Vicious Jonquil 3 – The Mystery of Heart – Part 1 | @beth91191


Annyeonghaseyo…

huaaa… akhirnya aku bisa apdet ff juga…

siapa yg kangen ff ku?? *gaada* *hening* hahaha~ *ketawa sendiri*

Sudahlah, kalo kangen bilang ajaa.. *colek dikit ahh*

Siapa yang nungguin lanjutan FF Vicious Jonquil?? Mian lama apdetnya, aslinya dah selese sejak lama, tapi yahh gimana yahh, agak males ngenet via lappy/kompy belakangan ini. Gara2 browser error.

Oke dari pada denger aku ngingau, langsung aja baca ya..

🙂

VICIOUS JONQUIL – YUNJAE

The Mystery of Heart

 

Title        : Vicious Jonquil – The Mystery of Heart

Author   : Beth

Chapter : one shoot PART 1

Genre    : Romance, Action, Yaoi

Rate       : T

 

Vicious Jonquil 3 – The Mystery of Heart

 

[Jaejoong pov]

Hari ini adalah hari dimana aku akan melancarkan pencurian ke-delapanku. Sebentar lagi.. Sebentar lagi.. Ya sebentar lagi usahaku untuk mengumpulkan kesembilan the Ruby akan selesai. Bayangan menggenggam kesembilan the Ruby di tangan, sudah di depan mata. Walau masih harus menyelesaikan dua pencurian lagi, tapi kurasa itu bukanlah perkara sulit. Pencurian tujuh dari sembilan the Ruby dapat kulalui dengan mudah. Apa bedanya dengan kali ini?

Pagi ini aku terbangun dengan semangat menggebu-gebu. Udara sejuk Tokyo menyeruak masuk melalui celah-celah jendelaku. Matahari masih bersinar malu-malu diluar sana. Langit masih berhiaskan rona-rona jingga, belum berubah biru. Kududukan tubuhku,sesaat kutatap jam yang menggantung di dinding. Jam menunjukan pukul 5 pagi. Sepertinya aku bangun terlalu pagi lagi kali ini. Tapi tak apalah. Aku sudah terbiasa tidur hanya tiga-empat jam sehari. Buronan internasional sepertiku, tak pernah sanggup merasakan kata nyenyak saat tidur. Bayang-bayang kepolisian, interpol dan militer yang mengejar-ngejarku, selalu terbawa dalam setiap mimpiku. Apalagi mengingat waktuku yang tak banyak. Kegelisahan selalu menggelanyutiku. Ketakutan  selalu menjadi teman baikku. Orang selalu berpikir, Vicious Jonquil adalah pencuri yang berani dan nekat. Padahal sesungguhnya Vicious Jonquil tetaplah manusia biasa yang kadang memiliki rasa takut. Terkadang sangat takut.. Sangat.. Terutama saat tidur.. Entah kapan terakhir kali aku bisa tidur nyenyak.

 

Tapi…

Sebentar-sebentar..

Sepertinya aku pernah tidur cukup nyenyak tak lama yang lalu.

Kapan ya?

Berusaha kuingat-ingat semuanya. Sepertinya aku pernah tertidur dengan pulasnya seperti bayi kecil tanpa dosa, tanpa beban, tanpa tanggung jawab.

Sebentar-sebentar..

Sepertinya aku ingat sebuah pelukan..

Pelukan..

 

Ahaa.. Iya..

Aku terakhir tidur nyenyak saat berada di dalam pelukan.

 

Tapi…

Pelukan…??

Tiba-tiba aku malu sendiri mengingat pelukan siapa yang membuat tidurku begitu nyenyak malam itu. Membayangkan apa yang terjadi sebelum aku tertidur saat itu, membuat pipiku menghangat begitu saja. Samar-samar terlihat di cermin yang berada tak jauh dariku, bayangan wajahku. Pipiku tampak memerah terutama di bagian sekitar tulang pipi..

 

Ahhh..

Apa-apaan ini? Kenapa aku tiba-tiba jadi teringat dengannya?

 

Dug dug dug..

 

Mampu kurasakan jantungku berdetak cepat. Detaknya begitu cepat hingga membuat sesak dada ini. Kutekan dadaku kuat-kuat dengan tangan kananku. Berusaha kulawan perasaan aneh yang tiba-tiba menjalariku. Berusaha kuredam perasaan ini sekuat tenaga, tapi rasanya sia-sia belaka. Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku menjadi begitu berdebar-debar ketika mengingat nya, namja tampan berbadan indah nan perkasa itu?

 

Ahhhh…

Andweee…

Aku berpikir apa lagi sekarang? Tampan? Berbadan indah?? Perkasa???

Malunya aku dengan perasaanku sendiri. Cepat-cepat kuambil bantal yang ada didekatku dan kudekap erat sambil membenamkan kepalaku ke bantal tersebut. Masih dengan posisi terduduk bersandar pada sandaran tempat tidur, kuberusaha menenangkan diri dengan memeluk bantal itu erat-erat.

Kupeluk erat-erat , begitu erat, sangat erat hingga akhirnya..

Munculah sekelebat bayang-bayang Jung Yunho. Senyuman mautnya, suara seksinya, tatapan elangnya, sentuhan lembutnya, sikap ramahnya, perlakuan gentle nya, pelukan hangatnya, ciuman lihainya, cumbuan hebatnya, permainan luar biasanya, dan keperkasaannya…

 

Ahhhh…

Bagaimana ini?? Ini sama sekali tak membantu..

Kutegakan kembali kepalaku, kubuang bantal yang berada dalam dekapanku ke lantai. Percuma-percuma-percuma..

 

Sepertinya..

Sepertinya..

Sepertinya aku jatuh cinta padanyaa….

Huweee.. Bagaimana ini? Bagaimana aku bisa jatuh cinta padanya? Aku tak mengenalnya. Maksudku aku tahu siapa dia, tapi aku tidak mengetahui tentang dirinya dengan baik. Walau telah dua kali aku menghabiskan malam dengannya, bukan berarti aku mengenalnya. Dia benar-benar terasa bagai orang asing bagiku. Memang aku tahu semua informasi tentangnya, hingga ke hal-hal kecil bahkan hal-hal tak penting, seperti ukuran celana, ukuran kemeja, ukuran sepatu, tempat ia biasa meletakan ini dan itu. Tapi semua itu hanya sekedar informasi yang aku ketahui saat aku memata-matainya ketika akan mencuri darinya. Bagaimanapun juga dia adalah mantan korbanku.

 

Akupun kembali teringat dengan apa yang dia sampaikan malam itu. Ya, malam itu dia telah menyatakan cintanya padaku dan aku masih belum berniat menjawab pertanyaannya. Aku tak suka dengannya saat itu.

Tapi saat ini..

 

Ahhh…

Kim Jaejoong bodoh…

Bisa-bisanya aku jatuh cinta dengan mantan korbanku sendiri.

Benar-benar hati itu adalah bagian yang paling misterius dari seseorang. Lalu? Kalau memang benar aku mencintainya, aku harus berbuat apa sekarang? Haruskah aku mencarinya dan berkata,

‘Ya, Jung Yunho, aku mencintaimu. Jadi kita resmi pacaran kan sekarang’.

 

Atau..

“Saranghaeyo Jung Yunho aku mau jadi pacarmu..”

 

“Jung Yunho-ah.. Kau masih cinta padaku kan. Aku mau deh denganmu..”

 

Atau.. Atau..

‘Jung Yunho jadikan aku milikmu seutuhnya..’

 

Andwe andwe andwe…

Menjijikan..

Mana mungkin aku yang mencarinya dan bicara seperti itu.

 

Lalu apa yang harus aku lakukan???

Apaaa???

 

Tapii…

 

Cukup cukup cukup Kim Jaejoong, otakmu kian tak beres. Pagi-pagi kenapa sudah begitu tak beres seperti ini. Sudahlah.. Yang terpenting hari ini adalah pencurian kedelapanku. Yang lain hanya batu-batu kerikil yang menganggu langkahku. Termasuk si tukang mencuri hati orang, Jung Yunho. Benar-benar aku telah kecolongan, hatiku telah sukses hilang dicuri olehnya. Cerobohnya aku..

-oOo-

 

Setelah kurasakan kesadaranku benar-benar kembali, kubangkit dari tempat tidur nyamanku. Walau aksi ku akan kulakukan tepat tengah malam nanti seperti yang biasa aku lakukan,tapi ada beberapa persiapan final harus kulakukan terlebih dahulu. Pencurian kali ini adalah pencurian yang cukup berat, kalian tahu akan mencuri dimana aku tengah malam ini?

 

Mmmmm…

Tokyo..

Jepang..

 

Sesuatu yang gelap..

Kejam..

Keras..

Jahat..

Ganas..

Sadis..

 

Hmmmm… Menakutkan..

Ikon gengster yang terkenal dari negeri Matahari Terbit ini.

 

Kalian tahu?

Tahu?

 

Ya, benar..

Aku akan mencuri dari rumah boss gengster terkenal seantero bumi dengan kekejamannya, yaitu Yakuza.

Tapi itu semua tidak berpengaruh padaku. Vicious Jonquil tetaplah Vicious Jonquil yang dikenal sebagai penjahat bertangan dingin yang beraksi bagai angin. Siapapun lawannya Vicious Jonquil akan tetap seperti itu. Tak ada yang sulit di dunia ini bagi seorang Vicious Jonquil. Lihat saja kalau tidak percaya.

Akupun mulai bersiap diri. Kusiapkan diriku untuk menghadapi aksi ke-delapan ku. Beberapa alat-alat perlu pemeriksaan ulang, pengefixan lokasi, pengkajian, perubahan beberapa strategi yang disesuaikan, pematangan akhir dan berbagai hal lainnya. Inilah yang selalu aku kerjakan sebelum aku berangkat berperang. Perang untuk merebut the Ruby. Aku selalu bisa sukses mencuri The Ruby karena aku bekerja dengan sangat hati-hati dan teliti. Mana mungkin pencuri sembrono bisa terus melenggang bebas tanpa ada yang mengetahui identitasnya setelah di tasbihkan menjadi buronan internasional, kecuali aku.

The Ruby tenanglah.. Aku akan mendapatkan kau secepatnya. Kesembilan-sembilannya akan segera ada di tanganku dan aku akan berhenti dari dunia melelahkan ini. Satu hal yang perlu diingat, aku mencuri bukan untuk mencari kekayaan, bukan juga untuk mencari sensasi, ini hanya masalah pribadi yang tak perlu diketahui oleh siapapun, hingga saatnya tiba, semua pasti terungkap. Lagi-lagi, lihat saja!

-oOo-

 

[Yunho pov]

Aku tengah duduk manis menghadap kebun bunga di belakang rumah vilaku. Seperti kita tahu, bunga Jonquil tumbuh sangat subur disini, begitu putih bersih dan indah. Hari sudah pagi menjelang siang. Matahari sudah bersinar cukup tinggi tapi belum terasa menyengat. Silir semilir angin berhembus pelan, menyejukan hati yang tengah gundah. Burung-burung berkicauan, berkejar-kejaran kesana dan kemari, alunan pelan musik terdengar dari CD playerku, membuat suasana kian damai. Tepat seminggu setelah malam indah yang telah kulewati bersama dengan seorang namja yang tak kalah indah, Kim Jaejoong. Mengingat namanya saja sudah membuat hati berdebar. Kim.. Jaejoong.. Nama yang cantik, wajar jika empunya nama juga begitu cantik. Nama Kim berpadu dengan Jaejoong seperti mengisyaratkan kelembutan seorang yeoja, mengalun begitu lembut bak juntaian sutera nomer satu yang di berterbangan di angin-angin. Benar-benar sesuai dengan pribadinya.

 

Sesaat ku raih cangkir kopiku, kuseruput perlahan menikmati setiap tetes kopi yang melewati bibirku. Kopi ini terasa pahit, tapi nikmat. Hangat-hangat yang ditularkan kopi ini menyebar ke tubuhku. Sejenak kusadari angin nya terasa sedikit dingin. Ku naikan kerah mantel yang tengah kugunakan dan kurapatkan bagian depannya. Tapi bagaimana dengannya? Apakah dia juga merasa kedinginan? Ingin aku bisa memeluknya. Menyalurkan semua kehangatan yang mampu ku berikan. Andai dia disini saat ini, tak akan kubiarkan dia merasa kan dingin. Seumur hidup hanya memeluknya pun aku rela. Sungguh.. Dia terlalu berharga untuk tak dicintai dan dilindungi. Siapa pula yang sanggup menolak pesonanya. Sayangnya… Justru dia yang telah menolak pesonaku. Pesona seorang Jung Yunho yang agung dan sempurna begitu saja di tolaknya?? Sebetulnya dia memang jual mahal atau.. Aku memang yang tak pantas untuknya??

“Permisi Tuan..” Ucap ahjushi penjaga vila membuyarkan lamunanku.

“Nae ahjushi?” Tanyaku sambil menatapnya yang ternyata sudah berada di dekatku.

“Ini ada telepon buat Anda Tuan.” Ucapnya sambil menyerahkan gagang telepon padaku.

 

Kuraih gagang telepon itu dan kutempelkan di telingaku.

“Yabuseyo..” Ucapku pelan.

“Yabuseyo Tuan Jung.” Dalam mendengar satu kalimat, aku sudah mengenal suaranya. Ya, dia adalah asisten pribadiku.

“Sudah kau dapatkan informasi tentangnya?!” Tanyaku menghardiknya.

“M..ma..maaf Tuan.. Jejak nya kali ini sulit sekali kami lacak. Semua mata-mata dan orang suruhan belum memperoleh informasi apa-apa. Maafkan kam..” Belum selesai dia bicara.

“Berapa hari lagi dia akan melancarkan aksi kedelapannya?” Tanyaku pelan berusaha tenang.

“H..hha..hari.. ini Tuan..” Jawabnya terbata-bata.

“Hari ini?” Tanyaku masih bernada pelan.

“I..iy..iyaa Tuan..” Ucapnya ketakutan.

Beberapa saat aku terdiam. Berpikir. Mencerna apa yang asisten pribadiku katakan. Suasana tiba-tiba senyap saat itu juga. Kicauan burung tak lagi terdengar.. Hembusan angin terasa berhenti.. Musik yang kuputarpun terasa tak berbunyi. Semua begitu senyap. Aku terus diam, hingga akhirnya…

“BODOHHH!!!!” Pekikku dengan nada tinggi.

“Maafkan..” Belum selesai katanya.

“Kau pikir ini main-main?? Malam ini dia akan beraksi. Bagaimana bisa aku membiarkannya sendirian dalam bahaya. Aku harus melakukan sesuatu untuknya. Tapi bagaimana aku bisa melakukan sesuatu jika keberadaannya saja aku tidak tahu. Kau tahu dia akan melawan Yakuza. Yakuza yang terkenal dengan kekejaman, kejahatan, kesadisannya dan tega melakukan hal-hal mengerikan terhadap musuhnya. Bagaimana bisa aku membiarkan nya melawan itu semua??!! Haaa??!” Aku berteriak sekeras-kerasnya pada asisten pribadiku.

“Maafkan saya Tuan..” Ucapnya.

Emosiku benar-benar meledak saat ini. Tak bisa kubayangkan apa yang terjadi padanya jika dia harus melawan Yakuza sebanyak dan sejahat itu sendiri. Bayangan bayangan buruk begitu saja terkelebat di pikiranku.

 

Andwe..

Aku harus melakukan sesuatu untuknya. Aku sudah berjanji akan menjadi pelindungnya. Tak akan kubiarkan dia menempuh bahaya itu sendiri. Tak akan. Aku harus melakukan sesuatu. Ya harus.. Harus.. Karena akulah pelindungnya untuk saat ini dan selamanya.

“Gunakan sisa waktu yang ada untuk terus mencari keberadaannya. Aku ingin bertemu dengannya sebelum dia memulai aksinya. Kali ini kuberi kau kesempatan terakhir. Jika mencari seorang saja kau tak becus, kau tak pantas bekerja lagi untukku. Karena jika kali ini kau gagal dan terjadi apa-apa dengannya, kau akan sangat menyesalinya. A-ra-sho?” Tanyaku berusaha lebih tenang tapi tetap terkesan tegas.

“Terima kasih banyak atas kesempatan yang Tuan berikan, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menemukannya. Saya akan kerahkan semuanya. Saya berjanji akan menemukannya sebelum terlambat Tuan. Sekali lagi saya minta maaf Tuan.” Jawabnya dan kemudian kututup kembali telepon darinya.

Bagaimana bisa dia mengabarkan hal sepenting ini hanya melalui telepon. Aku tahu dia berada di Tokyo saat ini, lalu kenapa dia tak datang kemari ke Yokohama. Dasar asisten tidak tahu diri. Aku tahu dia pasti takut bertemu denganku jika melaporkan sesuatu yang buruk. Aku harap dia benar-benar menepati kata-katanya untuk menemukannya. Hanya dia harapanku satu-satunya. Jika disaat kepolisian, interpol dan militer baru mengetahui keberadaannya, aku sudah dulu bisa bertemu dengannya, itu semua berkat dia. Diapun sudah berkali-kali berhasil melacak keberadaan musuh-musuh ku atau rekan-rekan kerjaku yang berbuat curang padaku dengan mudahnya. Sebetulnya kerja asisten pribadiku ini sangatlah baik. Kemampuannya jauh melebihi asisten pribadi lainnya, bahkan bisa dikatakan melebihi para intel itu. Tapi memang Kim Jaejoonglah yang terlalu sulit untuk diraba keberadaannya.

Kim Jaejoong.. Kim Jaejoong..

Aku tersenyum kecil..

Disaat seperti ini, aku masih bisa tersenyum ketika mengingatmu..

 

“Permisi Tuan..” Ucap ahjsuhi yang ternyata sedari tadi berdiri di sebelahku.

“Ohh.. Maaf kalau ahjushi harus mendengar teriakanku. Maaf..” Sahutku teringat bahwa ahjushilah yang banyak merawatku di saat aku kecil.

Kedua orang tuaku terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka hingga tak banyak waktu untuk melaksanakan tanggung jawabnya sebagai orang tua pada ku, anak tunggalnya. Mereka lebih memilih menyerahkanku pada keluarga asing yang sekiranya mau merawatku. Merawat Yunho kecil bukan perkara mudah. Aku dulu begitu nakal.. Amat sangat nakal.. Saat itu aku berpikir, aku adalah anak kaya raya, aku bisa melakukan segalanya, semauku, seenak hatiku. Ahjushi lah yang banyak mendidikku. Dialah yang membekali ku dengan ajaran-ajaran baik, seperti harus giat dalam belajar dan bekerja, kedisplinan, ketelitian, sopan santun, dan banyak ajaran-ajaran hidup lainnya yang tak mungkin diberikan kedua orang tuaku.

 

“Tidak apa-apa Tuan. Saya sudah mengenal Anda dengan sangat baik.” Jawabnya lembut.

“Ada apa ahjushi?” Tanyaku padanya.

“Ini ada sepucuk surat untuk Tuan.” Ucapnya sambil menyerahkan surat itu padaku.

“Dari siapa ahjushi?” Tanyaku.

“Entahlah Tuan. Tak ada nama dan alamatnya. Bahkan tak ada perangko nya. Seperti si pengirim surat meletakan sendiri suratnya di kotak surat di depan.” Ucapnya sambil aku meraih surat itu dari tangannya.

“Benarkah? Aneh..” Kataku.

“Baiklah kalau begitu saya undur diri Tuan. Jika perlu sesuatu, saya ada di rumah sebelah.” Ucapnya sambil beranjak pergi.

Ketika ahjushi sudah pergi meninggalkanku di teras belakang vilaku ini, kembali kulihat sepucuk surat aneh yang dikirimkan padaku itu. Siapa gerangan yang mengirimkan? Apakah isinya? Kenapa dia tak mencantumkan apa-apa di bagian amplopnya? Pentingkah ini? Aneh..

Perlahan kubuka amplop surat itu. Kukeluarkan kertas yang ada di dalamnya. Kubuka dan kemudian kubaca dengan seksama apa yang tertera di dalamnya.

..

..

..

Ya Tuhan..

Surat ini….

..

-oOo-

Malam harinya…

 

[Jaejoong pov]

Aku berada di depan kerajaan kediaman pemimpin Yakuza. Kediaman ini mengadaptasi rumah-rumah bangsawan Jepang di masa lampau. Dengan halaman yang luas, dan terdiri dari beberapa bangunan kecil yang berpusat pada sebuah bangunan besar. Bergidik rasanya ketika melihat sebuah patung besar berwajah seram berada di depan gerbang masuk mereka. Walau keberadaanku saat ini tidaklah terlalu dekat dengan gerbang masuk, tapi bisa dengan jelas kulihat ekspresi jahat dari patung itu dari teropong ku.

Aku tengah berdiri di rooftop sebuah apartemen yang berjarak beberapa rumah dari kerajaan mereka. Bisa kulihat beberapa penjaga berpenampilan seram memanggul senjata di dekat gerbang masuk. Bagaimana bisa di sebuah negara damai seperti jepang ada orang-orang seram yang begitu bebas memanggul senjata?? Sejauh penglihatanku tak banyak penjaga yang melakukan patroli. Hanya beberapa di gerbang masuk, beberapa di dekat pintu utama, dan beberapa di pos induk. Tak mungkin gengster kejam yang banyak musuh seperti mereka, penjagaannya bisa begitu lenggang. Pasti ada apa-apanya disana. Mereka juga tahu kalau malam ini aku beraksi. Mana mungkin mereka begitu tenang dan melakukan pengamanan secara minimalis. Mereka tak sebodoh itu. Aku yakin di antara rumput-rumput di halamannya itu ada sensor gerak nya. Aku pernah mendengar tentang teknologi pengaman itu. Hanya para penjaga yang tahu spot-spot sensor itu,sehingga mereka tak akan mengenainya sendiri. Jadi ketika ada seseorang asing yang menginjak rumput itu, gerakannya akan terekam sinar infrared dan sinyalnya akan dikirim ke pusat sehingga semua alarm akan berbunyi. Kalau aku masuk dengan cara mengendap-endap seperti biasa maka sama saja aku bunuh diri. Sayangnya aku pintar. Vicious Jonquil memang pintar. Ku sentuh sebuah tombol tersembunyi dari arlojiku. Kubidik posisi yang tepat, kutekan sebuah tombol lain dan meluncurlah sebuah tali baja tipis yang panjangnya bisa bermil-mil. Tali baja itu terus menghunus udara menembus angin dan menghunjam tembok bangunan utama tepat di atas sebuah jendela. Kemudian kukaitkan ujung tali baja yang satunya dengan sebuah poros yang terpasang pada tiang. Kugoyangkan sedikit, memastikan tali itu cukup kuat untuk menyangga tubuhku. Ku ambil sebuah besi peluncur dari dalam tas yang biasa kubawa-bawa di setiap aksiku. Kukenakan sarung tanganku dan ku gantung besi peluncur itu pada tali baja itu.  Siap sudah aku untuk meluncur masuk ke dalam kerajaan Yakuza itu.

Aku berdiri di pinggir gedung dengan memastikan sekali lagi tali baja ini kuat.

 

1… 2…. 3….

 

Meluncurlah aku memecah kekelaman malam..

Aku meluncur dengan kecepatan yang cukup cepat, layaknya seseorang yang sedang menaiki mobil balap. Sekitar lima detik sebelum aku menghantam kaca jendela. Kutekan tombol yang berada di ujung peluncur besi yang aku pegang saat ini. Tombol itulah yang akan memicu semacam sensor pengaktif alarm, yang mengakibatkan semua alarm yang ada di tempat ini menyala. Ketika alarm berbunyi meraum-raum bertepatanlah dengan aku yang menghantam kaca jendela dengan cukup keras yang mengakibatkan kaca itu pecah berhamburan.

 

PRANKKKK….

Suara berisik dari kaca jendela itu tak terdengar karena terlalu bisingnya suara alarm-alarm itu.

 

Jatuhlah aku tepat di lantai di dekat jendela itu. Terasa sedikit sakit pada bagian lutut dan pergelangan tanganku. Pendaratanku benar-benar secara kasar dan menyakitkan. Cara masuk yang paling bodoh yang pernah kulakukan. Tapi mau bagaimana lagi, ini satu-satunya cara yang bisa aku lakukan untuk menembus keamanan kediaman pemimpin Yakuza yang luar biasa.

Cepat-cepat aku bangkit dan mengambil senjataku, bersiaga aku kalau ternyata ada penjaga yang mengetahui keberadaanku. Kulihat sekelilingku dengan sangat cermat.

 

Tak ada…

Tak ada..

Tak ada  siapa-siapa???

Dimana penjaga-penjaga itu?

 

Kenapa gedung utama tempat the Ruby disimpan bisa begitu kosong, tanpa penjagaan extra. Atau the Ruby sudah dipindahkan. Tapi tidakk… Aku yakin the Ruby memang disimpan di sini. Yakin sekali..

Ada sedikit perasaan curiga di hatiku.

Tapi berusaha kutepis jauh-jauh perasaan itu.

 

Dengan masih bersiaga tingkat tinggi kelewati lorong-lorong gedung itu. Kuberjalan dengan langkah pasti menuju pusat ruangan itu. Terlalu sepi..

Disini terlalu sepi..

Terlalu hening..

Aku dengar orang-orang diluar sana tengah sibuk dengan bunyi alarm itu.

Tapi kenapa dengan ruangan ini.

Mengapa semuanya terlalu sepi.

Aku melangkah terus hingga tibalah di depan sebuah lukisan tiruan Monalisa raksasa terpajang di salah satu sisi dinding. Tepat di belakang lukisan ini terdapat brankas yang bersisi The Ruby.

Kenapa begitu mudah aku bisa mendapatkan barang ini?

Kenapa?

 

Kembali kuamati sekitarku. Kuamati bayang-bayangku sendiri. Kulempar pandanganku keseluruh ruangan. Tak ada.. Tak ada tanda-tanda kehadiran para penjaga. Kembali kuamati lukisan itu.

Kuambil alat pendeteksi laser. Kusisir seluruh bagian lukisan itu. Sepertinya tak ada laser sensor di permukaannya. Aku juga yakin tak ada juga jebakan-jebakan yang ada di balik lukisan itu. Berkali-kali aku mengintai lukisan ini, hasilnya sama, lukisan ini memang tidak dilindungi jebakan atau apapun itu.  Lalu mengapa semuanya begitu mudahh??

Aku memukul-mukulkan tanganku ke lukisan itu.

Mana nilai estetika nya kalau semua nya begitu mudah…?!

 

Hahh!!

Ada niatan untuk batal mencuri the Ruby malam ini. Tapii..

Akan lebih sulit jika aku harus mengulangi pencurian ini dari awal. Andai waktu ku tak mendesak. Andai aku tak sedang mengejar waktu. Andai masih banyak waktu tersisa untukku. Tentu aku akan mencari kesempatan lain untuk mencuri the Ruby. Tapi sayang tak banyak waktu yang tersisa. Bukan lagi waktuku untuk main-main.

Cepat-cepat kutekan tombol tersebunyi yang ada di dalam lukisan itu. Seketika ada suara mesin berderu. Terbelahlah lukisan itu ke kanan dan ke kiri. Terlihat brangkas dari balik lukisan itu. Kuambil alat pelacak sandi. Kusambungkan alat pelacak sandi ini dengan kunci yang berada pada brangkas itu dan dalam waktu cepat tanpa aku perlu menyentuhnya, brangkas itu sudah ter-unlock dengan sendirinya.

 

KREK..

 

Terbukalah sudah brangkas itu. Kutarik handle nya dan bisa kulihat sebuah display yang memeragakan the Ruby dengan warna merah sexy berkilat-kilat itu.

Lagi-lagi aku berdecak kagum dibuatnya.

Benar-benar indah. Padahal ini bukan pertama kalinya aku melihat the Ruby. Bahkan tujuh dari Sembilan the Ruby sudah berada dalam genggamanku. Tapi entah mengapa aku masih saja terpukau silau dengan kemewahan kalung bertahta batu ruby merah ini.

Kuambil kalung itu dengan sangat hati-hati. Kukecup tepat pada bagian liontinya. Kukecup dengan lembut layaknya seorang ibu yang mengecup kening anak kesayangannya.

 

Come to me the Ruby…

 

Tersenyum aku dibuatnya.

Setelah kukembali mendapatkan kesadaranku, cepat-cepat kukenakan kalung itu di leherku. Sekilas kutatap wajahku pada pintu brangkas yang memantulkan bayanganku itu.

The Ruby memang benar-benar indah. Apalagi jika aku yang mengenakan.

 

Ahh…

Ada apa aku ini?? Bisa-bisa aku sempat berkaca seperti sekarang. Aku harus keluar dari istana menakutkan ini secepat mungkin yang aku bisa.

Kuambil alat-alatku yang sempat tergeletak di lantai. Kumasuk-masukan semua ke dalam tas yang biasa kubawa ini. Dengan langkah setengah berlari aku menuju pintu keluar ruangan itu. Kutarik gagang pintu hendak kubuka. Sedetik sebelum pintu terbuka aku sudah mendapat sebuah firasat buruk..

Jangan-jangan…

 

Waktu terasa melambat saat itu. Aku setengah menahan nafas. Udara terasa menyesakan disekitarku.

Dan ternyata..

Ketika pintu itu benar-benar terbuka, betapa terkejutnya aku ternyata…..

 

DEG!!!

 

“Selamat malam Vicious Jonquil…”

Aku terdiam, kaku, terkejut, tak mampu bergerak, bahkan tak mampu berpikir.

Aku tengah dikepung.. Benar-benar dikepung. Puluhan penjaga berbadan besar, berwajah garang, berperangai jahat, menantiku keluar ruangan sedari tadi. Mereka memanggul senjata mereka dan membidikan laser bidik ke tubuhku. Kulihat pemimpin Yakuza tengah berdiri di antara mereka, tersenyum sinis kepadaku.

 

Mati aku..

Benar-benar mati..

Apa yang harus aku lakukan??

Bergerak sedikitpun pasti sudah mati aku tertembak oleh mereka.

Aku benar-benar dalam bahaya..

Kuberusaha berpikir keras mencari jalan untuk kabur dari mereka. Tapi…

 

Tapi…

Tapi apa???

 

Mati aku..

 

TBC

 

Gimana reader?? skill menulisku lama ga diasah jadinya ya tambah ancur aja ya?😦

Komen nya ya reader tercintaaa..

Gimana akhirnya nasib JJ? Apakah dia akan selamat? Atau dia akan jadi santapan para Yakuza? Nantikan lanjutannya ya sesuai jadwal.. ^^

Oya jangan lupa follow @fanficyunjae , ada aku juga disana sbg adminnya.. hehe~

Jeongmal gomawoyo buat komen dan waktu nya untuk ngunjungin ff ku ini.

Luph u all readerdeul.. :*

Yunjae is Real!

-Beth-

22 thoughts on “Vicious Jonquil 3 – The Mystery of Heart – Part 1 | @beth91191

  1. akhir ny stlah pnantian lm,ne ff dtang jg hehe
    thank eon beth bt post ny!:)
    eh yunppa d mn dremu,ktny mau jd plindung jaemma spnjang msa??
    Surt dre spa tu,kkash glap y appa?#d jitak jaemma

  2. GANASSSSSSSSSSSSS~~~~

    akhrny nie epep apdet jg….mpe lumutan lho aq nnggu…kekeke

    gaya penulisanny kerrrreeeennnn….suka bgt deh…
    critany dpet bgt…
    nie epep bneran ganasssssss….

  3. GANASSSSSSSSSSSSS~~~~

    akhrny nie epep apdet jg….mpe lumutan lho aq nnggu…kekeke

    gaya penulisanny kerrrreeeennnn….suka bgt deh…
    critany dpet bgt…
    nie epep bneran ganasssssss……

  4. aaahhh,,tegang sumpahhh,,akhirna bs bc epep lg stlh un,,,iiissshhh yundad hrs slametn jaemom,,,emm chap dpn d protect??ehh,,knp oneshoot??,,rajin apdet y mbk admin??kyana fanficyj nie rda sepi,,, semangatt!!AKTF

  5. huuuhhhhh asli deg2an baca chap ini u,u
    Kalo aq blh blng, kemampuan beth untuk mendiskripsikan ketegangan jj benar2 bagus. Aq sampai ikut2an tegang waktu tw jj udh dikepung….

  6. annyeong yarobunn….
    nensi inmida…
    wah vicious jonquil udah ada lagi,,,
    hiks hiks hiks tapi ga nc*gpp yg penting tetep yunjae…
    oh ya..
    author DAEBAKK, PINTER, YEOPO, walaupun aku belum cukup umur tetep boleh baca kan?? *ketipin mata ting ting…
    ini bagusss banget…
    I like it…
    neomu neomu jhoahe….

  7. yaak astagaaaa deg2an!! kerenceritanya! aku suka bgt thor! bener2! dari kemaren baca pasti begini, ikut2an spot jantung!😀

  8. Jaema.,
    akhirnya dikau ngaku jga lgy jatuh cinta ama yunppa…:D
    OMG, gmana nih…
    jaema kok sampe terkepung gtu…
    yakuzanya knapa gk bsa dibohongin sih..,
    ayo yunppa selametin jaema….

  9. Ummaaa…bisa”nya ýª gak kosen gitu??
    Dag-dig-dug!! Di buat’a!!

    Ƙyπγª umma ųϑªђ jatuh cinta sam̶̲̅α̇ appa!!
    APpa dapat surat dari cp tuuuh??? Mungkin dari umma x ýª…umma ngasih jawaban ke appa?!

    Mana…mana…appa?? Kata’a mau jadi pelindung’a umma…
    Appa…ppali…ppali…tolongin umma!!

    Author Beth memang daebaak!!! Jjang!!!

  10. akhirny q kembali gi.. saatnya baca fanfic yang belum beres dan yang baru keluar.. tu jae akhirny jatuh cinta ma yunho.. ah… jae ketahuan.. gmn cara jae keluar dari sana??

  11. Emaaakkkk ketawan ƪ‎​​‎​(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)Ʃ
    Yunpa slmetin jaemaaaaaa donkkkkk

  12. ecieeeee umma gak mw ngaku ama perasaanya sndri
    malu2 kucing hhahhaha
    hoho obsesi jung eoh,
    appa kya’y bneran kepelet sma jae

  13. Eh, itu umma ktauan yaa??
    Wduh,, alamat ketangkep dong,, yunpaaa cpetan dtang,,,
    .
    Cieee, umaa inget sma yunpa mulu😉
    Jdi gk sbar nunggu yunjae jdian😀
    .
    Keep writing author ^^

  14. sial banget kali ini. .
    biasanya ngadalin sekarang di kadalin. .

    gimana ini cara kaburnya ?
    pinjem jubah harry potter aja. .
    #gubrak

    semoga yunpa cepet dateng. .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s