Vicious Jonquil 3 – The Mystery of Heart – Part 2 | @beth91191


Annyeonghaseyo..

ini dia lanjutannya VJ3. Udah penasarankah akhirnya gimana nasib Jae?

Langsung aja baca yah..

^^

VICIOUS JONQUIL 3 – YUNJAE

 The Mystery of Heart

Title        : Vicious Jonquil

Author   : Beth

Chapter : one shoot PART 2

Genre    : Romance, Action, Yaoi

IRate       : T

 

Vicious Jonquil 3 – The Mystery of Heart

 

===Sebelumnya===

[Jaejoong pov]

 

Setelah kukembali mendapatkan kesadaranku, cepat-cepat kukenakan kalung itu di leherku. Sekilas kutatap wajahku pada pintu brangkas yang memantulkan bayanganku itu.

The Ruby memang benar-benar indah. Apalagi jika aku yang mengenakan.

Ahh…

Ada apa aku ini?? Bisa-bisa aku sempat berkaca seperti sekarang. Aku harus keluar dari istana menakutkan ini secepat mungkin yang aku bisa.

Kuambil alat-alatku yang sempat tergeletak di lantai. Kumasuk-masukan semua ke dalam tas yang biasa kubawa ini. Dengan langkah setengah berlari aku menuju pintu keluar ruangan itu. Kutarik gagang pintu hendak kubuka. Sedetik sebelum pintu terbuka aku sudah mendapat sebuah firasat buruk..

Jangan-jangan…

Waktu terasa melambat saat itu. Aku setengah menahan nafas. Udara terasa menyesakan disekitarku.

Dan ternyata..

Ketika pintu itu benar-benar terbuka, betapa terkejutnya aku ternyata…..

DEG!!!

“Selamat malam Vicious Jonquil…”

Aku terdiam, kaku, terkejut, tak mampu bergerak, bahkan tak mampu berpikir.

Aku tengah dikepung.. Benar-benar dikepung. Puluhan penjaga berbadan besar, berwajah garang, berperangai jahat, menantiku keluar ruangan sedari tadi. Mereka memanggul senjata mereka dan membidikan laser ke tubuhku. Kulihat pemimpin Yakuza tengah berdiri di antara mereka, tersenyum sinis kepadaku.

Mati aku..

Benar-benar mati..

Apa yang harus aku lakukan??

Bergerak sedikitpun pasti sudah mati aku tertembak oleh mereka.

Aku benar-benar dalam bahaya..

Kuberusaha berpikir keras mencari jalan untuk kabur dari mereka. Tapi…

Tapi…

Tapi apa???

Mati aku..

-oOo-

 

 

[Author pov]

“Apa kabar Vicious Jonquil..” ucap boss Yakuza pada Jaejoong dengan sebuah senyum sinis di bibirnya.

Selama beberapa detik Jaejoong membeku, dia bingung harus berbuat apa. Tiba-tiba otaknya menjadi begitu kosong.

“Baik.. Sangat baik..” ucap Jaejoong singkat.

“Kau ternyata tak sepintar dugaanku ya? Begitu mudahnya kau tertangkap..” ucap boss Yakuza itu sambil berjalan perlahan mendekati Jaejoong.

Para penjaga masih tetap bersiaga dengan senjatanya masing-masing. Membidik tubuh Jaejoong, bersiap menembak jikalau ada perlawanan.

Sang boss Yakuza pun memberi kode pada anak buahnya. Terlihat beberapa anak buahnya mendekati Jaejoong dan merampas tas yang tengah dibawa Jaejoong. Namun saat salah seorangnya hendak menarik paksa the Ruby dari leher Jaejoong, boss Yakuza itu langsung bereaksi.

“Jangan kau sentuh kalung itu dengan kotor mu!” ucap boss Yakuza dengan suara menggema, membuat seluruh penjaga terdiam.

“Maafkan saya.” Ucap penjaga membatalkan diri menarik the Ruby itu.

“Biar aku sendiri yang mengambil barang berharga itu.” Ucap boss Yakuza dengan semakin mendekat pada Jaejoong.

Selangkah demi selangkah didekatinya tubuh pria kecil yang tidak ada sedikitpun muncul perasaan takut diwajahnya. Awal mulanya dia memang merasa sedikit terkejut, tapi dia sama sekali tak merasa takut. Otaknya tengah berpikir keras apa yang bisa dia lakukan untuk kabur dari tempat ini. Semua orang tahu, siapapun musuh yang jatuh di tangan Yakuza akan berakhir tragis. Mengingat Yakuza akan sangat tega melakukan apapun pada musuh-musuhnya itu. Tentu dia tak ingin hal itu berakhir padanya.  Sambil dia berpikir, dia terus menatap berani pada boss Yakuza itu.

Boss itu sudah berumur setengah baya, namun masih terlihat jantan dan kekar, tubuhnya tinggi besar dan wajahnya serius menyeramkan dengan sebuah tato besar menghiasi lehernya. Perangainya tampak tenang namun membuat orang bergidik. Tatapan mata nya benar-benar ganas. Layaknya seorang singa yang siap menerkam apapun yang ada didepannya. Didekatinya terus Jaejoong sedikit sedikit demi sedikit, hingga ia kini tengah tepat berada di depan Jaejoong.

Dimajukannya tangannya hendak mengambil kalung itu, ketika hendak diraihnya kalung itu tangannya berhenti sesaat, berpindah haluan menuju pipi Jaejoong. Dibelainya perlahan pipi putih merona itu. Dibelainya lembut seakan-akan membelai pipi seorang kekasih. Pemimpin Yakuza itu tersenyum menggoda pada Jaejoong dan Jaejoong hanya bisa terkejut dibuatnya.

Bagaimana bisa seorang boss Yakuza terang-terangan menggodanya seperti ini?

Jaejoong masih saja terdiam dan memandang berani pada sesosok kejam yang ada di depannya itu.

“Kau tahu Vicious Jonquil, kau berada di bawah ekspetasiku. Tak menyangka aku seorang Vicious Jonquil, seorang pria Asia yang rupawan. Ah tidak, kau cenderung cantik. Tahukah kau hal itu? Kau begitu cantik..” tanyanya sambil sedikit mendekatkan kepalanya ke arah Jaejoong agar dapat melihat wajahnya lebih jelas lagi.

“Aku tak mengerti apa yang kau katakan, Tuan Takeshi Kaneshiro.” Jawab Jaejoong lantang.

“Kau tak mengerti apa, cantik?” Tanya nya lagi.

“Kata-katamu itu. Kau sedang menggodaku hah?” Tanya Jaejoong berani.

“Hahahaha…” sejenak Takeshi tertawa dengan kerasnya, suaranya membahana memenuhi ruangan. “Kau sepertinya lebih cerdas di banding dugaanku Cantik..” ucapnya lagi sambil merengkuh leher Jaejoong.“Kau tahu kan kalau siapapun yang berani mencari masalah dengan kami, akan berakhir bagaimana?” tanyanya lagi.

“Tentu, otak busuk dan ketidak warasan kalian dalam menyiksa musuh kalian sudah tersebar hingga keseluruh dunia.” Jawab Jaejoong sambil tak berkurang sedikitpun keberaniannya.

“Kau benar-benar cerdas Vicious Jonquil, dan tak tahukah kau sekarang akan mengalami situasi yang kau katakan itu? Tak takutkah kau?” Tanya Takeshi sambil setengah berbisik di telinga Jaejoong.

“Untuk apa aku takut? Vicious Jonquil tak takut apapun. Bunuh saja aku jika kau mau.” Ucap Jaejoong sedikit bergetar. Sekuat apapun dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia berani, tapi bagaimanapun juga seseorang pasti akan merasa ketakutan ketika harus berhadapan dengan mereka. Lebih baik dia mati daripada harus tertangkap seperti ini.

“Hahaha… Kau benar-benar berani. Sekilas kudengar ketakutan terselebung dalam kata-katamu. Kau pasti takut, cantik. Tapi tenanglah, kau tak perlu berakhir di kursi listrik atau meja pancung. Ahhh tidak, itu terlalu ekstrim. Setidaknya kau tak perlu berakhir di ruang penyiksaan. Kau tak perlu merasakan sakit sedikitpun. Bahkan tak akan kubiarkan sehelai rambutmu terlepas. Asal kau bersedia menjadi milikku, peliharaanku.” Ucapnya sambil membelai-belai wajah dan rambut Jaejoong.

Jaejoong terdiam. Dia berpikir , tak tahu harus berkata apa.

“Bagaimana cantik? Tawaran ini sangat bagus untukmu. Tubuh lembutmu ini tak perlu berhiaskan luka cambukan, kulit putihmu tak perlu berhiaskan lebam-lebam dan bercak darah, bibir merahmu ini tak perlu mengaduh meringis merintih kesakitan, dan lagi mata indahmu tak perlu sampai meneteskan airmata memohon ampun.” Ucapnya sambil tangannya menyusuri tubuh Jaejoong dengan sangat perlahan. Memanjakan tangannya dengan menyentuh tubuh pria cantik yang ada di depannya itu.

“Bunuh aku jika kau mau, siksa aku jika kau ingin. Aku tak peduli. Aku tak mau menyerahkan tubuhku untukmu. Dan satu lagi aku tak pernah dan tak akan pernah takut padamu.” Ucap Jaejoong yang membuat Takeshi terperangah.

Mendengar jawaban itu, tiba-iba..

“Apa??! Kau menolakku??!!” ucap Takeshi geram sambil mencengkeram dagu Jaejoong. Sedetik dua detik ia tak sanggup mengontrol emosinya. Betapa emosinya dia ditolak mentah-mentah di depan anak buahnya seperti ini. Seorang boss mafia yang terkenal seantero dunia ditolak mentah-mentah seperti ini?

Tak berapa lama ia berhasil memperoleh ketenangannya,“Kelihatannya kau benar-benar berani padaku,, Hahaha.. Luar Biasa. Aku jadi makin tertarik padamu. Tak akan ku biarkan pria secantik dirimu terluka. Walau kau tak bersedia, aku akan tetap memaksa. Aku akan menjadikan kau milikku seutuhnya dengan atau tanpa persetujuanmu. KAU TAHU?!” ucapnya sambil masih mencengkeram dagu Jaejoong erat.

Sebelum Jaejoong sempat menjawab, “Penjaga, cepat bawa dia ke kamarku! Aku ingin menikmati tubuh indahnya malam ini juga!” ucap Takeshi pada anak buahnya.

“Baik Tuan!” sahut anak-anak buahnya.

Mereka segera memegangi tangan Jaejoong membawanya menuju tempat yang Tuan mereka perintahkan. Jaejoong sangat terlihat tenang, tak ada usaha untuk melarikan diri. Walau sesungguhnya dia sama sekali tak ingin menjadi peliharaan boss Yakuza ini., Harusnya hal ini jauh lebih baik daripada berakhir di ruang penyiksaan atau di meja pancung, tapi tetap saja, ia tak ingin menyerahkan tubuhnya untuk lelaki bejat menjijikan itu.

-oOo-

[Jaejoong pov]

Aku tengah terduduk di atas tempat tidur king size hanya dengan menggunakan selembar bathrobe dan the Ruby melingkar indah di leherku. Tangan kananku terikat di pinggiran tempat tidur. Tak mampu bergerak banyak apalagi melarikan diri. Aku menatap sekitar dengan perasaan sedikit gelisah. Ada rasa menyesal di hati. Tak mengerti menyesal pada hal apa. Seharusnya persiapanku sudah sangat matang, dan tak ada cacat sedikitpun. Lalu mengapa sekarang aku bisa terperangkap disini?

Kulihat jam sudah menunjukan pukul tiga pagi. Aku menatap bayang-bayangku dengan perasaan galau. Apa yang akan terjadi denganku sebentar lagi? Apakah aku hanya bisa diam menerima takdir dan tak berbuat apa-apa? Aku tak mungkin menyerahkan tubuhku untuknya, tapi aku juga tak memiliki pilihan lain. Andai ada pilihan harus disiksa atau mungkin dibunuh, aku akan lebih memilih itu. Tapi sayangnya, kesempatan seburuk itupun tidak kudapatkan. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?

Kudengar pintu kamar itu berderit. Sedikit demi sedikit pintu terbuka. Aku mengintip-intip dari balik bulu mataku.

“Kau sudah siap cantik?” ucap seseorang yang muncul dari balik pintu membuatku sedikit terkejut.

Takeshi memasuki kamar dengan senyum-senyum merekah di bibirnya. Andai aku bisa membaca pikiran orang, sudah pasti kalau isi dari seluruh pikirannya saat ini adalah busuk dan sampah.

“Siap apa maksudmu? Siap membunuhmu?” sergahku cepat.

“Wowowowww… Kau agresif sekali sayang… Aku jadi makin penasaran..” ucapnya sambil berjalan ke arahku perlahan.

“Kenapa kau tak serahkan saja aku ke kepolisian internasional, biar aku membusuk di penjara. Itu kan yang harusnya kau lakukan.” Ucapku.

“Buat apa membiarkanmu membusuk dipenjara?? Akan lebih baik jika kau membusuk disini di istanaku menjadi milikku bukan?” jawabnya ketika sudah berada di depanku.

“Cuihhh…” aku meludah di depannya.

Seketika itu juga ekspresinya berubah marah. Benar-benar marah. Di cengkeramnya rahangku dengan kuatnya dengan tangan kirinya. Ditatapnya mataku dengan murkanya.

“Kau berani denganku??” tanyanya dengan suara berat.

“Cuihhh…” kembali kuludahi dia tapi kini tepat diwajahnya.

PLAKKK!!!

“F*cking Bitch!!” ditamparnya wajahku dengan sangat keras hingga tubuhku terlempar ke samping.

Tanganku yang sedang terikat di pinggiran tempat tidur, terasa sedikit sakit, karena tertarik ketika aku terlempar ke samping ini.

“Ahhh….” Aku mengaduh pelan.

“Kau tahu aku siapa??!” Tanya nya sambil menjambak paksa rambutku dan membuatku kembali terduduk.

“Aku tahu dan aku tak takut..” ucapku masih berusaha menutupi ketakutanku.

Tangannya bergetar hebat, hendak menamparku lagi untuk kedua kalinya. Kupejamkan mataku tak berani melihat apa yang akan terjadi lagi pada pipiku yang saat ini masih terasa panas ini.

“Kau….” Ucapnya belum selesai..

Aku menunggu, bersiap diri kalau-kalau dia akan menampar pipirku lagi. Pasti akan terasa sakit, tapi aku sama sekali tak takut.

Ku menunggu,,

Menunggu,,

Mana??

Selama beberapa detik aku menantinya menamparku.

Tapi mana??

Tak kurasakan apa yang aku bayangkan.

Kubuka mataku perlahan dan betapa berdegup kencangnya jantungku ketika menyadari dia mulai mendekati wajahnya ke arah wajahku.

Di raihnya leherku dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya berusaha memegangi tanganku yang tak terikat. Aku tak mampu bergerak lagi. Aku tak mampu mengelak.

Didekatkannya bibirnya hendak mengecup bibirku.

Andwe!

Andwe!

Andwe!

Tak mau aku menyerahkan bahkan hanya bibirku untuknya..

Bagaimana ini?!

Tiba-tiba..

-oOo-

(Author pov)

TUING… TUING.. TUING…

Alarm istana ini berbunyi dengan kerasnya. Meraum-raum memecah malam.

“Ada apa ini?? Ada apa???’ serunya sambil melepaskan tangannya dari kepalaku.

Kulihat dia tampak semakin geram karena bunyi alarm itu benar-benar merusak moodnya malam ini.

“Penjaga… Penjaga…. Ada apa ini???” serunya memanggil para penjaganya.

Disaat para para penjaga masih terkejut dengan suara alarm itu diluar sana, mereka dikejutkan dengan hal lainnya, secara tak disangka-sangka..

PRANKKK,,,

Kaca jendela kamar itu pecah berkeping-keping ketika beberapa orang berpakaian serba hitam bak Interpol-interpol masuk secara tiba-tiba dengan cara persis dengan cara Jaejoong masuk ke rumah ini.

Mereka mendarat di lantai dan langsung bersiaga dengan senjata mereka.

“Angkat tangan!!” ucap mereka orang-orang berseragam serba hitam yang berjumlah hampir sepuluh orang itu.

“Siapa kalian??” Tanya Takeshi dengan wajah murka yang begitu ketara di wajahnya.

“Menangkap Vicious Jonquil adalah wewenang kami, tak seharusnya kau menawannya seperti ini..” jawab salah satunya

“Jadi kalian Interpol? Hahh.. Siapa yang cari masalah dengan Yakuza tak mungkin begitu saja lepas dari tangan kami.” Sahut Takeshi.

“Maafkan kami Tuan Kaneshiro. Vicious Jonquil harus kami bawa.” Ucap salah satunya lagi sambil mulai mendekati Jaejoong dan memutuskan tali yang mengikat tangannya dengan menggunakan pisau.

“Hey.. Kalian tak dapat melakukannya..” ucap Takeshi sambil berusaha mencegah. Tapi para pria berpakaian hitam lainnya berusaha menghalanginya dengan mengarahkan senjata kepada pimpinan Yakuza itu.

“Maaf, Tuan, kami tak ingin menyakiti Anda. Tapi jika Anda terus menghalangi kami membawa Vicious Jonquil, jangan salahkan kami kalau kami bisa membuat Anda terluka.” Ucap salah satunya.

“Penjaga… Penjaga… Penjaga bodoh!!!” pekiknya marah karena penjaganya tak juga berada disini.

Saat mereka telah berhasil melepaskan Jaejoong, mereka menutup mata Jaejoong dengan menggunakan kain hitam dan memborgol tangannya.

“Ada apa ini? Kenapa mataku ditutup?” seru Jaejoong tak kalah terkejut.

“Maaf, ini prosedur yang harus kami lakukan.” Jawab yang lain.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Jaejoong ditarik menuju jendela yang sudah pecah tersebut. Untuk menghindari kaki Jaejoong terluka terkena pecahan kaca, salah satunya pria berpakaian hitam menggendong Jaejoong di punggungnya.

“Pegang erat-erat.” Ucap pria yang tengah menggendong Jaejoong. Segera Jaejoong melingkarkan tangannya yang terborgol ke badan orang itu.

Terlihat mereka menekan sebuah tombol yang ada di sepatu mereka, dan mereka pun secara hampir bersamaan terjun dari jendela lantai dua gedung itu. Ternyata sepatu yang mereka kenakan saat itu adalah Kango-shoe seperti yang pernah Jaejoong gunakan pada pencurian ke-6 the Ruby yang dia lakukan di mansion mewah Jung Yunho. Setibanya di tanah, sepatu Kango mereka membuat mereka memantul dan melompat-lompat dengan mulusnya, membuat pendaratan mereka tidaklah menyakitkan. Merekapun segera mematikan tombol Kango-shoe itu dan segera lari menuju pintu gerbang bagian belakang. Baku tembak terjadi di antara pria berpakaian hitam dan penjaga para Yakuza.

Dor..

Dor..

Dor..

Dengan penjagaan yang tinggi dari pria-pria berpakaian hitam lainnya itu, mereka membawa Jaejoong hingga tiba di depan beberapa mobil penjemput yang sudah mereka siapkan. Pria-pria berpakaian hitam itu beserta Jaejoongpun masuk ke dalamnya dan segera melesat menjauhi kerumunan penjaga Yakuza dan istana yang menyeramkan itu.

Jaejoong masih merasa terkejut. Dia memang bebas dari para Yakuza menyeramkan itu, tapi kali ini dia berada di tangan kawanan lain yang tak yakin mereka adalah Interpol.

“Kalian bawa aku kemana?”

“Anda nanti juga tahu.” Jawab salah satunya.

“Siapa sebenarnya kalian? Interpolkah??  FBI??!  CIA??! Kepolisian Jepang??!”

Tak ada jawaban dari mereka.

“Jawab aku… Kalian siapa??!” seru Jaejoong setengah berteriak.

Lagi-lagi tak ada jawaban.

“Kalian siapa?? Mau kalian apa?? Kalian mau The Ruby atau ingin menangkapku?? Asal kalian tahu, aku tak akan pernah menyerahkan The Ruby pada kalian. Lebih baik penjarakan aku seumur hidup atau bunuh saja… ” seru Jaejoong dengan suara bergetar.

“The Ruby adalah barang paling berharga bagiku.. Jangan mimpi kalian akan mengetahui keberadaan nya dimana..”seru Jaejoong lagi dalam kegelapannya karena matanya tertutup kain hitam.

Walau kedua tangannya memang sudah diborgol, tapi kedua tangannya dipegang erat oleh seorang pria yang ada di sebelahnya. Jaejoong terus meracau selama mobil melaju ini. Didalam lubuk hatinya dia merasa ketakutan kalau-kalau dia tak dapat menyelesaikan misinya. Waktunya tak banyak lagi.

“Mau kalian sebenarnya apa??”

“Aku berterima kasih karena kalian menyelamatkanku dari Yakuza itu.”

“Tapi kumohon lepaskan aku, aku akan berikan kalian uang sejumlah berapapun. Asal lepaskan aku.”

“Aku baru mendapatkan tujuh dari Sembilan the Ruby. Rencana ke-delapanku pun hancur.”

“Aku harus mendapatkan kesembilan-sembilannya sebelum terlambat, kumohon waktuku tak banyakk…” ucapnya terus meracau.

“Yang jelas Anda sekarang aman bersama kami.” Jawab salah satunya dengan sangat tenang.

Mobil terus melaju, entah kemana. Jaejoong terus berusaha untuk melepaskan diri dari mereka. Tak berapa lama akhirnya dia kelelahan sendiri dan hanya bias terdiam pasrah. Dia tak lagi melawan, tak lagi meracau. Dia hanya diam hingga mobil mereka pun berhenti.

“Kita sudah tiba.” Ucap salah satunya.

Mata Jaejoong masih tertutup, tak mampu melihat dimana mereka berada. Tangannya tak mampu bergerak banyak. Terdengar suara pintu mobil dibuka. Ditariklah dia keluar mobil. Dipeganginya erat kedua lengan Jaejoong oleh dua orang dari mereka. Samar-samar Jaejoong mulai menyadari dimana dia tengah berada saat ini. Terlalu jelas untuk tidak tahu tempat yang sedang dipijaknya saat ini.

Wusss…

Angin cukup kencang bertiup-tiup menyalurkan dingin keseluruh bagian tubuhnya yang hanya terbungkus bathrobe. Samar-samar terdengar suara deburan air dari kejauhan. Burung-burung berkicau bersaut-sautan disekitarnya. Harum air garam bercampur pasir menyeruak begitu saja.

Ditariknya terus dia, hingga terasa dikakinya dia tengah menendang-nendang pepasiran. Terasa lembut pasir-pasir sedikit terasa walau ia masih mengenakan alas kakinya. Semakin jauh ia melangkah semakin terasa kuat hembusan angin yang ia rasakan, bau lembut pasir kian tercium, burung-burung terdengar lebih berisik, dan yang pasti deburan air semakin terdengar jelas.

Ya, Jaejoong yakin pasti dimana saat ini dia berada.

“Kenapa aku dibawa kemari?” tanyanya dengan mata yang masih tertutup.

Saat itu juga mereka menghentikan langkah mereka.

“Siapa kalian sebenarnya?” tanyanya lagi.

“Cukup. Kalian bisa pergi.” Ucap salah seorang pria itu.

Terasa genggaman mereka di lengan Jaejoong terlepas, tinggalah seorang saja yang masih memegangi lengannya.

“Hey.. Apa ini maksudnya?” Jaejoong terus bertanya sambil terdengar suara langkah orang-orang yang pergi menjauh.

Sekira dirasa tak ada lagi suara langkah di sekitar mereka, pria yang sedari tadi memegangi Jaejoong melepaskan genggamannya. Perlahan dilepaskannya juga borgol dan penutup mata yang tengah dikenakan Jaejoong.

Dan ketika matanya terbebas dari penutup mata itu, dibukanya mata sedikit demi sedikit sambil menyiapkan hatinya melihat apa yang akan dilihatnya.

1..

2..

3….

Terlihatlah background sebuah pantai yang indah di semburat kemerahan. Matahari malu-malu muncul dari peraduannya, menyambut datangnya pagi dengan wajah malu-malunya. Buih-buih putih bersebaran menghiasi birunya pantai, burung-burung kecil berterbangan kesana kemari dengan sayap-sayap mereka yang terlihat mengkilap terkena sinar sang Surya. Batu beradu ombak, dedauan beradu angin, keindahan beradu dengan ketentraman. Betapa indahnya sunrise di pantai timur Jepang. Namun keindahan lukisan Tuhan ini tak membuat Jaejoong begitu saja terkesima. Dia lebih terkesima dengan lukisan Tuhan lainnya yang tengah berdiri di depannya saat ini.

“Jung Yunho..” ucap Jaejoong terperangah mendapati sesosok tampan tengah berdiri di depannya menggunakan pakaian serba hitam tersenyum hangat padanya.

“Kau..”

“Kau…”

“Kau,,” ucap Jaejoong terputus-putus.

“Kau menyelamatkanku?” tanyanya dengan ekspresi terkejut.

Pria tampan itu hanya tersenyum kecil dan mengangguk pelan.

Mata Jaejoong berkedip-kedip setengah tak percaya. Seorang pemilik Jung corp yang begitu dipuja-puja banyak orang rela mempertaruhakan nyawanya demi menyelamatkannya.

“Kau.. Kau.. Kau tahu keberadaanku?” tanyanya sambil menatap lekat wajah di depannya itu.

Lagi, lagi Yunho hanya mengangguk dengan senyuman masih tersungging di bibirnya.

“Lau.. Kenapa tidak kau suruh anak buahmu saja untuk menyelamatkanku? Kenapa kau membahayakan dirimu sendiri? Kenapa?” tanyanya sambil menarik-narik pakaian Yunho.

“Untuk seseorang sespesial dirimu, haruskah kulimpahkan tugas melindungimu pada orang lain? Mungkin aku perlu bantuan mereka. Tapi tak akan mungkin kubiarkan diriku tidak berbuat apa-apa untukmu, orang yang sangat aku cintai. Bahkan mati demi dirimu pun aku rela.” Ucapnya sambil menghentikan tangan Jaejoong menarik-narik pakaiannya dengan memegangi kedua tangan lembut itu dan menempelkannya di dadanya.

“Kau.. Aku tak menyangka.. Sebegitu besarnya rasa cintamu itu. Apakah kau benar-benar mencintaiku hingga kau rela melakukan kebodohan ini, menyelamatkan seorang pencuri buronan internasional dari tangan para Yakuza? Jung Yunho, kau bodoh hah? Kau gila hah? Kau pasti sudah gila.. Gila.. Gilaaa…” ucap Jaejoong sambil mendorong-dorong dada Yunho dengan tangannya yang tertempel di dada Yunho.

“Ssssttttt…..” ucap Yunho sambil berusaha menghentikan tangan Jaejoong yang terus mendorong-dorongnya. Tapi rasanya Jaejoong terlalu bersemangat menyalurkan rasa gemasnya itu, hingga tak ada pilihan lain selain Yunho memeluk erat-erat tubuh Jaejoong hingga tak berbatas jarak di antara mereka. Selama beberapa saat Jaejoong masih berusaha mendorong-dorong dengan air mata yang entah bagaimana bisa begitu saja mengalir dari mata cemerlangnya.

Jaejoong setengah terisak dan mulai terdiam tak lagi memaki-maki Yunho dengan sebutan ‘gila’ dan ‘bodoh’. Diapun tak lagi berusaha mendorong-dorong tubuh pria yang lebih tinggi darinya itu. Dan ketika Jaejoong dirasa mulai tenang, dilepaskannya pelukan mereka.

Yunho menatap wajah Jaejoong dengan perasaan penuh kasih. Dilihatnya mata indah yang selama ini begitu membuatnya tergila-gila tengah sembab basah dengan air matanya sendiri. Diusapnya perlahan air mata itu dengan tangan kanan dan kirinya bersamaan. Setelah dirasa tak ada lagi air mata di wajahnya didaratkannya tangan Yunho di kedua pipi Jaejoong. Didekapnya wajah itu seperti seorang seorang pria yang sedang menghangatkan pipi wanitanya agar tidak kedinginan.

Mata mereka beradu, saling memancarkan kilatan-kilatan penuh emosi dari lubuk hati mereka.

“Jae.. aku sudah pernah katakan padamu, bahwa aku sangat mencintaimu. Entah sejak kapan, tapi kau selalu ada di hati. Apapun rela kulakukan demi seseorang yang kucintai, yaitu kau. Apalah arti dari ini semua, jika bukan karena aku terlalu mencintaimu.” Ucap Yunho membuat hati Jaejoong bergetar mendengarnya.

“Yun…” dia tak sanggup berkata-kata. Semua terasa begitu indah saat ini.

“Mungkin, aku pernah menanyakan hal ini padamu, dan kau belum menjawabnya. Maka ijinkan aku menanyakan hal ini lagi padamu. Kim Jaejoong mau kah kau menjawab pertanyaanku itu saat ini?” tanyanya sambil meraih tangan Jaejoong dan menggenggam keduanya erat.

Jaejoong tak mampu berkata saat ini. Tubuhnya terlalu membeku, jantungnya berdetak tidak karuan, darah tengah mengalir deras diseluruh tubuhnya. Saat-saat seperti ini jauh mendebarkan dibanding ketika dirinya tertangkap oleh para Yakuza.

“Kim Jaejoong, would you be the only one in my heart? I love you with the whole of my heart. Kim Jaejoong, would you be mine?” tanyanya sambil menatap kian dalam pada mata pria yang tak lebih tinggi darinya itu.

Jaejoong benar-benar tenggelam saat ini dalam tatapan seorang Jung Yunho. Sedetik.. Dua detik.. Tiga detik..

Dia terdiam, bukan karena berpikir akan menerima cintanya atau bukan, tapi karena dia terlalu bahagia saat ini hingga sempat tak sanggup berkata-kata. Apa yang dia harapkan untuk bertemu Yunho kembali telah terwujud. Apa yang dia harapkan untuk bisa menerima cinta dari Yunho telah terjadi di depan matanya. Dia begitu bahagia saat ini. Ditatapnya terus mata elang itu.

“Yun..” ucapnya setengah tertahan.

“Jae..” Yunho menyahut pelan menanti dengan sabar apa yang akan dia katakan.

“Let me to be someone the most special in your heart, let me to be yours forever and ever. I love you too Jung Yunho.” Ucapnya mantap tanpa ada lagi kata ragu di dalam hatinya.

Yunho tersenyum bahagia, dipeluknya pria di depannya itu dengan eratnya.

“Khamsahamnida Kim Jaejoong. Aku akan selalu menjadikan kau milikku satu-satunya dihatiku. Akan kulindungi dirimu sepanjang hidupku. Biarkan aku beraksi bersamamu pada pencurian  terakhir the Ruby.” Ucap Yunho sambil meraih the Ruby yang ternyata mash terpasang di leher Jaejoong sejak melarikan diri tadi.

Seketika Jaejoong teringat bahwa the Ruby memang belum sempat dilepas oleh mereka tadi. Dia tersenyum dibuatnya. Tersenyum geli setengah tak percaya. Dia kira dia akan gagal pada pencurian ke-delapannya ini.

“Wae? Waeyo kau tersenyum seperti itu?” Tanya Yunho sambil membelai pipi lembut Jaejoong.

“Aku kira aku gagal mencuri the Ruby kali ini. Ah Jeongmal khamsa Jung Yunho..” ucap Jaejoong sambil memeluk Yunho begitu saja.

“Tentu saja..” jawab Yunho lirih sambil mempererat pelukan mereka.

“Kau tahu aku akan mencuri di istana Yakuza tadi malam? Dari mana kau tahu? Kenapa timing mu begitu tepat semalam?” Tanya Jaejoong sambil melepaskan pelukan mereka, menatap Yunho dengan tatapan menggemaskannya.

“Kau pura-pura tak tahu atau hilang ingatan.” Ucap Yunho sambil mencubit pipi itu.

“Ha?? Apa maksudmu?” Tanya Jaejoong polos.

“Hentikan sandiwaramu. Aku tahu kau yang mengirim surat itu kemarin. Kau sendiri yang meletakannya di kotak suratku.” Ucap Yunho.

===FLASH BACK===

 

Pagi harinya..

“Ada apa ahjushi?” Tanyaku padanya.

“Ini ada sepucuk surat untuk Tuan.” Ucapnya sambil menyerahkan surat itu padaku.

“Dari siapa ahjushi?” Tanyaku.

“Entahlah Tuan. Tak ada nama dan alamatnya. Bahkan tak ada perangko nya. Seperti si pengirim surat meletakan sendiri suratnya di kotak surat di depan.” Ucapnya sambil aku meraih surat itu dari tangannya.

“Benarkah? Aneh..” Kataku.

“Baiklah kalau begitu saya undur diri Tuan. Jika perlu sesuatu, saya ada di rumah sebelah.” Ucapnya sambil beranjak pergi.

Ketika ahjushi sudah pergi meninggalkanku di teras belakang vilaku ini, kembali kulihat sepucuk surat aneh yang dikirimkan padaku itu. Siapa gerangan yang mengirimkan? Apakah isinya? Kenapa dia tak mencantumkan apa-apa di bagian amplopnya? Pentingkah ini? Aneh..

Perlahan kubuka amplop surat itu. Kukeluarkan kertas yang ada di dalamnya. Kubuka dan kemudian kubaca dengan seksama apa yang tertera di dalamnya.

..

..

..

Ya Tuhan..

Surat ini….

..

[ISI SURAT]

Kepada Jung Yunho,

 

Selamat pagi Jung Yunho. Tahukah kau Vicious Jonquil akan segera beraksi? Aku tahu kau pasti sangat ingin bertemu dengannya. Maka dari itu selamatkanlah dia pada pencurian ke-delapan ini. Itu jika kau masih ingin bertemu dengannya.

 

Tepat tengah malam ini Vicious Jonquil akan melakukan aksi kedelapannya di kediaman kerajaan Yakuza. Dia akan memulai semua aksinya dari rooftop apartemen Kyoto, blok D berjarak 300 meter sebelah timur dari kerajaan itu. Tepat 00.00 dia sudah bersiap disana. Dia akan meluncur dengan menggunakan tali baja yang yang telah ditembakan tepat di atas jendela lantai dua yang menghadap ke sisi jalan. Setelah dia menghantamkan tubuhnya masuk ke dalam melalui kaca yang akan diberi tanda dengan tanda X bisa lihat lebih jelas pada peta. Para penjaga tidak akan mendengar suara pecahan kaca jendela itu, karena pada saat yang sama, alarm tengah berbunyi karena pemicu alarm yang ditekan sesaat sebelum terjadinya benturan itu.

 

Tepat 00.05 Vicious Jonquil akan berjalan menuju ruangan tempat penyimpanan the Ruby yang bertanda  R1, yang detail lengkapnya bisa dilihat pada peta. Setelah dia masuk kesana tepat 00.10, dia akan dengan mudahnya melenggang masuk hingga ruangan itu karena para penjaga akan berpura-pura sibuk mengurus alarm diluar, padahal sesungguhnya mereka telah menunggu kedatangannya sejak sore di suatu ruangan tersembunyi tepat di sekitar pintu masuk dan keluar ruangan itu, yang bertanda S pada peta.

 

Setelah mengulur waktu beberapa saat tepat 00.30 akan sudah mendapatkan the Ruby itu. Ketika dia keluar akan banyak penjaga yang telah menantinya, dan mereka akan menawan Vicious Jonqui. Tapi melihat wajah Vicious Jonquil yang begitu menyihir siapa saja, maka boss Yakuza itu akan terpikat padanya. Akhirnya mereka tidak akan membawa Vicious Jonquil ke ruang tahanan yang ada di basemen, melainkan akan membawanya ke kamar utama istana itu yang akan bisa ditemukan di peta pada bagian bertanda R2.

 

Mereka akan sibuk mengurusi segala hal hingga baru hampir pukul 3 dini hari, boss Yakuza akan mendatangi Vicious Jonquil dengan segala pikiran kotor yang ada di otaknya. Vicious Jonquil akan mengulur waktu sebisa mungkin, hingga tepat pukul 3.00 masuklah kalian dengan cara yang sama melalui rooftop apartemen itu, tali baja dan alarm. Saat itu bisa jadi akan terjadi baku tembak dengan para penjaga, tapi kemungkinan besar para penjaga akan terkecoh dan justru sibuk bersiaga diluar. Jadi tak ada salahnya jika menyiapkan senjata kalian. Setelah Vicious Jonquil sudah ditangan kalian segeralah turun dari lantai dua itu dengan menggunakan Kango-shoe. Dan siapkan beberapa mobil penjemput anti peluru di pintu gerbang belakang yang mana bagian paling lemah dari pertahanan mereka karena beberapa orang dalam mereka sudah bersekongkol dengan Vicious Jonquil. Dan setelah itu cepat-cepat bawa pergi Vicious Jonquil jauh dari istana itu. Maka selesailah strategi penyelamatan Vicious Jonquil. Karena mereka akan berpikir yang telah membawa pergi adalah Interpol, tetapi mereka tidak tahu Negara mana yang memerintahkannya, maka mereka tidak akan pernah mempermasalahkannya lagi, demi kebaikan mereka sendiri.

 

Untuk perlengkapan meluncur, kango-shoe, senjata, perlengkapan perang, kendaraan,  dan lain sebagainya bisa kau temukan di gudang bekas di Kawasaki street no. 199 Tokyo. Kunci gudang itu ada di dalam amplop ini. Libatkan orang-orang kepercayaanmu. Percayakan pihak Yakuza bahwa yang melakukan penyelamatan adalah para Interpol.

 

Lakukan saja sesuai intruksi ini. Peracayalah padaku.

 

Lakukan sesuatu jika kau masih ingin bertemu dengannya. Selebihnya kuserahkan padamu. Yang pasti dia membutuhkan pertolongan.

 

Khamsa~

 

 

Dari : seseorang yang tak perlu kau ketahui.

-oOo-

Kuambil amplop tadi dan kurogoh ke dalamnya. Kudapatkan sebuah kunci dan sebuah peta kecil yang digambar sekenanya.

Ada apa ini?

Siapa yang mengirimnya?

Kenapa dia bisa begitu tahu apa yang akan dilakukan Vicious Jonquil dan apa yang akan terjadi disana?

Bahkan dia tahu semua hal tentang pencurian itu, runtutan kejadian yang akan terjadi, timing, dan semuanya. Seakan-akan pencurian itu akan benar-benar terjadi seperti itu.

Haa??

Selama beberapa saat aku terdiam takjub tak percaya. Hingga beberapa saat kemudian aku tersenyum.

Arasho.. Arasho..

Vicious Jonquil kau memang luar biasa.

-oOo-

===END OF FLASHBACK===

“Kau masih mengela dan pura-pura tak tahu.” Sergah Yunho sambil terus tersenyum pada kekasih hatinya itu.

“Ahhh Yunho… Kau..” ucap Jaejoong sambil merunduk menyembunyikan wajah merona malunya.

“Kau sudah ketahuan Jae, kau yang mengharapku untuk menyelamatkanmu demi kita bisa bertemu kembali. Kau yang menyusun semua rencana menggelikan ini. Kenapa kau perlu pura-pura tertangkap sesungguhnya kau bisa mencuri the Ruby tanpa tertangkap?” Tanya Yunho sambil mengangkat dagunya.

“Ahhh… Jung Yunho… Kau jangan bicara hal itu.” Sahut Jaejoong cepat.

“Hahaha… Kau lucu sekali Jaejoong, kalau kau mau menemuiku kau bisa langsung menemuiku kapanpun kau mau, tak perlu membahayakan dirimu seperti itu. Untung saja semua berjalan sesuai rencanamu. Bagaimana jika tidak?” Tanya Yunho sambil mengintip wajah kekasihnya yang terus berusaha menutupi wajah merahnya.

“Sudahlah.. Sudahlahh.. Hanya ini yang bisa kupikirkan saat itu. Kau jangan menggodaku terus..” ucap Jaejoong sambil mempoutkan bibirnya.

“Hahaha,,, uri Jaejoong, Saranghae..” ucap Yunho sambil kembali memeluk tubuh pria yang lebih kecil darinya itu.”Baiklah baiklah aku tak akan pernah mengungkit hal ini lagi yang pasti sekarang kau selamat dan sudah bersamaku. Saranghae Kim Jaejoong, jeongmal saranghae..” ucapnya sambil mengecup dahinya lembut.

Seketika kehangatan mengalir dari bibir Yunho ke seluruh tubuh Jaejoong yang merasa kedinginan berada di pantai dengan hanya menggunakan bathrobe ini.

“Ahh, mianhae, aku lupa.. Kau kedinginan ya?” ucap Yunho sambil melepaskan jaket kulit hitam yang tengah ia kenakan dan memasangkan pada tubuh Jaejoong.

“Hangat, gomawo.” Ucap Jaejoong sambil mempererat jaket itu ke tubuhnya.

Warna hitam pekat jaket itu semakin memperjelas kulitnya yang putih dan wajahnya yang cantik. Beberapa saat Yunho menatap kagum pria yang sudah menjadi kekasih nya itu. Begitu juga dengan Jaejoong. Tatapan mereka berdua begitu dalam dan menghanyutkan. Lambat laun mereka berciuman dengan indahnya dengan pemandangan sunrise di tepi pantai yang juga tak kalah indahnya ini.

Begitu dalam..

Begitu menentramkan..

Sesaat mereka terus berciuman. Hingga akhirnya..

“Ahh lihatlah, mataharinya sudah akan terbit. Lihat lihat..” ucap Yunho membuat mereka berdua berhenti berciuman dan mengalihkan pandangan menghadap sang Fajar.

Direngkuhnya bahu Jaejoong dalam dekapannya. Mereka berdua berdecak kagum menikmati pemandangan yang Tuhan hidangkan di depan mereka.

“Indah ya..” ucap Jaejoong terpukau.

Dia memang sering berkeliling dunia belakangan ini, dia sering melihat pemandangan yang lebih indah dari ini, tapi entah mengapa kali ini pemandangan yang ada di depannya menjadi pemandangan yang paling indah seumur hidupnya. Mungkin karena matahari terbit ini dia nikmati bersama seseorang yang special di hatinya.

“Oya Jae, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” Tanya Yunho masih asyik menatap matahari terbit itu.

“Hmmm..” jawab Jaejoong lirih.

“Sebenarnya, untuk apa kau mengumpulkan kesembilan the Ruby hingga rela mengkorbankan nyawamu seperti ini? Padahal aku tahu orang sepertimu yang mampu membeli alat-alat canggih tak mungkin adalah orang yang mencuri dengan alasan uang. Lalu untuk apa?” Tanyanya pelan tapi mampu membuat Jaejoong tertunduk diam.

“Ada apa Jae? Apa aku salah bicara?” Tanya Yunho bingung.

“Aniyo.. ” jawab Jaejoong lirih kembali.

“Lalu?” sahut Yunho.

“Aku…”

“Aku…”

“Aku apa?” Tanya Yunho menanti.

“Aku adalah keturunan terakhir satu-satunya dari pemilik the Ruby, saudagar Perancis yang banyak orang-orang bicarakan, selain halmoni ku. Halmoni ku adalah anak dari saudagar itu. Kakek buyutku adalah orang Asia yang sudah lama menetap di bumi Eropa. Halmoni ku adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa. Dia sedang menderita sakit keras. Kata dokter usianya tak lama lagi. Semakin hari kondisinya makin lemah. Dia baru menceritakan tentang the Ruby seminggu sebelum pencurian the Ruby pertamaku. Aku ingin mewujudkan harapannya yang terakhir yaitu bisa menggenggam kesembilan the Ruby yang harusnya diberikan kepadanya dan saudara-saudaranya, hingga perompak pun mencuri the Ruby ketika akan diantarkan ke Perancis. Akhirnya the Ruby telah jatuh kebeberapa tangan yang berbeda dan salah satunya jatuh ke tanganmu dulu.” Jawabnya menjelaskan.

“Kau bilang kau adalah keturunan terakhir satu-satunya selain halmoni mu? Lalu orang tua mu?” Tanya Yunho lagi.

“Kedua orang tuaku telah meninggal dunia saat aku diusia kecil. Aku tak begitu mengerti kenapa orang tua ku dibunuh saat itu. Tapi kata halmoni ku, mereka dibunuh oleh pencuri yang mencuri the Ruby di kediaman kami. Kami sempat berhasil memiliki dua dari sembilan the Ruby, hasil dari appa dan umma yang membelinya dari para kolektor barang antik. Aku masih ingat jelas wajah perampok itu, bahkan aku masih merekam semua kejadian malam itu dengan jelas di memoriku.” Ucapnya yang membuat Yunho bergetar ikut merasakan kesedihan yang tiba-tiba Jaejoong rasakan.

“Mianhae. Jeongmal mianhae..” ucap Yunho sambil berusaha mencari tetes air mata dari wajah cantik kekasihnya itu.

“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Maka dari itu, aku harus berusaha mengembalikan the Ruby pada keluargaku. Orang tuaku sudah berkorban nyawa mereka demi the Ruby, aku harus mendapatkannya, segera, sebelum semua terlambat.” Ucap Jaejoong sambil menatap Yunho yang terlihat cemas jikalau Jaejoong merasa sedih.

“Ijinkan aku membantumu untuk mendapatkan the Ruby terakhir ini.” Ucap Yunho mantap meyakinkan bahwa dia memang mampu membantunya.

“Benarkah kau mau membantu? Walau akan membahayakan dirimu dan nama baikmu?” Tanya Jaejoong sedikit ragu.

“Aku sudah pernah bilang, apapun akan kuberikan padamu. Kau lupa kalau aku begitu mencintaimu?” Tanya Yunho serius.

“Nae, aku tahu kau mencintaiku. Jeongmal Gomawoyo Jung Yunho. Saranghae.” Ucapnya sambil menyandarkan kepalanya dibahu Yunho dan kembali melempar pandangannya ke lautan lepas.

“Saranghae Jae..” sahut Yunho sambil mempererat dekapannya.

Terbentang luas di depan mereka hamparan air yang berombak-ombak. Matahari sudah muncul menasbihkan sinarnya. Pantulan sinar kekuningan mencermin bayang-bayang di antara gulungan ombak. Angin semilir bergulir lembut berbisik di telinga, beradu indah dengan gedebur ombak yang menatap karang. Indah.. Indah.. Indah.. Hanya kata itu yang dapat menggambarkan suasana saat itu.

“Oya, kau tahu Yun siapa yang akan kita hadapi pada pencurian kesembilan ini?” Tanya Jaejoong memecah keheningan yang sempat tercipta di antara mereka.

“Siapa memangnya yang akan kita hadapi di pencurian terakhir the Ruby ini?” Tanya Yunho.

“Yang akan kita hadapi adalah…

pembunuh orang tuaku!”

DENG DENG!!

-TBC-

Nantikan VJ4 – The Last War

 

Gimana gimana ??

akhirnya so sweet kan part ini.. Jaejoong bisa aja ya mau ktemu Yunho aja.. haha.. Yunho nya juga so sweet amattt sih…

Trus gimana nih pencurian terakhir Vicious Jonquil berikutnya?

Apakah dia akan berhasil mendapatkan kesembilan the Ruby sebelum halmoninya meninggal?

Apalagi Yunho berkata akan membantu. Tapi kayakny musuh terakhirnya berat deh..

Mau tau lanjutannya?

Tunggu yah Vicious Jonquil 4 – The Last War

 

Jeongmal gomawoyo yang udah nyempetin baca dan ninggalin komen..

Luph u all readerdeul..

:*

 

Yunjae is Real!

-Beth-

32 thoughts on “Vicious Jonquil 3 – The Mystery of Heart – Part 2 | @beth91191

  1. akhir ny brnfas lga,hore emak ga jd ktngkap yakuza tp mlh d tangkap dlm cinta mr. Bear wkwk ^^
    y ampun emak smpe sgtu ny br ktmu s appa,knp ga lnsung k rmh ny aj x huft
    pmbunur ortu jae,bkal bhaya neh..smangt yunjae❤
    lanjut ~

  2. ahh dag dig dug hatiku-eh,,summppahh g rela klo jaemom d grepe ma org laen,,ahh si jeje pengend ketemu pake cr gaje gtuu#plakk,,knp gg lngsng blg jaaa,,,uuhh pmbnh ortu jaemom sp y??siwon kah??ato oc??*sotoy,*xixi d bantu yunppa,, ahh moga gg da pertumpahan dara(?)*keinget bloodylove*hoh chap depan d proteckah??moga kagak ddeh

  3. ah,,,,,semakin menegangkan,,,,
    tp lucu lho cara jaema meminta diselamatkan yunpa,,,,,
    mau ktmu aja pake cra yg ribet,,,,,

  4. kyaaaa hari ini aku bisa baca vicious jonquil terusss…
    kyaaaa author DAEBAK….
    eoni kapan kapan yang full nc dong…
    hehehehe *ditabok…
    hiks hiks hiks aku suka vicious jonquil sukaaaa sekaliii…
    tapi sekali kali dibuat angstnya yg banyak dong thor biar dongsaengmu ini nangis ._. hehheheh.=.V

  5. Fyuuh…. Kirain di culik beneran, taunya akal2an jaema, kekeke…
    VJ yg last war ny jgn lama2 yaa…

  6. Hhuuuaaaa…… Aq reader bru……
    Mian bru komen…..
    Aduh penasaran sp pemilik the ruby terakhir….
    Thor nii happy end kn????
    Hehe….

  7. Sumpah bikin deg deg ser pas umma mo di grape2 ma ajjushi2 tua.g rela bgt lo smp kejadian.appa so sweet and keren.umma adada aja. Jail bgt.buat authory daebak tak tggu VJQ last of wary jgn lama2

  8. astagaaaa aku kira yg ngirim surat itu si author wkwk~ yak jaejoong pinterbgt nganalisis kejadian yg bkal dteng, terkesannya itu dia yg ngejebak geng yakuzanya~ ckck😀 masi TBC yaaw? makin penasaraan ama kelanjutannya!! xD

  9. Omooo…
    jaema ternyata licik jga yah…
    buat ketemu ama yunppa aja dia rela bikin nyawanya hampir melayang…
    tpy untung aja, tdy jaema selamat n lancar mesra”an ama yunppa…:D

  10. Whew…#:-s!! Kirain umma bener ketangkep yakuza…ternyata…oh ternyata…semua ųϑªђ di prediksi’in sam̶̲̅α̇ umma…

    Umma tuh sutradara ªª author ýª??? Bisa hebat gitu prediksinya Ъ>:/ mleset barang sedetikpun…hebat..hebat!!

    Pengen ketemuan aja ribet’a 1/2 mati…umma…umma..! Bilang aja kangen sam̶̲̅α̇ punya’a appa! Pake malu” sgla…tar ǰƍ malu”in…✘¡✘¡✘¡✘¡

    Ъ>:/ sabar nunggu VJ4
    Pasti’a seru..mendebarkan…full NC and happy ending #ngarep smbl komat-kamit baca mantra…^o^ (^)

  11. akhirny mereka berdua jadian juga.. jadi sebenarny the ruby itu milik haelmoni ny jae.. ayo, jae berjuang bwat ruby yg ke 9 n gak nyangka ternyata pemilik ruby ke 9 adalah pembunuh orang tua jae.. penasaran gmn cara jae bwat ngambil ruby yg ke 9??

  12. Huwa..
    So sweat bgt sih Appa.. Uu umma minta d selamatin aj pke acara Malu”..
    Wkwkwk.. Aduh Misi yg trakhir Lancar gak yah..
    Lanjuuuutttt dong author…?!!!!

  13. aigoo jae ribet,,mw ketemu aja smp membahayakan nyawa masing”
    Smbl nyelam minum air,,pngn ketemuan ma nyuri juga ne
    Lanjutt

  14. ya ampuunnn…jd uri joongie toh yg ngerencanain penangkapannya ndiri???..aigoo…udh deg degan..kirain uri joongie bakal diapa2in ama tuh yakuza…iihhh…srreemmm…untung az yunpa sigap..
    next chap jgn lama2 updatenya ya thorrr..penasaran tingkat dewa nih sama epep ini…jeballl…#puppy eyes sm junsu..lho??? o_O#

  15. Kira2 spa ug t’akhir en yg bnh ortu jaema….
    Smga yunpa ßiƾα bantuin umma dptin ruby yg ksmbilan…

  16. Wahhh… Umma tindakannya ekstrim,, haisshh untung appa tepat waktu… Sempet degdegdegan ngabayangin jaema jth k tnan yakuza itu #mwoandwweeeeeee…
    Ahihi so sweet.. Lovey dovey nya umpa d tngah hamparan pasir putih, d tmani suara ombak, semilir angin.. Uhhh pas sunrise lgi.. Kyaaaaaa romantisnya…..
    I like it…

  17. ak ketinggalan bnyak huee
    tu yakuza gk ingt umur apa udah bau tanah jga msih ja ganjen sma umma
    untung jae blm smpet diiya-iyain sma tu engkong yakuza
    hiyeee appa demi jaema ini ampe rela turun tngan sndri

  18. Umaaa, untung prince Jung dtang dan bntu umma🙂
    .
    Itu yunjae msra” kya gtu, bruan jdiaan,,
    Tpi kira” umma msih dkejar” polisi gk yaa?
    Klau iya kan repoot kbur” mulu😦
    .
    Keep writing author ^^

  19. siapa yg ga tergoda sm bibir seksi n wajah cantik jae. penjahat kelas kakap aj klepek2. ternyata yunpa yg nolongin jae, so sweet dech yunpa. gomawo chingu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s