[FF] Sayap – sayap Malam – Yunjae Part.2/2 | @beth91191


Title : Sayap-sayap Malam

Author : Beth ( @beth91191 )

Genre : Romance, Action, Angst

Rate : Teen

Length : One Shot Part 2/2

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Shim Changmin

Disclaimer : This story originally from my own imagination. I don’t own any character of this fanfiction. They belong to God and themselves. I was happy to pour all my imagination into fanfiction. Don’t forget to give your appreciation to my fanfiction and don’t copy without permission. Happy Reading ^^

===START STORY===

SAYAP-SAYAP MALAM

 

 

(Yunho POV)

Jaejoong.. Jangan tinggalkan aku..

Kalau aku bisa menukar nyawaku sebagai gantinya, maka akan aku berikan. Tapi jangan pergi..

 

Kumohon..

 

Jaejoong..

 

 

DEG!!!

 

Aku terbangun dari tidurku. Ternyata aku baru saja bermimpi. Ada apa ini? Kenapa aku bisa bermimpi seburuk itu.

 

KRING.. KRING…

 

Teleponku berbunyi. Belum sempat kumemikirkan apa makna dibalik mimpi itu, cepat-cepat kuangkat telepon itu.

 

“Yabuseyo..” Salamku.

 

“Yunho-ah..” Sahut seseorang dari seberang sana.

 

“Jaejoong?” Tanyaku masih tak percaya.

 

“Iya ini aku. Dasar bodoh.” Jawabnya dengan intonasi khas yang biasa dia ucapkan.

 

Kulihat jam yang tergeletak di meja samping tempat tidurku. Jam 09.00 am KST.

 

“Disana jam berapa?” Tanyaku padanya.

 

“Jam 7 malam. Jangan bilang kau baru bangun ya?” Serunya menebak.

 

“Iya.. Semalam aku rapat dengan tim satuanku hingga larut malam.” Jawabku sambil mendudukan tubuhku dan memegang kepalaku yang sedikit penat,”Kau pulang kapan? Seminggu lagi bukannya?”Tanyaku lagi setelah mengingat bahwa dia sudah berada di Amerika selama 23 hari lamanya.

 

“Iya, minggu depan aku pulang.” Jawabnya lirih.

 

“Aku rindu padamu Jaejoong. Sangat rindu. Aku rindu padamu setengah mati. Hingga rasanya ingin meledak saja hatiku ini.” Ucapku memanja.

 

“Dasar bodoh. Baru 23 hari saja sudah kangen setengah mati hingga hampir meledak.” Jawabnya berpura-pura acuh.

 

“Sungguhan.. Tapi tunggu kau belum memberiku ciuman-selamat-pagi, pagi ini..” Sahutku cepat.

 

“Ya..ya..ya.. Selamat pagi.. Muaacchh..” Ucapnya menirukan suara orang mencium,”Sekarang senang?” Tanyanya setelah memberiku ciuman-selamat-pagi dari kejauahan sana.

 

“Senang.. Tapi lebih senang lagi kalau kau menciumku langsung.” Jawabku.

 

“Nanti kalau aku sudah kembali ke Seoul ya.. Tapi kau baik-baik saja kan disana? Tidak nakal kan? Tidak main-main  dengan orang lain kan?” Ucapnya penuh selidik.

 

“Tentu saja tidak. Aku sangat sibuk bekerja dan sibuk memikirkanmu, mana mungkin aku sempat bermain-main dengan yang lain, Love.” Jawabku tak terima dengan tuduhannya,”Kau sendiri ingat tidak dengan janji kita?” Tanyaku balik.

 

“Apa?” Tanyanya lupa.

 

“Kau sudah berjanji akan menikah denganku setelah kembali dari Amerika. Kau lupa ya?” Jawabku.

 

“Oh iya.. Tentu ingat.. Kan memang aku yang mengharap-harapkannya sejak lama. Tapi kau bilang tadi ada rapat dengan tim satuan hingga tengah malam. Kau akan ada misi lagi ya? Kapan? Lalu kapan kita menikah kalau kau harus fokus pada misimu itu?” Tanyanya bertubi-tubi.

 

“Tenanglah, Love.. Misiku akan aku selesaikan sebelum kau kembali ke Seoul. Jadi setelah kau kembali, kita bisa langsung menikah.” Jelasku padanya.

 

“Benarkah?” Tanyanya ragu.

 

“Iya, calon Nyonya Jung Yunho.” Godaku padanya.

 

“Dasar bodoh! Ya sudah. Mandi sana. Aku menelepon cuma rindu ingin mendengar suaramu. Nanti aku telepon lagi ya.” Ucapnya hendak menutup telepon.

 

“Baiklah.” Sahutku.

 

“Tapi tunggu..” Ucapnya tiba-tiba,”Berhati-hati ya, Yunho. Aku selalu ketakutan setiap kau melakukan tugasmu sebagai interpol itu. Ya sudah kalau begitu, aku tutup ya teleponnya. Saranghae..” Katanya menutup kalimat.

 

Saranghae..” Sahutku cepat sambil memutuskan telepon kami.

 

Benar, aku adalah kapten satuan elit interpol. Sejak masih kecil, aku selalu bermimpi untuk bisa memanggul senjata membasmi kejahatan. Kini hal seperti itu sudah berada di tanganku dan menjadi bagian dari nafas dan aliran darahku. Mempertaruhkan nyawa berada di garis depan saat perang melawan petinggi-tinggi dari semua kawanan penjahat, mafia, pengedar narkoba, perampok, pelaku bisnis prostitusi dan segala kejahatan besar lainnya, adalah sesuatu yang biasa bagiku. Menggunakan senjata laras panjang, pistol, granat, dan jenis senjata lainnya sudah sangat kukuasi. Yang membedakan kami para pasukan elit dengan polisi biasa adalah, kami hanya punya dua pilihan saat berperang. Kembali dengan kebanggaan, atau mati dengan kehormatan. Sering melihat darah berceceran dan mayat bergelimpangan di lokasi penyerbuan, sama sekali tidak membuatku gentar. Ini pekerjaanku, dan aku mencintai pekerjaan ini. Oleh karena itu, Jaejoong selalu dan selalu khawatir saat aku akan berangkat menjalankan misi. Biasanya dia akan menghabiskan malam sebelum hari penyerbuan dengan hanya memelukku erat tanpa terlepas sedikitpun. Seakan-akan dia takut, aku akan pergi dari sisinya dan tak akan kembali lagi untuk selamanya. Tapi tidak dengan malam-malam ini. Dia tak ada disisiku saat ini dan untuk satu minggu ke depan. Aku hanya akan bisa mendengar suaranya dari telepon dan membayangkan dia memelukku seperti biasa yang ia lakukan.

 

Tenanglah Jaejoong. Tak lama lagi kita akan segera bertemu, dan kau bisa memelukku sepuas hatimu nanti.

 

-oOo-

 

 

(Yunho POV)

 

“Tim Beta kalian masuk lewat sana.”

“Tim Delta kalian masuk lewat sana.”

“Tim Epsilon, kalian berjaga di pintu keluar.”

“Sedangkan Tim Alpha, ikut bersamaku. Kita masuk lewat sini.”

 

Kulihat jam tangan yang melingkar di pergelanganku.

 

“Kita bertemu di pusat lokasi yang sudah kita bahas.”

“Sekarang. Go!”

 

Pasukan satuan elit yang kupimpin berpencar, masuk ke dalam gedung sesuai rencana yang sudah kususun sebelumnya. Tim Alpha mengikutiku masuk lewat pintu selatan. Didobraknya pintu dengan kasar. Bersiap-siap kami dengan senjata kami. Ketika gelap bertemu dengan cahaya, kami berondongkan peluru ke dalam. Beberapa penjahat yang berjaga dengan senjata mereka pula, berhasil kami taklukan. Kami lewati lorong-lorong, menyusur, menyusup. Menembak semua penjahat yang berbahaya bagi kami.

 

Dor.. Dor.. Dor..

 

Kami menembak, menghindari, berlindungi dibalik dinding, melempar granat, berguling di lantai, menyerang, terus tanpa henti.

 

Misi kami hanya satu kali ini, menangkap boss gangster narkoba, selain itu yang mengancam keselamatan kami tentu harus dihabisi. Kami lakukan semua dengan cepat. Ruang demi ruang kami lewati. Selangkah demi selangkah kami makin dekat dengan ruangan boss penjahat ini.

 

Darah berceceran dimana-mana, mayat-mayat para penjahat sudah banyak yang bergelimpangan. Teriakan mereka dan kami berbaur menjadi satu. Membuat bangunan yang semula tenang ini, menjadi begitu mencengkam.

 

Waktu berjalan begitu cepat. Semua terjadi begitu saja di depan kami. Tangan-tangan kami sudah terlampau reflek untuk menembak, dan kaki-kaki kamipun sudah terlampau tanggap berlari, melompat dan berguling. Mata kami begitu awas. Semua kami lakukan dengan sangat lancar hingga detik ini.

 

Namun..

 

DEG!!

 

 

 

Siapa itu??

 

Seketika aku terdiam kaku tak mampu bergerak. Semuanya menjadi begitu sunyi senyap sepi. Suara tembakan, teriakan dan hantaman benda-benda tak sanggup terdengar olehku. Aku terlalu tertegun dengannya sosok seseorang yang tengah berdiri di kubu lawan itu dengan senjata menghiasi tangan indahnya.

 

Jantungku terasa berhenti. Seluruh udara serasa menekan di dalam dada, tak sanggup keluar, tertahan, terkunci, membuat sesak dan sakit yang tidak terkira. Mataku sudah sangat pedih, tak yakin dengan apa yang aku lihat di depan sana.

 

“Jaejoong..” Ucapku begitu lirih serasa tak ada yang lain yang bisa mendengar.

 

Kenapa dia disini? Di tempat seberbahaya ini? Berada di pihak musuh? Melawan kami?

 

Habis sudah akal sehatku.

 

Bertahun-tahun aku mengenalnya, lima tahun aku berpacaran dengannya, bahkan beberapa tahun terakhir aku tinggal bersamanya, namun sebenarnya seberapa kenal aku dengannya?

 

Aku tak mengenalnya!

Sama sekali!!

Ini bukan dia!!

Atau mungkin yang selama ini aku kenal, bukanlah dia yang sebenarnya?

 

Tubuhku berangsur-angsur lemas, hingga tak sanggup untuk sekedar menopang senjata. Jikalau saat ini ada yang mengarahkan tembakannya padaku, aku pasti akan tetap diam dan tertembak dengan mudahnya.

 

Sungguh aku ingin menangis saat ini. Aku begitu mencintainya hingga hampir gila, namun aku sama sekali tak mengenal seseorang yang telah membuatku gila ini. Aku menyesali kenapa dia harus memilih pekerjaan seburuk ini. Setahuku dia adalah guru musik di sekolah dasar yang selalu terlihat ceria dan senang dengan anak-anak. Setahuku dia adalah namja yang sangat manja dan suka bila aku memanjakannya. Setahuku dia adalah namja yang sangat lembut dan pandai memasak. Setahuku dia bidadariku yang selalu dan selalu membuatku terpesona ketika menatap wajah ayu-nya.

 

Namun bukan seperti itu yang aku lihat sekarang.

 

Dia terus menembak dan menembak, berusaha menghabisi pasukanku dengan ganasnya. Rambutnya terlihat sedikit berantakan tak seperti biasanya yang lembut dan terjatuh rapi. Ekspresinya begitu serius dan dingin tak seperti biasanya yang selalu tersenyum dan penuh kehangatan. Gerakannya begitu agresif membunuh tak seperti biasanya yang selalu memeluk dan mengusap wajahku dengan kelembutan.

 

“Jaejoong..” Ucapku lagi.

 

“Maaf, Kapten..” Sebuah suara kembali menyadarkanku dari keheningkanku. “Kapten, ruangan ini sudah kami kuasai. Tinggal namja itu dan kita bisa masuk ke ruangan utama.” Ucap salah satu pasukanku.

 

Sekilas kulihat wajah pasukanku yang menunggu komando dariku, namun kemudian kembali aku menatap ke arah Jaejoong yang sibuk bersembunyi dibalik beton tanpa ada penyerangan lagi darinya.

 

Pelurunya habis kah?

 

Lalu bagaimana ini?

 

Dia bisa mati jika tak memiliki senjata. Tapi aku juga tak mungkin mengatakan pada mereka bahwa namja itu adalah Jaejoongku. Bisa saja dia dipenjara seumur hidup jika tertangkap oleh kami. Lalu aku harus berbuat apa? Tak banyak waktu untukku berpikir.

 

Ruangan yang seharusnya ramai kembali menghening, tinggal aku dan pikiranku yang terdengar.

 

Bagaimana? Bagaimana? Bagaimana?

 

 

“Kau, ambil alih pimpinan Tim Alpha sekaligus seluruh pasukan kita. Cepat lakukan penyerbuan inti sekarang juga.” Ucapku pada salah satu pasukan kepercayaanku.

 

“Tapi Kapten. Ada apa? Kenapa kau alihkan pimpinan padaku?” Tanyanya terkejut.

 

“Kau tak dengar perintahku, ha? Cepat lakukan penyerbuan akhir. Lakukan!” Ucapku setengah berteriak.

 

“Tidak.. Aku tak mau ambil pasukan. Kita datang atas arahanmu. Kita keluar juga atas arahanmu. Kita sudah melangkah sejauh ini dan kenapa kau tiba-tiba seperti ini??” Sahutnya ikut berteriak.

 

Aku terdiam sesaat kembali menatap wajah bingung mereka.

 

“Sampai detik ini, kalian masih percaya padaku kan? Kumohon. Lakukan saja rencana awal kita.” Ucapku melirih.

 

Kutepuk sekilas bahu sahabatku sejak jaman masih karantina di kepolisian elit.

 

“Kumohon, Shim Changmin.” Ucapku pada pria tinggi yang sudah kuanggap seperti adik ini.

 

Sejenak dia terdiam. Menatapku begitu tajam. Mencari keseriusan dari balik kata-kataku.

 

“Baiklah. Kau, hati-hati!” Jawabnya cepat ketika menyadari aku tak main-main.

 

“Walau misi ini sangatlah penting, tetap utamakan keselamatan mereka.” Ucapku lagi padanya.

 

Ditatapnya mataku dalam selama beberapa saat, dan kemudian, “Pimpinan saya ambil alih. Kapten Shim Changmin imnida. Tim Alpha, Tim Beta, Tim Delta lakukan sesuai rencana menuju inti penyerangan. Tim Epsilon, berjaga-jaga diluar untuk kemungkinan terburuk. Laksanakan!” Ucapnya memimpin seluruh pasukan.

 

Kupandangi mereka yang tengah bergerak menuju ruangan utama. Aku yakin, seluruh pasukan akan baik-baik saja di bawah pimpinannya. Dia adalah personel yang berkualitas dan hebat. Kami sama-sama kapten. Hanya karena aku lebih senior darinya, maka aku yang harus memimpin penyerbuan ini. Tapi disamping faktor usia, dia jauh lebih hebat dibandingkan aku.

 

Kembali aku teringat pada namja yang saat ini terasa asing di hatiku. Secara perlahan aku mendekati beton tempat ia bersembunyi dibaliknya. Aku berjalan dengan sangat perlahan, takut mengejutkannya, hingga tiba disebelah beton, kupanggil namanya lirih.

 

“Jaejoong..”

 

 

DOR!!!

 

 

-oOo-

 

(Author POV)

 

Peluru terakhir melesat keluar menembus angin menyeruak dari dalam laras senapannya mengkoyak tubuh seorang pria yang tengah berdiri di sampingnya. Sesaat dia merasa sangat ketakutan, takut kalau dia akan tertangkap atau justru akan terbunuh oleh pria yang tengah ditatapnya itu. Namun kemudian dia menyadari ada sesuatu yang salah dengan apa yang baru saja dia lakukan. Dia masih tak mengerti apa kesalahan itu, tapi yang pasti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya saat ini.

 

Pria tegap berpelindung-kepala didepannya memegang senjata dengan sangat mantap, namun tak berusaha menyerangnya balik. Ada apa sebenarnya? Kenapa dia merasa sesuatu yang benar-benar salah memang telah terjadi. Pria itu menjatuhkan senjatanya perlahan dengan sengaja ke ubin-ubin lantai yang dingin.

 

Darah mengucur deras dari tempat ia tertembak, tepat di dada kirinya. Sepertinya peluru tepat mengenai jantungnya. Begitu banyak darah yang keluar, sedikit demi sedikit mengalir melewati lengan kirinya hingga pergelangan tangan dan menetes di ujung-ujung jarinya. Menetes dan menetes seperti tetesan air di pucuk-pucuk dahan cemara saat hujan telah reda.

 

Tangan kirinya yang beralirkan darah perlahan bergerak hendak meraih pelindung-kepalanya. Tangan itu bergerak dengan sangat lambat dan setengah bergetar. Dari sorotan area mata yang bisa dilihat oleh Jaejoong, terlihat pria itu tengah kesakitan menahan rasa yang menyelimuti tubuhnya. Belum sempat ia berhasil membuka pelindung kepalanya, tubuh pria ini berangsur-angsur ambruk lemas kekurangan darah. Namun entah mengapa Jaejoong justru menangkap tubuh pria yang tak diketahuinya itu dan menyandarkan kepalanya dipangkuan. Ada sesuatu yang menarik hatinya untuk mengetahui wajah sesosok pria yang telah ia tembak ini. Dibukanya pelindung wajah itu secara ragu-ragu, sedikit demi sedikit. Jantung Jaejoong sudah berdetak cepat tak beraturan. Sangat cepat hingga sulit baginya untuk sekedar bernafas secara lancar.

 

Terus dibukanya perlahan, dan akhirnya..

 

DEG!!

 

“Jung Yunho??!” Pekiknya tak percaya.

 

Seketika itu juga hatinya luluh lantak hancur tak berbentuk. Air mata mulai menetes membasahi wajah cantik yang selalu dikagumi kekasihnya itu. Air matanya terus mengalir menganak sungai dari mata cemerlangnya. Senyuman yang biasa terhias dibibirnya setelah ia berhasil menggulingkan lawannya, sama sekali tak terlihat. Ia menyadari bahwa kali ini ia sama sekali tak memenangkan pertarungan ini. Ia memang berhasil menjatuhkan lawannya, namun ia tetap saja kalah. Kalah besar. dia benar-benar sudah melakukan hal terbodoh yang mungkin bisa dilakukan oleh seorang manusia. Ya, dia telah menembak kekasihnya sendiri yang selalu mengisi hari-harinya dan tak lelah membuatnya terus merasa bahagia. Kekasihnya yang amat sangat dia cintai demi apapun di dunia ini, tempatnya mencurahkan isi hati dan memperoleh pelukan hangat.

 

Andai waktu bisa diulang..

Andai dia tak mengambil pekerjaan ini..

Andai dia memutuskan berhenti dari dunia gelap ini sebelumnya..

Andai pria ini bukanlah polisi interpol..

Andai dia tak mencintai pria yang hampir mati dalam pangkuannya ini..

Andai tetaplah sekedar andai. Kenyataan getirlah yang harus dia terima.

 

“Jung Yunho.. Jeongmal mianhae.. Jeongmal mianhae..” Ucapnya berkali-kali sambil terisak.

 

Diraba-rabanya pipi kekasihnya itu, diusap perlahan sembari membersihkan noda-noda darah yang ada disana. Berusaha ditekannya lubang di dada Yunho yang mengalirkan darah begitu banyaknya, namun rasanya hal itu sia-sia belaka.

 

“Aku harus bagaimana Yunho? Aku harus berbuat apa??” Ucapnya lagi sambil menggoyang-goyangkan tubuh Yunho perlahan.

 

Yunho masih saja terdiam, dia terlalu bahagia bisa bertemu kembali dengan pujaan hatinya setelah berhari-hari tak bisa ia lihat wajahnya. Sebuah senyuman hangat terkembang dari pria sekarat itu. Tangan lemahnya perlahan meraih wajah bidadari yang ada di depannya. Dibelainya lembut wajah itu.

 

“Aku merindukanmu, Jaejoong.” Kalimat pertama yang berhasil ia ucapkan. Kalimat itu terdengar begitu tulus, hingga membuat siapa saja yang mendengarnya akan merasa tersentuh dan yakin seberapa besar cinta pria itu pada kekasihnya.

 

“Yunho.. Maafkan aku..” Ucap Jaejoong benar-benar menyesali segalanya.

 

“Tidak apa-apa.” Sahut Yunho lirih.

 

“Maafkan aku Jung Yunho..” Diulang-ulanginya terus kata itu tanpa tahu kapan akan ada rasa cukup untuk tak perlu mengatakannya lagi.

 

“Jaejoong.. Sungguh tak apa. Justru aku yang minta maaf padamu. Aku tak bisa memenuhi janjiku.” Ucapnya sama sekali tak marah pada belahan hatinya itu.

 

“Janji?” Tanya Jaejoong berusaha mengingat apa yang pernah Yunho janjikan padanya.

 

“Maaf, aku tak bisa memenuhi janji kita untuk menikah.” Jawab Yunho yang semakin menggetarkan perasaannya.

 

Tangis Jaejoong terdengar makin pecah. Suasana begitu menyesakan dada. Andai ini adalah drama yang ada di televisi, pasti semua orang akan memilih mematikan televisi dan tak mau melihat akhir dari kisah cinta yang menyedihkan ini.

 

“Yunho…” Ucap Jaejoong tak sanggup berkata-kata lagi.

 

“Maafkan aku kalau aku pernah ada salah padamu ya. Maafkan aku tak bisa menjagamu hingga akhir hayatmu. Maafkan aku tak bisa menenangkanmu disaat kau gundah lagi. Maafkan aku tak bisa memberimu pelukan hangat lagi. Maafkan aku tak bisa memberimu ciuman selamat pagi lagi. Maafkan aku tak bisa menjadi ‘dasar-bodoh’ mu lagi. Maaf..” Ucap Yunho begitu dalam dan menyakitkan hati Jaejoong.

 

“Kau jangan bicara seperti itu. Dasar bodoh..” Sahut Jaejoong ditengah isakan tangisnya.

 

“Hahaa.. Bahkan mungkin itu ‘dasar-bodoh’ terakhir yang bisa kau katakan padaku.” Ucap Yunho sambil tersenyum ketir.

 

“Yunho-ah.. Kumohon, berhenti berkata seperti itu. Katakan sesuatu yang bisa kulakukan untuk menyelamatkanmu. Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa?” Ucap Jaejoong dalam sedihnya.

 

“Aku hanya minta, kau berhentilah dari pekerjaan ini. Selesaikan baik-baik urusanmu dengan mereka, berhentilah bekerja dari mereka dan menghilanglah. Mulailah suatu pekerjaan yang tidak berbahaya untukmu. Aku rasa guru musik adalah pekerjaan yang baik. Kau janji?” Tanya Yunho serius.

 

Diangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti,”Aku janji. Aku akan segera membereskan segalanya. Aku sudah ingin berhenti dari semua ini sejak kau melamarku menikah, namun…” Tak sanggup ia melanjutkan kata-katanya sendiri.

 

Yunho berusaha menenangkan hati gundah kekasihnya itu untuk terakhir kalinya. Berusaha ia meraih tubuh Jaejoong dan memeluknya erat. Begitu juga dengan Jaejoong yang membalas pelukan itu lebih erat lagi.

 

“Satu lagi,” bisik Yunho ditelinganya,”Kumohon, hiduplah bahagia tanpaku.”

 

Andwe…” Pekik Jaejoong berusaha melepaskan pelukan mereka, namun Yunho tetap menahannya dalam pelukan dengan seluruh kekuatan yang tersisa.

 

“Kumohon..” Pinta Yunho lirih.

 

Andweyooo.. Aku mencintaimu saat ini dan selamanya, tak mungkin aku bisa bahagia tanpa dirimu. Jangan tinggalkan aku.” Pinta Jaejoong memelas.

 

“Kumohon berjanjilah hal ini yang terakhir untukku. Aku ingin pergi dengan tenang, Jaejoong. Kumohon..” Yunhopunpun terus memohon dengan seluruh kesadarannya yang semakin berkurang.

 

“Iya.. Aku berjanji akan bahagia.. Tapi kau harus…” Belum selesai ia bicara.

 

Saranghaeyo Kim Jaejoong. Bahagialah demi aku..” Ucap Yunho begitu lirih untuk terakhirnya dan sedikit demi sedikit mata itu terpejam dan tak pernah terbuka lagi untuk selamanya.

 

Saat itu juga Jaejoong menangis sejadi-jadinya. Dipeluknya erat tubuh kekasihnya itu seakan tak membiarkan kekasihnya itu pergi dari sisinya. Air mata telah telah menganak sungai membentuk lautan duka dan nestapa yang begitu mendalam. Terus ia menyebut-nyebut nama kekasihnya yang tak mungkin bisa kembali.

 

“Yunho..”

“Yunho..”

“Jung Yunho..”

Saranghaeyo.. Saranghae..”

“Jangan tinggalkan aku… Kumohon… Jangan tinggalkan aku..”

 

Dia menangis dengan seluruh kesedihan menyelimutinya. Tubuhnya bergetar tak sanggup menahan gejolak di dada. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri, menyesali semua yang ia lakukan, menyesali semua yang pernah terjadi. Namun tak ada yang bisa ia lakukan. Walau raga mereka telah terpisah, namun cinta mereka tetaplah ada dihati mereka untuk selamanya.

 

Begitu besarnya cinta Yunho pada Jaejoong, hingga di akhir hayatnya ia ingin terus melindungi Jaejoong, tak ada sedikitpun keraguan atau penyesalan untuk berkorban demi cintanya. Yang ia tahu saat itu hanyalah ia mencintai bidadarinya dengan sepenuh hatinya. Seperti itu, terus untuk selamanya.

 

-oOo-

 

Setahun kemudian..

 

Tettt… Tettt… Tettt..

 

“Baiklah anak-anak, pelajaran hari ini telah usai. Jangan lupa tugas note balok nya dikerjakan ya. Besok dikumpulkan sebelum saya masuk ke kelas ya. Kalian mengerti?” Tanya Sang Guru pada murid-muridnya.

 

“Baik, Songsaenim..” jawab anak-anak itu serempak.

 

“Kalau begitu, cukup untuk hari ini. Selamat siang semuanya.” Ucapnya menutup pelajaran.

 

“Selamat siang…” sahut anak-anak diikuti tawa dan canda mereka karena merasa senang, saat yang paling mereka nanti-nanti telah tiba juga, yaitu saat pulang sekolah.

 

Terlihat mereka sibuk memasuk-masukan alat tulis dan buku-buku ke dalam tas. Sesekali mereka bermain-main bersama temannya saat bersiap untuk pulang. Tak banyak juga yang masih asyik mengobrol. Namun satu persatu dari mereka mulai meninggalkan ruangan. Hingga akhirnya tinggal-lah seorang anak laki-laki dan Sang Guru yang masih sibuk mengurutkan kertas jawaban murid-muridnya. Setelah Ia selesai merapikan pekerjaan itu, dia menatap keseluruh ruangan dan dilihatnya ada seorang murid yang masih terduduk di lantai, sibuk memunguti butiran kelereng yang tak sengaja terjatuh. Perlahan di dekatinya dan dibantunya murid itu memunguti kelereng-kelereng yang berceceran. Setelah semua kelereng telah dimasukan ke dalam sebuah kantong kecil, anak itupun bangkit dan diikuti olehnya. Sekilas ia melihat tas, buku dan kotak pensilnya muridnya itu bergambarkan seorang polisi yang memegang senjata.

 

“Moonbin.. Memangnya kau bercita-cita menjadi apa?” tanyanya sambil membelai rambut anak laki-laki itu dengan hangatnya.

 

“Jadi polisi Interpol, Songsaenim. Agar bisa melindungi orang-orang yang saya sayangi.” Jawabnya cepat. Setelah Moonbin selesai merapikan barang-barangnya, “Saya pulang dulu, annyeong..” ucapnya sambil berlalu meninggalkan namja itu sendiri di dalam ruangan yang terasa kian sepi itu.

 

Ditatapnya langkah Moonbin dari belakang yang begitu mengingatkannya pada kekasihnya. Seketika hatinya bergetar, iapun teringat akan seseorang yang amat sangat berarti baginya dan selalu mengisi hari-harinya sekian tahun lamanya. Rasa sakit masih sedikit berbekas dihati, namun berusaha disembunyikannya air matanya sedalam mungkin. Iapun tersenyum tipis sambil memendarkan pandangannya pada langit biru diluar jendela sana.

 

“Aku sangat merindukanmu.”

“Jung Yunho … ”

 

===END STORY===

Bagaimana readerdeul sekalian ff ku kali ini?? Mohon banget komentarnya ya.. dan terimakasih udah nyempetin baca dan mampir blog kami. Apalagi kalian yang sudah berkenan hati meninggalkan sepatah dua patah kata, jeongmal gomawoyo..

Nantikan ff ku berikutnya yahhh..^^

Yunjae is Real!

-Beth-

16 thoughts on “[FF] Sayap – sayap Malam – Yunjae Part.2/2 | @beth91191

  1. chingu…
    Sad endingnya berasa bner deh.
    Gk tega sbenernya,yunho nya dibangkitin lagi aja chingu #ngayal

  2. Sad ending. Ceritanya keren benget thor..
    Aigoo.. Ku ga nyangka kalau yg jd misinya Yunho itu Jaejoong..
    Dan yunho yg meninggal tragis gitu..
    Huee.. Aku nangis tau -,-”
    ahaha.. YunJae adalah couple paling sempurna sejagat raya..😄

  3. appa nglindungin umma sampe akhir, ktakutan appa krna mmpi itu gak trjadi, tapi dri x justru yg prgi

  4. Sedih banget ending’a…sebenernya Q ųϑªђ Ъ>:/ mau baca ff angst secara Àƙύ orangnya super sensitif=gampang banget ngluarin airmata

    Tapi demi kecinta’anQ pada yunjae gpp lah baca

    Kirain ųϑªђ 1 thn yunpa muncul lagi di hadapan jaema, trus..trus..mereka nikah Dan hidup bahagia selamanya…#please hidupin yunpa ýª thor..1 part lagi

    Yunjae forever!!

  5. Sedih banget karena sad ending jadinya, tapi ada perasaan kaget campur heran waktu tahu kalo Jae itu penjahat sebenarnya. Lihai banget menyembunyikan rahasianya sampai Yunho yang udah pacaran sama Jae selama 5 tahun ga nyadar akan hal ini sampai dia sekarat. Walaupun alur waktu ceritanya agak cepat, tapi gaya bahasanya puitis banget. ^^

  6. Sedih bangeeeeet..gak nyangka jaemma yg jd lawannya T.T
    Tp kata2nya bagus banget, puitis bgt, tor!! ^^

  7. Huweee sedih banget sampe nangis darah.lebay reader.autor tega bener buat jae bunuh uno.ga bagus itu.cariin pengganti uno yg sama persis ma uno buat jae.

  8. walau sad ending tp puass bgt sama nie ff krn bisa ngaduk aduk perasaan reader ny
    so fighting thor trz berkarya ya^^

  9. Mian sbelumnya karna ak gak comment di part 1.. Karna ak trlalu penasarn dgn crtanya *MianHae
    Wowo.. Sedih bgt nih FF.. Nsuk bgt ke hati.. Yunppa meninggal * Andweee .. Kasihan umma gak ad yg jagaiin nya.. Huweeeee Yunppaaaa

  10. uuuuaaaaaa…aku yang gag lagi galau aja nyeseeeeeekkkk abizzz baca ni FF…rasanya dada sesek bener,apalagi di posisi umma…ikut sekarat aku ntar,,,huhuhuhu authorrnya keceee tapi jaad bikin aku nangisss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s