[Fanfiction] Sorry, I kill my love – @Ovitt_


[ Fanfiction & Fanart Fanficyunjae Contest 2012 ]

@Ovitt_ – Fanfiction

Silakan bantu menilai dengan tinggalkan komentar / like jika chingu suka postingan ini🙂

– Sorry, I kill my love –

 

Title: Sorry, I kill my love

Author: Amira Zarra Ovitte

Genre: romance, thriller

Rate: PG-15

Length: Oneshoot

 

 

24 Maret

Lilin itu telah padam. Ditiup sehembus napas dari mulut Yunho. Seiring dengan malam yang kian larut disertai dengan angin malam yang mengintai mereka. Denting jarum jam yang berdiri angkuh diatas meja di pojok ruangan menambah kuat hatinya untuk mematikan lilin itu. Candle light dinner telah dia lakukan dengan Jaejoong, sesosok yang telah mengisi hatinya. Yunho masih tertahan dalam duduknya berhadapan dengan Jaejoong yang berada didepannya. Menatapnya dalam. Matanya tak bisa lepas dari Jaejoong, seolah ada yang menahan pandangan matanya untuk terus menautkannya pada Jaejoong. keelokan Jaejoong yang telah meluluhkan hatinya. Yunho masih terus menatap Jaejoong dengan seulas senyum yang melambangkan seberkas cinta dan kasih sayang. Entah hal apa yang membuat Yunho terus menanggalkan pandangannya pada Jaejoong.

 

“Ah, kau kenapa, Yunnie?”

 

Yunnie adalah panggian kesayangan Jaejoong untuk Yunho. Jaejoong telah cukup lama memanggil Yunho dengan panggilan itu. Dan hanya Jaejoong saja yang patut untuk memanggilnya dengan sebutan itu. Dan Yunho pun punya panggilan kesayangan untuk Jaejoong, Joongie. Jaejoong tampak merona di pipinya karena Yunho masih juga menggantungkan pandangannya. Dia tertunduk malu. Agak memiringkan kepalanya supaya Yunho tidak melihatnya dengan jelas. Namun, tetap saja, siluet Jaejoong dibawah lampu sudut yang jatuh tepat diatasnya membuat sosok Jaejoong jauh lebih tegas dan lebih indah.

 

“Kau malu, Joongie?”

 

Kata-kata Yunho agak menggelitik hati Jaejoong. Malu? Yang benar saja. Tapi, Jaejoong tak akan menyangkal bahwa pria yang ada dihadapannyalah yang telah mampu membuat pipi dan hatinya merona merah. Rona penuh cinta. Seperti merahnya mawar yang merekah bertaburan diantara mereka.

Yunho sengaja menggelar candle light dinner berdua dengan Jaejoong. Di tepian balkon apartemennya yang berhadapan langsung dengan panorama malam kota Seoul. Hanya berdua? Ya. Berdua agar hatinya bisa menelisik seluruh isi hati Jaejoong lebih dalam. Menyelami palung terdalam yang terdapat dalam hati Jaejoong. Membaca setiap derap gerak tubuhnya yang lembut. Ah, makhluk macam apa kau ini, Joongie? Pikir Yunho membatin sendiri setiap dia berhadapan dengan sesosok indah ini. Sungguh, di matanya, dia lebih indah dari sesosok malaikat. Yang terus menerus menguntai helai-helai cinta diantara mereka.

 

“Kau senang? Apa kau menikmati makan malam ini?”

 

Yunho menggenggam tangan Jaejoong perlahan, merasakan hangatnya suhu tubuh Jaejoong yang telah meleburkan hatinya dan membiarkannya menyatu dengan hati Jaejoong. Dia juga merasakan denyut nadinya yang berdetak perlahan. Deg… deg… deg…. Selayaknya satu harmoni menawan yang menawarkan irama yang senada. Yunho bahkan bisa merasakan detak jantungnya selaras dengan denyut nadi Jaejoong. Dia menggenggam tangan Jaejoong itu dengan kedua tangannya. Erat. Setiap detik berjalan maka jauh lebih erat lagi. mengirimkan simpul-simpul cinta lewat syaraf yang bersentuhan itu.

 

Jaejoong menatap lekat Yunho. Menembus retina mata Yunho yang bening. Dan langsung tertahan di sudut paling nyaman milik Yunho. Mereka bertatapan ketika angin itu berhembus dari barat membuat aura cinta mereka semakin memuncak.

 

“Aku sangat senang.” Jaejoong melayangkan senyumnya dari bibir tipis cherry-nya.

 

Dengan segera, Yunho menarik tangan Jaejoong memasuki apartemennya yang hangat. Angin malam itu terasa sangat membekukan. Meninggalkan balkonnya yang masih tetap menyisakan panorama kota Seoul yang indah. Jaejoong menurut saja. Tangannya tak lepas menggenggam tangan Yunho yang menuntunnya.  Namun, siapa sangka Yunho akan membawanya ke tempat tidur. Lampu-lampu yang temaram semakin membuat suasana menjadi terasa hangat. Denting jarum jam yang terdengar mengantarkan mereka ke dalamnya kepungan malam yang indah. Perlahan dan perlahan.

 

Mereka duduk di satu sisi tempat tidur dengan tangan yang masih bertautan satu sama lain. Merasakan malam yang memang hanya diperuntukan untuk mereka berdua. Malam yang perlahan merambat menuju tengah malam. Seiring dengan itu, merambatlah gairah cinta mereka yang begitu meluap. Meluber hingga membanjiri dasar hati mereka. Dimana auranya begitu meletup menimbulkan percikan cinta yang terus bergesekan diantara mereka berdua. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Hanya diam. Meleburkan sunyi dalam cinta mereka yang tak terlihat. Sunyi. Seperti malam yang hanya berdebur angin yang mengibaskan cinta mereka ke langit-langit yang berputar disekitar kepala mereka.

 

Yunho menarik tubuh Jaejoong naik ke tempat tidur. Setelah sebelumnya melucuti pakaian mereka dan melemparkannya kesembarang arah. Sungguh, dalam mata Yunho hanya ada Jaejoong dan begitu pulalah sebaliknya.

 

12.18. Lewat tengah malam.

 

Jelas sekali angka yang terlihat di jam digital yang berdiri tegak di atas meja disamping tempat tidur. Seakan-akan jam digital itu sedang menutup matanya melihat kedua orang pria yang sedang berada dibalik selimut putih yang menutupi keduanya. Begitu pula dengan semua benda yang ada diruangan itu. Semua diam. Hanya mampu memandangi kedua orang yang yang sedang berputar dalam pusaran arus cinta yang mereka ciptakan sendiri. Angin yang perlahan masuk diam-diam menerpa mereka dengan lembut. Meskipun rasa dinginnya masih juga terasa dan mendorong mereka agar tetap menautkan tubuh mereka.

 

“Ah… Yunnie….”

 

Jaejoong agak menggeser tubuhnya ketika Yunho dengan perlahan meraba dadanya. Mereka masih tetap berada di bawah satu selimut. Mungkin yang mereka rasakan hanya detak jantung mereka saja beserta rasa cinta yang mereka miliki sedang berada di puncaknya. Seketika, gairah mereka memuncak.

 

“Hmmm…. Joongie….”

 

Yunho memeluk Jaejoong dari belakang. Namun, Jaejoong berbalik menghadap Yunho. Dan selayang ciuman itu mendarat di bibir Yunho. Yunho membalas dengan beberapa ciuman. Mengecup setiap jengkal tubuh Jaejoong. Seolah mendaratkan rasa cinta mereka dengan ciuman itu belum cukup. Masih dibawah selimut putih, mereka mengungkapkan rasa cinta mereka dengan caranya sendiri.

 

“Joongie, I love you…”

 

“Me too…”

 

Dan mereka pun mendekatkan tubuh mereka lebih dekat lagi. seakan mereka mampu merasakan aliran darah yang memenuhi lorong pembuluh darah mereka. Seakan jantung mereka berdetak seiringan dengan meletupnya gairah yang mereka rasakan. Yunho memeluk tubuh semampai Jaejoong yang setengahnya tertutup selimut. Dan mengecup bibir cherry Jaejoong yang manis.

 

Mereka berdua masih bergumul dalam selimutnya sedang malam terus merambati dini hari.

 

 

26 Maret

Jaejoong melirik jam tangannya yang hampir menunjuk kearah angka 11 malam. Minuman yang ada dihadapannya sudah setengahnya dia minum. Sembari matanya terus menyapu pandang ke seluruh pojok club itu. Rendah riuh suara musik yang mengantarkan siapapun yang berada di club itu untuk menari seiring musik itu bergulir. Semuanya bercampur dengan ramai. Musik itu semakin keras. Dan lampu warna warni yang berada di langit-langit club berputar memantulkan pijaran cahayanya yang agak menyilaukan mata. Merah yang berpendar menjadi hijau lalu menjadi biru. Semua orang hanyut dalam musik yang diputar yang memanggil mereka untuk menari.

 

Meraih gelas tinggi berisi minuman yang tinggal setengah, lalu Jaejoong menggelontorkan isi gelas tersebut melewati tenggorokannya. Jaejoong melirik jam tangannya lagi. Hanya 10 menit bergulir namun orang yang dia tunggu belum juga datang. Rasanya Jaejoong hendak melempar gelas yang saat ini dia genggam. Amarahnya sudah naik ke ubun-ubunnya. Dan bersiap untuk meletus. Urat syaraf di sekitar wajah mulai menegang.

 

“Kurang ajar!!!” Jaejoong tampak menyeringai saat menunjukkan amarahnya. Dia tak peduli dengan riuhnya musik yang membaur dengan tarian yang orang-orang lakukan saat ini. Kemudian, sesosok lelaki tegap datang menghampirinya.

 

“Sepertinya, kau sudah berada disini cukup lama ya?” Lelaki itu langsung duduk disamping Jaejoong tanpa menampakkan wajah penyesalan karena membiarkan Jaejoong menunggu. Jaejoong menatapnya dengan tajam.

 

Jaejoong hanya diam. Seiring dengan itu, lelaki itu mengeluarkan sebuah amplop. Menyerahkannya pada Jaejoong. Lelaki itu dengan santai duduk bersandar dengan kaki kanan yang berada di atas kaki kirinya. Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebungkus rokok. Menyulutnya dan menghisapnya. Menciptakan segumpal asap rokok yang menyesakkan dada.

 

Jaejoong meraih amplop tersebut. Membukanya perlahan dan mengeluarkan isinya yang berupa foto dan selembar kertas. Dia memegang keduanya. Membolak-balikkan keduanya bergantian. Dia membaca selembar kertas yang disertakan dibawah lampu yang temaram. Membacanya dengan seksama. Lalu pandangannya beralih pada foto seorang lelaki setengah baya yang sedang menaiki mobilnya.

 

“Jadi, ini adalah korbanku selanjutnya?” Jaejoong mengalihkan pandangannya pada lelaki yang masih asyik menikmati rokoknya.

 

“Ya. Aku ingin kau membunuh dia secepatnya.” Lelaki itu balas menatap Jaejoong. Asap yang berasal dari rokoknya mengepul kearah Jaejoong. Keduanya saling menatap tajam. Seperti ada dendam yang masih terpendam antara mereka. Cara mereka saling menatap seperti mata elang yang hendak memangsa buruannya. Terlihat tukikan tajam dari tiap mata mereka. Antara emosi, dendam dan amarah.

 

“Berapa kau berani membayarku?” Angkuh. Jaejoong berubah angkuh. Dia meletakkan foto dan selembar kertas berisi calon korbannya diatas meja. Dia terlhat enggan dengan pekerjaannya. Dia agak meremehkan lelaki yang ada dihadapannya.

 

“Tampaknya kau meremehkanku, huh?” Lelaki itu jengkel. Membuang rokoknya sembarangan. “Aku akan membayarmu begitu kau membunuhnya.”

 

Lelaki itu membiarkan Jaejoong pergi meninggalkannya dirinya. Dengan santai dia menghisap rokok lalu menghembuskan asapnya ke sembarang arah. Matanya seperti serigala. Membidik seperti hendak menerkam. Sosok perfeksionis itu tetap tenang.

 

Jaejoong meninggalkan tempat itu. Berjalan menyeret kakinya kearah pintu keluar sedang music masih berputar dengan keras dan lelaki itu masih ada di tempat dia duduk. Di tangan Jaejoong, dia genggam amplop berisi informasi tentang calon korbannya. Dalam pikirannya berputar satu perasaan yang sangat mengganggunya. Haruskah dia membunuh lagi?

 

1 April

Jaejoong tiba-tiba terkapar. Terduduk di pojok ruangan melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Genangan darah ada dimana-mana. Ilusi warna mulai membayangi penglihatannya. Titik fokus dari matanya menjadi samar-samar dan dia tak dapat lagi melihat dengan jelas. Peluhnya menetes tak karuan.  Bersamaan dengan itu, denyut jantungnya menjadi meningkat. Dia kalap. Benar-benar kalap. Seakan-akan seekor iblis baru saja keluar dari tubuhnya.

 

Seorang lelaki setengah baya tergeletak tak bernyawa didepannya. Darah menghiasi hampir seluruh tubuhnya. Bajunya terkoyak akibat benda tajam. Ya. Sebuah pembunuhan baru saja terjadi saat malam mulai beranjak naik ketika sepinya dunia tampak. Tak ada siapapun di rumah itu kecuali Jaejoong dan lelaki yang telah berubah menjadi mayat itu. Sepi dan sunyi seketika menjadi raja di ruangan itu. Bau nyinyir darah sekaligus membahana, menyesakkan indera penciuman. Mungkin setan dan iblis sedang menari-nari kesenangan melihat Jaejoong berhasil membunuh lagi. Sedang malaikat mungkin saja sedang memohon ampun pada Tuhan agar Jaejoong dimaafkan.

 

Jaejoong duduk melipat kaki di pojok ruangan. Pisau yang dia gunakan untuk membunuh ada disampingnya. Bilah tajamnya tampak menyeringai padanya ketika seberkas sinar terpantul. Dan tentu saja, ada sisa darah korban yang tertinggal. Nafasnya tak beraturan. Dan keringat dingin meluncur dari celah pori-porinya. Bajunya basah oleh keringat dan darah yang terpercik ketika dia membunuh. Dia tampak ketakutan.

 

“Da-darah? Darah? Apa aku membunuhnya??”

 

Dia bertanya pada dirinya sendiri. Menatap tangannya sendiri yang penuh oleh bercak darah. Matanya melotot. Seperti depresi berat. Dia menatap lurus pada korbannya yang berlumuran darah. Ada bekas luka terbuka di dada dan lehernya.

 

“Ya. Aku telah membunuhnya.”

 

Jaejoong mendadak ketakutan. Napasnya tak beraturan. Detak jantungnya memompa darah lebih cepat dari biasanya. Keadaan seperti ini tak bisa dia kontrol. Ketakutan yang luar biasa menyergap dirinya. Entah apa yang dia takutkan. Dia sendiri pun tak bisa mendefinisikannya. Yang pasti, dia telah membunuh sedang dia telah berjanji pada Yunho untuk tidak membunuh lagi. Meninggalkannya pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran…

 

 

***

 

Yunho berusaha untuk menghubungi Jaejoong. Berulang kali dia menatap layar ponselnya menunggu Jaejoong membalas pesannya. Namun, Jaejoong tak kunjung membalas pesan darinya yang sudah dia kirim berulang kali. Dia mencoba untuk menelponnya namun Jaejoong tak juga mengangkat telepon darinya. Menjelang tengah malam dan Jaejoong tak juga menunjukkan tanda bahwa dia pulang. Sudah 2 hari ini Jaejoong tak pulang ke apartemennya.

 

“Joongie, kau dimana? Aku mengkhawatirkanmu.”

 

Yunho bersandar disisi jendela  menghadap balkon. Dia jadi ingat saat candle light dinner kemarin lusa. Ini sudah terlalu larut, Joongie. Sunyi menghinggapi apartemen Yunho. Hanya jam yang berdenting perlahan menghantarkannya pada kekhawatiran yang semakin dalam. Sepi benar-benar merajai segalanya malam ini.

 

JDOOORRR…. JDOOOOOR….

 

Yunho tersentak dari lamunannya ketika matanya masih tertahan menatap jauh kota Seoul. Ada yang menggedor pintu apartemennya ditengah malam. Yunho kaget. Siapa yang berani menggedor pintunya di tengah malam seperti ini? Mungkinkah orang gila? Membuyarkan semua pikirannya tentang Jaejoong. Yunho berjalan perlahan kerah pintu apartemennya. Sepertinya dia telah menyiapkan kata-kata makian bagi siapapun yang berani menggedor pintunya. Dia berdiri didepan pintu. Dan ketika dia meraih kenop pintu dan membukanya, seseorang di balik pintu itu telah mengejutkan hatinya.

 

“Jaejoong….. !”

 

Yunho berseru ketika dia mendapati Jaejoong berdiri dengan kepala tertunduk. Dan dia heran saat dia menemukan beberapa bercak darah di baju yang dikenakan Jaejoong. ketika pintu dibuka, mereka bertatapan beberapa menit. Berusaha mecerna atas apa yang telah terjadi pada mereka.

 

“Kau kembali?” Yunho memegang bahu Jaejoong dan menegakkan kepalanya agar Jaejoong bisa menatap matanya. Namun, Jaejoong tetap dalam diamnya. “Kau baik-baik saja? Kenapa ada banyak darah di bajumu?” Yunho melontarkan pertanyaannya lagi.

 

Yunho membawa Jaejoong masuk. Memapahnya untuk duduk di tempat tidurnya. Mengganti bajunya yang penuh dengan darah. Memberinya minum. Dan Jaejoong tetap dalam diamnya. Sepertinya dia sedang ketakutan. Matanya tak mampu lagi menatap mata Yunho, mata yang selalu mencecarnya dengan cinta.

 

Mereka duduk bersebelahan. Yunho menggenggam tangan Jaejoong yang dingin. Ada satu penyesalan dihatinya, mengapa saat ini dia bahkan tak mengetahui bagaimana keadaan Jaejoong? Padahal mereka sudah sedemikian dekat. Rasanya Yunho ingin menangis saja. Karena dia tak sanggup melihat Jaejoong seperti ini, melihatnya tanpa mengatakan sesuatu. Yunho menggenggam tangannya lebih erat lagi. Lalu membiarkan semuanya mengalir hingga Jaejoong sanggup untuk menceritakan semuanya yang telah terjadi padanya.

 

“Yunho….” Jaejoong menyebut nama Yunho dengan teramat lirih. Seolah tak ada lagi daya untuk mengatakannya. Namun, mata Jaejoong masih menatap kosong ke segala arah tanpa menatap Yunho yang duduk di sampingnya.

 

Yunho mengalihkan wajahnya. Mendekatnya wajahnya pada Jaejoong. Pucat. Tatapan matanya kosong. Seperti ada sesuatu yang menghimpit hatinya. Sesuatu yang telah merenggut ketenangan hidupnya. Seolah dia bukan Jaejoong yang Yunho kenal. Kacau.

 

“Aku telah membunuhnya, Yunnie….”

 

Sepertinya jantung telah mendapatkan satu kejutan. Yunho terdiam ketika Jaejoong mengatakan hal itu. Dia pun terdiam saat Jaejoong memeluknya dengan sangat kencang. Ada setitik airmata menetes di bahu Yunho. Jaejoong tertahan dalam tangisnya. Bukan airmata yang menetes dari segurat matanya yang pucat tapi segenap kesedihan yang entah kapan berubah menjadi penyesalan. Yunho belum juga membalas pelukan Jaejoong. Tampaknya dia sedang mencerna kata-kata yang baru saja Jaejoong katakan. Dan jaejoong  masih jatuh di bahu Yunho yang kokoh itu menumpahkan segalanya.

 

Yunho menepuk punggung Jaejoong perlahan dengan harapan Jaejoong akan berubah menjadi lebih baik. “Bukankah kau telah berjanji untuk tidak membunuh lagi? Bukankah aku pernah bilang, aku siap membayarmu sama dengan bayaran membunuhmu?” Yunho bertanya dengan datar. Tanpa melepaskan Jaejoong yang masih tenggelam dalam sandaran bahunya.

 

Mereka mengetahui dengan baik apa yang telah terjadi pada mereka. Semuanya layaknya mimpi saat terjaga. Ada kilatan petir yang menyambar desiran hati mereka yang tenang. Padahal kemarin lusa mereka baru saja menikmati kebersamaan mereka yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Jaejoong membunuh lagi? Hal macam inilah yang Yunho takutkan. Dia tak bisa lagi menjaga Jaejoong dengan baik dari masa lalunya yang kelam. Ya. Yunho ingin Jaejoong meninggalkan semuanya. Tentang darah, tentang pisau, juga tentang pembunuhan. Mungkin Yunho ingin terjatuh, namun dia tak bisa. Dia harus tetap tegak untuk menahan bahunya yang menjadi sandaran Jaejoong.

 

“Jaejoong, maafkan aku belum mampu menjagamu dengan baik…” Yunho berbisik dalam hatinya. sungguh, ada kepedihan tersendiri yang tak mungkin dirasakan oleh oranglain. Juga ada sakit yang tak terperi di hatinya ketika Jaejoong masih terjaga menahan airmatanya. Rasanya bahu ini tak pantas untuk menjadi sandaran hidup Jaejoong. Diam-diam Yunho pun menangis tanpa airmata. Aku belum cukup mampu untuk membuatmu berhenti dari pekerjaanmu. Maafkan aku, aku tak bisa menyelamatkanmu. Perlahan, Yunho menitikkan airmata.

 

Malam. Malam yang akan selamanya sunyi dan sepi. Malam yang selalu bisa menjadi selimut yang tepat dari seringai kelam. Dan malam itu, kedua lelaki itu masih tertahan dalam pelukannya sedang malam mulai merangkak menjadi raksasa kelam.

 

10 April

Televisi di ruang tengah apartemen Jaejoong tetap meraung dengan keras menggaungkan berita sore itu. Namun, Jaejoong tampak tak mendengarkannya sama sekali. Dia berusaha untuk melupakan yang telah terjadi beberapa hari ini terutama hari dimana dia kembali membunuh seseorang lagi. Dia tetap tenang duduk diatas sofa yang menghadap televisi. Matanya menatap datar ke arah televisi yang masih juga menayangkan berita itu.

 

“Saat ini, pihak kepolisian masih dalam proses pencarian tersangka dari pembunuhan seorang direktur perusahaan mainan….”

Jaejoong segera mengambil remote televisinya dan menekan tombol off. Dan melemparnya ke sembarang arah. Seketika itu pula amarahnya kembali meletup. “Kurang ajar kau, Sebastian!!” Jaejoong meracau sendiri dalam hatinya. Tangannya mengepal keras. Ingin rasanya dia meninju dinding atau apapun itu yang bisa membuat amarahnya reda. Jantungnya pun ikut terpacu mengikuti aliran amarahnya yang mulai tak terbendung. Seketika itu pula dia ingat bagaimana suasana terakhir saat dia bertemu dengan Sebastian di club malam itu. Lalu ingatannya mulai menapaki bagaimana rasanya saat dia kembali membunuh seseorang, padahal dia telah berjanji untuk tidak membunuh lagi. Dan pada akhirnya dia memang lemah dihadapan Yunho. Yang bisa dia lakukan saat itu hanya menangis di bahu Yunho.

 

Perlahan emosinya mulai menurun. Matanya tertunduk lesu dan tangannya tak lagi mengepal dengan keras. Dia tahu benar, ada Yunho yang telah menggenggam hatinya yang akan menjaganya. Jadi, dia tak perlu khawatir lagi. tiba-tiba dia rindu Yunho yang beberapa hari ini tidak dia temui. Namun, selain rasa rindu itu, ada satu lagi yang harus dia wujudkan. Balas dendam. Balas dendam pada Sebastian yang telah menciptakan masa lalu yang kelam.

 

KNOCKK.. KNOCK

 

Ada seseorang yang mengetuk pintunya. Jaejoong tersentak dari lamunannya. Dia bangkit dari tempat duduknya, berjalan menuju pintu. Dengan agak malas, dia meraih gagang pintunya dan membukanya dengan  perlahan. Dia terdiam beberapa detik. Menyakinkan hatinya siapa sosok yang ada dihadapannya. Sebastian.

 

Dia menarik salah satu bibirnya keatas. Memberikan senyumannya yang penuh dengan kebencian. Dan Sebastian hanya diam. Menampakkan wajahnya yang datar dengan gayanya yang tetap perfeksionis. Mereka tertahan dalam tatapan yang penuh kebencian di ambang pintu apartemen Jaejoong. Mungkin sekitar beberapa menit mereka mematung. Saling melemparkan tatapannya yang menyeringai satu sama lain. Jaejoong memberikan kode dengan menggerakkan kepalanya agar Sebastian masuk kedalam apartemennya tanpa memberikan sepatah kata.

 

Sebastian langsung mengambil tempat duduk di sebuah sofa. Duduk dengan menopang salah satu kakinya dengan kakinya yang lain. Ada kesombongan yang terpancar dari sosok Sebastian. Jaejoong hanya berdiri melihat laku Sebastian yang membuat dia marah. Matanya terus menatap. Tak lepas mengekor Sebastian. Emosinya benar meluap.

 

“Berikan uangku!” seru Jaejoong dengan tatapan yang tak juga lepas dari Sebastian. Wajahnya benar menunjukan kemarahan yang tak tertandingi. “ Kau kan bilang, kau akan segera membayarku begitu aku membunuhnya!”

 

“Tenanglah sedikit Jaejoong…” Sebastian tetap diam. Tak mempedulikan Jaejoong sama sekali.

 

“Tenang?! Polisi diluar sana mulai mencariku!”

 

“Apa peduliku?”

 

“Berikan uangku sekarang juga!”

Jaejoong mengambil pisau yang ada diatas meja makannya. Lalu, mengacungkannya kearah Sebastian. Dia tak mempedulikan apapun. “Berikan uangku! Atau aku akan merobek isi perutmu!”

 

“Hah??” Sebastian sekali lagi menyeringai tajam. Meremehkan Jaejoong untuk kesekian kalinya. dia menatap Jaejoong sambil memajukan kepalanya sedikit.

 

Tanpa pikir panjan lagi, Jaejoong  berusaha untuk menusukkan pisau ke perut Sebastian. Namun, Sebastian segera menghalau tangan Jaejoong yang memegang pisau. Perlawanan dari Sebastian cukup membuat Jaejoong semakin kuat niatnya untuk  membunuh Sebastian. Tangan Sebastian berusaha untuk menghalau pisau yang hanya sekitar beberapa senti dari tubuhnya. Pergulatan antara mereka mungkin cukup alot. Mereka bergumul diatas sofa. Tangan Jaejoong yang memegang pisau terus berusaha untuk menancapkannya di perut Sebastian. Dan pisau itu pada akhirnya berhasil tertancap di perut Sebastian.

 

Darah segar seketika mewarnai sofa itu yang berwarna putih gading. Jaejoong kalap. Dia berusaha untuk menancapkan pisau tersebut ke beberapa bagian tubuh Sebastian. Dan Sebastian menahan tangan Jaejoong yang ingin melukai pahanya. Sebastian berusaha untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Dia pun berhasil membalikkan arah pisau menghadap Jaejoong. Dia berhasil melukai pipi Jaejoong. namun, Jaejoong tak terima. Sekaligus, Jaejoong menancapkan pisaunya di dada Sebastian.

 

Jaejoong menikmati pemandangan yang dia ciptakan sendiri. Pemandangan yang penuh darah. Seakan-akan dia baru saja menerima satu kekuatan yang luar biasa untuk membunuh Sebastian, seseorang yang telah merendahkannya selama bertahun-tahun. Ya. Kekuatan dari setan yang sedang menari-nari gembira di sekelilingnya. Tampaknya, hal semacam inilah yang dia nantikan. Dendamnya yang tertahan selama bertahun-tahun akhirnya terbayarkan sudah.

 

Akhirnya, dia bisa menghabisi nyawa Sebastian. Dia orang yang memberinya pekerjaan menjadi pembunuh bayaran. Namun, selama ini, Sebastian tak pernah memberinya bayaran yang membuat hati  Jaejoong puas.

 

Sebastian terkapar diatas karpet berwarna orange dengan darah yang menggenang. Dia sudah merengang nyawa ketika pisau yang diacungkan Jaejoong benar-benar mengoyak isi perutnya. Dia menjadi mayat yan tak berharga terlebih dimata Jaejoong. Suasana sore itu berubah mencekam. Pendaran sinar matahari yang jatuh lewat jendela apartemen Jaejoong itu bersatu dengan merahnya darah yang menggenang di lantai. Merahnya membelah retina, sakit. Dan bau darah Sebastian seketika menyeruak meliputi seluruh ruangan.

 

Jaejoong terpaku. Berdiri sambil memegang pisau di tangannya. Memandangi Sebastian yang mati bersimbah darah. Dia seperti kehilangan dirinya sendiri. Mungkin setan baru saja mengambil alih dirinya yang sebenarnya. Jaejoong masih memaku dirinya. Menyaksikan darah yang menggenang di lantai. Tak lama, Jaejoong menjatuhkan pisaunya yang tadi dia genggam. Membiarkannya jatuh di atas lantai di samping mayat Sebastian. Dia menyadari noda darah terpercik di baju yang dia kenakan. segera, dia menggantinya. Lalu, mengemasi semua barang-barangnya dan pergi dengan cepat.

 

Jaejoong pergi meninggalkan apartemennya. Meninggalkan Sebastian yang mati bersimbah darah. Ya. Jaejoong kehilangan arah hidupnya. Dia kalap. Semuanya telah terjadi dan tak mungkin untuk menghindari resiko yang akan dia hadapi di masa mendatang.

 

Saat senja benar-benar menjelang dan malam menggulung birunya langit, Jaejoong pergi meninggalkan semuanya. Meninggalkan apartemennya. Dan juga Yunho.

 

 

5 Desember beberapa tahun semenjak kepergian itu

Yunho tak banyak berubah. Jenjang tubuhnya yang manly, sosoknya yang meneduhkan, tatapannya yang menyenangkan, semuanya tetap Yunho yang sama. Hanya saja tak ada lagi sinaran cinta dan kasih yang terpancar dari matanya. Matanya berubah dingin dan kesepian. Dia duduk di balkon apartemennya. Masih balkon yang sama ketika beberapa tahun lalu dia dan Jaejoong duduk bersama berhadapan menautkan hati mereka. Yunho hanya duduk. Menatap jauh memandangan pemandangan kota Seoul dari lantai 9 apartemennya. Pikirannya juga meluas hingga ke masa lalunya dimana dia begitu mencintai Jaejoong. dan saat ini, Yunho sudah sangat kesakitan dengan kerinduan yang tak tahu kapan rindu ini akan terluapkan.

 

“Joongie, aku merindukanmu.”

 

Tanpa dia sadari, dia menitikkan airmatanya. Perlahan, airmatanya membasahi pipinya. Lama sekali dia tak pernah merasakan airmata yang menetes. Selama ini, dia menahan agar airmatanya tak jatuh namun sekarang dia menyerah. Sudah sejauh ini dia menahan rindu yang sedemikian meletupnya. Pada akhirnya, dia tak kuasa dengan letupan rindu itu.

 

“Kenapa, Joongie? Kenapa kau membiarkan aku mati dalam rindu ini?”

 

Yunho meracau sendiri. Pandangannya kosong. Retinanya tak lagi fokus melihat yang ada di depannya. Pandangan matanya jatuh pada meja yang ada didepannya. Secangkir coklat hangat yang mungkin akan menghangatkan sore harinya di musim gugur dan berbotol-botol obat yang selama beberapa tahun ke belakang ini harus dia konsumsi. Yunho sedang sakit untuk lebih tepatnya.

 

Sejak kepergian Jaejoong yang tak tahu kemana, Yunho berusaha untuk mencarinya. Mencari kemana pun yang bisa dia jangkau. Berusaha untuk menghubungi kerabatnya, teman-temannya, bahkan menghubungi pihak kepolisian. Dia hanya khawatir tentang pembunuhan yang melibatkan Jaejoong sebagai tersangka utama. Seketika itu pula, Yunho tak tahu lagi kabar tentang Jaejoong. Seperti hilang dibawa awan yang berarak beranjak hujan.

 

Yunho beranjak dari balkonnya memasuki bagian dalam apartemennya. Dia duduk di sofanya. Disana dia juga mendapati setumpuk obat yang harus dia minum. Tiba-tiba kepala terasa sakit sekali. Sudah sangat sering merasakan kepalanya sakit yang begitu menyiksanya. Mungkin ini adalah respon dari depresi yang dia rasakan. Ya. Dia benar-benar depresi berat.

 

Dia melihat pisau lipat yang tergeletak diatas meja. Menatapnya lama sekali. Seolah ada yang hendak diperbuat dengan pisau lipat itu. Sedang matanya masih kosong menatap, dia meraih pisau lipat itu dengan tangannya. Perlahan. Membuka lipatannya dan dia bisa melihat bilah tajam dari pisau itu. Mengkilap ketika dia letakkan dibawah lampu yang terang di ruangan itu. Bantu aku melepaskan semua beban ini, batinnya. Seolah-olah dia senang berbicara dengan pisau yang berada di tangannya itu. Kupikir, merahnya darah jauh lebih indah daripada butiran rindu yang tertumpuk didasar hati, dia membatin lagi. Rintihan demi rintihan aku dentingkan dianatara malam yang kelam. Temaramnya hati ini pun tak kunjung berakhir benderang.

 

Meletakkan pisau lipat yang tajam itu di permukaan kulitnya yang kering. Lalu dia menggesekkannya dengan pelan hingga meninggalkan luka tipis. Dia mengulangi lagi, sedikit demi sedikit hingga darah merahnya meretas keluar dari bawah kulitnya. Buat apa lagi aku hidup jika aku harus tersiksa dengan semua rindu ini? Untuk apa lagi aku hidup? Dia bahkan tak pernah lagi ingat tentangku.

 

Dia menikmati darah yang merembes dari lukanya. Dia senang rasa sakitnya. Perih namun tak pernah seperih rindu yang selama ini dia timbun. Sakit namun tak pernah melukai hatinya yang sepi. Dia telah putus asa. Sampai darahnya habis, dia akan menikmati semua rindu yang menyakitkan itu.

 

9 Desember beberapa tahun kemudian

Pesawat yang membawanya dari Jepang itu mendarat perlahan di landasan bandara Incheon. Jaejoong pun turun dari pesawatnya. Dengan kaki yang terasa tangguh, akhirnya dia kembali menjejakkan kakinya di Seoul. Ada perasaan bangga dalam hatinya yang bertahta. Dia tersenyum ketika matahari di langit Seoul hangat menerpanya. Keriuhan kota Seoul langsung menyergapnya sepulang dari rantauannya.

 

“Yunho? Apa kau masih ingat aku?” Seketika itu pula dia teringat dengan Yunho. Seseorang yang telah menolongnya selama ini. Namun, dengan terpaksa dia harus meninggalkan Yunho. Meninggalkannya dengan sejuta pertanyaan yang tak pernah terjawab. Meninggalkannya dengan sejuta rindu yang tak pernah terbalas. “Maafkan aku, Yunnie” Jaejoong menundukkan kepalanya. Mungkin dia merasa bersalah karena dia tak bisa memenuhi janjinya pada Yunho atau sekedar ingin melupakan tentang masa lalunya yang kelam?

 

Semenjak kasus pembunuhan yang menimpanya, dia pergi meninggalkan Seoul menuju Jepang. Dia tak sempat memberitahukan kepergiannya dengan Yunho karena saat itu pikirannya sedang panik. Dia takut Yunho akan meninggalkannya setelah dia kembali membunuh. Dia takut Yunho meninggalkannya dengan segenap rasa bersalah. Dia pun sempat dipenjara atas kasus pembunuhannya selama 5 tahun. Dan sekarang dia menikmati semua kebebasannya. Dia ingin kembali mengawali mimpinya yang indah bersama Yunho.

 

Dia menaiki taksi yang akan mengantarkannya ke apartemen Yunho. Melewati jajaran gedung tinggi yang memagari kota Seoul yang riuh. Dia tersenyum. Menikmati perjalannya yang begitu damai. Mungkin Yunho akan menyambutkan dengan rindu dan airmata haru. Dia sudah membayangkan bagaimna ekspresi Yunho ketika bertemu dengannya. Rindu, rindu, berceceran di tepian jalan Seoul. Namun, Jaejoong tak perlu memungutnya karena Yunho akan membayarnya dengan rindu yang bertubi-tubi.

 

Kurang lebih 45 menit, dia sampai di depan apartemen Yunho. Dia masih ingat warna apa ruangan apartemen Yunho. Dia juga ingat saat terindah ketika Yunho membuatkan candle light dinner untuknya. Kenangan terindah yang tak pernah dia lupakan. Dia berdiri di depan pintu apartemen Yunho dan menarik napas panjangnya. Mempersiapkan hatinya untuk bertemu dengan Yunho.

 

Dia menekan bel. Tak lama kemudian seseorang membukan pintu tersebut. Dan saat pintu itu terbuka, dua orang itu saling bertatapan dengna tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Yunho hanya terdiam menatap siapa sosok yang berdiri didepannya. Sedangkan Jaejoong hanya tersenyum simpul.

 

“Yunnie, aku merindukanmu.” Jaejoong merangkul tubuh Yunho. Dia terlihat sangat senang bisa bertemu kembali dengan Yunho yang sudah lama tidak dia temui.

 

Seusai Jaejoong meluapkan perasaannya lewat rangkulannya, dia langsung melangkah kedalam apartemen itu. Yunho masih juga terdiam. Dingin dengan raut muka yang datar tak mengekspresikan apapun.

 

“Yunho kau baik-baik saja?” Tanya Jaejoong begitu dia menyadari ada sikap Yunho yang berbeda. “Kau tidak senang aku datang ya?”

 

Yunho tetap diam. Menatap datar sosok Jaejoong yang ada dihadapannya.

 

“Yunnie?”

 

“Kau pikir aku apa, hah? Menunggumu hingga aku kesakitan seperti ini. Meninggalkan rindu yang tak pernah bisa kubendung.” Yunho berteriak histeris. Perasaannya selama ini tumpah seketika. Dan sekarang Jaejoong yang terdiam melihat sikap Yunho.

 

“Maafkan aku, Yunnie.” Jaejoong mendekati Yunho. menggapai tangannya namun Yunho segera menampik semuanya.

 

“Maaf? Kau tidak tahu kan bagaimana rasanya menderita? Kau anggap apa aku, hah? Aku berusaha mengangkatmu dari masa lalumu yang kelam. Aku berusaha untuk tetap cinta padamu tak peduli bagaimana keadaanmu. Aku berusaha untuk membuatmu berarti lagi. Tapi apa? Tapi kau tetap menikmati pekerjaanmu sebagai pembunuh bayaran dan pergi meninggakanku. Jadi ini balasanmu?!”

 

“Maafkan aku, Yunnie. Kumohon maafkan aku.”

 

“Dan sekarang kau hanya minta maaf?”

 

Jaejoong tertunduk sambil menahan airmatanya yang memaksanya untuk jatuh. Dia tak pernah terpikirkan bahwa Yunho akan mengatakan semuanya. Tak pernah terbayangkan olehnya. Dia melihat luka-luka yang ada di tangan Yunho juga di beberapa bagian tubuhnya. Luka tersayat. Luka-luka semakin membuat Jaejoong miris. Membuat hati Jaejoong sakit. Mungkin dia memang pantas menjadi yang tak pernah termaafkan.

 

“Aku sakit, Jaejoong. Dan kau tak pernah pedulikan aku. Kau tak pernah membalas semua yang telah aku perbuat untukmu. Kau benar melupakanku.”

 

“Sekali lagi maafkan aku, Yunnie. A-ak-aku….”

 

“Aku apa, hah?”

 

Teriakan Yunho mungkin cerminan dari semua kerindukan yang menyakitkan itu. Kesendirian yang berbuahkan derita di hati. Sepi yang mengaraknya pada kelamnya jiwa.

 

Yunho meraih pisau lipatnya yang masih tergeletak di atas meja. Dan mengacungkannya kea rah Jaejoong. “Aku ingin kau merasakan bagaimana nikmatnya darah seperti aku menikmati darahku sendiri.”

 

“Yunnie, jangan….” Jaejoong mundur menghindari acungan pisau lipat Yunho.

 

“Aku ingin menghancurkanmu seperti kau menghancurkan hidupku dengan ribuan obat itu, dengan rindu yang menyakitkan, juga dengan cinta yang pernah jadi kenyataan. Aku benci kau, Jaejoong. Kau malah menyiksaku setelah aku mengangkatmu dari kelamnya masa lalumu.”

 

“Yunnie….” Jaejoong terpojok di sudut ruangan ketika Yunho terus menggiringkan mendekati tembok. Jaejoong tak bisa lari. Tangan kiri Yunho memegang tangan kanan Jaejoong hingga Jaejoong tak bisa berbuat apa-apa. Sedang tangan kanan Yunho terus mengacungkan pisau lipatnya ke arah wajah Jaejoong hingga Jaejoong bisa melihat kilatan cahaya yang terpantul.

 

Dengan hitungan detik, saat Jaejoong memang tak bisa berbuat apa-apa, Yunho langsung menusukkan pisau lipatnya di dada Jaejoong. Darah merah segar merembes lewat luka menganga di dada jaejoong. Mengenai tangan dan pakaian yang dikenakan Yunho.

 

“Kau telah berubah, Yunnie. Tapi kumohon, maafkan aku.”

 

Jaejoong rebah di atas lantai. Yunho tetap terdiam berdiri menatap Jaejoong yang roboh kehabisan darah. Depresi berat yang alami Yunho selama ini ternyata malah menjadi bumerang baginya. Dia tak segan lagi membunuh orang yang begitu dia sayangi di masa lalu.

 

 

***

 

Toh matahari tetap bersinar. Meski ada sebagian penghuni bumi yang tak pernah bisa memaafkan kesalahan orang yang begitu mencintainya. Matahari tak pernah dendam ketika bintang-bintang yang lain harus mati dan hancur meninggalkannya. Matahari tak pernah marah saat awan-awan itu berarak membawa mendung menghalangi matahari untuk menumpahkan segenap kasih sayangnya. Matahari tak pernah dendam. Dan mungkin matahari terlalu baik.

 

Yunho dan Jaejoong mungkin dua orang yang tak pernah bisa menerima kenyataan yang menghampiri mereka.

 

 

NB: Sebastian hanya tokoh rekaan saya ^^

6 thoughts on “[Fanfiction] Sorry, I kill my love – @Ovitt_

  1. Endingnya gak tau mau dibawa kemana.
    apa Jaema bener-bener mati ditangan Yunpa yg depresi berat?
    ah,jujur sumpah gak tau mo komen kayak gimana.
    paling gak tega lo ada death chara kayak gini,apalagi yg mati salah satu dari YunJae.
    tapi bagus,awalnya happy tapi sad ending.T__T

  2. Wah, one-shot bertema crime dan tragic romance yang bagus nih.😀 Menegangkan dan aku seneng bacanya sampai akhir. Walaupun sad ending yg agak ngegantung, tapi menurut aku itu yang terbaik. Ah Jae, ga baik ninggalin Yunho tiba-tiba. T-T

  3. jeje ny akhirny mati….
    trus yunho?
    harusny ikutan mati aja biar romantis, hehehe

    salahny jae juga sih, pergi gitu aja… huh! >3<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s