Saranghae Do Dwel Gayo Part 8 B


Title        : Saranghae Do Dwel Gayo

Author   : Kim Chi Hee

Part         : 8 B

Pair         : Yunho x Jaejoong, Yunho x Karam

Genre    : Romanc, Yaoi

Rate       : PG
dan ane bawa berita baik! FF ini akan dibukukan melalui ebook! di sana juga ada revisian FF ini menjadi lebih baik, gak ada yang diubah, alur, konflik, dan moment-momentnya sama loh! dan ini sampulnya. Untuk lebih jelas langsung tanya ke FB Fitrah Kim.

================================================================================
Dengan susah payah akhirnya Mika berhasil berdiri walaupun masih tetap dibantu oleh Karam. “Kita ke UKS.” Seru Karam sambil memapah Mika dengan mengalungkan tangan kanan Mika di pundaknya. Dengan tertatih-tatih mereka berdua berjalan menuju UKS.

======================================================================

“Senior, sebenarnya kita mau kemana sih?” Tanya Hyunmin yang masih kebingungan.

“Kita mau ke gedung SMA, ngasih tahu Junsu hyung kalo Mika minta tolong supaya Junsu hyung pulang sekolah nanti menemani sepupunya Mika.” Jawab Injun yang masih diiringi dengan dumelannya. “Aku bingung sama anak itu.”

“Loh~ kenapa hyung mau disuruh sama dia?”

Injun menghentikan langkahnya dan menatap Hyunmin dengan tatapan sadis. Hyunmin yang ditatap seperti itu menggaruk kepalanya bingung. “Kenapa hyung menatapku begitu?”

Injun mendesah pelan. “Mika satu-satunya teman yang kupunya di sekolah ini, dia berteman denganku bukan karena dengan statusku sebagai anak pemilik yayasan di sekolah ini. Dia biasa memperlakukanku seperti anak-anak lainnya. Dia juga pernah membantuku dari bully-an anak-anak yang tidak suka padaku. Jujur saja selama ini akulah yang selalu mengikutinya tapi dia tidak pernah marah padaku.” Hyunmin hanya mengangguk-angguk mendegar penjelasan dari Injun.

“Ayo, cepat! Jam istirahat sudah mau habis.” Injun lagi-lagi menyeret Hyunmin menuju gedung SMA.

=========================================================================

“Hyung!” Panggil Changmin yang baru saja masuk kelas Yunho dengan terburu-buru.

“Kenapa?” Tanya Yunho sambil memalingkan wajahnya dari buku tabal yang barusan dipinjamnya dari perpustakaan bersama Junsu.  Junsu pun masih duduk di sampingnya saat ini.

Changmin buru-buru mendudukan dirinya di kursi kosong tepat di depan meja Yunho. “Jae hyung sakit ya?” Tanya Changmin yang dengan seenak jidatnya merampas snack Junsu. Junsu yang tidak terima merampas balik miliknya.

Yunho mengangguk mengiyakan. “Terus ngapain kamu ke sini?”

Changmin mendesah pelan. “Aku bawa berita buruk! Sangat buruk!” Ujar Changmin yang tengah mengunyah snack hasil jarahannya pada Junsu. Junsu yang masih tidak terima mencoba merampas balik lagi snacknya sambil menoyor kepala Changmin. Changmin tidak membalas, yang dia lakukan hanya membuat bungkus plastik itu kosong tanpa sisa.

“Berita buruk apa?” Tanya Yunho lagi.

“Besok pagi-pagi sekali kita harus berangkat! Hari ini pun semua anggo

“Turnamennya tidak jadi di SMA sebelah hyung! Tapi diadakan di luar kota, intinya besok kita harus berangkat ke luar kota. Tapi, tidak terlalu jauh juga sih! Ini surat pemberitahuannya.” Changmin menyerahkan surat pemberitahuan dan undangan kepada Yunho. Yunho menerimanya dan langsung membaca isi surat tersebut.

“Jadi?” Yunho membaca surat yang ada di kertas itu serius, namun saat Yunho ingin melnajtukan bicaranya dua orang anak SMP masuk ke kelasnya. Mereka tidak lain dan tidak bukan adalah Injun dan Hyunmin.

“Selamat siang senior.” Seru Injun hormat sambil membungkuk, Injun juga melakukan hal yang sama.

“Begini senior Junsu, Mika menyuruhku kemari untuk… jadi intinya begini.” Injun menggaruk-garuk belakang kepalanya. Bingung. “Mika nanti tidak bisa pulang cepat, jadi Mika meminta tolong senior untuk menemani senior Jaejoong di rumah, bagaimana apa senior bisa?”

Junsu memandang Yunho sebentar lalu mengangguk semangat. “Aku memang mau ke rumah Jaejoong kok.”

“Ya sudah itu saja. Sebentar lagi istirahat sudah mau selesai. Kami permisi dulu senior.” Injun dan Hyunmin membungkukan badan mereka bersamaan. Lalu mereka berdua keluar dari kelas Yunho.

Yunho merobek selembar bukunya dan menuliskan sesuatu di sana. “Junsu, tolong berikan ini ke Jaejoong yah~” Yunho menyerahkan kertas tersebut kepada Junsu. Junsu menerimanya dan mencoba untuk melihat namun Yunho dengan cepat merampasnya..

“Jangan dibaca!” Cegah Yunho.

Junsu yang kaget mengkeret ketakutan. “Iya, iya gak dilihat deh.” Junsu mengambil kembali kertas itu dan mengantonginya.

==========================================================================

Jaejoong yang tengah serius dengan rajutannya dikejutkan dengan suara bel yang membahana. Jaejoong yang meyakini itu adalah Yoochun turun dari ranjangnya. Ia memakai sweater berwarna merah dan berjalan perlahan ke arah pintu.

Jaejoong membukakan pintu, dan tepat sekali Yoochun-lah yang datang. “Hai, aku membawakan cemilan.” Yoochun menunjukan dua buah kantong plastik penuh berisi cemilan.

Jaejoong yang dengan senang hati menerimanya lalu ia mempersilahkan Yoochun masuk. “Kau tinggal sendiri?”

“Tidak. Aku kan pernah bilang kalau aku tinggal bersama dengan sepupu dan seorang bibi yang mengasuhku dari kecil.” Jaejoong mengajak Yoochun untuk ke kamarnya. Yoochun menatap interior kamar Jaejoong dengan kagum walaupun Yoochun merasa interior kamarnya mirip dengan TK karena baik langit-langit ataupun dindingnya ditempeli dengan berbagai macam hiasan.

Jaejoong mempersilahkan Yoochun untuk duduk di ranjangnya sedangkan Jaejoong pergi ke dapur untuk membuatkan Yoochun minuman. Yoochun yang merasa bosan melihat-lihat seisi kamar Jaejoong. ia melihat-lihat foto-foto yang terpajang di atas nakas di samping tempat tidur Jaejoong.

Di sana banyak sekali foto-foto Jaejoong bersama Mika dan tentu saja Yunho yang membuat Yoochun sedikit iri. Namun, Yoochun penasaran dengan sebuah foto yang berbingkai indah, sebuah foto keluarga dengan dua orang suami istri yang menggendong dua orang anak laki-laki yang wajahnya sangat mirip satu sama lain.

“Anak ini mirip sekali satu sama lain, kayak kembar.” Seru Yoochun yang mirip berseru pada diri sendiri.

“Yoochun!” Panggil Jaejoong manja. Yoochun yanag kaget langsung meletakan pigura yang dipegangya tadi ke tempat semula.

“Ini minum.” Jaejoong menyerahkan segelas penuh jus jeruk dingin kepada Yoochun lalu menyruh Yoochun untuk duduk di sampingnya di atas ranjangnya.

Jaejoong kembali merajut. Yoochun pun hanya melihat Jaejoong dengan pandangan takjub. Lama sekali dari mereka tidak ada yang berbicara sepatah kata pun. Jaejoong yang merasa bosan akhirnya buka suara. “Kau pasti menyukai Junsu.” Tembak Jaejoong.

Yoochun yang tadi sedang meneguk minumannya pun langsung tersedak mendengar pernyataan dari Jaejoong. “Kau ada-ada saja.” Seru Yoochun.

“Aku tahu, kau jangan bohong deh! Kau tidak tahu ya, Junsu sering sekali cerita kepadaku kalau ia punya teman yang sangat amat menyebalkan dan sering sekali menggodanya.” Jelas Jaejoong.

“Dari mana kau tahu teman yang dimaksud Junsu itu adalah aku?” Tanya Yoochun penasaran.

“Kau tidak tahu? Junsu itu tipikal orang yang sulit sekali berteman akrab, apalagi sampai berkelahi. junsu itu adalah anak yang manis dan tidak suka cari gara-gara. Lagi pula Junsu saat menceritakan temannya itu bersemangat sekali!” Seru Jaejoong.

“Benarkah itu?” Tanya Yoochun makin penasaran. Jaejoong mengangguk mengiyakan.

“Junsu itu anak yang imut. Oh iya kenapa kau bisa menyebut Junsu pembantumu?” Tanya Jaejoong.

“Oh itu.” Yoochun menerawang, dibibirnya tersungging senyuman dan tanpa Yoochun sadari semburat merah muncul di pipinya. “Sebenarnya aku dan dia itu dijodohkan.”

Kali ini Jaejoong yang tersedak kaget. “Apa? Dijodohkan?” Seru Jaejoong tak percaya.

Yoochun mengangguk. “Nenekku adalah majikan dari neneknya. Begitu pun kakekku. Dulu mereka mempunyai perjanjian kelak cucu pertama mereka akan dijodohkan satu sama lain. Dan itu artinya aku dan Junsu.”

“Lalu apa hubungannya antara dijodohkan dengan pembantumu?”

“Bukannya pembantu, Ibunya Junsu menyuruhnya untuk tinggal di rumahku sebab kedua orang tuaku tinggal di Jerman. Junsu menolaknya. Ia hanya akan datang pada saat pulang sekolah sampai malam. Lalu setelahnya ia akan pulang.” Jelas Yoochun.

“Junsu tidak pernah bilang padaku soal itu.”

“Junsu memang bersumpah tidak akan pernah cerita pada siapa pun soal itu. Yang Junsu kerjakan di rumahku adalah mengawasiku saja. Apakah aku makan dengan benar atau tidak. Apa aku giat berlatih atau tidak. Itu saja, ya walaupun ia juga kusuruh untuk membersihkan kamarku kadang-kadang.”

“Biar kutebak, pasti Junsu mau saja menuruti perintahmu.” Seru Jaejoong.

Yoochun mengangguk. “Iya, apalagi hanya dengan meminta sambil menatapnya penuh harap dia pasti langsung menurut.

“Tipikal Junsu sekali.” Seru Jaejoong girang sambil sesekali tertawa.

==========================================================================

“Kita sudah sampai di ruang osis. Aku mau masuk kelas.” Seru Karam sambil lalu. Namun, Mika mencengkram tangan Karam denga erat.

“Mau kemana kau? Kau harus di sini”

“Apa urusanmu!” Hardik Karam.

“Kau kan yang buat aku seperti ini. Jadi kau harus temani aku.” Seru Mika santai.

Karam mendengus sebal. “Siapa suruh kau menolongku. Kalau kau tadi tidak menolongku, kau juga tidak seperi ini kan?” Karam menepis tangan Mika. Namun, bukannya melepaskan tangan Karam, Mika malah mengeratkan cengkeramannya.

“Aku tidak suka kau dekat-dekat dengan senior Yunho.” Seru Mika dingin.

“Memangnya kenapa hah?! Dia itu kakakku jadi sesukaku mau mendekatinya tau tidak. Dan kau harus ingat satu hal. Aku tidak akan pernah berhenti sebelum aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Ingat itu baik-baik.” Karam masih mencoba melepaskan cengkraman tangannya dari Mika.

“Bagaimana kalau ku katakana kau sedang dalam bahaya.”

Karam tertawa mengejek. “Bahaya? Aku tidak takut apapun dan dengan siapapun. Atau kau yang mau mencelakaiku?” Ejek Karam.

Mika menatap mata Karam dingin. Sebaliknya, Karam menatap Mika dengan tatapan sinis dan mengejek. “Aku benci padamu.” Seru Karam.

Tiba-tiba masuklah seorang dokter UKS. “Mika, kalau kau masih sakit kau boleh pulang.” Seru dokter itu.

Mika mengangguk. “Aku masih sakit pak, aku ingin pulang saja. Dan apakah boleh Karam pulang bersamaku. Tadi dia bilang kepalanya pusing akibat terbentur.” Seru Mika. Karam tidak terima dengan ucapan Mika.

‘Tidak, aku tidak apa-apa.” Seru Karam.

“Iya, kau juga boleh pulang Karam. Tapi kuharap kau bisa mengantarkan Mika dulu. Kasihan dia tidak bisa berjalan sendiri. Aku akan memanggilkan taksi dulu.” Lalu dokter itu keluar.

“Apa yang kau rencanakan?” Seru Karam sengit.

“Aku hanya ingin sedikit bermain-main denganmu.” Seru Mika dengan sikap datarnya.

“Permainanmu itu sama sekali tidak lucu.”

“Kutanya kau. Siapa yang memulai permainan ini?” Tanya Mika yang sukses membungkam mulut Karam.

Akhirnya Mika dan Karam pulang walaupun tadi Injun sempat marah-marah pada Mika karena meninggalkannya dan kenapa bukan dirinya yang diminta oleh Mika untuk mengantarnya pulang. Mika tahu Injun tidak pernah bisa sendirian saat di sekolah karena Injun takut dibully oleh anak-anak yang tidak suka dengannya.

Namun, Mika memberi pengertian pada Injun bahwa siapa saja yang berani membully dirinya akan berhadapan dengan Mika langsung. Injun yang sangat percaya pada Mika dan akhirnya ia membolehkan Mika pulang bersama Karam.

===========================================================================

Yoochun dan Jaejoong sedang asyik bermain kartu. Mereka berdua bermain dengan dua peraturan. Pertama, siapa yang kalah ia harus menerima hukuman dari si pemenang dan juga wajahnya harus dioleskan bedak oleh si pemenang.

Saat ini wajah Jaejoong dan Yoochun sudah penuh dengan coret-coretan bedak. Mereka berdua bermain seru sekali sampai mereka tidak menyadari sudah berjam-jam mereka bermain.

==========================================================================

“Aku sangat membencimu.” Seru Karam sambil menyilangkan tangannya di dada. Saat ini Karam dan Mika sedang berada di dalam taksi yang mengantarkan mereka menuju rumah Mika.

“Lalu kau kenapa mau ikut denganku?” Tanya Mika berniat menggoda Karam.

“Aku hanya ingin membolos, moodku berubah saat aku terjatuh dari tangga.” Jawab Karam malas.

Di sepanjang perjalanan tidak ada yang bicara sama sekali. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Namun, Karam sesekali mencuri-curi pandang pada Mika.

“Apakah aku tampan?” Tanya Mika enteng.

“Aku hanya mencari cara untuk membunuhmu.” Jawab Karam santai.

“Kalau begitu lakukanlah sekarang, kakiku terkilir, tangan kananku bengkak. Aku juga tidak bisa melawanmu kalau kau mencekikku sekarang.”

Supir taksi yang sedang menyetir hanya bisa geleng-geleng kepala akibat ulah kedua anak SMP yang duduk di belakang. Omongan mereka berdua benar-benar tidak mencerminkan anak-anak pada umunya.

Akhirnya selang beberapa lama mereka sampai di rumah Mika. Mika turun dipapah oleh supir taksi yang tadi mereka tumpangi. Ia memapah Mika hanya sampai depan rumah Mika. “Sampai sini saja paman, terima kasih.” Seru Mika sambil membungkuk.

Karam masih berdiri di depan taksi tadi sambil menyilangkan tangannya di dada. “Sampai kapan kau mau disitu?” Seru Mika. Karam mendengus sebal.

“Aku mau pulang.” Seru Karam.

Mika menyeringai. Lalu entah keajaiban dari mana ia bisa melangkahkan kakinya tanpa terlihat kesakitan. Karam yang melihatnya menatap heran namun, karena egonya yang tinggi ia merubah mimik wajahnya kembali seperti semula.

“Kukira kau tidak bisa jalan seperti biasanya.” Seru Karam sinis.

“Kakiku memang memar dan terkilir, tapi bukan patahkan?” Seru Mika sambil menarik tangan Karam untuk masuk ke rumahnya. Karam yang memang sudah tidak mood untuk berdebat dengan malas mengikuti langkah Mika.

“Tak maukah kau menolongku berjalan?” Seru Mika.

“Mataku masih bisa melihat dengan jelas kau bisa berjalan dengan baik dan benar.” Sahut Karam.

Saat mereka baru masukke dalam rumah, sebuah teriakan yang memanggil nama Mika terdengar dari belakang. “Mika!”

Karam dan Mika berbalik bersamaan. “Junsu hyung.” Seru Mika.

Junsu berlari mendekati Mika dan Karam. “Hai, Mika kata temanmu kau bakal pulang telat?” Seru Junsu dengan napas yang masih tersengal.

“Hyung sendiri kenapa sudah pulang?” Tanya Mika balik.

“Kau ini.” Junsu mengacak-acak rambut Mika. “Anak SMA terutama kelas tiga hari ini pulang cepat karena ada rapat guru.”

“Begitukah?” Seru Mika dengan tampang polos. Karam yang melihatnya berdecak sebal. Ia muak sekali melihat wajah Mika yang dibuat sepolos itu.

“Eh, ada Karam. Karam mau main ya ke rumah Mika?” Tanya Junsu yang baru sadar dengan kehadiran Karam.

“Tidak, tadi aku diancam olehnya untuk ikut menemaninya pulang.” Seru Karam enteng.

“Diancam?” Junsu menaikan sebelah alisnya, bingung.

“Iya, aku mengancam akna membunuhnya kalau ia tidak pulang bersamaku padahal ida yang membuat kakiku terkilir dan tangan kananku bengkak. Oh iya ditambah punggungku yang sakit semua.” Timpal Mika.

Karam kembali mendengus sebal. Ingin sekali ia mencekik leher Mika saat ini juga.

“Kakimu terkilir? Kau bisa jalan?” Tanya Junsu khawatir. Mika menggeleng sambil memegangi kakinya.

Junsu memutar bola matanya. Dengan kasar ia menendang kaki Mika tepat dibagian yang bengkak dan membiru. “Dia bisa jalan bahkan mungkin masih bisa berlari.” Seru Karam meremehkan.

Mika hanya meringis dan menggigit bibir bawahnya menahan sakit. Ia menatap Karam dingin, namun menusuk dan menyiratkan amarah di sana. Karam yang ditatap Mika seperti itu balas menatap Mika dengan tatapan merendahkan.

Junsu yang bingung melihat tingkah dua bocah SMP itu akhirnya angkat bicara. “Kalian kenapa sih?” Tanya Junsu bingung. “Ayo Mika kita masuk.” Seru Junsu sambil memapah Mika.

“Kau tidak ingin membantuku?” Tanya Mika.

Karam menyeringai. “Aku akan membantu untuk menghabisi nyawamu.”

“Hei sudah-sudah. Masih kecil kok ngomongnya begitu sih.” Seru Junsu menengahi.

Mereka bertiga masuk dan berjalan menuju lantai dua di mana kamar Mika dan kamar Jaejoong berada. Junsu dengan susah payah memapah Mika untuk menaiki tangga, sedangkan Karam akhirnya membantu membawakan tas Junsu dan tas Mika.

“Kita beri tahu Jaejoong hyung dulu.” Seru Mika.

“Oh iya. Aku juga mau memberikan Jaejoong titipan dari Yunho.” Junsu mengeluarkan selembar kertas dari saku kemejanya.

===========================================================================

“Ah, aku kalah lagi.” Jerit Jaejoong frustasi.

Yoochun hanya tertawa dan bersiap mengusapkan bedak di jari telunjuknya. Yoochun mengusapkan jari telunjuknya ke atas mata kiri Jaejoong. kebetulan Jaejoong yang tidak siap, tidak menutup matanya. Jadi serpihan-serpihan bedak itu jatuh ke mata Jaejoong.

“Ah kelilipan!” Seru Jaejoong.

Yoochun yang duduk di depan Jaejoong dan membelakangi pintu mendekatkan wajahnya ke wajah  Jaejoong untuk meniup serpiah bedak yang masuk ke mata Jaejoong. kebetulan sekali pintu kamar Jaejoong tidak tertutup. Junsu, Mika, dan Karam yang datang terbelalak kaget melihat adegan tersebut.

Junsu yang melihat adegan itu menganga kaget sambil meremas kertas yang dipeganya dan tak terasa kertas yang dipeganya jatuh begitu saja. Air mata juga mulai mengambang di pelupuk mata Junsu. Mika yang melihat adegan itu hanya menatap dengan tatapan dingin.

“Bodoh.” Lirih Mika pelan.

Sementara itu Karam yang melihat kejadian itu awalanya kaget, namun entah setan dari mana yang menyusup ke otak Karam hingga Karam mengambil ponselnya dan mengabadikan adegan itu dengan memotretnya. Karam melihat hasil jepretannya sambil menyerigai.

“Mika, kau sudah di sini kan? Aku pulang saja.” Seru Junsu yang ternyata menyadarkan Jaejoong dan Yoochun atas kehadiran mereka.

“Junsu?” Seru Jaejoong kaget dan juga girang, karena ia tidak akan bosan lagi kalau hanya bermain berdua dengan Yoochun. “Oh, Mika dan Karam juga ada.”

Junsu tersenyum. “Jaejoong maaf, aku pulang dulu. Aku mendadak pusing.” Seru Junsu sambil berlari keluar. Yoochun yang menyadari mata Junsu memerah meminta izin pada Jaejoong untuk mengejar Junsu.

“Junsu tunggu!” Seru Yoochun.

 

TBC

Sementara sekian dulu.. Tunggu kelanjutannya ya..

Dan gomawo dan bersedia membaca ff ini dan memberi komen..

Salam Yunjae❤

5 thoughts on “Saranghae Do Dwel Gayo Part 8 B

  1. ak comment jadi satu aj yaa yg part a & b ._.v

    sebenarnya c mika ma karam saling suka kan yaa *penasaran*
    kayana suie~ aka junchan jeles yoochun aka chunnie deket” mommy :3

    lanjutt thor ^^d

  2. lama g bc ni ff, bkin aq agak lupa ma crita.y he..he..
    karam jahat bget, ambil kesempatan buat ancurin hubungan yunjae *pasangkuda2
    junchan salah paham tu, aigoooo chun harus cpt2 jlsn nih😦

  3. lama g bc ni ff, bkin aq agak lupa ma crita.y he..he….
    karam jahat bget, ambil kesempatan buat ancurin hubungan yunjae *pasangkuda2
    junchan salah paham tu, aigoooo chun harus cpt2 jlsn nih😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s