[Fanfiction] Fallen Leaves – @MouliSaeng1003


[ Fanfiction & Fanart Fanficyunjae Contest 2012 ]

@MouliSaeng1003 – Fanfiction

Silakan bantu menilai dengan tinggalkan komentar / like jika chingu suka postingan ini🙂

Fanfic Contest

Tittle: Fallen Leaves

Cast: Kim Jaejoong, Jung Yunho

Author: Maulida a.k.a Saengie Love

Genre: Romance, Fluff, Angst, Sad, Yaoi

Pairing: YunJae

Category: Fanfiction

Length: Oneshoot

 

Daun jatuh yang telah layu dan busuk diatas tanah, begitu buruk dan menyedihkan. Siapapun tidak akan menyukai daun layu yang sudah jatuh. Mereka hanya akan menginjaknya saat melihatnya. Mencabik-cabik seluruh bagiannya hingga hancur tak berbentuk, lalu membiarkannya begitu saja. Daun yang sudah layu, memang sebaiknya dibuang. Karena hanya akan menjadi sampah yang tak enak dilihat.

Begitulah diriku. Seperti daun jatuh itu. Daun yang kering dan layu. Tidak berguna, dan merusak pemandangan orang yang melihat. Harusnya aku dihindari, dibuang ketempat sampah, dan setelah itu dihanguskan dari muka bumi ini.

Tapi dia, orang yang seperti daun indah di ranting pohon yang paling tinggi, malah memilih jatuh ketempatku, menemaniku sepanjang waktu. Dia memperlihatkan padaku tentang  betapa berharganya sebuah kehidupan. Hingga membuatku mempunyai semangat hidup lagi.

Dia juga menunjukkan padaku apa artinya sebuah cinta. Cinta yang tulus dan abadi, tanpa nafsu ataupun kekaguman sesaat.  Membuat diriku selalu mengucapkan harapan-harapan. Berharap ia selalu bersamaku, berharap ia tidak pernah meninggalkanku.

Namun harapanku tidak pernah terkabul. Dia pergi, meninggalkanku untuk selamanya. Dia bilang, dia mencintaiku. Tapi mengapa dia pergi? Seperti itukah cinta? Kata orang, cinta itu indah. Tapi yang kurasakan mengapa sangat sakit?

Sudah lama sekali, ini sudah hampir tahun yang keenam. Tapi dia belum juga kembali. Jika dia akhirnya pergi meninggalkanku, mengapa dia harus hadir dikehidupanku? Benarkah dia tidak akan kembali? Tapi aku masih berharap dia akan datang kesisiku lagi. Aku akan menunggunya. Walaupun penantian itu membutuhkan waktu seumur hidupku. Aku sangat yakin dia akan pulang kesisiku, menemaniku lagi seperti dulu, hingga maut memisahkan kami berdua.

Aku akan menceritakan kisahku, kau mau mendengarnya? Lima tahun yang lalu. Potongan kenanganku saat bersamanya yang tidak akan pernah bisa aku lupakan.

Aku ingat, saat pertama kali bertemu dengannya disini. Ditaman ini, dibangku panjang berwarna cokelat tua yang sedang aku duduki. Dia datang menghampiriku dan menyapaku. Dia bertanya padaku, “Nona cantik, kau sendirian saja?” Saat itu aku sedikit marah padanya. Karena dia menyebut aku nona.

================================================================

-Lima tahun yang lalu-

“Nona cantik, kau sendirian saja?” Orang itu berdiri dihadapanku sambil tersenyum, memperlihatkan aura ketampanannya padaku. Aku hanya diam memandangnya tanpa minat ingin membalas. Aku pikir dia akan pergi, namun aku tak menyangka dia malah duduk disampingku. Baru kali ini ada orang yang mau menyapaku. Biasanya, tidak ada satupun orang yang menganggapku ada. Bahkan keluargaku pun tak menganggapku. Karena aku orang yang malang, menyedihkan, dan hina.

“Hampir setiap hari aku melihatmu disini. Apa kau tinggal didekat sini?” Tanyanya lagi. Namun aku masih saja diam tak meresponnya. Bukan karena aku tidak ingin menjawab, tapi aku tidak bisa. Aku takut jika aku menjawab, dia akan mencaci dan mencemoohku, lalu pergi meninggalkanku begitu saja. Seperti semua orang yang sudah menyapaku sebelumnya.

“Namaku Jung Yunho. Boleh aku tahu namamu?” Aku yang sedari tadi menunduk, melihat juluran tangannya kearahku. Kudongakkan kepalaku menatapnya. Dia masih saja tersenyum. Daun-daun kering dari ranting terus berjatuhan disana. Aku ingin beranjak pergi, namun buru-buru ditahan olehnya.

“Aku belum tahu namamu.” Dia mengambil tanganku dan menggenggamnya. Aku berbalik menoleh kearahnya, dan bergeming sesaat.

‘Kim Jaejoong.’ Kataku dengan bahasa isyaratku. Entah dia mengerti atau tidak, aku tidak perduli. Tetapi kulihat matanya membesar dan bibirnya membulat seiring aku menggerakkan tanganku. Aku tahu setelah ini dia tidak akan mau melihatku lagi, dan akan pergi menghindariku jauh-jauh. Jadi lebih baik aku saja yang pergi duluan. Aku melepaskan tanganku digenggamannya yang mulai melonggar, dan pergi meninggalkannya.

Tapi, aku salah. Esok harinya, saat aku menghampiri bangku taman berwarna cokelat tua itu, dia duduk disana, dan melambaikan tangannya kepadaku.

“Kau terlambat. Aku datang lebih dulu…” Katanya riang. Aku hanya diam, mendengarnya mengoceh tak jelas disampingku. Dia sangat lucu. Entah sudah berapa kali aku menahan diriku untuk tidak tertawa. Dia membuat diriku merasa nyaman bersamanya.

“Kau tahu kan jet coaster itu? Aah, kata temanku itu sangat mengerikan. Tapi bagiku itu sangat menyenangkan.. Permainan menantang seperti itu bisa membuat rasa penat hilang.” Dia bercerita dengan penuh semangat. Aku hanya mengangguk menanggapinya.

“Kau pernah ke taman hiburan?” Tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku.

“Benarkah? Mau kesana bersamaku?” Aku menggelengkan kepalaku lagi. Bukan aku tidak mau. Bahkan aku ingin sekali, merasakan permainan-permainan yang diceritakan Yunho padaku, merasakan kesenangan disana. Tapi aku tidak bisa. Aku malu untuk bertemu banyak orang.

“Kenapa? Disana sangat menyenangkan.” Aku menggunakan bahasa isyaratku untuk menjawabnya. Dia memandang tanganku sambil mengerutkan alisnya, bingung.

“Ah, sepertinya aku harus belajar bahasa isyarat juga agar mengerti apa yang kau katakan. Hehehe… Tenang saja! Aku pasti akan mahir dalam waktu seminggu!” Aku terdiam tidak percaya. Benarkah? Dia belajar agar mengerti diriku? Aku benar-benar tidak percaya. Aku tersenyum senang. Aku benar-benar gembira.

================================================================

Aku berdiri disebuah pohon yang sangat rindang. Daun-daun yang sudah kering dan layu itu, jatuh berguguran ketanah yang dingin dengan sangat menyedihkan. Aku menunduk kebawah, memandang daun-daun yang sudah tergeletak tak berdaya diatas tanah. Perlahan aku membungkuk mengambil salah satu daun kering itu. Memperhatikan daun itu dengan perasaan sedih, kemudian tersenyum miris.

‘Kau benar-benar menyedihkan’ Batinku menatap daun layu itu. Entah kata-kata itu untuk daun itu, atau untuk diriku sendiri. Aku menggenggam daun itu, kemudian kembali melangkahkan kakiku yang tadi sempat terhenti, ke sebuah bangku panjang berwarna cokelat tua yang tak jauh dari pohon tadi.

Aku duduk disana, lalu mengangkat tanganku dan memandang lama daun itu lagi. Namun tiba-tiba daun itu direbut seseorang. Aku tersentak dan menoleh kearah orang itu. Orang itu tersenyum didepanku dengan senyuman manisnya. Sangat tampan.

“Hai… Sudah lama menunggu?” Tanyanya lalu duduk disampingku. Ia menatap daun itu, menelusurinya dengan telunjuk tangannya. Aku menggelengkan kepalaku sebagai jawaban.

Sudah hampir satu tahun kami menjalankan hubungan pertemanan ini. Setiap hari bertemu ditaman ini, dibangku yang sama. Mendengarnya bercerita tentang hari-hari yang dia lalui dan menumpahkan seluruh keluh kesah didalam hatinya. Aku yang bertugas menjadi pendengar setia, hanya merespon dengan anggukan, gelengan, dan sesekali menjawab pertanyaan yang dia ajukan.

Ia kembali menatapku dan tersenyum. Namun tiba-tiba senyumannya hilang. Aku tahu dia sedang ada masalah dan ingin bercerita. Dia sedikit menunduk membuatku penasaran apa yang sedang dipikirkannya.

Aku menarik-narik jaket cokelat tebalnya. Ia menaikkan kepalanya melihatku. Aku memainkan daguku kearahnya, bertanya apa yang terjadi.

“Kau tahu? Hari ini aku bertengkar dengan Appa lagi. Appa benar-benar kejam padaku.” Aku diam menatapnya, menunggu ia melanjutkan kalimatnya.

“Appa, ingin aku menjalankan bisnisnya jika aku tidak ingin menikah sekarang. Tapi, bisnis itu ada di Barcelona, Spain. Kau tahu tempat itu? Negara itu sangat jauh dari Korea.” Katanya sambil mengisyaratkan seberapa jauh kota itu dari seoul melalui tangannya.

Aku memandangnya terkejut. Spain? Aku tahu negara itu. Negara di benua Eropa yang letaknya sangat jauh dari sini. Dia, ingin pergi kesana? Itu artinya, dia akan meninggalkanku?

“Aku tidak ingin kesana. Benar-benar tidak mau kesana. Apa yang harus aku lakukan, Jaejoong?” Tanyanya padaku. Raut wajahnya menunjukkan kecemasan yang mendalam. Apa? Apa kau mencemaskanku? Aku berharap begitu.

“Aku disuruh memilih. Ada dua pilihan. Menikah dengan gadis pilihan Appa, atau menjalankan bisnis di Barcelona.” Menikah? Pergi? Apa hanya dua pilihan itu? Jika dia menikah, bagaimana denganku? Huh, Jaejoong bodoh. Siapa yang mau memilihmu? Bahkan dia tidak menanyakan apakah kau keberatan jika dia menikah dengan orang lain. Lalu apa yang kau harapkan, huh? Kau hanya bisa berharap yang tidak mungkin terjadi.

“Menurutmu, apa yang harus aku pilih?” Dia menanyaiku sebuah pertanyaan yang tak mampu aku jawab. Harus memilih yang mana? Apa kau harus menanyakan hal itu kepadaku?

‘Aku tidak tahu’ Jawabku dengan isyaratku.

“Ayolah Jaejoong… Aku benar-benar bingung saat ini. Jika aku memilih bisnis, aku pasti akan meninggalkanmu.” Dan jika kau memilih menikah dengan wanita itu, apa menurutmu kau tidak akan meninggalkanku?

‘Kalau begitu menikahlah.’ Tak apa.. Tak apa jika dia memilih menikah. Yang penting jarak kami tidak akan terlalu jauh. Yang penting aku masih bisa melihatnya. Yang penting, dia masih disini, masih tetap menemaniku. Tapi harapan yang terakhir itu, aku tidak yakin bisa terkabul. Setelah dia menikah, masih bisakah dia menemaniku seperti ini?

Yunho terdiam sesaat, lalu perlahan menundukkan wajahnya. Menatap daun kering itu lagi yang sedari tadi masih setia berada ditangannya.

“Kau ingin aku menikah?” Tanyanya dan menatapku sangat tajam. Aku hanya diam tak menjawab apapun. Apa yang harus aku jawab lagi? Menyarankannya agar memilih diriku saja? Jangan bodoh, Kim Jaejoong… Kau bukan termasuk salah satu pilihan.

“Ah, kau tahu? aku sangat menyukai daun yang sudah jatuh. Memang terlihat layu dan kering. Namun tidakkah kau melihat warna daun kering itu? dia berwarna cokelat keemasan. Warna yang sangat indah dan cantik. Begitu mewah dan mengagumkan. Membuat orang yang melihatnya terpesona akan kecantikan dan kemewahannya.” Ucap Yunho menjelaskan rinci dari sebuah daun yang berada ditangannya.

“Saat daun itu jatuh dari ranting yang tinggi, benar-benar sangat indah. Dan sangat menyenangkan saat melihatnya. Daun ini terlihat sangat lemah dan membutuhkan perlindungan. Karena itulah, aku menyukai daun jatuh ini. Karena aku ingin menjaganya dan melindunginya dari manusia-manusia yang berusaha ingin meremukkannya.” Lanjutnya lagi. Ia memandangku begitu tajam dan lama. Lalu mendekat kearahku, dan berbisik ditelingaku.

“Kau adalah daun jatuh itu, Kim Jaejoong.” Katanya, kemudian mencium pipiku. Dan seketika itu seluruh wajahku memerah. Aku mematung tak berani bergerak sedikitpun, atau lebih tepatnya tak mampu bergerak.

Benarkah? Benarkah seperti itu? Daun jatuh, bukankah seharusnya dinamakan sampah? Tapi mengapa orang ini menganggapnya istimewa? Aku sama sekali tidak mengerti.

Dia menjauhkan bibirnya dari pipikuku, lalu memandangku tajam. Aku balas memandangnya. Aku merasakan kegugupan menjalar keseluruh tubuhku. Wajahnya yang tampan itu sangat dekat diwajahku. Perlahan wajahnya semakin dekat, dan semakin dekat. Dia memiringkan kepalanya. Aku membelalakkan mataku dan menahan nafasku, tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Namun wajah Yunho berhenti maju didepan wajahku, menatapku begitu intens. Hidung kami hampir saling bersentuhan. Sedetik kemudian, dia menjauhkan wajahnya dan menunduk dalam.

“Mian… Jeongmal mianhae…” Ucapnya meminta maaf. Aku merasakan jantungku berdetak sangat cepat. Perlahan aku mengeluarkan nafasku yang tertahan, dan menghembuskannya berkali-kali. Tadi itu, Yunho ingin melakukan apa? Oh Tuhan…. Aku gugup sekali… Sangat gugup…

“Ah, chakkaman.” Kulihat dia merogoh saku jeansnya dan memperlihatkan sesuatu padaku. Sebuah foto.

“Ini calon yang dipilihkan Appa untukku.” Aku melihat sebuah foto yang diperlihatkannya padaku. Inikah calon Yunho? Cantik sekali.

‘Sangat cantik.’ Ucapku jujur. Wanita itu benar-benar sangat cantik. Sangat pantas untuk mendampingi Jung Yunho yang tampan. Masih pantaskah aku berharap aku yang mendampinginya di pelaminan? Aku benar-benar orang yang tidak tahu diri.

“Kau lebih cantik dari siapapun.” Bisiknya seraya menyunggingkan senyuman genitnya.

‘Bohong.’ Aku mengerucutkan bibirku, membuatnya tertawa kencang.

“Ani… Aku berkata jujur. Tidakkah kau bercermin? Wajahmu begitu indah. Seharusnya kau sadari itu.” Ucapnya lagi.

‘Jangan menggodaku.’ Aku menggembungkan pipiku. Tangannya perlahan meraih kedua pipiku yang menggembung, seraya berkata, “Kau benar-benar sangat indah. Aku serius.” Ucapnya dan tersenyum padaku.

=================================================================

Hari ini aku duduk di bangku yang berwarna cokelat tua itu, seperti biasa. Cukup lama sudah aku berada disana. Aku menatap orang yang berada disebelahku. Dia menutup matanya sambil menopangkan kedua tangannya didadanya. Aku memandanginya, terus-menerus memandangnya. Dia begitu tampan saat tertidur seperti itu. Matanya yang tertutup, hidungnya yang kecil dan mancung, bibirnya yang berbentuk hati, dan wajahnya yang begitu kecil. Benar-benar pahatan yang begitu mengagumkan.

Yunho-ah, mengapa kau begitu sempurna? Membuatku merasa tidak pantas berada disampingmu. Aku hanya makhluk jelek yang tidak berguna, banyak kekurangan, dan cacat. Tidak sepertimu. Jika diibaratkan, kau seperti daun hijau dan segar yang bertengger di dahan tertinggi diatas pohon. Sedang aku, hanya daun kering dan rapuh yang berserakan diatas tanah. Yang akan diinjak semua orang yang melewatinya. Kita sangat berbeda jauh, dan walaupun aku sudah tahu semua itu, mengapa aku masih saja tidak tahu malu untuk melontarkan segala harapan-harapanku padamu didalam hatiku?

Seharusnya aku tahu diri, aku tidak pantas untukmu. Tapi mengapa, kau selalu datang ke duniaku dan menghabiskan waktumu dengan percuma untuk menemaniku? Aku benar-benar tidak mengerti. Aku sama sekali tidak mengerti. Sebenarnya, apa arti diriku bagimu? Apa hanya sebatas rasa kasihan? Atau hanya sekedar hiburan buatmu karena kau merasa kesepian?

Aku pernah bertanya padanya, ‘Mengapa kau mau berteman denganku?’ Dia bertanya, ‘Mengapa?’ Lalu aku jawab, ‘Kau orang pertama yang mau berteman denganku, tidak ada yang mau mendekatiku sebelumnya. Karena aku orang yang menyedihkan dan cacat.’ Kau tahu apa yang dia jawab? Dia menjawab, “Benarkah? Menurutku hanya orang bodoh yang selalu menjauhimu. Aku bukan orang bodoh seperti mereka. Karena aku tahu, dibalik kekuranganmu, kau adalah orang yang sempurna.”

Aku hampir saja meneteskan air mataku jika tidak menahannya sekuat tenaga. Dia orang pertama yang membuatku merasakan bahwa diriku benar-benar orang yang sempurna. Saat itulah aku sadar, bahwa aku mencintainya. Jung Yunho, aku benar-benar sangat mencintaimu.

“Aku tahu aku tampan, tapi jangan memandangku seperti itu. Kau membuatku salah tingkah.” Tiba-tiba dia membuka matanya dan mengatakan itu sambil menyunggingkan senyumnya padaku. Aku yang gugup, cepat-cepat memalingkan wajahku kesegala arah, mencoba menutupi rasa gugupku didepannya.

“Apa yang kau pikirkan?” Tanyanya sembari menuntun wajahku untuk menatapnya. Dengan terpaksa aku menatapnya lagi. Wajah tampannya begitu dekat dengan wajahku. Ya Tuhan, aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang…

“Aku tanya, kau memikirkan apa?” Tanyanya ulang. Aku menggelengkan kepalaku, tidak mau menjawab pertanyaannya.

“Ayo katakan. Aku ingin tahu.” Suruhnya lagi. Akhirnya aku menggerakkan tanganku karena dia terus memaksaku.

‘Kau tampan.’ Ucapku jujur. Ia begitu senang membaca isyaratku. Lalu kemudian dia mengangkat tangannya, membalasku dengan bahasa isyarat juga.

‘Kau cantik. Walau kau seorang pria, tapi kau lebih cantik dari seluruh wanita yang ada didunia ini.’ aku menundukkan kepalaku menutupi wajahku yang mulai memerah. Dia selalu memujiku. Walau itu mungkin kebohongan, tapi aku tetap suka.

“Ahahaha… Kau sangat lucu saat malu seperti ini.” Katanya sambil mencari wajahku yang kusembunyikan dikedua lututku.

“Jaejoong-ah…” panggilnya. Segera aku mengangkat wajahku dan memandang kearahnya.

“Bolehkah…. Aku memelukmu?” Aku diam sebentar, sebelum menganggukkan kepalaku. Dengan cepat ia merapatkan tubuhnya ke tubuhku, memelukku dengan sangat erat. Seolah hari ini adalah hari perpisahan kami berdua. Atau mungkin memang begitu?

“Kau sangat hangat…” Dia makin mengeratkan pelukannya, menenggelamkan wajahnya dileherku, kemudian menghirupnya. Membuatku bergidik menahan geli.

“Jae, aku tidak ingin kehilanganmu…” Katanya sembari mencium lembut leherku.

“Aku sangat takut jauh darimu…” ucap nya lagi. Dan banyak kata-kata lain yang dilontarkannya padaku hari ini. Tapi ada satu kata yang membuat nafasku seakan terhenti.

“Aku mencintaimu… Aku mencintaimu, Jaejoong…” saat itu juga aku merasa seakan tubuhku melayang ke angkasa, bunga-bunga bermekaran dimana-mana, dan daun yang kering menjadi hijau kembali.

Benarkah? Benarkah dia mencintaiku?

Atau ini hanya mimpiku saja?

Atau sebuah ilusi yang kubayangkan?

Atau… Atau…

Tapi sepertinya, ini bukan mimpi. Aku dapat merasakan dengan jelas bibirnya yang kini menyentuh lembut bibirku. Menyesap, dan menjelajahi ronggaku dengan lidahnya.

Saat dia menarik bibirnya menjauh dari bibirku, saat itu juga aku menarik jaket hitamnya dan merapatkan bibirku lagi ke bibirnya. Aku tidak ingin kehilangan bibirnya yang begitu manis terasa. Sangat lembut, membuatku ingin lebih lama merasakannya. Dia menutup matanya, sesaat ia memasukkan lidahnya ke mulutku yang terbuka.

Tak berapa lama ciuman kami berhenti juga karena merasakan paru-paru yang sudah kering akibat kekurangan oksigen. Dia memandang seluruh wajahku dengan pandangan yang begitu sayu.

“Besok, datanglah seperti biasa. Aku menunggu kedatanganmu. Jangan terlambat, arasseo?” Aku mengangguk dan tersenyum senang. Apa ini yang disebut kencan? Aku tidak sabar menunggu hari esok tiba.

==================================================================

Pagi itu, aku sudah sampai ditaman. Aku sudah berdiri didepan bangku itu. Tapi aku tidak menemukannya disana. Bahkan dimanapun. Hanya ada sepucuk surat yang tergeletak diatas bangku panjang itu. Tiba-tiba hatiku merasakan sesak. Perasaan gelisah mulai menjalari pikiran dan hatiku. Apa itu surat darinya? Dia bilang dia akan menungguku, tapi mengapa hanya sebuah surat cokelat tua yang kutemukan? Dimana dia? dimana cintaku?

Perlahan aku mengambil surat itu. Hatiku berdebar saat ingin membukanya. Apa ini? Perasaan apa ini?

Kubuka dengan hati-hati dan membacanya. Seketika bibirku bergetar begitu hebat. Tubuhku seakan mati rasa. Aku terjatuh, terduduk diatas tanah yang dingin. Kurasakan air mataku jatuh terus menerus membasahi pipiku. Aku terisak didalam hati. Aku tahu, pada akhirnya, semua orang pergi meninggalkanku. Aku tidak akan pernah bisa menemukannya lagi. Aku tidak akan pernah bisa melihat wajahnya lagi. Tidak akan pernah bisa…. Tidak akan…. Pernah bisa merasakan cintanya lagi yang hanya sesaat kurasakan. Aku, Kim Jaejoong, akhirnya merasakan kesendirian lagi. Daun jatuh yang layu itu kembali meringkuk sendirian, tanpa ada daun hijau yang menyempurnakannya.

Kisahku, berakhir seperti ini. Tidak ada lagi dirinya yang dulu selalu menemani hidupku. Semua sudah sirna, seperti daun yang terbang dihembus angin kencang, dan tak akan pernah kembali lagi.

Apakah ini sudah benar-benar berakhir? Atau belum? Masihkah ada harapanku untuk bisa menunggunya? Namun aku tetap berharap. Berharap dia kembali kesisiku. Sampai akhirnya nanti saat aku tidak mampu berharap lagi.

Dear, Kim Jaejoong

Orang tercantik yang pernah aku temui,

Aku tahu kau akan sedih saat membaca surat ini. Aku menulis surat, karena aku tidak ingin melihatmu menangis. Aku tidak sanggup harus memandangi air matamu yang jatuh kepipimu. Apa aku seperti orang yang pengecut?Maafkan aku. Maafkan aku jika aku terlalu pengecut.

Kim Jaejoong, nama yang begitu cantik. Bahkan pengucapannya terdengar sangat indah. Sangat cocok dengan wajahmu yang menawan bak mutiara didalam kerang.

Saat aku melihatmu pertama kali, aku langsung tahu kau begitu istimewa. Kau tidak tahu kan? Saat pertama kali berkenalan denganmu, saat itu juga aku sudah jatuh cinta padamu. Mungkin menurutmu aku bohong, tapi aku berkata jujur. Kau seperti daun kering yang berwarna cokelat keemasan itu. Begitu rapuh, namun sangat indah.

Aku mencintaimu, Jaejoong-ah… Sangat begitu mencintaimu. Bahkan jika ada kata yang lebih dari kata cinta, maka itulah yang kurasakan padamu. Akankah hatimu sama seperti hatiku?

Tapi sekarang, aku harus pergi. Meninggalkanmu sendirian. Aku tidak bisa menikah dengan calon yang dipilihkan Appa padaku. Karena aku hanya mencintaimu. Aku tidak sanggup menikahi orang lain selain dirimu. Jadi aku putuskan, aku akan pergi ke Barcelona, mengurus bisnis Appa disana. Jangan menungguku, karena mungkin selamanya aku tidak akan pulang ke korea lagi.

Aku tidak ingin kehilanganmu, tapi aku juga tidak ingin menikah dengannya.

Maafkan aku, Jaejoong-ah… Kumohon maafkan aku yang harus meninggalkanmu. Maafkan aku yang tidak dapat menepati janjiku, bilang bahwa aku akan selalu bersamamu dan menjagamu. Ciuman yang kau berikan semalam itu, dan kenangan-kenangan kita selama satu tahun ini, tidak akan pernah sanggup aku lupakan. Aku akan menyimpannya didalam hatiku, selamanya.

Terimakasih, karena kau sudah hadir di hidupku. Mengisi hari-hariku yang kosong. Dan selalu mendengarkan keluh kesahku yang membosankan. Aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu. Aku sangat bahagia bisa mengenalmu, Jaejoong. Kuharap kau sama sepertiku.

Aku akan selalu mencintaimu, kaulah cinta pertamaku dan cinta terakhirku.

Jika kita memang ditakdirkan berjodoh, aku yakin kita akan bertemu lagi. Tapi jangan menungguku. Karena itu hanya sia-sia.

Semoga kau bahagia setelah aku meninggalkanmu. Lupakan aku, dan bahagialah..

Gomawo, Jaejoong-ah…

Orang bodoh yang akan selalu mencintaimu,

Jung Yunho.

End

21 thoughts on “[Fanfiction] Fallen Leaves – @MouliSaeng1003

  1. Yaaaa… sad ending, kenangan sgd indah yg gk bsa d lupain yunjae, bangku panjang coklat d taman… s daun kering sama daun hijau segar,

  2. Apa sebenernya Yunho ga dikasih izin buat ngebawa Jae ke Barcelona? Itu pastinya bakal lebih baik daripada ninggalin Jae sendirian. ;___; Tapi one-shot ini bagus. ^^

  3. Mwo??? O.o ad ap dgn ending??? Aih~ plian yg slit emng mlegakan skligus mnyakitkn

    bnar2 crta dngan prumpamaan yg bgus ^^ aq ska pnggambrannya wlopun endingnya tdak bsa dkatakn mlegekan T,T

  4. yuunnhhooo~~!
    itu kenapa jeje ditinggalin sendiri T-T
    bawa dong, masukin koper, nikah deh di sana #eeh
    apalagi ninggalin ny pas timing ny gak tepat, tsk~
    jadi makin gemes kan gini ini ><

  5. dan saya pun nangis T___T
    huueee..
    Knp harus pergi coba ?
    Aduuhhh ;~;
    kalo d bikin lnjutan nya bisa seru nih, jd ntr jae nya nyusul gtu ke barcelona.
    Hehehe

  6. hhuuwwaa nice epepe,,tp knp endingna d flashback??,,tp,ini bnr” bgs,,pas prtm aq bigung ntu jeje pa yun,,ahh paling jeje,,kan dy yg srg menderita*dijewer*,,hiks walo endingna ngegantung,tp aq bahagia ma pilihan yunppa,,pokokna daddy cuma buat mommy,,ayyoo yunpa pulangghh,ato mommyy nusul gtuuu,klo gg ff lomba,,bakal guling”minta sequel dah diriq,,

  7. Gomawo udah koment yaaaaa…… hehehehe😀 rencananya emang aku mau buat Yunho ver sama sekuelnya. tapi sampe skrg belum sempet bikin… piiis…. :DD

    ntar kalo sempet aku buat deh… makasih sekali lagi udah baca n komen🙂

    *author

  8. hiks hiks hiks,,, ga sanggup mau komen apa! tp sungguh mengharukan
    kok akhirnya kyk gini? kisah YunJae hynya jadi kenangan… huweeee hiks hiks hiks hiks

  9. kenapa ini ke tag di fluffy T.T
    ini sih angst , romance -for me-
    sakit bgt klo jadi jae ,
    tapi si jae juga g respon yun sih hiks
    sakit banget ih bacanya ngabisin aer mata di ending

  10. Wae? Wae? Yunpa Ъ>:/ bawa serta jaema ke barca? Bukankah di eropa mereka lebih bebas bahkan jika mereka menikah se x pun!

    ªª yunpa Ъ>:/ kasian sam̶̲̅α̇ jaema ýanƍ sendirian di soul?!
    Yunpaaaa…bawalah jaema ke Spain!
    Mana bisa jaema hidup bahagia tanpa yunpa!
    Apa yunpa lupa? Bahkan keluarga’a jaema aja Ъ>:/ nganggep jaema ά̲ϑª!
    Yunpa satu”nya org ýanƍ mau berteman bahkan mencintai jaema apa adanya!

    Yunpaaaaaaaaaaaaa…..bawalah jaemaaaaaaaaa…(╥﹏╥)

    Gomawo thor! sukses bikin Àƙύ menangis

  11. Apa????😦
    Sad ending~~ huhuhu u.u
    Kenapa akhirnya jadi gini😦 kirain yunpa bakal balik lagi ..
    Appa~~~ pulanglah , temani jaema..
    Oke>< kalian berjodoh .. suatu saat pasti akan dipertemukan kembali .
    ~(˘▽˘~) ~( ˘▽˘ )~ (~˘▽˘)~
    (╥﹏╥)

  12. sedihnyaa.. mana sambil dengerin JYJ’s Fallen Leaves lagi >_< tapi bagus🙂 bahasanya enak dan detailnya indah. ayo author, bikin sequelnya ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s