Saranghae Do Dwel Gayo Part 8 A


Title        : Saranghae Do Dwel Gayo

Author   : Kim Chi Hee

Part         : 8 A

Pair         : Yunho x Jaejoong, Yunho x Karam

Genre    : Romanc, Yaoi

Rate       : PG

 

Ane bawa berita baik! FF ini akan dibukukan melalui ebook! di sana juga ada revisian FF ini menjadi lebih baik, gak ada yang diubah, alur, konflik, dan moment-momentnya sama loh! dan ini sampulnya. Untuk lebih jelasnya tanya langsung ke FB ane, Fitrah Kim ya..

============================================================
Keesokan harinya, Mika yang sudah terbangun lebih dulu mendatangi kamar Jaejoong untuk memeriksa keadaannya. Mika membuka pelan pintu kamar Jaejoong, ia mendapati Jaejoong yang masih tertidur pulas. Pelan-pelan Mika berjalan menuju ranjang Jaejoong. jaejoong yang menyadari kadatangan Mika langsung membuka matanya.
“Hyung, sudah baikkan?” Tanya Mika sambil meraba kening Jaejoong. jaejoong menggeleng lemah.
“Kemarin aku seperti bermimpi bertengkar denganmu, aku dengar kau bilang Jaekyu masih hidup.” Seru Jaejoong lemah.
“Sstt… itu hanya mimpi hyung. Hyung makan dulu habis itu minum obat ya.” Seru Mika sambil mendudukan Jaejoong.
“Kau tidak berangkat ke sekolah Mika? Sudah siang loh.”
“Aku libur saja hari ini.” Mika mengambil baskom plastik isi air hangat dan juga handuk kecil untuk melap badan dan wajah Jaejoong.
“Tidak, kau sekolah saja. Aku tahu kau cerdas luar biasa. Tapi kau kan ketua osis, masa ketua osis membolos?”
Mika tersenyum dan mulai melap badan Jaejoong mulai dari tangan hingga dadanya, dan terakhir wajahnya. “Aku kan bisa bilang kalau aku sakit. Bereskan? Hyung ganti baju dulu ya.” Mika meletakan piyama baru di atas kaki Jaejoong yang sedang berselonjor. “Aku siapkan bubur dulu.” Mika lalu keluar.
Setelah beberapa saat Mika kembali membawa semangkuk bubur. Dan sepertinya Jaejoong juga telah mengganti bajunya. “Makan dulu ya.”
Jaejoong menggeleng. “Gak mau! Aku gak mau makan kalau kau tidak sekolah habis ini.”
“Ya, aku janji bakal berangkat sekolah habis ini.” Seru Mika.
Setititk air mata meluncur jatuh dari mata indah Jaejoong. “Kau baik sekali Mika.” Lirih Jaejoong. “Terima kasih.”
“Itu sudah jadi kewajibanku.” Seru Mika sambil tersenyum. “Ayo hyung~ buka mulutnya.”
===========================================================================
Karam, Yunho, dan Changmin pergi sekolah seperti biasa. Tidak ada yang terlambat. Tahu kenapa? Karena semalam baik Changmin maupun Yunho tidak ada yang jadi berlatih, alasannya karena Changmin sudah keburu tertidur pulas sehabis makan.
Di tengah perjalanan mereka bertiga bertemu dengan Jay, teman satu sekolah Karam. “Hai, jagiya!” Seru Jay riang. Melihat wajah Jay, Karam melengos  dan berpura-pura tidak melihatnya.
“Jagiya?” Seru Changmin terkejut. “Segitu tampannya kah aku sampai anak SMP pun ngefans denganku?” Seru Changmin narsis.
“Bukan untukmu!” Seru Yunho membenarkan sebelum tingkat kenarsisan Changmin melonjak tinggi.”Itu untuk Karam.”
Jay berlari kecil mendekati Karam yang memasang tampang juteknya. Jay tersenym melihat Karam. “Hai, jagiya~”
“Jagiya?” Kali ini Yunho yang terkejut. “Memang kau siapanya Karam?”
“Dia pacar-“ Tiba-tiba Karam menyela omongan Jay. “Dia adik kelasku hyung.” Seru Karam sambil menatap Jay sadis.
“Bukannya kau pacarku hyung?” Seru Jay sambil menaik-turnkan alisnya, bermaksud untuk menggoda Karam.
Karam mendesah sebal. “Hyung, sepertinya aku harus duluan. Aku ada tugas piket.” Bohong Karam.
“Oke.” Seru Yunho mengijinkan.
“Kalau begitu ayo!” Jay menggandeng tangan Karam. “Dah hyungdeul~” Seru Jay sambil terus menarik Karam. Chagmin dan Yunho hanya tersenyum sambil melambaikan tanagan mereka pada Jay dan Karam yang sudah menghilang di balik tikungan.
***
“Lepaskan!” Seru Karam sambil menepis tangan Jay. “Aku bisa jalan sendiri!”
===========================================================================
Karam dan Jay akhirnya sampai juga ke sekolah walaupun tadi sepanjang perjalanan Jay terus saja menempel-nempel pada Karam. Karam yang risih sudah melakukan berbagai cara untuk menjauhkan dirinya dari Jay, mulai dari menatapnya sadis sampai memaki-makinya.
“Sudah sampai.” Seru Jay saat mereka berdua telah sampai di tangga menuju kelas Karam. “Selamat belajar hyung.” Seru Jay riang.

Namun, tidak diketahui oleh Karam, dengan tiba-tiba Jay mencium bibirnya sekilas. Karam terbelalak kaget sambil memegang bibirnya. Jay yang melihat ada semburat merah di pipi Karam –yang diartikan malu-malu oleh Jay, namun sebenarnya Karam emosi dicium oleh Jay- hanya tersenyum. “A kiss before study, bagus kan hyung?”
BUAKK
“Ahhh… sakit.” Ringis Jay saat sebuah bola basket yang melayang lalu jatuh tepat di atas kepalanya.
Jay dan Karam refleks mendongakan kepala mereka. Terlihatlah Mika yang tengah tersenyum dan di sampingnya ada Injun yang sedang manyun-manyun tidak jelas. Mika beranjak menuruni tangga dan akhirnya sampai di depan Karam dan Jay yang menatapnya sangar.
“Mika, ambil bolaku!” Teriak Injun dari atas.
“Oke!” Balas Mika. “Sorry ya tadi tanganku kepeleset, jadinya bolanya jatuh dari atas.” Seru Mika sambil membungkuk untuk mengambil bolanya Injun.
“Kau!” Emosi Jay mulai memuncak. “Kau selalu cari gara-gara!” Seru Jay murka.
“Kenapa? Tadi gak sengaja kok!” Seru Mika santai. “Sepertinya kau butuh sapu tangan untuk mengusap bibirmu.” Mika lalu memberikan sapu tangannya pada Karam.
Jay yang sudah terbawa emosi hendak menghajar Mika, namun suara bel sekolah yang berdentang menghentikan aksinya. “Lain kali kau pasti habis, ketua osis sok!” Seru Jay. “Hyung aku ke kelas dulu ya, dah~”
“Kau selalu mengganggu hidupku!” Seru Karam dingin. Lalu tanpa permisi Karam menaiki tangga menuju kelasnya. Namun tanpa disadarinya, ia membawa sapu tangan milik Mika yang tadi diberikan Mika untuk melap bibirnya yang habis dicium oleh Jay.
Mika menatap Karam dingin. “Cinta itu memang rumit, dan aku benci harus mengakuinya.” Lirih Mika.
“Yak! Sampai kapan kau mau disitu! Bel sudah berbunyi dan cepat kembalikan bolaku!” Teriak Injun dari atas.
Mika dengan cepat menaiki tangga sambil menggenggam bolanya Injun. “Kembalikan bolaku!” Seru Injun sambil merampas bolanya dari tangan Mika. “Kalau kau suka sama anak itu bilang aja kenapa!” Seru Injun ketus lalu dengan seenaknya ia meninggalkan Mika yang terdiam.
Injun berbalik setelah mendapati Mika tidak ikut berjalan bersamanya. “Mau sampai kapan di situ?” Teriak Injun. Dengan tampang datar Mika berlari menghampiri Injun.
“Nanti aku belikan susu jeruk, bagaimana?” Bisik Mika ditelinga Injun.
Injun tersenyum sumringah. “Boleh! Sebagai upah karena kau meminjam bolaku dengan seenak jidatmu! Mana buat mukul kepala orang lagi!” Mika lalu tertawa dan mencubit pipi Injun gemas.
===========================================================================
Sementara itu di rumah Jaejoong sedang sibuk menyelesaikan sweater untuk hadiah Karam. Jaejoong merajutnya dengan pelan-pelan dan hati-hati agar tidak ada satu benang pun yang berantakan, kegiatannya terhenti setelah mendengar dering handphonenya.
Jaejoong mengangkat telpon itu. “Halo.”
“Hai, Jaejoong, apa kabar! Kudengar dari Junsu kau sakit?” Seru suara dari sebrang. Dahi Jaejoong berkerut mencoba mengenali suara siapa itu. Jaejoong juga berpikir mungkin yang memberi tahu Junsu kalau dia sakit adalah Mika.
“Maaf, siapa ya?” Seru Jaejoong pelan-pelan agar tidak menyinggung si penelpon.
“Yoochun! Masa kau tidak ingat sih~” Rajuk Yoochun.
“Oh~ Yoo, iyah aku gak masuk, jadinya harus bolos sekolah deh, padahal aku udah kelas tiga.” Seru Jaejoong. Jaejoong memasangkan earphone ke telinganya agar ia tetap bisa berbicara dengan Yoochun tanpa harus menghentikan kegiatannya merajut.
“Kau sedang apa? Aku boleh bermain ke sana?” Tanya Yoochun.
“Aku sedang merajut, untuk hadiah temanku, datang saja! Aku sendirian di rumah. Mika tadi sudah bilang mungkin akan datang terlambat.” Jawab Jaejoong sumringah. Akhirnya ia bisa punya teman di rumah, pikir Jaejoong.
“Okeh~ aku akan segera ke sana!”
“Bye~” Jaejoong memutuskan telponnya dan kembali melanjutkan kegiatannya. Rajutannya hampir selesai, tinggal merajut sebelah tangan kirinya saja. Jaejoong mendesah pelan. “Padahal musim gugur baru datang, kenapa sudah dingin sekali.” Seru Jaejoong sambil membenarkan letak selimutnya.
=====================================================================
Karam memasuki kelasnya dengan tampang jutek. Ia mendudukan dirinya di kursinya dengan kasar. Hyunmin yang duduk tepat berada di sampingnya biingung. Tumben sekali Karam masuk kelas dengan tampang jutek, biasanya juga ia selalu bertampang datar, pikirnya.
“Kau kenapa?” Tanya Hyunmin. “Kau belum mengerjakan PR? Ini kupinjamkan.” Tawar Hyunmin sambil menyerahkan bukunya kepada Karam.
Karam menggeleng. “Aku sudah mengerjakannya.”
“Terus kenapa tampangmu begitu?”
“Aku bertemu orang yang paling ingin kubunuh pagi ini.” Seru Karam dingin. Walau begitu terdengar aura membunuh yang kuat dari suara Karam.
“Ketua osis itu ya?” Tebak Hyumin yang seratus persen benar. “Kau tidak tahu ya, kalau dulunya sebelum kau masuk, Mika itu jarang sekali berbaur dengan murid-murid lainnya, paling dia hanya berteman dengan Injun sunbae. Mika itu orang yang paling menyeramkan dan paling ditakuti di sekolah ini.”
“Begitu ya? Aku sama sekali tidak takut dengannya, toh dia hanya manusia biasa bukan iblis atau semacamnya.” Jawab Karam santai dan acuh.
“Dia memang iblis. Kau tidak tahu saja Mika pernah membuat guru senior di sini mengundurkan diri karena perkataannya yang sangat sadis terhadap guru itu saat ada rapat guru.”
“Mungkin dia hanya orang yang bermulut pedas dan sombong, tapi aku tidak peduli sama sekali.”
Guru yang mengajar di kelas Karam akhirnya datang. Setelah memberikan pembukaan sebentar, guru itu menyebutkan siapa saja yang bertugas piket saat pulang sekolah nanti sebelum memberikan materi pelajaran hari ini.
“Karam dan Hyunmin, kau kebagian tugas piket hari ini.” Seru guru itu.
“Baik, songsangnim.” Seru Hyunmin dan Karam bersamaan.
===========================================================================
Saat istrirahat tiba, Mika berniat untuk ke kelas Junsu untuk memberitahukan padanya kalau hari ini ia akan pulang telat, jadi ia ingin meminta tolong pada Junsu untuk menemani Jaejoong di rumah. Namun, saat di perjalanan menuju gedung SMA ada sebuah pemandangan yang menarik perhatian Mika. Mika yang berjalan bersama Injun mengubah arah langkah kakinya.
“Yak! Mau kemana kau! Arah gedung SMA bukan di sana!” Seru Injun. Injun melihat arah yang diambil Mika lalu mendengus sebal.

“Bagus, anak itu lagi. Kenapa sih Mika selalu penasaran sama anak itu. Kalau suka langsung bilang aja sih! Dia selalu menyembunyikan rasa sukanya dengan tampang dingin dan sadisnya itu. Membuatku sebal dan pasti selalu aku yang ketiban sial.” Dumel Injun. Akhirnya Injun mengikuti kemana Mika pergi.
Terlihatlah Karam dan Hyunmin yang sedang bersusah payah membawa setumpuk kamus-kamus tebal yang bahkan menutupi arah pandangan mereka. Hyunmin yang memang lebih tinggi dari Karam, pandangannya tidak terlalu terganggu dengan tumpukan kamus-kamus itu.
Mika yang datang tiba-tiba dari arah belakang Karam dan Hyunmin yang sedang membawa kamus-kamus tebal itu hanya memandangi Karam dan mengekor padanya. Baik Karam maupun Hyunmin masih belum menyadari kedatangannya, bahkan sampai mereka menaiki anak tangga. Injun yang datang belakangan hanya melihat tingkah Mika yang masih betah menatap punggung Karam.
“Sampai kapan kau mau menatap seperti itu.” Suara Injun sontak membuat Karam, Hyunmin dan Mika menghentikan langkah mereka yang sedang menaiki anak tangga satu persatu.
Karam dan Hyunmin membalik badan mereka. Mereka berdua saat ini berjarak satu tingkat anak tangga di atas Mika dan Injun. Hyunmin yang melihat Mika dan Injun langsung membungkukkan badannya hormat.
“Mereka berdua mengganggu jalanku.” Seru Mika dingin. Injun yang mendengarnya hanya mencibir. “Mengganggu apanya.” Cibir Injun.
“Kau Hyunmin kan? Biar aku yang menggantikanmu.” Mika mengambil tumpukan kamus itu untuk menggantikan Hyunmin. “Kau temani saja Injun untuk ke gedung SMA.”
“Hah?!” Seru Injun kaget. “Ngapain?” Tanya Injun bingung.
“Ke kelas Junsu sunbae.” Jawab Mika santai. Injun mengangguk-angguk, tapi setelahnya ia menggeleng dengan cepat. “Gak mau!” Sergah Injun.
“Ayolah hyung, nanti kubelikan susu jeruk, bagaimana? Seminggu penuh.” Tawar Mika.
“Kau menyebalkan Mika!” Tunjuk Injun di depan wajah Mika. Mika yang melihatnya hanya tersenyum kecil. Injun langsung menyambar tangan Hyunmin. “Kau Hyunmin kan? Temani aku!” Seru Injun sambil menyeret Hyunmin yang tidak tahu apa-apa.
Injun menyeret Hyunmin sambil mendumel tidak jelas. Hyunmin yang ada di belakangnya hanya menggaruk-garuk kepalanya, bingung.
“Nah, ayo kita kembalikan kamus-kamus ini ke ruang guru.” Seru Mika yang dengan mudahnya membawa kamus-kamus itu hanya dengan satu tangan. Dan tangan yang bebas lainnya membantu mendorong bahu Karam. Karam yang risih menggerakan bahunya agar tangan Mika lepas dari bahunya.
“Kau itu selalu membuntutiku ya?” Tuding Karam.
“Dunia itu sempit tidak seperti yang kau kira, Karam.” Jawab Karam dingin.
“Kalau tidak membuntutiku kenapa aku selalu bertemu denganmu! Menyebalkan! Kenapa kau selalu membuntutiku?” Tanya Karam.
“Memangnya sekolah ini sebesar apa sih? Kau kira sekolah ini sebesar sekolah Hogwarts?” Tanya Mika balik.
Karam mendengus sebal. Ia kembali melanjutkan langkahnya untuk menaiki tangga dengan hentakan kaki yang dibuat sekeras mungkin Karam menaiki tangga. Namun, saat baru setengah jalan, Karam yang memang pandangannya teralingi dengan kamus-kamus itu tidak menyadari bahwa pijakannya salah.
Karam terpeleset dan hampir terjatuh. Mika yang melihatnya dengan sigap melemparkan kamus-kamus yang dipegangnya lalu menangkap tubuh kecil Karam yang hampir saja jatuh bebas ke bawah. Karam menutup matanya, takut.
BRUAKK
Karam berjengit kaget. Namun kekagetannya bertambah saat ia tidak merasakan sakit sama sekali di tubuhnya, malah ia merasakan hangat yang menjalari pinggang dan punggungnya. Karam membuka matanya perlahan. Pemandangan yang dilihatnya pertama kali adalah wajah Mika yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
Setelah matanya terbuka dengan sempurna, kekagetan Karam bertambah setelah melihat kondisi Mika yang tengah memeluknya. Mika meringis sakit saat Karam mencoba melepaskan pelukannya. Punggung Mika mungkin tadi terbentur tembok saat mereka terjatuuh dari atas tangga tadi.
Ringisan Mika bertambah saat Karam tidak sengaja menyentuh pergelangan kaki kanan Mika. Mika mencoba menahan rasa sakitnya dengan menggigit bibir bawahnya. Karam gelagapan saat ia menarik sedikit celana panjang bagian bawah Mika. Terlihat lebam biru yang cukup besar di sekitar pergelangan kaki Mika.
“Karam kau tidak apa-apa?” Tanya Mika sambil menahan ringisannya.
“Tidak apa-apa bagaimananya?! Kau yang seharusnya yang dikhawatirkan!” Seru Karam.
“Apa kau bisa berdiri?” Tanya Mika khawatir.
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku! Justru kau yang harus dikhawatirkan.” Karam mencoba berdiri sambil mencoba memapah tubuh Mika. Ternyata susah juga memapah tubuh Mika yang lebih besar darinya.
Beberapa siswa melintas di depan mereka, semuanya tampak acuh tidak mau menolong. Namun dalam sekali tatapan, Mika bisa membuat siswa-siswa itu mengikuti komandonya. “Tolong, bantu aku memberesi kamus-kamus itu dan bawa ke ruang guru, oke!” Titah Mika yang mencoba untuk bangkit berdiri

 

TBC

 

Sekian dulu ya… Tunggu kelanjutannya..

Gomawo udah luangin waktu buat baca ff ini dan komen..

Salam Yunjae❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s