3 IN 1/ YUNJAE/ CHAP 3


3 IN 1

chapter 3

Created by Amee

.

.

NB : RE PUBLISH FROM fanfiction.net

.

Saat ini aku sedang berada di dalam sebuah kamar hotel, yang entah mengapa kurasakan atmosfernya begitu panas dan mencekam. Lampu ruangan dibiarkan redup sehingga yang terlihat oleh mata hanya bayangan samar-samar.

Aku terduduk kaku di tepi ranjang. Tubuhku menengang, dan kedua tanganku seolah enggan berhenti mencengkram paha yang setengah bergetar. Kau boleh bertanya padaku bagaimana perasaanku saat ini, dan aku akan dengan senang hati menjawab bahwa semua ini gila. Rasanya aku seperti seorang gadis yang ketahuan berselingkuh dan segera didakwa saat itu juga.

Dihadapanku Changmin terus menatapku tajam, kedua tangannya ia lipat di depan dada. Ia tidak mengatakan apapun sejak sepuluh menit yang lalu, dan ini membuatku hampir gila. Hei, dia hanya anak berusia 16 tahun dan aku adalah seorang pria yang yang telah menikah berusia 20 tahun, dan gilanya nyaliku begitu ciut, aku tidak sanggup balas menatapnya, yang bisa kulakukan hanya menunduk, menatap ujung sepatuku.

Hingga saat ini aku masih belum percaya bahwa sosok yang ada di hadapanku adalah Changmin yang sehari-hari kutemui di rumah. Sosok yang ada dihadapanku ini kurasa memiliki tingkat feromon yang sangat besar hingga mampu mengintimidasiku, gila.

“Apa yang sedang kau lakukan disana? Mencari kesenangan, eh? Kau hendak bercinta dengan wanita jalang itu?” Changmin membuka suara. Dan gilanya aku lebih senang jika ia diam saja seperti tadi, kata-katanya terdengar begitu mengerikan.

Sesungguhnya apa yang sedang kau pikirkan Jung Jaejoong? Aku menghela nafas panjang. Kau tahu, sesungguhnya aku hanya takut jika Changmin melaporkan semua hal yang ia lihat pada Yunho. Aku belum siap menerima segala konsekuensinya. Aku belum siap jika Yunho membenciku untuk kemudian mengusirku. Kau tahu, aku sungguh merasa nyaman berada di pelukannya, aku merasa tangan kekarnya begitu pas dengan lingkar tubuhku.

“Jawab aku, Jae!” kata Changmin. Ok, dan kali ini ia bahkan meninggalkan panggilan Hyung untukku.

“Aku tidak… hanya…” jawabku tergagap. Bodohnya aku belum mempersiapkan jawaban apapun, sejak tadi hanya berputar-putar memikirkan ketakutan dan kondisi terburuk. Tuhan, tolong aku, jatuhkanlah meteor ke bumi saat ini juga agar aku segera terbebas dari kegilaan ini.

“Berhentilah mengelak, aku melihat semuanya, dan aku tidak terlalu bodoh untuk dapat kau bodohi,”

Aku mengangkat wajahku perlahan, dan segera mendapati wajah Changmin yang kini hanya berjarak beberapa inchi denganku. Aku bahkan tak menyadari kapan ia mulai mempersempit jarak diantara kami.

“Kau tahu, Jae? Kau itu milikku, dan aku sangat tidak suka jika sesuatu yang menjadi milikku disentuh oleh orang lain. Kau bisa mengerti itu?” tanyanya, dan aku hanya mengangguk. “Sekarang tunjukan disisi mana saja dia sudah menyentuhmu, aku akan menghapusnya!”

Changmin mendorong tubuhku kasar hingga tubuhku telentang di atas ranjang, sementara kakiku masih menggantung ke bawah. Aku ingin memberontak, namun tubuhku lemas sempurna, kekuatan seakan meninggalanku begitu saja. Satu hal yang aku tangkap saat ini, Changmin jauh lebih mengerikan dibandingkan Yoochun.

Tiba-tiba saja aku teringat pada wanita-wanita yang pernah aku sentuh. Seperti apa perasaan mereka? Dan sebanyak apa jumlah mereka? Aku menyentuh lebih dari satu wanita, dan kini aku disentuh oleh lebih dari satu pria.

Ruangan terasa semakin sempit menghimpitku, terutama saat kusadari bahwa Changmin sudah berada diatasku. Dia menyeringai, serupa dengan Yunho aku rasa. Itu tampak mengerikan namun menenangkan di waktu yang bersamaan.

“Kau tidak boleh jadi anak yang nakal, ok? Jika kau menginginkan sesuatu, kau bisa mengatakannya padaku. Jangan terlalu menganggapku sebagai bocah ingusan. Kau tahu, aku sudah mengerti hal-hal seperti itu dengan sangat baik, kau tidah perlu khawatir,” Changmin kembali menyeringai, kemudian memberikan sebuah jilatan samar di bibir bawahku, membuat sengatan listrik menjalar di seluruh tubuhku.

Dia menyentuh dadaku dengan gerakan yang sangat lembut membuatku sedikit tergelitik. Ia mendekatkan wajahnya denganku, hingga aku mampu menikmati aroma vanilla yang keluar dari tubuhnya, menenangkan, menimbulkan rasa rileks serupa dengan ketika kau mengikuti terapi.

Jari-jari tangan kanannya ditaukan dengan jari-jari tangan kiriku dengan gerakan yang begitu terkonsep. Sementara tangan kirinnya ia pakai untuk menopang beban tubuhnya agar tidak jatuh menghimpitku. Changmin mendekatkan bibirnya pada bibirku sehingga tercipta suatu kecupan mesra di sana. Kau tahu, rasanya begitu nyaman, aku pikir dia sudah terbiasa memperlakukan gadis-gadisnnya dengan sangat baik.

Kecupan itu perlahan berubah menjadi suatu lumatan lembut dengan ritme yang konstan. Diperlakukan seperti ini rasanya jiwaku ingin berontak dan mendominasi. Entah bisikan setan darimana aku membalas lumatan Changmin dengan gerakan sedikit menuntut, dan setelahnya aku tahu bahwa itu adalah suatu keputusan yang salah, karena Changmin balas melumatku dengan gerakan yang lebih menuntut daripada yang kulakukan. Sial, karena itu membuat tautanku pada jarinya semakin kencang, dan aku tahu bahwa di dalam ciuman kami, Changmin menyeringai.

Pasokan udara yang menipis mengintrupsi pagutan kami, Changmin melepaskan ciumannya, dan seutas saliva tampak samar tersambung diantara bibirku dengannya. Aku merasa dadaku naik turun begitu cepat, dan aku dapat menangkap hal yang sama dialami Changmin.

Changmin melepaskan tautan jarinya, kembali dengan gerakan yang lembut ia mulai membuka kancing kemejaku, dan menatapnya beberapa saat. Aku tahu semburat merah menghiasi wajahku saat ini.

Changmin mulai menyentuh tubuhku. Kedua telapak tangannya ia letakan di perut rataku, kemudian naik ke dada dengan gerakan perlahan, dan kembali turun kepinggangku, dan menekannya, membuatku sedikit melenguh. Ini gila. Aku tidak tahu dari mana ia mempelajari semua ini. Rasanya aku ingin terkikik karena rasa geli yang menjalar di seluruh tubuhku, tapi aku pikir itu akan merusak suasana, dan yang bisa kulakukan hanya mencengkram tubuhnya.

Changmin mulai menjilati seluruh inchi tubuhku dengan gerakan seduktif, meninggalkan tanda-tanda di berbagai tempat yang ia inginkan, membuat tubuhku menggelinjang dahsyat, dan sesuatu di dalam tubuhku terbangun. Tepat ketika aku ingin menuntutnya untuk melakukan lebih, dia menghentikan kegiatanya.

“Pakai bajumu, Jae. Aku tidak ingin kau masuk angin, jangan lakukan hal-hal yang tidak berguna seperti tadi, atau aku akan melakukan hal yang lebih padamu!” Changmin kembali menyeringai, sementara alam bawah sadarku memprotesnya untuk melakukannya saat ini juga.

Sementara Changmin berangsur naik ke ranjang, dan menidurkan kepalanya di atas bantal, aku berusaha menutupi sesuatu yang menegang di bawah sana dengan kedua telapak tanganku. Aku membuang mukaku ke arah lain. Aku malu, dan aku tahu Changmin sedang terkikik melihat gelagatku.

“Kita akan menginap di sini?” tanyaku.

“Ya,” dia mengangguk sambil tersenyum. “Ada apa?”

“Sebaiknya aku pulang, Yunho akan mencariku dirumah,”

“Hyung tidak akan mencarimu, ia lembur malam ini, dan kupastikan ia akan pulang besok,”

“Dia tidak mengatakan apa-apa padaku,”

“Aku yakin dia sudah mengabarimu, tapi kau terlalu asik bercumbu dengan wanita jalang itu tadi hingga kau tidak menyadarinya,” kata Changmin, aku dapat melihat wajahnya yang berubah masam. Ia sangat sensitif sekali. “Sekarang naiklah ke mari. Aku tahu kau sangat lelah, aku akan memelukmu,” tambahnya sambil menepuk-nepuk bantal di sampingnya.

“Sepertinya aku butuh mandi lebih dulu,”

Aku beranjak pergi menuju kamar mandi, meninggalkan Changmin yang aku tahu tengah menyeringai dengan sangat menyeramkan. Sepertinya aku memang harus mandi, dan menyelesaikan semua ini sendiri. Lihat pembalasanku Jung Changmin!

**weirdo**

Burung-burung saling bersautan, meramaikan pagi yang indah. Dedaunan saling menggesekan menghasilkan melodi yang sangat merdu. Lagit pagi yang begitu menakjubkan, sebuah lukisan masterpiece terlukis jelas di atas langit yang seakan menjadi kanvas yang terbentang tanpa batas. Gumpalan awan putih yang memenuhi langit biru yang membentang memberikan sensasi hangat yang sulit dirangkai dengan kata. Hanya mampu dinikmati dan diabadikan dalam memori selamanya.

Aku meletakan ponsel silverku di atas nakas perlahan. Tersenyum, kemudian menarik nafas panjang, menikmati setiap hembusan udara segar yang memikat. Mengisi kantung-kantung alveolus di dalam paru-paruku, sehingga membebaskanku dari perasaan sesak yang mungkin membunuh perlahan.

“Jaejoongie!” suara baritone itu memanggilku, entah untuk yang keberapa kali. Suara itu, suara yang selalu aku kagumi, suara yang selalu aku rindukan. Selalu hadir dalam setiap episode mimpi ketika mata ini terpejam. Memberika kenyamanan yang tak menjenuhkan.

Aku membalikan tubuhku perlahan, membiarkan mata ini mengekspos pahatan wajahnya yang sempurna. Aku tidak akan pernah bisa terbiasa menatapnya, selalu terpesona.

Menatap rambut hitamnya yang mencuat melawan gravitasi, alisnya yang tiada dua, dua bola mata dengan iris coklat muda, dan apa yang dikenakannya selalu tampak elegan. Aku memujanya, dan dia lebih memujaku.

“Selamat datang,” aku memeluknya kemudaian membantunya melepaskan dasi dan kemeja. “Air hangatnya sudah aku siapkan, ayo cepat mandi,” aku setengah mendorong tubuhnya.

“Bagaimana kalau istriku yang cantik ini juga ikut mandi bersamaku?” Yunho mengecup bibirku singkat sekadar untuk menggodaku.

“Ya Jung Yunho, ini masih sangat pagi, dan aku sudah mandi!” aku memukul dadanya perlahan, kemudian ia tertawa sambil memegangi dadanya seolah kesakitan.

“Baiklah-baiklah, kau jangan terlalu merindukanku, aku hanya pergi mandi sebentar,”

“Berhenti menggodaku seperti itu!” aku berteriak.

Yunho hanya tertawa keras dan masuk ke dalam kamar mandi. Aku kembali menaiki ranjang, dan meraih ponselku, setelah sebelumnya menyiapkan baju untuk Yunho. Aku berbalas pesan dengan seseorang, hingga deheman Yunho mengintrupsiku. Aku tidak sadar bahwa ia sudah selesai mandi, sungguh.

“Bisakah ketika kau sedang bersamaku, letakan ponselmu dan jangan menyentuhnya?” tanyanya tajam.

“Maafkan aku,” kataku sambil meletakan kembali ponselku. “Aku akan membawakan sarapan untukmu, begitu aku kembali kau harus sudah selesai berganti baju ok?” aku berusaha tersenyum padanya, dan Yunho balas tersenyum.

Aku keluar kamar dengan tergesa-gesa hingga tak menyadari bahwa Yunho berjalan ke arah nakas dan memeriksa ponselku.

**weirdo**

Siang itu, matahari begitu terik menghujamkan sinarnya. Tanpa ampun, tanpa memilih siapa yang ada di bawahnya. Menampilkan siluet indah berwarna jingga, yang tampak bias di tengah hamparan langit biru tanpa awan.

Di salah satu sudut kota, di dalam sebuah kafe, aku duduk dengan sedikit gusar, mengetuk-ketukan jarikua di atas meja. Malas. Penantian adalah sesuatu yang sangat tidak menyenangkan. Itu kenyataannya.

Mataku menangkap sebuah mobil nissan skyline gtr tepat berhenti di depan kafe yang tengah kusinggahi, dan seseorang yang ku tunggu keluar dari sana.

“Maaf membuatmu menunggu lama, Jae,” katanya sambil menggeser kursi dan duduk di sana.

“Tidak apa-apa, aku juga belum lama datang,” jawabku.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?”

“Seperti yang aku katakana di pesan, apa kau bisa menjelaskan kasus yang aku alami?”

“Kau sungguh ingin aku menjawabnya?”

“Yaa.. Siwon-ah, kau sangat menyebalkan!”

“Hahaha, baiklah, maafkan aku,” dia tersenyum, memamerkan lesung pipi yang sangat dibanggakannya.. “Kau tahu kisah baratayudha?”

“Barata apa?”

“Baratayudha Jaejoong-ah!” Siwon menoyor kepalaku dengan telunjuknya.

“Lalu apa hubungannya?”

“Itu adalah kisah yang berasal dari India. Aku pikir apa yang terjadi padamu sama dengan yang terjadi pada istri Arjuna,”

“Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan Woonie? Aku sama sekali tidak mengerti?” aku menghela nafas frustasi. Aku tahu dia sangat pintar, dan kepintarannya itu yang membuatku gila.

“Aku tahu kau tidak akan mengerti, karena kau tidak pintar!” Siwon tertawa keras sambil mengacak-acak rambutku, dan aku hanya menekuk wajah menanggapinya. Aku tidak tahu, jika ada sepasang mata yang tengah mengamatiku saat itu.

TBC

Mind to review?^^

14 thoughts on “3 IN 1/ YUNJAE/ CHAP 3

  1. Aah aq jdi bngung ma crtany..
    Knp Jae mau2ny di gtuin ma adk2ny Jung Yunho babo itu.. Aaah rsany pngen qu bejek2 tuch org..
    Kpn Jae umma g di lecehkan kyk gtu lgi..
    Aq tnggu chp brktny ya..

  2. fiuh,,
    untung ja minmin g ngapa”in jaema..

    tp jka minmin brubah kyak gtu n sfat kyut”a ilang ko’ driq jdi mrnding ea,,

    jung brothers sma” protektif,,
    minmin g ska jaema dkat” dgn yeoja pabo n yunpa g ska saat jaema dkat dgn’a mlah pgang hp,,
    n mlah yunpa ngcek sms’a lg!!

    pakah yg kn trjdi saat yunpa liat jaema brtmu siwon??
    q kn mnunggu next chap’a..
    post scpat’a ea chngu,,

  3. telat baca, malah baca di bulan puasa untung ga ada yg lebih dr changmin lakuin td.
    sebenernya aku juga ga tau cerita tentang baratayudha heheh tunggu..jgn blg yunho bakal nge hukum jae abis ini -_-

  4. ngebayangin yunho pas pagi pagi itu pasti ganteng banget, hahaha, aku kira umma jae smsan sama cewe ternyata sama siwon toh, umma pasti lagi curhat ya, lanjutkan ya thor tapi kalau bisa changmin jangan ikutan yoochun gitu kan masih kecil thor udah gitu changmin juga pacar aku thor TT hehehe *nawar terus

  5. lanjuutt dah yah…
    itu si jae,npa gk sma yunho gtu..
    masa sih tr nc nya barengan diserang ma 3 org hoho
    😀

  6. Ko jaema malah suka sih mau di grepe” minmin ªⓜª chunnie Ъ>:/ terlalu suka…aaahh umma nih gimana sih…#gatel deh palaQ

    Tuh ýanƍ lagi liatin jae sam̶̲̅α̇ wonwon Şiaρα ýª? Yunpa x, habisnya tadi pagi yunpa sempet liat” hp’a jaema
    Kalau bener yunpa nanti jaema kena hukuman apa ýª?

    Di tunggu lanjutannya thor! ^_^

  7. pasti yg ngeliatin itu yunpa..iya nggak? iya nggak?? barata yudha emang knp? #reader udik# apa hubungannya dgn uri joongie? oya, siwon tu siapa??penasarannn…

  8. ohmygod ohmygod itu yang merhatiin appa yaa? yaaaahhhh jangan sampai appa salah faham dooonnnngggg~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s