[YUNJAE] I Want You – part 8 END


chapter terakhir ff ini ^o^

.

By: sherly

.

 

.

 

.

 

.

“Jae..”

Belum sempat Jaejoong menjawa, pintu ruang guru terbuka dan Junsu berjalan keluar dari situ menghampiri mereka bertiga yang sekarang sedang diselimuti suasana tegang.

“Oh? Yunho hyung?” sapa Junsu dengan senyum lebarnya namun senyum itu menghilang seketika saat matanya menangkap pemandangan yang menurutnya ‘agak kurang menyenangkan’… tentu saja genggaman tangan mereka itu.

“Err.. hyung—“

“Ayo pulang Su-ie.. Sudah selesai semuanya kan?” potong Jaejoong tanpa menatap kekasihnya yang berdiri tetap di depannya.

Junsu hanya mengangguk karena tidak tahu apa yang sedang terjadi di sini. Yang dia lihat sekarang adalah kekasih sunbae tersayangnya sedang berpegangan tangan dengan orang lain dan… sunbaenya juga ada di tempat itu.

Jaejoong menarik tangan Junsu pergi dari tempat itu, agak mempercepat langkahnya agar cepat-cepat pergi dari situ. Ia tahu Junsu pasti bingung apa yang sedang terjadi sekarang.. karena dia sendiri juga masih bingung!

Ia juga tahu Junsu merasa kesakitan karena ia mencengkram pergelangan tangan Junsu dan menariknya sesuka hatinya. Tapi untunglah Junsu adalah orang yang pengertian jadi ia hanya diam saat Jaejoong menarik tangannya sampai sekarang mereka ada di parkiran mobil.

“Jaejoong hyung.. tadi—“

“Bisakah kau saja yang menyetir? Aku rasa aku tidak dalam kondisi yang baik untuk menyetir saat ini.” ucap Jaejoong lirih dan terdengar sedikit bergetar.

Junsu mengangguk dan menuntun Jaejoong duduk di samping kursi kemudi. Benar saja, saat ia menyentuh bahu Jaejoong, bahu itu bergetar dan badannya juga berkeringat. Sudah jelas ia menahan tangis saat ini. Junsu hanya bisa menghela nafas dalam dan mencoba berfikir positif saat ini.

Berfikir positif? Bagaimana bisa ia berfikir positif kalau pada kenyataannya yang ia lihat adalah hal negative?!

Baiklah.. sepertinya hal itu tidak perlu ia pikirkan sekarang. Yang terpenting adalah mengantar Jaejoong ke rumahnya untuk mengistirahatkan badannya… dan pikirannya.

.

.

.

.

Sudah dua jam sejak namja berkulit putih ini duduk di atas kasurnya tidak bergerak. Ia menyandarkan punggungnya di tembok, matanya menatap kosong lurus ke depan, bajunya masih sama seperti yang ia pakai tadi pagi, oh.. dan matanya terus mengeluarkan air mata. Ia menangis dalam diam.

Kamarnya masih terlihat rapi, hanya saja lampu kamar tidak ia nyalakan walau hari sudah gelap sekarang. Satu-satunya penerangan adalah dari cahaya bulan yang masuk dari jendela kamarnya dan baginya itu cukup untuk menjadi sumber cahaya malam ini… hanya malam ini.

Matanya tanpa sengaja melihat ponselnya yang sudah hancur berkeping-keping di lantai. Ia ingat ia langsung menhancurkan benda mungil taak berdosa itu karena orang yang sangat tidak ingin ia temui –apalagi hubungi—saat itu meneleponnya. Dan sontak saja ia melempar ponselnya dengan kekuatan penuh sampai-sampai ponselnya tidak berbentuk sama sekali.

Entah mengapa kejadian tadi siang kembali terngiang di pikirannya.

Yunho.. Yunhonya… tidak tidak.. sebentar lagi ia akan melepasnya… Sebentar lagi ia akan melepas Yunho… Yunho bukan miliknya lagi…

Tentu saja.. dilihat dari sisi manapun yeoja tadi itu jauh lebih unggul darinya.

Cantik? Tentu lebih cantik yeoja itu.

Pintar? Entahlah.. tapi sepertinya iya kalau dilihat dari wajahnya.

Wajah yeoja itu juga tidak asing lagi baginya, jadi pasti ia termasuk anak populer di sekolah.

Dan.. ia yeoja.. yeoja!

Jelas Jaejoong kalah telak hari ini. Mana mungkin Yunho bersungguh-sungguh dengannya? Tidak mungkin.. Mungkin memang benar apa yang dikatakan Yunho. Mereka hanya bersahabat.

Badan Jaejoong tersentak saat memikirkan kalimat itu. Ia melipat kakinya, menaruh dahinya di lututnya dan ia kembali menangis.. lagi. Namun kali ini tangisannya lebih keras.

Biarlah. Toh ia hanya sendiri di rumah besar ini.

Ya.. ia akan kembali menjadi orang yang selalu sendiri. Ia akan kembali menjadi Jaejoong sebelum kedatangan pria itu. Pria yang mengubah hari-harinya menjadi lebih indah, walau hanya dalam waktu singkat.

.

.

.

.

“Haahh…”

Yunho menghempaskan tubuhnya kasar ke atas tempat tidurnya. Badannya terasa pegal dan gerah sekarang. Padahal sekarang sudah jam 7 malam, tapi ia belum mengganti seragamnya karena memang ia baru pulang ke rumahnya.

Apa? Kalian pikir Yunho benar-benar pergi makan siang dengan Ahra tadi siang?

Ia tahu melanggar janji itu hal yang tidak boleh dilakukan, tapi itu diacuhkannya karena melihat tatapan kekasihnya yang… sakit? Bukan.. lebih dari sakit sampai-sampai tidak ada kata yang bisa mendeskripsikannya. Dan itu cukup meninggalkan Ahra tadi siang.

Mungkin Jaejoong mengira ia tidak mengejarnya, tapi sebenarnya ia hampir akann mengejarnya kalau saja Ahra tidak memeluk lengannya dan merengek-rengek tetap pergi. Ia harus ‘sedikit’ membentak yeoja itu sampai akhirnya yeoja itu melepaskannya. Well… sopan santun untuk perempuan benar-benar ia acuhkan tadi siang.

Dan di sinilah ia sekarang..

Mengistirahatkan tubuhnya karena berdiri terlalu lama di depan rumah Jaejoong, memanggil-manggil namanya namun tetap saja tidak ada yang keluar. Menelepon ponselnya? Jangan ditanya…  mungkin sudah ribuan kali ia mencoba menghubunginya namun hasilnya tetap saja nihil.

Ia memejamkan matanya. Ia akui memang ini semua salahnya dan bukan salah Jaejoong kalau ia salah paham dengan kejadian tadi siang. Ini semua murni salahnya.. oh tidak, bukan sepenuhnya salahnya. Yeoja bernama Ahra itu juga berperan penting dalam masalah ini.

“Hyung? Kau darimana?”

Yunho membuka matanya dan melihat adik satu-satunya berjalan menghampirinya. Ia mendudukkan badannya di ujung ranjang dan Changmin juga ikut duduk di sebelahnya. Walaupun Yunho tidak menjawab, Changmin tahu ada masalah yang dihadapi hyungnya saat ini. Terlihat jelas dari wajah lusuhnya dan juga rambutnya yang berantakan seperti itu.

“Apa ini tentang Jaejoong?”

Yunho mengangguk pelan. Changmin menganggukan kepalanya mengerti, tidak susah baginya untuk menebak siapa yang menjadikan hyungnya menjadi seperti ini.

“Aku yakin semua ini salahmu hyung… Aku sangat yakin..”

Yunho menatap Changmin tidak mengerti. Salahnya?

“Aku tahu kau belum mengumumkan hubunganmu ini dengan teman-temanmu, iya kan hyung? Dan aku yakin Jaejoong juga pasti menyadari hal ini. Kau tahu apa yang mungkin ia rasakan hyung?”

Diam. Yunho diam, tidak berani menjawab. Ia mengakui hal itu dan juga memang salahnya tidak memikirkan perasaan kekasihnya.

“Bisa saja Jaejoong  hyung berfikir… kalau kau.. malu berhubungan dengannya… atau mungkin.. kau hanya bermain-main dengannya hyung?”

Yunho mengerutkan alisnya. Apa mungkin Jaejoong berfikir seperti itu? Tidak.. dia tidak malu… dia juga tidak hanya sedang bermain dengan Jaejoong.

“Jadi.. yang mana yang benar hyung?”

“Tidak ada yang benar.. Aku tidak malu juga tidak bermain-main dengannya. Lagipula mana mungkin Jaejoong berfikir seperti itu?”

Changmin mengangkat kedua bahunya “Mungkin saja hyung.. kenapa tidak? Lagipula apa alasanmu tidak memberitahukan orang lain hyung?”

Yunho membuka mulutnya namun terhenti.. Ia terhenti karena ia tidak tahu harus menjawab apa. Alasannya? Tidak ada alasan apa-apa sebenarnya.. Hanya saja menurutnya hubungan seperti ini agak ‘langka’ di kalangan anak muda seusianya dan ia merasa mungkin saja teman-temannya yang lain akan menganggapnya aneh atau… Wait.. APA YANG IA PIKIRKAN?!

“Kenapa diam hyung? Salah satu dari dua tebakanku benar? Atau mungkin.. Dua-duanya benar?”

Yunho kembali diam, tidak berani mengatakan apa-apa. Changmin menatapnya penasaran sekarang dan ia masih bergelut dengan pikirannya sendiri.

“Haahh..” Changmin berdiri dari duduknya, sebelum benar-benar meninggalkan kamar hyungnya, ia kembali menoleh “kau tahu sendiri bagaimana cara mengatasinya hyung..”

.

.

.

.

Jaejoong menggeliatkan badannya di atas kasur, membuka matanya perlahan-lahan dan melihat sekeliling kamarnya. Saat ia mencoba untuk mendudukkan badannya, ia merasa kepalanya berdenyut keras dan itu membuatnya sangat kesakitan.

‘Mungkin karena terlalu banyak menangis..’ pikirnya.

Sambil masih tetap memegang kepalanya, ia berjalan keluar kamar menuju dapur untuk mengambil segelas air putih dan meneguknya sampai habis. Melihat badannya sendiri dan mendesah pelan.

“Khh.. Aku bahkan belum mandi..” gumamnya pelan.

Ya.. Ia masih mengenakan pakaian yang sama seperti kemarin dan badannya berbau… err.. tidak sedap. Sangat berbeda dengan Jaejoong yang selama ini sangat memperhatikan kebersihan dan kesehatan badannya.

Tanpa memikirkan apapun lagi, Jaejoong segera membersihkan badannya, membiarkan tubuhnya berendam dalam bathub yang berisikan air panas dan sedikit busa. Memejamkan matanya sejenak dan mencoba rileks sekaligus mencoba menghilangkan  rasa sakit kepalanya ini.

Haahh..

Walaupun rasa sakit kepalanya sudah agak hilang, rasa sakit dan sesak di dadanya ternyata masih sangat ia rasakan. Entah bagaimana cara menghilangkan rasa sakit ini. Padahal ia sudah menangis selama berjam-jam.. apa itu masih belum cukup untuk menghilangkan rasa sakitnya?

Tanpa sadar ia kembali menangis namun matanya masih terpejam. Dan setelah sadar, ia menghapus air matanya kasar dengan tangan kanannya.

“Bodoh… untuk apa aku menangis lagi..”

Setelah selesai dengan kegiatan membersihkan tubuhnya, ia kembali berjalan ke dapur dan membuat roti bakar untuk sekedar mengganjal perutnya yang berteriak kelaparan. Terang saja, terakhir kali ia makan adalah kemarin pagi jadi tidak heran sekarang perutnya terasa sangat lapar.

Sambil memakan roti bakarnya, Jaejoong melihat sekeliling rumahnya.

Sepi… Seperti biasanya..

Tapi tidak beberapa hari terakhir ini. Beberapa hari ini ia tidak sendiriann lagi seperti sebelumnya. Kalau ia sendiri di rumah, pasti orang itu datang untuk menemuinya.. menghabiskan waktu di dalam rumah itu tanpa melakukan sesuatu yang penting. Hanya duduk di sofa dan saling bertukar perasaan sudah cukup untuk mereka.

Jaejoong memukul kepalanya pelan saat sadar apa yang ada di pikirannya. Merutuki dirinya sendiri kenapa sangat ceroboh, bisa-bisanya mengenang saat-saat itu.. padahal semuanya sudah berakhir..

Yeah.. Sudah berakhir baginya.

Walaupun memang ini seperti keputusan sepihak, tapi apa yang ia lihat kemarin siang sudah menjelaskan semuanya.

Saat ia akan merebahkan tubuhnya di sofa, ia mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya.

“JAE! KUMOHON DENGARKAN AKU! KITA HARUS BICARA!”

DEG!

Jaejoong membeku. Ia sangat amat tahu suara siapa itu, tidak perlu berfikir ulang untuk memikirkannya. Ia masih dalam posisinya duduk di sofa, entah menagapa ia tidak bisa menggerakkan badannya, apalagi menjawab panggilan di depan rumahnya itu.

“JAE! AKU TAHU KAU ADA DI DALAM! DAN AKU TAHU PAGARMU INI TIDAK KAU KUNCI! KALAU KAU TIDAK JUGA KELUAR, AKU AKAN MASUK DAN MENDOBRAK PINTUMU!!”

Jaejoong merinding mendengarkan ancaman itu. Walaupun dalam hatinya ia agak ragu apakah Yunho akan benar-benar melakukan itu atau tidak, ia tidak pernah membayangkan Yunho bisa sefrontal itu.

Belum semenit ia berfikir, ia mendengar suara pagar rumahnya terbuka dan dia sangat tahu siapa yang membukanya.

“AKU SUDAH MEMPERINGATKANMU! KELUAR SEKARANG ATAU AKAN KUDOBRAK PINTU INI! ”

Jaejoong menghela nafas dalam. Apa Yunho serius? Apa orang itu serius?

“TIGA!”

Tidak tidak.. ini tidak benar.. seharusnya ia yang dalam posisi marah saat ini.

“DUA!”

“BERHENTI ATAU AKU TIDAK AKAN PERNAH MAU MELIHAT WAJAHMU SEUMUR HIDUPKU!”

Hening.. Tidak ada jawaban.. Ancaman Jaejoong berhasil.

Jaejoong menyandarkan tubuhnya di sofa, menghela nafas lega karena ia terhindar dari ancaman merenovasi pintu rumahnya.

“Jae… kita harus bicara.. dengarkan aku.. keluarlah..” terdengar suara Yunho tepat di belakang pintu depan rumahnya.

“Kalau begitu bicara saja, aku tidak akan menemuimu..” Jaejoong meremas bantal yang ada di dekapannya. Ia sebenarnya ingin sekali keluar, memeluk tubuh itu, dan mengatakan padanya agar tidak meninggalkannya.

Tapi tidak dalam saat-saat seperti ini. Ia tidak akan melakukannya meningat Yunholah yang sudah mengakibatkan semua ini.

Jaejoong menunggu, namun tidak ada jawaban dari Yunho.

“Jae dengar..” suara Yunho terdengar lemas, namun Jaejoong masih sanggup mendengar dengan jelas apa yang Yunho katakan “yang kau lihat kemarin.. tidak seperti yang kau bayangkan..”

Jaejoong diam, menunggu kelanjutan kalimat Yunho yang terkesan menggantung itu.

“Kau tahu aku dan yeoja itu tidak ada hubungan apa-apa, aku mencintaimu… dan hanya mencintaimu Jae..”

Suara Yunho melembut sekarang. Tapi itu masih belum cukup untuk membuat Jaejoong luluh padanya. Jaejoong masih belum dapat memaafkannya.

“Tapi yang kulihat kemarin tidak seperti itu…” lirih Jaejoong dan tentu saja itu tidak bisa didengar oleh Yunho.

Suasana kembali hening. Yunho tidak berkata apa-apa lagi, begitupula dengan Jaejoong. Bukannya Jaejoong tidak mau menjawab, tapi ia tidak tahu harus menanggapi seperti apa.

Ia harus menjawab kalau ia percaya pada Yunho? Tapi yang kemarin dilihatnya sudah cukup untuk merobohkan kepercayaannya.

Atau… ia harus menjawab kalau ia tidak percaya dan meminta hubungan ini sampai di sini—ahh tidak.. itu bahkan lebih buruk lagi. Tidak bisa, ia mau Yunho!

“Jae?” panggil Yunho sambil mengetok pelan pintu depan rumah Jaejoong “kumohon… maafkan aku…”

“B-biarkan aku berfikir… pulanglah dulu…” jawab Jaejoong akhirnya.

“Baiklah… sampai jumpa besok,ne? Love you…”

Terdengar bunyi derap langkah menjauh lalu bunyi mesin mobil yang dihidupkan. Hanya butuh beberapa menit sampai suara mobil itu perlahan-lahan menghilang.

Jaejoong menggigit bibir bawahnya, meremas bantalnya lebih kuat dan menelungkupkan wajahnya di bantal yang ia remas.

Bingung!

Ia sangat mencintai Yunho, tidak mau… tidak mau kehilangan… Tidak mau kalau Yunho berkencan dengan yeoja itu!

Tapi kalau benar yang dikatakan Yunho tadi… kalau Yunho sangat mencintainya, dan hanya dia… setidaknya ia harus bisa membuktikannya kan?

.

.

.

.

Jaejoong berjalan di koridor sekolah dengan kepalan tertunduk, ia tidak mau melihat siapapun saat ini.

Ah tidak… bukannya tidak mau melihat siapapun… tidak mau melihat ‘kekasihnya’ lebih tepatnya.

Haah..

Bukannya ia mau masalah ini berlarut-larut seperti ini, hanya saja… entahlah.

GREB!

Ia refleks menoleh ke belakang saat merasa pergelangan tangan kanannya ditahan oleh seseorang. Dan yang dilihatnya adalah orang yang sedang ia tidak mau temui saat ini berdiri di depannya dan memegang tangannya. Ini sebuah keberuntungan atau kesialan?

“Sudah berfikirnya?” tanya orang itu lembut, menyunggingkan senyum manisnya yang bisa melelehkan hati wanita siapa saja, emm… bukan hanya wanita, tapi pria juga. Contohnya? Jaejoong.

Jaejoong menggerak-gerakkan tangan kanannya, seperti ingin melepaskan genggaman Yunho dari tangannya. Tapi tentu saja hal itu tidak berhasil, tsk~

“L-lepaskan…”

Yunho tidak bergeming, tetap memegang pergelangan tangan kanan Jaejoong dan menatapnya intens.

“Lepaskan Yun… Kau tidak malu dilihat orang lain?”

Yunho membelakkan matanya tidak percaya, “malu? Untuk apa malu?”

“Aku—“

“Jae… kau tahu aku mencintaimu, kan? Untuk apa aku malu…”

Wow…

Yunho kaget dengan kata-katanya sendiri. Sejak kapan ia seyakin ini dengan perasaannya? Entahlah… yang penting ia tidak mau kehilangan Jaejoong, karena ia sangat mencintainya. Sangat.

“Benarkah? Buktikan… sekarang..” Jaejoong menatap Yunho serius.

Sedangkan Yunho mengernyit heran, sekarang? Maksudnya… sekarang? Di tempat ini? Di koridor ini? Di  depan murid-murid yang lain? Apa yang harus ia lakukan?

Melihat Yunho bingung, Jaejoong mengambil kesempatan, perlahan ia melepaskan tangannya dari cengkraman Yunho. Namun Yunho segera menggenggamnya lagi.

“Baiklah…” jawab Yunho enteng.

Sekarang gantian Jaejoong yang mengernyit bingung, apa yang akan dilakukan namja itu?

“SEMUANYA! DENGARKAN AKU!”

Teriak Yunho berhasil mengambil perhatian semua murid yang ada di dekat situ. Tidak perlu seperti itu juga sebenarnya mereka sudah memperhatikan Jaejoong dan Yunho yang tampaknya sedang bertengkar itu.

“AKU INGIN MENGUMUMKAN, NAMJA YANG ADA DI SEBELAHKU INI, KIM JAEJOONG, ADALAH NAMJACHINGUKU! KEKASIHKU! MENGERTI??”

Semua orang di koridor itu membelakkan kedua bola matanya tidak percaya.

Pagi-pagi seperti ini tapi mereka sudah diberi ‘pengumuman’ yang sangat amat teramat mengejutkan. Kim Jaejoong dan… Jung Yunho..? Dua namja tampan itu… adalah sepasang kekasih?

Betapa dunia sangat tidak adil… kenapa membuat dua namja tampan itu menjadi sepasang kekasih?!?!

Tidak ada yang menanggapi, semua murid di situ sibuk dengan pikiran mereka masih-masig. Oh, kecuali seorang yeoja yang datang menghampiri mereka perlahan.

“K-kalian…” ucap yeoja itu sambil menunjuk Yunho dan Jaejoong.

“Iya Ahra-ssi,” Yunho menurunkan tangan yeoja itu “Kim Jaejoong adalah kekasihku, bagian mana yang tidak kau mengerti dari kalimat itu?”

“T-tidak mungkin… kalian tidak mung—“

Ucapan Ahra terhenti karena Yunho tiba-tiba saja mencium bibir Jaejoong, tepat di depan wajahnya. Ada beberapa murid yang hanya melongo melihatnya, ada juga yang merekam kejadian itu. Yunho melumat bibir Jaejoong sedikit lalu melepas ciuman itu. Mengusap bibir Jaejoong untuk membersihkan bibir tipis itu dari saliva.

“Apa kau masih tidak percaya?”

Tidak menunggu jawaban dari Ahra, Yunho segera menarik tangan Jaejoong meninggalkan tempat itu. Ia tahu pasti kejadian barusan akan menjadi berita hangat untuk hari ini… atau mungkin beberapa hari ke depan.

.

.

.

.

“Jae?” panggil Yunho pada namja yang sedang duduk di sampingnya saat ini.

Setelah menarik tangan kekasihnya, mereka berdua duduk di taman sekolah mereka dan selama itu tidak ada perbincangan di antara mereka.

“Jae… kejadian tadi… kau tidak suka? Kau minta aku buktikan kan?” ucap Yunho lembut.

Ia tidak tahu apa yang dirasakan kekasihnya itu saat ini. Yang pasti Jaejoong tidak mengeluarkan sepatah katapun daritadi.

“Jae, aku—“

“Terima kasih…”

Yunho mengernyit heran, terima kasih? Untuk?

“Karena kau sudah memberitahu mereka kalau aku kekasihmu…” ucap Jaejoong, menoleh dan tersenyum lembut padanya.

Yunho mengecup pipi Jaejoong cepat “sama-sama… jadi..? Kau tidak marah lagi kan Jae?”

Jaejoong menggelengkan kepalanya dan tetap tersenyum “tidak… mana mungkin aku marah… sekarang tidak ada lagi yang bisa menggodamu lagikan? Termasuk yeoja genit itu…”

“Ahh…  ada yang cemburu sepertinya…”

“Iya, aku cemburu… kau keberatan?”

Yunho menatap Jaejoong tidak percaya. Sejak kapan kekasihnya bisa blak-blakan seperti itu?

“Tidak… tidak keberatan, sama sekali tidak…” senyum Yunho lembut.

.

.

.

.

END

pendek ya? gaje yaa? miaann ><

tadi sempet bingung mau end sekarang apa tambah satu chapter lagi, terus akhirnya memutuskan selesai sampe sini aja deh, kkk~

rencananya sih mau bikin sequelnya, gak tau drabble atau oneshot, liat ajaa nanti😀

muakasih banget sama yang udah ngikutin ff abal ini, yang udah komen juga, yang belom komen juga… makasih ^^

sekarang fokus sama ff baru itu, hehehe… mudah-mudahan bisa lebih bagus dari ini~!

annyeong!! *wave*

26 thoughts on “[YUNJAE] I Want You – part 8 END

  1. happy ending……..*ketawa 100wt
    rasain tuh dasar cwe genit kegatelan minta dicincang. sp suruh ganggu yunjae ><
    yunjae is real…

  2. kalau aku jadi salah satu murid disana dan menyaksikan langsung pengumuman yunjae is real itu… aku pasti jadi orang pertama yang bertepuk tangan dan menyalami mereka! gyaaaa, aku gila xD
    cara yunho memperbaiki masalah di awal tadi agak keterlaluan ya. “yunho bodoooooh! bukan begitu caranya!” pengen teriak begitu, tapi laangsung bungkam pas nonton mereka di koridor itu. muehehehehe mampus itu ahra-ssi…! seneng banget akunya. happy end😀
    makasih selama ini author, telah mengisi waktuku dg fic-mu ini. bahkan tulisannya sudah diperbaiki juga. kedepannya, terus berkarya ya! see ya. *bows

  3. he eh pndek *dtabok
    tp bguslah happy end, gtu dong lo dah cinta hrus trima konsekwensiny, tepok tangan ma psangan yunjae *djumroh

    bner2 ff yg sweet………. (^3^)

  4. Crtany bgus tp shrusny mrka smpai nikh hehehe
    krn qu pngen mrka nikah, dan bgaimna reaksi ortu Yun dan Jae..

  5. hahaha..
    happy ending..
    akhirnya yunpa jga ungkapkan ksemua org yg jaema kekasihnya..
    dsar cwe genit gk ad yg lain yg mahu diganngu..
    kcau aja..
    lihat yunpa ama jaema jdi bertengkar..
    hum.. dasr..
    tpi gk papa asalkn jaema dan yunpa bersatu..:)

  6. abang min tumben bs serius,,appa juga bisabisana baruu nyadarr,,hihi happiendinggg,,,aasseekk*ciumauthor#plak*tp kya da yg kurang deh*modus*,,butuh sequelini mahh thoorr,,sequel plis,,thnks for writing~~

  7. yahhhh sayang saya gak sekolah disitu
    jadi gak bisa liat yunjae ciuman secra lngsung kan
    akhirnya happy ending
    yunppa co cwittt bnget ciiii

  8. lucuuuuuu
    huaaaa umma.. tadi sempet bikin aku nangis umma.😥
    tapi udah endingnya begini pan enak.. akur ya umma appa…😀
    love you❤ hahahaha

  9. Dasar appa paboo!! Dy ýanƍ salah kenapa dy ýanƍ teriak” …!! Ъ>:/ ƭªŮ ªª kalau umma tuh galak di luar τρ hatinya selembut pantat suie #di plototin yoosu
    Mana pernah sih umma bisa marah sam̶̲̅α̇ appa. Jadi appa jangan pernah niat duain umma…anaknya yunjae kan banyak kalau liat hubungan ke 2 ortunya ada pengacau..anaknya turun tangan bw parang #komen ªª sih q ini ^^

  10. yaah akhirnya masalahnya clear…syukurlah..#tarik nafas lega bareng jiji#
    tp koq endingnya agak ngegantung gitu dah..minta sequelnya donk thor..jeballl. ..#puppy eyes# ditunggu yaa…:-*

  11. ohh…. akhirnya…..
    v pengen lhat reaksi cs_ny yunho,jonghyun xo g dilihatin z… pzt shok bggd.. paz tau yunjae pacaran haha…

  12. Hahhh akhirnya tamat.. Sweet yunjae moment..
    Gomawo author unyu.. Dah bkin awesome fanfic ini.. Saking bagus’y ni fanfic.. Ga rela rsa’y udah end.. Pas liat tulisan “END” shock aq.. Hehhe tpi ending’y sweet bgt.. Yunjae jjang.. Author daebak..

    Oya klo mang da skuel’y dmn ya aq bisa baca ?? Hehehe klo boleh.. Trus boleh tw fanficmu yg lain ??^^

  13. good ff x cuma endingx kykx trkesan ky dkejar beruang *dgampar gajah*hehe kcepetan mksudx…tp suka alur pdktx…lucu..berasa kmbli k SMA ni….고마워…..bnyk2 bkn ff y thor…,haha…

    kalo ada pgumuman ky gt,rela dah ak bolos kelas buat jd bodyguard mrk…hahaha

  14. arigato author san, fluff betebaran dimana-mana. lanjutkan! hidup umma appa❤ #kibar2bannerYUNJAE

  15. huaaaaaaaaaa… kenapa endnya ngegantung begini *hueeeeeng* T_T tapi gak pa pa lah ya, yang penting yunjae gak terpisah lagi, yang langgeng yah umma, appa xD

  16. yunho udah ga ragu lagi kan??? haha
    sebenernya penasaran sama hubungan yunjae nantinya, reaksi ortu jae sama yunho jika tau hubungan yunjae xD
    ada sequelnya?

  17. Tau nggak apa yang bikin q kesengsem sma ff yunjae. Soalnya serumit apapun konfliknya, endingnya tetep and pasti yunjae bersatu. Like it

  18. Tau nggak apa yang bikin q kesengsem sma ff yunjae. Soalnya serumit apapun konfliknya, endingnya tetep and pasti yunjae bersatu. Kayak ff ini. Like it

  19. Ihhhh sampe nangis bacanya *melow*
    Ceritanya seru, endingnya happy tapi ngegantung banget..
    Baru klimaks tau2 udah end..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s