[FF] Raining – Part.5 Is It Love?


Anneyong..

Author riechan imnida, bangapta..😀

Udah empat chapter jadi freelance n sekarang jadi author tetap huahahahaha *evil laugh* *di lempar centong ma Jaema*

Melihat perkembangan komen yang cukup banyak membuat diriku senang sekali *nari ballerina*

Halah author baru bawel amat ini,, yaa sudah silahkan di baca chap selanjutnya.. Jangan lupa komen2 nya,,

Author bocorin kalo chap-chap selanjutnya akan jauh lebih menyedihkan huahahahahaha *digebukin yunjaeyoosumin*

Happy reading ^^ hidup yunjae *bawa banner*

=========================================================

Title        : Raining

Author  : Ri3chan

Chapter : Chap 5- Is It Love?

Cast          : Yunjaeyoosumin dan pemain pendukung lainnya

Genre      : Romance, angst, yaoi

Rate          : (bingung)

CHAPTER 5- IS IT LOVE?

Doushitte kimi wa suki natte shimattan darou?

(Yunho POV’s)

Aku terbangun karena sinar matahari berusaha membuatku bangun dengan sinarnya yang memaksa masuk diantara korden kamarku. Aku duduk di pinggir ranjang sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Aku memang tinggal sendiri tapi tepat di sebelah kamar apartemenku adalah kamar oba-chan dan oji-san jadi aku juga tidak sebebas yang dipikir teman-temanku. Kalau tidak cepat-cepat bangun dan bersiap bisa-bisa oba-chan menggedor-gedor pintuku. Aku segera  berjalan menuju kamar mandi lalu bersiap ke sekolah.

Dalam perjalanan menuju sekolah aku berpikir sudah berapa lama aku tidak bertemu Jejung sejak saat dia datang ke sekolah. Seminggu kah? Dia bahkan tidak menghubungiku. Jelas, dia tidak bisa melihat bagaimana mau menelepon. Baka!

Tapi aku memberikannya alamat dan nomer teleponku kalau-kalau ada sesuatu yang mendesak. Changmin atau adiknya yang berwajah dingin itu bisa menghubunginya, siapa namanya? Hmm Yoochun? Yang jelas aku tidak tahu mengapa dia terlihat sangat tidak menyukai keberadaanku. Apa salahku padanya. Bertemu saja aku tidak pernah seumur hidupku.

“Yunho senpai!!” Aish suara dolphin ini lagi! Aku menggerutu karena setiap pagi si baka ini selalu ribut memanggilku dari kejauhan. Tapi aku juga sayang padanya, sahabatku dari kecil yang selalu mengerti diriku walaupun terkadang aku ingin menghajarnya karena ke-baka-annya.

“Ohayou, senpai!” Sapa Junsu dengan senyum anak kecilnya yang khas saat berjalan di sampingku dengan terengah-engah karena berlari.

“Ohayou Su.” Jawabku. Dia berjalan dengan riangnya sambil memegang tali ranselnya.

“Kau sedang senang ya?” Tanyaku melihat tingkahnya seperti anak kecil yang dibelikan lollipop.

“Haik senpai. Nih!” Jawabnya sambil menyerahkan selembar brosur yang bertuliskan “FOOD FESTIVAL” .

“Urusan makan saja kau cepat.” Kataku sambil menyerahkan brosur itu kembali. Junsu seperti pura-pura tidak mendengarku dan menatap brosur itu gembira.

“Kau tidak mau datang senpai? Disana kan ada taman bermainnya, bianglala dan lain-lain selain festival makanan.” Jelas Junsu. Aku tidak menggubrisnya sama sekali dan tetap berjalan.

“Kau bisa mengajak Jejung kencan.” Lanjutnya lagi membuat aku tercekat dan memberhentikan langkahku mendadak sehingga Junsu yang berjalan di belakangku menabrak tubuhku.

“Nani ga?” Tanyaku berbalik menatap Junsu yang tersenyum konyol.

“Daijobu senpai. Aku hanya memperhatikan akhir-akhir ini kau seperti orang yang jatuh cinta.” Penjelasan Junsu membuat darah naik ke mukaku dan membuat pipiku memanas.

“Aku benar kan?” Tawanya sambil menunjuk pipiku. Aku berbalik dan berjalan cepat.

“Senpai chotto!” Teriak Junsu mengejarku. Apa-apaan si baka ini! Aku? Jatuh cinta pada Jejung? Yang benar saja! Atau memang benar? Tidaaaaakkkkkkk!!!

Pelajaran hari ini benar-benar terpental dari otakku. Yang ada hanya kata-kata Junsu baka itu yang berputar di kepalaku. Saat istirahat aku lebih memilih duduk di kelas dan menatap langit.

“Senpai kau tidak ke kantin?” Tanya Junsu setelah dia selesai membereskan buku-bukunya.

“Tidak. Aku tidak lapar.” Jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari jendela.

“Senpai, aku pikir hari ini dia tidak datang. Makanya ajak saja.” Kata Junsu lalu buru-buru kabur setelah aku menatapnya tajam. Akh iya kah? Aku jatuh cinta pada laki-laki? Yang benar? Aku memang tidak terlalu tertarik melirik gadis di sekolahku padahal yang mengejarku tidak sedikit dan sangatcantik. Tapi aku selalu bersikap dingin pada mereka. Benarkah aku jatuh cinta pada Jejung? Aku akui mata indahnya tidak bisa di tolak. Akh Jung Yunho sadarlah!! Aku menjambak-jambak rambutku.

“Senpai kau baik-baik saja?” Tiba-tiba suara Junsu mengagetkanku hinggu aku jatuh terjerembab dari kursi. Junsu langsung menolongku bangun.

“Dolphin kau ini!” Kataku kesal. Junsu memasang tampang polosnya. Aku menarik nafas lalu kembali duduk.

“Ini senpai.” Junsu menyerahkan sebungkus roti dan sekotak susu. Aku menatapnya dan dia hanya nyengir lalu duduk di sampingku sambil membuka jatah rotinya.

“Arigatou ne.” Kataku lalu mulai menyeruput susu kotak. Aku kembali menatap langit yang kala itu agak mendung.

“Senpai kau yakin tidak apa-apa?” Tanya Junsu lagi. Aku menoleh. Mungkin memang aku butuh teman bicara saat ini.

“Aku tidak tau juga. Tapi sepertinya kau benar Su.” Kataku sambil mulai membuka plastic roti. Junsu menoleh dengan mulut penuh roti.

“Ahu benahkan?” Tanyanya sampai roti yang di mulutnya muncrat kearahku.

“Telan dulu kau baka!” Seruku. Dia langsung cepat-cepat menelan dan menyeruput habis susu kotaknya dalam satu sedotan.

“Jadi aku benar kan?” Tanyanya lagi. Aku mengangguk. Junsu tersenyum lalu menyerahkan brosur yang diperlihatkannya tadi pagi padaku.

“Ajak dia oke?” Junsu nyengir lebar kearahku. Aku hanya menatapnya ragu.

“Entahlah.” Jawabku lalu memasukkan brosur itu kedalam saku. Bel tanda istirahat selesai pun berbunyi. Pelajaran dimulai tapi pikiranku tetap saja melayang layang.

Aku berjalan pulang sambil tetap memegang brosur yang diberikan Junsu padaku. Akankah aku mengajaknya? Dia memang tidak bisa melihat tapi aku ingin menghiburnya sekali-kali. Membuatnya merasakan keramaian. Aku memasuki gedung apartemenku.

“Yunho-san!” Panggil Mizuni. Gadis resepsionist apartemenku. Aku tahu dia menaruh perasaan padaku. Umurnya pun tak jauh dariku tapi dia lebih memilih bekerja ketimbang sekolah.

“Ne?” Aku menoleh kearahnya. Gadis itu mendekatiku.

“Ada seseorang yang mencarimu tadi. Dia ingin mengembalikan jaket katanya. Karena kau tidak ada jadi kuantar ke kamar Oba-chan saja.” Terangnya.

“Jaket?” Aku mengerutkan kening dan memutar otak. Dengan cepat aku langsung tau siapa orangnya.

“Dia cantik dan buta?” Aku bertanya untuk memastikan. Mizuni hanya mengangguk bingung melihatku panik.

“Arigatou ne!” Kataku langsung berlari kearah lift. Baka! Rutukku dalam hati. Aku tidak mengerti jalan pikiran Jejung. Kenapa sih dia tidak bisa diam saja di rumah dan menungguku mengambil jaket kesana!?

“Oba-chan?” Aku mengetuk pintu seperti orang kesetanan. Oba-chan membuka pintu dengan wajah bingung. Sebelum aku bertanya aku bisa melihat Jejung duduk membelakangi pintu dari balik pundak Oba-chan.

“Tadaima oba-chan. Aku masuk.” Kataku sebelum oba-chan membalas salamku.

“Jejung kau ini baka ya? Tidak bisa apa menunggu ku untuk mengambil jaketku sendiri” Tanyaku beruntun menatap wajah cantiknya yang kebingungan. Setelah itu aku menarik nafas dan menepuk kepalanya pelan.

“Tolong jangan buat aku khawatir.” Kataku melembut. Oba-chan hanya tersenyum melihat tingkahku pada Jejung.

“Go.. Gomen ne.” Hanya itu yang muncul dari bibir mungil Jejung. Aku kembali menepuk kepalanya pelan.

“Daijobu, ayo pindah ke kamarku.” Ajakku padanya. Aku menggandengnya menuju kamar apartemenku.

“Arigatou Oba-chan sudah mau menemani Jejung.” Kataku pamit pada Oba-chan.

“Daijobu ne. Aku senang berbicara dengan Jejung-kun.” Jawab Oba-chan. Jejung membungkuk sopan. Lalu kami berjalan ke kamar apartemenku.

(Jejung POV’s)

Sepertinya pagi ini aku kesiangan bangun karena aku merasa kamar ini sepi. Changmin sekolah dan Yoochun bekerja. Aku memegang kepalaku yang agak pusing karena tidak bisa tidur semalam. Tiba-tiba kudengar suara telepon berdering. Karena aku sudah hapal apartemen ini, aku mudah mengetahui dimana letak telepon itu berada.

“Moshi moshi?” Jawabku. Suara ribut di seberang.

“Nii-chan sudah bangun? Gomen ne kami pergi duluan. Kulihat nii-chan tidurnya nyenyak sekali.” Aku mengenali suara di tengah keributan ini. Changmin, pasti dia menelepon di sekolahnya.

“Ne, aku baik-baik saja Chang.” Jawabku. Aku masih mendengar suara ribut yang menjadi backsound Changmin.

“Gomen ne Jejung-nii. Kalau ada sesuatu kau bisa menghubungi Tomoya-san di apartemen sebelah. Jya nii-chan.” Changmin memutus teleponnya. Aku meletakkan gagang telepon itu ke tempatnya dan merangkak kearah futonku. Melipatnya dan meletakkannya kembali di lemari. Untuk urusan seperti ini aku sudah biasa. Yang aku pikirkan bagaimana aku membuat sarapan? Aku tidak mau saat adik-adikku tidak di rumah aku memasak dan terjadi sesuatu. Akhirnya kuputuskan untuk mandi terlebih dahulu. Setelah mandi aku duduk di meja depan tivi dan meraba permukaannya. Tanganku menabrak sebuah mangkuk, aku sudah menebaknya. Mereka pasti akan menyiapkan sarapan untukku. Setelah acara sarapan selesai aku mulai memberesi rumah seperti menyapu dan mengangkat jemuran. Hal-hal yang masih bisa kulakukan. Tiba-tiba aku teringat akan jaket Yunho yang sudah seminggu ini aku pakai. Aku mengingat-ngingat dimana aku menyimpannya, aku meraba permukaan atas meja samping telepon dan menemukan apa yang kucari. Kurogoh saku jaketnya dan menemukan kertas, Yunho memberikan alamat dan nomor teleponnya padaku. Katanya jika ada sesuatu yang mendadak dan membutuhkannya, aku berpikir mungkin bisa menitipkan ini di oba-channya selagi dia di sekolah. Aku tidak mau merepotkannya lagi dengan datang ke sekolah.

Maka akupun bergegas ke apartemen Tomoya-san. Kuketuk pintu kamarnya setelah aku meraba nomor kamar yang ada di pintunya.

“Ya? Jejung? Kau baik-baik saja?” Tanya Tomoya-san dengan nada agak panic. Aku tersenyum.

“Iya Tomoya-san. Aku hanya ingin kau membacakan alamat ini untukku.” Kataku sambil menyerahkan alamat Yunho. Tomoya-san membacakan alamatnya.

“Arigatou Tomoya-san.” Kataku.

“Jejung-kun kau mau pergi?” Tanyanya masih dengan nada panic. Aku mengangguk. Tomoya-san adalah tetangga sebelah kamar apartemen kami yang sangat ramah dan bisa dimintai tolong dengan mudah bila menyangkut diriku. Maklum istrinya juga buta sepertiku karena suatu penyakit dan telah meninggal beberapa bulan yang lalu dan sekarang Tomoya-san hidup sendiri karena anak perempuannya sudah menikah.

“Aku akan mengantarmu.” Jawabnya.

“Tidak usah Tomoya-san. Aku tidak ingin merepotkan.”

“Tidak apa-apa Jejung-kun. Aku juga tidak mau terjadi apa-apa denganmu.” Akhirnya akupun diantar Tomoya-san ke apartemennya. Setelah sampai Tomoya-san menitipkanku pada recepsionist apartemen untuk diantar ke kamar apartemen Yunho karena aku meminta untuk ditinggal saja.

“Sumimasen Tuan, tapi jam segini Yunho-san masih di sekolahnya.” Kata Recepsionist.

“Bukankah dia tinggal dengan oba-channya?” Tanyaku sedikit terkejut.

“Oba-channya tinggal di kamar sebelahnya. Apa Tuan mau saya antarkan ke sana?” Jelas recepsionist. Aku mengangguk. Akhirnya aku diantar ke kamar apartemen Oba-chan Yunho.

“Ohayou Gozaimasu Jung-san.” Sapa recepsionist saat pintu di buka.

“Ohayou Mizuni. Siapa ini?” Kudengar suara seorang wanita yang mungkin umurnya separuh baya.

“Ini temannya Yunho-san. Katanya dia ingin mengantarkan jaket Yunho yang tertinggal. Aku mengantarnya karena dia buta.” Gadis yang bernama Mizuni ini mengecilkan suaranya saat mengatakan ‘dia buta’. Mungkin agar aku tidak tersinggung tapi untuk apa itu kenyataan.

“Oh, silahkan masuk.” Wanita yang bisa dipastikan sebagai oba-chan Yunho segera memapahku masuk ke kamar apartemennya. Wangi bunga segar segera menyeruak saat aku melangkah masuk. Aku di dudukkan pada sebuah sofa empuk nan lembut seperti duduk diatas awan, pikirku.

“Aku akan membuatkan teh dulu. Buatlah dirimu nyaman.” Kata oba-chan ramah. Aku mengangguk sopan. Aku memutar kepalaku sekeliling walapun yang aku temukan pastilah kegelapan. Tapi aku tau bagaimana suasana kamar apartemen ini. Aroma penyegar ruangan dan dupa. Aku pikir ada seseorang yang baru meninggal.

“Ini tehnya. Kau cantik sekali? Apa kau kekasihnya Yunho?” Tanya Oba-chan sembari meletakkan cangkir teh di depanku.

“Bukan Oba-chan.” Kataku tersenyum. Aku bisa tebak oba-chan pasti terkejeut.

“Oh gomen ne. kukira kau seorang gadis. Siapa namamu?” Tanya Oba-chan sedikit tertawa.

“Daijobu oba-chan. Watashi wa Kim Jaejong desu. Tapi panggil saja Jejung. Douzo yoroshiku.” Kataku sopan. Lalu meraba meja mengambil cangkir teh.

“Nama yang bagus. Kau juga.. tampan.” Seru Oba-chan. Aku tau mana ada orang yang mengatakan aku tampan. Jelas-jelas aku terlalu cantik untuk dikira laki-laki.

“Aku sudah biasa dibilang cantik oba-chan. Tidak apa.” Kataku tersenyum. Aku berbincang lama dengan Oba-chan. Mulai dari tentangku, Yunho dan kehidupannya.

“Oji-san meninggal satu bulan yang lalu.” Kata Oba-chan dengan nada sedih.

“Gomen ne.” Kataku menunduk.

“Daijobu Jejung. Aku masih memiliki Yunho setidaknya.” Kata Oba-chan. Tidak lama kudengar suara ketukan pintu yang keras di sertai panggilan.

“Oba-chan?” Kudengar samar-samar itu suara Yunho yang memanggil. Ketukan pintunya seperti yang mau menagih hutang saja. Kudengar langkah kaki Oba-chan mendekati pintu.

“Tadaima oba-chan. Aku masuk.” Kudengar suara Yunho dengan jelas dan langkah kakinya yang cepat mendekat kearahku.

“Jejung kau ini baka ya? Tidak bisa apa menunggu ku untuk mengambil jaketku sendiri” Yunho mengomeliku tiba-tiba membuatku membisu dan bingung menoleh kearahnya. Tiba-tiba tangannya menepuk pelan kepalaku.

“Tolong jangan buat aku khawatir.” Katanya  melembut. Aku masih saja terdiam seperti patung.

“Go.. Gomen ne.” Hanya itu yang muncul dari bibirku. Yunho kembali menepuk kepalaku pelan.

“Daijobu, ayo pindah ke kamarku.” Ajaknya. Yunho menggandengku menuju kamar apartemennya.

“Arigatou Oba-chan sudah mau menemani Jejung.” Katanya pamit pada Oba-chan.

“Daijobu ne. Aku senang berbicara dengan Jejung-kun.” Jawab Oba-chan. Aku hanya membungkuk sopan. Lalu kami berjalan ke kamar apartemen milik Yunho.

TBC

Jangan lupa untuk jejak-jejaknya.. Komen chingu sangat membantu untuk penulisan FF selanjutnya..🙂

Gomawoyo sudah meluangkan waktu *deep bow*

15 thoughts on “[FF] Raining – Part.5 Is It Love?

  1. kyaa~ yunho dah mulai cnta ma jae.. hayo ngapain tuh b2an d’kamar?? #plakk
    aq msh pnasaran knp yoochun bnci yunho??

  2. yun mulai sadar kalau dia ternyata sudah jantuh cinta sama Jae tanpa memandang kekurangan Jae, so sweet deh, apa dikamar dia akanmenyatakan perasaanya, penasaran nih thor, dilanjut segera ya,….
    kenapa yuchun disini cuma sedikit dan galau terus, kira-kira dia akan bahagia ga diakhir cerita, yah…aku kok nanya terus yah…
    abis ga sabar tunggu lanjutannya, author (kasih dua jempol) KEREN.

  3. part chunnie gak ada disni ???
    sjak kpan junsuie jdi food monster kya minnie
    huwee knpa jae mesti buta

  4. perasaan Yun kalo ketemu Jae ngomel dan ngatain Jae baka mulu deh ya
    hahaha
    appa aku taulag kau khawatir sama umma
    tapi jgn ngomel trus dong
    hehehe

    untung orang2 disekitar Jae baik2 ya

  5. aigooo…jongie…semangatnya itu lho..cuma bwt balikin jackett, harus bolak balik…tp goog lah..kn biar ketemuan trs sm yunnie…he he..#evil smirk#

  6. Tuh kan bener..
    Benih” cinta yunjae udah tumbuh menjadi kucup” cinta yunjae*appan sich *lupakan
    Yunho ayo ajak jejung k festival ttu, mungkin jja dengan pergi k festival ttu dapat melupakan sejenak masalah nya sie jejung😀
    Yuchun ada apa denganmu? Kenapa benci yunho?

  7. aaahhh disini jaejoong yg agresig hhohoo yunho lambat seh kaya keong.blgnya aja mo ktmu, tpi ga gerak juga…moment Yunjae dtg di next chap….*kaboorrr ke next chap

  8. Hayoooo itu berdua dikamar… pada ngapain…??? #SESAT
    Hehe…
    YunJae momentnya tambah Cute…

    masih penasaran…
    Chun punya masalah apa ma Yunho…??
    keliatanya benci bgt Jae ketemu ma Yunho… ._.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s