[FF] Raining – Part.4 Dark Memories


Part. 4 – Dark Memories

by. Mentari Lemonita

~oOo~

 

CHAPTER 4 – DARK MEMORIES

How can this happen to me?

(Jejung POV’s)

Malam mulai merayap. Angin mulai terasa dinginnya. Aku terbangun di tengah malam dengan keringat bercucuran. Sudah lama sekali aku tidak bermimpi hal itu. Aku menarik nafasku panjang lalu terdiam. Mendengarkan tiap dengkur halus adik-adikku. Aku merangkak kearah pintu geser. Bersandar di pintu itu dan memejamkan mata. Mengulang kembali kejadian sepuluh tahun yang lalu. Dimana aku masih normal seperti anak-anak lain. Melihat indahnya warna-warni dunia dan senyuman adik-adikku serta orang tuaku yang saat itu masih hidup. Tapi sepertinya kebahagiaanku hanya sampai di situ. Tiba-tiba saat aku berumur tujuh tahun dan adik-adikku masih berumur enam dan empat, ayahku pergi meninggalkan ibuku tanpa sebab.

Flashback-

Aku yang saat itu sudah bisa mengerti keadaan bertanya pada ibu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ibuku tidak pernah menjawabnya. Tetapi tanpa sepengetahuan ibuku aku mencari informasi sebisanya tentang ayahku. Suatu hari aku tidak sengaja bertemu ayahku saat sedang berjalan pulang dari sekolah. Aku melihatnya di suatu taman dengan seorang wanita yang tergolong sangat muda. Tanpa pikir panjang aku mendekati ayahku yang tengah duduk bercanda tawa dengan wanita itu.

“Oto-san?” Panggilku. Laki-laki berwajah yang pantas dibilang cantik ketimbang tampan itu menoleh kearahku dengan tatapan terkejut. Begitu pula si wanita itu.

“Dare?” Tanya ayahku seakan dia tidak pernah mengenalku sama sekali. Seketika itu hatiku hancur menjadi berkeping-keping. Bagaimana bisa dia melupakan kami begitu saja. Melupakan darah dagingnya sendiri? Kenapa?

“Kamu siapa?” Tanya si wanita kebingungan

“Bukan siapa-siapa mungkin dia salah orang.” Ucap ayahku sambil menarik wanita itu pergi dari taman. Aku menatap mereka dengan tatapan terluka. Hal terakhir yang bisa dilihatku justru adalah kepedihan.

Setahun kemudian aku mengetahui bahwa ibuku mengidap penyakit gagal ginjal dan harus segera cuci darah. Tapi  melihat kondisi keluarga ku yang sangat kekurangan karena ibuku harus bekerja serabutan untuk menghidupi kami berempat. Aku terisak saat ibuku di bawa ke rumah sakit, adik-adikku pun menangis terutama Changmin yang saat itu masih kecil sekali. Dokter menyebutkan biayanya dan kami bertiga hanya anak ingusan yang sama sekali tidak mengerti apa yang harus di lakukan hingga aku berinisiatif untuk mencari ayahku. Selama setahun setelah kami ditelantarkan aku mulai mencari kemana ayahku pergi, karena ibuku tidak pernah membahasnya lagi. Terakhir yang kulihat ayahku bersama seorang wanita muda yang ternyata adalah istri barunya, seorang gadis kaya anak dari atasannya. Jadi ayahku lebih memilih harta ketimbang anak istrinya, sejak saat itu aku bersumpah tidak akan mau mengingat laki-laki itu lagi sebagai ayahku. Tapi melihat keadaan ibuku yang sekarat hatiku berperang untuk tidak meminta bantuan kepada ayahku. Tapi aku harus melakukannya demi kesembuhan ibuku.

Dengan tekad kuat aku mendatangi rumah ayahku dengan berbekal alamat yang aku dapat dengan susah payah. Perumahan elit, bentuk-bentuk rumah yang megah dengan pagar tinggi dan tembok pembatas dari marmer semakin memperkontras dengan kondisiku sekarang. Anak terlantar yang kumal dan dekil yang berharap pada ayah yang sudah membuang kami.  Aku sampai di sebuah rumah dan  berdiri di sebuah pagar tinggi berwarna hijau lumut dengan lampu remang-remang di tiap sisi temboknya. Cahaya lampu teras yang meyinari pintu besar berpegangan emas yang makin menunjukkan kemegahan rumah ini. Aku membaca papan nama keluarga ‘Akanishi’. Aku menelan ludah, membayangkan bagaimana ekspresi ayahku saat melihatku seperti ini. Baju compang camping, rambut kusut, dengan wajah penuh airmata. Aku memberanikan diri memencet tombol bel dengan gemetar, kudengar suara bel di dalam rumah dibarengi suara guntur yang menderu-deru diatas langit, aku mendongak dan melihat awan hitam bergumul pertanda sebentar lagi akan turun hujan. Tidak lama keluarlah seorang pria dengan kemeja putih dan celana bahan hitam. Wajahnya mulus terawat dan terkesan cantik menatapku penuh jijik dengan mata bulatnya yang hitam.

“Siapa kau?” Tanyanya dengan nada ketus. Aku menatapnya nanar.

“Aku Jejung, oto-san.” Kataku tercekat. Menahan tangis yang mulai merambat di tenggorokan.

“Aku tidak mengenalmu!” Bentaknya padaku. Aku melongo mendengarnya sekaligus shock sama seperti yang pertama. Ayahku sendiri tidak mengenaliku untuk kedua kalinya pula. Benarkah pendengaranku ini? Benarkah yang aku hadapi ini?

“Oto-san, oca-san sakit dan aku butuh uang untuk merawatnya!” Teriakku. Memelas, hal yang kubenci seumur hidupku. Memelas. Terlebih lagi pada pria yang sudah meninggalkan kami demi harta. Aku telan bulat-bulat semua egoku hanya untuk ibuku. Pria itu terlihat gusar melihatku berteriak seperti itu. Dia mulai mengeluarkan selembar kertas dan pulpen dari dompetnya.

“Cepat katakan berapa yang kau butuhkan!?” Tanyanya dengan nada kesal tanpa membuka pintu pagar terlebih dulu. Aku menyebutkan nominal yang dibutuhkan, setelah selesai menuliskan angka, pria itu melemparkan kertas tersebut kearah wajahku dari sela-sela pagar.

“Cepat pergi!” Usirnya padaku. Aku kembali melihat wanita muda nan cantik itu mengintip dari balik bahu ayahku.

“Dare?” Tanyanya. Ayahku hanya mengibaskan tangannya menyuruh si wanita masuk.

“Bukan siapa-siapa hanya pengemis kotor.” Jawabnya. Hatiku serasa di sambar petir berulang-ulang. Kepalaku pusing. Kerongkonganku kering dan airmata ku tidak bisa ditahan. Sakit. Sakit sekali. Akhirnya aku meninggalkan rumah itu dan bersumpah tidak akan pernah kembali!

Aku berlari membawa rasa sakit hatiku. Hujan mulai turun dengan derasnya. Aku memeluk kertas cek itu agar tidak basah. Seluruh tubuhku sakit karena kupaksakan untuk berlari di tengah dinginnya hujan. Nafasku sudah tersengal tapi aku tidak peduli. Tidak ada yang lebih sakit dari hancurnya hatiku. Tidak ada! Sampai sebuah lempengan baja menabrakku dan membuatku terpelanting ke badan jalan. Saat itu aku merasa tidak ada lagi rasa sakit.

Esoknya aku terbangun di ruangan yang berbau alcohol dan obat pengharum atau entahlah bau apa ini. Aku mengucek mataku tapi tetap saja gelap. Gelap? Apa aku buta? Aku mulai panic dan mulai berteriak histeris. Aku mendengar suara langkah kaki cepat dan memegangi tanganku yang menggapai hampa. Aku masih histeris sampai kudengar suara Yoochun.

“Nii-chan..” Suaranya lemah seperti lelah menangis. Aku berhenti histeris dan mengikuti arah suara Yoochun.

“Oca-san..” Belum sempat Yoochun menyelesaikannya aku sudah kembali histeris. Aku tau lanjutan kalimat Yoochun dari nada suaranya. Oca-san meninggal semalam saat aku mengalami kecelakaan.

Hampir seminggu aku seperti itu. Histeris, panic karena duniaku tiba-tiba gelap. Mendengar tangisan Changmin membuatku berhenti meronta atau histeris. Dengan sabar Yoochun mengusap tanganku walaupun aku tau umurnya masih sangat kecil tapi dia sudah mengurusku dengan telaten. Beberapa hari kemudian aku akhirnya keluar dari rumah sakit. Aku berusaha sebisaku untuk menerima takdir ini walaupun hatiku bertambah hancur. Saat keluar rumah sakit aku tidak bisa melepas peganganku dari tangan Yoochun dan Changmin. Karena kami sekarang tidak memiliki keluarga yang mau mengurus kami akhirnya kami diserahkan ke sebuah panti.

Kehidupan disana tidak kalah mengerikannya. Aku sering mendengar Changmin menangis, Yoochun berteriak dan aku sering diseret jika aku menjatuhkan sesuatu karena kebutaanku. Mereka memukuli kami dan kami terus mendapati siksaan itu sampai kami menginjak  umur duabelas tahun. Hampir lima tahun kami hidup dalam siksaan terutama diriku yang tidak bisa melihat sama sekali. Tapi Yoochun dengan sabar melatihku agar aku bisa setidaknya melakukan hal kecil sendiri.

Pada suatu malam, Yoochun mengatur rencana agar kami kabur dari sana. Dan kami memang berhasil kabur tapi kami kembali  terlunta-lunta di jalan sampai kami bertemu dengan seorang nenek yang tinggal di apartemen tempat kami tinggal sekarang. Saat itu kami sedang mengais makan di tempat sampah apartemen itu dan Nenek itu menemukan kami. Kami dibawanya ke apartemen.  Nenek itu tidak kaya tapi dia mau menyekolahkan kami karena dia tinggal sendiri dan tidak punya siapa-siapa.  Tapi selang setahun Nenek harus pergi untuk selamanya. Apartemen itu adalah warisannya, kamipun kembali menghadapi hidup bertiga. Yoochun terpaksa berhenti sekolah saat duduk di kelas dua SMP, sedangkan aku tetap saja sama dalam kegelapan walaupun aku bisa membaca sedikit  huruf Braille. Yoochun mulai bekerja membanting tulang agar Changmin bisa terus bersekolah sampai sekarang. Sejak aku mulai menerima takdirku, saat itu pula aku mulai bisa membaca perasaan seseorang, merasakan auranya, merasakan keadaan sekitar. Aku mulai menerima bahwa duniaku kini dalam kegelapan tapi aku tidak menyerah agar aku tidak menjadi beban bagi Yoochun dan Changmin. Aku menyayangi mereka. Walaupun kini aku tidak bisa apa-apa karena keterbatasanku. Akan kulakukan apapun untuk membahagiakan mereka.

Flashback end-

Aku masih terduduk bersandar di pintu geser dan merasakan basah di mataku. Aku menangis lagi. Membayangkan masa laluku yang begitu kelam. Merasakan tiap dendam yang dirasakan Yoochun, kesedihan Changmin di balik tawanya. Adik-adikku tidak bisa membohongiku dan mereka tau itu. Aku merangkak kembali kearah tempat tidurku setelah mengelap air mataku dengan punggung tangan. Mencoba memejamkan mata. Tapi kini aku malah melihat sosok itu di dalam gelap mataku. Sosok terang walaupun terangnya redup. Aku membuka mata kembali. Gelap kembali menyapaku. Aku pun kembali memejamkan mataku membiarkan sosok remang-remang itu tampak jelas dan tersenyum padaku. Sosok yang aku kenal belakangan ini. Sosok yang tiba-tiba bisa menghangatkan hatiku. Yang suaranya bisa membuatku sadar dari segala keputus asaanku. Sosok yang aku harap suatu saat nanti, pasti akan bisa kulihat dengan jelas. Jung Yunho, kenapa kau datang di saat seperti ini? Tanpa sadar akupun sudah terbang kealam mimpi.

 

TBC

 

Thank you for reading, please leave comments.. ^^

@mentarilemonita

15 thoughts on “[FF] Raining – Part.4 Dark Memories

  1. (╥﹏╥) (╥﹏╥) sedih banget..kasian jaema kasian uchunku kasian mimin…ýanƍ sabar ya~jyc…semangat!!

    Semoga yunpa bukan ýanƍ nabrak jaema #komatkamit
    Biar yunjae bersatu tanpa halangan!

    Gomawo thor ųϑªђ update ni ff di tunggu next chap’a ^o^

  2. Akhirnya Update juga~,padahal yang nabrak appanya Yunppa kan (?),Jaemma bisa liat lagi kan?,arrgghh penasaran,Up Date asap ya.

  3. appanya jaema jhat bnget,
    yoominjae udah sengsara dari kecill kasihan ,,,
    author ssi gak jlasin ni alsan chunnie bnci ma yunpppa ??

  4. ommo…..jaejoong oppa nggak diakui appanya/oto san nya???? wae…wae…. uri changmin juga menderita….
    ommo penasaran

  5. Sedih bener.kok ada orang tua.kayak gitu.buat jaema semangat ya pasti kau akan mendaPat kebahagian mu.palli chap depany

  6. ihhhhh
    oto-san nya jahat sekali
    aigooo
    bisa2nya udah punya tiga anak tapi kelakuannya kayak gitu.

    jadi bener ya yg ditambrak itu Jae
    jadi secara ga langsung Yun yg udah bikin Jae buta.

    kasian Yoochun
    masih muda tapi harus banting tulang
    yoochunnie hwaiting nee

  7. hiks hiks..nangis kejer baca masa lalunya jongie….appanya jahat bgt…moga2 uri jongie segera nemuin kbahagiaannya…pastinya bersama yunnie…

  8. Hukss hukss
    Kasiandnya dirimu jejung.. T.T
    Jejung, percayalah suatu saat kau akan mendapakan kebahagiaan bersama yunho, 😦

  9. Nangis..Nangis..nangis..Huwaaaaa..sumpah, nasib jaejoong, yoochun, ma changmin sedih sekali..#ikut nangis
    klo aku begitu..Ya allah, ga kebayang…ank sekecil itu di telantarkan, ayah macam apa itu! moga dpt balesan..ada balesan kan thor?? *HARUS
    nyesek saya..gmn ntr klo jaejoong tau yg nabrak dia appa yunho?? pdhl semangat hidup jaejoong skrg itu yunho..T_T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s