[FF] Raining – Part.3 Your Face


Part 3 – Your Face

by. Mentari Lemonita

~oOo~

You know? You are beautiiful

(Author POV’s)

Bel pulang pun berbunyi dengan nyaringnya. Semua anak bubar secara bersamaan membuat lorong sempit itu menjadi berdesakan. Yunho berjalan dengan cepat kearah ruang kesehatan tapi pelatih Donghae memanggilnya terlebih dulu.

“Yunho! Kau ada latihan hari ini!” Seru pelatih Donghae tegas.

“Hah? Mendadak!?” Tanya Yunho terkejut. Jelas saja ini bukan jadwal latihannya.

“Segera ke lapangan!” Perintah pelatih Donghae. Yunho tidak bisa menolak perintah pelatihnya karena dia adalah kapten. Akhirnya Yunho segera beranjak ke lapangan walaupun pikirannya sedang tidak tertuju kesana.

“Mana anak itu!?” Gerutu Oguno sensei sambil terus melirik jam tangan kunonya dan memukul-mukul sebelah kakinya ke lantai. Jejung masih tetap duduk di ranjang ruang kesehatan sambil mendengarkan  radio yang ada di situ.

“Sensei! Gomen ne!” Tiba-tiba seorang bocah laki-laki menghampiri Oguno sensei sambil terengah-engah.

“Hei Junsu mau apa kau kemari? Sekolah kan sudah bubar dan ruang kesehatan mau ditutup.” Jelas Oguno sensei mengomel.

“Aku tahu sensei, aku hanya mau menjemput temannya Yunho yang bernama Jejung itu.” Terang Junsu sambil memegang lututnya yang terasa lemas karena habis berlari.

“Tunggulah di sini.” Perintah Oguni sensei. Tidak berapa lama Oguni sensei keluar bersama Jejung. Pria itu memapahnya sampai ke samping Junsu.

“Kemana Yunho?” Tanya Oguni sensei sambil mengunci pintu ruang kesehatan.

“Latihan mendadak sensei. Kau tau Donghae sensei tidak bisa dibantah.” Terang Junsu. Oguni sensei melengos.

“Ya aku tau pemuda keras kepala itu.” Jawab Oguni sensei sambil memasukkan kunci ruang kesehatan ke dalam saku kemejanya.

“Arigatou Oguni-sama.” Ucap Jejung sambil membungkukkan tubuhnya. Junsu juga mengikuti.

“Ne, sudah kalian pulanglah.” Jawab Oguni sensei sambil lalu. Junsu dan Jejung masih berdiri di depan ruang kesehatan sampai bayangan Oguni sensei menghilang.

“Mari Jejung-nii aku antar keluar.” Ajak Junsu sambil menggandeng lengan Jejung. Jejung lalu memegang lengan Junsu. Mereka pun berjalan di lorong menuju keluar.

“Junsu-kun, Yunho latihan basketkah?” Tanya Jejung. Junsu menengok kearah laki-laki cantik di sebelahnya.

“Ne, nii-chan tau darimana Yunho senpai latihan basket?” Tanya Junsu.

“Aku mendengarnya dari penjaga saat aku menanyakan Yunho. Bolehkah aku melihat dia latihan?” Junsu kembali menoleh kearah Jejung dengan tatapan bingung.

“Aku hanya ingin tau Junsu.” Jawab Jejung seakan tau isi kepala Junsu. Akhirnya Junsu mengantarkan Jejung ke lapangan basket indoor di samping gedung utama sekolah dimana Yunho biasa latihan basket. Mereka duduk di bangku penonton di belakang bangku pemain. Jejung memang tidak bisa melihat tapi dia bisa merasakan bahwa saat dirinya masuk hampir semua mata tertuju kearahnya, termasuk tatapan terkejut Yunho.

“Junsu apa yang kau lakukan?” Tanya Yunho menghampiri mereka. Junsu sudah membuka mulutnya untuk menjawab tapi Jejung sudah terlebih dahulu bicara.

“Aku yang ingin Yunho.” Jawab Jejung. Yunho menatap Jejung melihat mata bulat Jejung yang berbinar.

“Baiklah. Temani dia Su.” Kata Yunho akhirnya sebelum dia berlari kearah lapangan.

“Yunho! Ingat focus! Aku tidak ingin kau terganggu karena pacarmu datang!” Bentak pelatih Donghae yang disambut tawa geli oleh Yunho.

“Tenanglah sensei. Dia bukan pacarku lagipula dia juga laki-laki.” Jawab Yunho sambil mendribel bola. Pelatih Donghae kontan mengucek matanya.

“Kupikir dia seorang gadis.” Gumam pelatih Donghae. Yunho hanya tersenyum sambil melempar bola basket kepada teman se-timnya. Akhirnya Yunho melanjutkan latihannya dan Jejung terlihat asik ‘menonton’ Yunho berlatih.

“Junsu-kun, sudah berapa lama Yunho menjadi pemain basket?” Tanya Jejung membuka percakapan. Junsu menghentikan aktifitas bermain tamagochinya dan menoleh.

“Sejak duduk di bangku SMP dia sudah menjadi kapten, nii-chan.” Jawab Junsu lalu kembali asik menekan-nekan tombol tamagochinya.

“Kau tidak bermain juga?” Tanya Jejung lagi.

“Haha tidak Jejung-nii. Aku tidak becus olahraga. Berlaripun aku payah.” Jawab Junsu sambil terus memainkan jarinya diatas tombol-tombol. Jejung mengangguk-ngangguk dan kembali ‘menatap’ ke depan. Merasakan suasana hall. Mendengar setiap decitan sepatu dan suara bola yang bertabrakan dengan lantai kayu. Serta mendengar suara bola yang menyentuh ring. Tapi Jejung tau dimana Yunho berada walaupun yang benar-benat dilihatnya adalah kegelapan.

“Permainan Yunho bagus sekali.” Gumam Jejung yang cukup terdengar oleh Junsu. Junsu menoleh sambil mengerutkan dahinya. Sekarang otaknya berpikir keras bagaimana Jejung tahu bahwa permainan Yunho senpai bagus padahal dia tidak melihatnya sama sekali.

 

Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Yunho sudah berhenti berlatih dan sekarang tengah terduduk di pinggir lapangan sambil menenggak sisa air minum di dalam botol. Teman se-tim dan Donghae sensei sudah terlebih dulu meninggalkan lapangan. Junsu mengantar Jejung menghampiri Yunho.

“Jejung-nii, Yunho senpai, aku pamit dulu. Ini sudah terlalu sore. Gomen ne, Jya!” Pamit Junsu sambil membungkukkan badannya.

“Arigatou Junsu sudah mau menemaniku. Gomen merepotkan.” Ucap Jejung duduk di samping Yunho.

“Ne Su, arigatou.” Sambung Yunho. Junsu hanya tersenyum lalu melambai kearah Yunho dan beranjak pergi.

“Jejung gomen ne meninggalkanmu tadi.” Ucap Yunho sambil bersila menghadap Jejung.

“Daijobu ne. Aku baik-baik saja. Oguni-sama sangat baik padaku.” Jawab Jejung tanpa menoleh kearah Yunho. Yunho terus memperhatikan wajah cantik laki-laki di sebelahnya. Baru dua hari dia mengenal Jejung tapi Yunho sudah merasa dia mengenal laki-laki ini sejak lama.

“Yunho aku mau bertanya.” Kata Jejung sambil memperbaiki posisi duduknya menghadap Yunho.

“Nani?” Tanya Yunho.

“Kenapa aku sering dikira seorang gadis?” Pertanyaan Jejung membuat tawa geli Yunho tidak tertahankan. Wajah Jejung langsung memerah.

“Gomen ne gomen. Apa kau tidak pernah meraba wajahmu?” Tanya Yunho setelah tawanya reda. Jejung hanya menggeleng. Dia lupa akan wajahnya. Yang dia tau dia memiliki wajah tampan ayahnya. Begitulah yang sering dia dengar dan dia tidak ingin mempercayai itu.

“Hmm begini.” Yunho memegang tangan Jejung sehingga membuat jantung laki-laki cantik itu berdebar cukup keras. Yunho lalu meletakkan telapak tangan Jejung di wajahnya sendiri.

“Nah kau rasakan bagaimana bentuk mata, hidung dan bibirmu.” Perintah Yunho sambil tersenyum geli. Jejung mulai meraba bentuk matanya yang bulat, hidungnya yang kecil dan terakhir bibirnya yang terasa padat dan lembut juga sangat mungil.

“Apa aku memang secantik ini?” Tanya Jejung kaget merasakan bahwa wajahnya memanglah seperti seorang gadis. Bahkan benar-benar mirip ayahnya, walaupun dia ingin melupakan wajah ayahnya sama sekali.

“Kau tahu kan sekarang? Kau cantik Jejung.” Jawab Yunho membuat semburat merah di pipi Jejung kembali muncul. Lalu tiba-tiba Jejung memegang wajah Yunho.

“Eh?” Yunho tersentak kaget. Jantungnya seperti akan melompat keluar. Jejung meraba mata Yunho yang kecil, hidungnya yang tegas dan bibir kecilnya yang terasa lembut di telapak tangan Jejung. Lalu Jejung meraba rahang kokoh Yunho.

“Kau tampan juga ya?” Ucap Jejung sambil tersenyum. Membuat keringat di pelipis Yunho makin mengalir dengan derasnya.

“Tidak juga kok hehe.” Yunho tertawa hambar. Jejung masih belum melepaskan tangannya dari wajah Yunho.

“Wajahmu  kecil tapi tampan. Aku yakin banyak gadis yang menyukaimu.” Lanjut Jejung lagi. Yunho memegang tangan Jejung untuk menghentikan aktifitas ‘meraba’ wajahnya. Sungguh dia tidak tahan lagi, bisa-bisa dia terkena serangan jantung mendadak.

“Eh, nande?” Tanya Jejung dengan tampang polosnya. Tidak tahu bahwa yang wajah yang dirabanya sudah berwarna merah seperti kepiting rebus..

“Daijobu. Ayo aku antar kau pulang, ini sudah gelap.” Ajak Yunho sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dan membantu Jejung berdiri.

“Aku bisa Yunho. Jangan perlakukan aku seperti orang cacat.” Ucap Jejung saat Yunho hendak membantunya berdiri.

“Gomen ne.” Gumam Yunho. Jejung lalu berdiri dan menggapai kearah Yunho. Saat itu Yunho langsung memberikan lengannya.

“Ayo kita pulang.” Seru Yunho. Jejung mengangguk sambil menggandeng lengan berotot Yunho. Jejung tidak mengerti dengan perasaannya mengapa jantungnya terus berdegup dengan cepat saat laki-laki itu berada di dekatnya. Mengapa Yunho memperlakukannya dengan sungguh baik padahal dia buta. Tapi Jejung membiarkan perasaan itu tumbuh di hatinya yang sejak lama terasa dingin ini.

 

(Jejung POV’s)

Akhirnya aku sampai di rumah larut malam. Aku tidak tahu pasti jam berapa tapi aku rasa hampir menunjukkan pukul sepuluh malam. Ya aku berjalan-jalan dan makan bersama Yunho sebelum pulang ke apartemen.

“Jejung-nii darimana?” Kudengar suara panik Yoochun saat aku masuk ke dalam apartemen.

“Aku hanya berjalan-jalan.” Jawabku sambil membuka sepatuku.

“Lalu itu jaket siapa?” Tanya Yoochun lagi. Aku baru sadar bahwa aku memakai jaket Yunho sedari tadi. Aku bingung mengapa Yunho juga tidak meminta jaket ini kembali.

“Jaketku.” Jawabku singkat sambil berjalan kearah meja  di depan tivi. Aku merasakan tatapan menyelidik dari Yoochun.

“Jejung-nii pergi dengan laki-laki bernama Jung Yunho itu?” Tanya Yoochun lagi. Aku tersentak.

“Mana Changmin?” Kucoba mengalihkan pembicaraan karena aku merasa Changmin tidak ada di sana.

“Nii-chan tidak usah mengalihkan pembicaraan.” Nada bicara Yoochun mulai serius. Aku duduk di depannya.

“Aku tidak mengerti masalah apa yang terjadi antara kau dan Yunho. Tapi aku harap kau mau mengerti bahwa aku juga manusia yang membutuhkan teman. Kau tau hampir sepeuluh tahun aku jarang sekali bertemu orang-orang baru. Apakah hak ku sudah hilang?” Tanyaku pada Yoochun dengan nada yang sama seriusnya. Kudengar Yoochun menghembuskan nafasnya.

“Aku hanya tidak ingin kau terluka lagi. Kau tahu..!” Nada suara Yoochun mulai naik tapi kata-katanya terhenti oleh kedatangan Changmin. Aku tahu bahwa memang ada sesuatu antara mereka berdua.

“Tadaima!” Kudengar suara Changmin dari arah pintu.

“Okaerinasai!” Jawabku berbarengan dengan Yoochun. Kudengar langkah Changmin mendekat.

“Ini makan malamnya.” Changmin meletakkan sebuah kantong dimeja. Wangi makanan sudah mulai tercium.

“Kau beli takoyaki?” Tanyaku pada Changmin.

“Ne nii-chan. Ayo makan. Itadekemasu!” Seru Changmin lalu mulai membuka kantong berisi takoyaki itu. Kami bertiga mulai memakan makan malam kami. Walaupun aku dan adik-adikku hidup serba kekurangan tapi Yoochun tidak pernah membiarkan aku dan Changmin merasa kelaparan. Yoochun, aku sayang padamu. Andai kejadian sepuluh tahun yang lalu tidak terjadi mungkin kini kau sedang bersekolah di sekolah yang sama dengan  Yunho. Gomen ne…

 

TBC

Thank you for reading, please leave comments.. ^^

Mentari

13 thoughts on “[FF] Raining – Part.3 Your Face

  1. Cinta nya jae sama yunho bakal terhalang badai yah thor?
    Jgn dibkin sedih bget dong thor,aku gk mau nangis lg #lebaymodeon

  2. jaemma buta tpi ttp bsa lhat yunppa pke hati
    author ssi jnga bkin jaemma terlalu menderita ne
    jeballl

  3. Hoeee langsung baca di chapter ini, udah langsung sedih aja.
    Apa yg terjadi di masa lalu uno n chun?
    Moga2 ga jadi penghalang hubungan yunjae cuz mereka tuh udah so sweet banget T,T *hunting chapter sebelumnya.. brb~

  4. Moment yunjae’a so sweet….
    Tapi pas Kim bersodara ngumpul…huuaaaaaa sediiiih banget
    Kasian suamiku uchun harus bekerja keras di usia ýanƍ msh muda…(╥﹏╥)

    Semoga cintanya umpa g ada halangan!!!

    Ditunggu lanjutannya thor…fighting!!!

  5. Kapan uno sadar dgn perasaanya ke jaema.trus kapan jaema dapet liat lg.buruan thor lanjut chap depan.

  6. Jae seanak tau setiap gerak pikiran sama mimiknya Yun ya
    kereeen …
    cinta itu buta
    tapi mungkin org yg buta malah justru bisa melihat dengan jelas.

    Yoochun masih tetep keras sama Jae kalo soal Yun
    ada apakah sebenarnya ?

    nice author … jadi penasaran sama latar belakang cerita ini

  7. hohoho … emang cman yunpa ja yg bsa bkin semburat merah dMuka jaema. nohh .. bru dPegang rahang na ja dah panas dingin.😀

    Sbener na, da pa dgn chunie ??

  8. Hohohoho
    Benih” cinta mule tumbuh d hati yunjae niii
    Pasti menyenangkan…
    Tapi cinta itu tidak selalu indah kan, tapi semoga jja kasih sayang yunjae takkan pernah ilang…😀

  9. Kyaaa lucu nya raba2 muka…jaejoong you are so beautiful so much!!! and Yunho TAMPAANNNNN…hohhoo
    hmmm…msh penasaran ma yoochun, knpe ga suka yunho??hm..hm..hmm..*elus jidat uchun…#ditabok

  10. YunJae momentnya sosweeet~
    Walau Jae nggak bisa liat dengan aktivitas ‘Meraba’ aja Jae udh tahu
    klo Yunho itu ganteng…

    Ah Jidat merusak suasana!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s