[FF] Raining part. 6- The Confessed


Anneyong,,

Chapter selanjutnya dari author baru yang sangat gaje ini😀

Tiba juga nih di sweet moment Yunjae asooyyyy xD

Kalo di liat dari judul sih ketauan banget yaa maksudnya.. Langsung aja cekidot

Happy Reading ^^

=============================================

 

Title         : Raining

Author    : Ri3chan

Chapter : Chap 6- The Confessed

Cast        : Yunjaeyoosumin dan pemain pendukung lainnya

Genre      : Romance, yaoi

Rate         : (bingung)

CHAPTER 6 – THE CONFESSED

Under the sky with shining stars,, I say,,

(Author POV’s)

Yunho mempersilahkan Jejung untuk masuk sambil terus menggandengnya. Yunho mengantarkan Jejung ke sofa di depan tivi.

“Tunggu sebentar ya. Aku mau mengganti baju dulu.” Kata Yunho lalu pergi mengganti bajunya. Jejung duduk di sofa itu sambil merasakan suasana apartemen Yunho yang lengang.

“Sudah makan?” Suara Yunho mengagetkan Jejung.

“Belum.” Jawab Jejung singkat.

“Aku masakan mau?” Tanya Yunho lagi. Jejung menoleh sambil mengerutkan keningnya.

“Nani? Aku bisa masak Jejung, tenanglah.”  Kataku Yunho terkekeh. Jejung hanya mengangguk kaku. Yunho mulai memasak di dapur.  Merasa tidak enak Jejung memilih menghampiri Yunho yang tengah sibuk memasak sambil meraba meja dapur. Yunho yang tidak tahu bahwa Jejung berdiri di belakangnya berbalik dan menabrak Jejung. Menjatuhkan panci  panas berisi kare.

“Awww!” Pekik Jejung terjungkal ke belakang. Dengan sigap Yunho menahan tubuh Jejung sehingga mereka jatuh bersamaan dengan suara berdegum keras.

“Jejung, daijobu ka?” Tanya Yunho menatap wajah Jejung yang kemerahan dengan mata bulatnya. Mereka jatuh dengan posisi Yunho di atas Jejung, memeluk laki-laki cantik itu seperti barang pecah belah yang akan jatuh dan berserakan jika membentur lantai.

“Daijobu,” Kata Jejung masih terkejut. Posisi yang sama saat mereka pertama kali bertemu. Tapi kali ini jantung Jejung berdetak lebih keras. Tangannya menyentuh dada bidang Yunho yang membuatnya semakin gugup.

“Yokatta.” Seru Yunho lalu membantu Jejung berdiri. Masih memeluk tubuh Jejung.

“Apa kakimu juga baik-baik saja?” Tanya Yunho berjongkok melihat keadaan kaki Jejung yang agak sedikit luka karena benturan panci tadi.

“Kau terluka!” Seru Yunho lagi lalu tanpa aba-aba sudah menggendong Jejung ala bridal style dan membawanya ke kamar. Yunho meletakkkan tubuh Jejung di atas ranjang.

“Yunho kau berlebihan aku kan tidak apa-apa!” Jejung mengerucutkan bibirnya di perlakukan seperti gadis.

“Jejung kau terluka.” Yunho menekankan kata-katanya lalu pergi untuk mengambil kotak obat. Tidak lama Yunho kembali.

“Diam saja oke?” Tanya Yunho menuangkan sedikit alcohol ke selembar kapas. Jejung mengangguk dengan tetap mengerucutkan bibirnya. Yunho tersenyum dan mulai mengobati  luka di kaki Jejung.

“Ish! Sakit!” Jejung mulai merengek saat Yunho mengoleskan obat luka di kakinya lalu memperbannya.

“Sudah selesai Jejung-chan.” Kata Yunho menepuk kaki Jejung.

“Aku tidak mau di panggil chan!” Seru Jejung makin kesal. Yunho benar-benar memperlakukannya seperti gadis.

“Hahahaha baiklah Jejung.” Kata Yunho dengan suara manis yang dibuat-buat. Pipi Jejung kembali memanas karena semburat  merah. Semakin Yunho memperlakukannya seperti gadis semakin Jejung merasa gugup yang akhirnya membuat dia uring-uringan sendiri. Tapi terkadang hatinya juga merasa senang.

“Kau diam di sini ya? Aku akan membereskan panci yang jatuh tadi.” Kata Yunho  beranjak.

“Yunho!” Panggil Jejung. Yunho menoleh.

“Ne?”

“Aku ikut.” Kata Jejung bangun dari tidurnya. Meraba pinggiran ranjang. Yunho menangkap tangan Jejung.

“Kau ini benar-benar keras kepala.” Yunho geleng-geleng kepala menghadapi Jejung. Walaupun matanya tidak berfungsi tapi dia suka sekali berjalan-jalan. Membuat semua orang kawatir.

“Karena aku yang menjatuhkannya.” Jawab Jejung menampilkan senyum terindah yang pernah dilihat Yunho. Yunho terbengong beberapa detik saat sadar Jejung sudah mulai berjalan sambil meraba tembok kamarnya. Yunho mengikutinya dari belakang, menjaganya agar tidak terjatuh.

“Berhenti di sini!” Kata Yunho saat Jejung akan menginjak tumpahan kare.

“Mana lapelnya?” Tanya Jejung. Mau tidak mau Yunho memberikan kain lap pada Jejung. Laki-laki mungil itu mulai berjongkok sambil meraba lantai, merasakan lantai yang basah dengan tangannya dan mengelapnya dengan tangan satunya. Yunho memperhatikan cara Jejung membersihkan lantai. Walaupun buta Jejung cukup lincah membersihkan lantai dari tumpahan kare. Yunho membantu Jejung mengganti lapel dan mengangkat panci. Setelah semuanya bersih, Yunho mengantar Jejung mencuci tangannya yang kotor karena meraba tumpahan kare.

“Gomen ne Yunho, merusak makanan mu.” Kata Jejung saat mencuci tangannya.

“Daijobu. Aku masih punya bento yang cukup untuk kita berdua.” Jawab Yunho sambil mengambilkan Jejung sabun. Setelah acara bersih-bersih dapur mereka pun makan siang di depan tivi.

“Apa kau perlu di suapi?” Tanya Yunho dengan polosnya.  Jejung langsung memelototinya dengan mata bulatnya yang tidak berfungsi.

“Gomen, aku kan hanya bertanya.” Lanjut Yunho tertawa kecil. Mereka pun makan sambil mengobrol.

“Jejung kau mau pergi ke suatu tempat?” Tanya Yunho akhirnya mengingat brosur pemberian Junsu tadi siang.

“Kemana?” Tanya Jejung sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.

“Suatu tempat. Aku yakin kau akan senang.” Jawab Yunho. Jejung berpikir sejenak.

“Boleh tapi apa aku bisa menelepon ke rumah dulu? Aku tidak mau Chang dan Yoochun kawatir kalau aku pulang telat.”Ucap Jejung.

“Tentu saja. Kau akan meneleponnya sekarang?” Tanya Yunho membereskan bekas makannya. Jejung mengangguk. Setelah Yunho membereskan sampah bekas makan siang mereka, Yunho mengambilkan Jejung telepon wireless miliknya.

“Ini,” Kata Yunho menyerahkan teleponnya. Jejung menerimanya dan meraba tombol angka di telepon tersebut. Menekan beberapa angka lalu meletakkan gagang telepon di telinganya. Yunho sampai terpana melihat kelancaran Jejung menekan tombol telepon tanpa bantuan. Yunho rasa Jejung cukup mandiri untuk orang yang punya keterbatasan.

“Moshi-moshi.” Terdengar suara Changmin mengangkat telepon di sebrang.

“Chang, yokatta. Gomen aku tidak bisa pulang hari ini. Mungkin aku akan menginap di rumah Jung Yunho. Tolong jelaskan pada Yoochun, dia sudah pulang?” Jelas Jejung. Yunho memperhatikan Jejung menelepon. Betapa gemasnya dia pada laki-laki cantik di depannya ini. Mata, hidung, dan bibir pinknya sangat…’ Aish Yunho apa yang kau pikirkan!’ Rutuk Yunho dalam hati.

“Ne nii-chan aku akan menjelaskannya pada Yoochun-nii. Dia akan pulang larut hari ini. Bekerja lembur.” Jawab Changmin dengan nada yang agak sedih. Jejung terdiam sebentar.

“Chang?” Panggil Jejung dari seberang telepon.

“Daijobu Jejung-nii, bersenang-senanglah.” Kata Changmin lalu menutup telepon. Jejung masih memegang gagang telepon yang sudah berbunyi ‘tut tut tut’ itu.

“Jejung? Kau baik-baik saja?” Tanya Yunho melihat semburat kesedihan di ekspresi Jejung. Tapi laki-laki itu menggeleng.

“Kau yakin? Apa sebaiknya lain kali saja?” Tanya Yunho. Jejung cepat-cepat menggeleng.

“Kita pergi malam ini.” Jawabnya dengan riang. Entah mengapa Jejung sangat penasaran dengan tempat yang akan mereka datangi.

“Baiklah.” Kata Yunho sambil menepuk lembut kepala Jejung.

 

Malam harinya Yunho dan Jejung pergi berjalan kaki ke food festival yang ada di tengah kota. Karena jarak apartemen Yunho dan pusat kota tidak terlalu jauh maka mereka lebih memilih berjalan kaki. Sepanjang perjalanan Yunho menggandeng tangan Jejung dan mengawasi setiap langkahnya agar Jejung tidak tersandung atau menginjak sesuatu.

Sesampainya di food festival Jejung terlihat bersemangat. Mata bulatnya memantulkan cahaya-cahaya lampion dari festival. Dia bisa merasakan banyaknya orang berlalu lalang di hadapannya. Suara-suara dari penjual dan pembeli makanan yang ramai.

“Dimana ini? Ramai sekali?” Tanya Jejung dengan antusias.

“Food festival. Aku tidak menyangka food festival sekarang ada taman bermainnya.” Jelas Yunho sambil melihat sebuah bianglala besar di tengah festival.

“Ne Jejung kau mau makan apa?” Tanya Yunho melihat kearah Jejung. Laki-laki cantik di sampingnya masih mengagumi suasana ramai festival.

“Kau tau Yunho, sudah lama aku tidak pernah ke tempat seramai ini. Setidaknya aku seperti melihat cahaya.” Ucap Jejung tidak mempedulikan pertanyaan Yunho. Laki-laki itu tersenyum sedih mendengar ucapan Jejung. Yunho hanya tau dia kecelakaan saat menyebrang jalan dan merenggut penglihatannya. Yoochun bekerja setiap hari mengumpulkan uang untuk donor mata kakaknya. Hidup yang berat. Pikiran Yunho berubah saat melihat Jejung yang cobaan hidupnya lebih berat lagi. Ternyata masih banyak yang lebih menderita dari dirinya tapi tetap semangat menjalankan hidup.

“Ayo kita makan sushi.” Ajak Yunho kemudian sambil terus menggandeng Jejung dengan erat terutama saat mereka harus berdesakan di kerumunan orang-orang. Setelah mereka membeli sushi Yunho dan Jejung duduk di meja-meja yang sudah disediakan di pinggiran danau yang memanjang di tengah kota. Lampu kelap kelip dan suara bising dari para  pengunjung menambah kebahagiaan tersendiri bagi Jejung.

“Oishi?” Tanya Yunho melihat Jejung yang begitu lahapnya memakan sushi. Jejung mengangguk semangat.

“Sudah ini kau mau naik bianglala?” Tanya Yunho lagi. Jejung ‘menatapnya’ dengan wajah berbinar bak anak kecil yang akan di belikan mainan.

“Aku mau sekali!” Seru Jejung tersenyum antusias. Yunho hanya tersenyum melihat tingkah Jejung yang jelas senyum Yunho tidak akan bisa dilihatnya. Setelah mereka selesai makan Yunho kembali menggandeng tangan Jejung  dan berjalan kearah bianglala.

“Jejung, kau yakin mau naik?” Tanya Yunho menyakinkan. Jejung kembali mengangguk pasti, hatinya sudah meluap-luap karena bahagia. Setelah Yunho membisikkan sesuatu kepada teknisi bianglala. Yunho membantu Jejung untuk naik ke bangku bianglala lalu menurunkan plang pengamannya. Mereka duduk berdampingan. Jejung memegang erat besi pengaman, matanya terus berbinar. Bangku bianglala itu tidak memiliki atap sehingga saat berada di puncak roda akan bisa melihat taburan bintang yang sangat indah. Bianglala mulai berputar perlahan menuju puncak. Saat roda bianglala mencapai puncak, roda itu berhenti.

“Nande? Yunho bianglalanya berhenti.” Tanya Jejung dengan tampang bingung. Jejung merasakan kini dia berada di ketinggian.

“Daijobu Jejung. Ini sementara, kau rasakan saja angin berhembus dan…” Yunho memutus perkataannya membuat Jejung bertanya-tanya. Yunho menatap laki-laki cantik di sampingnya. Angin membelai lembut rambut Jejung yang hitam. Sinar remang-remang dan latar langit hitam justru membuat wajah laki-laki itu semakin terlihat bagai malaikat membuat Yunho terus memandanginya dengan kagum.

“Yunho?” Panggil Jejung. tangannya berada di pundak Yunho. Memastikan bahwa laki-laki itu masih berada di sana.

“Jejung, aku tau ini kedengarannya konyol atau baka.. tapi sepertinya aku..” Yunho kembali menggantung kata-katanya. Rasa penasaran Jejung mulai menyeruak. Ekspresi wajah Jejung menggambarkan kalau dia ingin segera tahu kelanjutan perkataan Yunho.

“Bintang jatuh!” Seru Yunho tiba-tiba. Jejung spontan mendongak, tetap saja yang dilihatnya hanya kegelapan.

“Aku tidak bisa melihatnya.” Seru Jejung sedih. Tiba-tiba Yunho membelai pipi Jejung lembut. Jejung menoleh dengan kaget. Lagi-lagi semburat merah di pipinya muncul.

“Tapi kau bisa merasakannya.” Jawab Yunho.

“Eh?” Seru Jejung bingung. Lalu yang dirasakannya kemudian adalah sentuhan lembut, hangat, dan basah di bibirnya. Jantung Jejung langsung meledak-ledak, aliran darah mengalir deras ke kepalanya. Ciuman itu berlangsung cukup lama. Yunho menjauhkan kepalanya, menatap Jejung yang tengah mematung.

“Gomen ne, kira-kira seperti itulah rasanya. Ah Gomen aku baka…” Lanjut Yunho kikuk menunduk. Jejung masih terpaku, wajahnya kini memerah bak kepiting rebus. Jantungnya tidak berhenti berdetak dengan kerasnya. Roda bianglala berputar kembali ke bawah. Jejung menunduk selama kursi mereka berputar ke bawah begitu juga Yunho. Kini perasaan mereka berdua berkecamuk, bercampur jadi satu entah apa rasanya. Setelah sampai di bawah seperti biasa Yunho membantu Jejung untuk turun dari kursi bianglala. Jejung masih menutup mulutnya seribu bahasa. Yunho maupun Jejung benar-benar tidak bisa mengerti perasaan mereka saat ini.

“Gomen Jejung, aku tidak bermaksud…” Kata Yunho terputus setelah melihat aliran air dari mata Jejung. Yunho terdiam, tangannya masih mengenggam erat tangan Jejung.

“Aku akan mengantarmu pulang.” Seru Yunho akhirnya.

 

TBC

Jangan lupa commentnya chigu,, commentan chigu sangat berharga buat penulisan FF ini..🙂

Gomawoyo buat waktunya *deep bow*

13 thoughts on “[FF] Raining part. 6- The Confessed

  1. wah yunho dah mulai sadar ya klo dah jth cnta ma jae.. Hayo ngaku.. Hehe

    eh jae knp nangis biz d’cium yunho? Pa krna saking sneng’y.. #plakk

    ayo cpt d’lanjut..

  2. kyang kyang
    ooops so sweeet dah tp ttp blom ngobati penasaranku kenapa bang uchun benci bgtz ma yunpa?

  3. Hahaha.sama2 malu.pi jae g lgs respon perbuatan yun.itu nangis sedih to seneng.Penasaran.cepet update yab

  4. Hahaii… Yunpa nyium Jaema…
    Apasih ýanƍ mau Yunpa bilang ke Jaema???
    Jaema knp nunduk aja…malu apa menikmati ciumannya Yunpa…✘¡✘¡✘¡✘¡

  5. he ?
    pernyataannya di atas bianglala
    romantisnya
    tapi kenapa kok Jaenya malah nangis sih ?

    kenapa Changmin sedih ?
    apa dy jga tau soal kecelakaan itu ya

  6. gyaaa…yunnie maen kissu2 az…so sweet..itu jongienya nangis gitu pasti krn terharu & bahagia..
    tp ntar gmn responnya uchun ya? kn ga suka dia sm yunnie???

  7. Ooooo co sweet sekali…
    Tapi kenapa jejung nangis???
    Aahhaa, ak tau pasti karena dia terlalu senang ato sebaliknya???
    Yunho sungguh agresif..

  8. Full yunjae Moment *tabur bungaaaa..
    aahh romantisnya bedua kepasar malam (ver indo)
    eh, jaejoong knp ga jawab yunho??setelah bibir menempel, bibir yg satunya terdiam hahaha…

  9. Seneng ma nyesek campur jadi satu…
    blushing tp pengen nangis…
    Oh YunJae… kalian buat aku gila…

    *adegan jatuh yg didapur itu jadi kebayangnya adegan Jejung jatuh terus ditangkep ma Yunho @Dangerous Love…*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s