3 IN 1/ YUNJAE/ CHAP 2


3 IN 1

chapter 2

Created by Amee

.

.

.

Kadang-kadang aku harus menyangkal diriku sendiri dan percaya pada Tuhan. Kalimat pertama yang ingin aku ucapkan hari ini adalah mengapa karma yang diberikan padaku harus begitu mengerikan? Tuhan, jika memang di kehidupan yang lalu aku menyakiti hati wanita-wanita yang bahkan aku sendiri tidak kenal siapa, aku mohon sampaikan permintaan maafku pada mereka, tapi tolong permudah hidupku.

Aku memejamkan mataku sekuat yang aku mampu, hingga urat-urat saraf yang mengelilingi bola mataku seakan hendak putus satu persatu. Aku mengurung diri di dalam kamar selama berjam-jam, meninggalkan Yoochun yang tertidur tenang di atas sofa.

Aku akui, aku memang seorang player, tapi bukan berarti tubuhku yang satu berhak dimiliki dan disentuh oleh siapapun, dan hal tergila yang aku rasakan adalah mengapa aku harus ditempatkan di posisi bottom, sementara selama 20 tahun kehidupanku aku selalu berada di posisi top. Kau tahu, sejauh ini orientasi seks ku normal. Aku menyukai wanita cantik, seksi, dan berdada besar—pengecualian bagi Yunho, karena dia tidak memiliki semua itu dan aku mencintainya.

Aku merasakan sesuatu yang berdenyut keras di dalam dadaku. Rasanya begitu pedih. Dan setiap kali aku mengingat sentuhan yang diberikan Yoochun padaku, rasa pedih itu semakin menjadi. Aku merasakan suatu dilema, apa ini berarti aku telah menghianati Yunho, tapi kenapa harus dengan Yoochun? Tapi sisi egoismeku menolak hal itu, bukankah Yunho tidak bergeming sedikitpun menyaksikan kejadian itu di depan matanya, lalu sebenarnya siapa yang telah dihianati oleh siapa. Dan aku benar-benar gila sekarang.

Sifat api pada dasarnya licik—senang menyelinap, menjilat, dan tertawa setelah membumihanguskan segalanya. Dan sialnya, api itu indah. Seperti cinta yang kurasakan pada Yunho sekarang ini, menghancurkanku perlahan tapi aku tetap terikat dan tak ingin terpisah darinya.

“Jae?” Yunho masuk ke dalam kamar. Entah kenapa, aku tidak bisa memaksa diriku bangkit dari ranjang dan melakukan segala hal yang seharusnya aku lakukan, seperti memeluk dan memberikan sebuah ciuman selamat datang.

“Jae” panggil Yunho sekali lagi. “Yang sedang kulihat ini benar kau kan? Kenapa tidak menjawabku?”

“Iya Yun, ini aku,” aku menghela nafas. “Aku hanya merasa sedikit… letih,”

“Kau kenapa? Beristirahatlah,” jawabnya, setelah ia selesai membuka dasi dan kemeja, sehingga kini terpampang tubuh bagian atasnya.

“Bisakah kau kemari sebentar?” aku masih dalam posisi yang sama, terlentang di atas ranjang.

Yunho tidak berkomentar apa-apa, hanya berjalan mendekat ke arahku, ia mendudukan tubuhnya di tepi ranjang tepat disisi kanan tubuhku. Aku meraih tangan kanannya, kemudian meletakannya di atas permukaan dadaku.

“Kau bisa merasakannya, Yun? Aku merasakan kesakitan yang teramat di dalam sini,” kataku.

Yunho mengeryitkan dahi sehingga alisnya bertaut, dan sepersekian detik kemudian berubah menjadi kepanikan. “Ada apa denganmu, Joongie?”

“Seperti itukah sikap seorang suami melihat istrinya diperlakukan tidak baik oleh adiknya sendiri?”

“Apa maksudmu? aku tidak mengerti,”

“Kau mengerti maksudku, Yun! Ini tentang Yoochun, kenapa kau hanya diam saja ketika Yoochun menggerayangi tubuhku?”

“Kau tahu? Sejak kecil aku telah terbiasa berbagi segala hal yang kumiliki dengan Yoochun dan Changmin, begitu pula dengan mereka. Kau akan segera terbiasa nanti,”

Yunho beranjak menuju kamar mandi, meninggalkan sebuah kesakitan yang begitu menyiksa di dalam dadaku. Kau dengar itu tadi, katanya aku akan segera terbiasa. Ini gila!

“Yun,” panggilku, sukses menghentikan langkah Yunho tepat di depan pintu kamar mandi. “Yun,” panggilku lagi.

“Iya Jae, ada apa?”

“Yun,”

“Iya, kenapa?” Yunho membalikan tubuhnya menghadap ke arahku.

“Bisa kau sentuh aku sekarang, dan menghapus jejak Yoochun ditubuhku, aku merasa tidak tenang,”

“Jangan menggodaku Jae, atau aku benar-benar akan menerkammu sebelum pergi mandi,”

“Aku tidak sedang menggodamu, aku bersungguh-sungguh,”

“Jika itu maumu,” Yunho memamerkan seringaiannya dan segera naik ke atas ranjang menghimpit tubuhku.

**weirdo**

Pagi hari adalah waktu yang sangat menakutkan bagiku. Karena itu berarti aku harus keluar dari dalam kamar dan bertatap muka dengan Yoochun. Aku bahkan tidak dapat mengendalikan degup jantungku sekarang.

Aku tidak tahu kapan aku mulai berjalan keluar kamar, karena begitu aku sadar aku sudah duduk di meja makan bersama Yunho dan Changmin. Aku sedikit bersyukur pada Tuhan, karena Yoochun tidak menjadi salah satu penghuni meja makan ini.

Aku tengah menuangkan susu ke dalam gelas, ketika Yunho memeluk tubuhku serta mengecup pipi kananku dan Changmin terkikik melihatnya. Bukankah saat ini aku benar-benar tampak seperti seorang wanita. Gila!

Changmin masih asik memakan semua yang tersaji di atas meja, bahkan saat aku kembali setelah mengantarkan Yunho pergi hingga pintu.

“Minnie, di mana Yoochun?” tanyaku ketika Changmin telah meneguk habis gelas susunya.

“Mungkin masih tidur, dia itu seperti sapi, Hyung. Padahal hari ini dia berjanji mengantarkanku ke toko game setelah menyelesaikan urusan dengan dokter gigi untuk melepaskan ini,” Changmin tersenyum sangat lebar, memamerkan kawat yang terpasang di giginya.

Aku berjalan menuju pantry untuk membersihkan semua piring dan gelas. Sedangkan Changmin berbalik arah menuju ruang keluarga. Ia duduk di atas karpet dan mulai memainkan game di I-Pad miliknya. Sesekali ia bersorak dan hampir berjingkrak. Dan hal itu membuatku terkikik geli.

Changmin. Setahuku saat ini ia berusia 16 tahun, dan ia terlalu kekanak-kanakan menurutku. Seingatku, saat seusianya aku sudah mulai berkenalan dengan banyak gadis pesta, berkencan, dan menghabiskan sisa malam di dalam sebuah bar. Sedangkan Changmin hanya menumpahkan seluruh cintanya pada game, aku khawatir ia akan tumbuh menjadi seorang pemuda yang anti sosial. Oke, mari kita lewat adegan ini, karena aku pikir Changmin adalah pemuda baik-baik dan aku terlalu berandal untuk dibandingkan dengannya.

Butuh waktu tiga puluh detik bagiku untuk menyadari bahwa kini Changmin sedang bersitenggang dengan Yoochun. Aku ingin mendekat dan melerai keduanya, tapi langkahku mendadak berat begitu ingat bahwa Yoochun lah yang harus aku hadapi. Aku bingung, kenapa harus aku yang menghindar dan merasa takut, bukankah seharusnya Yoochun yang merasakan hal itu? Dan akhirnya aku hanya mampu mengamati keduanya dengan jarak beberapa meter jauhnya.

“Aku membatalkan janji dengan dokter gigi,” kata Yoochun.

“Benarkah? Berarti kita bisa langsung pergi ke toko game sekarang?” Changmin tersenyum, giginya tampak berkilau.

“Sekarang bukan waktu yang tepat,”

“Tapi…”

“Ayo, Min. Mengertilah,”

“Tapi kau sudah berjanji, Hyung. Kau tahu, kau sudah tiga kali mengundurnya, dan aku tidak percaya bahwa kali ini kau membatalkannya lagi,”

“Dewasalah sedikit, Min. Ini sangat mendesak. Ini berkaitan dengan kuliahku, masa depanku,”

Changmin memangdang ke luar jendela. “Ya kau benar, kuliahmu penting,” kata Changmin. “Kenapa bukan Hyung saja yang mencoba dewasa? Seharusnya kau mengerti bahwa tidak benar menjanjikan sesuatu yang tidak dapat kau penuhi,” Changmin berlari menaiki tangga dan membanting kamar tidurnya.

Aku menghela nafas dalam. Sepertinya ini masalah yang cukup serius. Aku menatap Yoochun kosong, hingga tak menyadari bahwa sosok yang aku tatap tengah menatapku balik. Dan begitu aku menyadarinya, aku langsung kehilangan ketenangan, seperti seorang gadis yang tengah jatuh cinta. Aku salah tingkah.

“Hyung,” panggil Yoochun sambil mempersempit jaraknya denganku.

Aku tergagap. “A… ada apa?”

“Aku tidak akan sempat sarapan, sepertinya aku akan terlambat. Maaf membuat makanan yang susah payah kau buat terbuang. Aku pergi dulu,” dan Yoochun berlalu dari hadapanku setelah sebelumnya ia mengecup pipi kiriku.

Untuk sejenak aku terpaku. Tuhan, Yunho, maafkan aku, aku bukan istri yang baik. Dan aku berteriak frustasi dalam pikiranku sendiri. Yunho, aku bersumpah, kau boleh memelukku sepuasnya jika kau marah padaku.

Tuhan, aku melupakan satu hal. Changmin. Bagaimana dengannya? Sambil mendesah aku menaiki tangga, mengetuk pintu kamarnya. Dari dalam kamarnya terdengar musik dengan suara yang sangat keras, membuat kepalaku hampir pecah dan tingkat kegilaanku bertambah dua strip.

Changmin mengurangi volume lagu yang diputarnya hingga perlahan menghilang. “Ada apa?”

“Bisa kau buka pintunya sebentar, Minnie?” tanyaku.

Perlahan pintu terbuka, menampilkan sosok Changmin yang tampak seperti vampir dengan darah yang menghiasi mulutnya, potongan-potongan kawat mencuat keluar seperti jarum pentul. Kuperhatikan garpu yang dipegang Changmin, dan aku sadar bahwa itulah yang digunakannya untuk melepaskan kawat gigi.

“Hyung, tolong katakan pada Yoochun Hyung bahwa sekarang ia tak perlu lagi mengajakku kemana pun,” kata Changmin, dan aku hanya meringis melihatnya, dia benar-benar terlalu kekanakan.

**weirdo**

Dua hari telah berlalu sejak hari itu, dan sepertinya virus gila sudah menjalar diseluruh sarafku. Aku ingat ketika Changmin melepas paksa kawat giginya, dan Yoochun segera membawanya ke rumah sakit, sementara Yunho terus memelukku semalaman, mengecupiku bertubi-tubi karena khawatir aku terlalu shock, sepertinya saat itu ia lupa bahwa aku juga pria sama sepertinya. Aku seperti kehilangan sisi manly-ku jika tengah bersamanya. Ini gila!

Aku merasa butuh ketenangan sejenak. Aku butuh kewarasanku kembali sedikit saja. Yunho, maafkan aku. Aku tidak bermaksud bermain dibelakangmu atau menghianatimu atau apapun itu namanya. Tapi sebagai pria normal dengan segala khilaf dan salah, sepertinya aku membutuhkan suatu hiburan. Ya, hanya sekadar hiburan, aku harap kau dapat mengerti.

Aku melangkah masuk ke dalam bar yang dulu selalu menjadi langgananku. Tidak ada yang berubah, masih sama seperti dulu, wanita-wanita dalam balutan pakaian yang sepertinya minim bahan menatapku dengan tatapan lapar, dan aku mengabaikannya dengan angkuh.

Aku memesan segelas tequila kemudian duduk di atas sofa merah di pojok ruangan. Aku menyesap minumanku perlahan. Aku merasakan rasa bersalah menggelitik alam bawah sadarku. Ah, kenapa di saat seperti ini aku teringat akan Yunho. Inikah yang disebut naluri seorang istri? Entahlah. Yunho peluk aku sekarang aku mohon!

Seorang gadis dalam balutan dress mini berwarna hitam duduk di sebelahku. Seingatku ia pernah menjadi pasangan one night stand ku, tapi aku tidak ingat siapa namanya, dan itu bukan hal penting menurutku. Wanita itu mulai berani melakukan hal gila padaku, jari-jari lentiknya disapukan di atas pahaku, yang entah kenapa sama sekali tidak menimbulkan gairah dalam diriku. Gila!

Baiklah, aku akui, ia adalah gadis yang cantik, menarik, dan tentu saja seksi. Sepertinya aku yang gila karena tidak merasakan apapun, padahal dulu, aku tidak akan menyia-nyiakannya, aku akan segera menerjangnya. Tuhan, kemana perginya jati diriku, aku benar-benar frustasi.

Gadis itu mulai mencondongkan tubuhnya ke arahku, bibirnya yang merah merekah, begitu dekat dengan tubuhku. Hanya beberapa senti lagi bibir itu dapat kurasakan, kalau saja sebuah tangan tidak menghalangiku dengan merangkulku ke dalam pelukannya.

“Maaf, tapi aku sangat tidak senang jika apa yang aku miliki disentuh oleh orang lain, termasuk kau, wanita jalang!” ujar pemuda yang merangkulku dengan nada sarkastik.

Aku menengadahkan wajahku dan mendapati Changmin di sana. Ia tersenyum padaku dan mengecup bibirku singkat. Tuhan, ini benar-benar gila! Benarkah sosok yang ada di hadapanku adalah Changmin yang kerap kali aku temui di rumah. Bukankah Changmin yang ku kenal sangat kekanak-kanakan, kenapa malam ini ia terlihat sangat menakjubkan, dan… dewasa.

Tolong catat satu lagi kegilaan dalam hidupku. Terimakasih.

TBC

Mind to review^^

21 thoughts on “3 IN 1/ YUNJAE/ CHAP 2

  1. ya yunho knp brbgi istri juga, hei istri kau smakn dg brg yg bsa kau bgi dg saudramu..
    Lkukn supy jae umma g dsntuh olh org lain slain yunho suaminy..
    Aq tnggu chp brktny ya..

  2. cerita yang menarik !! Sayangnya kurang panjang🙂 . aku sebel sama yunho emang sih boleh berbagi tp kan dalam hal lain, bukan kaya gini ! Huuuuh…. Lanjutin chap nya ya🙂 ditunggu

  3. Ceritanya bgus bnget gk mudah dtebak..tp kasian si jae jd korban trus..ditunggu chap berikutnya,jd penasaran.

  4. yunho kasian itu istrimu aduuhh -___-
    ngomong2 soal changmin pny 2 kepribadian agak serem yak
    bau2nya next chap. giliran changmin grepe jaejoongie😥

    next next next!

  5. Sumpah uno kebangetan mana sifat posesif mu ku jae.yun rela berbagi jae dgn adik2mu.aku g rela kasian ummaku.cerain aja lo di bagi2.

  6. Changminaaaa….oh no…..magnae evil,akankah dia akan melakukan hal yang sama seperti yang yoochun lakukan pada jae?gak sabar baca chap 3

  7. Yahaa… Napa begono no sekeluarga. Status mah istri kakak garis miring ipar. Tapi, yg ngerasain(?) malah semua…changmin ini udah nyium ,next? Tau da😦
    ckckck… Tega lo Yun. Berbagi dlm sgala hal *angguk2 eh geleng2* xD
    beneran gila
    ia kembali kasih *jwb kt terakhir hehe

    selanjutnya….

  8. sama-sama~ kekeke~ baru sadar judulnya 3 in 1, uda kaya joki aja~ wkwk~ karma nya bener2 ada buat jae haha bahasanya bagus, tanda bacanya juga, aku jadi gampang dan cepet ngerti pas bacanyaaaa😀

  9. dong deng,,
    chun bnran nglkuin ‘smthing’ pda jaema..
    n yunpa diam aja,,
    astaga,,
    klwrga apa ni??

    minmin mnja bget oh,,
    si bungsu yg kyut,,
    tp wktu d bar minmin tmpil 180′ brbda dri biasa’a..
    pakah kn trjdi sswtu lgi trhdap jaema??
    q kn mnnti akhr’a??

  10. jangan sampai changmin sama umma jae ngelakuin ‘sesuatu’ juga kaya yoochun kemarin, jawabannya cuma ada di chapter 3, ga sabar pengen cepet cepet baca

  11. Makin gila aja nih Jung brothers ªⓜª jaema…Minnie~ah jae itu kakak ipar lo! jangan kurang ajar ˘ϑέcђ
    Apa sekarang gilirannya changmin ýanƍ mau nyobain tubuhnya jaema?
    Kalau 33nya lagi kepengen bersetubuh ªⓜª jaema gimana? Apakah seranjang ber4?
    Aish!! Pusing ni ah!

    Next chap

  12. aigooo,,jae kykx frustasi tuch,
    Ngerasa bersalah ma yun tp yun nya gk mempermasalahkannya,,

  13. what???? changmin juga? ?? aigooo..kasian uri joongie…udah diperlakukan seperti. ……..
    lha…yg jd suami joongie siapa sih sbnrnya?? apa jgn2 bertiga itu jd suaminya??o_O omaigadsan…

  14. umma….kasihan amad…..gag ngebayangin muka umma kek mana digituin…yunppa kejemmm amadddd siiii….insyaffff yunppaaaa sebelum umma lepas darimuuuu…

  15. kyaaaaa apa2an iniiii? kenapa appa tega banget? sedih bacanya~ seolah2 umma barang yang bisa dibagi2😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s