[Fanfiction] A Thousand Years – @gheawaldrof


[ Fanfiction & Fanart Fanficyunjae Contest 2012 ]

@gheawaldrof – Fanfiction

Silakan bantu menilai dengan tinggalkan komentar / like jika chingu suka postingan ini🙂

A Thousand Years

 

I love you more than you know, even it’s hurt I’ll still in beside you.

I try to be strong, but you’ve never look at me.

Just look me once and I will never disturbing you anymore.

 

Author :                       Antonia Agia

Title :                           A Thousand Years

Length :                       Oneshoot (like korean drama, the ending not perfect)

Main Cast :                  Jung Yunho and Jung (Kim) Jaejoong

Supporting Cast :        Go Ahra

Rating :                       PG-17 for complicated storyboard like this one, mellow dramatic situation and sorrowful. (rating could changes if author want)

Genre :                        Yaoi, Romance, Drama, Angst and Male Pregnancy.

Rules :                         Just read and comments! Comments are needed for author! PLEASE, DON’T BASHING! This is my idea, what I want I wrote here, don’t like? Just keep silent!

 

Disclamer : I don’t own any character of this fanfiction. They belong to God and themselves. I don’t make money from this fanfiction, I made this just for fun, please don’t sue me. I was happy to pour all my imagination into fansfiction. Don’t forget to give your comments, if you appreciate my fansfiction. Happy Reading ^^

 

‘Just keep your faith until they 5 say to stop it guys! Cassiopeia all around the world + Bigeast Japan must stronger than before!’

 

 

‘TOGETHER IS BETTER THAN ALONE!’

 

 

 

 

 

#Jejung POV

 

 

‘Bisa tidak kau pergi dari kehidupanku?’

 

‘Maksudmu?’

 

‘Aku sangat membencimu!’

 

‘Wae? Aku salah apa lagi kepadamu?’

 

‘Kenapa harus kau?’

 

‘Maksudmu?’

 

‘Tak perlu berpura-pura seperti tak tahu apa-apa!’

 

‘Jung YUNHO!’

 

 

 

 

 

 

 

Selalu saja seperti ini. Malam-malam seperti ini. Ketika diriku terlihat meringkuk dikasur kami. Padahal aku ini istrinya. Memang aku tak se-perfect yang diinginkannya. Tapi mengapa?? Toh aku memang dipilihkan oleh kedua orangtua nya.

 

Pernikahan seperti ini, tak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku memang namja, tapi aku jamin aku dapat membahagiakan dirimu, Jung Yunho. Mengapa kau sangat membenciku? Kenapa? Apa karena aku adalah seorang namja? Tapi kenapa kau selalu bilang kalau aku menjijikkan? Apa salahku?? Wae?

 

Aku ini istrimu!! Jelek-jelek seperti ini, tapi aku ini istri syahmu! Kau menikahiku didepan altar gereja. Didepan tuhan, disaksikan oleh semua keluarga dan undangan. Tapi kenapa, kau malah selingkuh dibelakangku? Kalau aku diam, bukan berarti aku merestui perselingkuhanmu!

 

Ketika kau bertengkar dengan kekasih gelapmu, kau akan pulang dalam keadaan mabuk. Dan yang paling aku sesali, kau memaksaku untuk memenuhi nafsu birahimu! Sampai-sampai aku hamil seperti ini. Andai kau tahu Yunho-ah, aku sangat mencintaimu. Jeongmal-jeongmal sarangheyo, yunho-ah.

 

 

#flashback

 

‘Yunho-ah, aku ingin bicara sebentar!’ Ajak ku, ketika kami berada di ruang makan.

 

‘Wae? Bicara saja!’ Balasnya ogah-ogahan.

 

‘Aku hamil!’ Jawabku tanpa basa-basi.

 

‘Mwo??’ Teriaknya karena kaget.

 

‘Nde, ini buktinya’ balasku, sambil menyodorkan kertas dari Dokter.

 

Yunho membuka amplop itu dan melihat isinya. Dia terlihat menyimak isi kertas itu. Tiba-tiba dia berdiri dan berjalan kearahku.

 

‘Apa maksudmu memberikan ini?’ Teriaknya sambil mencengkram rahangku.

 

‘Aku hanya mau memberitahu kalau aku hamil anakmu’ jawab ku terbata sambil menahan tangis.

 

‘Aku tak perduli dengan apa yang terjadi padamu dan sebaiknya kau gugurkan anak ini!’ Perintahnya masih dengan mencengkram rahangku.

 

‘Ani! Aku tak mau! Kau boleh menyuruhku melakukan apapun, asalkan tidak dengan mengugurkan anak ini!’ Balasku sambil teriak, dan ahkirnya air mata ku turun ke wajahku.

 

‘Mwo? Aku jijik punya anak darimu!’ Teriaknya sambil melangkahkan kakinya menjauhiku.

 

‘Kalau kau tak mengugurkannya, aku yang akan mengugurkannya dengan tanganku sendiri!’ Lanjutnya sambil membuka pintu rumah kami. Dan aku yakin dia akan pergi kerumah selingkuhannya lagi.

 

 

Aku menangis sesenggukkan lagi. Kenapa dia tak mau menerima anak ini? Apa salahnya? Dia belum lahir, tapi appa nya malah sangat membencinya. Apa yang kini harus kulakukan. Kenyataan memang selalu tidak sejalan dengan keiinginanku. Selalu saja seperti ini, tak ada yang bisa kulakukan.

 

Aku tak mau menggugurkan kandungan ini, aku tak mau! Sampai mati pun, aku harus memperjuangkan anak ini! Anak ini adalah semangat ku untuk berjuang tetap disisi suamiku. Kalau tak ada dia, aku takkan kuat seperti ini. Anakku, kumohon sehat dan bertumbuhlah dengan baik didalam sana.

 

#Yunho POV

 

Aku tak mengerti, apa maunya namja sialan itu! Seharusnya dia pergi dari hidupku! Aku sudah berbuat kasar dan seenaknya kepadanya! Kenapa dia masih bertahan? Apa aku kurang kasar terhadapnya??

Aneh-aneh saja, dia bilang dia hamil anakku? Hah, sejak kapan seorang namja bisa mengandung? Dia itu gila atau apa sih?

Hamil?? Tapi data pernyataan dari rumah sakit memang mengatakan bahwa ia positif hamil 1 bulan. Apa benar ia mengandung anakku??

Baiklah akan kuladeni, apa mau mu Kim Jejung. Akan aku lihat, apakah kau masih bertahan dengan perlakuan ku yang sekarang ini?

 

Kuketuk rumah kekasih gelapku…

‘Oppaa, kau datang?’ Teriak Ahra sambil lekas memelukku.

 

‘Nde, oppaa mu datang jagiya. Mana kissing nyaa??’ Pelukku sambil menagih ciumannya. Seperti biasa, ia membalas ciumanku dengan agresif. Kulumat lagi bibirnya sampai terdengar decak-decak an dari kedua bibir kami. Kutarik wanita itu kedalam rumahnya dan kalian pasti tau apa yang akan aku lakukan selanjutnya.

 

 

 

 

In the morning ~

 

Pagi ini aku memutuskan tak membangunkan Ahra terlebih dahulu. Kutinggalkan Ahra yang masih tak berbusana dengan keadaan tertidur. Kulangkahkan kakiku untuk benar-benar menjauh dari rumahnya. Kepala ku masih suntuk karena memikirkan Jejung. What?? Memikirkan Jejung?? Untuk apa! Ya, Jung Yunho sadarlah!! Kau kesambet setan apa sih!!

 

Dengan bermalas-malasan kugapai kenop pintu rumah ku menuju kamar ku. Rumah ini benar-benar terlihat sangat sepi tak berpenghuni. Dimana Jejung?? Apa dia pergi pagi-pagi seperti ini? Lampu lantai bawah tidak ada 1 pun yang menyala, walaupun tak merubah keadaan apapun. Kucari dia kesudut-sudut ruangan, tapi mengapa aku tak mendengar sama sekali gerak-gerik nya?

 

Kudengar ada rintihan dari lantai atas. Suara apa itu? Apa itu suara Jejung? Tapi mengapa ia merintih seperti itu? Kulajukan kakiku menuju lantai atas, kubuka perlahan ruang tidurku bersama Jejung. Terlihat Jejung tersungkur dilantai dengan peluh membasahi pelipisnya.

 

‘Appo, ah appo..’ Desahnya sambil meringis kesakitan.

 

‘Yaa, Kim Jejung ada apa denganmu, kenapa kau kesakitan seperti itu?’ Tanya ku bertubi-tubi sambil mengangkat tubuhnya keatas kasur.

 

‘Nado molla Yunho-ah, perut ku, ah appo, appo Yunho-ah’ teriaknya sambil menatap ku. Melihatnya merintih kesakitan seperti itu, kenapa hatiku jadi berdegup kencang seperti ini. Ada apa lagi dengan diriku ini.

 

‘Yaa, aku juga tak tahu apapun, kau kira aku ini dokter apa?’ Teriakku sambil membentak nya, memang seharusnya aku tak perlu berkata seperti itu, tapi mau bagaimana lagi? Aku kesal sekali dengannya, seorang namja kok bisa-bisa nya mengandung bayi?

 

‘Appo yun, appo, tolong bantu aku kali ini saja’ rintihnya sambil memegang tanganku. Tangannya dingin sekali seperti es, keringat dingin menetes dari dahinya lagi.

 

‘Tapi, kalau aku membantu mu kau harus pergi dari sini secepatnya, ARRA!!’ Teriakku sambil menekan dahinya.

 

‘Mwo, tapi yun, ah, appo’ desahnya lagi sambil mencoba bernafas dengan teratur.

 

‘Bagaimana? Jika kau berjanji akan segera keluar dari sini, aku akan meneleponkan Dokter untuk menolongmu!’ Sahut ku lagi sambil tersenyum licik kepadanya. Mudah-mudahan dengan ini dia mau pergi dari kehidupanku.

 

‘Yun, kau begitu membenciku kah sehingga kau menginginkan aku pergi dari sini?’ Balas jejung sambil mencoba menahan kesakitan nya.

 

‘Nde, betul sekali! Aku sangat membenci mu dan menginginkanmu pergi dari hidupku! Bisa kau lakukan itu?’ Balasku sambil mencekam rahangnya erat-erat.

 

‘Baiklah, akan kukabulkan keinginan mu yun. Jika ini yang terbaik untuk kita berdua, aku akan melakukan itu. Tapi tolong bantu aku sekali ini saja, agar anak yang ku kandung selamat’ balasnya panjang, sambil menangis ia masih memegang perutnya dan menahan kesakitannya.

 

‘Baiklah, akan ku antar kau sekarang juga kerumah sakit!’ Kuputuskan untuk membantunya kali ini saja.

 

Kuangkat tubuhnya yang kurus itu, tanpa berhenti menangis dia membisikan ‘gomawo, yun’ padaku. Rasanya, leherku terasa tercekat dia mengucapkan kata-kata padaku. Sampai ahkirnya dia tak sadarkan diri didalam gendongan ku. Dengan panik, kulajukan mobilku secepatnya, menuju rumah sakit terbaik di Seoul.

 

~ Seoul International Hospital

 

‘Bagaimana keadaan Kim Jejung, dokter?’ tanyaku ketika dokter itu keluar dari ruang UGD.

 

‘Apakah dia isteri anda?’ tanya dokter itu secara tiba-tiba. Tubuhku kaku, bingung akan mengatakan apa.

 

‘Tuan Jung?’ tanya dokter itu lagi sambil membangunkan ku dari kekagetanku. Apa maksud dari dokter ini.

 

‘Maksud dokter itu apa? Kenapa bicara seperti itu?’ tanya ku kesal sambil mencengkram kerah jas dokternya.

 

‘Maaf jika saya menyinggung anda Tuan Jung, tapi jika benar dia isteri anda saya minta maaf karena ketidakmampuan saya dalam menangani isteri anda.’ Jelas dokter itu panjang lebar, memandang kedua bola mata ku dengan dalam. Ahkirnya kulepaskan tanganku dari kerah bajunya.

 

‘Maksud dokter?’ tanya ku lagi, masih dengan kekagetanku.

 

‘Kami tidak dapat menyelamatkan janin yang ada didalam kandungan isteri anda!’ jelas dokter itu. Bagai tersambar petir, tubuhku terasa sakit sekali. Hati ini mengapa begitu sakit?

 

‘Maafkan kami Tuan Jung, tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Mungkin ini memang jalan untuk anak anda’ lanjut nya lagi. Tubuhku tak bisa kugerakan. Semua tubuhku terasa mati rasa. Kenapa anak itu harus mati? Kenapa dia harus meninggalkan Jejung. Apa yang akan dilanjutkan Jejung setelah ini? Apa ia akan tetap meninggalkan hidupku? Apa aku egois??

 

Kepalaku terasa berputar, tanpa menengok, seseorang merengkuhku dari belakang. Dia memelukku dengan erat, harum ini seperti parfum yang biasa umma ku gunakan.

 

‘Umma sudah mendengar semuanya Yunho-ah, maaf umma tak mendampingimu selama ini.’ Tegas wanita yang ternyata umma ku itu.

 

‘Umma, apa yang harus aku katakan pada Jejung? Apa yang harus aku katakan? Dia pasti akan membunuhku umma.’ Teriakku sendu. Kepalaku terasa sangat berat. Anak yang benar-benar diinginkan Jejung meninggalkannya. Apa yang harus aku katakana.

 

‘Kau harus tegar Yunho-yaa, katakan pelan-pelan pada Jejung. Dengan begitu dia bisa menerima kepergian janinnya.’ Jelas ummaku masih dengan memeluk tubuhku.

 

Tubuhku saja tak bisa kugerakkan, bagaimana aku dapat mengatakan itu semua? Aku benar-benar merasa bersalah karena memperlama penanganan nya semalam. Aku yang telah membunuh anakku sendiri. Aku pembunuh!

 

‘Aku pembunuh umma, aku yang membunuh anakku sendiri umma, aku pembunuh!’ teriakku, dan sampai aku tak sadarkan diri.

 

#Author POV

 

Jejung telah mengetahui akan keadaan dirinya yang telah ditinggalkan oleh calon anaknya. Seminggu ini Jejung sama sekali tak berbicara dan tak keluar kamar rumahnya. Yunho, sebagai suaminya kelabakan atas tingkah isterinya yang sepertinya kini tengah mengalami depresi berat karena telah keguguran.

 

‘Jejung-ah, sekarang saatnya sarapan pagi.’ Ajak Yunho sambil menggandeng tangan Jejung menuju ruang makan yang berada dilantai dasar rumahnya.

 

Yunho yang merasa bersalah karena dialah penyebab kematian calon anaknya, benar-benar berubah sekarang. Ia sangat memperhatikan Jejung, dari hal-hal yang besar sampai hal-hal yang terkecil. Dan kini ia menuntun Jejung ke tempat duduk yang biasa ditempati Jejung.

 

Yunho menyenderkan tubuh Jejung pada kursi, sambil mengambil piring ia menaruh nasi berserta lauk pauknya pada piring tersebut. Diambilkannya mineral water untuk isteri nya, ditaruhnya disebelah piring makanan Jejung.

 

‘Jejung-ah, saatnya makan. Ayo buka mulutmu’ perintah Yunho sambil memegang piring. Dan tanpa berkata apapun Jejung membuka mulutnya, begitupun seterusnya. Beriringan dengan masukknya makanan ke mulut Jejung, turunlah pula air mata Jejung.

 

‘Wae Jejung-ah, ada apa? Kenapa kau menangis?’ Tanya Yunho sambil menghapus air mata Jejung.

 

‘Jejungie ada apa? Kenapa kau menangis? Aku salah apa lagi? Apa aku menyakitimu lagi? Ada apa denganmu?’ Tanya Yunho lagi sambil memeluk Jejung dengan erat. Tanpa terasa pun air mata Yunho jatuh.

 

‘Yunho-ah, apa kau bisa mengembalikan anakku?? Aku tak ingin mengganggu mu lagi disini.’ Jelasnya sambil menarik tubuhnya menjauhi Yunho.

 

‘Jaejoongie, aku tak dapat mengembalikannya kepadamu. Aku bukan tuhan, yang bisa menghidupkan orang dari kematian.’ Jelas Yunho sambil mengusap air matanya yang jatuh ke pipinya.

 

‘Kalau begitu tolong bunuh aku saja Yunho-ah, dari pada aku menggangu mu disini. Aku tak punya siapa-siapa lagi.’ Jelas Jejung sambil membuang wajahnya kearah lain.

 

‘Kau harus tetap disini, menemaniku sebagai isteriku. Jika kau pergi, aku akan sangat marah kepadamu Joongie.’ Sahut Yunho sambil menarik Jejung kedalam pelukannya.

 

‘Aku benar-benar minta maaf padamu, karena selama ini aku tak dapat menjadi suami yang baik untukkmu dan menjadi ayah yang tak berguna untuk anak kita. Jeongmal mianheyo Jejungie, mianhae.’ Lanjut Yunho dengan tangis yang pecah diruang makan itu.

 

‘Yunho apa maksudmu? Kenapa kau bicara seperti itu? Apa aku melakukan kesalahan lagi?’ Tanya Jejung lagi, sambil menundukkan kepalanya ke bawah.

 

‘Maafkan suami mu yang pabo ini, Joongie.’ Desah Yunho masih dengan memeluk isteri yang kini ia sayangi betul.

 

‘Yunho-ah, kau tak pernah bersalah apapun denganku kok. Kalau kau pernah menyakitiku, aku sudah memaafkanmu dari dahulu.’ Jelas Jejung seraya menatap mata Yunho dengan sangat dalam.

 

Mereka berdua terdiam, saling menatap satu sama lain. Sambil meraih tangan Jejung, Yunho mengecup tangan Jejung dan langsung mencium dahi isterinya itu.

 

‘Aku akui, aku mulai menyukaimu Joongie. Mungkin dulu aku benar-benar menolak kehadiranmu. Tapi aku memang tak bisa menolak kehadiranmu, karena kau sudah menjadi bagian dari hidupku sejak kau menjadi isteriku.’ Terang Yunho sambil mengelus tangan Jejung.

 

‘Ketika aku mengatakan aku membencimu, sebenarnya kebalikannya. Aku sangat menerima kehadiranmu disisiku, tapi otak ku menolakmu, karena tak lazim seorang namja menikahi namja lainnya.’ Tambah Yunho menjelaskan pemikirannya.

 

Jejung yang berada dihadapannya pun hanya terdiam mendengarkan. Dia sangat tak percaya kalau Yunho, suaminya, ternyata merasakan dan menahan semua perasaan yang juga Jejung rasakan. Yunho yang selama ini menyakiti dirinya baik batin maupun fisik, berkata seperti itu kepadanya. Apa ada yang salah dengan otak Yunho kali ini?

 

‘Aku tau kau masih tak percaya dengan apa yang kukatakan, tapi dengan setulus hati, aku mengatakan semua ini dengan hatiku, bukan pikiranku.’ Jelas Yunho membalas pandangan Jejung. Serasa dia mengetahui apa saja yang ada dipikirannya.

 

‘Sudah, sekarang saatnya kau istirahat. Kau bisa naik sendiri kan ke kamar? Aku mau membereskan semua ini dahulu.’ Sahut Yunho sambil melirik piring dan peralatan makan yang baru saja digunakan nya dan Jejung.

 

‘Arraseo, aku bisa naik sendiri Yunho-ah.’ Jawab Jejung cepat, sambil melangkahkan kakinya dengan hati-hati.

 

‘Setelah mengerjakan semua ini, aku akan menemanimu diatas, Joongie.’ Sahut Yunho dari kejauhan. Ketika Jejung hendak menaiki tangga, ia berhenti karena mendengar Yunho mengucapkan kata-kata yang tak pernah Yunho katakan sebelumnya.

 

Setelah sadar, Jejung menaiki tangga untuk mencapai kamar utama di rumah ini. Ia membuka tirai jendela yang ada dikamarnya, melihat keadaan luar. Dan ahkirnya ia memutuskan untuk berdiri di beranda kamarnya. Menghirup udara pagi yang bersih, membuatnya merasa lebih segar dari sebelumnya.

 

Pikirannya melayang menuju masa lalu ketika ia masih mengandung. Kepedihan, kesakitan, kepahitan, semuanya Jejung tahan agar ia dan anaknya dapat hidup dengan baik. Tapi sejak dahulu Yunho memang tak menginginkan kehadiran dirinya beserta calon jabang bayinya. Entah mengapa Yunho berubah drastic seperti ini. Serasa ia mengerti semua perasaan Jejung. Perhatian dan kasih sayang yang diberikan Yunho kepada Jejung sudah melebihi cukup, menurut Jejung. Karena apa? Dia merasa Yunho menjadi orang yang sangat berbeda.

 

 

#Jejung POV

 

‘Jejungie, kenapa kau ada di beranda?’ tanya Yunho mengagetkanku. Sebelum aku membalikan tubuhku untuk menghadap Yunho, Yunho menarikku kedalam pelukannya. Kepalanya ia sandarkan ke bahuku. Sambil memelukku dia menyandungkan sebuah lagu.

 

Nor ijuryo nor jiuryo sumanhun narur noryoghaessodo

Daeyonhanchog babochorom sothurun insamani naegen dayosso

Osaeghan marthudo gudaerur wihan gojyo Gasumi gudaer wihan nae iyujyo

uriwohagejyo dan haru han sungando Nayegeso nomudo morojin no

 

I never let you go (Never I)  I’m gonna make a way (I’m gonna)
Oh I find every way (ddonaji marayo) nae pumane yongwonhi
I never let go (Never I) I’m gonna make a way (I’m gonna)
Oh I find every way (ddonaji marayo) Nae gyotheso yongwonhi

 

‘Apa kau tahu arti dari lagu ini, Jejungie?’ tanya Yunho serius. Dia membalikkan tubuhku dan kini diriku menghadap kewajahnya yang teduh.

 

‘Aniyo, memang apa artinya Yunho-ah?’ tanya Jejung

 

‘Walaupun berhari-hari aku mencoba untuk melupakanmu, untuk menghapusmu. Seperti orang bodoh, sebuah ucapan aneh yang selalu aku lakukan. Kata-kata aneh itu hanya untukmu. Hatiku untuk mu adalah alasanku, untukmu. Aku akan kangen padamu, walaupun itu hanya satu hari untuk satu detik. Kamu terasa jauh sekali. Aku takkan pernah membiarkanmu pergi, aku akan membuat jalan, aku akan membuat jalan apapun caranya agar kau tak pergi.’ Jelas Yunho dengan mata berkaca-kaca. Air matanya terlihat sagat menyedihkan.

 

‘Yang hanya bisa kukatakan adalah lagu ini merupakan isi dari perasaanku, Jejungie. Kali ini aku benar-benar takkan membiarkanmu pergi dari sisiku.’ Lanjut Yunho mantap, wajahnya berubah senang, sambil tersenyum kearah ku, memegang kedua tanganku.

 

‘Joongie, bersediakah dirimu untuk tetap menjadi pendampingku dikala sedih maupun senang?’ tanya Yunho lagi kepadaku. Matanya mengisyaratkan kesungguhan. Melihatnya seperti ini, hatiku sangat gemetar. Aku tahu pertahananku akan runtuh sekarang juga, ketika melihatnya memohon dengan sungguh-sungguh.

 

Tanpa mengatakan apapun, kuanggukan kepalaku tanda setuju. Dia tampak kaget dan air wajahnya berubah sangat senang. Air mata pun runtuh dari matanya. Melihatnya menangis, air mataku tak bisa tertahankan dan ahkirnya tumpah ruah.

 

‘Gomawo Joongie, jeongmal gomawo.’ Teriak Yunho memelukku erat, mencium seluruh wajahku saking senangnya. Sampai ahkirnya bibirnya sampai pada bibirku. Awalnya memang ia hanya menciumku dengan lembut, tapi ahkirnya Yunho terbawa suasana karena aku membalas ciumannya. Lumatan-lumatan pun tercipta karena kami berdua dibawah kesadaran. Lidahnya mencari lidahku yang berada di dalam mulutku, decak-decakan mulai tercipta. Dia benar-benar bernafsu kali ini, tapi ia tetap membuat semuanya lembut. Tanpa tamparan, tanpa pukulan dan tanpa kekerasan. Yunho yang sekarang memang sangat-sangat berubah dan perasaan cintaku kepadanya bertambah.

 

Dia yang awalnya membenciku, tak pernah memperhatikanku, selalu menyakiti perasaanku, kini telah menjadi orang yang lebih baik. Anakku, karena kepergianmu kini appamu berubah pada eomma. Sifatnya, tingkah lakunya, gaya bicaranya, semuanya ia lakukan dengan lembut. Jagiya, eomma sangat menyayangimu, tapi eomma yakin tuhan lebih sayang kepadamu karena mengambilmu dari eomma secepat ini. Eomma memang sangat kehilanganmu, anakku. Tapi apa boleh dikata, eomma memang harus menerima kepergianmu…….

 

 

In the night..

 

Tak terasa aku dan Yunho sampai malam seperti ini tertidur. Kulihat suamiku masih tertidur disampingku, kelihatannya ia memang terlihat letih karena kegiatan yang kami lakukan tadi pagi (read;NC). Yunho memang terlihat semangat, tidurnya pun penuh dengan senyuman. Apa dia begitu bahagianya?

 

Kelihatannya, aku masih bisa menyiapkan makan malam untuknya. Kuputuskan untuk menyegarkan tubuhku dahulu dengan mandi. Kini hatiku sangat bahagia karena suamiku sudah menerimaku dengan terbuka. Kubersihkan seluruh tubuhku dan ngilu masih terasa dibagian belakangku. Ternyata Yunho itu memang tak bisa ditebak, kalau ditanya tentang kepuasan ia memang akan melakukan yang terbaik. (apasih bahasa author?)

 

 Setelah rapih, kujalankan misiku untuk membuat makan malam yang istimewa hari ini. Walaupun bagian belakangku masih terasa sakit, tapi tak apalah. Ini demi suamiku tercinta. Kuputuskan untuk membuat Tteok-bok-I, bibimbap dan bulgogi. Semua bahan sudah siap dan ini saat nya aku memperlihatkan keahlian masakku kepadanya. Karena selama ini, ia tak pernah mau menyentuh masakan buatanku. Memang menyenangkan kalau membuat makanan. Salah satu hobby gelapku memang memasak. Ketika memasak semuanya terasa menyenangkan. Walaupun terkadang peluh menghampiriku ketika sedang memasak, tak pernah menurunkan semangatku untuk memasak.

 

Tteokboki, bibimbap dan bulgoginya telah selesai ku hidangkan dengan indah di meja makan. Saatnya membersihkan semua pekerjaan ku tadi. Masih tetap di tempat pencucian piring, kubersihkan semua panci dan alat masak lainnya. Tapi tiba-tiba terasa ada rengkuhan tangan di pinggangku. Seseorang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Yunho kini sedang menciumi tengkukku. Hal ini selalu membuatku geli, ia selalu tau tempat sensitif ku. Selalu saja.

 

‘Apa ada yang perlu dibantu, Jongie ku sayang?’ Tanya Yunho yang masih meletakkan tangannya di pinggangku.

 

‘Ada! Bisakah kau duduk diam di meja makan, menungguku menyelesaikan ini semua?’ Pinta Jejung sambil mencoba melepaskan pelukan Yunho di pinggangnya.

 

‘Yaa! Aku tak bisa melepaskanmu Jongie, aku telah terhipnotis oleh pesonamu!’ Ucap Yunho maslh tetap dengan pendiriannya untuk memelukku.

 

‘Yaa! Kalau kau memeluk dan mengganggu ku terus, bagaimana aku dapat menyelesaikan semua ini pabo!! Ayolah, duduklah disana dengan diam, arraseo!’ Jelasku sambil menunjukkan death glare ku yang agak menakutkan.

 

‘Arraseo, arraseo, aku duduk sekarang!’ Jawab Yunho dengan wajah memelas.

 

Setelah ku selesaikan semua pekerjaan ku. Kulihat kearah meja makan. Yunho hanya duduk rapih dikursi. Dagunya ia topang dengan meja, terlihat sangat bosan.

 

‘Yun, ayo makan!’ Sahutku sambil memegang pundaknya.

 

‘Joongie, masa kau panggil aku Yunho saja sih?? Aku mau dipanggil dengan nama panggilan yang mesra. Aku kan memanggilmu Joongie, kau panggil aku apa?’ Pinta nya sambil memegang tanganku. Sambil berpikir, aku mengambilkan Tteokboki dan menaruhnya di piringnya.

 

‘Bagaimana kalau aku panggil kau, Yunnie?? Bagaimana?? Kau suka tak?’ Jawabku sambil menaruhkan piringnya di hadapannya. Ku tuangkan lemon tea di gelasnya.

 

‘Yunnie?? Wah panggilan yang bagus, aku suka nama itu!’ Teriak Yunho senang. Dia langsung memeluk tubuhku dan mencium keningku.

 

‘Yasudah Yun, ayo makan makanan mu itu.’ Perintahku. Ku tatap wajah nya yang sangat berseri pada hari ini. Yunnie, kuharap kau tak berubah menyakitiku lagi, aku harap Yunnie yang sekarang akan tetap menyayangiku.

 

‘Joongie, saranghae, jeongmal-jeongmal saranghae!’ Sahutnya sabil melirik ke arahku.

 

‘Nado saranghamnika, Yunnie bear, nan jeongmal sarangheyo!’ Balasku sambil mencium bibirnya mendadak. Seketika itu juga wajah nya berubah merah padam. Kelihatan sekali ia sangat kaget, pada saat aku menciumnya.

 

‘Yaa, Joongie! Kau membuatku kaget, akan kubalas kau!’ Teriaknya, seketika itu juga aku berlari menjauhi dirinya.

 

‘Jung Jejung, kemari kau! Aku akan membalas ciumanmu itu! Ayo kemari!’ Dia berlari kencang, tapi tetap saja tak bisa menjangkau ku.

 

Semoga saja kehidupan kami akan selalu seperti ini di masa depan. Tanpa kepedihan, tanpa kesakitan, dan kepiluan. Aku mencintai Jung Yunho dan selamanya aku akan mencintaimu Jung Yunho.

 

Happily Ever After, Jung Yunho and Jung Jejung life!

 

The End~

 

 

Author Note: I’m sorry, if the story not really good. Because my feeling not really good for wrote a fanfic again. Haha, happy reading! (Please YunJae couple comback! I miss them so much) ^^ @gheawaldrof

 

8 thoughts on “[Fanfiction] A Thousand Years – @gheawaldrof

  1. ayo ayo…. ayo jeje hamil lagi #eeh

    jejeny sabar banget yaaa…. dikasarin gitu tapi tetep setia😀
    apaan? ahra?
    udah tinggalin aja mahluk itu, bzz -_-

  2. ,diawal jaejung,d akhir jaejoong,,kayana lbh baik klo pakai satu aja deh author ssie*mian,,menurutq lho*,,kok aq ngrasa da yg kurang y dr ff nie,,tp apa y??*pabboface*,,thnks for writing

  3. kyaaa akhirnya emaak ma yundad bisa sama-sama ^^ rada sebel ma yundad yang rada jahat ma jaemma huhu emak w T_T
    ff nya bagus kok cuma kurang panjang #plaaak adegan nc nya di skip pula #dihajar author tapi aku sukaaaa >_<

  4. Ayooo…appa bikin anak lagi…NCan terus tiap hari yaaaa…(~_^)

    Akhirnya umma skrg bahagia…
    Umpa.. semoga perkawinan kalian langgeng ýª!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s