Never Ending (Jaejoong Version)


Never Ending

[Jaejoong version]

 

By: Saengie Love

Cast:

Jung Jaejoong

Jung Yunho

Other Cast

 

Genre:  Romance, Angst, Fluff, Incest, Family

Yaoi

Pairing: YunJae

Rating: PG-13

 

DON’T LIKE DON’T READ

THIS FF REAL INCEST AND YAOI

(a/n: FF ini sebenernya udah ada, tapi yang waktu itu Yunho version, sekarang aku bikin Jaejoong version nya. Di FF never ending sebelumnya (Yunho POV) ada yang minta dibikinin Jae ver, jadi aku pengen nyoba buat deh. Tapi kayanya jadi jelek dan ga dapet feel nya neh… mau ga dipublish sih, tapi yaudah lah.. udah dibuat juga, sayang ga di publish. O ya, disini kata-katanya hampir semua aku ubah, jadi yunho ver sama jeje ver beda ya.. tapi ada beberapa kata sih yang gak aku ubah, abis bingung mau ngubahnya bijimana. Hehehe😀 So, keep reading and pleaseeee reply yaaaa….. kasih tau pendapatnya bagus/gak nya… :D)

Seperti sebelumnya, pas baca ini, bayangin muka JeJe yang disini

Sedangkan Yunho, terserah bayangin yang mana. kan dia emang tetep aja muka bapak-bapak xD *plakplakplak

Happy read! ^^

Aku tahu cinta ini salah. Tapi.. Aku tidak dapat lari dari cinta ini. Walau mungkin pada akhirnya kau tidak akan bisa menjadi milikku, aku akan tetap mencintaimu. Pemilik kunci hatiku. Kau adalah cinta pertamaku, dan akan menjadi cinta terakhirku.

================================================================

Suara tepuk tangan menyadarkanku dari lamunanku. Kuangkat kepalaku, memperhatikan sekeliling, melihat sesuatu yang sedang terjadi. Pandanganku kemudian tertuju padanya. Dia yang sedang berdiri disana. Menunggu seseorang yang sebentar lagi akan menjadi pasangan hidupnya. Ya, pengantinnya.

Jung Yunho. Dia sangat tampan. Orang yang paling tampan diseluruh dunia yang sudah mencuri kunci hatiku. Dan kunci itu, aku pastikan hanya dia yang punya. Tidak ada kunci duplikat atau semacamnya. Hanya miliknya, untuknya, selamanya.

Aku mengedarkan pandanganku lagi kesekeliling ruangan. Ada banyak orang yang menghadiri acara sakral ini. Dan mata mereka semua tertuju pada satu orang yang baru masuk, ditemani seorang pria paruh baya yang menggandeng tangannya. Ia berjalan dengan anggunnya. Matanya hanya tertuju pada pria tampan yang sedang berdiri di altar. Pria-ku.

Dia sangat cantik. Sangat cocok untuk Yunho-ku yang manly. Ah, mengapa tiba-tiba dada ini terasa sesak?

Harusnya aku yang berjalan disana. Harusnya aku yang tersenyum menyambut uluran tanganmu. Aku pikir semua akan berubah jika aku datang padamu lagi. Tapi, semua tidak ada artinya. Kita tetap tidak bisa bersatu.

Apa kau masih marah karena aku memaksamu menikah dengannya? Maafkan aku, jika membuatmu terluka.

Saat kau dikabarkan telah tunangan dengan seorang wanita yang sangat cantik. Aku merasa kau mengkhianatiku.

Jadi aku datang lagi, menemuimu. Saat itu, adalah puncak dimana aku tidak bisa mengendalikan perasaanku lagi. Aku begitu merindukanmu. Aku tidak tahu bagaimana dengan dirimu. Rindu kah kau padaku?

Aku benar-benar nekad. Bahkan aku tidak mengatakan apapun kepada orang tua kita perihal kepindahan sekolahku. Bibi adalah satu-satu nya orang yang berada dipihakku. Dan juga tentunya kau, cintaku..

==============================================================

Flashback

Pria cantik itu tersenyum manis didepan pintu apartemen yang terbuat dari kayu berkualitas itu. Ia menjulurkan tangannya dan memencet bel yang sedikit tinggi dari tubuhnya untuk membangunkan tuan rumah yang ia yakini masih tidur.

Sudah beberapa kali ia mencoba memencet bel. Ia memajukan bibirnya hingga beberapa inci, kesal. Ia hendak memencet bel lagi untuk kesekian kalinya, tapi pintu itu tiba-tiba terbuka, memperlihatkan seorang pria dengan rambut acak-acakan dan wajah yang kusut, namun masih tetap terlihat tampan.

“Hai…” seulas senyuman indah tersungging di bibir namja cantik itu. Ia menatap pria yang ada dihadapannya. Jantungnya berdegup cepat. Perasaan rindu kian membuncah dihatinya.

“Aisshhh!! Lama sekali kau membuka pintunya! Aku sudah bosan menunggu diluar. Pasti tadi masih tidur!” Dan setelah makan waktu lama, pria cantik itupun akhirnya mendapatkan sebuah senyuman bodoh dari pria tampan yang ada dihadapannya itu.

“Hai.. Ehm, aku tidak tahu kau sampai secepat ini” Yunho akhirnya bersuara setelah Jaejoong bosan menunggu responnya yang lambat. Suara itu, suara khas seorang Jung Yunho yang sangat Jaejoong rindukan. Mampu menyejukkan indra pendengarannya. Akhirnya ia kembali mendengar suara itu lagi.

“Kau tidak tahu atau kau lupa? Ck! Sudahlah.. Apa kau tidak merindukanku?” Rajuk Jaejoong dan seketika memeluk Yunho, menenggelamkan wajahnya di dada Yunho yang bidang.

“tentu saja aku merindukan adikku yang cantik ini” Yunho balas memeluk Jaejoong tak kalah erat.

“Ralat, Hyung! Tampan! Bukan cantik!!” Jaejoong memngerucutkan bibirnya hingga beberapa inci. Hingga wajahnya yang memang cantik itu makin menggemaskan. Ia benci dibilang cantik, namun tak dapat dipungkiri didalam hatinya ia senang Yunho memujinya. Dan sekarang ia benar-benar benci karena Yunho menertawakannya.

“Aku benar-benar merindukanmu” Ucap Yunho tulus.

“Aku juga…”

‘Aku merindukan pelukan ini’ Batin mereka bersamaan.

Beberapa menit mereka seperti itu, saling melepaskan rindu satu sama lain yang sudah dua tahun tidak bertemu akibat jarak yang memisahkan dua tubuh itu.

Setelah acara berpelukan selesai, mereka masuk bersama dan duduk di sofa ruang keluarga. Mereka duduk berdampingan disalah satu sofa itu.

“Bagaimana dengan tunanganmu, Hyung? apa dia tidak tinggal disini? Atau sedang keluar?” Tanya Jaejoong menerka-nerka. Ia melihat raut Yunho yang terkejut. Jelas. Orangtuanya, apalagi Yunho tidak ada yang memberitahunya kalau Hyung nya sudah bertunangan. Entah apa sebabnya, Jaejoong juga tidak tahu. Dia masih anggota keluarga, kan?

“….Kau sudah tahu aku sudah bertunangan?” Wajah Yunho jelas seperti seorang yang tertangkap basah sedang mencuri buah di pohon tetangga. Jaejoong hanya mengangguk pelan. Dia ingin sekali menghajar, memukul, apapun yang bisa membuatnya melampiaskan emosinya. Rasanya seperti duri menusuk-nusuk jantungmu saat kau mengetahui dari orang lain bahwa orang yang kau cintai telah bertunangan. Apa seorang Jung Jaejoong tidak berharga lagi dimata Jung Yunho?

Tapi jauh didasar hati yang paling dalam, ia ingin memeluk erat-erat orang itu, menciumnya, melepaskan rindu yang tertahan dilubuk hati.

“Kau berharap dia tinggal disini?” Tanya Yunho sambil memicingkan kedua matanya.

“Mm… Siapa tahu…” Jaejoong mengalihkan matanya, mengedarkan pandangannya kesudut-sudut ruangan. Mungkin saja Jessica, tunangan Yunho itu sedang berdiri menatap mereka saat ini.

“Dimana kamarku? Aku ingin membereskan barang-barangku” Tambahnya sambil matanya kembali menatap Yunho yang ada disampingnya. Ia ingin mengakhiri pembicaraan ini. Yunho bergeming sesaat. Hingga akhirnya ia menunjuk ke lantai dua.

“Diatas” Jawab Yunho singkat. Jaejoong membiarkan Yunho menyeret kopernya, lalu ia mengikuti dari belakang. Mereka sudah sampai di pintu kamarnya, yang bersebelahan dengan kamar Yunho.

“Ini kamarmu. Dan kamarku di sebelah. Jadi kalau kau ada butuh apa-apa tengah malam, aku ada disampingmu” Jaejoong mengangguk dan tersenyum kecil.

“Kau butuh bantuan?” tawar Yunho. Jaejoong bergeming sesaat, namun segera ia menggeleng.

“Tidak usah. Aku bisa sendiri Hyung” Yunho hanya mengangguk.

“baiklah. Aku ke bawah dulu” Jaejoong menatap sendu kepergian Yunho, sebelum ia masuk ke dalam kamar untuk membereskan barang-barangnya.

Flashback end

==============================================================

Wanita itu sudah berada dihadapan Yunho-ku. Dan saat ayahnya memberikan tangan anaknya pada Yunho, saat itu juga aku sadar, kita sudah terlalu jauh. Sulit untuk menggapaimu lagi. Ini sudah benar-benar berakhir. Tidak. Ini belum sepenuhnya berakhir. Kau belum mengucapkan janji setia itu. Bisakah aku berharap, walaupun sedikit?

Janji. Benar. Kata itu sangat mudah diucapkan. Tak peduli jika mungkin kita mengingkarinya. Kau juga berjanji padaku, bahwa kau akan selalu berada disampingku apapun yang terjadi. Tapi apa kenyataannya? Kata hanyalah tinggal kata. Janji yang kau ucapkan, telah hilang di hembus angin bersama dengan harapan cinta kita.

Aku juga ingat. Saat perasaan itu tumbuh lagi pada kita berdua. Malam itu, adalah malam paling indah bagiku. Dan aku yakin juga bagimu.

==============================================================

Flashback

“Kau belum tidur Hyung?” Tanya Jaejoong yang melihat Hyungnya sedang duduk bersantai di beranda milik kamar Yunho. Yunho menoleh dan tersenyum saat mendapati dirinya tengah berdiri disamping jendela Yunho. Wajah Yunho yang tampan, semakin tampan diterangi cahaya bulan yang penuh itu. Jaejoong memandang tangan Yunho yang sedang menepuk-nepuk sendiri pahanya.

“Duduklah Jae.. Disini.” Suruh Yunho sambil menepuk-nepuk pelan pahanya. Jaejoong menurut kemudian berjalan menghampiri Yunho dan mendudukkan pantatnya dikedua paha Yunho. Mereka sama-sama melihat keatas, mengamati bulan purnama dan beberapa bintang berkilauan disana. Mencoba menghitung berapa banyak bintang yang ada dilangit.

“Kenapa kau tahu aku ada disini?” Tanya Yunho. Jaejoong membiarkan Yunho mengalungkan kedua lengannya dipinggangnya, mungkin berusaha menahan tubuhnya yang berada dipangkuan Yunho agar tidak jatuh.

“Aku mencarimu kemana-mana. Apartemen ini jadi terlihat sunyi tidak ada kau. Jadi harapan terakhirku mencarimu adalah disini. Aku sudah memanggilmu dari luar pintu kamarmu, tapi kau tak kunjung menyahut. Jadi aku masuk saja karena tidak dikunci” Jelas Jaejoong panjang lebar. Yunho hanya mengangguk tanda mengerti.

“Aku selalu merasa bosan jika berada disekolah. Aku juga merasa bosan jika pulang sekolah” Jaejoong memberanikan diri menyandarkan kepalanya dibahu Yunho. Nyaman. Bahu itu, masih saja begitu kokoh sama seperti dulu, dan membuat kepalanya menjadi rileks saat ia menyandarkan kepalanya di bahu itu.

“Kenapa?” Tangan Yunho bergerak-gerak pelan disekitar perutnya, membuat Jaejoong sedikit tegang, menggigit bibirnya menahan kegirangan didalam hati. Jantungnya memacu begitu cepat tak dapat di kontrol.

“Karena disekolah tidak ada kau, dan sore kau baru pulang. Sedangkan aku pulang siang hari” Jaejoong menenggelamkan wajahnya dileher Yunho. Matanya terpejam, menyesap, merasakan aroma manly Yunho dalam-dalam.

“Oh, Jaejoong ku merasa bosan.. apa yang harus kulakukan?” Ucap Yunho pura-pura sedih, seolah mendramatisir keadaan. Membuat Jaejoong jadi gemas ingin menjawabnya.

“Kau hanya perlu bersamaku setiap malam. Selalu menemaniku, seperti ini” Bisik Jaejoong dileher Yunho. Sedikit menggoda Hyung nya itu tidak masalah bukan?

Jaejoong yang masih melekat di leher Yunho, sedikit terkejut saat pipi nya dan pipi Yunho saling bersentuhan, akibat Yunho yang tiba-tiba menoleh kearahnya. Jaejoong mengangkat kepalanya, menatap mata Yunho yang kini juga menatapnya. Tatapan yang penuh arti, hanya mereka yang tahu arti dari tatapan itu.

Perlahan wajah keduanya saling mendekat satu sama lain. Hingga jarak itu tidak ada lagi. Jaejoong membalas ciuman lembut dari bibir Yunho. Yunho dengan hati-hati melumat bibir Jaejoong, seolah takut bibir itu rusak jika diperlakukan secara kasar. Dibawah sinar bulan, mereka saling menyesap, mencicipi setiap inci bibir masing-masing, bergulat lidah, dan menghisap pelan bibir yang dulunya memang miliknya.

Jaejoong merasakan Yunho makin mengeratkan pelukannya dipinggangnya. Sambil berciuman yang sudah entah berapa menit itu, ia mengelus pelan lengan Yunho dan menggenggam erat kedua lengan yang berada diperutnya itu.

Akhirnya setelah beberapa menit berlangsungnya ciuman lembut itu, mereka melepaskannya. Butuh oksigen mereka hirup untuk paru-paru yang sudah kering akibat sedari tadi tak ada oksigen yang dapat mereka hirup.

Yunho dan Jaejoong saling terdiam menatap satu sama lain, sebelum akhirnya sama-sama memalingkan wajah. Jaejoong mengipas-ngipas wajahnya menggunakan tangannya disela-sela senyumnya, sedangkan Yunho sibuk berdehem demi menghilangkan kegugupannya.

Mereka saling memandang lagi. namun kemudian sama-sama tertawa, merasa lucu dengan keadaan ini.

“ehm.. aku tidur duluan Hyung… Selamat malam” Ucap Jaejoong akhirnya setelah dipastikan tidak akan ada lagi perbincangan yang bisa dibincangkan—mengingat keadaan mereka saat ini agak aneh—jadi Jaejoong memutuskan untuk tidur duluan. Menghindar dari rasa keanehan ini.

“Hmm.. Selamat tidur” Balas Yunho dan membalas senyum Jaejoong. Jaejoong masih bergeming, tak bergerak sedikitpun—atau memang tidak bisa bergerak.

“Apa lagi? Pergilah”

“Kau belum melepaskannya Hyung”

“Huh? Melepaskan apa?”

“Ini” Jaejoong menunjuk kearah pinggangnya. Ia menoleh lagi kearah Yunho. Dan betapa susahnya ia menahan dirinya untuk tidak tertawa, saat melihat semburat merah diwajah Yunho dan gerakan salah tingkahnya itu. Oh shit! Sepertinya ia harus cepat-cepat kabur dari hadapan Yunho agar bisa tertawa sepuasnya! Ia tidak tahan lagi…

“Ah, maaf aku melupakan tanganku” Benar-benar alasan yang menggelikan. Cepat-cepat Yunho menjauhkan kedua tangannya dari pinggang Jaejoong.

“Selamat malam, Hyung” Ucap Jaejoong ulang. Samar-samar Jaejoong mendengar suara jitakan dan makian—meratapi kebodohan— yang berasal dari beranda itu. Ia tak henti-henti menyunggingkan senyumnya membayangkan kelakuan bodoh Hyungnya saat ini yang meratapi kebodohan dirinya sendiri. Ia berteriak senang. Akhirnya, bibir itu kembali padanya, bibir yang memang hanya untuknya. Dan cinta Yunho, dulu dan sekarang, Jaejoong yakin tidak pernah sekalipun pudar.

Flashback end

==============================================================

Aku menatap dalam diam Yunho-ku yang kini juga sedang menatapku. Bodoh! Siapa yang kau tatap, huh? Seharusnya kau menatap calon istrimu, bukan aku Hyung.. Jangan menatapku seperti itu. Kau membuatku kembali berharap. Berharap ini semua tidak pernah terjadi. Berharap aku yang disana, disampingmu. Apa? Apa arti tatapanmu itu Hyung? Kau terlihat menyedihkan.

Tidak. Aku lebih menyedihkan dibandingkan dirimu. Huh, bagaimana tidak? Duduk dengan manis lalu menyaksikan kekasihnya menikah dengan orang lain. Pantaskah kita disebut sebagai kekasih? Perasaan ini, apa aku pantas merasakan perasaan ini padamu, Hyung?

Aku tahu, aku sadar, seharusnya perasaan ini tidak boleh ada. Kita menjijikkan, Hyung.. Ani, aku yang menjijikkan. Setidaknya, kau masih bisa diperbaiki. Kau akan menikah dengannya, lalu jatuh cinta, dan setelah itu hidup bahagia dengan anak yang sangat banyak.

Sedang aku? Akan tetap seperti ini selamanya. Terus mencintaimu hingga aku menghembuskan nafas terakhirku. Mencintaimu yang sudah hidup bahagia bersama si Jessica itu. Aku, terus dan akan terus hidup untuk mengharapkan cintamu, Hyung…

Mengapa aku tak bisa memilikimu? Pertanyaan itulah yang aku tanyakan padamu malam itu. Tapi kau tak bisa menjawabnya. Karena memang pertanyaan seperti itu tidak harus dijawab. Sudah jelas, aku memang selamanya tak bisa memilikimu. Mengapa Hyung….? Mengapa aku tidak boleh mencintaimu? Apa aku tidak boleh bahagia? Aku menyesal, menyesal mengapa kau ditakdirkan menjadi Hyung-ku. Apa takdir itu bisa berubah jika disesali?

Tapi seperti yang sudah kukatakan. Kaulah pemilik hatiku, Yunho Hyung. dan selamanya akan tetap begitu. Aku akan selalu mencintaimu, kita akan selalu bersama. Tidak peduli kau sudah menikah dengan orang lain. Kau yang mengatakannya padaku, kau sudah berjanji. Aku sudah percaya padamu. Sekarang aku menuntutnya. Mana janjimu Hyung? Aku ingin janjimu. Janji yang kauucapkan malam itu.

==============================================================

Flashback

“Mengapa aku tidak bisa memilikimu, Hyung? Mengapa? Mengapa kau terlahir sebagai Hyungku? Mengapa kita harus kakak-adik? …..Mengapa kita harus sedarah?” Jaejoong menangis terisak di punggung Yunho. Ia memeluk Yunho semakin kuat. Sekuat tangisan perihnya.

“Apa aku tidak boleh mencintaimu? Sesalah itukah cinta kita? Mengapa aku tidak berhak merasakan cinta?” Pelukan Jaejoong semakin erat diperutnya, namun Yunho hanya mampu terdiam tanpa mengeluarkan suara sekecilpun.

Jaejoong terus menangis. Ia seakan tidak mampu berharap lagi. Harapan untuk memliki Yunho hanyalah sia-sia. Yunho bukan miliknya. Yunho hanyalah seorang Hyung untuknya, tidak lebih. Dan memang tidak boleh lebih.

“Jae…”

“Jangan berbalik! Kumohon… Biarkan seperti ini. Aku ingin merasakan punggung hangatmu, yang nantinya tidak akan pernah bisa kurasakan lagi” Pinta Jaejoong yang semakin menenggelamkan kepalanya dipunggung Yunho. Merasakan aroma maskulin dari kekasih yang sangat dicintainya. Menghirup aroma manly Yunho yang mampu menenangkan dirinya dari segala kegalauan dan kesedihan yang dirasakannya saat ini.

Benarkah tidak ada harapan lagi? Hanya satu harapan saja, yaitu memiliki Yunho seutuhnya. Tidak ada yang lain. Harapan memiliki kehidupan bersama Yunho. Menghabiskan waktu, hanya berdua. Apa satu harapan itu tidak bisa menjadi nyata?

Sesalah itukah cinta mereka yang telah mereka tanam sejak dulu? Sejak mereka selalu bersama ketika di jepang, dan saat sekarang. Saat dua tubuh ini bisa bersatu lagi. Apa semua ini salah?

Ya. Jaejoong tahu cinta ini salah. Dia tahu, memang tidak boleh mencintai Yunho, Hyung kandungnya sendiri. Tapi perasaan yang terlanjur tumbuh didalam hati, apa bisa dicegah?

Yunho mengelus pelan jemari Jaejoong yang berada di perutnya. Perlahan ia membalikkan badannya dan menatap mata bulan Jaejoong. Mata indah Jaejoong sudah merah, akibat menangis lama dipunggungnya.

Jaejoong menutup matanya, merasakan tangan besar Yunho membelai rambutnya. Menelusuri rambutnya yang halus.

Perlahan Yunho naik ke atas Jaejoong. menatap seluruh wajahnya. Tangannya berpindah menelusuri wajahnya tanpa ada yang tertinggal. Jaejoong menatap sendu kearah Yunho yang berada diatasnya. Menangkap kesedihan dan kesakitan yang juga terlihat diwajah itu. Rasa sakit yang sama seperti yang dirasakannya. Tertekan, dan frustasi.

Yunho mendekatkan wajahnya ke wajah Jaejoong. Mencium lembut keningnya, matanya yang masih mengeluarkan air mata kesedihan, hidungnya yang sudah merah, pipinya yang putih dan halus, kemudian mencium lama bibir penuhnya dengan lembut. Menyesap pelan bibir itu.

“Jangan menyesal, Jae.. kau berhak merasakan cinta. Cinta dariku. Aku tidak peduli lagi apa status kita. Persetan dengan semua itu! kau adalah milikku, aku adalah milikmu” bisik Yunho ditelinga Jaejoong.

“Kaulah pemilik hatiku. Kau telah mencuri kunci hatiku. Dan tidak ada duplikatnya. Kau pemilik sahnya. Dan itu sampai selamanya” Sambung Yunho ditelinga Jaejoong. Jaejoong merasakan Yunho mencium dan menggigit telinganya, sangat pelan. Membuat Jaejoong bergidik dan spontan menutup matanya menahan geli.

“Hyung…” Mereka saling menatap lagi. Senyuman Yunho mampu membuat hati Jaejoong menjadi lebih tenang.

“Kau percaya padaku, Jae?” tanya Yunho penuh harap. Jaejoong terdiam sejenak sebelum mengangguk pelan.

“Cukup percaya padaku. Walau apapun terjadi, aku akan tetap bersamamu. Disampingmu selamanya” janji Yunho pada Jaejoong.

Yunho melumat bibir Jaejoong lagi. kali ini lebih liar dan lebih dalam, namun diwarnai oleh isakan Jaejoong yang semakin kuat. Tangisan kebahagian karena mendengar kata-kata Yunho yang berhasil menyatukan hatinya yang sudah hancur, akibat pemberitahuan dari orangtua mereka bahwa seminggu lagi pernikahan Yunho dan tunangannya, Jessica akan dilangsungkan.

Masih. Jaejoong yakin. Masih ada harapan. Tidak ada yang tak mungkin di dunia ini, termasuk untuk bisa berdua bersama, selamanya.

Dan malam itu, adalah milik mereka berdua. Tak peduli lagi status yang menyuruh mereka untuk berpisah.

Flashback end

==============================================================

Aku tidak kuat lagi. Aku benar-benar tidak kuat lagi.

Kuberanikan diriku untuk maju ke tengah menghadapmu, dan berteriak dengan lantang. Aku mencintaimu, Hyung…. Aku sungguh tidak sanggup berpisah denganmu…

Maafkan aku. Aku bersumpah aku tidak mampu jika harus mendengar janji setia yang akan kau ucapkan sebentar lagi.

Maaf… Jika ini membuat kau dan aku semakin sulit.

“Aku mencintai Hyung…” Tiga kata itu kukeluarkan dari mulutku dengan sisa keberanian yang aku miliki. Walau tak dapat kupungkiri, air mataku lebih banyak keluar dari sebelumnya. Menunjukkan yang sesungguhnya bahwa aku lemah, tak ada keberanian sedikitpun. Inilah perjuangan cintaku, Hyung… Permintaan maafku padamu karena memaksamu meninggalkanku.

Sekarang, aku ingin kau kembali padaku.

Aku tidak perduli jika semua orang menganggapku gila. Aku juga sudah pasrah jika orangtua kita membuangku karena malu.

Aku hanya ingin dirimu.

Ingin bersamamu.

Ingin kau disisiku selalu.

“Aku juga mencintainya” Aku mendengarmu dengan sangat jelas. Rasanya bahagia. Terima kasih, kau membantuku mempertahankan cinta kita. Ku mohon, datanglah padaku. Aku sudah tidak kuat menopang tubuhku sendiri yang hampir jatuh karena lemah.

“Apa yang kalian katakan?! Hentikan kekonyolan ini!” Appa menentang hubungan kita. Pasti. Tapi aku tidak peduli lagi. Aku akan bertahan sampai akhir. Aku akan mempertahankanmu yang sedang memelukku.

“Umma… Appa… Mianhae… Aku tidak bisa menikah dengan Jessica. Kumohon, biarkan kami hidup bersama. Aku sangat mencintainya. Aku benar-benar mencintai Jaejoong” Aku tahu kau sedikit takut berhadapan dengan Appa. Aku akan memelukmu dengan erat, meyakinkan dirimu bahwa jalan yang kita pilih adalah benar.

Dan kita akhirnya bersatu. Walau mereka masih tidak menyetujui hubungan kita, tak apa. kita lah yang menjalaninya. Dan perasaan ini, akan tetap seperti ini selamanya. Selamanya aku mencintaimu, sampai maut memisahkan kita berdua.

Kaulah pemilik kunci hatiku, dan kunci itu selamanya akan menjadi milikmu.

END

4 thoughts on “Never Ending (Jaejoong Version)

  1. hmm….
    bagus kok… ffnya bagus.. 2 side yang berbeda. Yunho dan Jaejoong,
    so sweet.. yunhae bersatu!!!

  2. huweeeeeeee romantis.. nice, maniiss tp nyesek #plakk
    biarpun happy ending.. eh ini happy ending kan??
    tp ttep aja sedih.. angst bgt T__T
    Jdi bisa ngrasain prasaan jaema kya apa huhu, sakiitt
    cinta yunjae terlalu dalam..
    tpii aku belum bca loh yg yunho pov, abis nemu’a ini dulu #plakk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s