[FF] Raining – Part.1 The Dream


RAINING Part.1 THE DREAM

by. Mentari Lemonita

~oOo~

I can’t see you but I can feel you…

PROLOG

Malam itu hujan turun dengan derasnya. Angin bertiup dengan kencangnya. Pepohonan seakan ikut bergoyang mengikuti tiupan angin. Halilintar pun ikut bersahutan. Sesekali nampak kilatan petir. Nampak sebuah tubuh mungil mengigil berlari dengan kencangnya di tengah kegelapan malam. Menembus setiap titik-titik hujan yang menghantam tubuh mungil  rapuhnya. Ada sebuah surat yang mencoba di dekapnya agar tidak terkena air hujan yang menembus tiap bagian pakaiannya.

Tubuh mungil itu terus berlari tanpa peduli sekelilingnya. Di saat semua anak seusianya merasa hangat dalam dekapan orang tua di rumah masing-masing, dia harus memperjuangkan sesuatu untuk keluarganya. Untuk kehidupannya besok. Bola mata hitamnya terus menatap ke depan. Nafas memburunya tersamar oleh hujan. Seluruh tubuhnya sudah merasakan sakit karena setengah membeku tapi dia tetap berlari hingga sebuah kilatan cahaya menusuk matanya.  Dan menghempas tubuh mungilnya ke badan jalan.

Hujan semakin deras. Seperti ikut menangisi tragedy yang baru saja terjadi. Mobil yang menabrak tubuh mungil itu menghilang bagaikan kilat yang menyambar di langit. Darah segar menetes dari kepala anak laki-laki itu, tertelan air hujan yang mengalir. Pada saat itu lah dia tidak merasakan apa-apa.

 

(Author POV’s)

Matanya terbuka lebar. Nafasnya memburu. Keringatnya bercucuran membasahi kening dan pelipisnya. Rahang  tegasnya mengeras. Dia terbangun bersamaan dengan bunyi jam wekernya. Mata tajamnya melirik kearah jam yang sudah menunjukkan pukul enam pagi.

“Mimpi itu lagi,,” Gumamnya tidak jelas sambil menutup wajah tampannya dengan kedua tangannya. Dia bangkit dari ranjangnya menuju kearah jendela lalu membuka tirainya. Sinar matahari menerobos masuk dengan paksa sehingga Ia perlu menyipitkan matanya.  Suasana kota di luar apartemennya sudah hidup kembali, padahal jam masih menunjukkan pukul enam. Dia berjalan memasuki kamar mandi sambil menyampirkan handuk di bahunya.

Air hangat mulai membasahi tubuh atletisnya. Pikirannya masih tertuju pada mimpi yang terus menerus menghantui  selama sepuluh tahun masa hidupnya. Dia memutar kran hingga air berhenti mengalir. Setelah menghanduki tubuhnya. Dia pun bersiap untuk pergi ke sekolah yang jaraknya tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Dalam perjalanan ke kampus, laki-laki itu masih memikirkan mimpinya. Semuanya begitu nyata setiap Ia menutup matanya di malam hari, bahkan di siang hari pada saat Ia tidak sengaja tertidur saat jam makan siang di cafetaria. Mimpi itu bagaikan pemutaran film yang terus menerus.

“Senpai!!! Yunho Senpai!!!” Teriak sebuah suara yang sangat di kenal oleh laki-laki bernama Jung Yunho itu. Suara dolphin yang selalu memekakan telinganya. Yunho menoleh dan mendapati seorang laki-laki atau mungkin bocah laki-laki berkacamata dan berpipi penuh seperti bakpao tersenyum kearahnya sambil setengah berlari agar langkah mereka sejajar.

“Ohayou senpai!” Sapanya lagi masih dengan suaranya yang mungkin dolphin pun sudah kalah sekarang.

“Ohayou Junsu.” Jawab Yunho seadanya. Pagi ini pikirannya benar-benar terganggu.

“Nande senpai? Daijobu ka?” Tanya Junsu sambil memperbaiki letak kacamatanya. Yunho hanya mengedikkan bahu lalu menghembuskan nafasnya berat. Yunho masih melangkahkan kakinya dengan malas kearah gedung sekolah yang mulai terlihat tanpa mempedulikan Junsu yang memperhatikannya dengan tatapan bingung.

“Senpai?” Junsu memberanikan diri untuk bertanya lagi. Tapi orang yang ingin ditanya sudah terlebih dulu menatapnya dengan tatapan setajam silet, pisau, samurai dan kawan-kawannya. Junsu terdiam dan menunduk. Mengekor di belakang tubuh tegap Yunho.

 

(Yunho POV’s)

Sungguh aku tidak mampu melupakan mimpi itu barang sedikitpun. Sedikit saja! Mimpi itu terus berputar-putar di kepalaku.  Bagaimana aku melihat tubuh mungil dari seorang bocah laki-laki terhempas ke badan jalan akibat benturan keras dari mobil Otou-sanku. Tuhan! Apa maksud dari mimpi itu!? Mengapa aku ikut dalam kutukan yang menimpa Otou-san.

“Argh!!!” Aku menjambak-jambak rambutku sendiri tanpa sadar bahwa sekarang aku di ruang kelas. Junsu menyenggol sikuku dengan keras.

“Senpai, kau ingat kau dimana.” Bisik Junsu. Aku menoleh kearahnya dan kearah semua mata yang menuju kearahku. Termasuk mata Hogana Sensei.

“Yunho?” Panggilnya dengan suara berat. Aku menelan ludah.

“Summimasen.” Kataku sambil menunduk. Akhirnya Hogana sensei melanjutkan pelajaran aljabarnya  kembali. Aku masih menunduk sampai aku mendengar bunyi bel.

Aku segera merapikan semua bukuku dan pergi dari sana secepatnya sebelum si dolphin itu mulai bertanya-tanya tentang apa yang aku pikirkan atau segudang pertanyaan bodohnya.

 

Aku berjalan cepat keluar dari gedung  sekolah. Kali ini aku memang berniat membolos hingga aku menyenggol bahu seseorang.

“Gomen..” Gumamku sambil setengah membungkuk tanpa melihat siapa yang aku tabrak dan melanjutkan perjalananku.

Arigatou Ueda-sama! Tapi bolehkah aku memanggilmu Otou-san? Tanyaku pada pria itu.Pria setengah baya itu adalah ayah tiriku. Ayah kandungku telah lebih dulu meninggalkan aku dan Oka-san ke surga. Pria itu mengangguk dan tersenyum, sehingga menampakkan tiga guratan seperti kumis kucing di kedua pipinya.

                                “Ne, kau senang kan Yunho?” Tanya Otou-san saat aku diajak untuk membeli sepeda. Aku mengangguk dengan penuh antusias. Kami berdua pun pergi ke toko sepeda di kota. Saat itu aku tinggal di Fukushima dan ingin sekali melihat Tokyo. Akhirnya Otou-san bersedia mengantarku ke Tokyo hanya untuk membeli sepeda. Tapi kami pulang terlambat karena hujan turun dengan derasnya di Tokyo. Sebenarnya Otou-san tidak ingin menyetir malam ke Fukushima di tengah badai seperti ini. Tapi jika bukan karena aku yang merengek untuk pulang, mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Hujan begitu derasnya hingga penglihatan menjadi buruk. Lampu mobil Otou-san terus menerobos kearah kegelapan malam yang diselimuti hujan deras. Aku yakin Otou-san sudah memperlambat kecepatan mobilnya menjadi sangat minimal tapi secara tiba-tiba sesosok bayangan bertubuh mungil menyeruak dari kegelepan malam dan menghantam kap depan mobil kami. Otou-san mengerem mendadak, membuatku sangat terkejut. Kami berdua terdiam. Hening. Tiba-tiba Otou-san segera menancapkan gasnya tanpa keluar mobil dan melihat keadaan. Aku yang saat itu masih berumur tujuh tahun sangat terkejut dengan apa yang terjadi. Sampai di rumah aku dan Otou-san hanya terdiam. Aku sungguh tidak bisa mengeluarkan kata sedikitpun s ampai dua minggu ke depan. Termasuk Otou-san tidak pernah bicara padaku atau pada Oka-san. Hingga Oka-san pun menjadi bingung dan nyaris frustasi tapi dua hari kemudian Otou-san terkena serangan jantung dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Dari situlah semua mimpi buruk berawal. Oka-san ku jarang ada di rumah, bekerja dari pagi hingga malam bahkan hingga pagi lagi. Saat aku mulai duduk di  bangku SMA,Oka-san meninggal dalam kecelakaan mobil. Mobil yang dikendarainya terhempas keluar batas jalan dan tenggelam  ke dalam sungai. Setelah itu aku dirawat oleh Oba-chan dan Oji-chan. Tapi mimpi yang sama terus terulang. Mimpi tentang malam itu, malam yang membuat hidupku berantakan.Apa aku yang harus menanggung dosa orang tuaku??

 

Lalu aku melihat seseorang yang menyebrang jalan tanpa melihat keadaan di sekelilingnya. Aku terkejut melihat orang itu dan tanpa sadar sudah mendorongnya ke pinggir jalan saat sebuah mobil yang melaju kencang hendak menabraknya. Si pemilik mobil mengumpat kami dari dalam mobilnya.  Kami terjatuh bersamaan kearah trotoar. Aku bangun dan memperhatikan orang yang kutolong itu. Wajah mulusnya, matanya yang bulat dan hitam, bibir mungil kecil nan padat dengan warna merah seperti buah cherry serta rambut hitamnya yang tampak sehalus sutera. Matanya tampak berkaca-kaca seperti menangis tapi ada satu hal yang baru kusadari dari keindahan wajahnya yang nyaris sempurna. Matanya seperti tidak bereaksi terhadap apapun. Kucoba melambaikan tanganku di hadapan matanya. Sama sekali tidak ada respon. Dia BUTA!!!

“Lepaskakn aku!!! Aku ingin mati!!” Teriaknya sambil mencoba mendorong tubuhku. Aku terkejut setelah sadar bahwa dia juga adalah seorang laki-laki. Aku cepat-cepat bangkit dari posisiku. Aku membantunya untuk bangun tapi dia menepis tanganku. Aku seakan terhipnotis oleh wajah cantiknya. Cantik sekali dia, pikirku. Aish! Apa yang kupikirkan!? Kulihat dia seperti mencoba untuk bangkit sambil meraba-raba mencari pegangan. Aku kembali mencoba membantunya.

“Jangan sentuh aku!!” Teriaknya lagi. Mata bulatnya sekarang meneteskan air bening yang dengan indahnya meluncur diatas pipinya yang kemerahan.

“Baiklah! Tapi berjanjilah kau tidak akan melakukan hal gila itu lagi!” Bentakku padanya. Sesaat aku tersadar apa yang sedang kukatakan. Mengenalnya pun tidak mengapa aku harus berkata seperti itu?  Laki-laki cantik itu menoleh kearahku. Mungkin dia mendengar arah suaraku. Tatapannya kosong, tapi menurutku tetap saja indah. Ahhh Yunho kau ini sedang berpikiran apa sih!!??

“Apa maksudmu?” Tanyanya dengan wajah bingung. Aku pun tidak tahu apa yang harus kukatakan.

“Begini saja, aku akan mengantarmu pulang ok?” Tanyaku padanya. Laki-laki itu terdiam, airmata masih menetes membasahi pipi mulusnya.

“Baiklah.” Jawab laki-laki cantik itu akhirnya. Aku membantunya bangun. Dia memegang lenganku. Aku membiarkannya menggandeng tanganku. Setelah dia memberitahukan alamatnya padaku aku segera mengantarnya kesana.

Tidak lama kami akhirnya sampai di sebuah apartemen kecil yang sangat sederhana tapi cukup nyaman untuk ditinggali. Aku menggandengnya menaiki tangga satu demi satu  menuju lantai tempat apartemennya berada. Kurasa dia sudah hapal apartemen ini. Buktinya dia sangat lancar berjalan menaiki tangga.

“Hmm,, boleh aku tahu namamu siapa?” Tanya laki-laki cantik itu padaku. Aku menoleh dan melihatnya tersenyum kecil. Ya Tuhan kenapa senyuman itu indah sekali? Arghh Yunho kau baka ya? Dia laki-laki ingat LAKI-LAKI!

“Watashi wa Jung Yunho desu.” Kataku sambil terus menatapnya. Entah mengapa susah rasanya untuk berpaling dari wajah secantik ini. Andai saja dia tidak buta, aku berani taruhan banyak gadis yang akan mengerubutinya.

“Yunho-san, watashi wa  Kim Jaejong desu.” Jawabnya kembali memunculkan senyum yang sulit kugambarkan keindahannya. Laki-laki cantik ini mampu menghipnotis hanya dengan melihat senyum kecilnya yang manis. Ya Tuhan, Yunho sepertinya kau perlu dihajar agar tidak memikirkan hal yang aneh-aneh. Akhirnya kami sampai di sebuah pintu apartemen yang sepertinya sudah sangat tua. Aku mengetuk pintu itu beberapa kali. Hingga sesosok bocah laki-laki menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Laki-laki itu masih mengenakan seragam SMP menurutku. Alis tebal membingkai matanya, mirip tapi masih kalah cantik dengan Jaejong.

“Onii-chan? Kau darimana saja?” Tanyanya terkejut saat melihatku berdiri dengan Jaejong.

“Aku,, jalan-jalan.” Jawab Jaejong berbohong. Padahal dia baru saja melakukan aksi bunuh diri. Bocah laki-laki yang belum aku ketahui namanya itu memapah Jaejong masuk.

“Yunho-san, mari masuk.” Tawar Jaejong. Aku ragu untuk mengiyakan ajakannya tapi aku juga tidak enak jika menolaknya. Aku pun masuk ke dalam apartemennya. Sangat sederhana dengan sebuah TV kecil, meja makan pendek yang sepertinya serbaguna berada di depan TV. Sebuah rak buku besar di samping kulkas. Dapur sederhana yang sempit. Sebuah pintu yang sepertinya kamar mandi. Dan pintu geser yang sepertinya lemari besar di samping pintu satu-satunya di dalam ruangan itu.

“Silahkan duduk, Gomen ne?” Jaejong mempersilahkan aku duduk. Aku membungkuk sedikit kearah laki-laki yang memapah Jaejong.

“Watashi wa Changmin desu . Douzo yoroshiku. “ Kata laki-laki yang ternyata bernama Changmin. Aku mengangguk.

“Jung Yunho  desu. Douzo yoroshiku” Jawabku. Aku pun duduk di seberang Jejung.

“Yunho Senpai? Dari Kurogin Gakuen?” Tanya Changmin dengan mata berbinar melihat symbol seragamku. Aku mengangguk bingung.

“Wah aku ingin sekali masuk ke sana setelah aku lulus.” Lanjut Changmin dengan antusias. Aku tersenyum kikuk kearahnya. Jejung berdehem memperingati Changmin.

“Gomen ne.” Jawabnya kemudian. Aku hanya tersenyum melihat mereka berdua.

“Oh ya Yunho Senpai mau minum apa?” Tanya Changmin kemudian. Aku buru-buru menggeleng.

“Ah, tidak usah repot-repot.” Kataku menolak dengan halus.

“Doushite Yunho-san?” Tanya Jaejong.

“Aku tidak akan lama.” Jawabku. Tidak berapa lama terdengar suara ketukan pintu selama beberapa kali.

“Pasti itu Yoochun-nii!” Seru Changmin lalu beranjak menuju pintu.

“Changmin dan Yoochun adalah adikku. Kami bertiga tinggal berdesakan di sini.” Kata Jaejong seperti bisa membaca pikiranku. Aku hanya menatapnya. Menatap matanya yang tidak berfungsi sama sekali tapi tetap terlihat indah.

“Kenapa kau daritadi memperhatikanku terus?” Tanya Jaejong membuatku kaget setengah mati. Darimana Ia tahu? Dia kan tidak melihatnya.

“Aku tahu Yunho-san.” Lanjutnya lagi. Sekarang aku yakin dia bisa membaca pikiranku. Changmin datang dengan seorang laki-laki berperawakan jangkung dengan kulit putih pucat, rambut hitam, sebuah bibir yang merah dan dingin, seulas senyum datar. Wajahnya nyaris mirip Jaejong hanya lebih lebih dingin. Umurnya mungkin tidak jauh dariku atau malah lebih muda dariku. Hanya wajahnya jauh lebih terlihat lelah.

“Ohayou, watashi wa Jung Yunho desu.” Kataku bangkit lalu membungkuk kearah laki-laki itu.

“Jung Yunho?” Tanyanya terkejut. Aku menoleh dengan wajah bingung. Aku melihatnya mengerutkan kening dan menatapku tajam.

“Jadi kau yang bernama Jung Yunho?” Tanyanya lagi. Kali ini dengan nada yang agak sinis. Aku mengangguk ragu.

“Nande?” Tanyaku. Dia masih menatapku dengan tatapan tajamnya. Aku makin kikuk dibuatnya. Apa yang salah denganku.

“Yoochun, sopan sedikit!” Seru Jaejong. Laki-laki  yang bernama Yoochun itu pun menoleh kearah Jaejong. Aku sungguh merasa salah  tingkah jika berdiam terlalu lama di sini.

“Hmm, sebaiknya aku pamit pulang. Sumimasen.” Kataku pamit sambil membungkuk.  Jaejong terlihat ingin menahanku tapi  aku tetap berjalan menuju pintu dan keluar dari apartemen Jaejong. Sungguh perasaanku tidak enak dengan semua hal ini.

 

(Jaejong POV’s)

Kim Jaejong atau kadang aku dipanggil Jejung. Duniaku gelap gulita. Sebuah Kecelakaan merenggut penglihatanku. Aku sudah  tidak mampu lagi melihat wajah adik-adikku sekarang tapi aku tau perasaan yang mereka sembunyikan dariku. Bagaimana dendam Yoochun masih terasa panas di hatinya. Bagaimana wajah sedih Changmin yang setiap hari melihatku mencoba melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat buat mereka. Aku bisa melakukan hal-hal mudah seperti mandi, makan, minum, berpakaian, pergi tidur, menjemur bahkan mencuci pun aku masih sanggup. Aku sangat senang memasak tapi Yoochun tidak pernah mengizinkan ku untuk menginjak dapur setelah aku pernah nyaris mencelakai Changmin dan membakar apartemen. Jadi aku hanya menyuruh Changmin saja, dan Yoochun yang bekerja di luar. Aku tahu kalau Yoochun bekerja sangat keras untuk membiayai diriku dan Changmin yang masih sekolah. Saat dia tidur, aku sering meraba wajahnya. Merasakan setiap garis lelah di setiap inchi wajahnya. Sampai aku berpikir untuk membunuh diriku sendiri dengan menyebrang jalan. Aku tahu itu hal yang sangat gila. Tapi aku juga tidak ingin terus menerus menjadi beban Yoochun. Aku menyayangi adik-adikku. Aku berjalan sambil meraba-raba  pohon di pinggir jalan. Mendengar setiap mobil yang melintas sampai aku merasakan bahwa di sinilah tempatnya. Aku melangkahkan kakiku sambil menutup mataku. Kudengar suara keras dari klakson mobil dan teriakan orang-orang. Sampai sebuah sesuatu yang bisa di bilang empuk menghantamku, bukan lempengan baja seperti yang kuharapkan. Seperti yang menghantamku sepuluh tahun yang lalu. Aku terkejut kurasakan sepasang tangan mendekapku dengan hangat hingga tubuhku tidak membentur trotoar. Airmataku sudah duluan meleleh. Kurasakan tatapan mata orang yang sudah mencegahku bunuh diri. Aku tahu tatapan matanya penuh kebingungan dan kurasa sedikit rasa kagum. Aku tidak mengerti.

“Lepaskakn aku!!! Aku ingin mati!!” Teriakku  sambil mencoba mendorong tubuhnya yang bisa kurasakan dia bukan orang yang memiliki tubuh kecil. Kurasakan dengan cepat dia bangkit dari posisinya yang setengah menindihku.  Aku mencoba bangun, kurasakan tangan orang itu ingin  membantuku tapi aku  menepis tangannya. Aku mencoba mencari pegangan agar aku bisa berdiri. Tapi sepertinya orang ini tidak menyerah untuk membantuku. Diraihnya lenganku agar aku bisa berdiri.

“Jangan sentuh aku!!” Teriakku padanya. Aku mencoba untuk menahan tangis, tapi airmataku berkali-kali mengalir dengan suksesnya. Aku tidak ingin orang asing ini melihatku menangis.

“Baiklah! Tapi berjanjilah kau tidak akan melakukan hal gila itu lagi!” Tiba-tiba orang yang kuketahui adalah seorang laki-laki bersuara indah ini membentakku. Aku  menoleh kearah sumber suaranya.

“Apa maksudmu?” Tanyaku bingung. Aku tidak mendengar suaranya. Sepertinya di juga bingung.

“Begini saja, aku akan mengantarmu pulang, ok?” Tanyanya akhirnya. Aku terdiam. Masih kurasakan airmata masih membasahi pipiku. Suara laki-laki ini indah sekali. Suara agak berat yang bisa menenangkan. Aku tidak tahu mengapa aku merasa terhipnotis hanya dengan mendengar suaranya.

“Baiklah.”  Jawabku akhirnya. Dia membantuku bangun lagi. Aku memegang lengannya. Lengan besar yang cukup berotot. Kukatakan alamatku padanya lalu dia membiarkan diriku menggandeng lengannya. Dia berjalan dengan sangat hati-hati saat mengantarku. Mengapa jantungku berdebar-debar? Dia kan laki-laki…

Kurasakan apartemen tempat ku tinggal sudah mulai dekat. Kami berdua menaiki tangga untuk sampai di apartemen tempat ku. Karena sudah terbiasa turun naik tangga ini. Aku sebenarnya tidk begitu membutuhkakn bantuan tapi laki-laki  yang mengantarku masih saja menggandengku.

“Hmm,, boleh aku tahu namamu siapa?” Tanyaku penasaran kepada orang yang sudah mencegahku melakukan hal gila tadi. Aku tersenyum kearahnya. Walaupun aku tidak tahu pasti apa dia tengah menengok kearahku atau tidak. Tapi perasaanku tidak mungkin salah karena sedari tadi laki-laki ini tidak bosan menatapku.

“Watashi wa Jung Yunho desu.” Jawabnya dengan suara manlynya. Suara itu, argh Jejung dia ini laki-laki ingat LAKI-LAKI!

“Yunho-san, watashi wa  Kim Jaejong desu.” Kataku memperkenalkan diri sambil tersenyum kecil.  Akhirnya langkah kami terhenti, yang menandakan bahwa sekarang aku sudah berdiri di depan pintu apartemen. Yunho mengetuk pintu itu beberapa kali. Kudengar suara pintu dibuka.

“Onii-chan? Kau darimana saja?” Tanya sebuah suara yang terdengar  terkejut.

“Aku,, jalan-jalan.” Jawabku berbohong. Akhirnya gandengan ku berpindah tangan ke gandengan adikku, Changmin. Dia menggandengku masuk kearah ruang tengah sekaligus ruang makan dan ruang tidur. Maklum apartemen ini tidak terlalu besar untuk ditinggali bertiga.

“Yunho-san, mari masuk.” Ajakku setelah masuk. Aku duduk di sebrang meja bersama Changmin.

“Silahkan duduk, Gomen ne?” Kataku  mempersilahkan Yunho untuk duduk.

“Watashi wa Changmin desu . Douzo yoroshiku. “ Kudengar Changmin memperkenalkan dirinya pada Yunho.

“Jung Yunho  desu. Douzo yoroshiku” Jawab Yunho.

“Yunho Senpai? Dari Kurogin Gakuen?” Tanya Changmin dengan suara yang sangat antusias. Aku tahu dia ingin sekali masuk Kurogin Gakuen, tapi sekolah itu tidak main-main biayanya.

“Wah aku ingin sekali masuk ke sana setelah aku lulus.” Lanjut Changmin dengan suara bersemangat. Lalu aku berdehem memperingati Changmin.

“Gomen ne.” Jawabnya kemudian. Aku tersenyum kearah Yunho.

“Oh ya Yunho Senpai mau minum apa?” Tanya Changmin kemudian.

“Ah, tidak usah repot-repot.” Katanya menolak dengan halus.

“Doushite Yunho-san?” Tanyaku bingung.

“Aku tidak akan lama.” Jawabnya. Tidak berapa lama terdengar suara ketukan pintu selama beberapa kali.

“Pasti itu Yoochun-nii!” Seru Changmin lalu beranjak menuju pintu.

“Changmin dan Yoochun adalah adikku. Kami bertiga tinggal berdesakan di sini.” Kataku menjelaskan agar suasana canggung ini sedikit mencair.

“Kenapa kau daritadi memperhatikanku terus?” Tanyaku akhirnya pada Yunho yang sedari tadi masih saja menatapku.

“Aku tahu Yunho-san.” Lanjutku lagi, menangkap perasaan bingung yang dirasakan Yunho.

“Ohayou, watashi wa Jung Yunho desu.” Kudengar Yunho memperkenalkan diri pada Yoochun.

“Jung Yunho?” Tanya Yoochun dengan nada terkejut. Aku menoleh kearah Yoochun. Mengapa dia begitu terkejut mendengar nama ‘Jung Yunho’?

“Jadi kau yang bernama Jung Yunho?” Tanya Yoochun lagi. Kali ini nadanya terdengar sinis.

“Nande?” Tanya Yunho dengan nada bingung. Kurasakan suasana antara Yunho dan Yoochun kian menegang.

“Yoochun, sopan sedikit!” Seruku pada Yoochun. Aku tidak mengerti dengan nada bicara Yoochun pada Yunho.

“Hmm, sebaiknya aku pamit pulang. Sumimasen.” Sahut Yunho buru-buru. Aku hendak mencegahnya tapi sudah terlambat. Kudengar suara pintu yang tertutup.

“Yoochun! Apa masalahmu!?” Tanyaku pada Yoochun.

“…” Yoochun hanya terdiam. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya.

“Yoochun..” Panggilku dengan nada lebih lunak.

“Sebaiknya Jejung-nii tidak usah bertemu dengan laki-laki itu lagi.” Bentak Yoochun padaku. Kudengar langkah kakinya yang cepat menuju pintu. Suara pintu yang tertutup dengan keras. Aku terkejut dengan perkataan Yoochun. Baru kali ini aku mendengar nada bicara Yoochun yang seperti itu padaku.

“Yoochun-nii!” Panggil Changmin. Aku menahan tangannya dan menggeleng.  Aku tahu ada sesuatu yang disembunyikan Yoochun dariku.

 

(Yoochun POV’s)

Dia!! Akhirnya aku menemukan laki-laki itu. Tapi mengapa dia bisa bersama Jejung-nii? Dimana mereka kenal!? Argh!! Ternyata memang dia yang kutemui pagi ini di Kurogin Gakuen tadi pagi. Ternyata dia yang menabrak bahuku. Aku duduk di kursi taman dekat apartemen sambil menghisap rokokku dalam-dalam lalu membuangnya. Aku menutup wajah dengan lenganku sembari bersender.

“Yoochun-kun?” Aku mendengar suara memanggil namaku. Aku membuka mataku dan terkejut mendapati Sojin berdiri di depanku. Sojin adalah teman semasa aku masih duduk di bangku sekolah dasar.  Dia masih seperti dulu namun sekarang dia jauh lebih cantik.

“Sojin?” Tanyaku terkejut. Mengapa dia harus muncul saat keadaanku yang sedang kacau balau ini.

“Genki desu ka Yoochun-kun? Lama tidak berjumpa.” Katanya sembari duduk di sampingku. Wajahnya sumringah melihatku. Aku bergeser. Arh malunya! Lihat perbandinganku dengannya sekarang. Kaos kumal dan celana jeans lusuh dan Sojin yang nampak cantik dengan mantel musim panas berwarna merah.

“Eh, Genki desu.” Jawabku gugup. Sojin hanya tersenyum.

“Oh ya Yoochun-kun, aku turut berduka dengan masalah yang menimpamu selama ini. Gomen ne.” Lanjutnya sambil memainkan tali tas rajutannya.

“Daijobu, Sojin. Aku baik-baik saja.” Kataku. Sojin menatapku. Aku menjadi kikuk di buatnya.

“Jika kau memerlukan bantuan hubungi aku ya?” Sojin memberikan ku selembar kertas. Aku menerimanya dan mendapati sebaris angka di dalamnya. Aku sedikit bisa menangkap maksudnya.

“Itu nomor teleponku. Hubungi aku Yoochun-kun. Gomen aku tidak bisa lama-lama.” Akhirnya Sojin pun pamit. Aku hanya mengangguk sambil memaksakan senyumku. Kutatapi secarik kertas di tanganku. Muncullah sebuah pikiran untuk meminta bantuan Sojin. Setauku orang tuanya adalah pemilik rumah sakit yang cukup terkenal di Tokyo. Mungkin aku bisa mendaftarkan Jejung-nii untuk pendonoran mata dan meminta bantuan Sojin agar biayanya bisa dikurangi sedikit. Aku memasukkan kertas itu kedalam saku celanaku dan meneruskan kegiatanku. Duduk sambil memikirkan pekerjaan selanjutnya.

 

 

TBC

Thank you for reading, please leave comments.. ^^

Mentari

12 thoughts on “[FF] Raining – Part.1 The Dream

  1. Ƙyπγª ýanƍ di tabrak Otto-san’a yunho itu jejung ýª??
    Yoochun kenapa? Ko gitu sam̶̲̅α̇ yunho? Apa dy ƭªŮ Şiaρα yunho?
    Menyedihkan banget kehidupan mereka ber3

  2. aaaaa apa yg ditabrak yunppa sma appanya tu jaema waktu kcil ya ???
    trus yochun dah tau gtu klo yunho yg bkin kkaknya buta
    pnasaran , , ,

  3. Kok jd begono to tmbh rumit ucun py masalah apa ma uno.kapan jj ketemu ma uno lg.kpn jj sembuh n dpt donor mata.thooor buruan up date.

  4. Hmm klo pun emang bener ottosan nya uno yg nabrak JJ, moga2 hubungan yunjae ga dihalangi rasa dendam chun… Tapi dimana ya ortu jaechunmin? Blom ada kisah tentang keluarga mereka. Apa mereka yatim piatu? Penasaran banget.

  5. annyeong
    zee imnida
    reader baru …

    ohhooo
    rupanya Yun juga ada ya di mobil yg nabrak namja kecil itu
    pantes dong kalo dy trua dihantui mimpi itu.

    Yoochun tau soal apa?
    ga mungkin kan gara2 ga sengaja tubrukan bahu sampe sebenci itu sama Yun.
    apa jangan2 yg ditabrak waktu itu Jae ya?
    matanya Jae buta karena kecelakaan itu kah ?
    kenapa Jae malah mau bunuh diri padahal dia punya dua adik
    aigo .

  6. jd anak kciL yg dTbrak Lari ntu si jaema . omoo .!! kasian
    dan yunpa dByang-byangi ma kejadian ntu . jodok kLi yua . wakakaka

  7. omo..jgn2 jongie adl anak kecil yg ditabrak ayahnya yunnie..ottokhe?
    trus kyknya uchun tau, mknya uchun terkesan sinis sm yunnie..lha, kl itu bener, gmn respon jongie ya??? hhmmmm…

  8. Yg nabrak jejung pas malam berhujan ttu ayahnya yunho kan????
    Ak yakin itu…
    Kenapa sikap yuchun ketus amat sich ama yunho, cuma gara” yunho nabrak bahu yuchun ya?
    Pasti yuchun tau sesuatu yg berhubungan dengan kecelakaannya jejung,
    Ingin baca kelanjutannya😀

  9. Annyeong..gomen ne, ikut baca…waahh ne ff genrenya aku suka heheh…
    jaejoong kasian sekali hidupnya, yg ujan2an dia kan..aigooo ga kebayang, setiap ank hujan2 dipelukan umma nya, nah lo si jaejoong huhuhu *nangis bombay..
    si Jidat knp??kok ga suka yunho??
    Crtanya okeh bgt, kata2nya juga gampang dicerna..author slm kenal, aku lanjut baca ne ^^ ciaaauuu

  10. Aigooo bahasanya ngalir… nggak maksa, suka banget…
    *jarang nemu FF begini* xDDD

    Touchan nya Yunho itu yg nabrak Jejung bkn…???
    Chun sebenernya punya masalah apa ma Yunho…???
    cuman nabrak bahu doang sampe dingin begitu.. ==”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s