghae Do Dwel Gayo Part 7

  1. nah lho nah lho makin ribet aj dah =.=
    tapi ak suka soalnya disini menjelaskan kenapa jeje lemah bngt T^T

    penasaran thor lanjutt ^^d
    penasaran ma karam & mika…
    penasaran ma jeje, yunho ma yoochun…
    penasaran ma endingnya ^^d

  2. kasian bgt jaejung,,,jdi klinci prcobaan ck,ck,dy jdi mndrita kya’ gtu
    apakah jaekyu tu karam???n siapa bos mafia itu??? pnsran bgt ma next chap
    lnjut thor,,,smngt!!!!

  3. kloningan jaejae??? apa jangan2 karam itu kloningan jeje yah?? ahh masa sih
    uuhhh penasarann..
    ‘orang itu’ jahat juga yah masa dia jadiin jeje kelinci percobaan.. orantua jeje juga dodok mau2 aja anaknya dibikin kelinci percobaan, akibatnya jeje jadi kayak gitu deh… kasian jeje

  4. Makin rumit ja nih.
    Siapa sebener.y jaekyu?
    Jangan2 yg dmaksud ntu karam *sotoy
    umma sakit.y parah n aneh bget, ngeri…..
    Banyak rahasia yg ada di ff ni, bikin penasaran….

  5. Waaaa..bru koment..mian thor..
    Jaekyu = karam ya,thor? Pantes sifat.y mirip bgt,muka.y jg mirip…astagaaaa…
    Jay sp lg? Mika! Ni ank sifat.y nyblin amt,pdhl suka ma karam kan?
    Pnasaran akut!
    Next thor~

  6. jangan” yg d sebut sebagai kloningan jaema itu karamm..
    wah wah wahh,, pnsaran nichh..
    trnyata jaema d jadiin klinci percobaan tp gagal, kasian jaema..
    kkyyaaa adaa miniiee… datang” lgsg mnta mkann aiishh,, dzarr food monster….

  7. Jaemaaaa…nasibmu kasian se x..(╥﹏╥)
    Gimana kalau jaema Ъ>:/ mau ngorbanin adik’a buat penawar jaema???
    Gimana dgn yunpa?? ªª yunpa hrs dgn karam??

    Penasaran..next chap»

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s