Bloody Love Chapter 41 – Don’t Go Away Anymore | @beth91191


Anyeonghaseyo….

Halo readerrrr…. Bagi yg nggak bisa baca chapter 40, chapter ini udah merangkum chapter 40 dengans angat rapi hanya menghilangkan pada bagian yang diprotect aja kok.. Jadi akan tetap nyambung walau bacanya lompat 1 chapter.

Saran buat baca chapter ini adalah jangan lagi emosional/sensitif, dijamin nangis kalau kalian sekarang lagi emosional/sensitif. Jujur, serius, beneran, aku sebagai author dari ff ini, selalu nyesek banget baca chapter ini dan gak sadar nangis2 sendiri. Padahal seharusnya sebagai seorang author aku udah tahu jalan ceritanya, tapi tetep aja chapter ini terlalu menyedihkan.. Atau mungkin juga aku nya yang baca lagi sensitif ya?? Maaf ya reader harus baca chap yg nyesek banget ini..

Langsung baca aja ya,,

 

Title        : Bloody Love

Author   : Beth

Chapter : 41 – Don’t Go Away Anymore

Genre    : Romance, Yaoi, Angst

Rate       : 21+

CHAPTER XLI – Don’t go a way anymore

[Jaejoong pov]

Kurasakan pelukan Yunho yang sangat erat dan hangat. Selamanya aku ingin dia terus memelukku seperti ini. Selamanya jangan pernah tingggalkan aku Jung Yunho. Selamanya jaga lah aku selalu berada pelukanmu. Saranghae Jung Yunho..

Tak puas-puasnya kami berpelukan. Berpelukan setelah sekian lama kami tidak bertemu satu sama lain. Kerinduan yang amat sangat yang kami rasakan. Kerinduan karena tidak bisa saling bersama satu sama lain. Biarlah kami terus begini. Biarlah yang lain kami pikirkan nanti yang kami inginkan hanyalah melepas rindu yang teramat dalam pada hati ini..
Ku lepas sedikit pelukan di antara kami. Kudongakkan kepalaku untuk melihat wajahnya yang tampan.

Wajah yang benar-benar menenteramkan jiwaku menenangkan hatiku dan menyejukan batinku yang telah lama tak melihat wajahnya..

Kurasakan wajah kami mulai mendekat satu lain hingga akhirnya bibir kamipun bersatu. Kupejamkan mataku. Kurasakan ciuman yang sangat hangat dan lembut dari bibirnya.
Yunho.. Sudah lama sekali tidak kurasakan ciuman seindah ini. Yunho.. Aku benar-benar mencintaimu.

Kurasakan ciuman kami semakin dalam dan semakin dalam. Ada sebuah perasaan yang aneh yang menyeruak didada ini. Rasanya bagaikan ada kembang api yang meledak-ledak di dalam sana. Perasaan yang sangat membuat hatiku terasa sesak. Tapi sesak kebahagiaanlah yang aku rasakan. Jantungkupun mulai berdetak cepat. Bisa kurasakan perasaan emosinal yang luar biasa mengalir begitu saja.

“Joongie saranghaeyo..” ucapnya di sela berciuman.

Dan kamipun menghabiskan malam indah itu bersama…

===SENSOR===
*changmin smirk*
===SENSOR===

Setelah kami merasakan pergumulan yang luar biasa ini..

Kulihat wajahnya yang tampak kelelahan yang setengah terpejam. Nafas kami sama-sama berkerjaran. Dada kami naik turun seirama. Betapa dahsyatnya kenikmatan yang kami peroleh malam ini. Benar-benar luar biasa.

“Saranghamnida Kim Jaejoong..” ucapnya setelah cukup tenang.

“Naedo Saranghamnida Jung Yunho..” jawabku cepat.

“Jeongmal gomawoyeyo Jae..” ucapnya lagi.

Aku mengangguk dan “Apapun yang terjadi, selamanya cintailah aku Jung Yunho..” ucapku sambil menyentuh pipinya.

“Selamanya..” ucapnya sambil tersenyum.

Didekatinya kembali wajahku dan kamipun berciuman. Ciuman yang sangat aku rindukan di saat kita berpisah. Ciuman yang selalu membuatku senang dan tenang. Ciuman yang selamanya ingin aku miliki. Ciuman dari seorang namja tampan yang sangat aku cintai. Jung Yunho tak pernah lelah ku katakan bahwa aku sangat-sangat mencintaimu dan tak akan pernah pergi dari sisimu kembali. Aku akan selalu menjadi milikmu selamanya.

Kamipun berpelukan erat dengan tubuh telanjang yang hanya terbalut selimut, sambil menikmati kebahagiaan yang kami rasakan bersama, hingga akhirnya kami berdua tertidur bersama.

===KEESOKAN HARINYA===

[Yunho pov]

Pagi ini saat aku membuka mataku, entah mengapa perasaan bahagia yang menyeruak dari dalam hatiku. Perasaan bahagia saat mengingat kejadian semalam. Terima kasih Tuhan, Kau persatukan kami kembali.

Kulihat wajah Jaejoong yang masih tertidur di sampingku. Dia tampak sudah mandi dan berpakaian. Dia tampak sangat manis sekali pagi ini dan masih tercium jelas bau harum sabun berbaur dengan parfum dan bau asli tubuhnya. Sepertinya dia masih lelah, makanya setelah mandi dia kembali tertidur di sampingku. Biarlah dia tidur. Aku akan mandi dahulu.

Aku pun menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku. Setelah selesai mandi,ku dekati lagi Jaejoong yang tengah terlelap. Tak ada habis-habisnya kukatan bahwa dia tampak sangat manis seklai. Jaejoong sarahaeyo..

Kukecup keningnya dan ku belai pipinya.

Dingin..

Kenapa pipinya terasa selalu dingin dan rasanya kali ini lebih dingin dibanding biasanya.

Ku belai-belai wajahnya sambil mencoba membangunkannya.

“Jaejoongie.. My Boo.. Bangunlah..”

Dia tidak merespon ku. Dia masih saja memejamkan mata indahnya.

Kuamati wajahnya. Wajahnya sangat pucat. Jauh lebih pucat dari semalam. Ada apa ini? Tiba-tiba aku menjadi khawatir..

Ada Apa dengannya?

“Jaejoong.. Bangunlah.. ” aku berusaha membangunkannya kembali.

Tak ada gerakan sedikitpun darinya. Dia masih saja tertidur lelap. Bahkan terlalu lelap, terlalu hening.

“Jae.. Bangun chagi..Jae..” aku lagi-lagi membangunkannya dan mengusap-usap pipinya.

“Jaejoong kau jangan membuatku khawatir seperti ini..”

Apa yang terjadi pada Joongieku?? Apa yang tejadi padanya? Aku menjadi khawatir sekali. Dia sama sekali tak merespon kata-kataku. Dia sama sekali tak bereaksi sedikitpun.

“Jae.. bangunlah”

Aku tak tahu pasti apa yang terjadi padanya. Tapi yang jelas Jaejoong tidak bergerak sama sekali dan terus memejamkan matanya saat aku berusaha membangunkannya.

“Jaejoong.. Ku mohon. Bangunlah….” aku memegang erat tangannya dan menciumi tangannya.

Tak terasa air mata mengalir tipis di pipiku. Tiba-tiba tangannya bergerak perlahan. Kurasakan tangannya membelai rambutku lembut. Dengan cepat kulihat wajahnya. Matanya terbuka sayu. Senyuman yang terlihat dipaksakan tersungging di bibir pucatnya.

“Jaejoong.. Apa yang terjadi padamu?? Kenapa kau begitu dingin dan pucat?” tanyaku yang sudah amat sangat khawatir.

Kulihat dia hanya tersenyum dan membelai wajahku.

“Jaejoong…” panggilku padanya untuk menjawab pertanyaanku.

“Yun.. Sepertinya waktuku sudah semakin dekat Yun..” ucapnya lirih.

“Maksudmu apa Jae?” tanyaku serius.

“Yun.. Kau sudah tahu bahwa aku adalah seorang vampir bukan?” tanyanya pelan. Terlalu pelan hingga aku harus mempertajam pendengaranku.

“Nae.. Dan aku menerimamu apa adanya.. Aku tak mempedulikan resiko dan bahaya yang harus aku alami jika aku terus bersama dirimu. Aku tak takut sedikitpun.” Jawabku yakin.

“Tapi, kau tahu kan apa yang dikonsumsi oleh seorang vampir?” tanyanya lagi.

“Nae.. Dan aku yakin walaupun kau adalah seorang vampir. Kau tak akan mungkin menyerangku dan menghisap darahku. Aku yakin itu. Dan jika kau memerlukan darah. Aku bisa membantu menyarikan darah di palang merah dan rumah sakit. Aku punya banyak kenalan disana. Janganlah takut kau kekurangan kebutuhan darah.” Jawabku sambil tak berhenti menggenggam tangannya.

“Tapi apakah kau tahu bahwa bagi seorang vampir, jika dalam seminggu dia tidak meminum darah manusia, dia akan mati karena teracuni darahnya sendiri?” tanyanya yang tiba-tiba membuat jantungku tersentak. Aku belum sempat menjawab pertanyaannya yang satu ini, kemudian dilanjutkannya kata-katanya. “Dan aku sudah seminggu ini tidak meminum darah manusia Jung Yunho.” Ucapnya lemah.

DEG!!
Apa yang dia katakan???
Tiba-tiba dada ini sakit sekali seperti ada sebuah pedang yang menghunjam tepat di jantungku.

“Mwo??? Jaejoong.. Apa yang kau katakan?? Seminggu? Tidak minum darah? Mati?? Kau tak boleh mati.. Minum saja darahku jika kau memang membutuhkan darah agar kau tetap hidup. Matipun aku rela demi mu, Jae..” sahutku dan tanganku menyentuh pipinya.

“Tidak Yun.. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tak akan meminum darah kembali.” Jawabnya sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela.

“Tapi Jae.. Kau akan mati jika tidak meminum darah..” ucapku memaksa.

“Kehidupan sebagai vampir bukanlah sebuah kehidupan yang pantas dipertahankan. Kehidupan yang sangat menjijikan dan menakutkan ini adalah sebuah kutukan dari Tuhan padaku. Aku pantas menerimanya. Seharusnya aku sudah mati sejak lama. Tak ada bedanya jika saat  ini aku harus mati untuk kedua kalinya.” Ucapnya yang membuatku teramat sedih.

“Tapi bagaimana denganku Jae?? Kau rela meninggalkanku sendirian?? Aku sangat mencintaimu Jae.. Bagaimana mungkin aku bisa hidup tanpamu?” air mata sudah menetes dari kedua mataku.

“Aku tahu Yun.. Aku juga sangat mencintaimu.” Jawabnya berat.

“Lalu mengapa kau akan meninggalkanku seperti ini???” tanyaku dengan sedikit tinggi.

“Yun.. Sadarlah Yun… Aku bukanlah seorang manusia.. Aku adalah vampir.. Aku adalah mayat hidup. Seharusnya aku sudah mati sejak dulu. Aku sangat berbahaya, aku bisa tiba-tiba berubah menjadi tak terkontrol dan buas, aku bisa saja tiba-tiba menyelakaimu. Tak mengertikah kau betapa menyakitkannya bagiku jika hal seperti itu sampai terjadi??” ucapnya sedih.

“Aku tak peduli!!! Yang aku mau kau selalu ada di sisi ku Jae.. Selamanya.. Aku tak peduli apa yang akan terjadi nanti, yang aku mau kau selalu bersamaku. Walaupun suatu hari nanti kau lepas kontrol dan menyerangku pun aku rela. Sungguh aku rela. Tetaplah hidup demi aku.” kurasakan air mataku sudah benar-benar membasahi pipiku.

“Yun.. Jangan menangis..” kulihat dia pun juga mulai meneteskan airmata dari mata indahnya yang selalu aku kagumi itu.

“Jaejoong aku rela melakukan apapun agar kita bisa selalu bersama..” kataku sambil menahan isakan tangisku.

“Aku tahu.. Tapi tak ada yang bisa merubah keputusanku. Aku lelah hidup seperti ini. Lelah Yun.. Lelahhh.. Aku ingin istirahat.. Biarkan aku mendapatkan kedamaian yang sempat tertunda ini. Biarkan aku mati.” Ucapnya yang semakin menyilet-nyilet perasaanku.

“Jaeeeeee…. Jangan begini kepadaku… Katakan apa saja yang kau inginkan, aku akan melakukannya untukmu. Tapi kau jangan pergi..” ucapku tak habis-habisnya memohon padanya.

“Ada.. ada satu hal yang bisa kau lakukan untukku..” ucapnya pelan.

“Apa?? Apa?? Katakan saja…” jawabku cepat dan mengeratkan genggamanku.

“Aku mohon panggilkan Junsu kemari.. Aku amat sangat rindu padanya. Aku ingin memeluknya dan membelai rambutnya. Aku ingin bertemu dengannya untuk terakhir kali.”

“Jaejoong!!! Kau jangan berkata seperti itu.. Iya, aku akan panggilkan dia. Tapi jangan pernah kau berkata itu adalah yang terakhir.” Ucapku dengan nada sedikit tinggi.

Kenapa dia begitu mudahnya berkata seperti itu. Tak berpikirkah dia tentangku. Tak tahukah dia bagaimana hancurnya hati dan hidupku tanpa dirinya. Tak mengertikah dia betapa besarnya cintaku padanya. Kenapa?? Kenapa?? Kenapa semudah itu dia memutuskan untuk meninggalkanku dengan cara seperti ini?? Setelah semua kebahagiaan yang kita rasakan bersama lalu dia begitu saja mencampakanku dan pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya?? Jae… Aku sangat mencintaimu..

Kuamati wajahnya dengan perasaan berkecamuk. Ingin rasanya aku marah padanya atas ketidak adilan dari keputusan yang dia ambil itu. Tapi melihat wajahnya yang teramat lemah, membuat hatiku tak sampai hati. Aku sangat mencintainya. Sangat mencintainya. Bahkan terlalu mencintainya.

“Yun..” panggilnya lirih.

“Jae.. jangan pergi.. Kumohon..” ucapku memohon padanya untuk kesekian kalinya.

“Panggilkan dia Yunho..” ucapnya dengan mata yang nyaris tertutup.

“Jangan pergi.. Kumohon.. Aku akan panggilkan.. akan aku panggilkan dengan cepat.. Tetaplah disisiku. Jangan tidur.. Tetaplah sadar.. Kumohon Jae.. Kumohon..” jawabku memelas.

Dia hanya mengangguk pelan dan lemah. Yang ada di pikiranku saat ini adalah mengikuti apa yang dia katakan. Dia amat sangat ingin bertemu dengan adiknya. Akan aku panggilkan Junsu kemari. Semoga saja dengan kedatangan adiknya dia mau mengurungkan niat gilanya untuk bunuh diri dengan cara segila ini.Kemudian kuhubungi Yoochun untuk membawa Junsu menemui hyungnya ini.

==DI TELEPON==

[Yoochun]: yabuseyo hyung..

[Yunho]: Park Yoochun.. Segera kemari. Ajaklah Junsu bersamamu. Jaejoong.. (kata-kataku terhenti)

[Yoochun]: Ada apa dengan Jaejoong hyung?

[Yunho]: Bawalah saja Junsu kemari. Jaejoong ingin bertemu dengannya. Sebelum semuanya terlambat. Aku tak bisa menjelaskannya di telepon. Lebih baik kalian cepat kemari. Tak banyak waktu yang tersisia.

[Yoochun]: Nae. Kebetulan kami berada tak jauh dari sana.

===

Kemudian kututup teleponku dan kembali memegang erat tangan Jaejoong. Matanya tengah terpejam saat ini.

“Sudah.. Sudah aku telepon agar Junsu kemari, Jae..” kataku.

Perlahan matanya kembali terbuka tapi hanya terbuka sedikit. Saking sedikitnya membuatku takut jikalau mata itu akan tertutup kembali dengan cepat dan tak akan terbuka lagi selamanya.

“Terima kasih Yun.. Kau jangan menangis.” Ucapnya berusaha sedikit menghiburku.

“Bagimana mungkin aku tak menangis Jae?” jawabku berat.

Aku mulai bisa mengontrol emosiku, tapi hati ini masih waswas dan takut tiba-tiba dia meninggalkanku. Aku tak tahu harus berkata apa-apa lagi. Aku benar-benar tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku sudah memohon dan memelas padanya. Tapi tekadnya sudah terlalu bulat. Aku mengerti jika dia tak ingin membahayakanku jika terus bersamanya. Sebenarnya, banyak penyelesaian yang lebih baik untuk kami berdua dalam menghadapi masalah ini. Tapi mengapa dia justru memilih cara seperti ini. Dari pada dia meninggalkanku dengan cara ini, lebih baik kita berpisah saja. Itu jauh jauh jauh jauh lebih baik.. Kulihat wajahnya yang benar-benar pucat dan lesu itu.

“Jaejoong.. Kau jangan seperti ini padaku. Aku tak tahu bagaimana aku jika tanpamu.” Ucapku sambil memegang tangannya dan menempelkan di pipiku.

“Kau akan baik-baik saja Yun.. Berjanjilah padaku Yun kau akan tetap akan melanjutkan hidupmu walau tanpa diriku Yun.” Ucapnya tulus.

“Ssssttttttttttttttt…….. Kau jangan berkata seperti itu Jaejoong..” ucapku sambil kupeluk tubuhnya erat.

Perasaanku sudah sangat berkecamuk saat ini. Aku berusaha berpikir jernih. Tapi semakin aku berpikir, semakin aku tersesat dan tak menemukan jalan keluar. Aku memeluknya erat dengan seerat-eratnya, menjaganya agar tetap terjaga dan tidak meninggalkanku. Hingga akhirnya tak lama kemudian datanglah Yoochun bersama Junsu.

“Hyunggggggggggggggg…” teriak Junsu saat berhamburan masuk ke dalam kamar.

Pelukan kami terlepas. Mata kami tertuju pada dua sosok manusia yang baru saja datang itu.

“Junsu..” ucap Jaejoong pelan.

“Hyung.. Ada apa denganmu? Yoochun sudah menceritakan semuanya di jalan tadi. Hyung.. Aku begitu senang ketika mengetahui kau masih hidup. Walaupun memang..” terputus sesaat kata-katanya, “Tapi kita baru bertemu. Janganlah kau tinggalkan aku lagi hyung. Cukup sekali dan itu sangat menyakitkan.. Aku mohon hyung.. Aku membutuhkanmu.. Aku menyayangimu.. Aku tak mau berpisah lagi denganmu.. Hyung…” kata Junsu sambil menangis.

Suasana berubah menjadi kian mengharu biru. Kulihat Yoochun tengah berdiri di samping Junsu dan berusaha menenangkan kekasihnya itu.

“Ohh.. Jadi ini adalah kekasih mu, Jun??” tanya Jaejoong dengan senyum yang dipaksakan di wajahnya.

“Nae hyung.. Park Yoochun namanya.” jawab Junsu sambil terisak-isak.

“Aku sempat dikenalkan oleh Yunho saat itu. Jadi selama ini jikalau kau sedang bersedih, lemah, dan butuh tempat untuk bersandar, dialah tempat kau meluapkannya kan?” tanya Junsu sambil membelai pipi dongsaengnya.

Junsu mengangguk pelan sambil terus menangis menggenggam tangan hyungnya erat-erat. Jaejoongpun menatap ke arah Yoochun. Ditatapnya lekat dan dipanggilnya agar ia sedikit mendekat.

“Kalau begitu Yoochun.. Secara resmi aku restui kalian. Segeralah kalian menikah. Dan tolong kumohon jagalah baik-baik dongsaengku, Junsu. Cintailah dia lebih dari apapun di dunia ini. Buatlah dia bahagia.. Ya??” pinta Jaejoong pada Yoochun.

Saat mendengar kata-kata hyungnya tampak Junsu menangis kian kerasnya.

“Pasti hyung.. Tanpa kau minta, aku akan melakukannya. Aku akan menyayanginya, mencintainya, menjaganya, melindunginya, dan membahagiakannya seumur hidupku.” Jawab Yoochun sambil memegang pundak Junsu untuk menenangkan kekasih nya itu.

“Hyung.. Jangan bicara seperti itu.. Jangan tinggalkan aku kembali hyung.. Kita baru bertemu bahkan belum hilang sedikitpun rasa rinduku padamu.. Hyung.. Kumohon Hyung.. Kumohon…” pintanya yang makin membuatku luluh lantak.

“Bahagialah bersama Yoochun, Junsu.. Kemarin kau bisa berbahagia tanpaku. Kali ini kau pasti akan bisa juga..” ucapnya.

“Hyungggggggggg.. Aku menyayangimu hyung… Aku tak mau tanpa dirimu.. Jaejoong hyung… Jangan pergi..” diulang-ulanginya kata yang sama.

Aku benar-benar semakin sedih harus melihat pemandangan yang menyedihkan antara kakak dan adik ini. Yoochun menarik Junsu sedikit menjauh dari hyungnya untuk menenangkannya. Junsu pun hanya bisa memeluk Yoochun erat. Aku tak sanggup melihat pemandangan seperti ini. Air mataku terus mengalir dan mengalir. Kugantikan posisi Junsu yang sudah berpindah ke dalam pelukan Yoochun.

“Yunho..” panggilnya padaku.

“Apa-apa yang bisa kulakukan?? Jaejoong.. Cepat katakan… Apa yang bisa kulakukan?? Jika saat ini aku bisa menukar nyawamu dengan nyawaku, aku rela. Jika saat ini kau memintaku melukai diriku sendiri demi mendapat darah untukmu, aku rela. Jika saat ini aku lah yang harus mati untuk mu aku rela. Katakan sesuatu Jaejoong.. Katakan… Apa yang harus aku lakukan. Aku sama sekali tak tahu harus berbuat apa.” Ucapku menangis di depannya.

“Jangan Yun.. Jangan lakukan apa-apa.Cukup peluklah aku..” ucapnya lirih.

Dengan cepat, aku pun naik keatas kasur, berbaringlah aku disebelahnya dan memeluknya erat. Kupandangi wajahnya. Tak pernah berkurang sedikitpun kecantikan dan kemanisan wajahnya. Aku masih saja menganggumi anugerah Tuhan yang satu ini. Aku benar-benar mencintainya. Aku tak sanggup tanpa dirinya.

“Jeongmal saranghaeyo Jung Yunho..” ucapnya dengan teramat lirih.

Kupeluk tubuhnya erat sambil memanggil namanya, “Jaejoong..”

“Katakan kau juga mencintaiku Yun..” pintanya.

“Saranghae.. Saranghaeyo.. Saranghaeyo.. Jeongmal Saranghaeyo.. Jeongmal Saranghae.. Aku mencintaimu Jaejoong.. Aku sangat mencintaimu Jaejoong.. Selamanya saranghaeyo Kim Jaejoong…” ucapku tanpa lelah mengatakan bahwa aku mencintainya. “Jae..” kata-kataku terputus.

Dia diam kali ini. Aku tunggu dia berkata kembali. Tapi dia tidak menjawab apa-apa.

“Jae..”panggilku sekali lagi.

Kulihat wajahnya. Matanya terpejam untuk kesekian kalinya saat ini.

“Jae..”

“Jawab aku jae..”

“Kenapa kau diam saja?”

“Jae.. Jae..” panggilku terus dan terus..

Kudengar tangisan Junsu pecah.. Dia menangis sejadi-jadinya sambil memanggil nama hyungnya itu. Dia menangis dalam pelukan Yoochun.

“Jae..”

“Kim Jaejoong.. Bangunlah.. Bangunlah…”

“Kim Jaejoong kumohon bangunlah..”

“Kumohon…”

Kupeluk tubuhnya erat sangat erat.. Apakah dia sudah pergi? Secepat ini? Aku tak percaya Jaejoong telah pergi. Tidakkkk…. Aku masih tak percaya dia telah pergi….. Selamanya aku tak rela dia telah pergi meninggalkanku…

Entah mengapa tiba-tiba aku benar-benar merasa amat sangat hampa. Hatiku terasa sangat kosong. Sebuah celah besar memenuhi hatiku. Seseorang yang amat sangat aku cintai telah pergi.. Selamanya.. Bukannya pergi ke namja lain yang mana aku masih bisa melihatnya lagi suatu hari nanti. Tapi dia pergi selamanya.. Meninggalkan dunia ini dan aku tak akan pernah bisa bertemu dengannya kembali.

Aku sangat sedih.. Kuingin rasanya menangis.. Tapi entah mengapa kali ini tak ada sedikitpun air mata yang berhasil keluar dari mataku.

Jae… Saranghae Jae.. Jeongmal saranghaeyo Kim Jaejoong..

[Author pov]

Selama berjam-jam lamanya Yunho dan Junsu masih berada dirundung duka yang teramat sangat. Yunho terdiam duduk di sebelah Jaejoong berbaring. Dipeganginya tangan Jaejoong. Tapi pandangannya kosong. Tak ada semangat hidup dalam dirinya. Selama berjam-jam itu juga, Junsu menangis. Tapi dongsaeng Jaejoong ini lebih tegar dibandingkan kekasih kakaknya itu. Pada awalnya memang dia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Yoochun, yang selama ini sudah menjadi tempat bertumpunya ketika dia merasa jatuh dan sedih. Yoochun yang sudah pernah mengalami kondisi serupa, berusaha menenangkan kekasihnya itu. Yoochun berusaha untuk tidak terbawa suasana. Dia tentu merasa sedih ketika kakak dari kekasihnya serta kekasih dari sahabatnya meninggal. Tapi jika dia memperlihatkan sisi emosionalnya, tentu tak ada yang mengkover yang lain.

Yoochun berusaha menenangkan Junsu terlebih dahulu. Dibawanya Junsu keluar dari kamar itu dan diajaknya dia duduk lantai bawah. Di papahnya pelan-pelan kekasihnya itu. Anak tangga demi anak tangga dituruni mereka bersama. Setibanya dibawah, dia mendudukan Junsu di salah satu kursi yang ada di sana. Di panaskannya air sedikit. Diraciknya teh untuk Junsu dan Yunho. Setelah teh itu jadi, diberikannya salah satu gelas pada Junsu. Junsu yang sudah mulai merasa tenang meraih gelas itu. Air mata masih membasahi pipinya, tapi dia masih bisa meneguk teh itu sedikit demi sedikit. Lagi lagi Yoochun memeluk tubuh kekasihnya itu.

“Sabarlah Junsu.. Sabar… Kau adalah Junsu yang kuat, yang tabah, dan tegar. Hyungmu sudah tenang saat ini disana.” Yoochun berusaha mengucapkan kata-kata yang pernah dia ucapkan dia dulu untuk menyemangati Junsu. “Kau melihat sendiri kan betapa damainya ketika dia pergi?”.

Junsu tak menjawab. Dia masih tak percaya harus berpisah dengan hyungnya untuk kedua kalinya. Bahkan dia baru saja bertemu dengan hyungnya, tapi saat ini sudah harus berpisah kembali. Dan kali ini dia benar-benar harus berpisah untuk selamanya. Tapi berkat Yoochun dia mampu sedikit tenang. Berada di dekat Yoochun lah yang membuat Junsu merasa aman dan terlindungi. Dia mulai bisa menerima kenyataan yang harus dia alami kali ini. Itu semua karena Yoochun tak henti-hentinya menghiburnya.

Setelah dirasa Junsu cukup tenang,

“Kau tunggu disini sebentar ya.. Aku ingin melihat keadaan Yunho hyung” ucap Yoochun pada Junsu.

“Nae.. Sepertinya dia sangat terpukul. Dia lebih membutuhkan mu saat ini.” Jawab Junsu berusaha terilhat tegar.

“Kau baik-baik saja kan?” tanya Yoochun.

“Nae.. Tidak apa-apa.. Cepat temui Yunho hyung..” kata Junsu lirih.

Kemudian Yoochun pun meninggalkan Junsu dan menuju ke tempat Yunho berada. Dilihatnya sahabatnya itu masih terdiam kosong dan tak berubah sedikitpun dari posisi terakhir ia melihatnya. Didekatinya Yunho. Dipegangnya pundak Yunho.

“Hyung.. Tak baik kau terus-terusan seperti ini. Kumohon ikhlaskan dia.”

Yunho tak menjawab. Dia terdiam seribu bahasa. Tatapannya benar-benar kosong, tak ada semangat hidup. Semua orang yang melihatnya pasti memahami betapa merasa kehilangannya dia setelah ditinggal seseorang yang sangat dicintainya. Belahan hatinya telah pergi.

“Hyung..” Yoochun berusaha memanggil sahabatnya berharap ada respon darinya.

“Hyung… Aku telah membuatkan secangkir teh untukmu. Ayo minumlah dahulu. Aku harap setelah kau meminumnya kau akan merasa lebih baikan.” Ucap Yoochun sambil melepaskan genggaman tangan Yunho pada tangan Jaejoong.

Yunho tampak menggenggamnya kuat. Sedikit kesulitan bagi Yoochun untuk memisahkan tangan mereka.

“Hyung.. Kalau kau menggenggam tangannya sekuat ini, Jaejoong akan merasa kesakitan..” ucap Yoochun.

Perlahan genggamannya mengendur. Sepertinya dia mendengar apa yang Yoochun katakan. Tapi dia tak merespon sepenuhnya. Hanya begitu Yoochun menyebutkan nama Jaejoong, dia langsung bereaksi. Dia tak ingin Jaejoong merasa kesakitan karena genggamannya. Dia melakukan segalanya agar Jaejoong baik-baik saja. Bahkan setelah dia pergi, Yunho tetap tak ingin membuat Jaejoong terluka.

“Hyung.. Jaejoong sudah tenang disana. Dia sudah pergi dengan damai. Dia pergi dalam pelukanmu. Dia pasti merasa sedih sekali jika melihatmu seperti ini.” Ucap Yoochun berusaha menahan air matanya.

Siapa yang tidak menangis melihat pemandangan yang menyedihkan seperti ini.

“Jaejoong..” ucap Yunho lirih untuk pertama kali setelah dia terdiam sekian lamanya. “Apa Jaejoong sedang melihatku saat ini?” tanyanya masih dengan tatapan kosong.

“Tentu hyung.. Dia mungkin sedang menangis melihatmu seperti ini.” Ucap Yoochun menebak.

“Jaejoong menangis?? Dia tak boleh menangis.. Mata indahnya tak boleh menangis.” Ucapnya yang membuat hati Yoochun teriris-iris.

“Hyung..” desahnya pelan.

“Lalu apa yang bisa aku aku lakukan agar dia tidak menangis?” tanyanya seakan-akan Jaejoong masih bersamanya.

“Aku sudah membuatkan secangkir teh untukmu. Minumlah. Jika dia melihatmu baik-baik saja. Pasti dia tak akan menangis.”ucap Yoochun.

“Jeongmal? Aku mau teh. Mana teh? Aku mau minum.” Ucap Yunho seperti anak-anak yang mudah sekali dikelabui.

“Hyung..” ucap Yoochun yang merasa begitu sedih melihat kondisi sahabatnya saat ini. “Ayo minum teh.. Ayo..” dia berusaha mati-matian untuk menyembunyikan air matanya.

Dibantunya tubuh Yunho agar berdiri. Yunho hanya patuh mengikuti Yoochun. Perlahan dia bangkit dari sisi Jaejoong. Ketika dia sudah sepenuhnya berdiri tiba-tiba..

“Tapi bagaimana dengannya? Dia pasti takut sendirian berada disini.” Kata Yunho sambil melihat ke arah Jaejoong menganggapnya masih hidup.

“Dia akan baik-baik saja.” Jawab Yoochun berusaha mengajak Yunho untuk sejenak meninggalkan tubuh Jaejoong.

“Tidak… Dia pasti ketakutan kalau sendirian. Aku tak mau pergi…” Yunho melepaskan tangan Yoochun dari pundaknya dan kembali duduk memeluk tubuh kekasihnya itu.

“Hyung.. Kau tak ingin membuatnya menangis kan? Kalau kau seperti ini dia akan menangis dan tidak akan memaafkanmu.” Kata Yoochun lagi lagi berusaha memperlakukannya seperti anak kecil.

“Oyaya.. Tapi kita minum tehnya sebentar aja ya. Nanti Jaejoong takut kalau sendirian terlalu lama.” Kata Yunho yang lagi-lagi membuat hati Yoochun merasa miris.

“Nae.. Setelah minum teh, kita kembali kesini kembali.” jawab Yoochun meyakinkan.

“Baiklah baiklah.. Jaejoong kau baik-baik disini ya.. Aku tak akan lama. Tunggu ya. Lampu kamar aku nyalakan ya biar kamu tidak ketakutan.” Kata Yunho sambil menyalakan lampu.

“Ayo hyung.. Semakin cepat kita minum teh, semakin cepat kau kembali kemari.” Bujuk Yoochun.

“Sabar ya Boo..” kata Yunho sambil dipapah pergi oleh Yoochun.

Selangkah demi selangkah Yunho dan Yoochun meninggalkan tubuh Jaejoong yang terbaring di tempat tidur. Mata Yunho tak bisa lepas dari kekasihnya itu. Dia benar-benar merasa khawatir kalau-kalau Jaejoong merasa ketakutan.

Ketika mereka berdua telah tiba di depan pintu, mau tak mau Yunho harus membelakangi Jaejoong. Yoochun memegang gagang pintu hendak membukanya. Pintu kamar telah terbuka. Yoochun lebih dahulu melangkahkan kakinya dan kemudian diikuti Yunho, tapi sebelum dia selesai menapakan langkah pertamanya keluar dari kamarnya, dia kembali menoleh ke arah Jaejoong. Namun tiba-tiba..

KRESEKK SEKKK SEKKK SEKKK…

“Jaejoong!!!!!” teriak Yunho keras.

Tubuh Jaejoong sudah tak lagi ada disana. Tubuhnya menghilang. Seketika Yunho mendapatkan kembali kesadarannya atas situasi yang tengah terjadi saat ini. Dia kembali sadar bahwa Jaejoong kekasih hatinya telah meninggalkanya. Dia ingat tubuh kekasihnya terakhir masih terbaring di kasur itu. Tapi sekarang mana?? Mana tubuh Jaejoong. Sesaat sebelum dia mendapati kasur itu kosong memang sempat terdengar pelan suara berisik dari arah belakang. Dengan cepat Yunho menghampiri kasur itu. Di buka-bukanya selimut-selimut yang menutupi kasur itu.

“Mana tubuhnya?? Mana??” ucap Yunho kebingungan setengah berteriak.

Yoochun yang juga tak kalah terkejut sesaat terpaku terdiam. Seketika dia merasa bergidik mendapati kejadian ganjil yang baru saja terjadi ini. Junsu yang mendengar teriakan Yunho langsung berhamburan naik ke atas dan melihat apa yang terjadi. Dia masih belum mengerti apa yang tengah terjadi. Tapi kata-katanya tak keluar sama sekali. Semua orang masih tampak terkejut melihat Jaejoong tak lagi ada di tempat tidur.

“Jaejoong… Jaejoong.. Dimana kau?? Jaejoong??? Dimana dia?? Dimana dia??!!” Yunho berpindah dari tempat tidur. Dilihatinya seluruh ruangan. Tak didapatinya sosok kekasihnya itu. Matanya tiba-tiba tertuju pada pintu yang terbuka lebar mengarah keluar kamarnya tempat biasa dia menghabiskan malam duduk di sebuah ayunan bersama Jaejoong.

“Pintu tadi bukannya tertutup? Aku yakin pintu itu tertutup.”

“Sejak pagi belum kubuka pintu itu. Aku yakin.”

“Dan semalam aku telah menutupnya.”

”Aku yakin tak ada satupun dari kita yang menyentuh pintu itu. Lalu mengapa pintu itu sekarang terbuka??”

”Mengapa??”

”Ada apa ini??”

”Ada apa??”

“Aku tak mengerti..”

“Jaejoong masih hidup kah? Dia pergi dariku? Tapi aku rasa tak mungkin jikalau dia masih hidup dia justru pergi seperti ini. Dia sudah pernah pergi dari sisiku dulu. Dan dia tak akan sanggup untuk melakukan hal itu untuk kedua kalinya.”

“Lalu??”

“Apa tubuhnya telah…”

TBC

 

#jengjengjenggggggg

Ada apa lagi ini?? Selalu banyak kejutan di chapter-chapter akhir ini.. Apa yang terjadi pada Jaejoong sebenarnya? Kenapa tiba-tiba dia menghilang? Bagaimana dengan Yunho????

Tunggu kelanjutannya di Bloody Love Chapter 42 A – judul masih dirahasiakan

Gak kerasa udah 3 chapter terakhir..

Terimakasih banyak ya udah luangin waktu buat baca dan komen.

 

Yunjae is Real!

Salam Yunjae❤

-Beth-

19 thoughts on “Bloody Love Chapter 41 – Don’t Go Away Anymore | @beth91191

  1. Aaaaaaaaa..*frustasi
    aq mewek thor..andwaeee..np tubuh jae ilaaang…
    Apa jae masih bisa hidup? Lanjut thor
    neomu2 joahaeyo ma ff mu ini..><

  2. psti dtolong ma yesung
    ayooo…
    jaema …
    minum darah si…
    sebel d…
    yunpa boso bgt…
    klo ak jd yunpa
    jaema udh ak paksa minum darah…
    huff….
    lanjut iaa thor…
    hehehhe

  3. Annyong beth ff nya keren sayangnya sy bacanya udh chap akhir2🙂
    Itu JJ d ambil siwon atau gmn ?? Aishh jd penasaran ngebayangin JJ jd vampir malah k inget Yunho jd vampir d Tone konser

  4. hmmmm jeje beneran udah mati ??? hueeeee andweeeee
    aq yakin itu jeje ada yang bawa pergi.. entah yesung entah siwon.. mungkin jeje mau dikasih darah biar idup lagi

  5. haduhh tegangg,,gg tau tegang baca bludilop pa tegang gr”mau ujian,,,ahh thorr chap ni rda “ngeri,,q rda kurang mudeng ma prckpn akhir krn q bc rda buru”,,,ahhh harus hepi ending*dilemparkulkaschang-*,,,gg rela ni epep tamat,,,ntar da sequelna kan thor?? ya kan?? ya kan??*minjem puupyeyesjaemom*

  6. hua…. q nangis.. hiks..hiks… feel ny dpt bgt lah… akhirny jae ketemu ma junsu, bener2 mengharukan.. apa jae bener2 mati?? ayo dong tolongin jae.. tu yg bawa jae sapa?? siwon pa yesung?? ah… kasihan yunho..

  7. eon tega..knp org ne pisah mulu sh d bt ny#nangs guling2!
    Jae kmn?,d culik yesung atau siwon kah?

  8. makin penasarann T^T
    jeje ilang kemana dah?? U___U
    trus kasian appa T^T, kasian junchan T^T, kasian yoochun T^T

    lanjutt yaa ^^d

  9. Hue!!!!!!!!! Umma ayo bangu……. Gak kasian pa liat apa kya anak kecil gtu gra” umma huhuhuhu heh siapa tuh yg bawa tbuh ny umma yesung? Kah

  10. Omygod!!! Bener” menguras airmata, sumpah jadi bengkak nih…(╥﹏╥)
    (╥﹏╥)

    Untunglah junsu punya yoochun di sisinya!
    Kasian yunpa jadi kaya org linglung=1/2 gila!

    Tubuhnya jaema kemana?? Ko bisa Ъ>:/ ά̲ϑª? Ъ>:/ mungkinkan jaema hidup lagi trus pergi ninggalin yunpa???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s