LOVERSHIP/ YUNJAE/ CHAPTER 1 OF ?


LOVERSHIP

Chapter 1

Created by Amee

.

NB :  re-make dari skenario “Xyāk rạk k̆ rạk ley” karya Sarasawadee Wongs

.

.

Cinta itu hal yang gila. Dan kegilaan itu menjadikan kita berani untuk mencintai.

.

Jung Yunho, mahasiswa tingkat tiga fakultas ilmu peternakan. Tampan, kaya, dan menarik. Seseorang yang selalu tampil perfeksionis untuk segala hal. Sebagai anak tunggal, keegoisan tertanam di dalam dirinya.

Yunho berjalan dengan gerakan santai menuju asramanya, sesekali ia melirik kanan dan kiri menikmati suasana pagi yang indah, sambil membenarkan posisi tas yang hanya ia sampirkan di bahu kanan.

Ia berhenti sejenak begitu sampai di depan pintu asrama, kemudian menghentakan kakinya dan masuk dengan gerakan pasti. Berbelok ke arah kanan, menaiki tangga, kemudian belok kiri dan terus berjalan lurus.

Dua meter ke depan, ia mendapati Changmin tengah berselonjor dengan  punggung bersandar pada pintu kamar asramanya. Tangan kanannya memegang selembar foto yang tebakar. Sesekali ia mengacak-acak rambutnya, frustasi.

“Aku tidak ingin berpisah denganmu, Yoona-ah,” ucap Changmin sarkastik.

Yunho sedikit berjongkok agar dapat menepuk punggung Changmin, untuk kemudian mengambil foto ditangannya, membuangnya ke dalam tempat sampah yang hanya berjarak beberapa meter di samping kanannya.

“Jangan seperti itu!”Yunho meyakinkan.

Ia kembali berjalan, hingga tiba di depan pintu kamar yang menurut peraturan yang ada, itulah tempat yang harus ia tempati selama satu tahun ke depan. Ia membuka knop pintu dengan gerakan lambat. Menghembuskan nafas lega begitu mendapati kamar masih kosong. Sesuatu bertualang dalam pikirannya, akan seperti apa teman satu kamarnya nanti?

Yunho masuk ke dalam kamar, mengeluarkan seluruh isi tasnya, tanpa membereskannya. Meraih spidol dan menuliskan sesuatu di atas secarik kertas yang kemudian ia taruh di atas nakas.

Ia menggeliat. Mengambil sebuah handuk, kemudian berjalan santai memasuki kamar mandi. Sebuah senyuman tak terelakan, selalu menghiasi bibirnya. Seharusnya saat ini ia sudah hampir gila berada di dalam kamar lamanya, bersama Seungri, seorang pemuda aneh yang begitu senang melakukan ritual yang bahkan tak dapat Yunho mengerti.

Bersamaan dengan masuknya Yunho ke dalam  mandi, seseorang memasuki kamar. Bunyi sol sepatu yang dihasilkan membentuk sebuah irama singkron dan stabil. Ia kemudian berjongkok, untuk merapikan barang-barang Yunho yang tercecer di sana.

Yunho baru saja keluar dari kamar mandi, dan mau tidak mau sedikit memicingkan matanya mendapati seseorang yang membelakangi dirinya, menghadap jendela. Rambut coklat hazel yang menjuntai sepunggung, tubuh ramping dalam balutan cardigan biru muda, dan skinny jeans yang membungkus kedua kakinya yang jenjang.

Sosok itu berbalik, menampilkan sebuah senyuman yang begitu manis di bibir plumnya. Matanya yang besar seakan menjerat Yunho untuk tak berkedip. Yunho terperangah, untuk sejenak bahkan tidak mampu berkata apa-apa, hanya berfokus pada sosok di hadapannya.

Duaarrr. Petir yang menyambar membuat Jaejoong terlonjak kaget, dan dengan reflex berlari kearah Yunho untuk memeluknya, menyembunyikan kepalanya di dalam dada bidang Yunho yang topless.

“Yaa… Jangan mendekat!” Yunho mendorong Jaejoong hingga ia tersungkur ke lantai dan punggungnya menabrak dinding.

“Kau yang jangan mendekatiku!” keluh Jaejoong sambil mengusap-usap. “Ini sangat sakit,”

“Kau laki-laki?”  Yunho memicingkan matanya sambil menahan handuk yang melilit di pinggangnya, seakan akan merosot kapan saja.

“Tentu saja aku laki-laki,” dengan gerakan yang lambat, Jaejoong berdiri. “Kau tidak meminta maaf?”

“Kenapa harus minta maaf? Kau berpakaian seperti ini dan menghampiriku, tentu saja aku kaget sekali!”

“Kau tidak mendengar tadi ada petir? Lagipula ini kamarku,”

Mata Yunho membulat sepurna. “Kamarmu?” Ia menghela nafas panjang, kemudian mengacak-acak rambutnya frustasi. “Ya Tuhan, aku malang sekali bertemu orang seperti ini,”

“Ya… Kenapa kau berkata seperti itu?” tukas Jaejoong.

“Ya lihat, tampangmu seperti itu!”

“Sungguh, aku ini laki-laki!”

“Aa… laki-laki? Ini yang disebut laki-laki? Mirip laki-laki, itu yang lebih benar,” Yunho mendekat ke arah Jaejoong. Mempersempit jarak yang memisahkan keduanya. “Wajah, rambut, pakaian, tubuh. Aa… laki-laki? Coba katakana, bagian mana yang mirip laki-laki?” Yunho menunjuk-nunjuk setiap bagian tubuh Jaejoong, bibirnya tak lepas dari sebuah senyum sarkastik.

Jaejoong segera menurunkan celana, memperlihatkan sesuatu yang tersembunyi di balik sana. Membungkam setiap kata yang ingin dilontarkan Yunho menyusul kata-kata sebelumnya. Yunho terpaku, ia melirik bagian itu kemudian beralih melirik miliknya sendiri. Jaejoong mengangguk penuh kemenangan sembari kembali membenarkan celana yang ia kenakan. Sementara Yunho hanya mampu mengatupkan bibir dan membuang mukanya.

**are you serious?**

 

Drama kehidupan berlangsung ketika kita memulai langkah, bukan, ketika kita mulai mengedipkan mata kita begitu kita terbangun di pagi hari. Apa yang kita lakukan sebenarnya telah digariskan, telah dibuat sebuah garis besar oleh Tuhan, dan kita hanya berkewajiban untuk memainkannya.

Gila, gila, gila. Semua hal yang ada di dunia ini benar-benar gila. Setidaknya itulah yang dipikirkan Yunho saat ini. Kenapa harus ada laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan, dan kenapa juga harus ada perempuan yang berpenampilan seperti laki-laki? Sejak dulu, Yunho memang punya penilaian yang negatif tentang hal itu.

Dengan kecepatan yang tak bisa ditalar oleh pemikiran manusiaYunho meninggalkan kamarnya. Berusaha secepat mungkin sampai di depan meja resepsionis dan mengungkapkan semua keberatannya. Ia pikir pindah kamar akan menjadi suatu awal yang indah, dan ternyata ia salah besar.

Yunho tak sampai pikir, sebenarnya dimana Dewi Fortuna bertugas, kenapa ia enggan menghampirinya barang sebentar saja. Mengapa hari-harinya begitu menyebalkan seperti ini. Ah, telah melakukan suatu kesalahan besarkan aku dikehidupan yang lalu? Tuhan, tolong maafkan aku, pikirnya.

Yunho memalingkan wajahnya ke sebelah kiri, dan mengamati sepasang kupu-kupu yang terbang memamerkan keindahannya. Kenapa manusia tidak diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk memilih sendiri akan menjadi apa ia nanti ketika diciptakan ke duania. Yunho menarik nafas dalam, ini sungguh melelahkan.

“Aku benar-benar tidak bisa!” Yunho menggebrak meja resepsionis, mengejutkan seseorang dibaliknya yang sejak tadi hanya berkutan pada catatan di hadapannya. “Aku mau ganti kamar!”

“Ganti kamar? Kenapa mau ganti kamar?” wanita di balik meja resepsionis menatap Yunho bingung, sambil membenarkan letak kacamata tebalnya.

“Aku benar-benar tidak bisa berada di sana! Sama sekali tidak bisa,” Yunho mengambil sebuah buku besar, dan menuliskan keinginannya untuk pindah kamar di sana. “Terus terang saja, sebenarnya aku tidak keberatan, tapi aku merasa tak leluasa melakukan apapun, seperti tinggal bersama seorang perempuan. Aku tak bisa tinggal bersama Kim!”

“Apanya yang tidak bisa?” seseorang mengintrupsi perkataan Yunho.

Pemuda itu mengangkat wajahnya perlahan. Jantungnya langsung berpacu cepat begitu mendapati siapa yang kini berdiri di hadapannya. Heechul, salah satu staff pengajar yang sangat berpengaruh di asrama ini, ia terkenal dengan segala ketegasannya, hanya saja  ia berpenampilan seperti perempuan. Dengan wajah yang cukup cantik dan rambut yang dibiarkan panjang hingga menyentuh pundak.

“Aku hanya merasa  tidak leluasa, Pak. Aku merasa keberatan,” Yunho memelankan suaranya.

Heechul mendekati Yunho, hingga hanya menyisakan jarak beberapa langkah saja. “Bersabarlah sedikit, aku yakin kau akan segera terbiasa nanti. Jadi soal Kim Jaejoong, kalau kau memang merasa tak peduli, seharusnya itu bukan suatu masalah kan?” Ia menekan meja dan menatap Yunho tajam.

“Bukankah aku punya hak untuk berganti kamar?” Yunho tersenyum meski terkesan dipaksakan.

“Ya, kau memilikinya, tapi kau sudah menggunakannya. Aku tidak mengizinkanmu untuk berganti kamar lagi!”

**are you serious?**

 

Angin bertiup sepoi sepoi menggerakkan gorden yang menutupi jendela asal. Cuaca di luar sana memang tengah tak bersabat, seperti ingin mempermainkan suasana hati setiap manusia, dan hal itu sangat memperburuk suasana hati Yunho.

Yunho mengambil sebuah lakban dan memasangkannya di lantai, sebagai batas yang memisahkan wilayahnya dan Jaejoong. Ia mengabaikan Jaejoong yang menatapnya aneh. Ini harus dilakukannya sebelum  ia benar-benar menjadi gila karenanya.

Di mana letak kesalahannya? Apakah keputusannya untuk meminta pindah kamar adalah salah. Yunho menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Baik Seungri ataupun Jaejoong, dua-duanya sama saja, membuatnya hampir gila.

Jaejoong menolehkan kepalanya sekali-kali, mengikuti setiap gerakan yang dibuat Yunho. Pikirannya melayang sejanak, memikirkan sebuah alasan yang mungkin bisa menjawab pertanyaan yang berputas di kepalanya. Setelah cukup lama memasang lakban di lantai, lewat sudut matanya Jaejoong menangkap siluet Yunho tengah berjalan ke arahnya.

Yunho meraih ransel miliknya, dan melemparkan tas milik Jaejoong, hingga pemuda cantik itu hampir saja terjungkal menerimanya. Jaejoong sedikit mengerutkan dahi ketika menyadari Yunho menatapnya tak bersahabat, namun mengabaikannya.

“Sebagai senior, dengan ini aku membertahumu, wilayahku di sini, kau di sana, dan ini batasnya. Jangan melewatinya!” Yunho memberikan penekanan.  “Aku tidak menyukai suasana yang terlalu berisik, karena ikanku akan mudah stress. Memelihara ikan bukan sesuatu yang mudah, kau mengerti? Oh iya, kalau bisa kau jangan berisik,” tambahnya.

Jaejoong mengangguk. “Aku boleh bernyanyi?”

“Kalau suaramu bagus, silakan saja, tapi jangan terlalu keras,”

Yunho segera naik ke ranjangnya, sementara Jaejoong mengangguk paham. Pemuda cantik itu mulai membuka mulutnya dan melantunkan sebuah lagu, meski hanya berlangsung singkat, karena pada detik berikutnya Yunho mengintrupsi.

“Lebih baik diam saja!”

“Apa aku boleh memasak?” tanya Jaejoong lagi.

“Itu melanggar peraturan. Kau bisa dikeluarkan jika ketahuan!” Yunho meraih sebuah buku dan mulai membukanya.

“Batas ini, bagaimana aku bisa pergi ke toilet?”

“Kau bisa lompat kan?”

“Lompat? Ya, bisa,”

**are you serious?**

 

Waktu berjalan begitu cepat, dan kini malam telah menunjukan kekuasaan. Suara nyanyian malam yang indah terdengar begitu merdu. Gesekan ranting-ranting pohon, siulan-siulan jangkrik, dan sentuhan lembut angin yang menyapa dedaunan. Ruangan putih itu terasa begitu menyilaukan diterangi kilauan lampu neon.

Jaejoong terduduk di tepi ranjangnya. Ia hanya memutar-mutar ponsel yang digenggamnya, sesekali mengetuk-ngetukkan jarinya pada layar. Sebuah melodi yang begitu memabukan mengalun di dalam hatinya, namun ia sama sekali tidak dapat menafsirkannya. Kedua bola matanya terus menekuni tirai di hadapannya. Ia menarik nafas panjang. Bosan.

Sementara itu, Yunho duduh menghadap meja belajarnya, memasukan ikan ke dalam akuarium. Memerhatikannya sejenak, kemudian kembali berkutat pada buku catatannya. Baginya, ikan adalah penenangan. Rasa gundah, lelah, semua itu akan hanyut bersamaan dengan setiap gerakan yang dibuat  ikan.

Merasa jenuh. Jaejoong mengeluarkan ukulelenya. Ia me-lapnya dengan pelan-pelan, seakan-akan begitu rapuh dan mudah tergores. Perlahan-lahan ia memetik satu senar diikuti senar yang lainnya, dan tanpa sadar permainnya menjad brutal, ia menyanyi dengan lepas setengah berteriak. Menyisakan Yunho yang mengeram frustasi di bagian sisi yang lain.

Dan waktu memang berjalan dengan cepat. Jam dinding sudah menunjukan pukul sebelas malam. Yunho telah terlelap dalam tidurnya, sementara Jaejoong masih terjaga sembari menggigit ujung selimutnya. Suasana yang gelap hampir membunuhnya karena menumbuhkan ketakutan. Kenapa malam hari harus gelap? Pikirnya.

Jaejoong meraih lampu duduk yang menjadi satu-satunya sumber penerangan di kamar itu—karena pertimbangan bahwa Yunho tidak suka suasana yang terlalu terang ketika tidur. Jaejoong memasukan lampu itu ke dalam selimutnya, menciptakan ruangan terang bagi dirinya sendiri, dan mencoba untuk tertidur.

**are you serious?**

 

Pagi kembali tiba. Serasa wangi lavender menyebar di tempat ini, meski ternyata hanya perasaannya saja. Semilir angin sepoi-sepoi yang dingin menyajikan melodi yang memabukan. Bintang-bintang yang berkilauan malam tadi berganti dengan jiwa kebahagiaan.

Jaejoong sedikit menggeliat. Tubuhnya terasa lebih ringan setelah tidur semalam. Hal pertama yang ia tangkap dalam setengah kesadarannya setelah tersentak oleh cahaya kemerahan yang menerobos di antara celah gorden yang tepat mengenai matanya adalah ruangan yang kosong. Kerjapan kecil sangat membantu memulihkan kesadarannya.

Jaejoong melirik ke sisi sebelah kirinya dan mendapati Yunho sudah tidak berada di sana. Hanya tempat tidur yang teronggok begitu saja tanpa dibereskan.

“Ada-ada saja,” gumam Jaejoong.

Jaejoong segera bangkit, setelah meletakkan lampu duduk pada posisi semula, ia segera merapikan ranjangnya, berlanjut merapikan ranjang milik Yunho, kemudian segera beranjak untuk mandi.

Pemuda cantik itu menghentikan langkahnya sejenak, meraik secarik kertas di atas nakas, kemudian membacanya. Senang berkenalan denganmu. “Benarkah?” ia tersenyum.

**are you serious?**

 

Jessica dan kawan-kawan, telah bersiap pada posisinya masing-masing, ritual yang selalu mereka lakukan setiap pagi. Bersembunyi di balik tembok di depan pintu masuk. Menanti pangeran-pangeran tampan melintas sekedar untuk menggodanya.

Jessica segera memberi aba-aba ketika Siwon, Donghae, dan Yoochun melintas. Tiffany segera begrpura-pura jatuh, sedangkan Jessica dan Krystal dengan sigap menangkapnya.

“Sakit…” keluh Tiffany.

“Kau kenapa?” ketiga pemuda itu dengan sigap menghampiri, berusaha untuk memberikan pertolongan yang mereka mampu.

“Hatiku mencair,” jawab Tiffany.

“Kalian berisik, aku pikir ada apa,” ujar Donghae sinis, kemudian segera berlalu, diikuti Siwon dan Yoochun.

Ketiga wanita itu terkikik bersama, kemudian mereka segera kembali bersiap begitu mendengar bunyi sol sepatu yang bergerak mendekat. Kali ini giliran Jessica yang berpura-pura jatuh, tepat ketika Jaejoong melintas.

“Sakk..it,” kata-kata itu terbata, dan Jessica kembali menegakan tubuhnya.

“Ada apa?” tanya Krystal.

“Hatiku sakit,” Jessica mengerang, sembari menekan dadanya.

“Kenapa?”

“Bertemu seseorang yang lebih cantik dariku,”

“Woaa.. cantik sekali,” jerit Tiffany dan Krystal bersamaan. Bukan pujian, tapi meremehkan.

“Kau itu laki-laki atau perempuan?” teriak Jessica, dan Jaejoong mengabaikannya.

Jaejoong segera menggiring langkahnya menuju kelas. Memilih salah satu bangku untuk kemudian didudukinya. Ia baru saja duduk, ketika melihat Changmin yang duduk dua bangku dihadapannya tampak begitu lemas. Rambutnya acak-acakan, dengan pandangan yang kosong.

Jaejoong segera menghampiri Changmin, menyodorkan sebungkus roti di hadapan Changmin, tetap seperti itu hingga Changmin beralih menatapnya.

Jaejoong tersenyum. “Ini untukmu, aku tidak keberatan. Makanlah, kau tampak sangat lemas, aku yakin kau belum sarapan,”

Changmin segera menerimanya, tersenyum. Dan untuk pertama kalinya, ia hanya mengamati makanan yang ada di tangannya tanpa desakan kuat untuk memakannya. Sesuatu yang asing berdebar di dadanya.

**are you serious?**

 

Changmin, Yunho, Yoochun, dan Junsu tengah berada dalam satu ruangan. Dapat dikatakan bahwa itu adalah basecamp bagi mereka berempat. Menggunakannya untuk saling bercerita, mengerjakan tugas, ataupun sekedar duduk-duduk santai.

Changmin terus memainkan roti yang ia pegang. Engundang rasa penasaran dan tatapan aneh dari ketiga temannya. Bagaimanapun juga, ini bukanlah hal lumrah yang akan dilakukan oleh Changmin.

“Kau sudah bertemu siapa kali ini?” tanya Junsu sinis. Sementara Yunho dan Yoochun hanya tersenyum melihatnya.

“Aku juga tidak tahu siapa dia, tapi dia membuatku berdebar, mekipun dia hanya melihatku rasanya aku berdebar,” jawab Changmin.

Junsu mendelik. “Lihatlah bocah kecil ini mengatakan kalau dia berdebar, tapi dia baik-baik saja, ini aneh,”

“Entahlah, aku hanya merasa bahwa dia melihatku dengan cara yang berbeda. Tidak seperti orang lain,”

“Sebenarnya siapa orang itu?” tanya Junsu.

“Dan kemana perginya orang yang sudah membuatmu frustasi sampai bersandar di koridor asrama sambil membakar sebuah foto?” tanya Yunho sembari menahan tawa.

“Jangan ungkit dia lagi,” jawab Changmin ketus.

“Bukankah kau hampir bunuh diri karenanya?” Yunho menatap tajam Changmin.

Changmin masam. “Diamlah!” semuanya tertawa.

TBC

Mind to review?^^

16 thoughts on “LOVERSHIP/ YUNJAE/ CHAPTER 1 OF ?

  1. appa emg g salah kok, salahin aja umma yg cantik.y melebihi batas yeoja sedunia, hingga org salah paham dg gender.y ^^
    dsini appa jutek bget yah, poor umma….

  2. wahh.. yunpa satu kamar ama jaema..
    hehehe.. bakalin berlaku mcm2 ni..
    changmin mula suka ama jaema..
    gmana ini..
    smamangnya jaema lebih cntik..

  3. wahh…di asrama,,
    akuuu bangettt #plakk
    keren keren
    ringan tapi tetep menghibur dan bkin penasaran,
    lanjuttt

  4. Anyeong… New reader here ^^
    Aku suka ceritanya, tentang asrama….
    Jadi pengen masuk asrama juga deh….
    Yunppa jangan galak gitu sama Jaemma donk!

  5. aigoo uri jaejoongie manis sekaliiii >.<
    aku kena diabetes bisa bisa ehehe
    suka sekali sama peran peran dari tiap tokoh nya, boleh kah dipercepat posting next chapter nya??? ahahah~

  6. hahahaaaaa…
    appa jutek amat ma eoma..
    tapi tanpa harus ngerayu n’ merebut hati appa..pasti appa kan bertekuk lutut ma eoma..
    scara..yunho milik jaejoong..
    jaejoong milik yunho..
    hahhahaaa…
    chap selanjutna..mudah2an cepat update*berdoa bareng umpa*

  7. chngu q iktan nimbrung ea,,

    1 hal yg bsa q blg ‘keren’,,
    q ska bgt ma crta’a,,
    hehehe,,
    yunpa skmr ma jaema..
    tp ko’ yunpa kyak g ska gtu ea??awas lo yunpa jgn trlalu bnci nnti bsa” jd cnta lo??
    minmin ja lngsng brdebar saat ktmu jaema..

    bkal ada prsaingan kah d ff ni??
    q tnggu next’a ea chngu,,

  8. Wooaaahh!!! Bakalan seru nih crita’a…
    YunJae sekamar!!
    Τρ Appa jutek ƍƭ deh! Umma ýanƍ sabar ýª …
    Anak”mu pasti Pd doain biar appa cepet bertekuk lutut jatoh dalam pesonamu ýanƍ tiada tara….
    Jgn” umma nanti jd rebutan para namja itu deh…
    Appa..kalau Kau tak bertindak cpt umma bakalan di srobot ýanƍ lain!!!

    Thor…jgn lama” ýª update’a

  9. walaahhh…yunpa sadis amir…moso ampe kasi pembatas lakban??? aigooo..
    jaema sabar bgt…baik ati pula, biar dicuekin yunpa, tetap az bantuin beresin brgnya yunpa…ckckck..#hug jaema#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s